Jung’s [Chapter 1]

wpid-jungs2.png

Jung’s

 

Chapter 1

 

Prologue

 

Jung Soojung—Jung SooyeonJung Jaehyun

Lee Minhyuk—Yook Sungjae and other cast

 

Romance, Dark, Mystery, Fantasy.

 

PG-13

 

 


 

Seoul, 2015

 

Krystal memasukki taman kampusnya. Gadis itu lalu duduk dan membuka bukunya. Sesekali mata gadis itu menatap gerbang kampusnya. Kemana pria itu? Apa ia benar-benar akan diam disekolah Jaehyun? Apa ia sudah tahu tentang Jaehyun? Gadis itu lalu kembali pada aktivitasnya.

Iris gadis itu lalu menangkap sosok Sungjae yang banyak orang bilang satu-satunya teman Krystal. Senyum gadis itu tersungging tipis. “Sungjae-ya!” panggil gadis itu. Senyum diwajahnya sudah hilang ketika pria itu celigukan mencari arah suara.

“Krysie!” seru Sungjae lalu pria itu segera memasukki taman kampus. Pria itu segera mencubit pipi Krystal yang katanya sahabatnya itu. “Kenapa pagi-pagi sudah memasang wajah suntuk? Apa mereka terus-terusan mengganggumu?” Sungjae segera mengambil buku Krystal yang berada dipaha gadis itu.

Krystal bergeming. Pikirannya melayang, ia terlalu khawatir pada adiknya. Bagaimana jika Jaehyun ketahuan dan terbunuh? Bukankah Jaehyun kata Minhyuk itu bukan sekedar manusia biasa? Apa ia sekarang harus pergi kesekolah Jaehyun? Tidak mungkin.

“Sungjae-ya, boleh aku bertanya sesuatu padamu?” tanya Krystal menatap Sungjae yang sekarang sudah menatapnya juga. Krystal bingung kenapa ia bisa berteman dengan lelaki seperti Sungjae? Kenapa ia bisa dekat dengan seorang manusia yang menurut orang-orang sangat banyak tingkah? Krystal merasa Sungjae itu sudah seperti kakaknya sendiri. Jika ia sedang diganggu oleh pria-pria dikampusnya pasti Sungjae membantunya. Ia tak ingin Sungjae terluka. Ia berjanji takkan membuat Sungjae terluka.

Kening Sungjae bertaut. “Bukankah kau selalu menanyakan banyak hal? Semenjak kau kembali ke Seoul juga kau selalu bertanya padaku, ‘kan?” Sungjae menatap Krystal aneh. Tidak biasanya Krystal seserius ini.

“Kau mengenal Lee Minhyuk?” tanya Krystal lagi. Kening Sungjae masih bertaut. “Tidak. Aku tidak menyukainya. Aku hanya bertanya padamu. Ia pernah menarikku kesuatu tempat. Kupikir, kau kenal dengannya.” sanggah Krystal sebelum Sungjae melontarkan pertanyaan-pertanyaan aneh.

“Aku kira kau menyukai playboy itu. Kusarankan, kau jangan pernah menyukai Minhyuk. Kau pernah berurusan dengannya? Kapan? Apa aku harus menghajar pria itu?” Sungjae menatap Krystal lekat-lekat. “Apa ada yang terluka? Ia itu termasuk anak yang aneh. Banyak orang bilang ia adalah seorang pembunuh. Tapi aku juga tak tahu mana yang benar.”

Krystal memandang Sungjae lurus. Minhyuk termasuk anak yang aneh? Apa yang Jaehyun kata itu benar? “Aku tak apa-apa. Minhyuk tak melakukan apapun padaku.” Krystal tersenyum tipis. “Bisakah kau mengantarku ke SMA Sekang?” tanya Krystal lalu menatap Sungjae melas—sungguh ekspresi yang jarang ia tunjukkan pada orang-orang.

“Apa sangat penting hingga kau harus mengunjungi adikmu?” tanya Sungjae lalu menyimpan buku milik Krystal kedalam tasnya. Gadis didepannya tersebut mengangguk. “Ayo kita berangkat.” Sungjae bangkit dari duduknya lalu menyatukan  jari jemarinya dengan jari jemari Krystal.

Lee Minhyuk memasukki halaman sekolah SMA Sekang. Sebuah senyuman tersungging dibibirnya. Para gadis disekolah ini memandang Minhyuk kagum, terpesona, bahkan ada yang secara terang-terangan mengatakan bahwa pria itu tampan.

Aku berada disekolah Jung Soojung. Lebih tepatnya, mantan sekolahnya. Lihat saja, kau Jung Soojung. Aku akan membongkar jati dirimu bersama kakakmu disekolah ini. Batin pria itu lalu tersenyum miring.

Seorang pria berseragam SMA Sekang berjalan didepannya. Mendahuluinya. Minhyuk harus segera mengetahui dimana ruangan guru. Lelaki itu lalu memanggil pria yang tadi melewatinya. “Hei, kau!”

Pria ber name-tag ‘Jung Jaehyun’ itu berbalik kearah Minhyuk. “Ya? Apa kau itu guru magang disini?” tanya Jaehyun memandang Minhyuk yang sedang mengangguk kepadanya. Kau, Lee Minhyuk. Aku tahu apa yang kau pikirkan tadi. Tak akan kubiarkan kau menyakiti kakak-kakakku.

 

“Ya. Apa boleh kau memberitahuku dimana letak ruang guru? Atau kau bisa mengantarku?” tanya Minhyuk yang dijawab oleh anggukkan dari Jaehyun.

“Tentu. Ikut aku.” Jaehyun mengisyaratkan agar Minhyuk mengikutinya. Minhyuk segera mengikuti Jaehyun. Pria itu mensejajarkan langkahnya dengan langkah Jaehyun.

“Kau murid tingkat berapa?” tanya Minhyuk membuka pembicaraan. Jaehyun menoleh kearah Minhyuk.

“Tingkat akhir.” jawab Jaehyun seadanya. Mata pria itu sedari tadi terus menilik penampilan Minhyuk hari ini. Jika ia boleh tertawa, ia akan tertawa sekarang. Sandiwara Minhyuk sangat menggelikan baginya. “Sepertinya kau masih sangat muda, saem. Kau seperti setingkat dengan kakakku.” Jaehyu berkata dengan santainya. Minhyuk terdiam, kata-kata yang keluar dari mulut Jaehyun membuatnya diam seperti batu.

Apa pria ini tahu bahwa aku masih kuliah? “Kakakmu sudah berapa tahun kuliah?” tanya Minhyuk berusaha santai. Aku tak boleh ketahuan. Apalagi ketahuan oleh anak sok dingin ini. Sangat memalukan jika kau ketahuan, Minhyuk.

“Kakakku? Ia sudah tahun kedua kuliah. Kenapa wajahmu pucat, saem? Apa kau sakit?” tanya Jaehyun khawatir. Tidak, lebih tepatnya pura-pura khawatir. “Apa mau kuantarkan ke klinik dulu?” tanya Jaehyun lagi.

Gwenchana. Bukankah itu ruang gurunya? Kau masuk saja kelas, aku bisa sendiri. Terima kasih telah membantuku, Jaehyun-ah.” Minhyuk menepuk bahu Jaehyun lalu segera berjalan menyusul Jaehyun.

“Kau benar-benar tak apa, saem? Aku khawatir.” teriak Jaehyun. Minhyuk hanya memberi ibu jarinya tanpa berbalik menatap Jaehyun. Jaehyun mengerutkan keningnya bingung. Apa aku sangat menakutkan baginya? Batin Jaehyun lalu ia mengangkat bahunya acuh.

Pria itu merasakan ponsel disakunya bergetar. Ia merogoh saku celananya lalu mengambil ponselnya. Soojung noona menelpon? Ada apa ini? Batinnya. Pria itu segera mengangkat panggilan dari Krystal.

Yeoboseyo?” Jaehyun memastikan bahwa nada suara kakaknya tidak khawatir. Tapi yang ia pikirkan jauh berbeda. Nada bicara kakaknya benar-benar menakutkan baginya. Kakaknya khawatir.

Jaehyun-ah! Kau sudah disekolah? Apa kau bertemu Lee Minhyuk? Aku dan Sungjae akan kesekolahmu. Ada beberapa hal yang harus kubicarakan denganmu.” suara Krystal diseberang sana membuat Jaehyun terdiam. Kakaknya akan datang kesini? Bahaya, bagaimana jika Minhyuk melihat Krystal?

Noona, kau tak usah kesini. Yak! Noona?!” Jaehyun memandang layar ponselnya. “Sial. Kenapa ia mematikan sambungannya?!” Jaehyun berdecak lalu berjalan kearah gerbang sekolahnya.

Dimana ia? Apa ia mengalami sesuatu? Jaehyun sedari tadi menatap layar ponselnya terus menerus. Ia memang bukan manusia yang mempunyai hati baik, tapi Krystal itu kakaknya, wajar, bukan jika ia khawatir pada kakak kandungnya sendiri? Iris pria itu kini menatap motor yang sudah tidak asing dimatanya. Motor milik Sungjae. Pria itu—Sungjae—memang sudah tahu asal-usul Krystal.

Noona! Jangan lama-lama disini!” seru Jaehyun lalu segera menarik Krystal kearah halte yang berada didepan. Sungjae hanya mengikuti kedua adik-kakak itu dari belakang. “Lee Minhyuk sudah berada didalam. Bagaimana jika ia menemukanmu disini? Bagaimana jika ia tahu bahwa aku ini adikmu? Sudah kukatakan, bukan bahwa ia itu bukan manusia biasa?” tanya Jaehyun bertubi-tubi.

Sungjae tersedak saat Jaehyun mengatakan kalimat terakhirnya. “Lee Minhyuk bukan manusia biasa? Sudah kuduga.” Sungjae lalu mengikuti Krystal. Duduk dihalte yang sudah kosong tersebut.

“Yook Sungjae, aku harus berbicara denganmu nanti dikampus. Ada banyak hal yang ingin kukatakan padamu.” Krystal menatap Sungjae tajam. Pria yang bersangkutan hanya mengangguk menanggapi apa yang Krystal bicarakan. “Jaehyun-ah, kumohon, kau jangan sampai ketahuan, ya? Aku dan Sica eonni mana mungkin melawan pria itu secara terang-terangan. Jangan sampai ia mengetahui bahwa kau adalah adikku. Ia bisa membunuhmu, Jae.” Krystal menggenggam telapak tangan Jaehyun. “Kau tahu? Minhyuk tahu bahwa sasaran terakhir kita adalah ayahnya. Ia berusaha melindungi ayahnya. Ia—intinya kau harus berhati-hati. Aku pergi dulu, kalau bisa kau jangan masuk jam pelajaran pertama. Minhyuk sedang berada dikelasmu.” Krystal mengelus rambut milik Jaehyun lalu berdiri. “Ayo pergi.”

Mereka berdua—Krystal dan Sungjae—meninggalkan Jaehyun yang sedang memikirkan kata-kata yang keluar dari bibir kakaknya. Aku satu-satunya harapan? Apa aku yang harus membunuh pria tua itu? Jaehyun menatap jalanan kosong. Beribu-ribu pertanyaan memenuhi benaknya.

Krystal berjalan disebelah Sungjae. Mereka berdua menikmati suasana pagi kota Seoul dengan berjalan kaki. Krystal memang mengajak Sungjae agar tidak masuk kuliah hari ini. Ia butuh waktu untuk memikirkan rencana agar Minhyuk tidak berhasil membunuh salah satu orang terdekatnya.

“Sungjae-ya,” panggil Krystal lalu menggenggam tangan Sungjae. “Bisakah kau memanggilku dengan sebutan Soojung saja? Aku harus bercerita banyak padamu. Aku butuh saran darimu. Kau temanku satu-satunya, Sungjae. Hanya kau yang bisa menyimpan rahasiaku.”

“Bukankah nama Soojung itu sangat kau hindari? Bagaimana jika Minhyuk mengetahuinya? Bagaimana jika ia membunuhmu? Aku tak ingin kehilangan sahabatku, Krysie.” Sungjae segera menarik Krystal menuju taman yang memang mereka biasa pakai untuk sharing. “Apa kau akan membongkar identitasmu?” tanya Sungjae saat mereka sudah berada ditaman.

Air mata mengalir dipipi mulus Krystal. Tak biasanya gadis itu menangis. “Apa aku harus memberitahu identitasku? Apa harus? Apa kau tidak malu atau takut mempunyai teman pembunuh sepertiku? Apa aku harus pergi juga seperti Ilhoon? Bagaimana, kau membenciku, bukan?” tanya Krystal terisak. Gadis itu menangis keras. Ia sungguh tidak bisa menjadi seperti kakaknya atau adiknya. Ia pun tak bisa menjadi seperti sepupunya, Jung Ilhoon.

Sungjae mengusap air mata yang mengalir dipipi Krystal. “Kau tak perlu melakukan semua itu, Soojungie, aku sama sekali tidak takut mempunyai teman sepertimu. Aku sama sekali tidak malu mempunyai teman sepertimu. Walaupun kau berbeda, setidaknya kau lebih baik daripada gadis-gadis kampus. Aku banyak belajar dari keluargamu, Jung. Terlebih Ilhoon, aku benar-benar banyak belajar darinya. Walaupun ia sepertimu, ia mau berbaur dengan sekitar, sampai-sampai ia menjadi direktur muda di Amerika sana. Ia meminta maaf pada kalian lewatku, Soojung. Dan yang terpenting, aku sama sekali tidak membencimu. Aku sangat beruntung mempunyai sahabat sepertimu.” Jawab Sungjae. Pria itu segera memeluk Krystal. Memberi Krystal kehangatan seperti yang gadis itu mau. Gadis itu selalu meminta Sungjae mengajari apa arti kehangatan sebuah keluarga dan pertemanan.

Krystal semakin terisak. Sungjae memang satu-satunya manusia yang benar-benar mengerti dirinya. Sungjae benar, ia harus seperti Ilhoon, mudah berbaur dengan sekitar. Jika dipikir-pikir, ia memang yang paling tidak berbaur diantara keluarganya. “Apa aku harus memulai dari awal? Tapi mereka sudah mencapku sebagai gadis aneh, tapi wanita yang dekat denganku hanya Jinri dan Seungwan. Apa aku harus bersama mereka juga? Aku tak bisa seperti Jessica eonni yang bisa ramah sewaktu-waktu. Atau seperti Jaehyun yang bisa menutupi kelemahannya. Aku tak bisa seperti mereka. Aku juga tak bisa sepertimu yang selalu tersenyum setiap saat. Kau yang selalu menyapa orang-orang ketika mereka melewatimu. Aku tidak bisa seramah dirimu, Sungjae-ya.” Gadis itu menangis kembali. Jika dipikir-pikir, ia sudah sangat sering menangis didada Sungjae. Ia yang paling lemah diantara keluarganya. Hatinya yang paling mudah tersentuh diantara keluarganya.

“Sudah, jangan menangis lagi, Soojung.” Sungjae mengusap punggung Krystal. “Kau mempunyai kemampuan yang berbeda. Memang, keluargamu itu mempunyai karakter yang berbeda-beda. Kau memang tidak bisa seperti mereka dan sepertiku. Tapi, aku dan keluargamu tak bisa seperti dirimu. Kau mengingatkanku pada Ilhoon saat pertama kali masuk kelas bersamamu. Saat ia mendapat akselerasi, saat ia sudah menjadi direktur. Terkadang, aku ingin seperti Ilhoon. Tapi aku sadar, tiap orang mempunyai kepribadian yang berbeda-beda. Dan aku juga takkan pernah bisa menjadi seperti orang lain. Kau juga sama sepertiku, walaupun kita berbeda, Soojung.” Sungjae melepaskan pelukannya. Tangan pria itu kini terangkat menghapus air mata yang masih mengalir dipipi Krystal. “Jangan menangis lagi, Soojungie. Aku menyayangimu.” Pria itu kembali memeluk Krystal hangat.

Krystal membalas pelukkan Sungjae erat. Pria ini benar-benar mengerti dirinya. Jika terjadi sesuatu padamu, aku akan membalas untukmu. Jika kau harus mati, aku juga akan mati bersamamu. Aku memang berbeda dari adik dan kakakku. Kekuatanku memang bukan seperti mereka yang bisa mengendalikan segalanya. Aku hanya bisa menyembuhkan beberapa penyakit, mengetahui karakter seseorang, dan terkadang megetahui masa depan. Aku tak tahu kenapa aku sangat lemah jika didepanmu, Sungjae. Apa aku menyukaimu? Kau memang berbeda dari manusia-manusia lain, Sungjae. Kau memang tulus menyayangi seseorang. Kau rela dijauhi teman-temanmu hanya karena aku. Hanya karena pembunuh yang sangat lemah ini. Aku benar-benar menyukaimu, Sungjae. Tidak aku mencintaimu. Apa kau juga mencintai pembunuh sepertiku? Batin gadis itu. Gadis itu semakin terisak. Kata-kata yang diucapkan batinnya itu membuat tangisannya semakin pecah. “Sungjae-ya, bisakah malam ini aku menginap diapartemenmu? Jessica eonni terkadang membiarkanku menginap dirumah teman. Bisa, bukan? Kumohon,” gadis itu lalu melepaskan pelukannya. Menatap Sungjae yang sedang terpaku padanya.

“Kau serius akan menginap dirumahku? Kau tak akan menyesal jika kau bertemu seseorang yang kau sukai?” tanya Sungjae yang membuat bibir Krystal mengerucut. Gadis itu memukul bahu Sungjae kecil. Sungjae terkekeh kecil. “Kau tidak menyukai seorang pria? Apa jangan-jangan kau—”

“Kau apa? Jangan aneh-aneh!” Krystal memekik tidak jelas. “Kau menuduhku menyukai siapa?!” tanya Krystal yang melupakan poutnya. Sungjae tertawa keras. Ia berhasil membuat gadis es-nya ini melupakan tangisannya, melupakan amarahya.

“Aku kira kau menyukaiku.” Jawab Sungjae asal. Mata Sungjae membola mendengar pernyataan yang keluar dari bibir Sungjae. Gadis itu menaikkan sebelah alisnya.

“Aku? Menyukaimu? Oh, jangan sampai aku menyukaimu, dasar.” Krystal berdeham pelan. “Bagaimana? Aku boleh, ‘kan menginap diapartemenmu? Aku sendirian dirumah. Sica eonni sedang berada di Busan selama seminggu, Jaehyun sedang berada dirumah temannya, Kim Doyoung. Aku tak ingin sendirian dirumah.” Krystal kembali mengerucutkan bibirnya. Sungjae menghela nafasnya pelan.

“Baiklah, kau boleh menginap. Takkan ada lelaki yang akan cemburu, bukan? Lagipula kau hanya dekat denganku. Jika kau menyukai seseorang pun kau pasti akan menyukaiku, karena kau hanya tahu tentangku. Tak mungkin kau menyukai Minhyuk, bukan?”

“Yak! Jangan asal bicara kau!” seru Krystal lalu gadis itu mencubiti tangan, pipi, dan pinggang Sungjae. Kau benar, aku kurang besosialisasi selama lima tahun ini. Selama aku masuk Sekang, aku hanya berteman dekat denganmu. Sedangkan yang hanya sekedar dekat hanya Seungwan dan Jinri. Kau benar, jika aku menyukai seseorang, sudah pasti aku menyukaimu. Seperti saat ini. Aku sudah menyukaimu, Yook Sungjae.

 

TBC

 

[Zahrafifah’s Note] Hi, lama banget, ya gak update episode 1-nya.

Maafin juga bikin mereka (Soojung—Sungjae) seumuran. Gak tau kenapa aku pengen mereka seumur gitu, haha.

(aku lagi nyoba tanpa cast kaistal soalnya 😀 )

 

Maafin juga buat bad plot, typo, dan segala-galanya. Last, wanna review?

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s