Moon (Chapter 13)

Moon Cover

|Scriptwriter| Vania Akari |Main Cast| Oh Sehun (Exo), Park Chanyeol (Exo), Choi Gaeun (OC) |Support Cast| Krystal (Fx) aka Jung Sojung, Eunji (Apink) aka Park Eunji, Sulli (Fx) aka Sulli, Choi Siwon (Suju) aka Siwon, Exo members |Duration| Chaptered |Genre|School and Entertainer Life, Comedy, Romance, Sad |Rating| PG – 15

She

May be the face I can’t forget

The trace of pleasure or regret

May be my treasure or the price I have to pay

“Aw…..sakit sekali!! Paman, tolong pelan-pelan.” Sehun terkapar di ruang gawat darurat sebuah Rumah Sakit. Di sana ada seorang pria paruh baya menggunakan baju dokter dengan stetoskop yang melingkar di lehernya. Dokter itu terlihat sangat serius membersihkan luka-luka Sehun dengan alcohol, memberinya obat, kemudian membalutnya dengan perban. Sementara, Sehun hanya bisa meringis menahan perih yang diciptakan obat-obatan itu. Di belakang dokter itu, banyak suster muda yang berkerumun dan mengambil foto Sehun.

“Ehm…..bisakah kalian kembali ke tempat kalian masing-masing?” Dokter itu membalikkan tubuhnya, berdehem singkat kemudian menutup horden pembatas.
”Ne, dokter Park.” Para suster itu kembali ke tempat mereka masing-masing dengan ekspresi kecewa.
”Sehun, kenapa kau bisa babak belur begini? Kau pasti habis berkelahi? Jangan-jangan kau berkelahi dengan anak paman? Paman dengar kalian berdua sedang dekat dengan seorang yeoja yang sama?”

“Tidak paman. Kami memang sempat bertengkar kecil tadi. Tapi, bukan Chanyeol yang membuatku begini.” Kata Sehun sambil menahan sakit.

“Lalu, siapa? Apa ada lagi namja yang menyukai yeoja itu?”
”Aku tidak tahu siapa mereka. Mereka hanya mengatakan aku tidak boleh mendekati yeoja itu lagi.”
”Siapa yeoja itu? Teman sekolah kalian?Pasti dia sangat cantik sampai kedua namja tampan ini menyukainya.” Dokter Park tersenyum jahil pada Sehun. Dokter Park yang juga appa Chanyeol, kelihatan sangat penasaran dengan yeoja yang disukai anaknya dan Sehun itu.
”Ne, yeoja itu teman sekolah kami. Namanya Choi Gaeun, ia pelayan di rumah presdir Choi Siwon, CEO JH Group.” Mendengar nama Gaeun juga pekerjaannya sebagai pelayan di rumah presdir Choi membuat dokter Park membesarkan bola matanya dan ada keterkejutan di wajahnya. Ia teringat sesuatu hal yang hampir membuatnya terkena serangan jantung.
”Sehun kan putera keluarga Oh, dan Gaeun? Dia kan puteri keluarga Choi, adik presdir Choi Siwon. Apa jangan-jangan yang memukuli Sehun itu…….Bagaimana bisa terjadi hal seperti ini? Kasihan mereka bertiga. Mereka harus mengalami semua ini tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya.Sebuah takdir yang kejam.”

“Sehun, sebaiknya kau mengikuti perkataan orang-orang itu.” Gumaman dokter Park memecahkan kesunyian rumah sakit itu. Sehun sangat terkejut dengan perkataan appa Chanyeol. Sehun bangkit dari posisi tidurnya dan menatap bingung pada appa Chanyeol.

“Apa kata paman? Kenapa aku harus menuruti kata mereka?” Ekspresi dokter Park terlihat memurung, seperti ada beban dan pikiran yang berat di kepalanya. Kemudian dokter Park kembali mencoba tersenyum dan memegang pundak Sehun.

“Suatu hari nanti pasti kau akan mengerti.” Setelah mengatakan itu, dokter Park meninggalkan Sehun yang masih mematung penuh kebingungan. Sehun sekarang benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa orang-orang itu memukulinya dan menyuruhnya untuk menjauhi Gaeun? Bahkan, appa Chanyeol juga mengatakan hal itu. Itu semua membuat kepala Sehun semakin pusing. Tapi, ia tidak mempedulikan itu semua. Yang ia pedulikan sekarang bagaimana caranya untuk membuat Gaeun memaafkannya. Ia rela dipukuli seribu kali dibanding kehilangan Gaeun. Karena jika Gaeun membencinya, itu akan jauh lebih sakit dibandingkan luka fisik apapun.

~~~#~~~

Gaeun membuka matanya dengan enggan. Gaeun merasakan sinar matahari menyentuh kulitnya. Ia bangun dari tempat tidurnya sambil memegang kepalanya yang pusing. Gaeun masih ingat kejadian kemarin. Saat ia melihat foto Sehun dan Sojung yang entah mengapa membuatnya begitu sakit dan sedih. Ia tidak menahan air matanya bahkan sampai ia tiba di rumah. Ia juga masih mendengar suara Sehun di telepon yang membuatnya makin sedih. Semalaman ia menangis di kasurnya sambil memukul boneka tedy bearnya. Ia menangis seorang diri di malam yang sunyi. Tidak ada Grace yang biasanya akan menenangkannya. Saat ia sedang membutuhkan Grace, gadis itu malah menghilang entah kemana.

Hari itu, ia memutuskan untuk ke sekolah tanpa sepedanya. Kepalanya masih sangat pusing. Kalau ia nekat bersepeda, bisa-bisa bukan sampai di sekolah, malah berakhir di RS. Di sepanjang jalan, Gaeun tidak berkata apa-apa. Grace berusaha mencairkan suasana dengan canggung, tapi Gaeun hanya merespon dengan senyum singkat. Suasana hati Gaeun sangat tidak baik hari itu. Dan ia tidak tahu sampai kapan bisa berubah.

Gaeun dan Grace berjalan bersama ke sekolah dengan canggung. Grace tidak berani menatap Gaeun seperti yang biasa dilakukannya. Grace seperti menyembunyikan sesuatu  dari Gaeun. Di kejauhan, Gaeun melihat Sehun sedang berjalan sendirian. Hari itu, Sehun terlihat sangat kacau. Di wajahnya terdapat banyak luka lebam juga plester dan perban yang menempel di mana-mana. Melihat Sehun seperti itu, refleks kaki Gaeun membawanya mendekati Sehun. Sekejap semua rasa kesal dan marahnya hilang. Berganti dengan khawatir yang amat sangat. Saat Gaeun hampir mencapai Sehun, Sojung muncul di sana dan meraih tangan Sehun. Tiba-tiba, ingatan itu kembali lagi. Foto-foto mesra Sehun dan Sojung berdatangan bagai meteor di kepala Gaeun. Gaeun segera mempercepat langkahnya dan menjauh dari Sehun. Langkah Gaeun terhenti saat ia merasakan tangan Sehun menggengam erat tangannya seolah tidak ingin melepaskannya lagi. Suasana yang tadinya ramai, menjadi sunyi seketika. Semua mata menatap dua orang itu dengan penasaran.
”Gaeun!!!Maafkan aku. Tolong dengarkan penjelasanku dulu.” Mendengar suara Sehun, Gaeun merasakan matanya memanas dan keluar cairan bening dari sana.

“Gaeun, itu semua tidak seperti yang kau pikirkan. Semua itu rencana Sojung. Kumohon percayalah padaku, Gaeun.” Kata Sehun dengan nada memelas. Wajah Sehun yang sudah tidak karuan itu, semakin terlihat kacau dengan air mata yang mengalir dari bola matanya yang indah. Sementara Gaeun tidak mengatakan apapun, yang terdengar hanya isakan lemah.

“Gaeun, kumohon maafkan aku. Aku tidak bisa begini terus. Aku tidak bisa membiarkan kesalah pahaman ini dan membuatmu membenciku.”

“Kau tidak perlu minta maaf ,Sehun. Kau tidak melakukan kesalahan apapun. Kau hanya mentorku. Aku tidak punya hak untuk melarangmu bersama dengan siapapun. Sekarang, aku hanya sedang tidak ingin bertemu denganmu.” Sambil menahan air matanya, Gaeun melepaskan tangannya dari Sehun dan berjalan menjauh dari sana.

<em>Bagus, bagus Gaeun. Kau harus melakukannya seperti ini. Jangan menengok ke belakang Gaeun.Kau harus bangun dari mimpimu. Kau harus melupakannya, karena kau tidak akan mungkin bersamanya.
</em>~~~#~~~

Sudah satu minggu berlalu sejak kejadian yang menyakitkan itu. Sudah satu minggu juga Gaeun menangis setiap malam, sendirian, di rumahnya yang sunyi. Gaeun masih belum sanggup menerima kata maaf dari Sehun. Padahal, Sehun sudah melakukan segalanya untuk membuat Gaeun memaafkannya. Setiap pagi, Gaeun selalu menemukan sebuah buket bunga di lokernya dengan kata maaf. Sebanyak itu pula Gaeun menaruhnya kembali di atas loker Sehun.

“Apa ini? Kau masih menaruhnya di sini sampai sekarang? Kumohon Sehun, hentikan ini. Pergilah, dan bencilah aku. Jangan buat aku lemah dan kembali lagi padamu….”Gaeun menatap nanar buket bunga yang ada di lokernya sambil berlinangan air mata.

Setiap hari Sehun selalu menghubunginya, dan Gaeun selalu menutupnya. Bahkan Sehun rela selama berjam-jam, kepanasan, kehujanan, berdiri di samping jendela kelas Gaeun dengan menggunakan kostum Pororo sambil memegang hand banner bertuliskan kata maaf. Saat itu, Gaeun hampir memaafkan Sehun. Hatinya tidak kuat melihat namja yang sebenarnya sangat dicintainya itu, menderita seperti itu. Tapi, ia kembali teringat kenyataan bahwa pada akhirnya ia dan Sehun tidak akan bisa bersama. Bibinya pasti sudah menyiapkan pasangan untuk Gaeun dan mau tidak mau Gaeun harus menerimanya. Karena, bagi keluarga konglomerat seperti Gaeun, cinta dan pernikahan adalah sebuah bisnis. Gaeun pikir, ia memang tidak ditakdirkan untuk jatuh cinta. Dan mungkin Sehun akan menjadi orang pertama dan terakhir yang akan dicintainya. Jadi, Gaeun memilih untuk membohongi hatinya sendiri. Memanfaatkan moment itu, untuk perlahan menghapus Sehun dari hatinya, meskipun itu terasa sangat menyakitkan.

Hari itu, adalah hari kedua belas semenjak pertengkarannya dengan Sehun, mentornya. Selama dua belas hari, ia berlatih seorang diri tanpa Sehun. Setelah berpisah cukup lama, Gaeun baru menyadari ia sangat merindukan omelan Sehun, tawa Sehun, juga tingkah Sehun yang menyebalkan itu. Ia juga sangat merindukan sentuhan hangat Sehun dan debaran yang dirasakan jantungnya. Gaeun harus mengakui, ia sangat merindukan Sehun sekarang. Ia ingin memeluk Sehun saat itu juga.

Gaeun membiarkan jendela ruang latihan dance itu terbuka. Berharap, angin musim dingin bisa membawa pergi bayangan Sehun dari ingatannya. Gaeun merebahkan dirinya sambil menatap langit-langit. Ia kembali teringat saat Sehun sakit kemudian terjatuh di atas tubuhnya. Moment itu mungkin akan menjadi salah satu kenangan terindah yang tidak akan dilupakannya. Saat Gaeun hendak memejamkan matanya, ponsel Gaeun berbunyi. Ia melihat nomor Baekhyun di sana.

“Yoboseo? Ada apa Baekhyun-a?”

“Gaeun, aku ingin memberitahukan sesuatu padamu. Sehun….Sehun…. dia…” suara Baekhyun terdengar bergetar dan panik.

“Sehun? Ada apa dengannya?” Tanya Gaeun khawatir sambil beranjak dari posisinya.

“Sehun……. Kecelakaan Gaeun. Sekarang dia di rumah sakit dan kondisinya kritis.”

DEG

Mendengar kata-kata Baekhyun, Gaeun hanya terdiam. Lidahnya tidak sanggup mengatakan apapun sementara air matanya mengalir deras. Gaeun bahkan tidak bisa mengeluarkan isakan. Hatinya terlalu sedih untuk bersuara. Gaeun tidak sanggup membayangkan jika sesuatu yang buruk sampai terjadi pada Sehun. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya, jika ia sampai kehilangan namja yang sangat dicintainya itu. Mungkin saat itu ia tidak punya alasan untuk bahagia lagi. Gaeun baru menyadari kalau Sehun sangat berharga untuknya dan ia tidak bisa kehilangannya. Dengan langkah gontai dan air mata menetes, Gaeun bergegas pergi ke rumah sakit.

Di sepanjang jalan yang ada di pikiran Gaeun hanya Sehun. Lidah Gaeun tidak berhenti berdoa untuk keselamatan Sehun. Begitu taksinya berhenti di depan rumah sakit, Gaeun segera berlari dengan air mata masih mengalir. Gaeun tidak peduli pada tatapan aneh orang-orang di rumah sakit. Yang ia pedulikan sekarang hanya Sehun seorang.

Gaeun tiba di depan ruang ICU. Di sana ia melihat semua personil Exo sedang berdiri dengan khawatir dan mata sembab.

“Kau harus masuk, Gaeun.” Baekhyun menuntun tubuh gaeun yang sudah tidak punya daya itu, masuk ke dalam ruang ICU.
Tangan Gaeun bergetar saat membuka pintu ruang ICU. Gaeun tidak bisa menahan isakannya saat ia melihat Sehun terbaring di sana. Dengan selang-selang dan alat pendeteksi detak jantung yang menempel di dadanya. Ia mendekat ke arah Sehun dan tersungkur di depan tempat tidur itu. Tangannya yang bergetar, meraih tangan Sehun dan mengenggamnya erat.

“Sehun, kenapa kau bisa jadi begini? Apa ini karena aku? Kumohon,Sehun bangunlah. Jangan tinggalkan aku, Sehun. Aku bahkan belum menyatakan perasaanku padamu. Aku tidak sanggup jika harus kehilanganmu, namja yang sangat aku cintai. Sehun…….” Gaeun terisak di samping tempat tidur Sehun. Air mata Gaeun membasahi tangan Sehun. Tiba-tiba Gaeun merasakan tangan Sehun bergerak.

“Gaeun, bisa kau ulangi kalimat yang terakhir?”

Gaeun terkejut mendengar suara Sehun yang kedengaran baik-baik saja. Gaeun membuka matanya, dan ia melihat Sehun sudah duduk dan ia menyeringai jahil pada Gaeun.

“Sehun? Kau…. Kenapa kau bisa bangun? Bukannya kau sedang sekarat?”

“Gaeun, ternyata kau mudah sekali ditipu. Apa katamu tadi? Kau bilang, kau mencintaiku?”

Kata Sehun sambil tertawa.

“Jadi, kau membohongiku? Kau jahat, Sehun!!!” Wajah Gaeun terlihat kesal namun air matanya kembali mengalir. Gaeun malah meraih tubuh Sehun dan memeluknya. Gaeun lega akhirnya ia bisa memeluk Sehun lagi. Dan kali ini, ia rasa, ia akan memperjuangkan cintanya seperti ia memperjuangkan mimpinya.

“Ya!!!Kau jahat Sehun!!! Kenapa kau tega melakukan ini padaku? Kau tau, betapa khawatir dan takutnya aku saat aku mendengarmu kecelakaan. Aku benar-benar takut kehilanganmu. Aku kesal padamu, Sehun!!”

“Jadi, kau sudah memaafkanku?” Kata Sehun sambil mengusap rambut Gaeun. Gaeun hanya menjawab dengan gelengan kepala. Sifat kekenakan dan ngambek Gaeun yang tidak pernah ditunjukkannya muncul bersamaan dengan kekesalannya.

“Ya,ya, kelihatannya sudah ada yang baikan. Gaeun, bagaimana akting kami bagus, kan?” Tiba-tiba personil exo masuk ke ruangan itu, sambil tertawa terbahak-bahak. Di sana juga ada Chanyeol yang tersenyum melihat Gaeun dan Sehun berbaikan kembali.

Gaeun melepaskan pelukannya dari Sehun, menatap tajam personil Exo satu per satu terutama Baekhyun sambil melipat tangannya di dada.

“Jadi, kalian bekerjasama dengan Sehun untuk membohongiku? Kalian tahu, aku sudah berlari di rumah sakit dengan keadaan kacau seperti ini. Aku kelihatan seperti orang bodoh tadi. Terutama kau, Baekhyun, awas kau ya!” Gaeun berlari mengejar Baekhyun hendak memukul kepalanya.

“Aduh, sakit Gaeun. Salah sendiri, kau tidak mau memaafkan Sehun. Jadi, aku terpaksa merencanakan ini. Tapi, kau sekarang sudah memaafkannya, kan?”

“Tidak. Aku tidak memaafkannya!” Kata Gaeun dengan ekspresi marah dibuat-buat. Melihat itu, Sehun turun dari tempat tidurnya dan membisikkan sesuatu di telinga Gaeun.

“Dengan ini pasti kau akan memaafkanku.”

~~~#~~~

Mata biru besar milik Gaeun berbinar saat ia dan Sehun tiba di pintu gerbang Everland Resort. Gaeun langsung mengganggukkan kepala saat Sehun mengajaknya ke sana sebagai tanda permintaan maaf. Sudah lama Gaeun ingin pergi ke sana. Seingatnya, terakhir kali ia ke sana 11 tahun yang lalu, beberapa hari sebelum kematian orang tuanya. Gaeun sangat menyukai tempat itu karena eommanya bilang itu adalah tempat yang tidak bisa dilupakan eommanya.

Sehun dan Gaeun berjalan bersama menuju pintu masuk sambil bergandengan tangan. Genggaman tangan Sehun sangat erat, seolah tidak akan membiarkan yeoja itu pergi lagi darinya. Tanpa sepengetahuan mereka, beberapa orang berpakaian hitam terus mengikuti mereka dari belakang.

Saat itu, Gaeun benar-benar seperti anak kecil. Ia menarik tangan Sehun kemanapun ia mau. Pertama, Gaeun dan Sehun masuk ke toko souvenir. Di sana, Gaeun membeli sebuah topi berbentuk mahkota. Sementara untuk Sehun ia membelikan topi kurcaci dan janggut palsu.

“Nah, begini kan bagus. Aku menjadi Snow White dan kau kurcaci yang menjaga puteri.” Gaeun tersenyum puas melihat dirinya dan Sehun di cermin. Sementara Sehun merengut melihat penampilannya sekarang.

“Ya! Gauen-a masak aku menjadi kurcaci? Kan harusnya aku menjadi pangeran yang mencium Snow White untuk membangunkannya.” kata Sehun sambil memanyunkan bibirnya seperti akan mencium Gaeun. Gaeun menahan kepala Sehun yang semakin mendekat dengan tangannya.

“Ya!! Enak saja kau mau menciumku! Aku tidak mau dicium kurcaci sepertimu. Hahaha!”

Gaeun segera berlari keluar dari toko Souvenir itu dan Sehun mengejarnya di belakang.

Sekarang Gaeun dan Sehun sudah berada di Global Fair. Di sana adalah area terbuka yang luas yang ditempati oleh banyak replika bangunan dan kastil dari Perancis, Timur Tengah, Spanyol, India, dan Rusia. Tempat yang sangat pas untuk berfoto. Gaeun dan Sehun mengambil selfie dengan ekpresi-ekspresi konyol di sana. Mereka beberapa kali tertawa sendiri melihat hasil selfie mereka. Di sana juga terdapat Four Seasons Garden, yaitu taman bunga indah dihiasi bunga warna-warni dan dikelilingi bangunan-bangunan cantik bergaya arsiktektur khas Belanda. Di sana ada banyak kelompok orang yang membawa kamera slr di tangan mereka. Di sana juga banyak pasangan-pasangan yang menggunakan baju pengantin. Sepertinya sedang ada lomba fotografi di sana. Gaeun dan Sehun melewati sekelompok pemuda dengan kamera yang kelihatan kebingungan. Mereka seperti kehilangan sesuatu. Tiba-tiba salah seorang diantara mereka mendekat ke arah Gaeun dan Sehun yang sedang menikmati pemandangan sambil menjilat lollipop.

“Maaf mengganggu. Apakah anda berdua bisa membantu kami?”

“Membantu kalian? Memannya apa yang bisa kami lakukan? Kami tidak jago fotografi.”jawab Gaeun sambil tetap menjilat lollipopnya.

“Bukan, kami ingin kalian menjadi model pengganti kami. Karena model kami tidak bisa datang. Karena saya lihat anda berdua pasangan yang sangat serasi. Dan wajah kalian seperti model. O iya, saya seperti sering melihat wajah anda. Apa anda model sungguhan?” pertanyaan orang itu menyentak Sehun. Ia heran bagaimana orang itu bisa tidak mengenalnya. Ia kan, idol yang sedang naik daun, kenapa ia bisa disangka model? Meskipun sebenarnya Sehun dan personil exo lainnya sering muncul di majalah fashion, CF, dan perhelatan fashion show. Ya, bisa dibilang selain penyanyi, mereka juga model.

“Baiklah kami mau menjadi model penggantinya. Iya kan, Gaeun?” jawab Sehun sambil merangkulkan tangannya di pundak Gaeun.

“Mwo? Aku tidak bisa berpose, aku bukan model.” Meskipun awalnya Gaeun menolak, tapi lama kelamaan ia bersedia juga. Ia kasihan pada fotografer itu kalau mereka gagal sebelum bertanding karena tidak punya model.

Sekarang Sehun sudah berganti busana dengan tuxedo berwarna abu-abu, sementara Gaeun masih belum selesai berganti pakaian dan dirias oleh penata rias. Karena menggunakan gaun pengantin cukup sulit dan butuh waktu lama. Setelah kira-kira setangah jam menunggu, Gaeun keluar dari ruang rias. Gaeun menggunakan sebuah dress panjang berwarna putih. Wajah Gaeun terlihat sangat cantik dengan rambut yang tergelung, make up, dan kalung bulan yang menghiasi leher jenjangnya. Di tangannya, Gaeun menggenggam sebuah buket bunga berwarna merah. Sehun tidak bisa berneti memandang Gaeun. Ia seperti tersihir oleh kecantikan Gaeun. Sehun benar-benar seperti seorang pengantin pria yang terpesona oleh pengantin wanitanya. Mereka berdua tanpak sangat serasi seperti pasangan yang akan menikah sungguhan.

“Wah….. kalian sangat serasi menggunakan pakaian pengantin ini. Apa kalian benar-benar akan menikah?” mendengar pujian dari fotografer itu, pipi Gaeun dan Sehun memerah. Di dalam hati, Gaeun berharap suatu hari nanti ia dan Sehun akan memakai pakaian itu di altar dan mengucapkan janji pernikahan.

Gaeun dan Sehun berpose di depan sebuah bangunan kastil. Gaeun menggenggam bunga itu sambil menengok ke arah Sehun yang memeluknya dari belakang. Hanya dengan berpose, kemistri mereka sangat terlihat. Dari tatapan mereka terpancar cinta yang dalam. Kemudian, mereka berganti tempat di taman bunga. Mereka berdua duduk di tengah taman bunga warna-warni dengan Gaeun bersandar di dada Sehun. Tawa yang keluar dari mulut mereka sangat alami bukan seperti model majalah fashion tapi seperti sedang melakukan sesi pemotretan prawedding. Pose terakhir, pengantin pria harus menggendong pengantin wanitanya. Sehun menggendong Gaeun, dan Gaeun melingkarkan tangannya di leher Sehun. Tatapan mereka saling bertemu, jantung keduanya berdetak sama cepatnya. Tanpa instruksi, Sehun mendekatkan kepalanya ke arah Gaeun, hendak menciumnya. Gaeun otomatis memejamkan kedua matanya. Saat mereka hampir berciuman, fotografer menepuk pundak Sehun.

“Kalian tidak perlu melakukan itu, sesi fotonya sudah selesai.” Sehun terkekeh dan menurunkan Gaeun dari tangannya. Mereka berdua kelihatan salah tingkah.

Gaeun dan Sehun berganti pakaian seperti semula.

“Terima kasih sekali atas bantuannya. Hasil fotonya sangat bagus. Semoga kami bisa memenangkan kompetisi ini. O ya, ini foto-foto kalian. Bisa kalian simpan sebagai referensi foto prawedding kalian nanti.” Gaeun menerima foto-foto itu kemudian melambaikan tangan sebelum pergi dari sana.

Tidak terasa mereka sudah bermain di sana seharian dan sekarang hari sudah gelap. Semua orang berkumpul untuk menyaksikan parade dan pesta kembang api. Gaeun menunggu dengan tidak sabar bunga-bunga api yang akan menghiasi langit malam kota Seoul.

“Gaeun, tunggu sebentar di sini, aku mau beli balon dulu.”

“Balon? Kau ini seperti anak kecil saja. Yasudah sana!”

Beberapa menit Gaeun menunggu di sana, Sehun belum muncul-muncul juga. Padahal, sebentar lagi parade akan selesai dan pesta kembang api akan dimulai. Tiba-tiba Sehun muncul dikejauhan dengan 10 balon ada di tangannya.

“Ini untukmu!” Sehun menyerahkan balon itu ke tangan Gaeun.

“Kenapa kau membeli balon banyak sekali?” Gaeun terkejut ketika menyadari di setiap balon itu tertulis kata aku mencintaimu dalam berbagai bahasa. Dan di tali balon itu tergantung sebuah cincin berbentuk bulan yang diinginkan Gaeun waktu itu. Sehun melepas cincin itu dari tali pengikat balon. Bersamaan dengan itu, balon-balon itu terbang ke langit. Sehun meraih tangan Gaeun dan meletakkan cincin itu di jari manis Gaeun. Gaeun tidak bisa menahan rasa bahagianya, ia meneteskan air matanya. Sehun mendekatkan kepalanya pada Gaeun. Saat bibir Sehun hampir menyentuh bibir Gaeun, Gaeun meletakkan telunjuknya di bibir Sehun sambil menggeleng.

“Kau tidak boleh menciumku.”

“Kenapa?”

“Menunduk sedikit ada kotoran di rambutmu.” Saat Sehun menunduk, tiba-tiba Gaeun mencium bibir Sehun. Sehun terbelalak saat merasakan bibir Gaeun menyentuh bibirnya. Kemudian, ia membalas ciuman Gaeun dengan lembut. Saat mereka berciuman, kembang api bertaburan di langit malam kota Seoul. Suara riuh rendah letusan kembang api dan orang-orang di sana menjadi soundtrack adegan romantis itu. Bulan juga bersinar sangat terang, seolah ikut berbahagia melihat dua sejoli itu.

“Karena kau sudah mencuri ciuman pertamaku, sekarang aku yang akan menciummu.” Gaeun melepaskan diri kemudian memeluk Sehun dengan sangat erat.

"Aku mencintaimu, Choi Gaeun."

“Aku juga sangat mencintaimu, Oh Sehun.”

~~~#~~~

Beberapa orang berpakaian hitam itu, mengambil foto Gaeun dan Sehun yang sedang berpelukkan kemudian mengirimkannya melalui e-mail. Tidak lama kemudian telepon salah seorang dari mereka berbunyi.

“Nyonya Choi, sepertinya namja itu tidak menuruti peringatan kami. Bahkan dia sekarang berani menyatakan cinta dan memberikan cincin untuk nona Gaeun. Apa yang harus kami lakukan sekarang, nyonya?”

“Tidak perlu melakukan apapun. Biarkan dulu mereka bersenang-senang. Aku ingin tahu, apa lagi yang dilakukan Gaeun. Selediki tentang ajang pencarian bakat itu!”

“Baik nyonya Choi.”

~~~#~~~

Semenjak hari itu, Sehun dan Gaeun menjadi sangat dekat. Setiap hari mereka selalu bersama seperti amplop dan perangko. Semua siswa mengira mereka berdua sudah berpacaran. Padahal, Sehun baru menyatakan perasaannya belum menembak Gaeun. Tapi, kedekatan mereka terlihat seperti pasangan. Berita itu juga beberapa hari sudah menjadi hot topic diantara fans exo dan k- pop. Haters Gaeun semakin bertambah tapi, baik Gaeun maupun Sehun tidak memusingkan itu semua. Yang mereka tahu, mereka saling mencintai dan wajar mereka dekat. Mereka pikir tidak ada yang salah dengan itu. Semenjak saat itu juga Grace terlihat menjaga jarak dari Gaeun. Gaeun sudah bertanya pada Grace apa Gaeun punya kesalahan pada Grace, tapi Grace tidak pernah mau mengatakan apapun. Grace hanya bisa menunduk dan menahan air matanya. Gaeun tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Grace dan membuatnya berubah seperti itu. Chanyeol yang kenyataannya juga menyukai Gaeun, mencoba bersikap sebiasa mungkin. Chanyeol tetap menyapa Gaeun dan mereka bertiga sering berlatih bersama. Kelihatannya Chanyeol bisa menyembunyikan perasaannnya dengan sangat baik. Sampai Gaeun sekalipun tidak menyadarinya.

Tidak terasa hari itu adalah showcase final. Showcase final diadakan di studio SBS dan akan disiarkan secara live. Kali ini Gaeun tidak senervous showcase pertama. Gaeun terlihat sangat tenang apalagi dengan Sehun yang selalu di sampingnya dan memberinya semangat. Gaeun sudah menyiapkan dirinya untuk apapun yang akan terjadi nanti. Karena ini siaran live, ia tahu ia akan ketahuan. Oppanya akan segera tahu perjuangan dan keinginannya menggapai mimpinya selama sebulan ini. Gaeun berharap showcase final ini bisa menjadi awal dari kebebasan dan perjalan meniti karirnya bukan akhir dari perjuangannya.

Diam-diam, Sehun sudah merencanakan akan menembak Gaeun hari itu. Sehun sudah menyiapkan kejutan besar untuk Gaeun pada penampilan exo di akhir acara nanti.

Gedung SBS sudah terisi penuh. Ada media, juri, pencari bakat, dan tamu-tamu lain. Di sana Gaeun berusaha mencari Grace, tapi ia tidak ada di sana. Padahal tadi Grace berjanji akan menonton penampilan penentuan Gaeun. Bahkan, mereka berdua sama-sama berbohong akan mengerjakan tugas kelompok hari itu. Tapi, sekarang Grace malah menghilang entah ke mana. Setelah ini Gaeun berniat akan menguak apa yang disembunyikan Grace sebenarnya. Gaeun sedikit terhibur saat melihat Eunji di dereta paling depan sambil memegang hand banner bertuliskan namanya. Di sana juga ada beberapa orang memegang hand banner yang sama seperti milik Eunji. Sepertinya Gaeun sudah punya fans sekarang.Meskipun banyak yang membenci Gaeun, ternyata tidak sedikit pula yang mendukungnya. Banyak orang yang kagum akan kecantikan dan bakat Gaeun. Sepertinya meskipun Gaeun tidak berhasil menjuarai kompetisi ini, masih banyak agensi lain yang mau menerimanya sebagai artis mereka.

Gaeun berhasil menyelesaikan seluruh penampilannya dengan baik. Semua juri memberikan komentar positif pada penampilan Gaeun. Mereka terlihat kagum pada bakat alami yang dimiliki Gaeun. Sepertinya posisi Gaeun dan Sojung bersaing ketat memperebutkan posisi pertama. Mereka berdua sama-sama layak mendapatkan juara pertama.

Akhirnya saat pengumuman pemenang pun tiba. Siapapun yang menang berhak menandatangani kontrak dengan SM. Entertainment dan akan langsung debut. Sementara 19 kontestan yang lain akan menjalani traini terlebih dahulu. Sebelum pengumuman, akan ada penampilan spesial dari exo. Sementara ke 20 kontestan duduk di kursi yang sudah disiapkan di atas panggung. Selama penampilan exo, Gaeun tidak melepaskan pandangannya dari Sehun. Jika sedang menyanyi dan menari seperti itu, Sehun terlihat jauh lebih tampan dan keren. Sehun pun beberapa kali mencuri pandang pada Gaeun. Beberapa kali Sehun hampir melupakan bagiannya karena Gaeun. Dan itu membuat Gaeun tertawa kecil.

Tiba-tiba lampu gedung itu mati. Semua orang yang ada di sana terlihat panik, termasuk Gaeun. Beberapa saat kemudian muncul cahaya dari bangku penonton sebelah kanan. Ternyata pakaian yang dipakai penonton-penonton di bangku itu bersinar dalam gelap. Semakin lama terlihat jelas sinar itu membentuk sebuah tulisan.

<em>Choi Gaeun, maukah kau menjadi yeoja chingu Oh Sehun? </em>

Bersamaan dengan itu dari atap gedung, turun ribuan balon berbentuk hati berwarna merah muda. Juga ratusan kelopak bunga mawar merah. Musik lembut tiba-tiba mengalun. Kemudian, lampu sorot menerangi Sehun yang memegang mic dengan sebuket mawar merah di tangannya. Sehun menyanyikan lagu She milik Elvis Costello. Salah satu lagu romantis yang paling disukai Gaeun. Sambil menyanyikan lagu itu, Sehun mendekati Gaeun, memberikan bunga mawar itu pada Gaeun, kemudian menuntunnya ke tengah panggung.

<em>She </em>

<em>May be the face I can't forget </em>

<em>The trace of pleasure or regret </em>

<em>May be my treasure or the price I have to pay </em>

<em>She </em>

<em>May be the song that summer sings </em>

<em>May be the chill that autumn brings </em>

<em>May be a hundred different things </em>

<em>Within the measure of a day</em>

<em> </em>

<em>She </em>

<em>May be the beauty or the beast </em>

<em>May be the famine or the feast </em>

<em>May turn each day into a heaven or a hell</em>

<em>She may be the mirror of my dreams </em>

<em>The smile reflected in a stream </em>

<em>She may not be what she may seem </em>

<em>Inside her shell </em>

<em> </em>

<em>She </em>

<em>Who always seems so happy in a crowd </em>

<em>Whose eyes can be so private and so proud </em>

<em>No one's allowed to see them when they cry </em>

<em>She </em>

<em>May be the love that cannot hope to last </em>

<em>May come to me from shadows of the past </em>

<em>That I'll remember till the day I die </em>

<em> </em>

<em>She </em>

<em>May be the reason I survive </em>

<em>The why and wherefore I'm alive </em>

<em>The one I'll care for through the rough in ready years </em>

<em>Me </em>

<em>I'll take her laughter and her tears </em>

<em>And make them all my souvenirs </em>

<em>For where she goes I've got to be </em>

<em>The meaning of my life is </em>

<em> </em>

<em>She</em>

<em>She, oh she</em>

Gaeun terperanjat melihat itu. Ia benar-benar tidak menyangka Sehun sudah menyiapkan kejutan sebesar itu untuk menembaknya. Apalagi itu siaran live yang berarti Sehun menembak Gaeun di depan jutaan pasang mata yang menyaksikan acara itu. Gaeun tidak bisa berhenti tersenyum dan mengeluarkan air matanya sampai Sehun menyelesaikan lagunya. Ketika musik berhenti mengalun, Sehun meraih kedua tangan Gaeun kemudian menatap Gaeun.

"Gaeun, maukah kau menjadi yeoja chingukku?"

"Ne." Jawaban singkat Gaeun sanggup membuat Sehun terharu sampai menangis. Semua orang yang ada di sana bertepuk tangan riuh bahkan ada yang meneteskan air matanya saking terharu melihat adegan romantis itu. Segera Sehun mengurung Gaeun dalam pelukannya. Gaeun merasakan debaran jantung Sehun menjalar ke seluruh tubuhnya. Membuat hari itu akan menjadi salah satu hari terindah yang tidak akan pernah dilupakannya. Berharap moment itu bisa berlangsung selamanya. Ia ingin selamananya bisa bersama Sehun. Selamanya.

Tiba-tiba lampu hidup kembali. Dan terlihatlah hal yang sangat mengejutkan. Di atas panggung sudah berdiri beberapa orang berpakaian hitam dengan kaca mata hitam. Semua orang di sana terkejut. Suasana yang tadinya sangat romantis menjadi kacau dan panik seketika. Orang-orang mengira wanita dan pria berbaju hitam itu adalah teroris yang akan meledakkan gedung itu. Ternyata dugaan mereka salah. Orang-orang itu mendekat ke arah Gaeun dan Sehun yang sedang berpelukan.

"Nona Gaeun, ayo ikut bersama kami. Ayo ikut!!!" Wanita-wanita seram itu berusaha melepaskan Gaeun dari pelukan Sehun. Gaeun tahu, apa yang ditakutnya benar-benar terjadi. Showcase itu sepertinya akan menjadi akhir perjuangan menggapai mimpinya dan mungkin akhir dari cinta dan kebahagiannya. Gaeun tidak mau itu terjadi sekarang. Saat ia sedang di saat yang paling bahagia, di saat itu juga kebahagiannya dihancurkan oleh bibinya sendiri. Mengubah hamparan bunga kebahagian menjadi lautan kesedihan tak berujung.

"Tidak!! Aku tidak mau pergi!!"Gaeun tidak mau melepaskan pelukannya.Gaeun tidak mau kehilangan dan harus berpisah dengan Sehun. Akhirnya dengan sedikit memaksa, wanita-wanita itu berhasil melepaskan Gaeun dan membawa Gaeun pergi dari sana.

"Gaeun!!!!!!" Sehun berniat hendak mengejar Gaeun dan melepaskannya dari tawanan wanita-wanita itu. Sehun tidak bisa melihat yeoja yang sangat dicintainya dibawa pergi begitu saja oleh orang-orang mencurigakan. Sehun juga ingat, orang-orang itu adalah orang yang sama dengan yang dulu memukulinya. Tapi, ada seorang yeoja menahan langkah Sehun dengan air mata berlinang.

"Jangan kejar dia, Sehun. Gaeun akan baik-baik saja."

"Grace?"
~~~TBC~~~

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s