[Chapter 2 ] He Was Just The One

just the one 2


He Was Just The One

Maincast || Jeong Taek Won aka. Leo VIXX feat Park Jiyeon

Support Cast ||  Ken, Ravi, N, Hongbin VIXX, Rap MosnterBTS BTS, JiminBTS BTS, Suga BTS, Hyuna 4Minute jin BTS (di chapter ke 4)

Genre || Romance | Action 

Length || Chapter

Rated ||  PG-17

 


 

Aku menoleh dan melihat Leo bertelanjang dada dengan luka di perutnya. Astaga!

 

“Leo !”  aku memekik dengan mataku yang tak bisa berkedip. Perasaanku menjadi rumit seketika. Apa yang terjadi dengannya. 

 

Belum sempat aku bertanya, dia sudah tersungkur jatuh ke lantai.  

 

“Leo !”

 

Sekuat tenaga aku membopong tubuh Leo ke atas pembaringan. Memperhatikan wajah pucatnya dan luka yang menganga di perutnya. Apa yang telah menimpanya. Kenapa dia bisa terluka dan kenapa justru berada di sini di apartementku. Seharusnya dia ke rumah sakit, paling tidak ke klinik terdekat, tapi kenapa justru di sini. Dan dari mana dia tahu aku tinggal di sini.

 

 

Aku menyeka lukanya dengan alkohol, memberinya obat anti infeksi dan membungkusnya dengan perban. Itu hanya pertolongan sementara. Aku harap, besok dia mau kuajak ke rumah sakit. Atau mungkin saat dia tersadar.

 

Leo…Leo…Leo..

 

Aku bergumam terus di sisinya. Menerka-nerka perkara yang membuatnya seperti ini. Namun aku buntu. Aku sama sekali tidak mengerti. Aku hanya berpikir, apakah mungkin yang dikatakan Miss.Lee itu benar.

 

Perlahan aku melihatnya membuka mata. Sejenak dia mengamatiku yang duduk pada sisi pembaringan. Meskipun terlihat sulit, namun dia berusaha tersenyum.

 

“Hi Sweety !”  ujarnya dengan suara agak serak.

 

“Lama tidak bertemu.”  jawabku.

 

“Kau bertambah kurus.Apa kau tidak makan selama aku tidak ada.”  ujarnya lagi.

 

Cih! Aku hanya mendengus. Dia bersikap seolah-olah dia pernah ada dalam hidupku.

 

“Apa yang terjadi denganmu ?”  tanyaku. Leo melihat ke arah perutnya. Dan dia berusaha untuk duduk, menahan rasa perihnya dan bersandar pada sandaran tempat tidur.

 

“Thanks.”  dia tersenyum padaku, namun aku masih memasang raut apatisku.

 

“Kau harus segera ke dokter.” sahutku dingin. Aku beranjak dari sisinya.

 

“Jiyeon ssi!”  panggil Leo. Aku terdiam di sisi agak jauh darinya. Tanpa menoleh.

 

“Apa kau masih membenciku ?”

 

“Aku sudah melupakanmu.”

 

“Benarkah ?”  

 

“Sebaiknya kau cepat pergi dari sini !” ujarku lirih. 

 

Entah kenapa hatiku terasa seperti tertusuk-tusuk saat mengusirnya. Kudengar dia menyeringai. 

 

“Kau tidak usah khawatir, aku akan segera pergi.”  Leo berusaha untuk berdiri. Dia berjalan melewatiku, keluar dari kamarku dan berlalu. Aku merasakan seperti diterpa kehampaan saat dia menjauh dariku. 

 

“Terima kasih sudah merawatku.”  

 

Dia mengambil jaketnya. Lalu melangkah ke arah pintu. Melirikku sebentar yang memperhatikannya dengan resah. Kupalingkan wajahku pada dinding.

 

“Look, Jiyeon ssi. I’m so glad to see you. You looks so pretty .”  ujarnya ketika pintu itu kemudian tertutup dari luar. Dia menghilang di sana. Dan aku menghempaskan nafasku yang sesak. Mataku memanas, sepertinya aku ingin menangis. Apa yang terjadi dengan diriku. Kenapa aku begitu jahat. 

 

Aku berlari ke arah pintu. Dan melangkah keluar. Berusaha mencari bayangan sosok Leo di sana. Namun aku tidak menemukannya. Dia sudah pergi. Aku bahkan berlari ke tempat parkir, namun dia sudah benar-benar tidak terlihat. Aku berjalan pulang. Kenapa dia berjalan begitu cepat, padahal perutnya terluka.

 

 

 

***

 

 

 

 

Leo Pov,

 

Dia mencariku. Aku tahu. Dia pasti mengejarku. Kasihan, aku telah membuatnya resah. Seharusnya aku tidak mencarinya, seharusnya aku tidak ke tempatnya. Ini hanya akan membuatnya bingung. Jiyeon. Mungkin karena aku begitu merindukannya. Aku tidak bisa menahan perasaan ini. Hhh….Maafkan aku.

 

Aku menunggu hingga dia masuk ke dalam lift. Baru aku berdiri dari belakang mobil di mana aku tadi bersembunyi. Aku harus segera mencari klinik dokter terdekat. Darah yang aku keluarkan semakin banyak. Ini membuatku semakin lemas. Mungkin setelah itu aku akan menghubungi markas, kalau ternyata aku telah dijebak. 

 

 

***

 

 

 

 

Jiyeon Pov,

 

 

Apa ini ? 

 

Dompet.  

 

Aku mengambil sebentuk dompet di atas washtafel di dalam kamar mandi. Pakaian yang terkena darah dan beberapa puntung rokok berserakan di lantai. Leo benar-benar telah membuat kamar mandiku berantakan dan bau. Dia sungguh jorok. Keluhku. 

 

Aku duduk pada pinggir bathtub dan membuka dompet yang tadi tergeletak dalam kondisi setengah basah. Dompet ini milik Leo. Ya, ada tanda pengenalnya di sana. Dan beberapa lembar uang won dan satu linting ganja yang diselipkan di dalam lipatan bagian dalam dompetnya. Laki-laki ini sungguh mengerikan. Dia mungkim seorang penjual obat terlarang atau semacamnya. Mungkin juga seorang pemakai narkoba. Aku merinding membayangkannya.

 

Kubersihkan kamar mandi. Lalu meletakkan dompet itu di dalam laci di kamar. Kemudian terdiam di depan cermin. Menatap wajahku.

 

Apakah aku pretty? 

 

 

Perasaanku mengalun dalam. Seperti sebuah gelombang yang mengarungi perut lalu terhempas di dadaku. Aku merasakan perasaan penuh dan berbuih. 

 

“Jiyeon ssi !”  suara itu tiba-tiba mengagetkanku. Aku menoleh dan mendapati Leo berdiri di pintu kamarku. Heh! bagaimana dia bisa masuk ?

 

“Kau!  kenapa kau bisa masuk ke dalam rumahku ?”  tanyaku panik. Ku cengkram kerah bajunya. Dia mundur sebentar.

 

“Aku lupa dompetku. Aku tidk bisa membayar dokter kalau dompetku tidak ada.” 

 

“Aku tidak tanya itu. Aku tanya bagaimana kau bisa masuk.”  Aku sudah bersiap-siap untuk meninju wajahnya ketika dia dengan tenaganya yang tersisa mendorongku hingga jatuh ke lantai. Lalu dia duduk di atasku. Aku berusaha keras untuk melawan, namun ternyata tenaganya lebih besar dariku. Bagaimana mungkin dia bisa memiliki tenaga sekuat itu, dengan luka separah itu. 

 

Tanganku ditekannya di atas kepalaku. Dia menatap mataku lekat-lekat dengan bibir terkatup. Wajah pucatnya terlihat semakin menbrikan. Namun dia terlihat sedang menahan rasa sakitnya. Darah mengakir ke ata kemejaku. Darah Leo Bau anyir yang begitu tajam menyambar hidungku. 

 

“Kau tidak usah berlebihan terhadapku. Aku hanya ingin mengambil dompetku yang tertinggal, Jiyeon !”  bisiknya dengan sedikit merintih. 

 

Aku tercekat. Dia semakin kuat memegangi tanganku. 

 

“Leo !”  panggilku ketika dia seperti merasa hilang.

 

Perlahan dia mendekati wajahku dan mendaratkan sebuah ciuman di bibirku. Aku menolaknya namun dia dengan berat tubuhnya tetap menekanku. Untuk beberapa saat lamanya aku membiarkan dia menciumku tanpa mendapatkan balasan dariku.  Matanya menatapku heran, dan aku hanya membalasnya dingin. Dia melepaskan pautan bibirnya. Melerai nafasnya, lalu terdiam.

 

“Di mana kau taruh dompetku ?”  tanya Leo kemudian. Dia berdiri, seolah-olah seperti tidak terjadi sesuatu. Aku menyeringai heran.

 

“Di laci.”  jawabku.

 

Aku melirik jam dinding. Sudah hampir tengah malam. 

 

“Kau boleh di sini hingga pagi.”  ujarku datar. Aku menatapnya dengan wajah menunduk.

 

“Kenapa ? Apa kau menginginkanku ?”  kata-katanya tidak membuatku terkejut. Namun justru terdengar menggelikan. Sebenarnya kenapa dia selalu ingin menonjolkan sisi manly nya padaku. 

 

Apa aku terlihat seperti seorang pelacur ?

 

“Bagaimana jika iya ?” tantangku. Aku mendorong tubuhnya pada pembaringan. Dia terjerembab di sana sambil tersenyum dengan gayanya. Sungguh iblis. Dia menyeringai.

 

“Let me see what can you do to me ?”  ujarnya dengan senyuman iblisnya.

 

 

 

***

 

 

Author Pov,

 

 

Jiyeon mendorong tubuh Leo hingga terbaring di pembaringan. Ada bentuk senyuman menggoda yang ditujukan Leo pada gadis yang belakangan ini mengganggu hari-harinya. Mungkin dia benar-benar ingin melihat apa yang akan Jiyeon lakukan padanya. 

 

Gadis itu melepaskan kancing lengan kemejanya dan menggulungnya sebatas siku. Jiyeon lupa berganti baju sejak kedatangannya tadi. Kemudian dengan tatap mata yang dingin dia menyingkap kemeja Leo. Diamatinya bentuk abdoment yang berbuku-buku itu dengan rasa kagum. 

 

“Good start !”  ujar Leo dengan menyeringai nakal.

 

“Wait and see !”  balas Jiyeon

 

Tangan Jiyeon merogoh ponsel dari saku celananya. Dengan terus menatap Leo, sambil menekan sebuah nomor.

 

“Hongbin Oppa, bisakah kau ke tempatku sebentar. Dan bawa semua peralatanmu!” ujar Jiyeon singkat. Dia tidak lagi menunggu apa-apa lalu memutus sambungan ponselnya, dan menyimpannya lagi di sakunya dan mulai melepaskan ikat pinggang Leo.

 

“Apa yang kau rencanakan ?” tanya namja itu sambil menatap Jiyeon curiga.

 

“Kau akan tahu nanti !”  jelas Jiyeon singkat.  

 

“Kau memanggil seseorang. Apa kau senang melakukann threesome ? Agh, kau sangat nakal, Jiyeon! aku sungguh tidak menduga hal ini.”

 

Stupid! Keluh Jiyeon dalam hati.

 

Dengan gerakan yang cepat dia sudah berhasil membuka celana panjang Leo. Kini dia bisa melihat betapa Leo begitu seksi. Kaki-kakinya terlihat kuat dan berotot. Jiyeon merabanya dari ujung kaki hingga ke pangkal pahanya.

 

Terdengar desahan yang menakjubkan dari bibir Leo yang terbuka. Tanpa sengaja menguncang senyuman di bibir Jiyeon. Mereka saling menatap dan tersenyum.

 

“Aku senang kau bisa tersenyum lagi untukku. Apa tubuhku membuatmu bahagia?” ujar namja itu sambil menjamah wajah Jiyeon dengan tangannya. Namun Jiyeon menepiskannya. Kalimat-kalimat yang meluncur dari bibir Leo sungguh melumerkan ketegangan. Apa yang harus Jiyeon lakukan, tertawa?  dia hanya tersenyum.

 

“Aku masih membencimu.” ujarnya kemudian.

 

Leo mengangguk. Dia mengangkat bahunya dan menyeringai lagi.

 

“Okay, tidak masalah. “

 

Kedua tangan Jiyeon terus meraba kaki Leo, menelusurinya dengan sedikit tatapan menggoda. Dan Leo sepertinya senang. 

 

Tiba-tiba bel pintu berbunyi. Jiyeon segera meninggalkan Leo di pembaringan sementara waktu, namja tampan itu hanya mendesah frustasi. Apa yang Jiyeon rencanakan.

 

Jiyeon kembali bersama seorang laki-laki berwajah tenang dan manis. Dia memegang sebuah tas dan langsung mendekat ke arah Leo.

 

“Apakah dia dokter ?” tanya Leo. Sepertinya dia memgerti dengan rencana permainan Jiyeon. Dia menghempaskan diri di bantal sementara gadis itu hanya berdiri dengan tatapan sama. Mungkin dia terlihat tidak perduli namun di hatinya dia tetap berharap Leo segera diobati.

 

Tatap mata Leo begitu tajam dan tak terputus menatap Jiyeon. Dia sangat mengagumi sosok itu. Satu kesalahannya telah membuat gadis itu bersikap dingin padanya. Jiyeon tidak sama seperti yang lain. Dia berbeda, sungguh berbeda. Dan Leo sungguh menyesal telah mengawali hubungan dengan cara yang biasanya dia lakukan. 

 

“Aashhh!”  desahnya ketika tangan Hongbin membuka perban yang sementara Jiyeon pasangkan pada perut Leo tadi.

 

“Aku pikir ada hewan yang terluka. Aku tidak bawa perban khusus untuk luka semacam ini.”

 

Leo mengerutkan dahinya. Dia menatap Jiyeon tidak mengerti. Sementara Hongbin  tersenyum.

 

“Sebenarnya aku dokter hewan. Maaf!”  ujar Hongbin kemudian.

 

“Shit ! apa kau berpikir kalau aku ini binatang !?”  Leo menatap Jiyeon dengan senyum datar.

 

“Kurasa begitu, kau pikir saja sendiri.”  balas Jiyeon dengan cengiran. Leo tertawa dingin. Dia terus menatap Jiyeon yang masih menatapnya. Dia berjalan hilir mudik dengan wajah cemas, namun tetap dia sembunyikan ketika Leo melihat ke arahnya. 

 

“Jangan khawatir, meskipun aku dokter hewan, aku tetap mengerti bagaimana merawat luka semacam ini.” dokter itu mencoba untuk meyakinkan Leo.

 

Leo hanya tertawa getir.

 

Dan ketika Hongbin  selesai dengan pekerjaannya, dia menuju ke arah Jiyeon dan berbisik sesuatu padanya. Leo hanya menggeleng-geleng resah. Bisikan itu mungkin mengenai dirinya.

 

“Baiklah, untuk sementara , itu akan menghentikan pendarahan di lukamu. Nanti setelah kau bisa ke rumah sakit, kau harus segera memeriksakannya lagi.” ujar Hongbin pada  Leo.

 

“Thanks, Oppa!’ bisik Jiyeon.

 

“Kau tidak usah mengantarku ke pintu. Aku sudah tahu jalan pulang.”  Hongbin meninggalkan Jiyeon yang berdiri dibingkai pintu. Dia tetap menatap Leo dingin.

 

“Apa kau akan berdiri di situ semalaman? kenapa kau tidak ke sini, aku kedinginan.”

 

Leo tersenyum menggoda ke arah Jiyeon yang menyeringai. Dia berjalan menemui Leo yang terkulai dengan setengah badan bersandar pada sandaran pembaringan.

 

“Kau sudah memperlakukanku seperti hewan, apakah kini kita sudah impas?” Leo meraih tangan Jiyeon. Untuk sementara gadis itu membiarkan Leo meremas dan memperlakukan tangannya dengan indah. 

 

“Tanganmu begitu lembut.” Leo mencium punggung tangan Jiyeon dengan mengecupnya. Lalu menariknya hingga Jiyeon duduk di sisinya. 

 

“Tingkahmu seperti wanita manja jika sedang merajuk. ” ujar Leo. Perkataan itu langsung membuat Jiyeon menoleh .

 

“Kau brengsek ! aku sedang tidak merajuk.”  Jiyeon mendengus.

 

“Baiklah, kau tidak marajuk. Kau hanya sedang melakukan aksi protes.” Leo tersenyum.

 

“Protes terhadap masalah apa ?”

 

“Aku tidak tahu. Masalah seperti itu hanya dimiliki oleh para wanita.”

 

“Bisakah kau tidak banyak bicara!”

 

“Lalu berhentilah memasang wajah runyam seperti itu! “

 

“Kau diamlah ! ini rumahku. Aku bebas bersikap di sini. Kalau kau tidak suka pergilah !”

 

“Tidak. Aku belum berterima kasih padamu.”

 

“Tidak perlu.”

 

“Apa kau yakin menyuruhku pergi kali ini ?”

 

“Yakin.” jawab Jiyeon.

 

“Yakin kau tidak akan mengejarku seperti tadi ?”  what !  wajah Jiyeon langsung berubah merah. Dari mana dia tahu kalau Jiyeon tadi mengejarnya.  Leo tersenyum. Dia mempermainkan lidah di bibirnya, sementara tangannya masih menggenggam tangan Jiyeon.

 

“Kau tidak usah malu.” lanjut Leo.

 

“Aku hanya sedang memastikan kalau kau benar-benar sudah pergi dari pandanganku.”  Jiyeon menyangkal.

 

“Ya, aku percaya.”  sahut Leo. Dia menumpangkan dagunya di pundak Jiyeon. Nafasnya menggelitik permukaan telinga gadis berwajah lembut itu.

 

“Apa kau sudah makan ?”  tanya Jiyeon. Kali ini suaranya terdengar nyaman di telinga Leo. Tatap matanya pun sudah lembut.

 

“Apa kau ingin memberiku makan ?”

 

“Aku bisa memberikan makanan kucing padamu, kalau kau mau.”

 

“Asal kau yang menyuapkannya untukku, apapun aku terima.”

 

Tiba-tiba Jiyeon menunduk. Dia tersipu dengan ucapan Leo. Ada apa dengan laki-laki ini? 

 

Dia semakin terkejut ketika Leo mendekat dan merangkul pinggang Jiyeon dari belakang. 

 

“I’m sorry !” bisiknya kemudian.

 

Jiyeon menoleh, dan sebuah kecupan di pipinya membuatnya tertegun. Mereka menatap dari jarak yang sangat dekat. Jiyeon bisa merasakan bahwa jantungnya tidak berbohong mengenai perasaan yang sebenarnya dia rasakan untuk Leo.

 

“Ayo kita makan dulu !”  ajak Jiyeon sambil berdiri. Dia meninggalkan Leo , dan berjalan keluar dari kamar.

 

Tidak ada yang membuat Jiyeon merasa bahagia selain berada di dalam dapur yang bersih. Dia sangat menikmati waktunya berada diantara bumbu-bumbu dan bahan masakan. Matanya dengan jeli memilah-milah bumbu yaang akan dia pakai. Tentu saja kimchi. Dia selalu mendapatkan kimchi terbaik yang selalu dia peroleh dari eommanya. 

 

Leo berjalan dengan hati-hati melihat kesibukan Jiyeon. Dia tidak berani berkomentar ketika melihat keseriusan Jiyeon di sana. Sehingga dia memutuskan untuk duduk di sofa, membuka beberapa majalah dan sebentar larut dengan topik yang dihadirkan pada lembaran media tersebut.

 

Lalu dia tertidur. Bersandar pada sofa, dengan majalah diperutnya. Jiyeon menghampiri dengan sedikit senyum. Namja tampan  itu terlihat tenang dan manis jika sedang tidur. Perlahan dia mengambil majalah diperutnya, lalu membetulkan posisi tidurnya. Dia mungkin lelah, sehingga dia tidak merasa terganggu ketika Jiyeon menggerakkannya.

 

Tidak. Leo tidak tertidur dengan lelap. Dia masih bisa merasakan tangan Jiyeon menyentuhnya. Meletakkan kepalanya pada bantal dan memberinya selimut. Hatinya terharu diperlakukan dengan lembut oleh yeoja itu. Dia tidak ingin Jiyeon merasa canggung, sehingga dia membiarkan hal itu terjadi.

 

Perasaan Leo dipenuhi oleh sesuatu yang indah. Mungkin selama ini dia mengira semua orang sama saja. Maksudnya yeoja yang menginginkannya, dirinya. Mereka hanya tertarik dengan daya tarik fisiknya. Hidup di dunia modeling memang sungguh hal yang menantang gaya hidup bebas termasuk sex. Mungkin Leo memang sudah terlibat di dalamnya. Namun kenapa tidak dengan Jiyeon. Dia memiliki kehidupan yang teratur. Disiplin terhadap waktu dan tentu saja kehidupan yang sangat jauh dari alkohol dan sex bebas. 

 

Jiyeon duduk di meja makan. Dia menikmati makan malamnya sendiri dengan cahaya lampu menemaninya. Dia lagi-lagi mendesah.

 

 

Rasa kantuk membuat Jiyeon segera merebahkan dirinya di kamarnya. Dia tertidur dengan badan menghadap ke kiri. Dengan lampu yang menyala. Dia sudah lama tidur dengan penerangan. Paling tidak dia tidak merasa sendiri saat melihat bayangan tubuhnya di atas kasur.

 

 

Suara gemericik air membangunankan tidurya. Dia beranjak keluar dari kamarnya dan mendapati Leo sedang mencuci piring-piring kotor di dapur. Leo memperhatikannya dengan heran.

 

“Maaf, apa aku membangunkanmu ?”  Tanya Leo ketika mendapati Jiyeon berdiri tidak jauh darinya.

 

“Bagaimana perutmu ?” tanya Jiyeon. Dia mengambil air putih dan meminumnya setelah itu, dia melirik aktifitas Leo kembali.

 

“Sudah tidak sakit lagi.”  jawab laki-laki bersuara seksi itu.

 

Jiyeon berjalan menuju jendela, membukanya dan membiarkan udara segar masuk ke dalam ruangan. 

 

“Apa kegiatanmu hari ini ?”  Leo tiba-tiba ada di belakang Jiyeon. Dia melingkarkan tangannya dengan mesra, namun Jiyeon beringsut dan menepiskan tangan itu. Kini semua terasa hampa dia rasakan. Ditatapnya Jiyeon dengan berbagai macam pengertian yang tidak bisa dia terjemahkan. 

 

“Aku mandi dulu.”  ujar Jiyeon sambil meninggalkan Leo. Laki-laki itu hanya berdiri dengan menahan peasaan tak menentu. Dia pantas diperlakukan sepert ini.  Ya. 

 

 

Ketika Jiyeon selesai mandi, dia tidak menemukan Leo lagi di dalam apartementnya.  Entahlah, apa yang dia rasakan kini. Kecewakah? kehilangan ? atau sedih. Jiyeon hanya berdiri di sisi jendela terbuka dengan memejamkan matanya. 

 

 

///////

>>>>>

 

 

 

 

 

Leo berjalan dengan sedikit menahan nyeri diperutnya. Dia menatap sebentar gedung apartement yang baru saja ditinggalkannya. Di sana, dia melihat Jiyeon di sisi jendela. Wajahnya bahkan terlihat jelas di mata Leo. Dia menghela nafasnya.

 

Namja dengan perut terluka itu berjalan semakin menjauh. Tujuannya adalah sebuah tempat dengan kesibukan yang padat. Dia memasuki bangunan itu. Beberapa pasang mata menatapnya janggal. Leo tidak meperdulikannya. Kemudian seorang laki-laki paruh baya memanggilnya.

 

“Leo, masuk ruanganku !”  hardiknya dengan suara lantang, dan Leo menurutinya.

 

“Mereka sudah mengetahui identitasku.! ” Leo duduk dengan wajah penuh amarah yang tertahan. Dia menatap laki-laki setengah tua itu dengan tatapan membunuh.

 

“Apa kau tidak apa-apa ? Aku mencarimu sejak kemarin. Kau di mana?” tanyanya sedikit khawatir.

 

“Aku bersembunyi, setelah beberapa orang dari kelompok mereka mengetahui siapa diriku. Perutku terkena sabetan pisau. Apa kau pikir aku tidak apa-apa ? Aku bahkan hampir mati karena kehilangan banyak darah.”  Leo masih memegangi perutnya.

 

“Apa kau melibatkan orang lain dalam pekerjaan rahasiamu ini ?” 

 

Leo membayangkan Jiyeon. Tapi dia menggeleng ke arah laki-laki  itu.

 

“Tidak. “

 

“Apa kau yakin ?”

 

Leo terdiam lagi. Dia merasa komandan Jang mengetahuinya. 

 

“Dia siapa ?” tanyanya lagi. Kali ini tatapannya sungguh dalam.

 

“Kekasihku.” jawab Leo tegas. Dia mendeklarasikan sendiri keputusannya untuk menjadikan Jiyeon sebagai kekasihnya. Dalam hatinya dia tersenyum

 

 

 

 

 

 

 

tebece.

 

 

 

a/n

Sambungannya akan segera meluncur! 

Advertisements

32 thoughts on “[Chapter 2 ] He Was Just The One

  1. apa bener leo itu inteliga pemerintahan.
    leo,berperilaku seenaknya aja.
    kayaknya jiyeon masih suka ma leo.
    thor ditunggu kelanjuan “i want you” jangan terlalu lama

  2. Jd leo bener2 intel?? Trus misi dy apa? DY lagi terlibat kasus apa? Dy ga akan melibatkan jiyeon kan?
    Tp koq leo keliatannya tau banyak soal jiyeon ya
    Smp2 dy bisa masuk aprt jiyeon

    Wkwkwk ngakak pas bang hongbin dtg dan dengan polosnya bilang dy dokter hewan
    Leo yg sabar yaa, hahahahaaa

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s