[Vignette] Friendship

1

Friendship

Author : Jinho48

Genre : Sad, Friendship

Cast :

  • Goo Junhoe (iKON)
  • Shannon Williams (Singer)

Length : Vignette

Summary : “Friendship is like a violin, the music may stop now and then, but the strings will last forever.”

Poster by Zesavanna @ Indo Fanfictions Arts

#

Semilir angin berhembus sepoi-sepoi, menyapa segala sesuatu yang ada di sekitarnya dengan lembut. Siapapun yang merasakannya pasti merasa nyaman. Begitu pula dengan seorang bocah perempuan yang tengah bermain ayunan. Dia amat menikmati suasana yang ada. Tapi tak tampak raut kebahagian di wajahnya, ia hanya merasa nyaman. Perlahan-lahan ia menghentikan gerak ayunannya. Hingga tiba-tiba seorang bocah laki-laki datang menghampirinya.

“Ada apa denganmu? Kenapa kau begitu sedih, Shan?” tanya bocah laki-laki itu. Lantas bocah perempuan tadi mendongak dan menunjukkan tatapan sendunya.

It’s my birthday but my parents did not get me anything. They are so bussy. Hiks…” jawab Shan sembari menangis dan ia menundukkan kepalanya.

Sedangkan bocah laki-laki itu bingung harus berbuat apa. Kemudian ia mendapatkan ide, ia segera berlari meninggalkan Shan. Dia tahu harus apa agar sahabatnya tersenyum kembali. Tak lama, dia kembali dengan sebuah mahkota yang ia rangkai dengan ranting dan beberapa bunga daisy. Di sodorkannya mahkota bunga itu tepat di hadapan bocah perempuan tadi. Lalu gadis cilik itu menatap mahkota bunga dan sahabatnya secara bergantian. Perlahan senyuman mulai merekah di wajah manisnya. Tak ayal itu pun membuat sang sahabat tersenyum ke arahnya.

Don’t cry! This is for you. Happy birthday, Shannon.” Ujar bocah itu pada Shan sembari tersenyum.

This is so cute. I always love suprise. Thank you, Junhoe.” Balas Shannon riang gembira. Lantas ia segera memakai mahkota itu. Sementara Junhoe memilih untuk duduk di ayunan yang ada di sebelah gadis cilik yang merupakan sahabat baiknya sejak balita.

Shannon merapikan rambutnya lalu menoleh ke arah Junhoe, “Jun, apakah aku sudah cantik?” tanya dengan senyum manis. Junhoe pun mengangguk dan senyuman Shannon semakin lebar.

“Kau selalu cantik, Shannon-ah.” puji Junhoe yang membuat keduanya tertawa senang sembari memainkan ayunan itu.

Sinar mentari begitu menyilaukan namun hal itu tak menghalangi seorang gadis untuk beraktifitas di luar rumah. Rencananya dia akan pergi bersama sahabat baiknya. Mereka ada janji bertemu di taman bermain tempat dimana untuk pertama kalinya sang sahabat memberinya hadiah ulang tahun. Dengan langkah lebar, gadis itu bergegas pergi ke tempat itu. Dia yakin, sahabatnya pasti sudah menunggu di sana. Tak butuh waktu lama untuk sampai di taman bermain itu, hanya butuh waktu 10 menit dengan berjalan kaki.

Dan benar saja, sudah ada seorang pemuda yang duduk di sebuah ayunan. Pemuda itu membelakangi gadis tadi dan kepalanya tertunduk. Lantas sang sahabat berjalan mengendap-endap ke arah pemuda berkaos biru dongker itu. Dengan tiba-tiba di tepuknya bahu tegap sahabatnya hingga hampir saja sang pria itu tersungkur di tanah jikalau ia tak segera menahan tubuhnya dengan kaki dan tangannya. Lalu ia menoleh ke samping dan mendapati sahabat perempuannya tertawa renyah di atas ayunan.

“Dasar menyebalkan! Kenapa mengejutkanku, Shan? Bagaimana jika aku jantungan, hah? Tsk!” kesal pemuda itu.

“Haha, I’m sorry, Junhoe. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu terkejut. Hanya ingin menjahilimu sedikit, hehe.” Ujar gadis blasteran itu sembari terkekeh kecil.

“Ya sudahlah. Hm, omong-omong apa kau tahu? Ayunan ini adalah sahabat terbaikku. Aku sudah menganggapnya sebagai kakak lelakiku. Setiap saat ayunan ini selalu siap mendengarkan ceritaku. Tidak ada yang sepertinya. Hanya dia yang tidak pernah berbicara padaku tapi merupakan pendengar yang baik. Haha…”

“Kau benar, aku setuju denganmu. Aku juga menganggap ayunan ini sangat berarti. Oh ya, tebak siapa yang akan berulang tahun dalam waktu dekat ini?”

Junhoe sedikit mengernyitkan keningnya, “Hm, 3 more months?” tanyanya. Sementara Shannon hanya tersenyum samar. “Even the queen doesn’t measure her birthday like that.” Lanjutnya seraya terkekeh kecil.

Shannon menatap tajam Junhoe, “What? It is just enough time for you to prepare a present for the special little girl, right? Jun?” ujarnya dengan sedikit merajuk.

Okay, I’ll prepare the best for you. Just wait and you can see!” ucap Junhoe santai sembari tersenyum tipis.

Alright. I’m waiting for the best present from you.” Shannon tersenyum manis lalu memainkan ayunannya. Begitu pula dengan Junhoe.

Kemudian Junhoe menghentikan laju ayunannya, ia kembali menoleh ke arah Shannon. “Ah, aku lupa. Apakah kau mau ikut denganku?”

“Kemana? Kapan? Tentu saja aku mau, Junhoe.”

“Besok pagi. Kita akan pergi ke sebuah tempat yang indah bersama Chanwoo dan Danee juga. Bagaimana?”

“Wah, pasti seru sekali. Tentu saja, Jun. Aku tidak akan melewatkan waktu indah bersamamu, wkwk.” Jawab Shannon sambil tertawa ringan. Sedangkan Junhoe hanya tersenyum saja.

“Every point of my life, I believe he will be there till the end of me. This is a story of my friendship” – Shannon Williams

Hari demi hari silih berganti. Kedekatan Junhoe dan Shannon pun semakin erat. Mereka sering menghabiskan waktu bersama. Mulai dari bermain di taman bermain, jalan-jalan ke danau ataupun pada ilalang favorit mereka, makan bersama di kantin kampus, bahkan menghabiskan waktu untuk belajar bersama –tepatnya Shannon yang belajar sementara Junhoe hanya mengajari gadis itu hingga tertidur karena lelah– di perpustakaan kota. Dan tak terasa, ulang tahun Shannon pun semakin dekat. Terhitung 3 hari dari sekarang.

Sehari sebelum ulang tahunnya, ia sibuk belajar bersama Chanwoo dan Danee di perpustakaan karena besok ada tes dari dosennya. Shannon benar-benar kesal. Sudah seminggu ini Junhoe menghilang dan besok malah ada tes di hari ulang tahunnya. Rasanya ia ingin sekali menenggelamkan dirinya ke dasar bumi. Walau sudah malam begini, ia tak bisa pulang begitu saja. Masih banyak materi yang belum di pelajarinya dan dengan kemampuan otaknya yang hanya rata-rata itu membutuhkan waktu cukup lama untuk mencerna semua materi yang ada.

Test on my birthday? Just great! Arrrgghh!!!”

You should study hard. Forgot about your birthday present tomorrow, Shan.” Canda Danee yang ada di sebelah Chanwoo. Sementara Shannon semakin cemberut.

Ah, have you seen Jun lately?” tanyanya pada Chanwoo yang merupakan teman dekat Junhoe selain Shannon tentunya.

Nope. Maybe he has some secret studying technique that he want keep it for himself? Or something else? Aish, I don’t know.”

Why? Did you miss him, Shan?” tanya Danee dengan nada menggoda. Shannon hanya memutar bola matanya malas. Ia malas meladeni godaan Danee kali ini. Tapi, jika boleh jujur, dia memang merindukan Junhoe. Lalu ia kembali menatap Chanwoo.

Or maybe, he is preparing for my big birthday tomorrow? He never fails to suprise me. Haha…” ujar Shannon dengan mata berbinar. Chanwoo tersenyum tipis sementara Danee terkekeh geli.

Yeah, itu mungkin saja, Shan. Aku harap dia menyiapkan hadiah spesial untukmu.” Tanggap Chanwoo lalu ia melanjutkan kegiatan belajarnya. Sedangkan Shannon masih sibuk menerka-nerka apa yang akan di berikan Junhoe padanya.

“Woy! Jangan melamun terus, Shannon. Lebih baik kau belajar supaya nilaimu baik. Masa kau kalah dengan Junhoe? Ah, kau selalu kalah dengannya. Tsk, memalukan!”

Aish, berisik! Jangan menggangguku, Danee. Urusi saja urusanmu, eoh! Tsk! Dasar menyebalkan!” ketus Shannon.

Kemudian ia melanjutkan acara melamunnya sementara Danee hanya menggelengkan kepalanya lalu kembali belajar seperti Chanwoo. Sungguh, Shannon tidak sabar menunggu hari esok. Dia ingin tahu, kejutan apa yang telah di siapkan Junhoe untuknya tahun ini. Pasti itu kejutan yang sangat besar. Ya, kejutan dari Junhoe selalu besar dan membuatnya terkesima. Pemuda itu benar-benar tahu bagaimana karakter sahabat gadisnya yang manja dan sangat menyukai kejutan sejak kecil. Jadilah setiap tahun ia selalu menyiapkan kejutan spesial untuk Shannon. Tak terkecuali tahun ini.

Tiba saatnya Shannon untuk pergi ke apartmen milik Junhoe. Tadi pagi, sebelum tes, ia mendapat pesan dari pemuda itu. Junhoe menyuruhnya untuk datang ke apartmen miliknya pukul 5 sore karena ia telah menyiapkan kejutan spesial untuk Shannon. Jadi, gadis itu sangat semangat dalam mengerjakan tes hari ini bahkan sanggup membuat Chanwoo dan Danee terheran-heran karena gadis itu berhasil menyelesaikan tes itu dalam waktu kurang dari 30 menit. Padahal pelajaran yang berhubungan dengan hitungan adalah pelajaran yang paling di benci gadis blasteran itu.

Kini gadis itu tengah berdiri di depan cermin. Ia kembali memeriksa penampilannya. Tubuhnya yang proposional berbalut dress brokat putih selutut dengan lengan 3/4 . Kaki jenjannya dibalut dengan stoking berwarna senada dengan kulitnya serta sepatu hitam berhak 5 cm. Rambutnya yang cokelat keemasan dibiarkan terurai. Setelah merasa puas, dia bergegas mengambil tas selempang dan jaket kulit berwarna hitam miliknya lalu segera meninggalkan rumahnya. Dia tidak boleh terlambat dan membuat Junhoe menunggu lama.

Kurang dari 20 menit, Shannon telah berdiri di depan pintu apartmen Junhoe. Tanpa menunggu lagi, ia langsung menekan kombinasi nomor yang menjadi password apartmen Junhoe selama ini. Dengan langkah pasti dia masuk ke dalam kamar pemuda itu. Sebenarnya ia merasa sedikit janggal karena tidak ada sosok pemuda itu disini namun ia mengabaikan perasaan janggalnya itu. Netranya langsung tertuju pada hadiah-hadiah yang telah di siapkan Junhoe di atas kasurnya. Shannon bergegas merebahkan dirinya di kasur itu lalu mengambil sebuah boneka beruang.

Di peluknya boneka itu erat-erat. Lalu ia duduk dan memandang ke sekitar. Dilihatnya satu per satu hadiah yang ada. Dia benar-benar senang karenanya. Junhoe memang selalu berhasil membuatnya bahagia di hari ulang tahunnya. Kemudian tatapannya beralih pada nakas yang ada di samping tempat tidur. Di situ tersusun rapi beberapa hadiah yang di bungkus dengan cantik. Shannon tersenyum lalu mengambil salah satunya –kotak hadiah yang lumayan besar– dan membuka isinya. Dan ia begitu terkejut melihatnya. Biola?

Lantas ia beralih ke sebuah figura foto yang berisi fotonya bersama Junhoe saat mereka bermain di padang ilalang bersama Chanwoo dan Danee 2 bulan yang lalu. Di sebelah figura itu, terdapat sebuah amplop berwarna biru langit –warna favorit Junhoe. Dengan perlahan Shannon mengambil amplop itu dan membukanya setelah menaruh figura foto dan biola yang tadi di pegangnya. Perasaannya mulai tidak enak. Dia takut sekali. Entah apa yang membuatnya takut, ia sendiri pun tak mengerti. Akhrinya dia memberanikan diri untuk membaca surat itu.

Dear Shannon

Do you remember the road trip a 2 months ago? Where the two of us laugh so hard that the other though we were dumb? We have a conversations impossible to understand by others. I do remember, remember the way you smile and then quickly pretend that you’re still mad. Wherever I try to get you back in the mood, I remember how much you love surprises. I believe you’re thinking I’m behind the curtains ready to suprise you.

Well, I wish I could. And if I could, I would.

But, my time is running out. Promise me you will never cheat but only to open these prepared gifts in their respective years. I’m sorry. I’m so sorry. Please forgive me!

It was a brain tumor. Three months ago, Doctor Jung predicted that I might have one more month left for this life to buffer. But I lasted three. Three months, I fought bravely.

Three months… just enough time to prepare gifts for a special little girl. Do you know? Actually, every moment I spent with you is the most beautiful thing in my life. You give me the best. You bring out the best of me.

Love is not a big thing, but a million of this small thing matters. I will miss you. We may not be together but one thing that I’m sure we will be best friend forever.

Please don’t cry! You may crying at the time, just at now. Don’t cry after you left my room. Promise, okay? Goodbye, Shannon Williams. You’re my best friend. I love you.

Sincerely,

Goo Junhoe

Shannon hanya bisa menangisi segalanya. Dia benar-benar merasa kehilangan dan berjanji setelah keluar dari tempat ini, ia tak akan menangis lagi untuk Junhoe. Kini ia berbaring menghadap tembok sambil memeluk surat dari Junhoe. Hingga akhirnya dia tertidur membelakangi pintu keluar. Tanpa di sadarinya, ada 2 orang yang memperhatikannya di ambang pintu. Ya, siapa lagi jika bukan Jung Chanwoo dan Daniella Kim? Mereka turut bersedih atas apa yang menimpa sahabat mereka. Kemudian keduanya memutuskan untuk pergi dari apartmen itu dengan perasaan pilu.

“Friendship is like a violin, the music may stop now and then, but the strings will last forever.” – Goo Junhoe

END

Annyeong! Lagi-lagi saya membawakan vignette. Kali ini saya mengangkat cerita tentang persahabatan. Saya terinspirasi dari sebuah video yang cukup menyentuh hati saya. And finally, I can make this story. My dreams come true. I can make the story about Shannon-Junhoe. Yeah, Shannon-Junhoe. It’s first time for me. I really really love it. I’m so proud, wkwk. Oke, abaikan saja. Jangan lupa RCL ya! Sampai jumpa di cerita selanjutnya~

Advertisements

2 thoughts on “[Vignette] Friendship

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s