Freak Family [ Part.4 ]

Freak Family_all part

  ♥Freak Family ♥ 


Written by Babyrosse


Cast | Park Jiyeon | Oh Sehun | Park Chanyeol | Oh Gyuwoon


Genre | Romance | Comedy | Family


Rated | Teens | Length | Chaptered

Disclaimer


Keep calm the story is belong to


Babyrosse©

.
.
.
.
.


Freak Family


Fic untuk nambah library

.
.
.


Hope you have a good day~

.
.
.



“Oemma! Chanyeol-aa! Senang kalian sudah datang!” seru Gyuwoon dari balik punggung Ayahnya yang membukakan pintu untuk kedua tamunya, atau lebih tepatnya Calon istri dan Calon anak tirinya.


“Hn, silahkan masuk.” kata Sehun sebagai kata sambutan.


Jiyeon tersenyum canggung membalas pelukan Gyuwoon yang diberikan padanya, ditambah Gyuwoon sudah memanggilnya ‘Oemma’.


“Oemma terlihat cantik seperti biasa!” puji Gyuwoon tulus.


Jiyeon tersipu, “Benarkah? Hihi…kau dengar itu Chaenyol-aa? Gyuwoon punya penglihatan yang sangat baik ‘kan?”


Chanyeol memutar bola matanya malas, mendesah hampir bersamaan dengan Sehun. Sehun menggelengkan kepalanya, Jiyeon hanya belum tahu jika Gyuwoon adalah seorang penjilat.


“Oemma, kau harus coba masakan special Appa untukmu!” sahut Gyuwoon riang menggamit lengan Jiyeon membawanya ke meja makan.


“Jang-jang! Semua ini Appa yang memasaknya!” seru Gyuwoon melebarkan tangannya memperlihatkan meja makan yang dipenuhi dengan masakan khas itali, tidak romantis memang tanpa adanya lilin tapi ini adalah makan malam untuk keluarga.


“Benarkah kau yang membuat ini? Daebakk…bagaimana kau tahu aku suka masakan Itali?” pekik Jiyeon tertahan dan menatap tak percaya kearah Sehun yang hanya mengangkat bahunya.


“Oemma-ku tidak bisa memasak samasekali, jauhkan dia dari dapur.” bisik Chanyeol pada Sehun, Sehun tak heran ada wanita yang tidak bisa memasak, karna dia mempunyainya satu dirumah ini, Gyuwoon putrinya.


“Iyy…Appa! Kenapa kau diam saja? Seharusnya kau menarik kursi untuk Oemma ‘kan?” kata Gyuwoon mengingatkan, Sehun hanya mendesis kesal lalu menarik kursi untuk Jiyeon sebelum kemudian dia sendiri duduk disampingnya.


“Appa bolehkan aku ikut menemui Kakek dan Nenek minggu depan?” tanya Gyuwoon mulai menyendok spaghetti dari mangkuk besar untuk Chanyeol.


“Tidak, kau harus Sekolah.” jawab Sehun, “Ini urusan orang dewasa.” tegasnya. Gyuwoon mengerucutkan bibirnya, mengangguk dibawah tatapan tajam Sehun.


Jiyeon menatapnya kasihan, ternyata Sehun adalah Ayah yang galak. “Kalau kau ingin ikut, kau bisa pergi bersamaku.” kata Jiyeon lembut.


“Eh? Aku boleh ikut?” tanya Gyuwoon, dan Jiyeon mengangguk mantap, “Chanyeol dan kau memang harus ikut.” tambahnya lagi.


“Ya! Kau akan pergi bersamaku, bagaimana mungkin kau seenaknya mengajak anak-anak?” protes Sehun.


“Gyuwoon kau tahu rumah Kakek-Nenekmu ‘kan? Kalau ‘dia’ tak mau mengajak kalian ikut, kita pergi bertiga saja…” balas Jiyeon santai. Dan terdengar gumaman tak jelas dari Chanyeol, meminta untuk tidak melibatkannya.


“Ya! Kau sudah gila?!” Sehun menatap horor kearah Jiyeon, “Ya! Kau juga, kau sudah berani menentang Appamu?” menunjuk Gyuwoon dengan garpu.


“Jika aku gila, aku tidak menjadi seorang Jaksa kau tahu!” sungut Jiyeon tersinggung.


Sehun meletakkan garpunya di meja dengan bunyi yang keras, “Aku sengaja membawamu kehadapan orangtuaku untuk memperkenalkanmu sebagai Calon Istriku, dan kau mau pergi tanpa aku? Baiklah…silahkan! Kau pergi saja sendiri!”


Jiyeon mendengus tertawa, “Che…kau pikir aku tidak berani pergi sendiri?! Aku-akan-pergi-sendiri!” balas Jiyeon dengan penekanan ditiap kata pada kalimat terakhirnya. Dia mengedip kearah Jiyeon yang mengeleng-gelengkan kepalanya takut melihat Ayahnya marah.


“Ini semua gara-gara kau…” desis Chanyeol—yang tahu-tahu sudah menghabiskan setengah Lasagna di piring—pada Gyuwoon “Kau pintar sekali, membuat mereka bertengkar dan pernikahan ini tidak akan pernah terjadi.” puji Chanyeol sarkatis.


Sehun dan Jiyeon keduanya saling tatap, Sehun tak pernah bertemu dengan wanita yang luar biasa keras kepala seperti Jiyeon sebelumnya. Pemikiran bahwa menikah dengannya adalah hal yang mustahil kembali bermunculan dibenaknya. Sehun tak suka ada orang yang menentangnya, tapi Jiyeon juga tak suka jika pendapatnya dibantah. Ide pernikahan ini tidak akan pernah berhasil.


“Nee…Gyuwoon-aa, kita akan pergi kerumah Kakek dan Nenekmu besok.” kata Jiyeon.


“Besok?!” ulang Gyuwoon, “T-tapi besok adalah hari…”


“Tidak bisa.” celetuk Sehun.


“B-E-S-O-K!” kata Jiyeon kekeh.


“Tidak bisa dan tidak boleh.” tegas Sehun berusaha untuk tidak melempar garpunya kearah Jiyeon.


“Huwee? Huwee…?! Memangnya ada apa dengan besok?!” tanya Jiyeon tak sabar, dia melirik sekilas kearah Gyuwoon yang menundukkan kepalanya dan rahang Sehun yang mengeras.


“……” Sehun menghela nafasnya, dan pura-pura sibuk menyendok Lasagna yang sudah hampir habis dimakan Chanyeol, “Menurut dan makan saja sebelum semuanya dihabiskan Chanyeol.”


Jiyeon memberi tatapan bertanya pada Gyuwoon yang melirik Ayahnya takut-takut. “Ngg…itu sebenarnya besok adalah peringatan hari kematian Oemma kandungku jadi kami─”


Ekspresi Jiyeon langsung melunak bahkan terlihat merasa bersalah. Sementara Chanyeol menatapnya seolah berkata, ‘Rasakan! Ini semua salah Oemma!’.


“A-aa…ngg…kalau begitu s-sebaiknya …ngg…” Jiyeon kembali menatap putranya meminta bantuan untuk mencairkan suasana buruk ini, tapi Chanyeol hanya mengangkat bahunya tak perduli.


“Hn, kita akan pergi menemui orangtuaku besok, kalau kau mau kau bisa langsung ikut menengok makam istriku.” kata Sehun datar.


“A-aa…iya!” Jiyeon menyatukan kepalan tangannya dengan wajah berseri yang dibuat-buat, “Itu ide yang bagus tentu saja! Ahahaha!” untuk pertamakalinya Jiyeon mau menurut terlebih pada seorang pria dan terlebih lagi pada seorang Pengacara.


“Ommo!! Jadi kita benar-benar akan pergi bersama?!” sahut Gyuwoon tiba-tiba, Sehun mengangguk dengan wajah sebal, “Assa! Besok kita akan berekreasi bersama!”. Chanyeol memutar bola matanya, bukannya tadi dia dia sedang sedih ya? Gadis gesrek pikir Chanyeol.


“Makanmu banyak tapi kau kurus sekali.” komentar Sehun melihat tangan Chanyeol sudah bergerak meraih sepiring esgaroutte sementara mulutnya masih penuh dengan lasagna yang baru dia habiskan.


“Kau harus tahu bahwa Oemma-ku adalah mahluk terpelit di dunia.” kata Chanyeol, “Banyak uang tapi tak berani membelanjakannya, itu sama saja dengan tidak punya uang.”


“Ya! Oemma menabungnya agar punya jaminan hari tua, kau tahu?” protes Jiyeon yang mendengarnya. “Haah…lagipula akhir-akhir ini harga semua barang naik dan mulai jarang ada diskon.” celoteh Jiyeon.


“Oemma, tenang saja selama masih ada Bank Dunia Oh Sehun semuanya bisa terbeli!” sahut Gyuwoon yang langsung mendapat delikan dari Ayahnya. “Kita bisa berbelanja sepuasnya nee?” khayal Gyuwoon, dari dulu dia sangat ingin bisa berbelanja pakaian bersama seorang Ibu, seperti teman-temannya. Jiyeon pun ikut menatap Sehun dengan mata berbinar seperti Gyuwoon. Jiyeon benar-benar beruntung bisa menikahi pria kaya seperti Sehun.

bibir seksy bibir seksy bibir seksy


“O-ommo! Bagaimana kau bisa melakukannya?!” pekik Gyuwoon menekan tombol segitiga pada stick PS-nya keras-keras membuat mobil yang dikendarainya terperosok menabrak gedung, sementara mobil milik Chanyeol melaju dengan mulus.


Chanyeol tersenyum senang setelah melewati garis finish, “Kau sebut dirimu gamers? Ck…ck…kau bahkan tak tahu code cheating-nya.”


Gyuwoon mengerucutkan bibirnya, “Curang! Kita ulangi!” seru Gyuwoon menekan opsi replay. Chanyeol terkekeh, tak percuma dia punya teman yang juga seorang gamers seperti Baekhyun.


“Apa yang kau lakukan?”


“Ng?” Jiyeon menoleh dari kegiatannya menonton putranya bermain game bersama Gyuwoon─yang segera akan menjadi putrinya. “Sedang mandi, memangnya kau lihat aku sedang apa?” sahut Jiyeon ketus.


“Ya! Bukankah seharusnya kau membantuku membereskan ini semua?” kata Sehun memasang celemek bersiap mencuci piring. “Kau masih menyebut dirimu seorang wanita?─pantas saja tak yang ada mau menikahimu.” yaah…Sehun memulainya lagi.


Jiyeon bangkit berdiri, “Ya sudah…batalkan saja pernikahannya! Tapi ingat saja kau telah mencampakkan seorang wanita tak bersalah sepertiku!”


Sehun melempar sebuah celemek kewajah Jiyeon, ternyata dia lebih merepotkan dari yang Sehun bayangkan dan bahkan Sehun tak tahu apa benefitnya menikahi wanita seperti Jiyeon. “Pakai dan cucilah semua piring itu!”


“Ya! Kau pikir aku adalah pembantumu?!” protes Jiyeon.


“Atau hanya perasaanku saja tapi mereka sepertinya menikah dengan terpaksa.” celetuk Gyuwoon disela-sela permainannya dan mendengarkan omelan Sehun-Jiyeon dari dapur.


“Jadi otakmu baru mulai bekerja?” sindir Chanyeol, menginjak kaki Gyuwoon untuk mengganggu konsentrasinya.


“Ya! Bagaimanapun juga aku ini adalah Kakakmu tahu, hormatilah aku sedikit oeh?” Gyuwoon balik menendang kaki Chanyeol, dan keduanya kini saling tendang seolah tak mendengar suara piring pecah dari dapur. Untuk pertama kalinya, kediaman Oh Sehun terlihat lebih ramai dari biasanya dan mungkin akan terus berlanjut untuk ke depannya.

bibir seksy bibir seksy bibir seksy


Itaewoon, 09:30 AM


Jiyeon hanya tersenyum meringis, kakinya terasa pegal karna bersimpuh selama dua jam lebih dan otot pipinya pun terasa sakit karna terus tersenyum di hadapan calon mertuanya—Ibu dan Ayah dari pria yang akan menikahinya, Oh Sehun.


Jiyeon ingin berteriak kencang, Sehun bilang bahwa orangtuanya adalah orang yang ramah. Benar mereka adalah orang yang ramah terutama Ibunya yang dulunya satu profesi dengan Jiyeon, yaitu seorang Jaksa. Tapi Sehun tak pernah bilang kalau orangtuanya adalah penganut aliran kuno, dimana saat bertemu dengan para tetua harus duduk bersimpuh. Tch…ingatkan Jiyeon untuk balas dendam padanya.


“Sebenarnya sudah lama kami meminta Sehun menikah, apalagi Gyuwoon terus merengek pada kami. Kau benar-benar pintar mencari istri nee, Sehunnie?” kata Ibu Sehun, Oh Jin Hye─yang masih terlihat muda diusia kepala 7-nya.


“Jangan terlalu mempersalahkan status jandanya, Sehun. Bagaimanapun dia tetaplah seorang wanita walaupun perceraian sebenarnya adalah hal tabu dalam keluarga kita.” Ayah Sehun, Oh Chang Min tersenyum tipis kearah Jiyeon yang meneguk ludah pahit diingatkan tentang perceraiannya.


Sehun mengangguk pelan, “Nee, Appa…” Sehun memang tak pernah mempersalahkan status janda Jiyeon yang dia permasalahkan adalah lebih pada kepribadian Jiyeon yang sangat mengkhawatirkan (?) dan hubungan tanpa cinta mereka.


“Kau adalah seorang Pengacara dan Istrimu Jaksa aku tahu itu akan berat, tapi jangan membawa pertengkaran di pengadilan sampai ke rumah, kau mengerti itu Sehun? Kau adalah Kepala Keluarga sudah menjadi kewajibanmu untuk melindungi keluargamu.” lanjut Oh Changmin memberikan petuah bagi anaknya yang segera menikah ─lagi.


“Nee, Aku mengerti…”


“Iyy…suamiku, bagaimana kau bisa bilang begitu? Jelas-jelas mereka saling mencintai, kau lihat sendiri ‘kan?” kekeh Oh Jin Hye, Jiyeon berani bersumpah bahwa dia jelas melihat Ibu mertuanya itu mengedip menggoda padanya.


“Ahahaha…nee itu benar sekali.” Jiyeon tertawa garing dan menepuk-nepuk pundak Sehun sebagai tanda bahwa dia sudah tak kuat untuk duduk lebih lama lagi. Pura-pura tak mengerti Sehun malah mengajak Ayahnya untuk bicara lebih banyak lagi. Dan Jiyeon benar-benar bersumpah akan balas dendam kelak.


Setelah mendengar cerita pernikahan Sehun dengan mendiang istrinya dulu─yang tak Jiyeon dengarkan sepenuhnya─dan nasehat lama tentang pernikahan, barulah ada tanda-tanda bahwa mereka akan keluar dari ruangan berlantai tatami ini.


“Nah, menantu aku ingin sekali mencicipi masakanmu buatlah sesuatu di dapur untuk makan siang…” kata Oh Chang Min sambil mengipasi wajahnya, “Aigoo…aku ingin melihat wajah cucuku dulu.” lalu dia bangkit berdiri agak tertatih dan menggeser pintu yang berbatasan langsung dengan halaman belakang, meninggalkan Jiyeon yang menatapnya horor.


Oh Jin Hye pun menyusul suaminya dan masih sempat berbisik pada Jiyeon sambil tersenyum lembut, “Buatlah sesuatu yang istimewa, daripada nasi biasa lebih baik buatlah nasi dengan kukusan kacang hitam dan kedelai selain itu dia menyukai sup teratai dingin…”


“A-aa…tapi aku tidak bisa─”


Sregg…


Pintu menggeser tertutup bersamaan dengan hilangnya Ibu Sehun.


“─memasak.” Jiyeon langsung menatap Sehun yang menyeringai padanya. “Ya! Kau mengejekku?! Kau sengaja melakukan ini padaku ‘kan?!”


“Che … dasar Jaksa, tak pernah mau menjadi pihak yang salah.” rutuk Sehun pelan.


“Aku bisa dengar tahu!”


“Lalu kau tunggu apa? Dapur ada disana.” melipat kedua tangannya Sehun mengedikkan dagunya kearah pintu keluar. Merasa ditantang, Jiyeon segera bangkit berdiri dengan kaki yang kesemutan. “Perlu bantuanku, Nona Park?”


“Huh!” Jiyeon membuang muka, “Jangan remehkan aku ya!” katanya lalu menggeser pintu dan keluar.


Sehun tersenyum geli, memang benar-benar wanita yang keras kepala. Tak lama pintu kembali tergeser membuka, dan Jiyeon masih berdiri disana mengelus-elus tengkuknya. “S-sebelah mana letak dapurnya?”

bibir seksy


“Sudahlah Harabeoji, kau sudah tak punya jalan lagi…” kata Chanyeol setelah mengambil bidak shogi kesekian milik Oh Chang Min.


Oh Chang Min memainkan kipasnya, dahinya berkerut. “Aigoo…sudah lama aku tidak bermain shogi seserius ini.” decaknya memuji keahlian Chanyeol bermain shogi.


“Otte? Cantik ‘kan? Appa pintar sekali mencari Istri oeh?” kata Gyuwoon sambil mengupas jeruk pada Neneknya yang duduk tak jauh dari Kakeknya yang sedang bermain shogi dengan Chanyeol.


“Hn… dia sangat cantik dan terlihat pintar, dia seorang Jaksa yang berbakat─Aiishh…akhirnya kau bisa merayu Appa-mu nee?” ujar Neneknya gemas mencoel hidung Gyuwoon.


“Waah…waah…kau kalah Appa? Ini pertamakalinya.” sahut Sehun tiba-tiba muncul dan melihat dahi Ayahnya berkeriut.


“Aku masih belum kalah!” protesnya mengibas-ngibaskan kipasnya.


“Ya! Kau sudah kalah empat kali Harabeoji!” celetuk Chanyeol.


“Ommo…empat kali?” ulang Sehun, Chanyeol mengangguk sambil bergumam bahwa ini membosankan, “Anak pintar.” Sehun tersenyum dan mengacak rambut Chanyeol. Untuk sesaat rasanya Chanyeol benar-benar memiliki seorang Ayah seperti yang selalu dibayangkan. Seorang Ayah yang memuji kejeniusannya.


“Dimana Oemma?” tanya Gyuwoon menyuapkan potongan jeruk kemulut Neneknya.


“Di dapur, memasak makan siang.” jawab Sehun. Gyuwoon berseru girang karna akhirnya bisa makan masakan seorang Ibu, sementara Chanyeol hanya menghela nafas panjang dan merutuki dirinya yang tak membawa obat sakit perut.

bibir seksy


Menatap prihatin kearah sesuatu kehitaman di piring keramik berukir, Jiyeon akhirnya meletakkan ikan salmon itu bersama masakannya yang lain di meja. Dibantu oleh seorang pembantu dirumah ini Jiyeon menyiapkan meja untuk makan siang.


“Hiiks…matilah aku…” isaknya pelan saat satu pembantu datang membawa mangkuk besar berisi nasi─yang lebih mirip bubur─buatan Jiyeon.


“Nyonya saya permisi dulu, saya akan memanggil yang lain untuk segera makan siang.” kata pembantu itu membungkuk pelan pada Jiyeon sebelum pergi.


“Otteokhe…?” gumamnya pasrah, bahunya mencelos bagaimanapun dia berusaha, memasak bukanlah bakatnya.


Suara derap langkah dan ocehan Gyuwoon mulai terdengar di koridor sebelah, Jiyeon merapikan letak sumpit untuk yang terakhir kali sebelum duduk manis dan menyambut semuanya dengan senyuman yang juga tak kalah manisnya.


Aroma hangus dan pahitlah yang menyambut sisa anggota keluarga saat masuk keruang makan. Hanya Chanyeol satu-satunya mahluk yang mengenal baik aroma ini, aroma masakan Oemmanya.

bibir seksy


Oh Chang Min hanya mengaduk-aduk sup teratai dinginnya, agak ragu dengan penampilannya yang mengenaskan. Demi kesopanan Oh Jin Hye dengan berani menggigit kue beras yang bewarna kehitaman kebanyakan kecap, alih-alih tersenyum dia berjengit kearah Jiyeon.


“Hee…itu resep special kue beras dariku.” ucap Jiyeon tersenyum miris dan Oh Jin Hye hanya mengangguk-angguk.


“Oemma…ini apa?” tanya Gyuwoon menunjuk sesuatu dipiring yang terlihat seperti kerikil dengan sumpitnya.


“Ahh…itu adalah kacang hitam, sayang.” jawab Jiyeon menyodorkan pada Gyuwoon. Sehun mengeleng-gelengkan kepalanya, tak menyentuh satupun makanan dimeja sama seperti Chanyeol.


“Ck…ck…kau bahkan lebih bodoh daripada Gyuwoon.” desis Sehun.


“Diam kau…” balas Jiyeon sambil terus mengumbar senyum pada calon mertuanya. Great Jiyi…kesan pertama yang sangat baik. Tapi setidaknya Oh Chang Min mendapat satu pelajaran berharga untuk tidak menyuruh menantunya, Park Jiyeon memasak lagi. Begitupun Gyuwoon, sekarang dia tahu tak semua masakan seorang Ibu bisa dimakan.

  bibir seksy bibir seksy bibir seksy


“Huwaaah…”


Gyuwoon menguap lebar-lebar menatap layar proyektor yang menceritakan sejarah PD II di depan kelas. Tangannya mencoret-coret bukunya, menghitung hari pernikahan Ayahnya yang tinggal dua minggu lagi setelah meminta hari baik pada pendeta. Gyuwoon menyukai keluarga barunya itu meskipun tiap kali bersama, Ayah dan calon ‘Ibunya’ akan selalu bertengkar mulut.


“Psstt…Sooyoung-aa, kau jadi ikut hari ini ‘kan?” Gyuwoon menyikut lengan Sooyoung yang duduk disebelahnya.


“Hn?”


“Hari ini Oemma-ku akan melakukan pitting gaun, ayolah kau harus ikut…kau akan menjadi salah satu bridesmaidnya ‘kan?”


Tangan Sooyoung yang sudah terbebas dari gips sejak dua minggu yang lalu menepuk kepala Gyuwoon pelan, “Aku sudah bilang padamu, hari ini aku harus membantu Ayahku di klinik milik Bibi.”


“Booya… memangnya sebanyak apa sih orang yang sakit?” gerutu Gyuwoon, mengeluarkan handphonenya dari saku rok dan mulai mengetik sesuatu dengan cepat.


“Karna kekurangan relawan Bibi memanggil Ayah dan aku, jadi aku tidak bisa─”


“Jang-jang!” Gyuwoon memperlihatkan layar handphonenya kehadapan Sooyoung, sebuah pesan singkat dari Ayah Sooyoung.


Nee…Gyuwonnie yang manis


kau boleh pinjam Sooyoung tapi jangan sampai larut malam oke?


“Aiish…kau bilang apa saja ke Ayahku he?”


Gyuwoon terkekeh pelan, “Kau juga akan bertemu dengan Adik tiriku, dia manis sekali lhoo…”


bibir seksy bibir seksy bibir seksy


Melangkah masuk kedalam sebuah rumah mode ternama di salah satu sudut pusat perbelanjaan daerah Gangnam, kedua gadis berseragam biru itu tersenyum senang. Ah…salah, yang satu lagi menekuk wajahnya dalam-dalam dia lebih memilih untuk membantu Ayahnya di Rumah Sakit daripada harus ikut Gyuwoon.


“Iyy…tersenyumlah Sooyoung-aa, Ayahmu sudah mengijinkannya—Ahh…Oemma!” seru Gyuwoon melambai semangat pada sosok wanita yang sedang dibantu oleh beberapa pegawai merapikan ujung lipatan gaun bewarna putih mengembang yang cantik.


“Kau sudah datang? Auw—“ Jiyeon meringis kecil saat salah satu pegawai menarik kasar ujung korsetnya kana sempit di tubuhnya, “—dimana Chanyeol? Dia tidak datang bersamamu?”


“Chanyeol bilang dia masih ada kegiatan club tapi sebentar lagi akan pulang, Ahh…Oemma ini Choi Sooyoung temanku yang akan menjadi bridesmaid.” kata Gyuwoon, Sooyoung tersenyum kearah calon Ibu sahabatnya itu.


“Aah! Bukannya kau putri Dokter Choi?” Jiyeon tiba-tiba teringat putri Dokter yang kasusnya pernah dia tangani.


“Nee? Anda mengenal Ayahku?”


“Tentu saja, saat ada kasus pasien yang menuntut Ayahmu akulah yang menangani. Waktu itu aku ingat sekali Ayahmu sangat berterimakasih padaku dan mentraktirku—“


“Ehem?” ocehan Jiyeon terpotong oleh calon putrinya sendiri, Gyuwoon jelas terlihat tak suka Jiyeon membicarakan laki-laki lain selain Ayahnya—Oh Sehun.


“Ommo! Tidakkah kalian pikir gaun ini agak berlebihan?” kata Jiyeon mengalihkan pembicaraan dan tertawa pelan. Gyuwoon hanya mengangguk tak jelas, moodnya sedang tidak baik.


“Tidak anda terlihat sangat cantik, Bibi…” puji Sooyoung tulus.


“Hihi…benarkah? Aissh…jangan panggil aku Bibi panggil saja aku Noona, oke?”


“Ahaha baiklah…” balas Sooyoung canggung, diliriknya Gyuwoon yang menatapnya kesal dengan bibir mengerucut, “Huwee?” Sooyoung mengangkat bahunya dengan ekspresi kesal Gyuwoon padanya.


bibir seksy


Mengendari sepedanya dengan kedua tangan berada pada PSP yang dia mainkan, Baekhyun masih sempat untuk mengomel. “Kenapa kau menyeretku untuk ikut sih? Sore ini aku ada jadwal battle tahu!”


“Hn, berisik.” respon Chanyeol yang menganyuh sepedanya disisi Baekhyun. Saking maniaknya, Baekhyun memang selalu mengendarai sepeda tanpa perlu memegang stangnya. “Ini juga permintaan Oemma-ku yang cerewet, lagipula mana mungkin ‘kan aku masuk ke butik wanita sendirian?”


“Oeh, kurasa itu bagus sekali pasti orang akan mengira kalau yang menikahi Oemma-mu.” kata Baekhyun agak ketus—masih tak suka dengan ide ikut bersama Chanyeol.


Melewati para pejalan kaki yang mengomel pada mereka karna mengendari sepedanya sembarangan, terutama Baekhyun tapi dia tetap memainkan PSP-nya dengan santai.


“Ya! Kau tidak ikut masuk?” tanya Chanyeol dengan nada protes saat dilihatnya Baekhyun tak kunjung turun dari sepedanya.


“Oeh…kau saja yang masuk, kau hanya memintaku untuk mengantarmu ‘kan?” Baekhyun nyengir sebentar sebelum kembali sibuk dengan PSP-nya. Chanyeol menggeram kesal, menendang ban depan sepeda Baekhyun yang menghalangi pintu masuk rumah mode itu dan masuk kedalam.


Oemmanya sudah berada di dalam dan Gyuwoon juga, tapi dari jauh pun Chanyeol tahu bahwa Gyuwoon sedang kesal karna dia hanya duduk di sudut sofa melipat kedua tangannya.


“Chanyeol-aa syukurlah kau sudah datang!” seru Jiyeon yang sudah sudah mencoba gaun ketiganya, ekspresinya terlihat lega “Sttt…Oemma sepertinya sudah salah bicara, bisakah kau hibur dia sebentar hmm?” mengedik kearah Gyuwoon yang duduk disudut.


Chanyeol memutar bola matanya malas, “Biarkan saja…nanti dia pasti akan berubah jadi orang gila lagi.”


Jiyeon memukul pelan lengan putranya, “Jangan bicara seperti itu! Dia adalah Kakakmu tahu!”


Saat Chanyeol ingin menghampiri Gyuwoon, Gyuwoon sudah berdiri dan berjalan keluar mengatakan akan membeli minum sebentar. “Memangnya Oemma sudah bicara apa sih?” tanya Chaneyol menatap punggung Gyuwoon.


“Gyuwoonie! Gyuwoonie tunggu sebentar sayang!” panggil Jiyeon tapi Gyuwoon pura-pura tak mendengarnya. “Ahh…dia pasti marah, semoga dia baik-baik saja…” desah Jiyeon yang tak bisa menyusulnya karna gaun yang dipakainya saat ini sangatlah berat.


“Bibi, bagaimana dengan yang ini?—Ehh…dimana Gyuwoon?” Sooyoung yang baru keluar dari salah satu tirai dengan gaun peach menyadari tak melihat kehadiran Gyuwoon lagi.


“Kyaa!! Kau manis sekali Sooyoung-aa!!” pekik Jiyeon perhatiannya teralih oleh Sooyoung, “Kakimu bagus sekali…ahh, aku jadi iri!” puji Jiyeon.


Sooyoung hanya meringis, mengelus-ngelus tengkuknya sampai pandangannya tertuju pada namja yang berdiri disebelah Jiyeon yang juga terus menatapnya. Melihat arah tatapan Sooyoung, Jiyeon tersenyum penuh arti. “Ahh…ini adalah putraku Park Chanyeol—Dia cantik bukan? dia adalah teman Gyuwoon…” Jiyeon menyikut lengan putranya.


Chanyeol merasa pernah melihat gadis bergaun peach itu, wajahnya terasa familiar. Dan saat setengah ingatannya kembali, Sooyoung sudah menunjuk kearahnya dengan mulut membuka tak percaya.


“K-kau anak yang melompat dari jendela itu ‘kan?!”


Chanyeol meneguk ludahnya, pahit.

bibir seksy


Gyuwoon berjalan menuju pintu keluar dengan menghentak-hentakkan kakinya, dia kesal. Dia kesal pada Ayah Sooyoung. Ayah Sooyoung yang bernama Choi Siwon itu, yang punya wajah tampan itu—tapi lebih tampan Ayahnya sendiri. Dia kesal pada Siwon ajjushi karna Oemmanya—lebih tepatnya calon Oemma—tertarik padanya. Dan dia tak suka jika Oemmanya nanti melirik pria lain selain Ayahnya.


Braakk!!


Gyuwoon membuka pintu kaca butik dengan gerakan kasar, membuat Baekhyun yang yang memarkir sepedanya disana jatuh terjungkal—kaget.


“Aduduh—Ya?! Kau bisa lihat—“


“Huwaaa…!!”


Baekhyun meneguk ludahnya, dia yang terjauh tapi gadis yang membuka pintu itu yang menangis? Ditambah tangisannya kencang sekali.


“Huwaa…huwaaa…!!”


“O-oi…kenapa kau menangis? Aduduh…setidaknya bantu aku berdiri baru boleh menangis!” protes Baekhyun meringis mengambil PSP-nya yang terjatuh.


“Hiks…” Gyuwoon mengusap pipinya yang basah dan menjulurkan tangannya membantu Baekhyun untuk berdiri.


“Nah! Gara-gara kau aku gagal mengalahkan rekorku sebelumnya!” rutuk Baekhyun mengacungkan PSP-nya, tak berani terlalu marah karna dia yakin bahwa gadis di depannya bisa menangis lagi.


“Hikss…aku memang tidak berguna…hikss…bahkan Appa tidak mengijinkanku menjadi bridesmaid…hikkss dan malah menyuruh Sooyoung…hikss… aku memang tidak berguna dan bodoh…” isak Gyuwoon meratap, sementara Baekhyun hanya mendengarkannya sambil lalu karna sibuk membersihkan debu dari PSP-nya dan memeriksa keretakannya. “Ya! Kau bahkan tidak mendengarkanku!”


Baekhyun terlonjak dan nyengir memamerkan deretan rapi giginya, “Hee…kalau mau curhat sebaiknya kau temui saja sahabat perempuanmu.”


“Hiks…bahkan orang tidak dikenal sepertimu pun mengabaikanku…hikss…lalu adikku Chanyeol pasti juga mengabaikanku hikss…hidup ini menyebalkan sekali hikss…” ratap Gyuwoon lagi.


“Ukh?! Jangan-jangan kau Kakak tiri Chanyeol?!” tuding Baekhyun, tiba-tiba melupakan PSP-nya. Gyuwoon memicingkan matanya, menatap namja babyface dengan senyum pepsodent di depannya dan menyadari bahwa dia memakai seragam Sekolah Seika. Lumayan, namja ini lumayan manis pikir Gyuwoon.


“Oi…oi…kau baik-baik saja?” tanya Baekhyun mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Gyuwoon. Gyuwoon segera tersadar, “Ngg…sudah dulu ya, katakan pada Chanyeol kalau aku pulang duluan.” Baekhyun mengambil sepedanya biru elektriknya yang terjatuh ditanah.


“Eh…tunggu dulu!” cegah Gyuwoon sebelum Baekhyun naik ke sepedanya, “Aku belum tahu namamu—“


“Heei…minggir dari sana!” terdengar teriakan Chanyeol dan pintu butik itu kembali menjeblak terbuka.


Chanyeol dibantu oleh dua orang pegawai lain terlihat memapah Jiyeon yang masih mengenakan gaun pengantin, dibelakangnya Sooyoung berlari tertatih dengan gaun berat yang menganggu. “Cepat panggilkan taxi!” teriak Chanyeol panik.


“O-oemma?! Apa yang terjadi?!” Gyuwoon merendengi Chanyeol yang memapah Jiyeon dalam kondisi tak sadarkan diri. “Oemma… apa yang terjadi dengannya?!”


Sebuah mobil kuning cerah berhenti tepat saat seorang pegawai melambaikan tangannya, dan dengan cepat mereka membawa masuk Jiyeon kesana. Gyuwoon terlihat lebih panik daripada Chanyeol.


“Cepat hubungi Ayahmu, Oemma-mu tiba-tiba pingsan. Kita akan membawanya kerumah sakit, tenang saja…” kata Sooyoung menepuk pundak Gyuwoon.


“A-ah iya…”


“Gyuwoon-aa…kami akan pergi, sebaiknya kau hubungi Appa oeh!” sahut Chanyeol sebelum menutup pintu taxi dengan dia ada di dalamnya. “Baekki, tolong urus Gyuwoon sebentar ya!”


“Eh? Aku?”


Sebelum Baekhyun sempat protes, taxi yang Chanyeol tumpangi sudah melesat pergi. Sooyoung dengan cepat menyetop satu taxi dan naik di dalamnya. “Ayo…Gyuwoon cepat kita susul mereka—Ya! Kau lihat apa? Cepat masuk juga cebol!” suruh Sooyoung.


“A-apa cebol?” ulang Baekhyun tapi anehnya dia menuruti kata-kata Sooyoung dengan masuk kedalam, tak lupa menarik tangan Gyuwoon agar ikut.


Tangan Gyuwoon bergetar sambil terisak mengambil handphone dari sakunya, “Hikss halo…Appa?”

  bibir seksy bibir seksy bibir seksy


♥To be continued ♥ 


♥ Gommenasai makin gaje, lanjut part 5 ya~♥ 




Oh ya bagi yg tau  tolong bantu jawab ya…


Sebenernya abis ngucapin sebuah kalimat  example : “Baby makan nasi.” ujar Chanyeol

Nah itu kata ‘ujarnya’ pake huruf kapital gak sih? ato huruf kecil? trus klo abis tanda baca dikasih spasi ‘kan ya?

Gommen Baby masih belajar dan klo diperhatiin itu typo bertebaran ehehe. Makasi buat yg bantu jawab 🙂 dan terimakasih juga untuk yang ngeluangin waktunya untuk baca FF absurd bin gaje ini 😀
see you in the next chap ya—muacch bibir seksy

Advertisements

24 thoughts on “Freak Family [ Part.4 ]

  1. Astaga msakan jiyeon ancur bnget sih wkwkw,,, ksian chanyeol smpai skt perut gitu mkan masakan ibunya… Omoo jiyeon knp pingsan,, apa ada hbunganya kehamilan dia ya smpai pingsan gitu..

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s