Anyuka (TEASER)

p-ff

Anyuka [Teaser]

by Kiyomizu Mizuki

starring by T-ARA‘s JIYEON Park | T-ARA‘s EUNJUNG Ham | Actress‘s SULLI Choi | F(X)‘s VICTORIA Song

series // au! family, drama, angst, crime, tragedy, school life, little bit romance // PG-15+

I own nothing, but the story. This is just a fan fiction. 

Enjoy!

Kegelapaan datang kepadanya, pintu hati nurani sudah tertutup baginya. Sekarang bintik-bintik hitam itulah yang menjadi penguasa baru relung hatinya yang kosong, namun terisi oleh kejahatan yang penuh akan ambisi membara.

Dunia malam, alkohol, dan pergaulan bebas menjadi sahabatnya kini. Juga, kedua telinga itu seakan di sumpal oleh sesuatu yang kasat mata dalam melakukan perbuatan baik. Bodohnya, akan terlaksanakan jika itu sesuatu perbuatan buruk.

Inilah dunia yang sesungguhnya. Semuanya terbalik dan hancur.

Para anak-anak yang menjadi penerus riwayat dan lembar hidup orang tua nya dan harapan bangsa sudah tidak ada lagi, mungkin ada; namun hanyalah segelintir yang masih memikirkan hal itu.

Mereka sudah menjadi anak pembangkang. Tidak mau menurut nasihat orang tua. Malah sering membantah dan membentaknya. Sering tidak izin padanya jika berpergian dan hal buruk lainnya.

Hancur.

.

.

.

“Jiyeon jangan! Tidak baik untukmu!” suara wanita cantik itu mengalun tinggi. Menarik pergelangan tangan anaknya supaya tidak melangkah terlalu jauh lagi. “Ibu tahu maksud mereka Jiyeon.”

Sang anak gadis melepas kasar tangan ibunya yang menempel di pergelangan tangannya. “Biarkan aku bebas Ibunda, mereka sahabat baikku! Tidak mungkin mereka jahat padaku! Memangnya Ibu tahu apa tentang mereka?! Kalau tidak tahu lebih baik kunci mulutmu sekarang dan biarkan aku pergi!”

Bentakan sang anak begitu menampar hatinya, begitu sakit. Ada seberkas perasaan bersalah menyergapnya karena telah melarang anak itu. Tapi sisi lain dia malah ingin melakukan hal yang serupa supaya si anak gadis tidak jatuh ke lubang kegelapan.

Tanpa bisa berbuat banyak, langkah kaki si anak gadis mengalun. Membenturkan sepatunya dengan aspal jalanan, menuju mobil segerombolan pria dan wanita yang sedang menunggu kedatangannya. Membiarkan suara sang ibu yang terus berteriak menyerukan kalimat ‘berhenti!’.

Terlambat bagi Eunjung dalam penyelamatkan Jiyeon. Mobil keparat itu sudah membawa anak gadisnya jauh. Rongga dadanya terasa sesak menerima kepahitan ini. Satu kali saja kesalahan fatalnya dalam mendidik anak itu terjadi, maka sang anak tidak akan kembali.

Eunjung berusaha bangun bersusah payah tanpa adanya yang membantu. Seperti biasa, kakinya terasa sangat sakit saat menjadi berdiri. Namun dia tetap menggerakannya menuju kursi.

.

.

.

Pergelangan tangan Jinri berada di dalam lilitan tangan Jiyeon. Mencengkramnya keras seakan tak mau melepaskannya begitu saja. Pandangan kedua anak gadis itu tajam dan menusuk. “Ayo Jinri tinggalkan mereka! Memangnya mereka siapa? Mereka sudah menahanmu terlalu lama Jinri!”

Salah satu sudut bibir tipis Jinri terangkat, menciptakan segores senyuman sinis. “Aku tahu. Mereka tidak berguna. Aku juga tidak tahan hidup di lingkungan kumuh seperti ini karena mereka berdua gulung tikar!”

“Kak Jinri, kak Jiyeon! Jangan pergi! Ibu tidak bisa apa-apa tanpa bantuan kalian, tolonglah kembali jangan pernah kembali ke dunia gelap itu kak! Soojung mohon.” Seorang gadis berusia sangat belia menyuarakan dengan nada memelas dan sarat permohonan. Juga netra gadis itu yang berkaca-kaca. Dia berusaha mencekal pergelangan dua remaja yang hendak pergi.

Dilepaskannya kasar tangan mungil Soojung. “Hey adik tak berguna dan rakyat jelata! Urusi saja mereka berdua! Kami tidak akan mau lagi menemui kalian lagi. Sudah cukup hidup kami susah karena kalian. Apa hak-mu bocah?!” sengaja, Jiyeon menancapkan kuku-kuku indahnya dan mengukir sebuah goresan di pipi mulus gadis itu hingga mengeluarkan darah.

Soojung meringis kala tancapan kuku itu semakin dalam. “Tapi Ibu sedang sakit keras kak, apa kakak tega meninggalkan mereka berdua sedangkan kalian berfoya-foya di luar sana dengan PEKERJAAN TAK TAHU DIRI HAH!” Soojung tersulut emosi.

Tungkai panjang Jinri menendang tubuh mungil Soojung hingga ke trotoar. Dia beralih pada Jiyeon untuk menyudahi aktifitasnya. “Sudah tinggalkan dia. Sekarang lebih baik kita menyusul yang lain.”

.

.

.

Kemana hati nurani, dirimu nak?

Dimana kebersamaan kalian berdua dalam bekerjasama untuk memecahkan soal-soal itu atau mengerjakan perbuatan yang baik lainnya?

Kemana wajah polos dan cerah kalian saat mendapatkan hasil ulangan yang begitu memuaskan hingga tak sabar ingin memberitahukan hal itu kepada kami?

Kemana semangat membara kalian saat ingin belajar serius dan mengutarakan cita-cita kalian dimasa depan?

Ingatkah engkau saat aku mengejarmu untuk mandi namun kau menolak hingga berlari-lari? Aku harus menangkapmu dulu dengan rayuan akan membelikan sebuah balon merah kepadamu.

Atau merengek hingga air mata itu keluar karena aku menolak untuk membelikan balon, hingga aku luluh?

Ibu rindu saat masa-masa kalian seperti itu. Kembalilah, jangan siksa dirimu terus menerus sebelum semuanya terlambat dan kau menyesal hingga ibu tak bisa di sisimu sambil memeluk sambil menghapus air matamu.

Ibu hanya bisa berdua untuk keselamatan kalian disana tanpa jangkauan mata ibu yang terus mengawasimu. Berdoa kepada Tuhan untuk memberikan sesuatu yang layak kepadamu.

Doa Ibu selalu menyertaimu.

.

Jiyeon sayang…

Ingatkah dirimu saat kencan pertama kita?

Wajahmu begitu berseri-seri dan berbinar cerah. Menandakan mood mu kalau sedang bagus. Senyum tulusmu dan sikap baikmu saat itu membuatku terjatuh dalam ruang pesona seorang Park Jiyeon. Seorang gadis cantik yang pintar, ramah, baik, dan sangat berbakti pada orang tua.

Entahlah. Aku sendiri bingung ingin mengungkapkan apalagi. Karena terlalu banyak hal indah yang telah kau lakukan membuatku begitu terlena.

Aku tidak menyangka bisa memacari salah satu anak dari orang tua yang begitu protective. Karena mereka terlalu melarangmu banyak hal, tapi sesungguhnya semuanya demi kebaikanmu sendiri.

Ibumu begitu menyayangiku layaknya anaknya sendiri. Aku menjadi rindu diperlakukan dengan penuh kasih sayang seperti itu oleh orang tua ku. Ya, mereka terlalu sibuk dalam bidang karirnya dan meninggalkanku, pulang juga jika tugas mereka terselesaikan.

Aku menjadi iri terhadapmu. Di besarkan di tengah keluarga yang begitu menyayangimu sepenuh hati walau begitu banyak kendala yang menghambat kalian. Tapi kalian saling bekerjasama.

Kembalilah Jiyeon. Jangan seperti ini, jangan terlalu masuk ke dalam kandang singa yang siap menerkam dan memakanmu. Disini kami terus menunggu. Jangan membuat seseorang terlalu lama mengharapkanmu kembali, atau orang itu akan jatuh dan lelah dengan sendirinya. Diakhir, mereka kecewa akan hal itu karena hanya mereka yang berjuang sedangkan engkau tidak.

Jadilah seseorang yang berguna Jiyeon, jangan terlalu banyak menyusahkan orang. Jika kau ada harta yang berlebih, bagilah mereka walau sedikit, sesungguhnya itu sangat berarti bagi mereka. Memberi itu lebih baik Jiyeon sayang…

.

Ternyata tanpa sadar waktu terus berjalan hingga aku dapat membesarkanmu hingga sebesar dan secantik ini. Kau tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat berarti bagiku.

Karena kau-lah hartaku satu-satunya, kau lebih berharga dari apapun nak. Aku rela menjual atau menukar seluruh barang yang aku miliki asal kau tetap di sisiku dan jangan pergi.

Tawa dan candamu menjadi kebahagian tersendiri bagiku. Bahagiaku itu sebenarnya sangat simpel dan mudah di lakukan. Hanya tawa dan canda, juga prestasimu saja sudah cukup meringankan beban hidupnya. Perasaan lelah itu menghilang saat aku mendengar kabar baik darimu.

Aku berjuang demi kebahagianmu nak. Jangan contoh aku yang di masa depan menjadi seperti ini, jangan! Karena aku telah mengecewakan orang tuaku yang merupakan nenek dan kakekmu karena aku tidak dapat membahagiakan mereka.

Justru kau-lah penerus segalanya Jinri. Bahagiakanlah aku, nenek, dan kakek-mu walau mereka hanya bisa melihat di atas sama. Aku tidak meminta banyak sayang. Jadilah seseorang yang mampu menciptakan kebahagian bagi orang lain dan jadilah seseorang yang rendah hati. Jika kau mendapatkan posisi yang begitu tinggi, jangan sombong! Karena itu adalah suatu amanat yang di kirim kepadamu dan kau laksanakan sebaik-baiknya tanpa ada pengkhianatan.

Semoga sehat dan sukses selalu nak.

.

Jinri sayang…

Hai! Sebagai salam pembukaku padamu.

Bagaimana kabarmu? Semoga selalu sehat ya, jangan lupa istirahat dan tidur supaya tidak jatuh sakit. Jangan terlalu terikat pada pekerjaan yang diperuntukan padamu, aku tahu pihak yang menaungimu juga tidak jahat. Karena mereka masih mengizinkanmu untuk istirahat.

Karena aku tahu segalanya tentangmu Jinri-ah. Kau itu tipe wanita yang gampang sekali sakit, meskipun kau berusaha menahannya namun akhirnya bertambah parah dan menyusahkan aku juga ibumu.

Sedikit saja kepalamu terkena air hujan dan BYARR!! Esoknya kau demam. Kau tahu seberapa cemasnya ibumu kala itu? Beliau tidak fokus dalam melayani setiap pelanggan yang masuk karena terus memikirkanmu sendirian di rumah. Makanya, aku di telpon olehnya supaya bisa menemanimu sampai beliau pulang.

Ingatkah engkau saat aku menyatakan perasaanku padamu? Kudapati bercak merah menjalar di sekitar pipi tirusmu, lama kelamaan kulihat semakin matang. Persis seperti tomat. Hihi, aku menjadi geli sendiri mengingatnya.

Aku memang tipe pria yang paling suka membuat keributan demi menabuh kebahagian bagi barangsiapa yang bersedih hati. Hanya ingin membagi rasa tersebut saja supaya tidak semakin larut.

Suaramu bagaikan melodi yang mengalun dengan indahnya, mendamaikan siapa saja yang mendengar membuat mereka terhanyut. Itu bagiku lho! Aku rindu saat Choi Jinri menggunakan wajah memelasnya demi mendapatkan sesuatu yang sangat dia incar.

Aku rindu wajah cemberutmu yang lucu itu.

Jinri, jagalah dirimu baik-baik di sana bersama Jiyeon. Kalian wanita lho dan derajatnya begitu tinggi. Dan jangan lupakan ilmu bela diri itu, siapa tahu bisa jaga-jaga jika ada pria yang menganggumu di tengah jalan.

Jangan suka bergantungan pada orang lain terus menerus. Dia tidak akan selalu bisa diandalkan terus-menerus. Ada kalanya kau harus berjuang sendiri. Jangan patah semangat Jinri-ya! Terus kejar mimpimu setinggi langit.

Fighting!

continue

Hai semuanya! Saya balik bawa fanfiksi baru. Semoga kalian suka dengan hasilnya. Ini baru teaser-nya aja. Karena saya ingin tahu seberapa minat kalian terhadap fanfiksi ini. Semoga kalian suka. Dan hey, saya bingung mau menentukan siapa yang jadi pasangannya Jiyeon atau Sulli? Mau usul? Di kotak komentar aja, tapi camtumkan nama mereka masing-masing ya dan siapa pasangannya. Saya pilih dari permintaan terbanyak. Jadi, saya tunggu respons-nya ya?

Advertisements

9 thoughts on “Anyuka (TEASER)

  1. Bgs bgt kisah na
    Baru teaser na ja dh bwt q nangis, pa lgi ni kisah ttg eomma pasti q lgsg nangis (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)​
    Pasti da penyebab jiyi & sulli jd brbh haluan gt, G̲̮̲̅͡å’ mgkn mrk brbh tanpa sebab.. Pa kh jiyi adlh ank adopsi eunjung??
    Jiyi dg kris wu aja ( krisyeon ) (˘▾˘ʃƪ)

    Chingu.. VOTE Jiyeon yaa di Ronde FINAL
    http://www.soompi.com/2015/09/23/battle-of-the-maknaes-finals/2/
    Tiap saat bs ϑi vote
    Batas na smpi malam ni pukul 20.00 wib ..

  2. Wehhh keren nihh ceritanya DAEBAK (y) suka bergenre kek gini :3 ❤

    SehunJiyeon please!! Thor!!

    Klo Sulli sih terserah aja, soalnya bukan bias aku jadi aku ga tau Sulli cocoknya ama siapa, seterah author aja atau para pembaca yang lain XD

    Yang penting Jiyeon&Sehun please thor! SEMANGAT (y)

  3. kayaknya seru ceritanya pengen cepet baca part 1 nya 🙂 aku sih pengennya jiyeon d’pasanging ma myungsoo atau sehun klo suli sama taemin atau baekhyun

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s