[Multichapter] Vampire Knight – Chapter 1

REQ AYUN

Vampire Knight

“Merah itu melukai putih salju—menyatu dalam pudar, mengoyak asa yang tak tampak. Yang disembunyikan pun terkuak—mengupas sakit yang dalam…”

 

A Fanfic by Yuna lazuardi Lockhart

Starring by:

Infinite’s Myungsoo || T-Ara’s Jiyeon || Infinite’s Woohyun

Other cast by:

The Ark’s Halla || Red Velvet’s Seulgi || EXO’s Sehun || F(x)’s Krystal || Soloist’s IU/Lee Ji Eun || Got7’s Jackson || 2PM’s Taecyeon || VIXX’s Leo || BTS’s Rapmon || Miss A’s Suzy || ex T-Ara’s Ryu Hwayoung & F-ve Doll’s Ryu Hyoyoung || Super Junior’s Leeteuk || Super Junior’s Heechul || Super Junior’s Shindong || Super Junior’s Kyuhyun || SNSD’s Seohyun || Actor’s Kim Woo Bin || SNSD’s Yuri

Note:

This Fiction is adapted by anime with the same title. So, author gak mau nanti tiba-tiba ada yang bilang ini plagiat. Karena author sudah mengatakan secara jelas bahwa fanfiksi ini dibuat hanya untuk memvisualisasi anime tersebut dalam bentuk tulisan dengan cast-cast diatas. Plot bukan sepenuhnya milik author, tapi secara garis besar ceritanya akan mirip dengan animenya. Meski begitu, tidak menutup kemungkinan kalau nanti ada beberapa bagian atau alur yang berubah^^

Genre: AU, Little Action, School Life, Fantasy, Drama, Sad Romance, Family, Hurt and Comfort

Rating: PG 13

And thankyou so much for your adorable poster, LAYKIM @ Indo Fanfictions Arts


Chapter 1: Vampire Night

December 2005,

Putih itu menyebar, memenuhi setiap sudut pandangan—melesak ditemani hembus angin musim dingin yang kuat. Rasa sejuk yang merasuki kulit membuatnya meringis, menarik mantel hingga menutupi separuh wajah. Sorot mata itu tampak murni, mengumbar cahaya keemasan yang jelas di iringi kebingungan yang kosong. Kemudian langkah kaki itu mendekat, mencetak jejak-jejak telapak kaki perlahan—menampilkan sesosok pria paruh baya yang menakutkan.

“O—oh, gadis kecil, dimana orang tuamu?” suara itu hampir tak terdengar, teredam angin yang bersahutan, “Apa kau tersesat?”

Tungkai kecilnya mundur dua langkah, dengan atensi penuh ia menatap—pun sebenarnya tak tahu apa yang harus dilakukannya. Kemudian orang itu maju selangkah, membuatnya mau tak mau mundur mengikuti.

“S—siapa kau?” pelannya,

“Disini dingin, maukah kau ikut denganku?” senyum menakutkan itu terukir, membentuk lengkungan jahat yang dalam, “Atau kau mau jadi makananku?”

“KYAAA…!!!”

Detik berikutnya lengkingan itu terdengar bersamaan tawa sesosok menakutkan di hadapannya. Dengan mata merah, kulit pucat, lengkung jahat menakutkan dan sepasang taring yang siap menerkam—dia vampire. Tangan yang ringkih itu kemudian terulur kedepan, berusaha menggapai rona merah diwajahnya kemudian—

Craasshh….

Putih itu tercemar menimbulkan banyak merah pekat di sekitarnya, pun mewarnai sebagian mantel dan wajahnya—termasuk orang yang membuat merah itu menguar. Dia—orang dengan iris kokoa yang menatap setajam elang, melembut pada sudut tertentu yang menyedot seluruh atensinya. Kemudian dilihatnya gadis kecil itu, duduk di antara salju yang bercampur darah—menggigil dan ketakutan.

“Kau tak apa?” pertanyaan itu terlontar bersamaan dengan tangan yang terulur, membuat wajah yang berlumur darah itu semakin jelas.

Iris keemasan itu perlahan meredup, menampilkan segelumit kebingungan pada gadis kecil di depannya. Membuat mereka bergeming, saling menatap sesaat satu sama lain. Pelan, ia mengulurkan tangannya—meraih uluran penolongnya.

Tidak—jangan pernah menatap manik itu, sorot tajam yang terlalu indah akan memperbudakmu dengan cintanya….

><><><

 

Now days,

Tak ada hening barang sejemang. Keadaan sore kala mentari bergelayut manja di ufuk barat sehurusnya menjadi waktu yang amat tenang, duduk sambil menyesap secangkir teh mawar rasanya tak mengapa. Pun sebenarnya keadaan tengah berbalik disini, bukan santai dan secangkir teh mawar yang di dapat—justru desakan dari kerumunan siswa-siswi yang siap meledak kapanpun.

“Oh—hei, berhenti mendorong!” serunya kaget—menatap tajam pada dua orang gadis di belakangnya.

Kerumunan itu semakin ramai menjelang malam, memenuhi gerbang depan asrama bulan. “Ya Tuhan, ini bukan waktunya berkumpul. Kembali ke asarama kalian!”

“Ayolah, Ji, jangan menguasai Night Class sendirian, eum?” gadis itu berucap malas, menatap setengah kesal pada gadis itu—Park Jiyeon.

Sekali lagi tarikan nafas berat itu diambil. Memejamkan mata sekejap rasanya sudah luar biasa, belum lagi rasa lelah yang di dapatnya setelah beraktifitas sejak pagi tadi. Sebenarnya ini adalah aktifitas hariannya. Sebagai pelindung sekaligus petugas kedisiplinan di Starwhy Academy—sekolah berasrama khusus yang memiliki dua kelas, Day Class dan Night Class. Dimana kedua kelas tersebut memiliki dua kaum yang berbeda, manusia dan … vampire.

Di era sekarang vampire belum musnah. Mereka hampir-hampir menguasai dunia kalau saja tidak ada hunter. Akan tetapi agaknya sedikit bebeda dengan akademi ini—yeah, maksudnya mereka dengan sukarela menerima murid vampire dan manusia di satu tempat yang sama. Cukup membingungkan, akan tetapi sayangnya keberadaan mahkluk penghisap darah itu disembunyikan—yang diketahui Day Class adalah bahwa Night Class memiliki siswa-siswi yang luar biasa rupawan.

Ya! Tolong perhatikan langkah kalian! … dan berhenti mendorong!!” seruan itu terpaksa keluar kala para siswi itu semakin mendesak, memenuhi hampir seluruh gerbang asrama bulan.

“Seharusnya kau menyingkir!” seru salah seorang dari belakang.

“Asal kau tahu saja, aku sangat membencimu, Park Jiyeon!”

“Licik! Kau pikir bisa menguasai Night Class sendirian, huh?!”

Gadis itu—Park Jiyeon—mengambil nafas dalam-dalam, menghirup sebanyak mungkin oksigen yang dibutuhkannya, “Sebentar lagi gerbang di buka, kalau kalian terus begini maka siswa Night Class tidak akan bisa le—”

Krieett….

Suara berderit dari pagar besi kokoh dihadapan mereka terdengar, di ikuti oleh siswa-siswi Night Class yang baru saja keluar dari asrama. Orang pertama yang menampakan dirinya adalah Sehun—dengan senyuman lebar dan sedikit lambaian tangan, histeris siswi Day Class mewarnai jalannya. Disusul Jackson, Taecyeon, Krystal, IU dan sisa murid Night Class yang lain.

Lagi, hela nafas itu keluar dari mulut kecil Jiyeon. Kepalanya agak sakit melihat keramaian yang sudah seperti makanan sehari-hari ini. Kadang ia berpikir, mengapa Leeteuk—ayahnya—mau membuat akademi semacam ini. Dengan wajah rupawan para vampire itu seharusnya ia tahu kalau ini dapat menimbulkan banyak masalah. Sialnya hari ini aku gagal menahan mereka untuk setidaknya berbaris rapih—batinnya.

Annyeong, Jiyeon-ah…”

Suara berat selembut kapas itu terdengar nyaman di telinga Jiyeon, ditambah seulas lengkung menyenangkan yang mampu menghipnotisnya setiap saat—pemandangan itu begitu surga, dengan sorot mata kokoa yang tajam namun sendu. Lagi, gadis itu bergeming. Memusatkan atensinya pada orang yang sangat di kenalnya, pun sangat disukainya—dia Kim Myungsoo.

“Myung—myungsoo sunbae!” kagetnya, kehilangan segala yang terlintas di kepalanya—membuat gadis itu kosong.

Selalu begitu. Efek yang di berikan pemuda itu pada tubuhnya begitu ajaib, membiarkan dirinya terhipnotis—menikmati sorot tajam terindah yang telah memabukannya. Dan Jiyeon benci itu, terlebih pada kenyataan yang melemparnya ke dua jalan berlawanan—dan dengan jelas ia tahu bahwasanya mereka berbeda.

Sekali lagi sepenggal ingatan terlintas di kepalanya, membuat gadis itu mengingat kejadian yang benar-benar merupakan awal hidupnya. Saat itu musim dingin—entah apa yang dilakukannya, tiba-tiba ada vampire jahat yang menyerangnya. Taring tajam dengan seulas senyum menakutkan itu masih menjejak di ingatan, pun kulit pucat dan mata merah menyala menatap nanar di desak rasa haus darahnya.

“Ji, kau tak apa?” Myungsoo berucap lagi, kali ini tangannya terulur menyentuh rona merah Jiyeon.

Kemudian manik keemasan Jiyeon menatap mata itu. Rasanya masih sama seperti sepuluh tahun lalu, ketika ia meraih uluran hangat yang membawakan kehidupan baru untuknya. Karena itu pula Jiyeon masih bergeming, melupakan apa yang terjadi disekitar karena orang itu—Kim Myungsoo, penyelamatnya. Hari bersalju itu adalah hari dimana ingatannya dimulai….

“Myung, kita harus cepat kalau tak mau terlambat,” Leo tersenyum, menepuk pelan pundak Myungsoo untuk bergegas masuk ke kelas.

“Aku pergi, kau harus istirahat, Ji….” sorot itu menatap Leo sejenak, kemudian hela nafas keluar dari mulutnya—Myungsoo tersenyum, sambil melangkahkan tungkainya perlahan ia mengusap lembut pucuk kepala Jiyeon—

“Semuanya kembali ke asrama!” seruan itu membuat kerumunan membubarkan diri seketika.

Greepp….

Gerakan Myungsoo terhenti taat kala ada tangan lain yang menahannya—beradu di atas kepala Jiyeon. Sontak Sehun, Krystal, Taecyeon, Jackson dan IU menatap tajam pada sosok itu—orang yang datangnya seperti badai, Nam Woohyun.

“Kelas sudah di mulai Myungsoo sunbae, sebaiknya kau bergegas.” Woohyun menatap tajam manik kokoa yang lembut itu, membuat perbedaan diantara mereka kian jelas.

Myungsoo tersenyum tipis, mengalihkan pandangan pada teman-temannya sebelum melanjutkan langkahnya, “Menakutkan, tuan kedisiplinan….”

Sementara itu Jiyeon masih bergeming, menatap punggung Myungsoo yang semakin lama semakin menjauh—menelisik kedalam hatinya, apakah ia sudah menyukainya sebanyak itu? Entahlah, seperti tak ada keinginan untuk mengetahuinya. Hanya saja sorot mata itu benar-benar memabukan.

“Ck, kau tampak bodoh, Park Jiyeon….” Woohyun mencibir, menarik nafas seraya meninggalkan Jiyeon disana.

Ya! Babo! Kemana saja baru muncul?!” gadis itu tersadar dari lamunannya, lantas menyusul Woohyun yang mulai jauh, “Kita ini anggota kedisiplinan, cobalah tepat waktu!”

“Itu kelihatan jelas,” pelannya.

Brukk….

Gadis itu terhenti, menubruk tubuh Woohyun yang berhenti tibat-tiba. Sekilas Jiyeon melihat tatapan itu, sorot mata penuh luka, kesakitan dan kesepian … sosok mata yang tak pernah disukainya dari Woohyun.

Jiyeon menatap iris emerald Woohyun, “Apa?”

“Dengar, aku tidak peduli apakah kau menyukai lelaki itu atau tidak—itu sama sekali bukan urusanku.” Pemuda itu melanjutkan langkahnya, “Tapi kau harus sadar bahwa—”

“Diamlah,” potong Jiyeon cepat—terlalu cepat, “Aku tahu … mereka adalah … mereka….” gadis itu mengambil nafas sejenak, “Mereka berbeda dari kita.”

><><><

 

“Kalian tahu, pil darah yang di kembangkan Night Class sudah tersebar keseluruh dunia dan teruji penggunaannya. Kini semua vampire bisa menggunakannya—dan ini berkat penelitian yang kalian lakukan. Selamat!”

Professor di depan tampak bersemangat, yang lainnya terlihat tak begitu tertarik dengan apa yang telah mereka temukan. Anak-anak itu, mereka yang berbeda dari manusia juga menimba ilmu disini.

“Itu kan’ cuma tugas bersama, mereka benar-benar berlebihan,” komentar Leo, pemuda itu masih berdiri di samping Myungsoo—menatap bulan yang semakin habis.

“Sial! Berani-beraninya anggota kedisiplinan itu memperlakukan Myungsoo-ssi seperti itu!” dan disana Sehun menggerutu, tangannya bergerak cepat di atas kertas—menggambar wajah Woohyun, mencoretnya, lalu merasa kesal.

Krystal tersenyum menanggapi temannya, “Oh! Kau seperti sedang jatuh cinta—”

“Apa?” ketusnya, “Kalau bisa aku ingin membunuhnya dengan tanganku sendiri!” ia mendengus.

“Tapi … gadis itu terlihat enak, ya?” Jackson menatap, menerawang keatas tanpa memperhatikan apa yang professor mereka katakan, “Dan sepertinya Myungsoo-ssi tertarik padanya….”

Mereka semua terkejut, menatap kaget pada Jackson yang masih menatap ke atas—tampak tengah memikirkan sesuatu. Sampai ketika Myungsoo bangkit, ketegangan ini masih mengudara—memaksa mereka bungkam. Semuanya terasa cukup aneh disini, mereka memiliki hubungan yang mungkin tak bisa di mengerti manusia.

Myungsoo menarik nafas, “Ya, benar sekali … aku tertarik padanya,”

Lantas mereka semakin menegang, berusaha sekuat mungkin meredam keterkejutan atas apa yang Myungsoo katakan. Kadang dia seperti senja, jingganya tak menghangatkan—anginnya berhembus sesaat kemudian hilang, berganti dinginnya malam.

“Bulannya sudah hampir habis….” IU mencondongkan tubuhnya ke jendela, menatap pada bulan sabit yang tersisa sedikit, “Sepertinya ini semakin dekat….”

Vampire lain pun setuju, ketika bulan perlahan menghilang aura membunuh itu menguar—melesak di setiap sudut sekolah. Detik berikutnya lampu-lampu mati bersamaan, kemudian mata merah menyala itu menguasai mereka, para murid Night Class.

 

Sementara itu….

“Aku ingin kalian mengerti, bahwa keberadaan mereka harus dirahasiakan.” Pria itu berucap, menatap serius pada putra-putrinya.

Dan disinilah mereka, di ruangan besar khas kepala sekolah—bermaksud protes. Woohyun menatap tajam pria di depannya, mengerutkan kening dan sama sekali tak mengerti apa yang dipikirkan orang itu. Sementara Jiyeon hanya melihat.

“Seriuslah sedikit, kau pikir kami ini bodyguard mereka?!” kesalnya, “Mereka bukan artis atau semacamnya!”

Pria itu mendesah, menyesap secangkir teh yang bertengger manis di meja, “Tidak, aku sadar ini semakin berat dari malam ke ma—”

“Kalau begitu tambahkan jumlah orangnya!” potong Woohyun cepat, “Setidaknya cari orang yang lebih berguna dari Jiyi,”

Ya! Aku tidak mendengar kata-kata orang yang selalu terlambat!” serunya, mengepalkan tangan seraya bersiap menghantam pemuda itu.

“Tidak bisa.” Tegas pria itu, “Maksudku adalah, sekolah ini terbagi menjadi dua, Night Class dan Day Class. Para siswa Day Class tidak boleh mengetahui identitas Night Class—dan aku tidak bisa mempercayai orang lain.”

“Mimpiku adalah merubah takdir mengenaskan dari dua ras yang berbeda, dengan begitu vampire dan manusia bisa hidup berdampingan.” Ungkapnya, “Meskipun berat, akan tetapi aku tenang karena menyerahkan tugas ini pada putra-putri kesayanga—”

“Jangan lupa, aku memang berkewajban untuk membantumu. Tapi aku tidak ingat pernah jadi putramu,” Woohyun menarik nafas, “Oh—Jiyi, kau adalah putri kandungnya, berilah pendapat….”

Gadis itu menatap manik emerald milik Woohyun, sedikit berharap kalau saja pemuda itu tak sedingin ini, “Yeah, menurutku ini bagus. Bisa hidup berdampingan bersama mereka, kurasa senang bisa membantu,”

Hening.

Tatapan mata itu masih mengintimidasi Jiyeon, seperti bidikan anak panah—terkadang Woohyun semenakutkan itu. Baginya mereka ini seperti bermain judi, melempar kartu dan menunggu jackpot … semuanya tidak semudah yang di mimpikan pria itu—Leeteuk Park.

Woohyun mengerutkan keningnya, memaksa otaknya untuk memikirkan ulang apa yang baru saja diucapkan kepala sekolah … dan hasilnya nihil. Kepalanya sama sekali menolak mentah-mentah pendapat yang menyatakan bahwa vampire dan manusia bisa hidup berdampingan. Hal seperti itu sama sekali tidak ada—dan tak akan pernah ada.

“Tidak—ini tidak bisa kuterima.” Singkatnya, kemudian secepat mungkin enyah dari tempat itu.

Leeteuk hanya tersenyum tipis, memandang kepergian Woohyun yang amat dia sayangkan. Kemudian tatapannya beralih pada Jiyeon—mendalami manik keemasan gadis itu sebelum mengulas senyuman lebar.

“Memang, ada hal yang tidak bisa berubah dari vampire,” pria itu mengalihkan pandangannya, menatap sabit yang hampir habis, “Bahwa mereka adalah monster penghisap darah dalam wujud manusia….”

Jiyeon tersentak, kepergian Woohyun barusan bukanlah hal baru—maksudnya, pemuda itu selalu begitu. Pergi sebelum pembicaraan selesai, terlebih jika topik pembicaraannya tidak dia sukai. Akan tetapi ini pertama kalinya mendengar ayahnya bicara begitu soal vampire, terlepas dari impiannya soal perdamaian antara kaum vampire dengan manusia.

“Aku yakin Myungsoo sunbae berbeda. Dia bukan vampire sembarangan yang akan menghisap darah manusia—dan aku yakin kalau mimpimu akan jadi kenyataan.” Melangkahkan kaki ke jendela, kemudian melompat, “Baiklah, aku pergi.”

Kadang Jiyeon lupa, bahwasanya ada hal-hal diluar kepala yang masih belum bisa di jangkaunya. Seperti sepuluh tahun yang lalu, saat Myungsoo menyelamatkannya—pun sebenarnya gadis itu masih menyimpan segelumit kebingungan, mengapa ia tidak dapat mengingat apapun sebelum bertemu Myungsoo?

Waktu itu Myungsoo membawanya ke rumah kenalannya, Leeteuk Park—dan tanpa bertanya apapun pria itu menerima kehadirannya begitu saja. Keberadaannya saat ini adalah karena Myungsoo yang telah memberikan awal yang baru, termasuk kenangan manis yang sudah mereka lalui selama sepuluh tahun terakhir.

“Oh—Jiyeon, annyeong!” sapaan itu terdengar jelas dari Leo, “Terimakasih sudah berjaga…” lanjut pemuda itu, di ikuti senyum lembut Myungsoo di belakangnya.

Senyuman itu tercetak jelas disana, “Tentu saja, Leo sunbae—Myungsoo sunbae, a—aku … kurasa aku harus pergi, annyeong!”

Jiyeon menggaruk kepalanya yang tak gatal, melanjutkan langkahnya seraya meruntuki sikap kikuknya di depan Myungsoo. Gadis itu membungkuk sekenanya sebelum pergi meninggalkan mereka berdua disana. Ia ingat, kalau tugasnya adalah untuk menjaga kedamaian antara Day Class dengan Night Class—jadi dia harus berjaga.

Sepeninggal Jiyeon dua pemuda itu melanjutkan langkah menuju kelas berikutnya, dengan senyum mereka Leo menatap Myungsoo, “Jiyeon itu menarik, ya?”

Myungsoo membalas tatapan itu tanpa mengucapkan apapun—memilih untuk mendengar kelanjutan kata-kata Leo.

“Tidak ada gadis seperti dia di Night Class,” lanjutnya sambil tersenyum.

Kemudian Myungsoo meringis, “Tidak—untuk seseorang yang tinggal di dalam kegelapan, dia terlalu terang…” ucapnya seraya pergi.

Leo menatap punggung pemuda itu, tersenyum kecil sambil mengikutinya di belakang, “Semua orang suka tinggal disini, tapi jangan lupa—itu semua adalah karena perintah darimu, sang vampire darah murni.” Ucapnya serius, “Kami mematuhi peraturan manusia, tapi … hanya terkadang.”

Myungsoo menghentikan langkahnya, meresapi baik-baik apa yang dikatakan Leo sebelum menarik nafas panjang—menghirup sebanyak mungkin oksigen yang dibutuhkannya. Terkadang mereka seperti ini, berdiri masing-masing seolah memiliki kekuatan sendiri. Pun pada akhirnya Myungsoo-lah yang berkuasa, dan sebenarnya ini bukan apa-apa.

“Aku tahu, Leo.” Jawab Myungsoo, melangkahkan sepasang kaki jenjangnya dan benar-benar meninggalkan Leo.

Disisi lain Jiyeon berlari menuju halaman tengah sekolah, mencari Woohyun—sempat ia mendinginkan kepalanya dengan air mancur di kolam depan sebelum kemari. Kadang ia tahu bahwa kepalanya sangat sulit mencerna, mengapa Myungsoo rasanya berbeda—baik apa yang dia lakukan, dunia tempatnya tinggal atau apa yang dia pikirkan.

Sementara itu Woohyun masih duduk di sudut taman—melihat bulan sabit yang tak sampai setengah lagi, menyendiri. Ia suka disini. Dengan rimbunnya tanaman dan pohon maka tak ada yang tahu keberadaannya—termasuk Jiyeon. Detik berikutnya kepalanya mulai sakit, menjalarkan rasa ngilu yang amat ke seluruh tubuhnya. Kemudian manik emerald itu berubah merah, mencekat—disertai rasa haus yang tiada tara di kerongkongannya. Rasanya ini belum apa-apa, terlebih ketika tubuhnya mulai memberontak meminta sesuatu yang sangat dibencinya.

Perlahan, tangan Woohyun terulur—merogoh saku kemejanya dan mengambil kotak kecil berwarna hitam. Bersusah payah menahannya, pun pada akhirnya kesakitan membuat isi kotak berhamburan—pil. Ada banyak pil putih yang tersebar disana….

><><><

Jam sudah menunjukan pukul empat sore, kala itu kelas yang sudah lama bubar menyisakan tiga orang didalamnya—Woohyun, Jiyeon dan Halla yang masih sibuk dengan urusannya masing-masing. Mungkin kedua gadis itu masih asyik mengerjakan tugas yang baru saja diberikan professor, akan tetapi Woohyun lebih memilih untuk menenggelamkan diri ke alam mimpi.

“Baiklah, kurasa sudah cukup untuk hari ini—kita bisa melanjutkan ini lain kali, Halla,” Jiyeon menarik nafas, menggerakan tangan cepat-cepat untuk membereskan bukunya.

“Apa tidak apa-apa?” tanya gadis itu khawatir, “Kau belum menyelesaikannya dengan benar, Ji,”

“Ya, nanti Woohyun bisa mengajari—”

“Woohyun sudah pergi,” sahutnya cepat, membuat Jiyeon menoleh kebelakang—tempat Woohyun tertidur tadi.

“Eh?!”

Sebenarnya tak jarang Jiyeon berpikir, bahwa ia tak selalu mengerti apa yang terjadi pada lelaki itu. Ia ingat ketika dulu pertama kali Woohyun datang bersama kepala sekolah, pria itu mengatakan bahwa keluarga anak itu baru saja diserang vampire jahat—semuanya mati, kecuali dia. Dan sejak saat itu sudah empat tahun mereka bersama—memang pada akhirnya pemuda itu bisa membuka hatinya dan berinteraksi dengan Jiyeon, tapi pada kenyataannya masih banyak hal yang sama sekali tidak bisa dimengerti gadis itu.

“Tak apa, Ji, kurasa Woohyun akan mengajarimu juga. Kalian kan’ teman….” Ucap Halla kemudian, menyadarkan Jiyeon dari lamunannya.

Sore itu hampir berakhir ketika Jiyeon menemukan Woohyun di halaman belakang—tepatnya kandang kuda. Pemuda itu masih menggeliat nyaman ketika Jiyeon hampir masuk untuk membangunkannya, akan tetapi kelopak mata itu langsung terbuka bahkan sebelum sebelah kakinya melangkah.

“Aku hampir selesai berjaga, kurasa ini giliranmu.” Singkatnya,

Pemuda itu bangkit, mengikuti Jiyeon dibelakang hingga mereka sampai di depan ruang belajar Night Class. Pelan gadis itu menoleh, menatap Woohyun yang serius mengamati keadaan sekitarnya. Dan sesungguhnya Woohyun adalah pemilik mata terindah yang pernah di lihat Jiyeon—dengan cahaya kehijauan yang sendu, namun selalu kosong. Inilah yang tak di sukainya, bersama-sama selama empat tahun tidak menghilangkan kegelapan di dalam hatinya.

Manik keemasan itu kemudian beralih pada jendela bersar yang terpampang disana, menampilkan sosok pemuda yang selama ini sangat berarti dalam hidupnya—Kim Myungsoo. Selalu begitu, bahkan ketika tidak menatapnya mata elang itu selalu menghipnotisnya.

“Kau hanya menatap Kim Myungsoo, Ji….” Woohyun mencibir, tersenyum tipis sambil menatap gadis itu.

“A—aku tidak hanya mengawasi Myungsoo sunbae, aku juga memperhatikan yang lainnya!” serunya kikuk.

“Aku tahu dia itu pahlawanmu—”

“Semuanya sangat tenang di Night Class—ini adalah malam yang damai, tak ada murid Day Class yang berkeliaran—senangnya!” Jiyeon berseru, memotong cepat ucapan Woohyun.

“Kau percaya akan hal itu?” Woohyun menarik napas, berpaling dari Jiyeon.

“Huh?”

“Semua akan baik-baik saja antara murid Day Class dan Night Class….” Air muka pemuda itu berubah.

“Tentu saja,” kata Jiyeon, “Itu adalah harapanku bahwa manusia dan vampire bisa berdampingan.”

“Kepala sekolah percaya dan murid Night Class setuju bahwa dengan rasa perdamaian itu mereka adalah vampire yang baik, tapi … aku tak percaya sama sekali—”

“Woohyun—”

“Hanya ada satu alasan kenapa aku mau jadi pelindung sekolah ini—itu adalah agar aku bisa menemukan cara terampuh untuk membunuh monster-monster dalam wujud manusia itu,” Pemuda itu menarik nafas, “Aku akan berjaga di dalam….” lanjutnya.

Menatap punggung Woohyun yang perlahan menghilang, Jiyeon memutar otaknya. Rasanya ini adalah perasaan yang sama seperti waktu itu—ketika pertama kali Woohyn dibawa padanya, ada satu yang membuat gadis itu benar-benar terkejut. Bahwa tatapan kebencian itu masih sama dengan empat tahun lalu, manik emerald-nya pertama kali menatap Jiyeon dengan sisa-sisa kekecewaan dan kebencian atas apa yang baru saja menimpanya. Aku tahu bahwa tidak semua vampire seperti Myungsoo sunbae, bahkan aku juga tidak bisa mengingat siapa orang tuaku. Mungkin saja mereka juga sudah mati diserang vampire jahat—batinnya.

“Eh, apa ini?” gadis itu mengernyit bingung, sorot matanya memandang lurus pada dua orang siswi yang masih berkeliaran di jam malam, “Sial, mereka mengendap-endap!”

Detik berikutnya Jiyeon melompat. Dalam satu gerakan singkat gadis itu meraih batang pohon terdekatnya, mengayunkan tubuh untuk membantunya mendarat dengan tepat. Dua gadis itu tersentak—sama sekali tidak menyangka akan tertangkap.

Ya! Sebutkan nama dan kelas!” seru gadis itu, “Berkeliaran di jam malam adalah pelanggaran, jadi cepat kembali ke asrama kalian.” Tegasnya.

Dua gadis itu menghela napas, menatap satu sama lain sebelum bertemu pandang dengan manik Jiyeon, “Kami hanya ingin mengambil foto Night Class,”

“Ini berbahaya, kembali ke asrama kalian.” Tegas Jiyeon lagi.

“T—tapi….”

“Kau berdarah?” tanya Jiyeon kemudian, membuat salah satu dari mereka meringis kesakitan. “Cepat kembali ke asrama kalian!” ucapnya lagi.

Merasakan ada sesuatu yang tidak beres Jiyeon mengambil senjata di balik roknya, sebuah tongkat panjang—salah satu senjata anti vampire, althemis. Mengarahkannya kebelakang, gadis itu tersentak ketika mendapati dua seniornya disana—Sehun dan Taecyeon.

“Wah, aku takut—sepertinya kepala sekolah mengajrimu dengan baik,” wajah maskulin itu tersenyum, menampilkan sepasang lesung pipi serta guratan halus di mata.

“Taecyeon sunbae, Sehun sunbae!”

“Kami kesini karena mencium bau darah … hanya untuk melihat,” Sehun tersenyum, memandang Jiyeon dan dua gadis dibelakangnya, “Ah, baunya sangat lezat….”

Degg.

Bola mata itu kemudian menjadi merah, mencekat—membuat Sehun tampak lebih berbahaya. Ini seperti memakan buah simalakama, baik waktu, situasi maupun kondisinya sama sekali tidak memungkinkan untuknya melindungi mereka semua—ini dilemma. Dengan hati-hati Jiyeon menatap dua gadis dibelakangnya—yang dengan bodohnya berteriak histeris karena bertemu Night Class.

“Sehun, jika kau menyentuh kedua gadis itu maka—”

“Apa kau terjatuh, huh?” pemuda itu memotong ucapannya, dengan hati-hati memegang althemis kemudian tangan gadis itu, “Yang baunya lezat itu darahmu, Jiyi….”

Kemudian manik mereka bertemu. Cahaya biru yang terang itu menatap Jiyeon sendu—setidaknya warna yang mencekat itu sudah hilang. Detik berikutnya Sehun merebut tangan itu, melihat luka gores pada telapak tangannya—luka akibat ranting pohon tadi. Dan perasaan itu menjalar ke seluruh tubuh Jiyeon—perasaan takut yang selalu menghantuinya, kenangan buruknya tentang vampire.

“Se—sehun!”

“Hmm, aku sangat ingin mencobanya,” pemuda itu bergumam, menarik lengan Jiyeon semakin jauh—mendekatkan ke mulut.

Lantas sepasang taring itu keluar, mencuat di sertai mata merah menyala—pelan tapi pasti menyentuh kulit gadis itu, menusuk semakin dalam di sertai ringisan kecil. Ketegangan pun semakin menjadi ketika dua gadis tadi tiba-tiba saja ambruk, tak sadarkan diri. Rasanya seperti segelas kopi tanpa gula, begitu harum—tampak lezat namun memberikan pahit di kerongkongan.

“Se—Sehun sunbae!”

Pemuda itu menarik Jiyeon dalam pelukannya, mengangkat sedikit kerah kemeja gadis itu lalu tersenyum, “Ini sangat lezat, bolehkah kuminta langsung dari lehermu?”

“Ti—tidak! Sehun sunbae, hentikan!”

Sreett, cekrek!

Suara itu cepat, seperti angin yang berhembus kemudian ada tangan yang menjauhkan Jiyeon dari Sehun—disana orang itu menodongkan pistol, menatap lurus pada vampire didepannya.

“Menghisap darah di halam sekolah itu dilarang,” ia berucap, memberikan atensinya pada Oh Sehun, “Apa kau jadi gila hanya karena bau darah, dasar vampire?”

“Woohyun, jangan!” seru Jiyeon tiba-tiba.

Sehun tersenyum mengejek, “Yeah, tapi sudah aku rasakan—”

JDERR!

Suara itu berdentum pistol anti Ivampire itu membuat mereka semua yang ada di sana menegang—terutama Sehun, “Kau tidak boleh menembaknya sembarangan, bodoh!”

“Maukah kau menurunkan senjatamu itu, Bloody Rosse?” lagi, suara khas itu memenuhi pendengaran Jiyeon, “Bagi kami itu sangat mengganggu,” lanjutnya.

Sepasang kaki jenajng itu mendekat, membawa sosok pemiliknya menghampiri mereka disana. Dia—Kim Myungsoo, vampire darah murni yang dihormati semua orang.

“Myungsoo sunbae!” seru Jiyeon cepat.

“Aku akan menangani kebodohan ini dan menunggu hukuman dari kepala sekolah, apa kau puas Nam Woohyun?” sahutnya kemudian, menatap tajam pada Sehun dan Taecyeon.

Merasa ditatap, pemuda jangkung itu menampilkan raut bingungnya, “Kau juga bersalah karena tidak menghentikan Sehun,” lanjut Myungsoo.

“Dua gadis itu, aku akan menghilangkan ingatannya malam ini dan mengembalikannya ke asrama.” Ucapnya lagi.

Detik berikutnya seorang gadis mungil berambut pirang turun dari atas pohon, menghampiri dua gadis yang pingsan lalu membawanya pergi, menyisakan masalah lainnya pada Myungsoo, “Seulgi akan membereskannya, Myungsoo-ssi….”

“Kau tidak apa-apa kan’ Jiyeon?” Myungsoo menatap sendu gadis itu, “Maaf menakutimu,”

Senyumnya mereka ketika melihat wajah pemuda itu di depannya, “T—tidak, kurasa aku tak apa, Myungsoo sunbae. Hanya gigitan kecil—”

“Ayo!”

Jiyeon tersentak, “Y—ya! Woohyun kenapa kau?!”

Woohyun mendengus, menarik lengan Jiyeon seraya pergi dari tempat itu—meninggalkan tatapan tajam dari orang-orang disana, kecuali Myungsoo.

“Woohyun, kau kasar sekali pada Myungsoo sunbae!”

Pemuda itu menarik nafas, melirik sedikit ke belakang, “Tempat ini penuh dengan bau darah dan membuatku sakit,”

“Woohyun….”

“Mereka suka bau menjijikan ini … bukti bahwa mereka adalah monster.” Woohyun terhenti, menarik dasi kemudian melilitkannya di tangan Jiyeon—lalu berbalik dan pergi.

Sementara itu Jiyeon masih mematung disana. Lagi, gadis itu menatap punggung Woohyun yang menjauh—kemudian menghilang dibalik pepohonan. Di kepalanya masih terbayang tatapan kebencian Woohyun empat tahun yang lalu, kegelapan di hatinya masih melekat di tempat yang sama, apakah aku bisa menghapusnya—batinnya.

Jam sudah menunjukan pukul dua belas kala Jiyeon hampir selesai membersihkan tubuhnya, duduk dengan piyama di depan cermin sambil mengeringkan rambut yang masih basah. Dengan tatapan lurus kedepan, lagi-lagi kepalanya kembali membayangkan kejadian tadi—ketika taring Sehun menusuk tangannya, lalu saat Woohyun menariknya menjauh dari Myungsoo. Ketika aku pikir semakin dekat dengannya, jurang itu malah semakin membesar….

Ceklek—pintu itu terbuka, menampilkan sesosok tinggi dengan rambut perak dan mata emerald seperti biasanya. Menarik napas panjang, Jiyeon memejamkan matanya—menggelapkan dunianya sejenak.

Ya! Kenapa kamu masuk?!” sewotnya, menatap kesal pada Woohyun yang sudah berada di dalam, di kamar mandi yang sama.

“Kalau mau protes, salahkan kamar mandi asrama yang ditutup pukul sepuluh…” santainya, kemudian melepas kemeja sebelum masuk ke dalam bilik mandi.

“O—oi! Berhenti membuka baju di depan perempuan!” serunya lagi, “Pakai kepalamu, aku juga perempuan, tahu!”

Detik berikutnya pemuda itu mendekat, mengendus Jiyeon yang hampir menyelesaikan urusan rambutnya, “Apa?”

“Eum, bau darahnya sudah hilang—”

“Oh—diamlah, tanganku juga sudah berhenti berdarah.” Potong gadis itu cepat, “Tapi berdasarkan sejarah, aku seharusnya berubah jadi vampire kan’?”

Hening.

Woohyun menatap Jiyeon dari sudut matanya, gerakan tangan gadis itu—tidak. Kulit mulus leher Jiyeon agaknya menarik perhatian pemilik mata emerald itu.

“Aku pernah diserang vampire jahat sepuluh tahun yang lalu,” ia mematikan hair dryer-nya, “Darahku ini pasti benar-benar lezat—yeah, terserahlah! Yang terpenting aku akan melindungi Night Class dan Day Class!” lanjutnya bersemangat.

Blaam….

Pintu itu tiba-tiba saja tertutup, di ikuti Woohyun yang secepat mungkin keluar dari dalam sana. Dan Woohyun berdiri dibelakang sana, menahan napas yang mulai memburu di ikuti rasa sakit luar biasa yang mulai menjalari tubuhnya—lagi, meminta sesuatu yang paling di bencinya.

“Jangan … mendekat….” Woohyun mendesis, menahan rasa sakit—bibirnya tergigit lalu berdarah, pemuda itu pun menjilatnya.

><><><

 

Epilog,

“Di skors selama sepuluh hari,”

Tablet putih itu masuk ke dalam gelar berisi air, memudar, menguar hingga menjadi partikel terkecil—larut dalam warna merah. Diruangan itu Sehun duduk bersama Taecyeon, berhadapan sambil menunggu pil-nya larut sempurna.

“Darah Jiyeon pasti sangat berharga, kan’?” Sehun mendengus, menarik napas panjang sebelum menghembuskannya.

“Kepala asrama Myungsoo akan marah kalau dengar ucapanmu.” Taecyeon berkomentar.

“Tak masalah, bertahan dengan tablet darah sama sekali tidak cukup bagiku,” ia menghela napas, “Entah kenapa darahnya sangat menggoda, jadi aku….”

Taecyeon tersentak, “O—oi!”

Plakk…

Tamparan itu keras, berasal dari Myungsoo yang tiba-tiba saja muncul, “Jadi kau…?”

“M—maaf,”

Myungsoo menarik napas panjang, mengalihkan seluruh atensinya dari Sehun sebelum beranjak dari sana—meninggalkan sepenggal ketegangan pada Taecyeon dan sepotong ketakutan pada Sehun.

“Lihat, apa ku bilang?” ledeknya.

“Diam, babo!” kesal pemuda itu.

Di lain tempat, Jiyeon baru saja keluar dari rumahnya—rumah kepala sekolah Park. Gadis itu menyusuri jalan setapak menuju ke asrama, membawa seragamnya untuk di ganti setelah sarapan. Vampire … monster penghisap darah manusia, aku tidak boleh dekat-dekat dengan mereka—kalau tidak aku akan….

.

.

.

I’ll also show you a sweet dream next night….

 

><><>< TBC ><><><

 

Advertisements

38 thoughts on “[Multichapter] Vampire Knight – Chapter 1

  1. cukup menegangkan tapi seru hahaha
    jd myungsoo yg nyelamatin jiyi? tapi siapa yg nyerang jiyi?
    oia itu jiyi ga punya keluarga lagi jadinya? ‘-‘
    wah kayaknya sehun akan lepas kontrol nih kalo ngeliat jiyi.
    chakaman sepertinya woohyun sudah terjangkit vampire jg jangan2 pil yg diminum woohyun itu sama kayak yg diminum vampire aigooo

  2. gak nyangka bakal ada yg buat versi fanfiction nya vampire knight ><
    ini ga bakal sepanjang komiknya kan??hihihi
    dan smoga endingnya bisa"sedikit beda" ama yg di komik 😀

    • Hehhe iyaa cuman pengen visualisasi aja sih sebenernya.. untuk ending kayaknya nanti bakal ada perbedaan deh.. berhubung season 3 blm keluar dan cmn ada versi komik. Btw thankyou for reading^^

  3. Waaah jiyeon punya darah suci gt?? Terus 10thn yang lalu jiyeon pernah di gigit? Kenapa yah Namu suka kesakitan gt kalo malem…hmm penasarann duuh hahaha di tunggu yah next part nya….salam buat myungsoo^^

  4. Huwaaaaa pnjangnya Yuuun…
    Baca nama castnya udh bkin laper di pagi2 begindang. Aku blm baca sih. Tp inti ceritanya udh tau. Ntar aja aku baca komplit. Yg pnting komen dulu. Wkwkwkaaa

    • Wuahhaha si kakak yeehh baca setengah2, iyahh seingetku dia di part 1 ending sampe situ deh, kaget juga pas ngetiknya… tenyata puanjaaannngg… Hhehe thankyouu for reading kaak^^

  5. Jadi penasaran sama yg nyerang Jiyi 10 tahun yg lalu kira” siapa ya??

    Jiyi jadi penjaga bersama NaMuu dan kenapa kelakuan Namun aneh ya jangan” dia vampire juga dan yg nyerang Jiyi waktu kecil itu dia *ok ini khayalan tingkat tinggi dan apakah Namun ada perasaan dengan Jiyi maka’a dia ngak suka Jiyi memperhatikan sang penolong’a (red Myungsoo)

    Myungsoo jadi ketua klan vampire karena dia vampire darah suci (jadi inget GGS/?) Tapi bener ngak ya Myungsoo tertarik atau suka sama Jiyi kalo bener gimana ya kan mereka beda dunia dan jangan” Jiyi udah jadi setengah vampire dan setengah manusia kan waktu kecil pernah diserang vampire dan lagi mata Jiyi keemasan/? *bener ngak ya apa salah baca tadi

    Masih banyak teka teki di ff ini dan happy banget ada bang Leo Kripik Tempe dimari kaya’a si abang Singa Poker Face udah mulai eksis didunia FF

    Ditunggu next’a jangan lama” ya author

    • Hahha lucj baca komentarmu… hmm gimana yaah sebenernya ini gak ada hubungannya sama ggs sih hehe… semoga diriku juga bs cepet2 lanjut yaaa^^ thankyouu for reading…

  6. Jadi woohyun juga vampire tapi dia gak mau jiyeon tauuu
    Teruss jiyeon kenapa gak berubah jadi vampire walaupun udah digigit sama sehun apa jiyi kebal atau jiyi udah jadi vampire dari dulu tapi dia belum sadar

  7. ff Vampire… Q cinta bgt dg tokoh ni,
    Di film, novel ato komik.. (˘▾˘ʃƪ) vampire
    Hmmm npa feeling q blg lw woohyun tu vampire y?
    Myungie pa kh brasal dr kerajaan vampire? Pasti kaum vampire ni pny pimpinan ϑi luar skolah, seorg raja kh?
    Ommo!! Jiyi jth cinta pd myungie yg vampire? ^^
    Q dukung (งˆ▽ˆ)ง

    Chingu.. VOTE Jiyeon yaa di Ronde FINAL
    http://www.soompi.com/2015/09/23/battle-of-the-maknaes-finals/2/
    Batas na smpi tgl 26 Sept pukul 8 mlm wib .. Tiap saat bs ϑi vote

  8. Aku sukaaa ff nya, pasti sebenernya woohyun, jiyeon dan kepala sekolah itu vampire juga
    Klo woohyun pasti sadar dia vampire, tp kyknya jiyeon ga sadar klo dirinya vampire deh, katanya klo d gigit vampire dia ga inget masalalunya sblm jadi vampir hehe
    Berarti kemungkinan jiyeon sama myungsoo bersatu itu bisa bgt dong yaa, jiwa shipper kumat, tp aku juga suka woohyun, jgn2 sebenernya woohyun juga suka sma jiyeon cuma emang orngnya dingin
    Next parrnya d tunggu, fighting!!!

    • Hahha thankyouu… eum myungsoo sama woohyun emang gitu orangnya… iya semoga mereka bisa bersatu 😄😄😄 thankyou for reading^^

  9. yaampuuunn vampire kniigghhhttt >< suka banget sama komiknyaa, jadi myungsoo nih yang jadi kaname kuran ? terus woohyun jadi zero ? huwaaaa asik asik, komiknya lama banget udah gak keluar jadi sedih 😦 #curcol ayo lanjut thoorr hikhikhik

    • Huahahaha betuulll… aku demen myungyeon couple. Trus kayaknya mukanya myung cocok jd kaname. Ada sad nya gitu hahhaa. Thankyou for reading^^

  10. Disini tuh woohyun vampire juga kan, soalnya aku liat dia juga minum pil kyk yg lain, tp knp jiyeon gk tau klo dia vampire? :/
    Ooh jd yg selamatin jiyeon itu myungsoo, jiyeon gk inget apa2 pasti diilangin ingatan nya sama myungsoo deh, tp knp?

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s