[VIGNETTE] Broken Vow

irish-broken-vow

Author : IRISH

Tittle : Broken Vow

Main Cast : EXO’s Do Kyungsoo, OC’s Min Kyungri

Genre : Family, Life, Hurt, Tragedy, Psychology

Rate : T; PG-15

Length : Vignette

Disclaimer : This story entirely created by Irish. Any resemblance to real persons or organization appearing in this story is purely coincidental. EXO Members belong to their real-life, and OC’s belong to their appearance.

…a family… is just a sweet dream that never come true…

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Kyungri’s Eyes…

Namaku Kyungri. Usiaku menginjak tujuh belas tahun ini. Aku anak bungsu dari dua bersaudara. Saudaraku, Do Kyungsoo, menderita autisme sehingga tingkah lakunya… seperti anak berusia tujuh tahun.

Aku tinggal di sebuah rumah, bersama Kyungsoo, dan seorang wanita juga pria, yang dikatakan orang-orang sebagai orang tuaku.

Keluargaku adalah hal yang paling kubenci dari hidupku.

Appaku seorang kontraktor yang sering bekerja di Jepang, dan Eomma memiliki bisnis butik kecil di sebuah mall.

Semua orang mungkin berpikir bahwa keluargaku adalah keluarga yang bahagia, tapi tidak. Keluargaku hancur. Hanya karena satu kata, uang.

Sejak kecil, teriakan-teriakan kemarahan Appa dan Eomma adalah sebuah lullaby untukku dan Kyungsoo. Tiap harinya, saat Appa ada dirumah, teriakan itu akan terdengar. Semua umpatan keluar dari mulut mereka, saling mencaci, saling menghina.

Tak jarang kudengar suara pukulan, dan tangisan Eommaku. Tapi aku tahu… saat Eomma menangis, Appa lah yang terluka. Karena Appa tak pernah menyarangkan pukulan apapun padanya.

Tapi saat aku keluar dari kamar yang menjadi satu-satunya perlindunganku, kutemukan Appa terluka.

Dulu, aku selalu menangis karena pertengkaran mereka. Tapi sekarang… hatiku sudah mati karena aku tak lagi merasakan luka itu. Luka yang dulu tercipta di relung kalbuku karena teriakan mereka.

Luka yang kudapatkan saat beberapa orang yang tinggal di sekitar rumah kami menatap iba, luka yang ku dapatkan saat Eomma… melampiaskan kemarahannya padaku.

Dulu aku tak pernah mengerti kenapa mereka terus bertengkar karena hal bernama uang, tapi sekarang aku memahaminya. Bagi Eomma, uang adalah hidupnya. Dan bagi Appa, Eomma hanya parasit yang membutuhkan uangnya.

Jadi sejak usiaku menginjak lima belas tahun, kuputuskan, aku tak lagi akan menangis karena teriakan mereka. Aku tak akan lagi menangis karena melihat mereka terluka. Aku tak akan menangis lagi karena pukulan yang kudapatkan.

Karena jika aku menangis… Kyungsoo akan menanyakan kenapa aku bersedih.

Terlebih dari kepedulianku pada dua orang yang disebut sebagai orang tuaku namun tak kutemukan makna sebenarnya dari presensi orang tua itu, aku lebih mempedulikan Kyungsoo.

Karena Ia… adalah satu-satunya yang tak pernah ambil pusing dengan pertengkaran di neraka kecil ini.

Aku yakin neraka itu menakutkan, tapi aku sudah menjalani tujuh belas tahun hidupku di neraka, apa lagi yang harus kutakutkan tentang neraka?

Kyungsoo yang tak pernah dewasa, tak pernah tahu jika selama ini Ia tinggal di neraka. Terkadang aku berharap aku terlahir sepertinya saja, jadi aku tak harus mengenal neraka ini.

Karena senyum Kyungsoo… aku tahu aku harus bertahan hidup. Setidaknya, aku harus melindungi Kyungsoo dari dua orang mengerikan di neraka tempat aku tinggal sekarang.

“Memangnya apa yang pernah kau berikan padaku huh!?”

“Apa yang pernah ku berikan!? Kau pikir selama ini darimana kau dapat uang untuk hidup jika bukan karena usahaku?!”

“Kau tahu aku bahkan bisa hidup tanpa uangmu! Pergi! Keluarlah dari rumah ini dan jangan pernah kembali!”

“Kau wanita tidak tahu malu! Kau pikir rumah ini milikmu!? Kau lah yang seharusnya pergi! Kau pikir kau bisa bertahan hidup menjadi gelandangan di luar sana tanpa uangku!?”

Aku merengkuh Kyungsoo ke dalam pelukanku, Ia memang tak mengerti apa maksud tindakanku, atau maksud dari teriakan di sekitarnya, tapi aku tahu… Ia pasti mengingatnya.

“Semua ini karena kau! Aku terjebak di sini karena anak sialan yang kau paksa untuk kulahirkan!”

“Salahku!? Kau bilang ini salahku!?”

“Ya! Dan aku harus menanggung malu karena melahirkan anak cacat sepertinya!”

“Hah! Kau lah yang melahirkan anak cacat itu! Dia anakmu!”

Kueratkan pelukanku pada Kyungsoo. Aku sungguh tak ingin Ia mendengar umpatan itu, aku tak ingin Ia mengingatnya. Aku ingin Kyungsoo hanya mengingat hal-hal indah saja dalam hidupnya.

“Pergi! Pergi kau dari rumah ini!”

Lagi-lagi kudengar teriakan itu.

Sungguh, aku ingin menangis. Aku ingin menangis dan meluapkan kemarahanku, kesedihanku. Kenapa aku harus terlahir dalam keluarga seperti ini? Kenapa Tuhan begitu tidak adil karena memberikanku kehidupan seperti ini? Apa Tuhan membenciku?

Sejak kecil, aku bahkan tak pernah mendapatkan pelukan dari Appa, atau Eommaku. Keluarga… hanyalah mimpi yang tak pernah menjadi nyata bagiku. Sementara kulihat teman-teman sebayaku begitu bahagia bersama Appa ataupun Eommanya, aku hanya bisa bermimpi memilikinya.

“Bawa anak sialan itu bersamamu! Dia bahkan bukan anakku!”

Kali ini Eomma berteriak. Ya. Dia menyebutku. Karena aku hanyalah anak dari salah seorang wanita yang hamil karena Appaku, Ia juga begitu membenciku.

Aku bahkan tidak terlahir dari rahimnya, untuk apa aku mengharapkan pelukan darinya?

Noona…”, aku menatap Kyungsoo, dan bibirku bergetar menahan tangis. Menatap sepasang mata Kyungsoo sungguh melukaiku.

Ia bahkan menganggapku Noona nya karena sakit yang di deritanya.

“Gwenchana… Gwenchana Kyungsoo-ya. Noona ada disini…”, aku menariknya dalam pelukanku, menenangkannya walaupun aku tahu… aku lah yang butuh di tenangkan.

Kurasakan lengan Kyungsoo melingkar di pinggangku, dan Ia membenamkan wajahnya di dadaku. Aku tahu Ia takut. Aku tahu Ia takut mendengar teriakan mengerikan itu.

Aku juga tahu… keadaan seperti ini tak akan terjadi jika kami tidak ada.

Kebencian Eomma karena telah melahirkan seorang anak yang menderita autisme seperti Kyungsoo… dan kebenciannya padaku yang merupakan wujud dari pengkhianatan Appaku.

Noona… Aku takut…”, pernyataan Kyungsoo kembali menghancurkan hatiku.

Meluluh lantakkan tembok yang telah kubangun selama bertahun-tahun. Aku lagi-lagi ingin menangis. Melebihi ketakutanku karena teriakan mereka, aku begitu takut jika Kyungsoo mengingat semua ini.

“Kyungsoo-ya. Gwenchana. Noona ada di sini. Noona akan melindungimu. Jangan takut Kyungsoo-ya…”

Sedikit demi sedikit aku tahu dinding pertahananku kembali muncul saat kulihat senyuman di wajah kekanakkan Kyungsoo yang seolah tak pernah menua.

Tidak seperti wajahku yang terlihat menyedihkan karena semua kesedihan juga penderitaan yang kusimpan… Kyungsoo… seperti sebuah nirwana bagiku. Karena aku tahu, dia adalah alasanku bertahan hidup.

Kueratkan pelukanku padanya, berharap aku bisa mendapatkan semua kesedihan dan ketakutan yang Ia rasakan. Berharap bisa mengambil ingatan buruk ini dari benaknya.

“Kyungri!!”, aku tersentak mendengar teriakan Appaku, detik selanjutnya, kudapati Appa sudah membuka pintu kamarku, menatapku dan Kyungsoo dengan tatapan yang tak bisa kuartikan.

Kutemukan luka disana, juga kesedihan. Kenapa? Kenapa Appa harus menatap seperti itu sekarang? Kenapa Ia tidak melakukannya dulu?

“Kemasi barangmu, kita pergi dari rumah ini.”

“A-Appa…”, kutemukan suaraku bergetar ketakutan karena ucapan Appa bagaikan petir yang menyambarku di kala senja.

“Cepat!”, teriakan Appa menggema di kamar, sementara aku membeku.

“Tidak.”, ucapku, mengeratkan pelukanku pada Kyungsoo.

Aku tak akan meninggalkan Kyungsoo dalam kesengsaraan. Aku tak akan meninggalkannya di sini.

“Maaf, nak.”, kudengar lirihan Appa sebelum Ia menarik lenganku dengan kasar, menyentakkan Kyungsoo dengan kasar hingga Ia membentur dinding di belakang kami.

“Lepaskan! Appa! Lepaskan aku!”, aku meronta, tapi apa daya tenagaku telah terkuras karena menanggung kesakitan.

Bukan di tubuhku, tapi di batinku. Kesakitan yang berhasil merenggut tenagaku, juga kebahagiaanku.

“Lepaskan! Appa! Aku tidak akan ikut! Aku tidak akan meninggalkan Kyungsoo!”

Noona!”, kudengar teriakan Kyungsoo, dan tangisannya.

Aku akui aku begitu sakit saat mendengar pertengkaran Appa dan Eommaku, tapi mendengar tangisan Kyungsoo seolah mengiris batinku. Mencabiknya, sekaligus menyiramkan air garam di atasnya.

“Kyungsoo! Tidak! Lepaskan aku Appa!”

Noona!”

Aku menangis. Aku tak lagi membiarkan dinding itu melindungi kesakitanku saat kulihat Kyungsoo berlari mengejarku. Sementara aku sekarang ada di dalam mobil Appa, kulihat Ia mengejarku. Menangisiku.

“Tidak! Kyungsoo!”

Aku bahkan tak lagi peduli jika teriakanku mengundang perhatian orang-orang. Toh neraka kecil kami sudah menjadi perhatian orang, untuk apa malu?

Aku menangis pilu mendapati diriku tak lagi akan menemui Kyungsoo. Aku tahu… Appa akan membawaku pergi.

“Kenapa… Kenapa Appa meninggalkannya!?”, teriakku pada Appa.

“Karena dia cacat! Siapa yang mau membawa manusia memalukan sepertinya!?”, Appa balas berteriak.

“Tidak! Dia tidak cacat! Kyungsoo mengingatnya! Semua pertengkaran kalian, Kyungsoo mengingatnya!”

“Dia cacat Kyungri! Berhenti memikirkan manusia cacat sepertinya!”

“Tidak! Hentikan mobilnya! Aku tak akan pergi tanpa Kyungsoo! Aku sudah berjanji akan melindunginya!”

Aku menarik setir kemudi mobil Appaku, dan detik selanjutnya aku menyesali perbuatanku. Karena kemarahan kami berdua membuat kami sama-sama tak menyadari bus yang melaju berlawanan arah dengan mobil kami.

Menabrak mobil kami dan melontarkannya seolah mobil ini hanyalah sampah. Kutemukan tubuhku terbanting keluar mobil, hampir terlindas mobil lain jika saja mereka tidak menyadari keberadaanku.

Tatapan nanarku tertuju pada tubuh Appaku yang berlumuran darah dan tak lagi bergerak. Dan ya, kutemukan ketenangan juga euforia aneh saat aku tak lagi mendengar suaranya.

Aku harus menemukan Kyungsoo.

Aku bangkit, mengabaikan kesakitan di sekujur tubuhku, aku terlunta-lunta berusaha menemukan jalan pulang. Mengabaikan tatapan aneh dari semua orang, mengabaikan pertanyaan-pertanyaan mereka, aku membawa kakiku ke arah rumah yang belum jauh kutinggalkan.

Ada apa di rumah kami? Kenapa semua orang berkerumun di depan pintu rumah kami?

“K-Kyungsoo…”

Lirih aku berucap, mengalihkan perhatian beberapa orang. Menciptakan sebuah jalan kecil bagiku untuk memasuki neraka kecil itu lagi.

Tapi lagi-lagi… aku menyesalinya.

Karena kutemukan Kyungsoo terbaring di lantai dengan darah di sekitar tubuhnya, dan leher yang tersayat, sementara tubuh Eommaku tergantung di langit-langit ruang utama neraka kami.

Matanya membelalak menatapku, tak bersuara, tak bergerak.

Kudapati aku tertawa. Senang. Sangat senang. Aku tak lagi harus mendengar teriakannya, tak lagi harus mendapatkan pukulan dari tangannya.

“Kyungsoo-ya…”, kulangkahkan kakiku mendekati tubuh Kyungsoo yang juga tak bergerak.

“Sekarang kita bebas Kyungsoo-ya. Ayo bangun Kyungsoo-ya. Noona akan membawamu pergi ke tempat yang lebih baik. Kyungsoo-ya… Kajja… Kita pergi dari tempat ini…”

Ya. Akhirnya… sekarang aku mengerti sebuah keluarga… tidak berarti aku harus memiliki Appa dan Eomma. Tak harus berlandaskan sebuah janji pernikahan. Karena aku tahu, di keluarga kotorku, janji suci itu sudah hancur bertahun-tahun lamanya, menunggu sebuah takdir untuk mengakhirinya, yaitu kematian.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

“Bagaimana perkembangannya?”, seorang lelaki dengan jas putih menatap lembaran kertas yang diulurkan perawat padanya.

“Masih seperti biasanya, Dok. Dia masih sering menangis, dan menyebut nama dokter.”, ujar perawat itu menjelaskan.

“Menyebut namaku?”, lelaki yang rupanya dokter itu menyernyit, sementara tatapannya kini tertuju pada gadis yang duduk terpekur di dalam sebuah ruangan, menatap kosong ke arah dinding dengan senyum di wajahnya.

“Ya, Anda juga tahu sendiri. Dia terus mengatakan bahwa saudaranya itu bernama Do Kyungsoo, seperti nama Anda.”

Dokter itu tertawa pelan, dan mengulurkan kembali kertas laporan itu pada perawat di sebelahnya.

“Dia pasti sangat terpukul karena masa lalunya.”

Perawat itu hanya mengulum senyum. Tangannya kemudian bergerak membuka kunci pintu ruangan itu, mempersilahkan sang dokter untuk masuk.

“Kau bisa melanjutkan pekerjaanmu, perawat Yoon.”

Perawat itu mengangguk.

“Baiklah, dokter.”, ujarnya sembari melangkah meninggalkan dokter itu seorang diri bersama gadis yang masih menatap ke arah yang sama itu.

Sepeninggal perawat tadi, dokter itu bergerak menutup pintu, dan membawa kakinya melangkah menghampiri gadis itu.

“Min Kyungri…”, panggilnya lembut.

Gadis itu menoleh, dan senyum cerah muncul di wajah sarat akan kesedihan dan kesengsaraan itu.

“Kyungsoo-ya… Aku takut…”, ucapnya lirih sebelum Ia terisak.

Dokter itu mengambil duduk di sebelah gadis yang sekarang menangis tanpa henti itu, dan merengkuhkan lengannya di tubuh gadis itu.

NoonaGwenchana. Aku ada di sini. Aku akan melindungimu. Jangan takut, Noona.”

Terdengar tawa pelan dari mulut gadis itu, sementara tangan gadis itu sekarang menyentuh leher sang dokter, sebuah luka cukup dalam berbekas di sana.

“Maaf Kyungsoo-ya. Noona harusnya melindungimu dari Eomma…”

Dokter itu tersenyum, dan meninggalkan sebuah kecupan hangat di kening gadis itu sementara lengannya masih erat Ia rengkuhkan di tubuh kurus gadis itu.

“Aku sudah memaafkannya, Noona. Hanya tinggal kita berdua sekarang, Noona. Ini… adalah saatnya aku melindungimu dan membuatmu bahagia.”

End.

P.S:

Haloha! xD entah kenapa setelah nonton film tentang anak-anak broken home jadi terpikir membuat fanfict seperti ini. LOL. Entah bagaimana jadinya fanfict yang dibuat selama beberapa jam dengan modal kesedihan karena nasib anak-anak broken home. Huhu~ gomene kalo fanfict ini absurd. Well, any comment?

Advertisements

8 thoughts on “[VIGNETTE] Broken Vow

  1. Lagi fanfict our Kyungsoo , duh mulai dari mana ya? ini awalnya aku gagal paham tapi setelah telusuri lebih lanjut dan dengan persetujuan dari BAF(Badan Analisis Fanfiction)#abaikan akhirnya aku ngerti. Keren nggak absurd kalo kata saya mah masih bisa dicerna(?) alurnya :D. Ijin ubek-ubek lagi di blog Irish:D ya ..

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s