[Chapter 3 ] He Was Just The One

just the one 2

He Was Just The One

Maincast || Jung Taek Won aka. Leo VIXX feat Park Jiyeon

Support Cast ||  Ken, Ravi, N, Hongbin VIXX, Rap Mosnter BTS, Jimin BTS, Suga BTS, jin BTS

Genre || Romance | Action 

Length || Chapter

Rated ||  PG-17

 

 

 

 

 

“Untuk sementara kau mundur dari tugasmu. Mereka sudah mengetahui dirimu, kau tidak bisa lagi menyusup ke dalam kelompok mereka. Beristirahatlah!”

 

“Oke! aku mau sebuah tempat yang nyaman untuk berlibur. Aku akan membawa kekasihku ke sana!”

 

“What ! Apa kau gila!”

 

“Boss, aku hampir mati. Ingat !”

 

“Baiklah! akan aku usahakan.”

 

Leo tersenyum. Dia berjalan keluar ruangan. Hatinya mendadak menjadi senang. Tapi akankah dia akan mengajak Jiyeon berlibur. Apakah dia mau ?

 

 

***

 

 

 

 

Jiyeon sedang merencanakan dirinya untuk ke toko buku. Dia ingin mencari beberapa buku yang akhir-akhir ini menjadi targetnya. Dia melihatnya dari internet. Tapi untuk memesan secara online, bukanlah typenya. Dia lebih senang memeriksa kondisi buku secara langsung. Kebiasaan itu sudah dia lakukan sejak lama.  

 

Sejenak dia melihat seorang penjual sate ikan di pinggir jalan tidak jauh sebelum  dia melewati tikungan di depan sana. Sepertinya enak jika makan sate ikan dulu, pikirnya. 

 

“Ahjuma, lima !”  pesannya. Penjual makanan ringan itu memberikan Jiyeon lima tusuk sate yang ditunjuk Jiyeon.

 

“Gomawo, ..!”  Jiyeon menyerahkan uangnya.

 

“Kembaliannya!”

 

“Ambil saja!”  Jiyeon melangkah sambil memakan sate ikan itu dengan lahap. Barunkali ini dia merasa bebas memakan sesuatu tanpa harus repot menghitung jumlah asupan kalorinya. Rasanya sangat luar biasa enak. 

 

Dia menikmatinya sambil berjalan dan melihat-lihat suasana. Tapi seperti sebuah fatamorgana dia melihat seseorang di depannya, berdiri dengan semua pesonanya. Dia memotong langkah Jiyeon begitu saja. 

 

Gadis model itu terpaksa berhenti . Diangkat kepalanya dan dia mendapati wajah yang semakin membuatnya gelisah itu. Leo.

 

“Tidak habis kupikir, seorang princess sepertimu makan sambil berjalan. ”  ujarnya menyindir.

 

“Shutup!”  Jiyeon bergeser ke kiri dan mengambi langkah ke depan. ” Kenapa dari sekian juta manusia laki-laki tampan di kota ini hanya laki-laki jelek inilah yang aku temui jalanan sibuk ini. ”  Gumam Jiyeon tidak habis pikir.

 

“Apa kau yakin aku jelek?”  Serbu Leo.

 

Jiyeon melirik dan tancap gas.  “Percayalah padaku!”  sahutnya.

 

“Tunggu!” ujarnya menahan. Leo mengejar langkah Jiyeon. “Aku tahu ini kedengarannya bodoh, tapi apakah kau mau ikut denganku ?”

 

“Ya, itu memang terdengar bodoh. Dan aku menjawab ‘Tidak’ untuk ajakanmu”  Jiyeon mendengus langsung, tanpa berpikir, tanpa melirik atau menyesali jawaban yang sudah meluncur dari mulutnya. Dia terus berjalan.

 

“Jiyeon!”  sepertinya namja itu belum putus asa.  Dia menggapai lengan Jiyeon, menariknya dan mengarahkan wajah itu untuk menatapnya. Dia memaksanya untuk memperdulikannya. 

 

Jiyeon tercekat, menatap pada keseriusan Leo.

 

“Wae ?” Dihempaskan tangan Leo dari lengannya.

 

“Sorry..!”  ujarnya sang namja yang terlihat masih agresif itu. ” And Sorry…!”   Lalu beberapa detik kemudian.  “Sorry..again..and how many sorry do you need ?”  sangat dalam, tajam, dan langsung menghantam harga diri Jiyeon.

 

Mulutnya sedikit terbuka,namun bibirnya kelu, kata-katanya tertahan di tenggorokkan. Jiyeon menarik nafasnya, menelan semua itu lagi dan menyusunnya di dalam otaknya. Apa? kenapa? 

 

“Aku sudah memafkanmu. ” jawab Jiyeon ringan tanpa beban, dan dia melanjutkan langkahnya kembali.

 

“Ikutlah denganku, aku akan berlibur ke sebuah pulau. ”  kejar Leo.

 

Pulau. Apa Leo baru saja mengatakan Pulau. Kenapa kedengaranya sanga menarik. Itu adalah hal yang sangat dinantikan Jiyeon. Berlibur. Tapi bersama dengan Leo?

 

Jiyeon tidak menanggapi, dia terus berjalan dan membiarkan Leo menyandingnya. Dia masih berpikir.

 

“Jiyeon!”  panggil Leo lagi.

 

Kemudian,

 

“Baiklah.” jawab Jiyeon lantang. Dia memperbaiki letak kaca mata hitamnya dan melangkah dengan pasti. Bahkan dia menyetujui ajakan Leo tanpa ekspresi tanpa berhenti, tanpa menoleh, tampa sedikitpun kesan manis.. Dia terus berjalan lalu berbelok di tikungan.

 

Sekarang tinggalah Leo berdiri dengan wajah tercengang. Apa dia tidak salah mendengar ?

 

 

Leo mengejar langkah kaki Jiyeon. Dia terlihat masih bingung namun senyumnya merekah sempurna. Senyuman itu sungguh mengalahkan keceriaan sinar matahari siang ini.

 

“Jiyeon! Apa aku tidak salah dengar !”   tanyanya.

 

Jiyeon melirik sambil menyuapkan potongan sate ikannya yang terakhir. Mengunyahnya sebentar lalu menghela napasnya.

 

“Aku katakan padamu sekali lagi, aku akan ikut berlibur denganmu Tn. Kim Leo. Apa itu tidak jelas untukmu. Aku bersedia ikut karena sepetinya akan sangat menhenangkan berlibur ke sebuah pulau. Tapi ingat, aku tidak akan mengeluarkan uang sepeserpun untuk hal itu.Tidak sepeserpun. Ingat! Semua kau yang tanggung. Apa kau mengerti !”  ujarnya datar.

 

 

Leo tersenyum

 

“Baiklah. Aku mengerti. Wanita memang akan seperti itu pada akhirnya. ”  Leo melingkarkan tangannya di bahu Jiyeon, namun gadis itu menepiskannya.

 

“Jangan besar kepala, hanya karena aku menyetujui ajakanmu.”   Jiyeon memasuki toko buku. Namun Leo tidak ikut masuk. Dia tidak suka berada di dalam sana. Akhirnya dia memutuskan untuk menunggu Jiyeon di pinggir jalan, di tempat yang terhalang oleh papan reklame. Dia mengenakan kaca mata hitam dan jaket jeans belel dengan sepatu boot kulit. Asap rokoknya mengepul menemaninya berpikir. Jalanan padat dan suasana bertambah ramai. Leo sadar, dia mungkin dalam bahaya berada di lingkungan terbuka seperti ini .

 

Sementara itu, Jiyeon memperhatikan dari dalam. Tentang Leo. Keseluruhannya, geraknya , cara dia menatap, melirik atau ketika dia menghela nafas. Semua terlihat mengesankan. Jiyeon tidak bisa memungkiri semua itu. Di hatinya, dia masih melihat Leo sebagai mahluk yang sempurna. Ya, tentu saja dia senang Leo akhirnya memperhatikannya kembali setelah lama dia menghilang.

 

Sesaat tatapan Leo bersirobok dengannya, apakah dia bisa melihat Jiueon dari luar sana. Jika iya, maka Jiyeon pasti sudah memerah saat ini, karena sejak tadi dia tidak memegang satupun buku di dalam toko buku ini. Dia hanya berdiri di sisi rak sambil menoleh terus ke arah Leo. Dia hanya mengambil kesempatan untuk melepas rasa rindunya yang selama ini dia tekan sedalam-dalamnya.

 

Leo mulai terlihat kesal. Dia mengintip Jiyeon dari kaca etalase buku. Namun Jiyeon pura-pura sedang memilih buku, senyumnya tertahan diantara kalimat-kalimat yang tidak dibacanya sedikitpun di dalam buku itu..

 

Leo membuka pintu dan melongok ke dalam, dia melihat Jiyeon dan menatapnya tajam.

 

“Sayangku, Park Jiyeon!” teriaknya keras. 

 

Brengsek!  

 

Jiyeon tidak menoleh sedikitpun ketika mendengar Leo memanggilnya seperti itu. Namun Leo tidak menyerah.

 

“Jiyeon-ah, cepat sedikit Sayang!  Aku sudah tidak tahan! Apa kau akan membuatku horny seharian di pinggir jalan.” panggilnya lagi. Kali ini suaranya dibuat semerdu mungkin, membuat Jiyeon mendengus sambil mengepalkan tinjunya ke arah laki-laki itu. Bayangkan semua mata manusia yang berada di dalam toko buku itu menoleh ke arah Jiueon sambil tersenyum-senyum.  Ya, sempurnalah rona merah di wajah Jiyeon saat ini.

 

Dia segera menarik Leo menjauh dari toko buku. Sejauh mata orang yang tadi sempat melihat mereka tidak lagi menemukan bayangan mereka . 

 

“Kenapa kau masih di sini ? Aku kan sudah mengatakan iya. Kenapa kau tidak pergi?”

 

“Aku masih ingin bersamamu. “

 

“Jangan macam-macam !” Ancam Jiyeon

 

“Ikutlah denganku ke rumahku !”  ujarnya.

 

“Untuk apa ?”  Jiyeon mengacuhkannya. 

 

Dia menghentikan taxi lalu menaikinya. Dia ingin menghindari Leo, tapi namja tidak tahu malu itu ikut bersamanya. Duduk di sisinya, dan…

 

“Gongjunam, ajussi !”  ujar Leo mendikte sang sopir.

 

“Heh! kau bawa aku ke mana, Leo?”  Jiyeon terpekur menatap laki-laki itu.

 

“Sudah kukatakan ke rumahku.”

 

“Aku tidak mau!”  

 

“Kenapa tidak mau ?”

 

“Ajussi berhenti di sini !”  ujar Jiyeon kemudian

 

“Tidak bisa. Kita di tengah. Saya bisa ditangkap polisi, jika berhenti di tempat ini!”

 

“Sial !”  ujar Jiyeon.  Sementara Leo tidak ambil pusing dengan gerutu Jiyeon. Dia asik dengan sikap santainya sesekali dia tersenyum, sambil mengusap rambut Jiyeon dengan lembut.

 

“Don’t worry, Baby! Aku tidak akan memperkosamu!”   Leo menahan tawanya.

 

“Kau sinting !” Jiyeon hanya mampu melipat tangannya dan tidak memperdulikan omongan Leo. Namun dihatinya merasa senang. Leo benar, terkadang dia memang sering bersikap berlebihan.Agh !  Jiyeon memejamkan matanya. Dia mencoba untuk menghalau semua kesan manis dari hatinya tentang seorang Leo. Dia takut nantinya akan membuat semuanya akan menjadi lebih sulit untuk dirinya sendiri.  Lalu Jiyeon merasakan Leo meniup telinganya, dia langsung membuka matanya dan menoleh. Saat itu dia melihat Leo begitu dekat dengannya.

 

“Kau sedang apa ? Kenapa kau terlihat begitu mengesankan jika terpejam.”  bisik Leo sambil melirik ke arah si sopir yang curiga dengan tingkahnya. Namun Leo memasang wajah angker pada sopir taxi itu, sehingga sang sopir tidak berani mengintipnya dari kaca spion.

 

“Kenapa kau terlihat begitu menyebalkan jika sedang menggodaku ?”  Leo tersenyum mendengar ucapan Jiyeon.

 

“Hhm, suaramu terdengar sexy jika berbisik. Aku sungguh penasaran untuk mendengar kau membisikkan namaku berkali-kali !Aku akan pastikan bahwa hanya akulah yang akan selalu membuatmu tidak hanya membisikkan namaku, namun juga meneriakkan namaku. Berkali-kali!”  

 

“Leo, wajahmu sungguh menjijikkan jika sudah membicafakan masalah kejantanan.”

 

“Tidak masalah ! Aku yakin kau akan selalu merindukan wajah menjijikanku ini, apalagi jika sudah berada di antara celah pahamu !” Leo menjulurkan lidahnya.

 

Hhm, dia memang brengsek !  Jiyeon hanya menarik nafasnya dalam-dalam. Sepertinya Leo kembali ke sifat asalnya. Apakah perutnya sudah sembuh ?

 

 

 

***

 

 

 

Leo menggandeng Jiyeon memasuki sebuah rumah dengan cat putih. Di sana terlihat begitu hangat. Ada sentuhan wanita di halaman rumah itu, terlihat dengan banyaknya bunga yang menghiasi lahan pekarangannya. Apakah istrinya ? pertanyaan itu sempat membuat Jiyeon murung. 

 

Leo membuka pintunya. Dia membawa Jiyeon hingga ke dapur. Di sana ada seorang wanita paruh baya sedang membuat kue.Aromanya sungguh manis. Dari baunya saja sudah menggugah rasa lapar. Namun Jiyeon sadar, dia tidak boleh memanjakan perutnya dengan rasa manis, akan sangat beresiko dengan perubahan penampilannya. 

 

“Eomma !”  Leo mendekatinya dan mencium pipi wanita itu. 

 

“Taek Won-ah !”  

 

“Eomma !”  balasnya lagi. 

 

Taek Won?  Jiyeon bertanya dalam hati.

 

“Kenapa baru pulang, Sayang ?” tanya wanita itu.

 

“Banyak pekerjaan. Eomma tidak oerlu khawatir, aku sangat baik-baik saja. Terlebih ada wanita yang merawatku. Namanya Park Jiyeon. Dia pacarku.”  Leo berbisik untuk kalimat terakhr. Tapi Jiueon mendengarnya.

 

“Aaa…Jiyeon.”  Sahut sang Eomma.

 

“Annyeong, Anjumeoni!”  sapa Jiyeon sopan.

 

Merka berdua menatap Jiyeon dari atas hingga bawah, kemudian dadi bawah hingga ke atas. Kompak sekali ibu dan anak itu. Lalu mereka saling menatap dan tesenyum. Jiyeon merasa risih diperlakukan seperti itu.

 

“Bukankah dia terlihat manis, Eomma.”  Leo merangkul Jiyeon di depan Eommanya. Hal itu membuat Jiyeon menjadi malu. Ditepiskannya tangan Leo sambil membungkuk pada wanita yang sepertinya sangat bijaksana itu. 

 

“Iya, dia sangat cantik Apakah dia juga seorang model.”  ujar wanita itu menimpali. Leo tertawa senang.

 

“Eomma, apa kau setuju jika mempunyai menantu seperti dia ?”  tanya Leo tiba-tiba.

 

“Leo!” hardik Jiyeon. Kenapa laki-laki ini begitu percaya diri. Dia berani bertingkah seperti itu di depan Eommanya. 

 

“Taek Won, ajak dia untuk makan. Sepertinya kalian sudah lapar.”

 

“Nanti saja eomma. Ada sesuatu yang harus kami diskusikan dulu. Ini masalah penting, Eomma.” Leo kembali merangkul Jiyeon.

 

“Mianhae, Anjumeoni!” Jiyeon membungkuk dengan perasan aneh. Masalah penting jidatnya itu! keluh Jiyeon dalam hati.

 

“Kau tidak perlu sungkan Jiyeon. Aku sangat mempercayai anakku. Jika dia mengatakan kau adalah kekasihnya, maka aku tidak akan banyak bicara. Dia kesayanganku !”  ujar sang Eomma dengan bangga. Dia memeluk Leo. 

 

“Eomma, Love you !”  Leo mengedipkan matanya ke arah eommanya sambil menarik Jiyeon menaiki tangga. 

 

 

 

Tidak lama kemudian,

 

“Ini kamarku. Tapi aku jarang pulang.”  Leo menjelaskan kondisi kamarnya.

 

“Kau tidak tinggal di sini ?”  tanya Jiyeon.

 

“Aku punya apartement sendiri, tapi saat ini aku tidak bisa ke sana karena aku sedang dalam buron.”  Leo melirik Jiyeon tajam. Yeoja berwajah putih seputih susu itu berdiam di depan meja belajar Leo. Disana berderet foto-foto masa kecil Leo, juga beberapa buku koleksinya.

 

“Jiyeon!”  Tiba-tiba Leo memeluknya dari belakang.

 

“Leo, kau jangan membuat aku membencimu lagi !”  ancam Jiyeon tegas.

 

“Tidak. Aku akan melakukannya dengan lembut kali ini !”  Leo mulai memberi kecupan ringan di daerah tengkuk Jiyeon. Untuk seaaat Jiyeon mendiamkannya.

 

“Leo-ah, ..” gumam Jiyeon . Dia melirik Leo. “Kenapa kau dipangil Taek Won?”

 

“That’s my name. Jung Taek Won.” jawab Leo.

 

“Eum…” Gumam Jiyeon.

 

“Bukankah namaku sungguh seksi.”  ujar Leo.

 

“But kenapa kau menggunakan nama Kim Leo..”  Jiyeon menggeliat dalam cumbuan Leo. Dia memejamkan matanya.

 

“See, Aku sangat lembut kali ini…eum, aku menggunakan banyak nama untuk beberapa masalah penting dalam hidupku.”  bisik Leo sambil menjilat dan megulum daun telinga Jiyeon. Dan tangannya mulai turun ke bawah. Disentuhnya bagian sensitif Jiyeon dengan sekali usapan. 

 

“Masalah penting seperti apa?”  Jiyeon masih berusaha bertanya. 

 

“Hm, rahasia. Ini tidak ada kaitannya denganmu.”

 

“Aku tahu kau polisi.”

 

“Sssttt!”  Leo menekankan jari telunjuknya di bibir Jiyeon. Dia tersenyum. 

 

“Apakah itu benar?”

 

“Aku tidak ingin membicarakan hal itu. Bagaimana kalau kita melakukan hal yang lain.”

 

“Leo, kau tahu kita di mana,kan.”  Jiyeon melirik Leo dengan tatap mata yang sayu.

 

“Tentu saja aku tahu, Baby! Lalu kenapa ?  Apa kau tidak mau melakukannya di sini, bagaimana kalau di tempatmu ?”  Leo menggigit bibirnya sendiri.

 

Mereka saling menatap. Dan entah kenapa, Jiyeon begitu tunduk dibawah tatapan Leo yang membiusnya. Dia membiarkan namja berpostur tinggi itu memberinya ciuman. Dan ciuman, dan sentuhan, lalu belaian, kemudian sebuah cumbuan mesra…

 

 

“Taek Won! ”  panggil wanita yang akhirnya di panggil Ny. Jung itu oleh Jiyeon.

 

Pautan mereka terputus. Jiyeon terdiam dalam perasaan tak menentu. Dia mengatur nafasnya. Beberapa menit berciuman, membuatnya lelah dan kehabisan nafas.

 

“Kita akan lanjutkan nanti di tempatmu, kalau begitu..” bisik Leo sambil membukakan pintu untuk Eommanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

tebece.

 

 

a/n

Kayaknya next aja mesra-mesraannya! 

Advertisements

29 thoughts on “[Chapter 3 ] He Was Just The One

  1. aigo aigooo
    panas dingin thor :’

    tapi aku suka part ini ..
    leonya konyol bgt pas d toko buku

    ohoks malu maluin 😀

  2. leo chinja daebak,didepan banyak orang aja berani ngomong kayk gitu.
    kayaknya jiyeon udh tersihir bgt sama pesonanya leo.banyak yg bikin couple in jiyeon ma leo nich.

  3. leo chinja daebak,didepan banyak orang aja berani ngomong kayk gitu.
    kayaknya jiyeon udh tersihir bgt sama pesonanya leo.banyak yg bikin couple in jiyeon ma leo nich

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s