Accidentally Family [Chapter 2]

PicsArt_1434685868774

Accidentally Family

VIXX Leo aka Jung Taekwoon and Red Velvet Irene aka Bae Joohyun

Romance, Married life, Family | Chaptered | G

Disclaimer : Poster dan storyline murni milik Author (Jung Taekwoon juga milik Author hehe).

Don’t like the cast? Just read the story ^^

Previous :

prolog | 1

Summary :

“Mulai sekarang kita akan sering begadang.”

.

.

.

Chapter 2

“Kenapa banyak sekali spaghettinya?” tanya Joohyun begitu melihat troli mereka dipenuhi bungkusan-bungkusan spaghetti.

“Aku suka spaghetti,” jawab Taekwoon masih sibuk memilih saus mana yang harus dia beli.

“Aku lebih suka ramyun.” Joohyun beralih pada rak di sebelah Taekwoon yang memuat bungkusan-bungkusan ramyun beraneka rasa.

Joohyun hendak meletakkan lima bungkus besar ramyun pedas, namun Taekwoon langsung merebutnya. “Andwae, ramyun itu tidak bagus.”

“Wae?” protes Joohyun.

Taekwoon segera mengembalikan bungkusan ramyun itu ke raknya. “Aku bisa memasakkan spaghetti yang lezat untukmu. Dibanding ramyun, spaghetti lebih bagus.”

Seketika mata Joohyun berbinar. Pria ini mau memasakkannya lagi? Kemarin pagi dia membuatkan omelette untuk sarapan dan sekarang dia akan membuatkan spaghetti untuknya? Dia itu benar-benar suka memasak ya?

“Yang benar?”

Taekwoon menoleh padanya. “Setiap hari pun aku mau memasakkanmu spaghetti.”

Oh, apakah pria itu sadar apa yang baru saja dikatakannya?

“Joohyun.”

Joohyun terkesiap saat mendengar namanya dipanggil.

“Kau suka kopi apa?”

Kopi?

“Aku suka cappuccino,”

Taekwoon kembali mengamati rak berisi berbagai macam kopi itu. “Sepertinya merk ini lebih bagus saat aku membuatkan kopi untukmu di rumah. Bagaimana menurutmu?” Joohyun menatap bingung pada bungkusan kopi bermerk asing di tangan Taekwoon. “Kau membuat kopi?”

“Iya—ah, aku belum cerita padamu? Aku seorang barista.”

Mwo? Barista?

***

Keadaan di dalam mobil itu hening. Taekwoon yang sibuk dengan jalanan di hadapannya dan Joohyun yang sibuk dengan pikirannya. Sesekali gadis itu melirik pada Taekwoon. Namun ekspresi serius pria itu malah membuatnya ciut. Tapi bibirnya benar-benar gatal untuk bertanya. Apa dia menunggu Taekwoon saja? Ayolah, pria itu tidak akan bersuara duluan kalau seperti ini keadaannya.

“Taekwoon.” Akhirnya Joohyun mengeluarkan suara.

Taekwoon berdeham sebagai jawaban, fokusnya masih tertuju pada jalanan.

“Kau benar-benar seorang barista?” tanya Joohyun akhirnya. Dia masih tidak percaya akan perkataan pria itu saat mereka sedang berbelanja tadi.

“Iya,” jawab Taekwoon tanpa mengalihkan pandangannya.

Bagaimana bisa? Bagaimana bisa Aboejinya mengatur kencan buta dengan seorang barista? Bukankah selama ini Aboeji selalu menjodohkannya dengan seorang CEO dari perusahaan-perusahaan besar atau tak jarang putra pewaris perusaan. Tapi, kali ini seorang barista?

Lama tidak mendengar suara gadis itu lagi, Taekwoon menoleh. Mendapati gadis itu tengah melamun.

“Joohyun,” seru Taekwoon membuyarkan lamunan Joohyun.

“N-ne?” jawab Joohyun tergagap.

Taekwoon memandangnya sekilas sebelum akhirnya kembali fokus pada jalanan. “Ada apa?”

“Anio, tidak ada apa-apa.” Joohyun masih belum berani untuk menanyakannya.

Apakah dia kecewa mengetahui Taekwoon adalah seorang barista? Sepertinya tidak. Lagipula selama ini Joohyun tidak terlalu mempermasalahkan soal status sosial. Taekwoon mau menjadi suaminya saja Joohyun sudah sangat bersyukur. Kalau soal ekonomi, masih ada mobil Joohyun dan gajinya juga sudah cukup untuk menghidupi mereka bertiga. Jadi apalagi yang harus Joohyun risaukan.

Taekwoon melirik Joohyun lagi. “Kau melamun.”

“Aku hanya mengantuk.” Joohyun menutup mulutnya dan berpura-pura menguap.

“Sebentar lagi kita sampai.”

***

Hari sudah gelap saat mereka sampai di apartemen. Joohyun dan Taekwoon menghempaskan tubuh mereka pada sofa krem yang berada di ruang tamu. Mereka tentu kelelahan setelah seharian ini berbelanja kebutuhan Miki dan peralatan rumah tangga. Mereka juga sempat kebingungan bagaimana caranya membawa belanjaan sebanyak itu ke apartemen mereka yang berada di lantai 7.

“Kau tidur saja di kamar. Hari ini aku ingin tidur dengan Miki,” ujar Joohyun seraya bangkit dan berjalan menuju tangga.

Barang belanjaan mereka masih berserakan di ruang tamu. Mereka terlalu lelah untuk membereskannya hari ini juga. Taekwoon hendak naik ke atas menuju kamarnya saat dia ingat akan belanjaan bahan makanan. Sepertinya kalau yang satu itu tidak bisa ditunda, Taekwoon harus membereskannya kalau tidak mau belanjaannya rusak.

Jadi terpaksa Taekwoon turun lagi dan membawa belajaan itu ke dapur. Menata sayuran, buah-buahan dan daging ke dalam kulkas. Dan bungkusan-bungkusan spaghetti serta kopi ke dalam rak-rak di atas kompor. Kurang lebih 30 menit sudah Taekwoon habiskan untuk menata itu semua.

Taekwoon menaiki anak tangga menuju kamarnya. kantuk yang mereangnya kini telah hilang sepenuhnya. Mungkin karena dia terkena air saat mencuci buah dan sayur itu dahulu agar tidak layu. Sebelum memasuki kamarnya dia menoleh pada pintu kamar Miki yang ada di seberang kamarnya. Tidak ada suara.

Joohyun sudah tidur ya?

Taekwoon hendak masuk ke kamar Miki, sekedar melihat Miki karena sudah seharian ini dia tidak melihatnya. Namun diurungkannya karena takut mengganggu Joohyun. Taekwoon akhirnya masuk ke dalam kamarnya. Kini waktunya dia meluruskan punggung di atas kasur empuknya.

Taekwoon baru saja membaringkan tubuhnya di atas kasur berseprai krem itu saat aroma peach menyapa indera penciumannya.

‘Oh, apakah Joohyun menggunakan pengharum ruangan beraroma peach?’ batin Taekwoon.

Tapi kemudian Taekwoon teringat, aroma ini tidak asing baginya. Dia membaui lagi bantal yang digunakannya. Tidak salah lagi. Ini bukan pengharum ruangan, tapi ini adalah aroma Joohyun. Tunggu, yang dimaksud Taekwoon adalah mungkin saja ini adalah harum parfum yang digunakannya. Yang jelas aroma Joohyun seperti ini, sama seperti saat di mobil tadi. Tentu saja, kemarin gadis itu tidur disini.

Tapi entah kenapa, aroma ini justru membuatnya tenang. Taekwoon suka aroma ini. Membuatnya nyaman sampai tanpa sadar dia memejamkan mata.

***

“Taekwoon.”

Pria yang dipanggil Taekwoon itu mengeram pelan.

“Taekwoon, ireona!”

Seseorang mengguncang-guncangan tubuh Taekwoon. Merasa terusik, akhirnya Taekwoon membuka mata.

“Joohyun?”

Taekwoon mengusap matanya, memperjelas penglihatannya akan seseorang yang tengah mengusik tidurnya. Seorang gadis berpiyama biru muda dengan surai cokelat terurai. Gadis itu adalah Joohyun. “Wae, Joohyun?”

“Miki.”

Mendengar nama Miki, Taekwoon langsung terduduk. “Ada apa dengan Miki?”

“Miki tidak berhenti menangis, Taekwoon. Apa dia sakit?” ujar Joohyun dengan wajah cemas.

Sedetik kemudian Taekwoon bangkit dan berlari ke kamar Miki, disusul Joohyun. Taekwoon sedang menyentuh kening Miki saat Joohyun masuk.

Taekwoon menghela napas lega. “Miki tidak sakit, Joohyun. Dia hanya lapar. Dia tidak akan berhenti menangis kalau kau tidak memberinya susu.”

“Lapar? Tapi ini jam 3 pagi, ” tanya Joohyun. Ekspresi bingung tercetak jelas di parasnya.

“Bayi berumur 3 bulan pasti akan terbangun tengah malam karena lapar. Ini hal biasa, kemarin dia juga begitu,” terang Taekwoon.

“Kemarin juga?”

Oh, apakah dia tidur terlalu lelap sampai tidak mendengar Miki menangis kemarin malam. Tunggu—berarti kemarin malam Taekwoon juga terbangun jam segini karena Miki menangis? Padahal kan dia pasti juga kelelahan seperti Joohyun.

Joohyun baru menyadari saat Taekwoon akan membuatkan Miki susu. Kalau ada sekaleng susu formula, botol susu dan termos di atas nakas sebelah box bayi Miki dan Taekwoon yang meletakkannya di sana. Agar tidak perlu repot-repot turun ke dapur bila akan membuatkan susu untuk Miki.

Urusan susu sudah Taekwoon yang sedang membuatnya. Maka Joohyun mnghampiri box bayi Miki dan menenangkan bayinya yang tengah menangis. “Taekwoon bisa cepat sedikit? Miki menangis kencang sekali, aku jadi khawatir.”

Taekwoon sedang menuang air panas dari termos ke dalam botol susu kecil yang telah terisi bubuk susu formula seperempatnya. “Peluk dia, itu akan membuatnya lebih tenang,” jawa Taekwoon tanpa mengalihkan pandangannya.

Diperintahkan seperti itu, Joohyun langsung mengangkat tubuh mungil Miki dengan hati-hati dan memeluknya. Joohyun mengelus perlahan punggung Miki, berusaha membuatnya lebih tenang.

“Dia pasti sudah sangat lapar sampai menangis sekencang itu,” ujar Taekwoon lagi.

Tangis Miki tidak sekencang tadi, hal itu membuat Taekwoon menoleh pada Joohyun. Joohyun menggerakkan tubuhnya perlahan sembari mengelus punggung bayi Miki di pelukannya. Tanpa sadar Taekwoon tersenyum melihat pemandangan itu. Kalau sudah seperti ini sifat keibuan Joohyun akan terlihat.

Perlahan Taekwoon menghampiri Joohyun. Dia mengisyaratkan Joohyun untuk melepas pelukannya pada Miki. Kini dia meminumkan susu yang telah dibuatnya pada Miki yang berada di gendongan Joohyun. Miki terlihat tenang dan meminum susunya dengan lahap.

Taekwoon mengelus keningnya perlahan, “Miki-ya, apa kau sangat kelaparan?”

***

Miki sudah terlelap lagi setelah menghabiskan susunya tadi. Kini tinggallah Taekwoon dan Joohyun yang tidak bisa kembali tidur. Joohyun duduk di meja makan, menunggu Taekwoon yang sedang membuatkan cappuccino untuknya. Aroma kopi menguar dari coffe maker. Joohyun jadi terpikirkan lagi, Taekwoon benar-benar seorang barista ya?

Taekwoon menyajikan segelas cappuccino hangat itu ke hadapan Joohyun, sedangkan secangkir latte untuknya sendiri. Taekwoon langsung menyeruput latte itu sambil memperhatikan Joohyun yang duduk di seberangnya. Gadis itu hanya menatap kosong pada cangkir cappuccino nya.

“Ada apa denganmu?”

Ucapan Taekwoon membuat Joohyun mengangkat wajahnya, “ne?”

Taekwoon menurunkan cangkir latte nya. “Di mobil juga, kau aneh. Kau sedang memikirkan sesuatu?” tanyanya lagi. Iris cokelatnya menatap lurus pada Joohyun.

Joohyun hanya balas menggeleng dan mengangkat cangkir cappuccino nya.

“Tentang aku seorang barista?”

Joohyun hampir saja tersedak, untungnya cairan kopi itu belum menuruni kerongkongannya. Joohyun mentap lurus kepada Taekwoon. Sama seperti waktu dia pertama kali bertemu dengan Taekwoon. Apa pria ini benar-benar bisa membaca pikirannya?

“Kau kecewa karena aku seorang barista,” Taekwoon berujar lagi tapi kali ini dia tidak menatap Joohyun. Dia menunduk sambil telunjuknya menyentuh tepian cangkir latte nya.

Joohyun menggelengkan kepalanya kuat-kuat. “Anio, aku hanya—bingung.”

Taekwoon mengangkat wajahnya. “Bingung?”

“Aku hanya bingung kenapa Aboeji menjodohkanku pada seorang barista sedangkan sebelumnya dia menjodohkanku pada—ah, sudahlah. Kita tidak perlu membahasnya. Dan aku tidak kecewa karena kau seorang barista, Jung Taekwoon.”

Bibir Taekwoon mengatup rapat dan netranya masih menatap lurus Joohyun.

“Dan cappuccino ini enak, gomawo,” ujar Joohyun lagi dan tersenyum manis pada Taekwoon.

Joohyun melihatnya. Joohyun melihat bibir pria itu tertarik sedikit. Ya, pria itu tersenyum sedikit tadi.

Joohyun meregangkan kedua tangannya. “Arrghhh…. Aku tidak menyangka seorang bayi akan membangunkanmu pukul 3 pagi.”

“Iya, begitulah. Mulai sekarang kita akan sering begadang.” Taekwoon menyesap latte nya lagi. “Kapan kau mulai masuk kerja?”

“Lusa aku mulai bekerja.”

***

“Joohyun, airnya sudah siap.”

“Tunggu sebentar.”

Joohyun masih melepaskan satu persatu kancing baju Miki yang sedang terlentang di atas kasur kamar utama. Tinggal melepaskan popoknya dan Miki siap untuk mandi. Joohyun menggendongnya menuju Taekwoon yang sedang berada di dalam kamar mandi.

“Kau yang akan memandikan Miki?” tanya Taekwoon saat Joohyun sedang mengukur panas air dengan tangannya. “Ne, wae?” sahut Joohyun dan mulai mengangkat tubuh Miki.

Joohyun akan meletakkan Miki ke dalam bak mandi bayi berwarna putih itu saat tangan Taekwoon menghalanginya.

“Tunggu, kau yakin?” tanya Taekwoon dengan raut wajah cemas.

“Tenang saja, Eomma sudah mengajariku cara memandikan Miki.” Akhirnya separuh tubuh mungil Miki terendam air hangat

“Hati-hati,” seru Taekwoon sesekali.

Joohyun benar-benar telaten memandikan Miki. Tangan kirinya memegang Miki erat sedangkat tangan kanannya membasuh tubuh Miki. Dia mengisyaratkan Taekwoon untuk menuangkan sabun mandi bayi pada tangannya, dan Taekwoon bergegas mengambilkan sabun khusus bayi itu. Joohyun menyabuni seluruh tubuh Miki dengan perlahan. Lalu Taekwoon membantu membilas busa-busa di tubuh Miki. Mereka saling bekerjasama walau Taekwoon lebih banyak menonton dan menyuruh Joohyun berhati-hati.

Miki sudah selesai mandi, Joohyun mengangkat tubuh Miki dan Taekwoon dengan sigap segera mengambil handuk. Joohyun menyerahkan Miki pada Taekwoon yang telah menyiapkan handuk pelukannya. Dia menggendong Miki dan menidurkannya di atas kasur king size nya. Kali ini giliran Taekwoon untuk memakaikan Miki baju.

Gantian sekarang Joohyun yang memperhatikan Taekwoon. Taekwoon mengambil baby oil dan menuangkannya ke atas telapak tangannya. Dia menepuk-nepukkan kedua tangannya lalu mengusapkan minyak itu ke perut Miki, dadanya lalu ke kedua tangan mungil Miki. Dia menuangkan baby oil lagi dan mengulangi hal seperti tadi lalu mengusap kedua kaki Miki dari paha sampai telapak kaki. Selanjutnya dia mengambil bedak bayi dan membubuhkan ke atas telapak tangannya melakukan hal yang sama seperti saat menggunakan baby oil.

Kini dia memasangkan Miki pampers, celana dalam, lalu lalu kaus dalamannya. Terakhir dia memakaikan baju lengan panjang berwarna baby blue. Dia juga amat berhati-hati saat hendak memasukkan tangan mungil Miki ke dalam bagian lengan baju bayi itu. Tak lupa penampilan Miki dipermanis dengan kaus kaki berwarna baby blue juga di kedua tungkainya.

“Woaahh, anak eomma tampan sekali,” seru Joohyun begitu Taekwoon selesai mendandani Miki. Taekwoon hanya tersenyum sambil memandangi Miki yang juga memandangi mereka.

“Ah, matta! Aku belum memiliki foto Miki. Akan kuambil ponselku dulu.”

***

Joohyun tersenyum memandangi akun SNSnya. Dia baru saja mengganti foto profilnya dengan foto Miki. Dia merasa sangat senang layaknya seorang ibu yang bangga memiliki anak yang tampan. Joohyun mengalihkan focus dari ponselnya, melihat Taekwoon yang sedang mengajak Miki bermain di atas kasurnya.

Miki memperhatikan Taekwoon dan tertawa kecil saat Taekwoon mendekatkan boneka singa kecil dan mengenai hidung Miki. Membuat Joohyun ikut tersenyum melihatnya. Taekwoon menggembungkan pipinya dan menutup wajahnya seakan dia sedang bermain petak umpet dengan Miki. Taekwoon akan bertingkah konyol kalau sudah menyangkut anak-anak. Miki tertawa girang saat Taekwoon membuka wajahnya, saking girangnya kakinya pun turut menendang-nendang.

“Woah, apa barusan Miki menendang?” seru Joohyun tidak percaya.

“Tentu saja, bayi berumur 3 bulan sudah bisa menendang dan,” Taekwoon menggendong Miki dan mendekatkannya dengan mainan yang terdiri dari bandul-bandul yang dapat berputar. Joohyun terkejut saat tangan Miki terulur dan menggoyangkan salah satu bandul mainan. “Dia juga sudah bisa menggoyangkan mainan,” ujar Taekwoon meneruskan.

“Woah, anak eomma hebat.” Joohyun menghampiri Miki dan mencubit pelan pipi gembulnya.

Joohyun mengamit Miki dari gendongan Joohyun. Dia mengayun-ayunkan perlahan Miki di gendongannya. Namun hal itu malah membuat Miki mengantuk. Telunjuk Joohyun menutup mulut Miki yang menguap. “Miki-ya, kau kelelahan sehabis bermain dengan Appa?”

Taekwoon menoleh mendengar perkataan Joohyun. Appa? Benar, sekarang dia adalah seorang Appa. Appanya Miki. Joohyun bergerak mendekati kasur. Miki sudah terlelap di gendongannya. Joohyun meletakkan Miki di atas kasur dengan hati-hati. Lalu dia meletakkan dua guling di samping kiri dan kanan bayi mungil itu.

“Yaah, Miki tidur lagi.” Joohyun menghampiri Taekwoon yang sedang merapikan baju-baju Miki.

“Jelas saja, dia tidur sampai 15 jam dalam sehari.”

***

Joohyun lelah sekali hari ini. Rasanya seluruh tubuhnya akan remuk saat itu juga. Akhir bulan memang waktu tersial karena banyak pekerjaan yang masih harus diselesaikan bulan itu juga. Terpaksa dia harus lembur padahal hari ini adalah hari pertama dia bekerja setelah menikah.

Begitu masuk ke dalam apartemen, Joohyun langsung naik ke lantai dua menuju kamar Miki. Pagi-pagi sekali dia tadi meninggalkan rumah karena ada panggilan mendadak dari kantor. Miki bahkan masih tertidur saat itu.

Tapi Joohyun heran saat menemukan kamar Miki kosong. Biasanya Taekwoon tidur di single bed itu. Dia juga sudah memeriksa box bayi Miki dan tidak menemukannya di dalamnya. Di mana mereka berdua?

Joohyun beralih pada kamar di seberangnya. Dan benar saja, dia menemukan kedua orang itu terlelap di ranjangnya. Taekwoon yang tidur dengan lengan kirinya memeluk Miki erat padahal sudah ada guling di sekeliling Miki agar dia tidak jatuh. Posisi Miki memiringkan tubuhnya dan setengah memeluk, tangan kecilnya berada pada dada Appanya. Sungguh pemandangan yang tenteram. Keduanya tidur dengan wajah yang damai. Joohyun membelai pelan kepala Miki, dia sangat merindukan Miki seharian ini.

Kemudian netranya mengamati sosok pria di samping Miki. Wajahnya saat tidur benar-benar seperti anak kecil. Joohyun tertawa pelan. Ya, pria itu tidak menyebalkan kalau seperti ini.

‘Taekwoon pasti lelah menjaga Miki seharian’

Tanpa sadar tangan Joohyun terulur dan menyingkap rambut yang menutupi wajah pria itu. Benar-benar, seperti anak kecil. Tenang, damai dan menyejukkan. Juga sangat…tampan.

Ah, apasih yang dia pikirkan. Sepertinya Joohyun terlalu lelah sampai berpikiran macam-macam. Sudahlah sebaiknya dia membersihkan diri lalu tidur. Joohyun hendak bangkit saat lengannya ditarik. Membuatnya jatuh terduduk lagi di ranjang, tapi fatalnya kini dia berhadapan dengan wajah pria itu.

Apa dia membangunkannya?

Apa yang akan dia lakukan?

TBC

Tyavi’s little note : Holaaaaa….. ini lanjutannya part 2. Maaf ya readers sekalian kalau author kelamaan. Maklumi saja author yang masih sibuk dengan kegiatan belajar huhuuu

Oiya gegara ff ini jadi pada pengen punya nampyeon kaya Taekwoon? Gaboleehhh Taekwoon sah punyaku /plakk/

Yasudahlah makin absurd aja author ini /efek stress belajar/ dan maap juga kalo cerita ini absurd maklum author masih belajar. Maap juga kalo Leo ganteng itu emang udah dari sananya.

Mind to leave a comment?

Advertisements

34 thoughts on “Accidentally Family [Chapter 2]

  1. oh my god! senyum2 sendiri baca nih ff. taekwoon malah lebih keibuan yha. dia sayang bgt sama miki. kayak anak sendiri.

    tapi, apa taekwoon beneran barista? kok aku ragu yha?

  2. Masasih Leo cuma seorang barista doang? Awal mulanya jadi appa – eomma miki nih yeeee~ udah pantes kok cuma kurang interaksi sama pasangan..

    • heumm cuma barista gak yaaa? tunggu aja kelanjutanya *Senyumevil
      iyaa nihh masih penganten baru wkwk
      duh iya dong kan ga saling suka dan belom begitu mengenal jadinya canggung hehe
      makasihh udah mampir dan komen yaaa Fatin ^^

  3. wait !???
    taek trbangun nh..
    hn..ayooo. mw ngapain hhee
    ska bgt am moment mereka brdua. chessyyy bgt. aplg prlakuan taekwoon pd Miki. mw dongg jd bayi jd bsa drawat am taek a.k a Leo hhee

    ouh trnyta leo seorg barista. uppss ak kurang yakin dh

    ok. next part dtunggu bgt

    • iyaaaa taek terbangun dan megang tangan irene…mau ngapain tuhh mau ngapainn
      waduhh appa leo mah beda kalo udh sama bayi, unyunya gak ketulungan hehe
      dirawat sama leo? waduhh wkwkwk
      iyaa ditunggu aja yaa ^^
      makasih udah baca dan komen ^^

  4. joohyun agak ceroboh juga sich mengadopsi bayi tapi belum ada persiapan baik atau belajar tata cara merawat bayi ini malahan taekwoon yang siaga dan telaten
    moga kedepannya dia bisa lebih banyak belajar
    nahhh kalo mereka pada bekerja siapa yang ngerawat miki

  5. Terimakasih tyaaa kamu udah ngasih tau aku mau ngepost chap 2 nya hr ini jd aku nunggu updatean mu dan yassss im first commenter! /lol gapenting/ /plak

    Aku nemu beberapa typo but gak terlalu berpengaruh lah sama jalan ceritanya hehe. DAN DUH JUNG TAEKWOON BISA GAK SIH STOP BEING SOOOOO HUSBAND MATERIALS😑😑😑😑 kesel bgt disini Taekwoon gentle bgt huhu
    But ada satu sih yg bikin aku penasaran, apa Taekwoon udah tau Miki itu bukan anak kandung Joohyun? Aduh semoga ini kejawab di chap 3 yaaaaa.
    Kutunggu next chapter ya tyaaaa💜💜💜💜

    • waduhhh sampe ditungguin 😀
      heummm…maklumlah nit namanya juga bikin tengah malem jadi mata suka siwer gitu :”v
      BETOOOLL BANGET! BANG TAEKWOON PLIS STHAP IT!
      tau gak yaaaa? /senyum evil/ tunggu aja kelanjutannyaa bhaakk wkwk
      makasihh nitaaaaaa ❤ ❤ ❤

      • Iya loh jarang jarang ada ff marriage-life yg plotnya kek gini hehe
        Duh spoiler deh spoileeeerrrrr penasaran banget tauk T_T yuk cepetan diupdate chap 3 nya wkwk /maksa /dipukulin miki/

        • masa sih nit? weheheh kan aku sukanya yang antimenstrim :v
          kok spoiler?? –”
          iya iyaa nit wkwk akan selalu kuusahakan cepat hehehe
          waduhh Miki baru umur 3 bulan udah bisa mukulin -_-
          makasih yooo nitaa ^^

          • Iya kalo bisa 1 chapter 1 hari /lo kira uang saku/ /plak/ wkwk pokoknya aku pembaca setia series ini kok tenang sajaaaa💜💜
            Ceritanya miki dapat turunan darah atletik dari bapaknya/? /lirik tajam leo/
            Wkkw iya sama-samaaa ^^

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s