[SONGFIC] Beautiful Liar

“This is a beautiful lie. My last lie. Even if it hurts to death. I am hiding myself under a mask for you.” -Won Shik

Beautiful Liar

SantiiAng || PG16 || Songfic, Sad

|| Oneshot || Kim Won Shik (Ravi VIXX), Cha Heera (OC), Cha Hak Yeon ( N VIXX) ||

Author note

Intinya adalah semoga and suka sama FF yang ini. Ada sedikit ke NC-an pada FF ini. Langsung saja Check This Out.

oOo

This is a beautiful lie. My last lie. Even if it hurts to death. I am hiding myself under a mask for you.

“Jangan lupa untuk datang dihari pertunanganku. Ok?” Tangan Won Shik sedikit bergetar ketika menyerahkan kartu undangan itu. Won Shik memperhatikan tingkah Heera. Hatinya pasti remuk ketika melihat katu itu. Won Shik mencoba membalas senyuman Heera.

“Apakah kau tidak bisa melihat senyuman palsuku itu Heera?” Won Shik berbica dalam hatinya.

Ingin sekali nama yang terpampang disana adalah namanya dan nama gadis dihadapannya itu. Kim Won Shik dan Cha Heera. Tapi ini sudah menjadi keputusan terakhirnya. Won Shik tahu mungkin ini –ah tidak, bukan mungkin. Tapi iya– akan menghancurkan kebahagiaan gadis itu selama ini. Won Shik sudah tidak tahan ketika melihat gadis yang masih ia cintai mencoba tersenyum ketika melihat kartu itu. Tidak ada sepatah katapun yang Heera berikan kepada Won Shik. Cukup dengan satu anggukan dan senyum yang terpaksa.

Tidak ada hal yang akan Won Shik bicarakan lagi kepada Heera. Maka dari itu ia memilih untuk berpamitan. Lagi-lagi Heera tidak berkata sepatah katapun. Tingkah Heera yang seperti itu membuat Won Shik semakin merasa bersalah atas keputusannya itu.

Begitu berat kaki Won Shik untuk melangkah pergi dari rumah Heera. Ia terdiam dibalik pintu, air matanya lolos keluar dari pelupuh matanya. Ia menepuk-nepuk dadanya. Terasa sakit. Sangat sakit.

“Dia mengundangmu?” Won Shik berhenti menangis ketika mendengar suara sahabatnya. Cha Hak Yeon. Ia menajamkan alat pendengarannya. Mencoba menangkap apa jawaban dari Heera. Tapi nihil. Tidak ada jawaban atas pertanyaan Hak Yeon. Hening.

“Aku tahu kau tidak sanggup untuk berbicara Heera.” Won Shik bergumam. Ia menatap kosong kedepan. Air matanya ia usap menggunakan punggung tangannya. Perlahan kakinya ia langkahkan pergi dari rumah itu.

Langkah kakinya begitu pelan. Lagi-lagi air matanya keluar. Ia usap kembali air matanya. Dua langkah. Tiga langkah. Kakinya masih terasa berat. Hati kecilnya meminta agar dia kembali kerumah itu dan membatalkan semua rencananya. Tapi otaknya berkata tidak.

Won Shik terdiam sejenak, badannya ia gerakkan menghadap kebelakang. Tepat menghadap rumah Heera. Ia mencoba menerawang kembali kemasa lalunya.

Flashback on

“Hei! Cha Heera! Kembalikan handphone ku!” Won Shik datang dari arah pintu depan. Ia bertiriak kearah Heera ia mencoba mengejar Heera yang sudah lebih awal berlari dari hadapannya. Won Shik berlari kearah sepatunya, ia tergesa-gesa memakai sepatunya itu. Kaki kirinya sudah berada dalam balutan sepatu. Berbeda dengan kaki kanannya. Ia mengedarkan tatapannya kesekitar teras. “Kemana sepatuku?”

“Disini!” Won Shik menatap Heera dengan geram. Sepatu sebelah kanannya berada ditangan Heera. Heera menjulurkan lidahnya dan kembali berlari.

“Hei!” Won Shik berteriak. Ia mencoba mengejar Heera dengan satu kaki. Ia begitu kesulitan. Berungkali ia terjatuh ketanah. “Kembalikan sepatuku! Handphone-ku juga! Cha Heera!”

“Cobalah kejar aku dengan sebelah kakimu Won Shik~ hahaha!” Muka Won Shik memerah menahan amarahnya. Tangannya ia kepal kuat-kuat. Tanpa memikirkan kaki kanannya ia mengejar Heera dengan kedua kakinya. “Awas kau!”

Heera membulatkan kedua matanya. Ia mencoba menghindar. Tapi sayang Won Shik terlalu cepat. Agar Heera tidak lolos Won Shik langsung memeluknya. “Kena kau Cha Heera!”

Tubuh mungil Heera kini berada dalam pelukan Won Shik. Pelukan yang sangat erat. Hingga Heera tidak bisa bernapas. Heera meronta-ronta, mencoba melepaskan pelukan Won Shik. Namun sayang, tenaganya sudah hampir habis. beda dengan Won Shik yang tenaganya masih banyak dan lebih besar dari Heera.

Won Shik membawa Heera kembali kedalam rumah. Tidak, bukan kedalam rumah tapi kedalam kamar. Masih dalam keadaan yang sama. Won Shik memeluk Heera. “Lepaskan aku Won Shik-ah. Aku mohon. Aku tidak akan melakukan itu lagi, ya?” Heera sudah kehabisan tenaga sekarang. Ia hanya bisa pasrah atas semua perbuatannya tadi.

“Kau harus membayar semuanya Nona.” Won Shik masih tidak melepaskan pelukannya. Ia melemparkan Heera keatas Kasur. Muka Heera dengan cepat menegang sekaligus memerah. Muka mesum Won Shik tergambar jelas diwajahnya. Heera semakin ketakutan.

“A-apa yang akan kau lakukan Won Shik?” Heera terbata-bata. Tiba-tiba kegugupan menyerangnya. Won Shik semakin mendekatkan badannya kebadan Heera. Mata mereka kini saling bertemu. Won Shik memperhatikan setiap inchi wajah Heera. Ia menelan ludahnya.

Semakin dekat. Semakin dekat. Akhirnya hidung mereka bersentuhan. Won Shik memiringkan wajahnya. Tinggal beberapa inchi lagi bibir mereka akan saling bertemu. Heera perlahan menutup wajahnya. Berbeda dengan Won Shik yang terus memperhatikan bibir merah muda milik Heera.

Won Shik hanya diam memperhatikan bibir itu. Lagi-lagi ia menelan ludahnya. Heera yang merasa heran tidak ada benda yang menyentuh bibirnya langsung membuka lagi matanya. Dari tadi ia merasakan deru napas mereka yang menyatu. Matanya memperhatikan mata Won Shik yang masih setia melihat bibirnya.

“Ehem.” Won Shik dan Heera terperanjat hingga Won Shik jatuh diatas Heera. “Apa yang kalian lakukan?” Mereka berdua melihat kearah suara itu berasal.

“Aku hanya ingin memberi pelajaran pada adikmu ini. Hak Yeon.” Won Shik bangkit dan membantu Heera bangun.

“Apa yang ingin kau lakukan pada kembaranku hah?!” Hak Yeon mendekati Won Shik. Ia mendelik. Memperhatikan Won Shik dari atas hingga bawah. “Dalam kamar hmm?” lanjutnya.

Won Shik hanya tersenyum jahil kearah Heera. Heera sudah merasakan hal yang tidak akan beres kalau dia masih berada disana. Ia melangkahkan kakinya terburu-buru keluar dari kamar.

“HAHAHAHAHA.” Seketika tawa yang begitu keras keluar dari mulut Hak Yeon dan Won Shik. Mereka tertawa terbahak-bahak.

“Apa kau lihat tadi? Wajah Heera mereh padam. Hahaha dia pasti sangat malu sekarang. Hahaha.” Won Shik memegangi perutnya dan kembali tertawa.

“Hahahaha. Kau betul. Harusnya aku tidak muncul tadi. Hahahaha.” Heera yang mendengar perbincangan mereka hanya bisa diam sambil megangi dadanya yang terus berdetak kencang ketika mengingat hal tadi.

Flashback off

“Andai kita masih bisa seperti dulu.” Won Shik kembali bergumam. Kini ia melangkah dengan mantap meninggalkan rumah itu beserta semua kenangannya.

oOo

“Apa kau tidak merasa bersalah?” Hak Yeon memainkan kopi dihadapannya. Matanya bergerak melihat gadis dihadapannya. Jung Hana.

“Untuk apa? Lagi pula Won Shik lebih memilihku dibanding adikmu itu.” Hana mengalihkan pandangannya keluar jendela café ketika pandangannya bertemu dengan Hak Yeon.

Hak Yeon menaikkan sebelah bibirnya. “Kau sudah menyakiti tiga hati sekaligus Hana. Sungguh piciknya dirimu.” Hak Yeon bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Hana yang diam sambil menahan amarahnya.

“Aku melakukan ini karena aku mencintai Won Shik sejak dulu. Apa kau lupa jika aku sangat mencintai Won Shik lebih dari Heera? Aku sudah mengalah beberapa kali dan kali ini aku tidak akan mengalah lagi. Giliran aku yang menang.” Hana bergumam. Seringai tajam tergambar jelas dalam lekukan bibirnya.

“Sebentar lagi Won Shik akan menjadi milikku untuk selamanya.” Hana bangkit dan pergi meninggalkan café dengan beribu rencana licik dikepalanya.

I’m letting go of your tightly held hands. But my heart is still the same. But I’ll let you go.

“Hatiku akan selalu untukmu. Tapi maaf, aku terlalu jahat jika terus bersamamu.” Sebenarnya dari tadi Won Shik memperhatikan Hak Yeon dan Hana dari kejauhan. Mereka berdua tidak sadar dengan kehadiran Won Shik. Won Shik tidak bisa berkata apa-apa ketika mendengar pembicaraan mereka berdua.

Hak Yeon selalu mengingatkan Won Shik agar menjauhi Hana secara perlahan-lahan. Tapi Won Shik tidak bisa melakukan itu. Won Shik sudah terjebak dalam permainan Hana yang licik. Hampir pelbagai cara Hak Yeon lakukan untuk bisa menjauhkan Hana dari Won Shik. Tapi hasilnya Heera akan tersakiti. Hana terlalu pintar memainkan suasana dan Heera terlalu lemah –tidak! Bukan lemah! Tapi, ia akan merelakan perasaannya agar Won Shik bahagia. ­Bodoh. – untuk melawan semuanya.

Dulu Hana dan Heera bersahabat. Mereka bagaikan pensil dan penghapus. Yang tidak bisa bekerja dengan sempurna jika salah satu diantaranya hilang. Tapi itu dulu. Sekarang mereka bisa dikatakan tidak bersahabat lagi. Karena seorang lelaki persahabatan mereka hancur begitu saja.

Mereka pernah mencintai orang yang sama. Tapi sayang orang itu lebih memilih Heera. Hana tidak bisa terima karena dia pikir Heera sudah menusuknya dari belakang. Hana berusaha sangat keras agar orang itu meninggalkan Heera. Dan hasilnya sesuai dengan rencana Hana. Apa yang Heera lakukan? Hanya diam dan mengikuti jalan cerita yang Hana buat. Dia tidak pernah mengelak ketika Hana mem-bully dirinya. Ia hanya tersenyum pada Hana.

Sekarang kejadian terulang kembali ketika Heera sedang dekat dengan Won Shik. Tinggal beberapa langkah lagi Won Shik akan menjadi kekasih Heera. Tapi. Si licik Hana telah menggagalkannya. Ia menghasut Won Shik. Awalnya Won Shik percaya saja dan Won Shik tidak pernah peduli lagi pada Heera.

Lagi-lagi Heera hanya bisa diam. Sebenarnya ia ingin marah. Tapi ia salalu membuang amarahnya jauh-jauh. Ia tidak bisa melakukan apa-apa. Bagi dirinya jika seseorang menyakitinya jangan pernah melakukan hal yang sama seperti orang itu. Balaslah dengan kebaikan dan senyuman. Heera akan memilih terihat seperti orang lemah dari pada orang kuat yang selalu menyakiti hati orang lain.

Hak Yeon lah yang telah menyadarkan Won Shik dari Hana. Won Shik marah besar saat tahu kebenarannya. Selama ini kalimat-kalimat yang selalu Hana lontarkan padanya seratus delapan puluh derajat dari kenyataannya. Akibatnya mau tidak mau Won Shik harus mengikuti semua permainan yang Hana buat sampai selesai. Sampai Hana benar-benar puas merusak kehidupan Heera.

Hak Yeon selau menggerutu dalam hati ketika melihat saudara kembarnya diperlakukan seperti itu. Ia selalu mencoba membalas perbuatan Hana tapi selalu gagal. Heera mencegahnya.

Pikiran Won Shik tiba-tiba melayang kemasa lalunya ketika ia dan Heera masih ‘dekat’. Ia tersenyum miris ketika membayangkan semua kejadian itu. Kue natal. Pohon natal. Salju. Kembang api. Semuanya terasa indah kala itu.

Tiba-tiba pikirannya beralih ketika ia bertemu dengan Hana. Senyuman itu perlahan menghilang. Ingin sekali ia memutar waktu dan mengabaikan Hana yang sedang kesulitan saat itu. Kadang ada baiknya kita tidak membantu orang. Kita tidak akan terlibat masalah yang rumit. –Seperti Won Shik sekarang. Tapi, tuhan berkata lain bukan? –

“Oppa? Hari ini Eomma dan Appa ingin bertemu denganmu.” Suara manja Hana tiba-tiba masuk dalam gendang telinga Won Shik. Ia menggerutu dalam hati. Ia tidak menjawab pertanyaan Hana. Ia hanya diam. Ia melirik Hana sekilas dan kembali focus pada pekerjaannya.

“Setidakknya sebelum kau masuk harus ketuk pintu Hana. Sopan lah sedikit.” Pandangan Won Shik masih focus kearah tumpukan kertas dihadapannya. Ia muak –sangat muak – dengan wajah sokmanis Hana. Won Shik sangat menyayangkan kenapa Ibunya sangat menyayangi anak yang bejad seperti dirinya. Padahal ibunya adalah wanita yang baik.

“Aku ini kekasihmu. Oppa.” Dengan santainya Hana menjatuhkan badan mungilnya kekursi tepat dihadapan Won Shik.

“Bagaimana jika aku sedang ada tamu? Apa kau ingin mempermalukanku?” Won Shik sedikit menaikkan volume suaranya. Ia sudah tidak tahan dengan sikap Hana yang semena-mena.

“Cobalah sedikit berubah. Aku tidak tahan dengan sikapmu yang seperti ini. Hana. kalau kau ingin serius denganku. Hapus semua kebiasaan jelekmu itu.” Won Shik bangkit dari tempat duduknya dan beranjak kearah jendela. Ia memandang gedung-gedung yang tinggi dan sederetan mobil yang lalu lalang.

Hana menggerutu dalam diam. Wajahnya yang tadi ia buat seimut mungkin kini sudah hilag digantikan oleh wajah datarnya. Ia menghembuskan nafasnya dengan perlahan. ‘Kau harus bersabar. Sebentar lagi Won Shik akan bertekuk lutut padamu Choi Hana.’

Senyuman semanis mungkin ia tampakkan kembali. Walaupun sedikit kekesalan masih tergambar jelas dalam wajahnya. Hana bangkit dan pergi memeluk Won Shik dari belakang. “Maaf. Aku janji tidak akan melakukan itu lagi. Jadi, ayo kita temui mereka sekarang. Kau tidak sibuk kan?”

Lagi-lagi Won Shik menghembuskan nafasnya. “Apa kau tidak melihat mejaku hm? Masih banyak pekerjaanku. Nanti saja oke? Mereka pasti mengerti Hana.”

“Tapi Oppa. Mereka ingin membicarakan acara pertunangan kita. Mereka ingin acara itu dipercepat.” Mata Won Shik tiba-tiba membulat dengan sempurna. Ia melepaskan pelukan Hana dan membalikkan badannya.

“Apa kau tidak salah?! Dipercepat?!” Won Shik menaikkan kedua alisnya. Ia memandang Hana dari atas sampai bawah. Perlahan ia memijat pelipisnya.

“Kenapa Oppa? Sepertinya kau tidak suka.” Hana menatap Won Shik dengan geram.

“Apa kau lupa Hana? Aku membantumu hanya untuk membatalkan acara perjodohanmu. Bukan untuk bertunangan denganmu! Aku sudah memiliki orang yang aku cintai! Dan itu bukan kau Hana! Bukan! Apa kau lupa eoh?!” Won Shik memukul meja kerjanya. Ia menatap Hana sangat geram. Bukan ini yang ia inginkan. Bukan!

“Apa kau lupa Kim Won Shik? Kau kerja diperusahaan siapa? Jika kau mengelak permintaanku jabatanmu bisa aku cabut kapan saja.” Hana tersenyum licik kearah Won Shik. Ia menghampiri Won Shik dan berbisik tepat ditelinga Won Shik. “Ingat Won Shik. Kau sudah masuk dalam permainanku. Kau tidak bisa keluar dan masuk sesuka hatimu.” Hana diam sejenak senyuman liciknya terukir sangat jelas . “Tinggalkan pekerjaanmu. Temui kami direstoran sebrang gedung ini pada jam makan siang. Jangan sampai telat.”

Hana melenggang keluar ruangan Won shik dengan santainya. Senyuman itu masih tergambar jelas diwajahnya. Won Shik hanya bisa diam. Ia tidak bisa melakukan apa-apa jika Hana sudah membawa-bawa pekerjaannya. “AKU MENYESAL TELAH MEMBANTUNYA! ARRGGGHHH!!!”

Won Shik membanting semua barang yang ia lihat. Lembaran-lembaran kertas yang tersusun rapih diatas mejanya kini berhamburan kemana-mana. Hampir memenuhi seluruh ruangannya. Ia mengambil ponselnya yang tergelatak dibawah meja. Ia melihat wallpaper ponselnya lekat-lekat. Kemarahannya tambah memuncak. Ia melemparkan ponselnya begitu saja.

Klek

Seorang pemuda –kira-kira dua tahun lebih tua darinya– masuk kedalam ruangan Won Shik dengan tergesa-gesa. Ia terdiam begitu saja ketika melihat ruangan Won Shik seperti kapal pecah. Matanya tiba-tiba terpaku pada ponsel Won Shik. Ia mengambilnya dan melihat layar ponsel itu.

“Masih belum bisa melupakan Heera?” Orang itu membuka mulutnya dan menghampiri Won Shik. Ia memunguti kertas-kertas dihadapannya dan menyimpan kertas-kertas itu dalam pelukkannya.

Won Shik hanya diam. Napasnya terengah-engah. Ia mencoba mengontrol emosinya. “Sudahlah Won Shik. Jalani saja. Heera telah mengikhlaskan semua ini. Lagi pula dia akan pergi jauh darimu.”

Mata Won Shik segera melihat kearah pemuda itu. “Tapi Hyung-”

“Lupakan dia. Dia akan bahagaia tanpa dirimu. Aku sudah mengenalkannya pada temanku. Dan aku rasa mereka berdua saling tertarik. Jangan pernah ganggu mereka. Aku mohon. Ini demi kebaikan kalian berdua. Aku yakin Hana akan bisa berubah. Walaupun aku tahu sangat sulit untuk menaklukannya.”

Pemuda itu menarik napasnya. “Ini memang sangat kejam. Tapi jika kau terus berusaha. Heera akan semakin terluka. Kau tahu kan? Seperti apa Hana itu? Bahkan iblispun tidak bisa menandingi kelicikannya. Dia akan melakukan segala cara agar kau menjadi miliknya. Maafkan aku.”

“Kau tidak salah Hyung. Ini salahku sendiri.” Amarah Won Shik kini mulai menyurut. Mulai sekarang ia haru bisa mengikhlaskan Heera. Mulai sekarang ia harus berusaha agar Hana bertekuk lutut padanya. Bukan dirinya yang bertekuk lutut pada Hana. Ya! Ini adalah satu-satunya jalan yang bisa Won Shik lakukan. Walaupun ia tahu ini sangat sulit.

oOo

“Kalian sudah menyiapkan semuanya?” Suara Appa Hana membuka percakapan kali ini. Matanya masih focus pada hidangannya.

“Sudah Appa. Kau tidak usah khwatir. Iyakan Oppa?” Ujung netra Hana menatap tajam Won Shik. Won Shik tersenyum lalu mengusap puncak kepala Hana dan tersenyum setulus mungkin.

“Tentu saja Chagi.” Hana membulatkan matanya. Padahal baru beberapa jam yang lalu mereka bertengkar hebat. Tapi sekarang Won Shik sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Seketika senyuman lebar tergambar diawajah putihnya.

“Kalian memang sangat cocok.” Eomma Hana melihat mereka berdua dengan tatapan haru. Mata sipitnya tenggelam dalam lekukan keriput didaerah matanya.

“Baiklah kalau begitu. Lanjutkan makan kalian.” Appa Hana menutup pembicaraan dan kembali melanjutkan makan siangnya. Tidak ada yang mau membuka pembicaraan kembali. Semua orang focus pada makanan mereka masing-masing.

Senyuman terus mengembang diwajah Hana. Walaupun acara makan siang sudah berakhir berjam-jam lalu. Pikirannya terus mengulang kejadian tadi. Hana semakin mengembangkan senyumannya ketika mengingat Won Shik tersenyum padanya. Hati kecilnya terus berdebar-debar. Baru kali ini ia dapat merasakan hal seperti itu lagi.

“Drrrt.. Drrrtt.” Ponsel Hana terus menari-nari tanpa suara diatas meja riasnya. Hana masih saja asyik dengan kebahagiaannya. Ponsel itu kini berhenti.

Namun, beberapa detik kemudian kembali bergerak. Hana melonjak ketika netranya menangkap ponselnya yang hampir saja terjatuh dari meja riasnya. Ia segera berlari dan mengambil ponselnya itu. Ia baru sadar ada yang menelphone dirinya. Senyumnan lagi-lagi tersungging dibibirnya. Segera ia menekan tombol hijau lalu menempelkan benda pipih itu ditelinga kirinya.

Yeoboseyo?

“Ah ne. Ne.”

oOo

It’s a beautiful pain. Letting you go. I have to kill myself inside. Swallow my tears. And put on a smiling mask

Hari yang ditunggu-tunggu Hanapun datang. Ia berdandan begitu cantik diruangannya. Berungkali ia melihat setiap lekuk badannya didepan cermin lonjong yang begitu besar. Senyuman bahagia terus mengembang dibibirnya. Sebenarnya senyuman it uterus menyungging sejak satu minggu yang lalu. Saat Won Shik benar-benar melihat dirinya.

Dilain tempat. Won Shik mencoba bahagia. Ia memperhatikan dirinya didepan cermin. Melatih senyuman palusnya agar terlihat seperti senyuman bahagia. Berungkali ia gagal. “Kau tampan. Jaga adikku.”

Sebuah suara tiba-tiba keluar dari balik pintu. Won Shik membalikkan badannya dan mencoba tersenyum, sesuai latihannya tadi. “Tentu Hyung. Do’akan aku. Hahaha.” Won Shik tertawa hambar.

Pria yang Won Shik panggil Hyung itu tersenyum getir. “Aku sebagai sahabatmu, merasa bangga. Kau tenang saja. Walaupun sulit. Semua ini pasti akan berlalu. Rasa diantara kalian berdua kan tumbuh perlahan-lahan.” Pria itu menepuk pundak Won Shik lalu tersenyum. “Berbahagialah.”

“Terimakasih Kyuhyun Hyung.” Won Shik sedikit berteriak. Kyuhyun hanya mengangguk dan pergi dari ruangan itu.

“Aku harus terlihat bahagia. Demi Heera. Ya. Demi Heera. Kau memang pembohong yang baik Kim Won Shik.” Won Shik bergumam sembari membenarkan kemejanya.

oOo

Sudah hamper lima belas menit setelah penyematan cincin. Heera belum datang juga. Won Shik sedikit khawatir. Ia takut Heera tidak akan datang. –tapi jika Heera datang. Ia akan menyiksa dirinya sendiri–

“Selamat atas pertunangannya Won Shik.” Suara itu tiba-tiba muncul dari arah belakang. Won Shik langsung membalikkan badannya. “Acara yang sangat meriah.” Heera kembali membuka mulutnya. Senyuman bahagia tergambar jelas diwajahnya. Won Shik sedikit menghembuskan napas lega.

“Akhirnya kau datang.” Timpal Won Shik.

“Tentu saja.” Heera menganggukan kepalanya. “Selamat Hana.” Heera mengalihkan pandangannya. Ia mendekati Hana yang datang dari belakang Won Shik. Lagi-lagi Won Shik melihat senyuman tulus keluar dari bibir Heera. “Kau memang faker smile yang handal.” Gumam Won Shik.

“Terimakasih Heera.” Hana langsung memeluk sahabat lamanya itu. Heera membalas pelukan Hana. Sudah lama ia tidak merasakan pelukan sahabatnya itu. Heera sangat bahagia sekarang –sepertinya–.

“Kau datang dengan siapa Heera?” Won Shik membuka mulutnya lagi ketika pelukan kedua gadis itu berakhir. Won Shik mengedarkan pandangannya mencari orang yang mungkin akan datang bersama Heera.

“Aku datang dengan.. Ah mereka.” Heera menunjuk kebalakang Won Shik. Tangannya ia lambaikan kepada dua pria berjas hitam. Lambaian tangannya dibalas oleh mereka. Heera langsung melangkahkan kakinya kearah pria yang lebih tinggi dari pria sebelahnya. Tangannya meraih tangan kanan pria itu. Heera tersenyum tulus kepada pria itu.

Won Shik mematung. Jadi dia yang Kyuhyun Hyung maksud waktu itu. Kim MyungSoo. Musuhnya waktu disekolah dulu. Hati Won Shik sakit. Hatinya seperti baru saja ditusuk ribuan banbu runcing. Kenapa Heera terlihat bahagia ketika bersama MyungSoo?

“Kyuhyun Oppa memang pintar mencarikan pasangan untuk Heera. Mereka sangat cocokkan Oppa?” Won Shik tidak mengindahkan perkataan Hana. Ia masih terlalu kaget dengan semua yang ia lihat sekarang. Apa benar MyungSoo akan menjadi pasangan yang baik untuk Heera?

“Selamat Won Shik.” Suara MyungSoo menyadarkannya dari lamunan. Won Shik hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

“Kau banyak berubah MyungSoo.” Won Shik berbicara seramah mungkin dan tersenyum sebaik mungkin. Ia tidak boleh merusak topengnya didepan Heera.

“Haha. Biasa saja. Hmm. Chagiya? Bolehkan aku beritahu dia sekarang?” MyungSoo melihat kearah Heera. Sejenak Heera diam. Berpikir. “Ah kalu lambat. Won Shik. Aku dan Heera akan melakukan menyusul kalian bulan depan.”

“Hei! Aku tidak lamban Oppa.” Heera sedikit mendengus. “Ah Oppa. Siapa yang bilang?” Heera mengernyitkan dahinya. Matanya menatap tajam Hak Yeon yang sedari tadi hanya diam. Hak Yeon menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.

“Apa kau lupa? Ah kau memang benar-benar lamban. Tapi aku suka. Saranghae.” MyungSoo memeluk Heera dengan erat. Membuat Won Shik cemburu.

“Stop. Kalian ini.” Hak Yeon kini membuka mulutnya. “Selamat Won Shik-ah. Ah aku kalah darimu. Kau harus mencarikan pasangan untukku. Hahaha.” Terlihat jelas Hak Yeon tidak berniat berkata seperti itu. Won Shik tahu. Hak Yeon mencoba bersikap seperti biasa. Tapi Won Shik ikut tertawa.

“Hey, waktu kita sudah habis.” Heera mengalihkan suasana. Hak Yeon berhenti tertawa dan melihat jam tangannya.

“Ah kau betul.” Hak Yeon mengangguk mengiyakan.

“Kalain akan kemana?” Timbal Hana. “Tidak mau berlama-lama disini?”

“Kami harus segera kebandara. Kami akan berangkat ke Jepang. Oh ya surat undangan akan kami kirim seminggu lagi.” Jawab MyungSoo. Ia mengedipkan matanya kearah Heera. Heera hanya menganggukan kepalanya. Tidak bernait menjawab perkataan MyungSoo.

“Baiklah.” Won Shik dan Hana menjawab dan menganggukan kepala bersamaan.

“Hmm. Hana?” Heera melihat kearah Hana dengan ragu. “Bolehkah aku memeluk Won Shik untuk yang terakhir?”

Hana tidak menjawab. Emosinya sedikit tersulut akan pertanyaan Heera. Tapi ia tidak mau menghancurkan acaranya jadi ia hanya tersenyum dan mengangguk.

Heera ternyum dan langsung memeluk Won Shik dengan erat. Ia sangat merindukan pelukan itu. Matanya sedikit memerah. Ia ingin menangis tapi ia tahan. Won Shik pun sama. Ia tahu. Ini adalah pelukan terakhirnya bersama Heera. “Cek SNS-mu.” Heera berbisik lalu melepaskan pelukkannya.

MyungSoo terlihat sangat cemburu. Tapi ia mencoba menutupinya. Setelah Heera selesai memeluk Won Shik ia langsung menarik Heera pergi menjauh. “Selamat tinggal.”

Hak Yeon memeluk sahabatnya itu dengan erat. “Selamat tinggal Won Shik. Semoga kita bisa bertemu lagi. Lupakan Heera.”

Akhirnya mereka bertiga pergi dari sana. Sesekali Won Shik melihat kearah mereka pergi. Mungkin mereka akan kembali. Tapi tidak. “Ayo Oppa kita pergi kesana. Masih ada tamu yang belum kita temui.” Hana menyadarkan Won Shik. Akhirnya mereka mendatangi para tamu dan bercengkrama dengan mereka. Pada saat itu Won Shik lupa akan perkataan Heera tadi. Lagi pula ia sudah berjanji pada dirinya sendiri setelah ini dia akan mencoba hidup bahagia dengan tunangannya itu. Choi Hana.

oOo

“Kau tahu Heera?” MyungSoo membuka mulutnya ketika mereka sampai ditempat parkir. “Dulu Won Shik adalah musuh bebuyutanku. Sampai sekarang malah. Haha.” Heera membulatkan matanya. Hak Yeon hanya mengangguk.

“Tapi-”

“Jangan terlalu dipirkan. Dia pasti tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi.” Hak Yeon mengangguk lagi. Mengerti apa yang dimaksud oleh MyungSoo. Heera hanya diam. Ingin bertanya tapi terlalu malas.

oOo

Cinta itu memang rumit bukan? Mereka berdua harus terpisah karena kedatangan seseorang yang tidak diinginkan. Tapi dengan datangnya orang itu. Mereka akan belajar. Apa itu perngorbanan. Bagaimana rasanya merelakan. Bagaimana rasanya sakit.

Banyak cinta yang datang karena ketidak sengajaan. Tapi sebenarnya itu semua sudah direncakan oleh tuhan.

Sebenarnya apa yang terjadi pada Mereka setelah itu? Apakah suatu saat Won Shik dan Heera akan kembali bersatu?

Sebenarnya apa yang terjadi sehingga Heera sepertinya begitu bahagia ketika bersama MyungSoo. Hal apa yang telah myungsoo berikan?

END

ending yang gantung :’ yah tapi terimakasih sudah mau baca ff saya /bow

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s