Accidentally Family [Chapter 3]

1458539239375.jpg

Accidentally Family

VIXX Leo aka Jung Taekwoon and Red Velvet Irene aka Bae Joohyun

Romance, Married life, Family | Chaptered | PG

Disclaimer : Poster dan storyline murni milik Author (Jung Taekwoon juga milik Author hehe).

Don’t like the cast? Just read the story ^^

Previous :

prolog | 1 | 2

Summary :

Apa dia bisa menjaga Miki sendirian?

.

.

.

Chapter 3

“Kau… ” ujar pria itu setengah sadar.

Merasakan tangannya yang digenggam pria itu, dada Joohyun bergemuruh tidak karuan. Antara terkejut dan waswas apa yang akan pria itu lakukan selanjutnya. Apa pria itu akan—oh, tidak. Joohyun belum siap.

“Kau mau ap—”

“Kau sudah makan? ”

Ne?

“Jam berapa ini? Oh pukul sebelas! Kau pulang larut sekali, ” ujar Taekwoon sambil mengusap kedua matanya. Sedangkan Joohyun mematung tak mengerti. Seketika otaknya seperti berjalan lambat. Bahkan tak mampu menangkap situasi apa yang terjadi saat ini.

Taekwoon melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Joohyun dan bangun terduduk. “Kalau kau belum makan aku akan membuatkanmu makanan,” ujarnya lagi sambil menguap.

Joohyun meringis menyadari betapa bodohnya dia saat ini. “Aniya, tidak perlu. Aku mau langsung ti—

.

Kruucuukkk…

.

Joohyun benar-benar malu! Jujur saja dia memang belum makan malam, tapi kenapa perutnya tidak mau bekerja sama, sih?

Tanpa mengucapkan apa-apa, Taekwoon bangkit dari ranjang.

“Kau mau kemana?” tanya Joohyun.

Taekwoon menghentikan langkahnya dan menoleh pada Joohyun. Sejenak pria itu mengernyit, “Tentu saja ke dapur, akan kubuatkan kau spaghetti,” jawab Taekwoon kemudian kembali berjalan. Saat sudah sampai di ambang pintu, pria itu berbalik. “Kau mandilah, lalu ke meja makan. Kau harus makan, arachi?” perintahnya.

Arachi, ” jawab Joohyun sambil mengangguk.

Heh, apa yang barusan dia katakan?

Kenapa juga Joohyun menurut padanya? Menyebalkan. Tapi dia sangat lapar.

***

Perutnya semakin keroncongan dan Joohyun menelan salivanya saat aroma spaghetti menguar dari dapur. Dia tampak bersemangat saat Taekwoon yang mengenakan apron datang membawa dua piring besar spaghetti bolognaise. Lalu menyajikannya di hadapan gadis yang siap menyantap sepiring besar spaghetti itu dalam satu lahapan. Sejenak Joohyun mengernyit.

“Kenapa dua?” tanyanya pada Taekwoon yang baru saja mendudukkan diri di hadapannya. Tentu saja Joohyun patut heran. Selapar-laparnya dia, tidak mungkin Joohyun mampu menghabiskan dua piring besar spaghetti sekaligus.

“Yang satu lagi untukku,” jawab Taekwoon singkat yang tak menyurutkan kerutan di kening Joohyun. Justru menambah keheranan di benak Joohyun. ‘Apa pemuda ini belum makan malam? Omo! Jangan-jangan karena menungguku pulang?!’.

Wae? Kenapa kau memandangiku seperti itu?” tanya Taekwoon dengan ekspresi tak suka. Pria itu memang risih bila ditatap terus-menerus.

“Kau belum makan malam?” Bukannya mengalihkan pandangan, Joohyun malah melayangkan pertanyaan sambil menatap pemuda itu lekat-lekat.

Taekwoon menggeleng pelan. “Ani, aku sudah makan malam sebelum tidur tadi.” Taekwoon dapat melihat jelas kalau gadis itu menghela napas lega. “Lalu kenapa kau makan lagi?” tanya Joohyun sembari mengambil botol lada hitam di tengah meja. Belum sempat Taekwoon menjawab, gadis itu menyadari sesuatu. “Ah, apa karena aku? Aniya, kau tidak perlu menemaniku makan. Kalau kau mau tidur lagi juga tidak apa.”

Ani, aku memang lapar kok.”

‘Heh? Lapar? Tengah malam?’ Joohyun semakin heran.

Entah Joohyun yang terlalu mudah ditebak, atau seorang Taekwoon paham benar arti tatapan gadis itu sehingga akhirnya dia menggaruk kepalanya pelan dan menjelaskan. “Kebiasaanku suka terbangun tengah malam karena lapar.”

Joohyun kemudian meng-oh-kan jawaban Taekwoon tanda mengerti. Tapi heran juga melihat postur tubuh Taekwoon berbanding terbalik dengan kebiasaannya.

Gadis itu memusingkannya lagi dan memilih mengambil garpu dan sendoknya. Menggulung spaghetti dengan garpunya kemudian memasukkannya ke dalam mulut. Joohyun berkemam senang merasakan kelezatan bumbu daging yang lumer di lidahnya. Lama mereka terdiam menikmati hidangan tengah malam mereka.

“Eum…bagaimana hari ini?” tanya Joohyun membuka konversasi di tengah-tengah kegiatan mengunyah spaghettinya. Bukannya menjawab, Taekwoon mengunyah makan malamnya sambil menatap Joohyun. Ya, Joohyun tahu benar kalau pertanyaannya baru setengah dia lontarkan. “Maksudku bagaimana Miki hari ini? Pasti sangat melelahkan mengurus Miki seharian.”

Taekwoon mengangguk pelan, akhirnya mengerti ke arah mana pertanyaan Joohyun. Pria itu mencoba menelan spaghetti yang memenuhi pipi tembamnya kemudian menjawab.

“Tidak juga.”

.

.

.

.

.

Pukul delapan pagi, Joohyun baru saja pergi setelah menyantap omurice buatan Taekwoon. Tinggal lah pria jangkung itu bersama Miki yang tertidur di kereta bayinya usai jalan-jalan pagi. Kini Taekwoon tengah duduk di atas sofa krem ruang tamu dan menonton acara berita pagi di televisi. Pria itu tampak tenang walau sesekali kepalanya terjulur menengok keadaan bayi mungilnya di dalam kereta bayi. Tidak, pria itu resah sekarang. Benaknya berkecamuk.

Apa dia bisa mengurus Miki sendirian?

Miki baru minum susu pagi tadi dan dia juga belum dimandikan. Memandikan Miki? Oh, bahkan kemarin Joohyun yang memandikannya. Taekwoon belum pernah sama sekali memandikan bayi. Meski dia sudah membaca berbagai artikel tentang mengurus bayi, tetap saja berbeda jika dicontohkan langsung. Apa sebaiknya dia menelepon Eomma Joohyun? Ah, itu akan sangat merepotkan. Apalagi jarak rumah Joohyun lumayan jauh dari sini. Dan itu akan terlihat tidak sopan di mata Aboeji. Ugh, taekwoon menyesal tidak minta diajarkan Joohyun kemarin.

Ditengah kegiatannya berpikir, tiba-tiba pria itu merasa haus. Taekwoon bangkit dan berjalan ke arah dapur. Tiba-tiba pria itu ingin minum kopi sehingga dia membuka rak-rak di atas kompor. Tak sulit bagi Taekwoon menemukan kotak berisi bubuk kopi kesukaannya karena dia lah yang meletakannya di sana—tepat di sebelah kaleng susu formula yang tak lain adalah milik Miki. Akhirnya pemuda itu turut mengambil kaleng susu itu dari dalam rak. Kembali dibacanya indeks keterangan di belakang kaleng tersebut serta takaran untuk bayi baru lahir.

Bayi baru lahir?

Ah, Taekwoon tahu harus menghubungi siapa saat ini. Maka dia bergegas mengambil poselnya yang tergeletak di atas meja ruang tamu, kemudian mencari kontak seseorang. Ketemu. Tanpa ragu, Taekwoon langsung menyentuh tombol dial pada posel layar sentuhnya. Tanpa menunggu lama, orang itu langsung mengangkat panggilan Taekwoon.

“Yeoboseyo.”

“Yeoboseyo.”

“Wae, Taekwoon-ah? Tumben sekali kau meneleponku?”

“Cepat kesini.”

“Mwo? Kemana? Ke rumahmu atau ke kan—”

“Ke rumah—ah, maksudku ke…” ujar Taekwoon menyebutkan alamat tempat tinggalnya sekarang.

“Ya! Kau pindah rumah?”

“Sudah cepatlah datang. Aku butuh bantuanmu.”

“Ck, arrasseo.”

Klik. Sambungan telepon terputus dan kini Taekwoon merebahkan pundaknya di sandaran sofa. Setidaknya dia bisa bernapas lebih tenang saat ini.

Rasanya baru lima belas menit Taekwoon merebahkan tubuhnya kala bunyi bel menyambangi daun telingannya. Orang yang ditunggunya telah datang. Terpaksa Taekwoon mengangkat tubuhnya dari atas sofa dan melangkah menuju pintu depan.

Tangan kekarnya membuka pengait dan menarik pegangan pintu, lalu tampaklah seorang pria jangkung berdiri di depan pintu.

“Taekwoon-ah!” sapa pria itu riang.

“Ish, berhenti memanggilku seperti itu, Cha Hakyeon.”

Ya, pria berkulit kecokelatan itu adalah teman Taekwoon yang diteleponnya tadi, Cha Hakyeon.

“Ya! Kenapa kau tidak bilang padaku kalau kau pindah?!” Pria yang memiliki sifat bertolak belakang dengan Taekwoon itu mulai melayangkan protes. Tapi bukannya menanggapi, Taekwoon malah melangkah masuk meninggalkan pria tersebut yang kini bertugas menutup pintu apartemennya. Tipikal seorang Jung Taekwoon.

Sejenak Hakyeon mengamati apartemen Taekwoon yang bernuansa krem sambil menyusul Taekwoon. Dan kini matanya membelalak menyadari di mana posisi Taekwoon. Pria jangkung itu tengah duduk di atas sofa krem dengan kereta bayi di hadapannya. Terlebih ada sesosok malaikat kecil yang tengah terlelap di dalamnya.

Omo! Bayi siapa itu?”

“Bayiku.”

Mwo?!”

Taekwoon masih memasang ekspresi datarnya dan Hakyeon mulai memutar pandangannya. Rasa terkejutnya terjawab saat netranya menangkap sebuah foto pernikahan Taekwoon dan Joohyun yang terbingkai manis di dinding ruang tamu. Foto itu lumayan besar sehingga kecil kemungkinan kalau Hakyeon salah lihat.

“Kau menikah???!”

Tak ada tanggapan dari Taekwoon.

“Ya! Kenapa kau tidak mengundangku??!”

Kini Taekwoon mengangkat Miki dan mendekapnya.

“JUNG TAE—

Hakyeon menghentikan ucapannya saat Taekwoon menempelkan telunjuknya di depan bibir, mengisyaratkan pria itu untuk diam.

“Je-las-kan-pa-da-ku!” ujar Hakyeon lagi dengan suara berbisik.

Pria itu beringsut duduk di sebelah Taekwoon. Ikut memperhatikan wajah malaikat kecil yang mulai membuka matanya itu. Taekwoon menempelkan punggung jari telunjuknya pada bibir mungil Miki saat bayi itu menguap. Kelopak mata Miki mengedip secara perlahan, mencoba menyesuaikan cahaya dari sekitar yang masuk ke dalam pupilnya. Tak hanya Taekwoon, Hakyeon pun turut terenyuh melihat pemandangan menggemaskan itu.

“Siapa namanya?”

“Jung Miki.”

Aigo, neomu kyeopta.

“Itulah kenapa aku memanggilmu kemari.”

Mwo? Apa maksudmu?”

“Aku ingin meminta bantuanmu, Hakyeon.”

“Aku?” Mendengar tanggapan Hakyeon, Taekwoon menjadi ragu. Ditolehkan kepalanya ke arah Hakyeon dan keningnya berkerut.

“Bukankah istrimu baru saja melahirkan?”

Eoh? Iya, lalu apa hubungannya denganku?”

“Aku ingin minta diajari mengasuh bayi, bodoh.”

“Oooohhhh!” Hakyeon bangkit berdiri dan menunjuk-nunjuk Taekwoon. “Kenapa kau tidak bilang daritadi? Aku ini lumayan jago. Kau ingin aku melakukan apa? Hah, apa?”

“Pertama, tolong ajari aku memandikan Miki. Miki belum mandi pagi ini.”

“Siap!” Tanpa diperintah, Hakyeon bergegas pergi. Namun pria itu berbalik lagi.

“Eum…dimana kamar mandinya?”

.

.

.

Bak mandi bayi telah terisi air hangat. Sabun serta sampo khusus bayi juga telah tersedia di sekeliling bak-nya. Dan itu semua Hakyeon yang menyiapkannya. Kini Taekwoon tengah melepaskan pakaian Miki dengan hati-hati. Setelahnya, dia menggendong Miki yang sudah telanjang dan menghampiri Hakyeon yang telah duduk menunggu di samping bak bayi.

Taekwoon masih mematung dengan Miki di dekapannya, tidak tahu harus melakukan apa. Dan Hakyeon melayangkan tatapan mengisyaratkan Taekwoon untuk memasukkan Miki ke dalam bak mandi.

“Aku?!”

“Tentu saja, ‘kan kau yang ingin belajar.”

Secara perlahan, Taekwoon merendahkan tubuhnya dan mendudukkan diri di atas bangku kecil di samping bak. Gerakan Taekwoon kaku sekali saat hendak meletakkan Miki ke dalam bak mandi. Hampir saja punggung Miki menyentuh permukaan air hangat itu saat Taekwoon kembali menariknya.

“Kau yakin?”

“Sudah, lakukan saja! Kau ini, nanti airnya keburu tidak hangat!”

Taekwoon kembali meletakkan Miki secara perlahan dan kali ini Miki benar-benar menyentuh air hangatnya. Selanjutnya, Taekwoon membasuh tubuh Miki dengan tangannya yang tidak menyangga tubuh mungil Miki. Kelopak mata Miki membuka dan menutup merasakan sensasi dimandikan oleh Appanya. Hakyeon menuangkan sabun khusus bayi ke atas tangan Taekwoon dan kemudian pria itu mulai menyabuni badan Miki. Hakyeon menginstruksikannya untuk menyabuni dari perut ke pundak kemudian turun kedua kaki mungil Miki, Taekwoon dengan patuh menurutinya. Sama pula saat Taekwoon mengeramasi rambut tipis Miki. Taekwoon membasuh sisa-sisa sabun di tubuh Miki dan kegiatan mandi pun berakhir. Taekwoon sukses memandikan Miki tanpa bantuan sama sekali—diiringin instruksi-instruksi dari Hakyeon.

Miki sudah selesai mandi dan Taekwoon juga sudah mendandaninya rapi dengan atasan berwarna kuning muda dipadu celana panjang serta kaus kaki berwarna senada. Taekwoon mengangkat tubuh Miki perlahan dan mulai menciuminya.

“Anak Appa tampan sekali,” kagumnya lalu kembali mengecup pipi gembul Miki. Bibir mungil Miki melengkung seolah tertawa atas perlakuan Appanya.

Aigooo, Taekwoon appa, eoh?” ujar Hakyeon sambil memperhatikan tingkah Taekwoon. Dan Taekwoon tertawa menanggapinya. Lihat! Seorang Jung Taekwoon berubah 180 derajat kalau sedang menghadapi seorang bayi.

Gomawo, Hakyeon. Kau berguna juga ya di saat seperti ini.”

“Ya! Kau meremehkanku?!” gusar Hakyeon. Pria itu telah memujinya sekaligus menjelekkannya. Dasar Jung Taekwoon!

“Lalu, apalagi yang harus kuketahui tentang mengurus bayi?” tanya Taekwoon, mengacuhkan protes dari Hakyeon.

Pria berkulit cokelat itu berkemam sejenak. “Bayi pasti akan terbangun tengah malam karena lapar. Apalagi saat berumur 3 bulan dia minum susu lebih banyak saat malam dan pagi.”

“Itu aku sudah tahu.”

“Sudah, diam dan dengarkan saja!” protes Hakyeon, membuat Taekwoon memilih untuk mengamati Miki yang mulai kembali terlelap di pelukannya.

“Kau harus memberinya susu 6x sehari. Setiap 3-4 jam.”

Taekwoon mengangguk mengiyakan.

“Dan pastikan dia tertidur selama 5-6 jam pada malam hari.”

Taekwoon mengernyit dan mulai membatin, ‘aku sudah tahu’.

“Kalau dia menangis, pastikan untuk mengecek popoknya. Karena bayi yang baru lahir sampai berumur tiga bulan pipis 20 menit sekali, jadi kau harus segera mengganti popoknya.”

Ah, kalau yang kali ini Taekwoon akan mengingatnya.

“Lalu, apa dia memiliki alergi?”

Ani, Joohyun bilang pihak panti asuhan pasti akan memberitahukannya kalau Miki memiliki alergi ataupun penyakit lainnya.”

“Panti?”

.

.

.

.

.

“Joohyun, ada yang ingin kutanyakan.”

“Hm?” sahut Joohyun setelah memasukkan gulungan spaghetti terakhir ke dalam mulutnya.

“Waktu kita belanja kau pernah menyebutkan panti asuhan.” Oh, timing yang tidak tepat karena gadis itu sedang menelan makanan. Bersyukur Joohyun tidak memuntahkan kembali spaghetti yang memenuhi mulutnya. Namun, Taekwoon tetap meneruskan ucapannya.

“Apa itu artinya…”

“Eumm…Taekwoon,” sela Joohyun. Gadis itu telah menelan seluruh makan malamnya.

Tangannya kembali meletakkan garpu dan sendok di atas piring. “Karena kita sudah menikah maka aku tidak akan membohongimu lagi.”

Kening pria itu berkerut. “Berbohong?”

Joohyun mengehela napas perlahan sebelum kemudian menjawab. “Miki adalah anak adopsi.”

Ya, jahat memang. Tidak memberitahukannya sedari awal. Tapi beginilah cara Joohyun. Bukankah dia sudah pernah bilang ingin mendapatkan pria yang juga menyayangi anaknya?

Tapi—oh, apakah Taekwoon akan kecewa?

“Kenapa kau mengadopsi anak?” Manik Joohyun membulat sejurus dengan pertanyaan yang Taekwoon layangkan. Tak pernah terpikirkan olehnya bahwa Taekwoon akan bertanya seperti itu.

Taekwoon masih setia menatapnya, seolah menuntut gadis itu segera memberikannya jawaban. Joohyun mengetuk meja dan terlihat berpikir.

“Karena bagiku, anak kecil memiliki energi yang membuat kita lebih hidup.”

Taekwoon mengangguk pelan menanggapi pernyataan Joohyun.

“Yah, begitulah alasannya. Karena awalnya aku berniat untuk tidak menikah.”

Taekwoon juga tahu pasti kalau Joohyun datang ke acara pertemuan yang direncanakan Aboejinya. Kalau bukan karena tidak ingin menikah, mana mungkin Joohyun mau datang ke acara perjodohan? Gadis secantik Joohyun tentu mudah mendapatkan pacar.

“Ah, kau akan mulai bekerja ‘kan?” ujar Joohyun kini mengganti topic pembicaraan. Setelah meneguk air putih di dalam gelas, Taekwoon mengangguk singkat.

“Haruskah kita mencari baby sitter?”

“Eum, sepertinya begitu.”

***

Joohyun menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Sejenak gadis itu merenggangkan kedua tangannya. Otot-otot pundaknya terasa kaku karena seharian berkutat dengan dokumen-dokumen. Terlebih gadis itu juga kurang tidur karena mengobrol dengan Taekwoon sampai larut malam, dan harus kembali ke kantor pukul Sembilan pagi. Ah, ini semua menyebalkan. Apalagi turut menyita waktunya bersama Miki. Ah, Joohyun merindukan Miki. Haruskah dia menelepon Taekwoon? Tapi kan Miki belum bisa mengoceh. Huh, sepertinya Joohyun harus menunda keinginannya sampai Miki sudah bisa bicara.

Ketukan di pintu menginteruspsi Joohyun. Setelah Joohyun mepersilahkan masuk, seorang gadis berpostur tinggi memasuki ruang kerja Joohyun. Gadis berparas cantik itu menyerahkan sejumlah map-map ke hadapan Joohyun. “Ini dokumen yang harus anda tandatangani sore ini juga, Sajangnim.”

“Ah, ne.” Joohyun menegakkan kembali tubuhnya dan memperhatikan sekilas isi dokumen itu.

“Apa ada lagi yang anda butuhkan?”

“Tidak, kau bisa pergi.”

Gadis bersurai cokelat itu membungkuk pelan kemudian berbalik. Saat gadis itu sampai di ambang pintu, Joohyun memanggilnya.

“Seulgi-ya, bisa kau carikan aku baby sitter?”

Sejenak gadis yang dipanggil Seulgi itu mengernyit. Tapi akhirnya dia tetap menjawab, “Ne, Sajangnim.

Joohyun kembali menyandarkan punggungnya. Bahkan kini melepaskan blazer cokelatnya. Pikirannya yang berusaha lebih rileks terusik saat dia mendengar suara Seulgi berujar,

“Selamat siang, Presdir.”

Disusul dengan suara pintu yang terbuka, menampilkan seorang pria paruh baya dengan postur tinggi tegap. Membuat Joohyun sontak bangkit dari tempat duduknya.

Aboeji.

Pria yang tak lain adalah Bae Byunhee—Aboeji Joohyun—tersenyum miring menyadari penampilan Joohyun yang tampak kusut dan kelelahan.

“Kau mulai kewalahan mengurus anak, eoh?”

Joohyun bungkam. Dia sudah kenyang dengan segala kata-kata sarkastis yang dilayangkan Aboeji padanya. Terlebih Joohyun sedang tidak dalam mood untuk membalas perkataan Aboejinya. Jadi lah dia hanya kembali duduk dan tak mengacuhkan. Byunhee mencibir karena Joohyun tak menanggapinya. Padahal biasanya putrinya itu selalu kritis dan tak mau mengalah.

“Datanglah ke rumah. Sebegitu sibuknya kah kalian sampai belum mengunjungi kami setelah pernikahan, ” ujarnya mengutarakan tujuan utamanya mengunjungi ruang kerja Joohyun.

Membuat Joohyun kembali menghela napas panjang. “Ne, Aboeji.

***

“Miki-ya, Eomma pulang!”

Suara cempreng itu mengudara sedetik setelah Joohyun memasuki apartemennya. Dengan tidak sabar Joohyun melepas hells berwarna putihnya dan bergegas masuk ke dalam.

“Kau pulang lebih awal,” suara Taekwoon yang tengah sibuk di balik pantry menyambut kedatangan Joohyun.

Joohyun tertawa kecil. “Ne, hari ini tidak terlalu banyak kerjaan di kantor. Lagipula aku juga sangat merindukan Miki-ku.”

Taekwoon yang kini bergerak memasukkan buah-buahan yang baru saja dicucinya meng-oh-kan jawaban Joohyun. “Kau sudah makan?”

Joohyun yang baru saja melepas blazer cokelatnya mengernyit. ‘Kenapa pria ini selalu menanyakannya sudah makan atau belum, sih?’

“Eum…belum.”

“Kau ingin makan ap—

“Miki dimana?” serbu Joohyun. Daritadi dirinya memang tidak sabar untuk bertemu Miki.

“Miki di kamarnya.”

Sejurus dengan jawaban Taekwoon, Joohyun langsung berlari menaiki tangga menuju lantai dua. Taekwoon agak sedikit khawatir melihatnya, tapi sedetik kemudian malah kurva yang tercipta di parasnya. ‘Gadis itu, seperti anak kecil saja.’

Joohyun langsung meraih kenop pintu kamar Miki dan melangkah mendekati box bayi yang terletak di sudut kamar. Joohyun tidak bisa menyembunyikan senyum merekahnya saat mendapati Miki yang sudah terbangun tengah memainkan tangan mungilnya.

Aigo, Miki anak Eomma.

Joohyun mengangkat tubuh mungil Miki dan mendekapnya. “Eomma benar-benar merindukanmu, sayang.” Joohyun mengelus puncak kepala Miki dan mendekapnya lebih erat namun penuh kehati-hatian. Dia kembali mengangkat tubuh Miki dan menciumi pipi gembulnya. Lagi-lagi bibir mungil Miki melengkung seolah tertawa karena mendapat perlakuan yang sama dari Eommanya.

Joohyun mengayunkan pelan tubuh Miki di dalam gendongannya, membuat bayi itu kembali melengkungkan bibirnya senang. “Miki merindukan Eomma, eoh?” tanya Joohyun. Seakan mengerti, Miki balas menatap manik Joohyun. Semua rasa lelah Joohyun menguap entah kemana dengan menatap manik jernih milik Miki. Sungguh menentramkan hati.

Joohyun mendudukkan diri di atas single bed dengan Miki yang berada di pangkuan. Netranya menangkap botol susu yang telah terisi penuh berada di atas nakas. “Miki-ya, apa kau haus?”

Miki berkedip seolah menjawab pertanyaan Eommanya.

Arraseo, Miki minum susu dengan Eomma, ya.”

Joohyun mengambil botol susu itu dan meminumkannya pada Miki. Sesekali dia mengusap putra semata wayangnya itu. Joohyun tertegun memandangi Miki yang terlihat tenang di dekapannya. Dengan lahap Miki meminum susunya dan maniknya menatap Joohyun. Oh, sungguh menggemaskan. Dan tahu-tahu botol susu itu kosong sudah. Segera Joohyun melepas botol yang telah kosong itu.

Aigo, anak Eomma sudah kenyang ya?”

Sejenak Miki terdiam di pelukan Joohyun. Bibir mungilnya terbuka dan bayi mungil itu menguap. Tampaknya Miki mengantuk sekarang. Tapi yang selanjutnya terjadi benar-benar diluar perkiraan Joohyun. Cairan putih keluar dari mulut Miki.

Miki memuntahkan kembali susu yang diminumnya barusan.

Sontak saja Joohyun panik. Seluruh cairan putih itu telah mengotori kemeja putihnya dan seprai single bednya. Tapi bukan itu yang membuat Joohyun panik, melainkan fakta bahwa Miki baru saja muntah.

“TAEKWOON!”

Gadis itu mulai memanggil nama Taekwoon dengan panik.

“TAEKWOON!!”

Tak lama kemudian terdengar derap kaki terburu-buru menaiki tangga dan berakhir kepala Taekwoon yang menyembul di balik pintu.

“Ada apa Joohyun?!”

“Miki muntah!”

Segera pemuda mengambil lap bayi di dalam lemari dan mulai membersihkan sisa muntahan pada pipi Miki dan lehernya. Setelah itu Joohyun tanggap dengan segera mengganti pakaian Miki yang telah kotor. Sedangkan Taekwoon mengganti seprai yang terkotori dengan seprai baru. Tapi nampaknya noda itu telah menembus lapisan bednya sehingga meninggalkan bau tidak sedap. Perlu menjemurnya di bawah matahari untuk menghilangkan aromanya.

Tak sengaja sudut mata Taekwoon menangkap botol susu yang telah kosong di atas nakas.

“Kau memberinya susu?”

Joohyun yang sudah selesai mengganti pakaian Miki menyahut. “I-iya.”

“Astaga Joohyun, Miki baru saja minum susu.”

Mwo? M-maafkan aku, Taekwoon.”

Taekwoon melangkah mendekati Joohyun dan hendak mengambil Miki. “Kemejamu?” ujarnya menyadari kemeja putih Joohyun yang telah terkena noda muntahan Miki.

Eottokhae? Apa Miki akan baik-baik saja?”

Taekwoon menghela napas perlahan. “Gwenchanha, Joohyun. Miki kekenyangan makanya dia kembali memuntahkan susu itu.”

Jinja?” Joohyun menggigit bibir bawahnya resah.

Ne, jangan khawatir. Sebaiknya cepat kau ganti pakaianmu.” Taekwoon mengamit Miki dari gendongan Joohyun.

“Ah, ne.” Patuh, gadis itu segera beranjak menuju kamar mandi di kamar utama. Namun langkahnya terhenti saat melihat pemandangan single bed yang tidak berseprai.

“Ah, bagaimana ini? Ranjangnya jadi kotor.”

Gwenchanha, aromanya akan hilang kalau dijemur sebentar,” sahut Taekwoon.

“Lalu bagaimana kau tidur nanti?”

Taekwoon menggaruk tengkuknya pelan. Barusan dia tidak kepikiran bagaimana nasibnya nanti malam.

“Taekwoon, malam ini kau tidur di ruang utama bersamaku.”

E-eoh?

.

.

.

Joohyun yang telah mengenakan setelan piyama berwarna biru dan Taekwoon yang telah menggunakan kaos oblong berwarna putih dengan celana panjang berwarna biru dongker, berdiri canggung di tepi ranjang yang berseberangan.

Bagaimana tidak canggung? Karena ini adalah kali pertama mereka berbagi kamar. Ya, malam ini mereka akan tidur bertiga di ranjang yang sama.

Bertiga? Ya, karena terdapat Miki yang telah terlelap di tengah-tengah ranjang king size itu.

Untuk mengusir atmosfir canggung, Joohyun berinisiatif untuk lebih dulu menarik selimut. Kini gadis itu membaringkan diri di sisi kiri Miki. Dan akhirnya disusul Taekwoon yang membaringkan tubuh di sisi kanan Miki. Ranjang king size itu masih longgar meski telah diisi tiga orang. Apalagi baik Joohyun dan Taekwoon sama-sama memposisikan diri sepinggir mungkin di kedua sisi. Meninggalkan sosok bayi mungil itu berada di tengah tanda aling-aling di sekelilingnya.

Joohyun tidak bisa membohongi diri kalau dia benar-benar lelah. Terbukti dari begitu cepatnya gadis itu terlelap. Tak lama berselang, tubuh Joohyun yang telah tertidur bergerak tanpa sadar mendekati Miki. Taekwoon yang belum dapat memejamkan matanya, beralih memperhatikan Joohyun. Tubuh gadis itu menggeliat kecil. Dan Taekwoon menyadari kalau jarak Joohyun jadi semakin dekat dengan Miki. Taekwoo menjadi khawatir kalau Miki akan tertindih Joohyun. Ugh, sejujurnya Taekwoon tidak suka posisi ini. Bagaimana kalau nanti Miki terhimpit?

Maka pria itu beringsut melindungi miki dengan tangannya sebelum Joohyun mendekat lagi. Tapi fatal, karena kini wajahnya dan wajah Joohyun menjadi sangat dekat sampai Taekwoon dapat melihat jelas betapa lentiknya bulu mata gadis itu. Alisnya yang tertata rapi serta bibirnya yang tipis. Wajah Joohyun yang tengah tertidur…benar-benar cantik.

Ah, apa sih yang dia pikirkan?

Segera Taekwoon mengalihkan pandangannya. Tapi kemudian Taekwoon menyadari sesuatu.

Kenapa Miki panas sekali?

Taekwoon menyentuh pipi Miki untuk memastikan. Dan sontak saja pria itu terbangun. Tangannya mulai mengguncang-guncangkan tubuh Joohyun. Joohyun yang baru sebentar terlelap, mengerjap-ngerjapkan matanya berusaha mengumpulkan kesadaran. Gadis itu masih setengah terlelap saat Taekwoon mengatakan,

“Joohyun, Miki demam!”

***

Keadaannya kacau. Segera setelah menyadari Miki demam, Taekwoon dan Joohyun bergegas menuju rumah sakit. Saking paniknya, merea bahkan masih mengenakan pakaian tidur mereka. Keadaan mereka yang kacau bertambah saat insiden Miki tidak mau dibaringkan. Saat dibaringkan dia terus menangis. Membuat dokter dan para suster kewalahan untuk memeriksanya. Jadilah Taekwoon harus menggendong Miki selama proses pemeriksaan berlangsung. Bahkan pria itu harus terduduk semalaman karena Miki hanya bisa tertidur lelap dipelukannya.

Miki perlu diopname selama semalam. Kalau besok pagi demamnya turun, dokter bilang mereka bisa pulang. Di atas ranjang rawat inap, Taekwoon terduduk dengan Miki yang telah dipasangi infus terlelap di pelukannya. Joohyun yang duduk di kursi di samping ranjang hanya dapat memandanginya. Terlihat jelas raut kelelahan di paras pria itu.

“Taekwoon.”

Sepertinya Taekwoon sudah terlalu lelah untuk menyahut, jadi dia hanya melemparkan tatapan tanda tanya pada Joohyun.

“Kau tidak lelah?” tanya gadis itu lagi sambil bertopang dagu.

“Tanganmu itu pasti pegal.” Kali ini joohyun mengernyit.

Taekwoon mengubah sedikit posisi Miki dengan hati-hati agar dia tidak terbangun.

“Joohyun… tanganku bahkan sudah mati rasa.”

“Benarkah?! Bagaimana ini?”

Gwenchana. Selama yang kugendong adalah Miki, setiap hari pun aku sanggup. Justru aku senang melihatnya tertidur pulas di pelukanku seperti ini,” ujar pria itu sambil tersenyum tipis.

Padangan Joohyun berubah murung. Tangannya terulur mengelus pelan pipi Miki.

“Miki-ya, aku ini Eommamu. Harusnya kau sukanya tidur di pelukanku.”

‘Mulai lagi’ batin Taekwoon.

“Jangan menyusahkan Appa Miki-ya. Appa kan sudah lelah menjagamu seharian.”

Mendengar perkataan Joohyun barusan, Taekwoon menatap Joohyun heran.

‘Joohyun?’

Mianhae Taekwoon.” Kali ini wajah gadis itu terangkat menatap Taekwoon.

Wae?”

“Karena anakku menyusahkanmu.”

‘Dia juga anakku, bodoh! ‘ Taekwoon hendak berkata seperti itu tapi dia tidak enak hati. Taekwoon terenyuh melihat sikap Joohyun yang tidak seperti biasanya. Tanpa sadar, tangan Taekwoon terangkat hendak mengelus surai cokelat gadis itu, namun Joohyun malah menarik tangannya.

“Kenapa? Tanganmu pegal, ya? Sini kupijat. ”

Taekwoon sedikit terkejut, tapi kemudian dia tersenyum kecil melihat tingkah Joohyun.

TBC

.

Tyavi‘s little note: Holaaaaa!!! Maaf ya kalau kelanjutannya lama, soalnya Author udah mulai sibuk ujian akhir-akhir ini. dan maaf juga kalau ceritanya jadi semakin absurd :/

author hanya gadis 18 tahun biasa yang belum merasakan pernikahan tapi mencari berbagai referensi bagaimana cara mengurus bayi :v

Mind to leave a comment?

Advertisements

44 thoughts on “Accidentally Family [Chapter 3]

  1. Oh jadi miki anak adopsi yah selamat bang taekwoon joohyun masih bisa abang miliki 100% wkwkwkwkwkwk taekwoon ke-appa-an banget ya ah jadi pengen dinikahin..

    • iyaaa Miki anak adopsi hehe
      ya ampuun kamuu, aku ngakak bacanya wkwkwkwkwkw
      emang ke-appa-an, aku juga pengen nikahin, jadi kamu duluan apa aku duluan? /Ga/
      makasihh udah mampir dan komen yaa Fatin ^^

  2. Gasabar nunggu next chapnya!!😆 suka bgt sama leorene, apa lagi leo sama irene sama sama bias aku! Aaaa tapi lucu irenenya disini😂 gasabar tunggu next chapnya

  3. sebenernya sih klo bayi demam dcek dulu panasny pake termometer abis itu dkasih asi yg banyak jgn kedokter dulu klo udah dua hari ga turun panasny bru kedokter, palingan jga cuma dkasih penurun panas sma antibiotik ga smpe di infus, di infus tuh biasany klo kekurangan cairan.

  4. Hallo kak!…
    Aq reader baru, soalnya baru nemu(idih bahasanya) nih ff kemarin .,.

    Ngomong” si leo(bukan nama merk)nya nggk gay kan??? Dia pekerjaannya apaan sih??? Trus alasanya dia mau nikahin joohyun apa??? … Mereka berdua tuh lucu ya, apalagi leo(sekali lagi, bukan nama merk) dia itu kalem di luar tp cerewet di dalam, wkwkwk,.. Itu bagian yang paling aq suka…

    Lanjut terus ya,

    #semangat

    • waduhh pertanyaanmu banyak sekali yah :”
      semoga pertanyaanmu terjawab di chapter selanjutnya yahh
      hehehe ditunggu ajahh
      emang Leo nama merk apa dek???
      Leo mah emang begitu dek, diam2 menghanyutkan :”
      iyaaa waduh disemangatin, makasih yaaa
      makasih juga udah baca dan komen ^^

      • Iya, moga aja di chap depan pertanyaan beruntun(?)ku terjawab.

        Leo, itu tuh nama s***k(sensor(lagi)), masak gak tau,..

        Widdih,,, diam” menghanyutkan???,.,
        oowhh, tipe cowok yang berbahaya kayaknya(apa ini?),..

        Oke, jumpa lagi di chap 4 kak…

        Love you, mmmmuacchh…

        #tetepsemangat

  5. aigooo chesdy bgt n kluarga
    aplg dg kepolosan mereka dlm sgla hal mg.urus anak
    tp untunglh skrng era modern shingga sdkt-bnyak hal it bsa teratasi

    hn..baby sitter ?
    siapa kira2
    jgn sampai jd org ketiga aj ntar dlm kluarga mereka

    aigoo Miki kmu lucu bgt. serasa oennie mw meluk jga

    ak gk prcya klo kerjaan taekwoon cma sbg barista ??

    ommo Miki demam..semoga aj lkas sembuh.
    next part dtunggu & semangat utk ujianny

    • justru itu letak keunyuannya hehe dan sebenarnya fokus cerita ini tuh di saat mengurus bayi heheh
      wah siapa yaaa, tunggu aja deh kelanjutannya hehehe
      waduhh aku juga mau meluk Jung Miki :3
      wahwahh sungguh banyak pertanyaanmu, semoga akan terjawab satu persatu di chap selanjutnya wkwk
      gomawoo noona!-Miki
      wahhh makasih udah disemangatin, makin semangat deh nih ujiannya ^^
      terimakasih udah baca dan komen yaaa 😉

  6. Yay pertanyaan ku terjawab di chapter ini wkwkkwkwkwkw XD

    Duh kan ya buruan aja deh mereka cinta cintaan nya duh kzl banget liat gaada yg mulai pertama diantara mereka berdua huhu. Pokoknya LeoIrene is lyfe bgt lah inj ekkwkwkw

    Ditunggu chap 4 nya ya tyaaaa💜💜💜💜

    • Nit nittt ku sudah menunggu kehadiranmu seharian ini wkwkwk
      waduhh udah gak sabar nih, sabar atuh neng baru juga chap 3 hehehe
      mungkin karena leo terlalu kalem :v
      dihh kok sama sihhh, jujur otp aku tuh LeoRene, gara2 ultimate bias aku yg cowok: leo, dan yang cewek: irene. Trus aku pasangin dehh wkwk
      sipsipp ditunggu aja yaaww
      makasih udah baca dan komen nitaa ^^

      • Astaga! Kehadiran ku ditunggu alamak /merasa penting/ /padahal gak penting/ /yolo/

        Iya kan rasanya mau ada ditengah mereka terus bantuin nyomblangin keduanya becuz aku udah gasabar dengan romance diantara keduanyaaa /tolong tya kabulkan ini lol/
        Yup pairing favo aku di redvelvixx /serahserah w ya namainnya wk/ emg leoirene sama hyukyeri💜 terus kenwendy juga unyu tp ultimate sih hyukyeri. Tp entah knp byk yang gak ngerestuin mereka 😦 /curcol/
        Wkwk pasti kutunggu kok next chapnya! ^^ semangat tyaaaaaa

  7. gemes sama mereka, kenapa mereka gak beromantis romantis ria sih? mereka kan sepasang suami istri?hmmmmm, Hakyeon long time no seee, Hakyeon disini udah nikah dan punya anak? kecewaaaaaaaa…

    • karena mereka belumm ada rasa heheh ditunggu aja yang progress hubungan mereka / ketawa evil lagi/
      wkwkwk hati-hati ya disini kayaknya anak vixx bakal jadi seorang ayah semua *ups
      makasih udah baca dan komen ^^

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s