[Vignette] Missing You At The Moment

req-jinho-miss-u

Missing You At The Moment

Author : Jinho48

Genre : Sad Romance

Cast : Kim Danee (T-ARA N4), Jung Chanwoo (iKON)

Length : Vignette

Summary : “Aku sangat merindukanmu sekarang. Kapan kamu kembali? Eoddini? Mwohani?

Poster by LayKim @IFA

#

Mentari belum menampakkan wujudnya. Langit biru tua masih mendominasi. Namun seorang gadis telah beranjak dari tempat tinggalnya. Ia hendak berangkat ke sekolah. Tapi, sebelum pergi ke sekolah, dia menyempatkan diri untuk pergi ke sebuah danau yang terletak tak jauh dari sekolahnya.

Sampai di danau itu, ia mendudukkan dirinya di pinggir danau. Senyum merekah di wajahnya walau piasnya agak pucat dan kusut. Dia memejamkan mata dan menghirup udara sejuk yang ada di sekitarnya dalam-dalam. Gadis itu benar-benar menikmatinya. Udara dan pemandangan pagi adalah favoritnya.

Cukup lama ia berdiam diri hingga akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke sekolahnya. Tak butuh waktu lama untuk sampai. Tiba di sekolah, dia langsung masuk ke kelasnya dan memilih tempat di pojok belakang ruangan. Tempat itu adalah favoritnya karena dia bisa agak bebas dari kericuhan kelas dan bebas amukkan guru bila dia tertidur.

Ia menumpukan kedua tangannya di meja lalu menaruh kepalanya dan dia pun memilih untuk tidur. Tapi belum lama ia memejamkan mata, suara seseorang mengintrupsinya. Namun ia mencoba untuk tidak menggubrisnya. Sayangnya, orang itu tidak menyerah. Akhirnya, gadis itu mendengus sebal lalu mendongakkan kepalanya.

Wae?”

Orang itu tersenyum, “Good morning, Dan!” sapanya lembut.

“Aish, kau hanya ingin menyapaku, Shan?”

“Iya, hehe. Lagipula ini masih pagi tapi kau sudah mau tidur saja. Lebih baik kau membaca materi untuk jam pertama.” nasehat gadis itu sembari mendudukkan dirinya di samping gadis yang merasa terusik tadi.

Tsk! Terserah kau saja. Biarkan aku tidur 10 menit. Bangunkan aku jika belnya sudah berdering, Shannon-ah.” ujarnya ketus.

“Huh. Araseo, Daniella Kim!” balas Shannon tak kalah ketus. Lantas ia mengambil buku materin untuk jam pertama dari dalam tasnya dan segera saja ia membacanya.

YA! Jangan memanggilku seperti itu. Panggil aku Kim Danee, Shan!” protes gadis itu lalu ia kembali tidur.

Shannon melirik sahabatnya sekilas lalu melanjutkan aktifitasnya yang sempat tertunda. Sejenak, ia termenung kemudian menghembuskan nafas pasrah. Dia rasa gadis itu ada masalah. Ah, mungkin Danee butuh waktu untuk sendiri. Sebagai sahabat yang baik, Shannon hanya bisa diam menunggu gadis itu bercerita sendiri.

“Daniella Kim!”

“Maukah kau menjadi kekasihku?”

“Tentu, aku akan selalu disini untukmu. Aku mencintaimu, Kim.”

“Dan, aku melihatnya sendiri. Dia berselingkuh di belakangmu. Putuskan saja dia!”

“Pria itu benar-benar brengsek. Berani-beraninya dia mempermainkanmu. Akhiri semuanya, Noona!”

“Tidak! Kalian bohong! Oppa tidak mungkin begitu. Dia orang yang setia.”

“Lihat itu! Apa ku bilang? Aku melihatnya sendiri, Danee-ya. Dia selingkuh.”

“Noona, dia menghilang. Aku tidak tahu dimana dia.”

“AARRRGHHH…………..”

HOSH!

Danee membuka kelopak matanya secara paksa. Dia langsung bangun terduduk karena mimpi buruk yang baru saja dialaminya. Tubuhnya penuh dengan peluh dan nafasnya tak beraturan. Hari-hari buruk di masa lalu kembali menghantuinya. Tanpa sadar, ia pun meneteskan air mata.

Pikirannya kembali menelusuri memori tentang masa lalunya bersama kekasih sekaligus cinta pertamanya di SMP dulu. Masih teringat jelas olehnya ketika pemuda itu menyatakan perasaannya lalu saat mereka menjalani hari-hari sebagai sepasang kekasih hingga akhirnya mereka putus hubungan dan pemuda itu hilang entah kemana.

Kabar terakhir yang Danee terima adalah kepergian pria itu ke Amerika. Entah untuk apa dia ke sana. Setelah itu, tak ada lagi usaha untuk mencari tahu tentang mantan kekasihnya itu. Namun tak bisa gadis itu pungkiri bahwa ia merindukan pemuda yang merupakan seniornya waktu sekolah dulu.

Kemudian gadis itu turun dari kasurnya. Ia mengambil mengganti bajunya dengan dress selutut bermotif bunga dan jaket jins dengan lengan ¾. Tak lupa dia mengambil ponsel dan dompetnya lalu memasukannya ke sebuah tas selempang kecil berwarna putih. Setelah menyampirkan tasnya, dia bergegas keluar dari kamarnya.

Selesai mengikat tali sneakers merahnya, ia segera pergi ke suatu tempat yang menjadi tempat pertama kalinya dia bertemu dengan pemuda itu. Tungkainya terus melangkah cepat menuju ke tempat itu. Dan tak butuh lama, kini ia telah berpijak di tempat favortinya. Ya, tempat ini adalah danau yang setiap pagi ia hampiri.

Dia berjalan gontai ke arah bangku yang ada di pinggir danau. Pandangannya lurus ke depan dan terasa kosong. Lagi-lagi, air matanya keluar dan mengalir terus-menerus. Danee kembali merenungkan segalanya tentang dia dan pria itu. Jujur saja, gadis itu merindukan cinta pertamanya itu.

“Aku sangat merindukanmu sekarang. Kapan kamu kembali? Eoddini? Mwohani?” monolognya lirih.

Tanpa henti ia mengucapkan kata-kata cinta dan rindu dengan amat lirih hingga tak terdengar. Namun tiba-tiba ponselnya berbunyi dan ia menghentikan tangisnya serta monolognya. Sebisa mungkin dia membenahi suaranya agar tidak terdengar habis menangis. Lantas ia segera mengangkat panggilan dari sahabat baiknya itu.

‘I’ll take you to the monster. If you don’t stay with me any more. I’ll take you..’

Yeoboseyo?

Danee-ya?

Waeyo, Shannon-ah?”

Hm, apa kau memimpikannya lagi?

“Eh? Bagaimana bisa kau menegtahuinya?”

Sudah ku duga. Berarti inilah yang jadi masalahmu akhir-akhir ini. Pasti bukan yang pertama kali ‘kan?

“Hah, iya, kau benar. Ini yang ketiga. Ah, aku benar-benar merindukannya saat ini.”

Dimana kau sekarang? Di danau ya?

“Hm, you know me so well, Shan. And, don’t try to come!”

Look at back! I’m behind you now.

Danee menoleh dan ia mendapati Shannon tengah berjalan ke arahnya sembari tersenyum. Kemudian gadis itu memutuskan panggilannya. Keduanya saling berpelukkan dan Danee kembali menangis. Ia menumpahkan seluruhnya di bahu sahabatnya. Hingga ia tenang dengan sendirinya.

Setelah puas, Danee melepaskan pelukkannya. Lantas dia kembali menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Shannon yang melihatnya hanya bisa menghela nafas. Ia berusaha untuk memantapkan tekadnya. Sekarang juga dia harus menceritakan semua yang ia tahu pada sahabatnya itu.

“Danee-ya?”

“Hmm?”

“Sebenarnya ada yang ingin ku ceritakan padamu. Tapi aku takut kau marah atau mungkin sedih. Ini tentang pemuda itu.”

“Ceritakan saja jika kau ingin, Shan!”

“Chanwoo mengidap kanker otak. Dia menghilang karena sedang berobat. Ia sengaja selingkuh agar kau sakit hati dan memutuskannya. Chanwoo tak ingin kau sedih nantinya jika mengetahui keadaannya.”

Mwo? Kau serius, Shan?”

Shannon mengangguk, “Maaf karena baru mengatakannya sekarang. Dia yang melarangku tapi kini aku tak bisa menahannya lagi. Menurutku, kau berhak mengetahui hal ini.” ujarnya lirih.

“Tidak apa. Aku tidak marah padamu. Lalu, dimana dia sekarang?”

“Dia… dia ada di rumah sakit. Dia koma. Datanglah dan lihat keadaannya, Danee. Aku yakin ia juga merindukanmu.”

“Kalau begitu, antarkan aku ke sana, Shan. Kumohon! Aku ingin bertemu dengan Chanwoo untuk terkahir kalinya.”

“Baiklah. Sepulang sekolah aku akan mengantarmu. Sekarang lebih baik kita pulang. Ini sudah fajar. Kita harus bersiap-siap ke sekolah.”

Araseo. Gomawo, Shannon-ah.”

Cheonma, Danee-ya! Kaja!”

Aku terpaku di depan pintu. Dari jendela, aku bisa melihat sosoknya yang terbaring lemah tak berdaya. Banyak alat medis yang terpasang di tubuh kurusnya. Hah, aku tahu itu untuk menunjang hidupnya namun aku benci melihatnya. Dia tidak terlihat gagah lagi, ia terlihat sangat rapuh. Seperti sehelai daun kering yang berguguran di musim gugur.

Dengan ragu ku geser pintu itu. Ku mantapkan tekadku untuk masuk ke dalam. Sekilas aku menoleh ke arah Shannon dan dia tersenyum kepadaku seraya mengangguk. Lantas aku segera masuk ke dalam. Dan kini aku berdiri tepat di sampingnya. Tubuhku bergemetar dan air mata terus mengalir melewati kedua belah pipiku.

Perlahan tanganku terulur ke arahnya. Ku belai wajahnya dengan hati-hati. Dia masih tetap tampan seperti dahulu dan aku pun masih mencintainya seperti dulu atau mungkin lebih mencintainya sekarang. Lantas ku genggam tangannya. Dan aku juga mengecup keningnya sekilas. Sungguh, aku sangat merindukan sosoknya.

Cukup lama aku seperti itu hingga akhirnya aku tertidur namun baru sebentar aku tertidur, ku rasakan tangannya yang berada di dalam genggamanku mulai bergerak. Aku langsung membuka mataku lebar-lebar. Ku perhatikan gerak-geriknya dengan seksama. Sepertinya dia akan segera sadar. Dan benar saja, ia membuka kelopak matanya secara perlahan-lahan.

Beberapa kali ia mengedipkan kelopaknya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk menembus retinanya. Aku tersenyum lebar. Dia menatapku dalam dan aku pun menatapnya. Lantas aku memeluknya dengan erat dan air mataku kembali meleleh. Aku merasakan sebuah belaian lembut di pucuk kepalaku. Perlahan ku lepaskan dekapanku lalu aku menatapnya.

“Daniella Kim?” lirihnya. Aku pun mengangguk berkali-kali.

Yes, am I. Oppa, nan jeongmal bogoshipda. Oremanida.”

Perlahan ia mengulas senyum tipis, “Nado. Nan jeongmal bogoshipo. Can you hug me?” balasnya. Lantas aku pun kembali mendekapnya dan dia mengusap rambutku dengan lembut.

“Ah, aku akan memanggilkan dokter. Tunggu sebentar, oke?” ujarku seraya melepaskan pelukkanku. Tapi dia mencegahnya.

“Tetaplah seperti ini. Kumohon! Jangan pergi, Kim!”

“Baiklah jika itu maumu, Oppa. Aku tak akan pernah pergi darimu. I promise to you.”

Setelah itu tidak ada lagi percakapan di antar kami. Kami tetap berpelukkan hingga dia melepaskannya secara perlahan. Lantas ia kembali menatapku dalam begitupun denganku. Kemudian ia berusaha untuk duduk dan aku segera membantunya untuk duduk bersandar. Dia kembali menatapku seraya tersenyum manis.

“Danee, aku bosan. Maukah kau menemaniku jalan-jalan?” tanyanya dengan tatapan penuh harap.

“Tentu saja aku mau, Oppa. Tapi tidak sekarang. Kau baru saja sadar. Kita akan pergi besok.”

“Yah, sebenarnya aku ingin pergi malam ini. Tapi, ya sudahlah. Asalkan kau mau menemaniku. Sungguh besok ‘kan? Janji?”

“Haha, iya, besok kita akan pergi. Aku berjanji padamu. Akan ku bawa kau jalan-jalan ke danau tempat dimana pertama kali kita bertemu dulu. Sekarang beristirahatlah, Oppa!”

Araseo.Terima kasih, Daniella sayang!”

Aku hanya tersenyum menanggapinya. Lantas ia kembali merebahkan dirinya dan kembali tidur. Tapi sebelum itu dia menyuruhku untuk ikut berbaring di sampingnya dan akhirnya kami tidur bersama. Kami tertidur sambil berpelukkan erat. Ah, rasa rinduku kini telah berkurang. Terima kasih Tuhan karena telah mempertemukan kami kembali.

Akhirnya kami sampai di danau yang menjadi tempat favorit kami. Hah, rasanya sangat senang karena aku bisa bertemu dengannya kembali. Dan kini kami bisa kembali bersama. Aku mendorong kursi rodanya dengan perlahan hingga kami tiba di salah satu tempat duduk yang biasa kami tempati dulu.

Ku genggam tangannya erat-erat sembari tersenyum manis dan ia pun membalas senyumanku. Ia mengecup punggung tanganku. Lalu dia menatap lurus ke arah danau. Begitu pula denganku. Suasana di antara kami begitu hening. Entah apa yang sebenarnya ingin ia katakan padaku. Tadi, dia berkata ingin mengatakan sesuatu padaku.

“Chanwoo Oppa?”

“Hmm… wae?”

“Apa yang ingin kau katakan?”

“Haruskah aku mengatakannya sekarang?”

“Lalu, kapan?”

“Baiklah. Dengarkan aku!”

“Tentu. Aku akan mendengarkanmu dengan seksama, Oppa.”

“Daniella Kim, aku sangat mencintaimu dan selamanya pun akan tetap mencintaimu. Tapi…maafkan aku karena aku tak bisa menemanimu lagi. Aku harus pergi dan kita akhiri hubungan kita yang selama ini masih berjalan. Maaf karena aku telah menyakitimu di masa lalu. Jujur, aku tidak ingin menyakitimu seperti itu tapi aku tidak ingin membuatmu sedih lebih lama lagi. Maaf karena aku menghilang begitu saja. Aku–”

“Sssttt! Jangan bicara lagi! Aku telah memaafkanmu sebelum kau meminta maaf padaku, Chanwoo Oppa. Dan selamanya aku juga akan tetap mencintaimu, Jung Chanwoo. Aku yakin kau tak akan pergi jauh dariku. Walau ragamu pergi, jiwamu masih tetap berada di sekitarku kan? Cintamu juga akan selalu hidup di sanubariku, Oppa.”

Gomawo, Danee-ya! Nan jeongmal saranghaeyo.”

Cheonma, Oppa. Nado. Ah, bagaimana jika kita bernyanyi bersama? Sudah lama sekali kita tidak bernyanyi bersama.”

“Hm, kau benar. Kita akan menyanyikan lagu apa? Lagu favorit kita?”

Yes, of course. I love you for a thousand times, right?”

Dia mengangguk dan kami mulai menyanyikan lagu favorit kami sejak jaman SMP. Kemudian ia meminta berbaring di pangkuanku. Dan aku pun menurutinya. Dengan hati-hati aku membantunya untuk duduk di bangku panjang yang tadi ku duduki. Lalu dia membaringkan tubuhnya dan menjadikan pahaku sebagai bantalan.

Tanganku pun bergerak untuk membelas rambut hitam legamnya yang kian tipis. Kami saling bertatapan sembari tersenyum tipis. Lantas ia mengulurkan tangannya untuk mengusap wajahku dan aku memejamkan mataku. Membiarkannya leluasa untuk menyentuh setiap lekuk wajahku. Aku sadar, mungkin ini bisa jadi yang terakhir kalinya.

Tanpa terasa, air mataku mengalir dan dengan sigap jemari kurusnya menghapus cairan bening itu. Ku buka kelopak mataku secara perlahan. Manikku bersirobok dengan maniknya yang kecokelatan. Ia memberiku tatapan sendu sementara aku hanya menatapnya kosong. Cukup lama kami bertatapan hingga tiba-tiba ia terbatuk-batuk.

Aku segera mendudukannya dan air mataku semakin deras mengalir hingga perlahan-lahan tidak terdengar lagi suara Chanwoo Oppa. Dia menatapku dengan tatapan sayu. Wajahnya terlihat sangat pucat dan sisa darah juga menghiasi sudut bibirnya. Ia juga ikut menangis. Dan samar-samar ku dengar dia mengucapkan kata maaf, terima kasih, dan aku mencintaimu.

Kemudian aku pun membalas ucapannya dengan lirih sekali. Dengan sisa tenaganya ia mengulurkan tangannya untuk mengusap air mataku namun sedetik kemudian, tangannya terkulai begitu saja dan kelopaknya terpejam sempurna. Aku menangis dan berteriak sejadi-jadinya. Ku peluk tubuhnya yang begitu dingin. Dan inilah akhir kisah kami.

END

Annyeong~

Kali ini saya kembali membawakan FF berdurasi vignette dengan genre sad romance. Sepertinya saya sudah terlalu sering membawakan FF genre ini tapi lain waktu saya akan membawa FF genre lain hehe

Kisah ini tercipta karena rasa rindu saya pada cinta pertama saya. Pemuda itu menghilang dan tak pernah kembali hingga saat ini kami masih belum memutuskan hubungan itu, tidak ada kepastian. Ah, sudahlah. Kenapa saya malah curhat? Abaikan, oke? Wkwk

Dont Forget to RCL!^^

Advertisements

5 thoughts on “[Vignette] Missing You At The Moment

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s