Freak Family [ Part.5 ]

Freak Family_all part

 ♥Freak Family ♥


Written by Babyrosse


Cast | Park Jiyeon | Oh Sehun | Park Chanyeol | Oh Gyuwoon


Genre | Romance | Comedy | Family


Rated | Teens | Length | Chaptered


Disclaimer


Keep calm the story is belong to


Babyrosse©

.
.
.
.
.


Freak Family


Fic untuk nambah library

.
.
.


Hope you have a good day~

.
.
.



“Istri anda hanya kelelahan Tuan Oh…sepertinya dia banyak pikiran akhir-akhir ini.”


Sehun melirik sekilas Jiyeon yang menunduk disampingnya meremas ujung gaunnya yang menjuntai.


“Selain itu…” Dokter dihadapan Sehun dan Jiyeon tersenyum penuh arti. “Selamat, saat aku memeriksanya aku melihat adanya pertumbuhan janin.”


“APA?! A-aku hamil?!”


“……” Sehun kaget tapi dia masih bisa mengontrolnya dengan tidak berteriak.


“Nee…memang baru hanya berusia tiga minggu tapi sebaiknya mulai saat ini anda menjaga asupan gizi.” Jiyeon masih terperangah mendengar apa yang dikatakan Dokter, booya? secepat inikah? Akkh…ini bertambah gila. “Nee? Apa ada yang salah Nyonya?” tanya sang Dokter heran dengan ekspresi tak gembira—yang dikiranya—Pasangan Suami-Istri ini.


“Gwenchana…syukurlah kalau begitu.” ucap Sehun mendelik galak pada Jiyeon, menyuruhnya untuk mengatakan tidak apapun.

bibir seksy  bibir seksy bibir seksy


“Oemma…jeongmal mianne, aku tidak bermaksud untuk membuatmu sedih karna aku. Tadi aku hanya bercanda…kau tidak mungkin pingsan gara-gara aku ‘kan? Aku tidak marah padamu kok! Kau tahu ‘kan aku hanya—“


“Gyuwoon, Appa sedang menyetir jadi berhentilah merusak konsentrasiku hmm?” kata Sehun menginterupsi ocehan putrinya.


Jiyeon menoleh kebelakang dan tersenyum lembut pada Gyuwoon—yang mencemaskan keadaannya. “Hihihi…kau manis sekali saat bicara.”


“Oemma…dia bicara seperti petasan tahun baru, kau tahu?” celetuk Chanyeol.


“Ya! Kau tidak boleh bicara seperti itu pada Kakakmu.”


“Appa, kau dengar itu? Dia mengejekku lagi!” adu Gyuwoon menunjuk Chanyeol yang duduk dikursi penumpang bersamanya dengan kesal.


“Hn, itu memang benar.” respon Sehun


“Appa?!”


“Ya! Dia putrimu ingat?!”


Seru Gyuwoon dan Jiyeon hampir bersamaan. Sehun hanya mendengus geli, mobilnya tak pernah seberisik ini sebelumnya ketika terakhir kali Gyuwoon merengek ingin pergi ke Amerika menonton konser One Direction.


Gyuwoon tiba-tiba menepuk keningnya pelan, seolah melupakan sesuatu. “Ah…aku harus minta maaf pada Sooyoung juga.” katanya, merogoh handhone dari saku roknya.


Telinga runcing Chanyeol, menajam sebentar mendengar nama ‘Sooyoung’ yang mengingatkannya pada gadis yang menjadi ‘bantalannya’ saat melompat beberapa minggu lalu. Dan sialnya dia bertemu dengannya lagi dalam keadaan tak terduga, untung saja Ibunya pingsan dan membuat Sooyoung ikut panik dan lupa untuk mengomeli Chanyeol.


“Oi…apa Tiang Listrik tadi itu adalah temanmu?” tanya Chanyeol.


“Tiang Listrik?” Gyuwoon menoleh setelah selesai menulis pesan, “Maksudmu Sooyoung? Ya! Kau tidak boleh mengatai sahabatku seperti itu!” protes Gyuwoon.


“Lalu aku harus menyebutnya apa?” sahut Chanyeol.


Gyuwoon diam sebentar mengetik balasan untuk Sooyoung lalu menyeringai mesum(?) “Mai Bae?”


“Apa?!”


Gyuwoon terkekeh, “Lihat…dia memanggilmu Namsan Tower!” Gyuwoon memperlihat layar handphonenya ”Booya? Kalian sudah pernah bertemu sebelumnya tapi tidak pernah bilang padaku? Iyyy… adikku dan Sooyoungie, ahh rasanya kalian cocok sekali!”


“Cepat, berikan handhonemu padaku!” tagih Chanyeol menarik paksa handphone milik Gyuwoon.


“Kyaa! Apa yang kau lakukan?!—Oemma dia mengambil handphoneku!”


“Aiish…diam kau cebol!”


Memutar bola matanya malas, Sehun mengabaikan apa yang tengah dua mahluk berisik itu lakukan dibelakang. “Bagaimana keadaanmu?” tanya Sehun pada Jiyeon.


“Nee? Ah…sudah lebih baik, tapi jujur saja aku benci obat.” kata Jiyeon membuat gerakan muntah. “Rasanya pahit.”


“Cerewet…” dengus Sehun pelan.


“Aku dengar itu, tahu.”


“Hn, apa kau sudah menyiapkan kepindahanmu? Pernikahan kita tinggal menghitung hari. Rasanya aku tidak melihatmu bersiap-siap.” cibir Sehun.


“Mwo?! Ya…lalu kau pikir tadi aku sedang apa? Tidur di butik itu? Bukannya kau yang ingin pakai jasa Wedding Organizer?” protes Jiyeon. “Kau yang selalu terlihat santai tahu—Ibuku bahkan menanyakan keseriusanmu saat kita menemuinya minggu lalu.”


“Che…kalau aku tidak serius, aku pasti sudah membiarkanmu sekarat di Rumah Sakit.”


“A-apa? K-kau bahkan mempunyai pikiran setega itu?” cicit Jiyeon tak percaya.


“Aku hanya—“


“Huwee…? Huwee…? Kau bahkan belum menikahiku tapi kau sudah punya pikiran untuk meninggalkanku…hiks…batalkan saja semua ini hikss…”


“Ya ampun…kau Drama Queen sekali…”


Kepala Sehun bisa meledak mendengar ratapan Jiyeon, belum lagi Gyuwoon dan Chanyeol yang bertengkar dibelakang, kepala Sehun rasanya berdenyut-denyut sakit. Kehidupan nerakamu baru saja dimulai Tuan Oh.

bibir seksy bibir seksy bibir seksy

Wedding day~


“Urrgh…cepatlah Gyuwoon, acaranya sebentar lagi mulai!” Sooyoung beberapa kali mengintip lewat celah tirai dari balkon, cuaca hari ini sangat cerah seolah mendukung acara pesta Pernikahan Sehun dan Jiyeon.


“Iya…tunggu sebentar!—Oemma…cepatlah, aku akan menunggu dibawah.” kata Gyuwoon setelah merapikan letak korsase dibagian dada gaun kuning cerahnya. “Ya! Chanyeol-aa, cepat keluar dan gandeng tangan Sooyoung dia pasanganmu hari ini tahu!”


Pletak!


“Berhenti bicara dan cepat jalan!” desis Sooyoung setelah menjitak kepala Gyuwoon dan melirik kesal kearah Chanyeol yang masih merapikan lipatan lengan tuxedonya.


Sooyoung menggelengkan kepalanya melihat Gyuwoon yang berlari dengan semangat menyebrangi halaman menuju tempat pesta yang diadakan di taman. Berderet-deret bangku putih berhias pita merah jambu yang cantik untuk tempat para undangan. Tepat di depan deretan bangku, sebuah altar dengan bunga mawar putih dan baby breath berdiri disana. “Aku akan melihatmu dari bangku depan, oke?” teriak Gyuwoon mengacungkan jempolnya pada Sooyoung yang berjalan tertatih dengan heels berhak runcing. Sooyoung hanya menganggukkan kepalanya.


Gyuwoon mengambil duduk tepat disamping Neneknya, Oh Jin Hye yang sedari tadi masih menangis terharu bisa melihat putranya—Oh Sehun—berdiri dengan gagah di depan altar menunggu mempelai wanitanya.


“Iyy…Halmeoni jangan menangis terus, harusnya kau bahagia seperti aku. Lihat…wajah Appa tegang sekali hihihi…” Gyuwoon tak bisa untuk tidak tertawa melihat wajah Ayahnya yang tegang terlebih wajah Kakeknya yang menjadi pendamping pria—berdiri tak jauh dari altar.


“Hikss…” Oh Jin Hye mengusap ingusnya dengan saputangan dengan suara yang keras, “Bagaimana aku tidak menangis? Cincin pernikahan pesanannya belum diantar sampai sekarang!”


“APAA?!”


Beruntung teriakan Gyuwoon tertelan oleh suara drum dari pemain orkestra yang sepertinya sedang marah—karna dia menggebuknya dengan semangat.


“B-bagaimana bisa? Bukankah Appa sudah memesannya jauh hari?!” Gyuwoon mengecilkan suaranya, meringis pada para tamu yang menatapnya heran sehabis berteriak dan tanpa sadar memukul lengan Neneknya dengan keras.


“Itu dia masalahnya…karna sudah dipesan jauh hari, pembuatnya cincinnya sampai lupa membuatnya. Wedding Organizer yang dipakai Appa-mu pun sekarang pergi entah kemana! Hiks…masa mereka harus bertukar cincin akik milik Kakekmu?” isak Oh Jin Hye merutuki ide suaminya untuk mengganti cincin pernikahan dengan cincin batu akik yang dia punya—lebih baik daripada tidak ada ‘kan? begitulah kata Oh Chang Min tadi.


Gyuwoon melongo, “A-apa? Y-yang benar saja? Oemma bisa pingsan jika tahu ini!”


“Lalu bagaimana lagi? Tidak ada yang bisa digunakan selain itu!”


“Hiks…kasihan Oemma-ku, semoga dia tidak pingsan lagi.” gumam Gyuwoon ikut terisak bersama Oh Jin Hye, Neneknya.

bibir seksy


Jiyeon berjalan dengan gugup, meskipun ini kali kedua dia menikah namun tetap saja perasaan menggelitik dan tak nyaman diperutnya masih belum bisa hilang. Menggelayut dengan erat dilengan Ayahnya, Jiyeon berjalan dengan gugup. Dibelakangnya berjalan dengan saling melirik sebal, Chanyeol dan Sooyoung.


Wedding song yang dimainkan orchestra menyambut mereka saat menapaki rumput hijau bertabur bunga mawar merah menuju altar yang membelah bangku para penonton. Semua perhatian tamu tertuju jelas pada sosok mempelai wanita yang terlihat sangat cantik dengan gaun putih panjang dan tiara yang manis. Jiyeon tersenyum gugup, entah kenapa rasanya Oh Sehun saat ini berjarak sangat jauh dengannya. Sial, bahkan disaat seperti ini pesona Oh Sehun benar-benar membuat Jiyeon merasa silau.


“Oi…Tiang Listrik, perhatikan jalanmu.” bisik Chanyeol lewat sudut bibirnya namun tetap dapat di dengar oleh Sooyoung.


Satu kedutan muncul pada pelipis Sooyoung, ingin sekali Sooyoung melempari Adik tiri Gyuwoon ini, dengan buket bunga mawar berduri yang dia bawa. Namun dia memilih diam berusaha untuk tidak terpancing. Dan beruntung sekali, mereka terpisah karna sekarang pengiring mempelai wanita berbelok kearah kiri dan pengiring mempelai pria—Chanyeol berbelok ke kanan, disaat itulah Sooyoung menjulurkan lidahnya.


Sooyoung melirik Gyuwoon yang menangis terisak bersama neneknya dari samping altar, rasanya dia punya firasat buruk tentang itu.


“Aku menerimanya…” satu kalimat dari bibir Jiyeon membuat semua tamu undangan bertepuk riuh, Gyuwoon dan Neneknya menangis—untuk alasan yang berbeda.


Jiyeon makin gugup saat Sehun meraih tangannya untuk bertukar cincin, lalu setelah itu mereka…Kyaa—dengan membayangkannya saja wajah Jiyeon tanpa dia sadari merona merah. Jiyeon sampai menutup matanya, menunggu Sehun menyematkannya cincin berlian—yang entah kenapa terasa berat—di jari manis tangan kirinya.


Wait a minute? Kenapa longgar? Padahal dia ‘kan sudah mengepas ukuran jarinya pada pembuat cincin? Jiyeon membuka matanya perlahan, yang pertama dilihatnya adalah Sehun yang tersenyum meringis padanya memasang cincin bertahtahkan sesuatu seperti manisan kolang-kaling merah yang sangat besar dijari manisnya.


Mata Jiyeon membulat sempurna, bahkan hampir keluar. Apa?! Dimana cincin berlian miliknya. Jiyeon sudah bersiap menjerit kaget tapi Sehun lebih cepat, menguncinya dalam ciuman yang panjang.


“Kyaa!!” Gyuwoon bahkan berhenti menangis dan menjerit histeris—girang—melihat Appanya sangat agresif, bahkan Oemma-nya sampai dibuat tak bisa bergerak. Beberapa tamu undangan pun sukses dibuat mimisan. Jiyeon pingsan dalam pelukan Sehun dan itu jelas bukan karna ciuman dari Suaminya.


Langit biru yang cerah, bahkan dikejauhan terdengar kicaun burung. Beberapa helaian kelopak bunga mawar yang dilempar oleh anak-anak kecil pengiring pengantin beterbangan ditiup angin, sangat cantik dan indah. Tapi rasanya, semua itu tidak sama dengan apa yang akan terjadi dengan Keluarga Oh—baru—kedepannya. Yaa…siapa yang tahu? /kecuali Baby hehehe/

bibir seksy bibir seksy bibir seksy


Masih menggunakan gaunnya saat pesta menghebohkan tadi pagi—karna sang mempelai wanita pingsan—Gyuwoon berindap dan menempelkan telinganya pada salah satu pintu besar di rumah mungil bergaya Amerika klasik yang disewa Ayahnya untuk pesta pernikahan.


Diluar, tepatnya dihalaman tempat pesta pernikahan tadi berlangsung masih terdengar sayup-sayup suara Band Sekolah Chanyeol. Sudah hampir larut malam, jelas semua tamu undangan sudah pulang kecuali orang-orang terdekat yang masih ingin menikmati pesta. Dan mereka cukup tahu diri untuk tidak menganggu Pasangan baru itu menikmati malam mereka dikamar tapi masih saja ada orang yang tak tahu diri untuk mengintipi kamar ‘Honeymoon’ mereka, Oh Gyuwoon.


“Aiishh…kenapa tidak terjadi apa-apa sih?” rutuk Gyuwoon menempelkan telinganya lebih dalam pada pintu.


“Tidak mungkin terdengar jika kau tak pakai ini…”


“Oh?” Gyuwoon kaget karna tahu-tahu seorang namja juga ikut berjongkok nimbrung dengannya, orang yang sejak beberapa minggu yang lalu tidak asing lagi bagi Gyuwoon, Byun Baekhyun.


Baekhyun nyengir pepsodent memamerkan deretan rapi giginya, melepas stetoskop dilehernya dan memakaikannya pada Gyuwoon. Saat itu dimata Gyuwoon, Baekhyun terlihat seperti Pangeran berkuda yang datang menolongnya(?).


Seolah mengabaikan keterpanaan Gyuwoon, Baekhyun berkata dengan pelan, “Aku juga penasaran seperti apa Jiyi Nunna saat—Ahh…dia menyuruhku memanggilnya Nunna, Eh…tapi Ayahmu tadi keren sekali, ckk…ckk…dia sangat agresif…” Gyuwoon mengerjap-ngerjapkan matanya, belum pernah sebelumnya dia menemukan orang yang bicara banyak dengan cepat selain dirinya. Rasanya seperti menemukan belahan jiwanya.


“Hei…kau baik-baik saja ‘kan?” Baekhyun mengibas-ngibaskan tangannya diwajah Gyuwoon.


Greb!


Gyuwoon meraih kedua tangan Baekhyun dan menggenggamnya erat, “Kau sangat manis, menikahlah denganku!”


“HEEE?!”


Pletak!!


Pletak!!


“Ya! Apa katamu? Menikah? Kau sudah gila Oh Gyuwoon?!” raung Sooyoung menjitak kepala sahabatnya.


“Oii…kau masih suka mengintip he? Dasar mesum!” sahut Chanyeol setelah menjitak kepala Baekhyun, lalu beralih pada Gyuwoon yang juga meringis sakit, “Dasar phedofil!—Oii…Tiang Listrik apa yang lakukan disini? Kau tidak pulang?” tudingnya pada Sooyoung.


“Diam kau Namsan Tower! Apa hakmu menyuruhku pulang he?” balas Sooyoung yang sedari tadi sudah menahan kekesalannya terhadap Chanyeol.


“Tentu saja karna ini adalah acara Keluargaku!”


“Che…dan aku adalah tamu undangannya!”


“Aku Oh Gyuwoon—kita belum berkenalan secara resmi sebelumnya bukan?” kata Gyuwoon masih menggenggam tangan Baekhyun dan mengabaikan Adik serta Sahabatnya yang tengah bertengkar mulut. Baekhyun hanya meringis, tak tahu harus mengatakan apa setelah dilamar Gyuwoon(?).

bibir seksy


“Ngghh…” Jiyeon menggeliat dengan bunyi ‘kresekan’ berisik dari gaun pengantinnya. Gaun pengantin? …… Jiyeon segera membuka matanya, Ommo?! dia baru saja menikah tadi pagi dan pingsan?


Aroma mawar dan lavender yang lembut menyeruak di indera penciuman Jiyeon yang berasal dari lilin aromaterapi. Ukhh…kenapa lampu kamar ini hanya lima watt? keluh Jiyeon akan penerangan yang temaram, seketika membuatnya merinding saat sadar bahwa ini adalah kamar Pengantin.


Pluk!


Jiyeon merasakan sesuatu menimpa wajahnya—sebuah kemeja?


“Kau sudah sadar? Cepatlah bangun dan lepas pakaianmu itu!” kata Sehun yang baru saja melepas pakaiannya dan berdiri depan lemari kayu untuk berganti pakaian.


Jiyeon bangun dan melempar balik kemejanya kearah Sehun. “Ya! Apa yang—“


Sedetik kemudian Sehun mendapati dirinya sudah diterjang oleh Jiyeon dan membuatnya tersungkur mencium lantai, Jiyeon menarik-narik rambutnya sambil menjerit-jerit seperti orang gila.


“KEMANA KAU BAWA CINCIN BERLIAN YANG KITA PESAN HA?! YA! JAWAB AKU OH SEHUN!!!”


“Aduduh—“ Sehun tak yakin bahwa dia sudah menikahi seorang wanita atau Nenek Sihir.


“TEGA SEKALI KAU MEMBERIKANKU CINCIN DARI KOLANG-KALING HA?!”


“Awww?!” Sehun yakin bahwa kepalanya sudah botak setengah, dan demi tuhan apa dia sudah menikahi Nenek Sihir? “Aduduh…ada apa denganmu?!” berusaha menyelamatkan setengah dari rambutnya, Sehun dengan cepat mendorong Jiyeon membalikkan keadaan dan bertumpu pada kedua sikunya agar tak menindih Jiyeon tapi tetap masih bisa mencengkram kedua tangan Jiyeon agar tak—kemungkinan terburuk—mencakari wajah Sehun.


Nafas Jiyeon terengah-engah sehabis berteriak dan menerjang Sehun, iris hazelnya menatap iris hitam milik Suaminya. “Dengarkan dulu penjelasanku, bodoh.” desis Sehun mencegah Jiyeon untuk mengumpat padanya. Jiyeon menurut tak meronta tapi hanya merenggut kesal.


“Ada kesalahan teknis dalam pemesanan cincinnya dan WO sialan itu baru memberitahukannya padaku tadi pagi—satu-satunya cincin yang ada hanyalah milik Ayahku dan heeii…itu bukan kolang-kaling! Itu batu akik tahu, harganya bahkan lebih mahal dari cincin yang kita pesan!” jelas Sehun, menoyor kepala Jiyeon dengan sebelah tangannya.


“J-jinjja?” entah kenapa Jiyeon merasa tiba-tiba saja merasa gugup dan itu jelas bukan karna dia baru saja merasa bersalah karna telah menjambak suaminya.


“Umm!” Sehun mengangguk melepas cengkraman tangannya setelah yakin bahwa Jiyeon sudah melunak, “Kau bahkan bisa membeli sebuah pulau dengan itu.”


“E-eh benarkah?!”


“Iya…” tanpa sadar sedari tadi pandangan mata Sehun terus tertuju pada bibir Jiyeon yang berlapis lipstick merah, bibir itu seolah menggodanya.


Jiyeon mengerjap-ngerjapkan matanya saat Sehun mendekatkan wajahnya pada Jiyeon, tapi begitu merasakan hembusan nafas Sehun di wajahnya, Jiyeon refleks menutup matanya. Bahkan tanpa sadar, dia sudah meletakkan kedua tangannya pada sekeliling leher Sehun, menariknya untuk memperdalam ciuman mereka. Sungguh, keduanya sudah terbuai dalam birahi yang semakin menggebu bahkan suara berisik diluar pun seolah tak terdengar oleh mereka.

bibir seksy


“APA KAU BILANG?! YA KAU PIKIR KARNA SIAPA TANGANKU HAMPIR PATAH HE?!”


“Kyaa…Sooyoungie, sudahlah…sudahlah…” Gyuwoon merentangkan kedua tangannya mencegah Sooyoung mengeluarkan salah satu tehnik Judonya pada Chanyeol.


“ITU SALAHMU YANG BERDIRI SEMBARANGAN, BODOH! DASAR TIANG LISTRIK!”


“Aduuh tenangkan dirimu, Chanyeol-aa…” pinta Baekhyun menarik-narik ujung kemeja Chanyeol bermaksud membawanya menjauh dari Sooyoung, tapi apa daya tubuhnya saja jauh lebih pendek dari Chanyeol. Dan pada akhirnya dia tak bisa mencegah Chanyeol untuk menerjang Sooyoung.


“KYAA?!”


“AARGHH?!”


BRAAKK!!


Pintu kamar pengantin menjeblak terbuka, dengan mereka terjatuh saling menindih satu sama lain. Saling mengaduh dan mengumpat satu sama lain juga, tapi segera tersadar bahwa mereka telah membuka sebuah pintu terlarang.


“Oh my godness…” Gyuwoon tak bisa melepas pandang dari orangtuanya yang tengah bergumul diatas karpet. Sooyoung cepat-cepat menutup mata Gyuwoon dengan kedua tangannya, mencegahnya melihat hal yang tidak semestinya karna masih dibawah umur.


Sehun sontak melepas ciumannya dari Jiyeon yang berada dibawahnya, “A-APA YANG KALIAN LAKUKAN DISINI?!”


“Ommo?!” Jiyeon cepat-cepat menaikkan gaunnya yang melorot karna resletingnya terlepas.


Tanpa menunggu untuk diusir, keempat remaja tanggung itu cepat-cepat menutup pintu dan berebut menuruni tangga duluan.


Jiyeon menenggelamkan wajahnya dikedua tangannya, apa yang bisa lebih memalukan dari ini. Sementara Sehun bangkit mengusap wajahnya, ini tidak akan bisa dilanjutkan. Terimakasih untuk mereka yang sudah muncul disaat yang sangat tepat, great! rutuk Sehun.

bibir seksy bibir seksy bibir seksy


“Chanyeol-aa…ini berat sekali, kau tega meninggalkan Oemma?” terdengar rengekan dari Ibunya membuat Chanyeol memutar badan.


“Oeh…kau baru sadar jika semua koleksi sepatumu itu berat?”


Jiyeon hanya mengerucutkan bibirnya dari balik tumpukan kardus yang dia bawa. “Setidaknya bantu Oemma membawa ini, oeh?” pinta Jiyeon.


Chanyeol memutar bola matanya malas dan terus berjalan kedalam rumah—barunya—membawa seperangkat gitar listriknya. “Chanyeol-aa? Kau tega melakukan ini?!” ratap Jiyeon melihat Chanyeol melenggang masuk kedalam rumah.


“Ckk…dasar Drama Queen!” terdengar rutukan dibelakang Jiyeon yang berasal dari Sehun dan bersamaan dengan itu kardus yang berada ditangan Jiyeon sudah berpindah ketangan Sehun. “Ya! Kenapa kau diam saja? Masih ada yang lain tidak?” tanya Sehun.


Seperti orang bodoh, Jiyeon menggelengkan kepalanya. Sehun mendengus tertawa, reaksi seperti itu sudah sering dia lihat pada wanita yang sudah jatuh pada pesonanya. “Hei…jangan bilang kau sudah cinta padaku?”


“A-apa?” sebelum Jiyeon sempat untuk protes, Sehun sudah melangkah duluan kedalam rumah. “A-apa dia bilang? Che…dia pikir aku semudah itu he?” tapi rona merah pada pipinya tak bisa menyembunyikan apapun.


Rumah Gyuwoon atau lebih tepatnya sekarang sudah menjadi rumah Chanyeol sangatlah besar dan luas, bahkan terlampau luas untuk empat orang aah…bagaimana saat Gyuwoon dan Ayahnya tinggal berdua saja? Rumah ini pasti sangatlah sepi. Kabar baiknya, Chanyeol mendapat studionya sendiri digarasi belakang yang tak terpakai. Jadi dia tak perlu mendengar omelan Ibunya tiap dia menggebuk drumnya.


“Chanyeol-aa! Tolong bantu aku…ukkh~” terlihat Gyuwoon berjinjit diatas sofa ruang Keluarga, berusaha memasang foto pernikahan Ayah dan Ibu mereka.


“Ckk…semua perempuan memang merepotkan.” decak Chanyeol meletakkan gitar listriknya. “Harusnya kau sadar diri badanmu pendek!”


“Memangnya salah jika aku dilahirkan pendek he?!”


“Hei…berhentilah bertengkar.” tegur Sehun sambil lalu membawa tumpukan kardus milik Istrinya kelantai atas.


“Gyuwoonie! Gyuwoonie! Ada yang mencarimu sayang!” teriak Jiyeon dari halaman depan.


“Oh? Itu pasti Sooyoung!” Gyuwoon cepat-cepat turun dari sofa dan menyerahkan semuanya pada Chanyeol, yang diiringi gerutuan oleh Chanyeol.


Hari ini memang hari minggu, tapi Gyuwoon punya janji dengan Sooyoung untuk mampir kembali ke tempat Madame Puri-puri, mengembalikan apa yang sudah dibelinya karna sepertinya dia tidak membutuhkannya.


“Gommen…gommen Sooyoungie—Ehh?” dengan sebelah sandal yang belum terpasang, Gyuwoon melangkah ke halaman depan menemui sahabatnya, tapi kalimatnya langsung tergantung.


Gyuwoon membeku orang yang berdiri dibelakang Ibunya jelas bukanlah Sooyoung, tapi wanita cantik dengan rambut tergerai yang indah. Jiyeon tersenyum memberikan tatapan bertanya pada putrinya, karna rasanya wanita itu bukanlah teman Sekolah Gyuwoon. “Yoona Umma…?” panggil Gyuwoon.


Jiyeon mengernyitkan keningnya, itu bukanlah jawaban yang diinginkannya. “Yoona Umma?” ulang Jiyeon pelan bahkan nyaris berbisik tenggelam oleh suara lembut wanita cantik itu yang kini melangkah maju dan memeluk Gyuwoon.


“Long time no see…Gyuwoonie putriku!”


Ehk? Putriku? D-dia bukan Ibu Gyuwoon ‘kan? B-bukannya sudah meninggal? Apa dia bangkit dari kubur karna Suaminya menikah lagi?! Siapa wanita kurang ajar ini?! teriak Jiyeon dalam hati, dasar perutnya terasa panas entah karna apa.


“Hei apa yang kalian lakukan? Lama sekali diluar…” sama seperti putrinya, Oh Sehun pun mengalami gejala yang sama melihat sosok wanita berambut indah itu.


Wanita berambut indah itu melepas pelukannya pada Gyuwoon menyadari kehadiran Sehun, “Sehun Oppa?!” dan dia pun menerjang memeluk Sehun.


“APA-APAAN INI?!” jerit Jiyeon dalam hati. “SIAPA DIA?!”


♥To be continued ♥


Lanjut part 6 ya~



Baby notes


Ahooy…makasi untuk kalian yang udh comment, like plus bantu jawab pertanyaan Baby di part kemarin u_u aku mencintai kalian ❤ ❤


Gommenasai gak sempet bales comment kalian…hikss  dan FF ini makin gaje dan aneh *nangis dipojokan*


Maklum ya namanya juga anak Sekolah #ngeles apalagi minggu-minggu ini lagi mood swing -_-


Jangan kapok baca ato comment lagi ya

See you in next part ehehe ❤ 

 
Advertisements

24 thoughts on “Freak Family [ Part.5 ]

  1. leeeeeeehhhhh siapa itu? lah istri sehun bangkit lagi gitu? oohh goodness gmn trs sm mrk baru ini baca serius di ending heheheh

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s