[ONESHOT] JUST THREE WORDS

just-3-words

Tittle : Just Three Words

Author : IRISH

Main Cast : Kim Jongin of EXO, OC’s Im Myungin

Genre : Fantasy, Romance

Rate : PG-16

Length : Oneshoot

“..Kau adalah pelengkap hidupku, setengah bagian hidupku yang selama ini hilang.”

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Jongin’s Eyes..

BRUGK.

“Ah, mianhamnida, aku tidak melihat jalan..”

Aku memandang kepergian sosok yang baru saja menabrakku. Seorang yeoja, dengan tinggi tidak melebihi bahuku, tubuh yang tidak terlalu kurus, rambut panjang yang di gelung kecil dan membuat tengkuk yeoja itu terlihat jelas.

Ia tidak berubah. Bahkan setelah empat tahun, Ia masih cantik, seperti saat terakhir kali aku melihatnya. Tanpa sadar aku melesat mengikuti yeoja itu, Ia tampak melangkah tergesa-gesa ke halte, dan sesampainya dia di halte, aku memutuskan untuk berdiri di seberang jalan. Kenapa? Karena aku bisa melihat wajahnya dengan jelas jika aku ada di seberang jalan.

Ia berdiri, dengan ekspresi yang masih sama dan sangat aku rindukan. Melihat wajah cantik itu, membuatku teringat kejadian empat tahun silam yang membuat segalanya jadi kacau. Kejadian yang membuat aku tidak lagi bisa mendekati yeoja itu.

Padahal aku sangat merindukannya. Aku rindu mendengar caranya berbicara yang terkesan tergesa-gesa, aku rindu mendengar suaranya yang jernih seperti aliran air, aku merindukan sentuhan dari jemari-jemari nya yang dulu sering melingkar di lenganku, aku rindu bahu mungilnya yang dulu selalu kurangkul. Aku rindu senyumnya yang selalu beradu dengan senyum dari matanya yang begitu cantik.

Dan lebih dari semua itu, aku rindu kehangatan yang selalu Ia berikan saat ada di dekatku. Saat aku mendekapnya. Saat Ia menangkupkan kedua telapak tangan mungilnya di wajahku. Juga saat ku temukan bibir kami bertemu. Dan melihat Ia tersipu malu. Aku merindukannya. Aku tidak pernah lelah merindukannya.

Tidak ada satupun ingatan tentangnya yang membuatku merasa lelah, atau pun bosan. Semua hal tentangnya selalu membawaku ke dunia lain yang tidak aku mengerti. Membawaku ke dalam momen yang tidak ingin aku akhiri.

Semuanya begitu sempurna, sampai Ia tau siapa aku sebenarnya. Dan Ia berhasil meluluh lantakkan perasaanku ketika Ia mengatakan bahwa Ia tak ingin melihatku lagi. Ia membenciku. Ia benci kenyataan bahwa aku tak sama dengannya.

Tapi aku tau bibir mungil itu telah berbohong. Aku tau Ia merasakan hal yang sama denganku. Aku yakin Ia merindukanku dengan tingkat kerinduan yang sama. Karena jika aku salah, Ia tidak akan tetap sendirian seperti ini sampai empat tahun.

Dan saat bulan lalu aku melihatnya berdiri di tempat penuh kenangan milik kami berdua, satu ingatan indah tentangnya kembali berputar, membuatku tau bahwa Ia.. masih tidak bisa melupakanku.

“Kau tau Myung-ah, aku memang suka memaksa.”

“Mwo!?”

“Dan karena aku suka memaksa, apapun yang terjadi, hanya aku yang boleh memutuskan hubungan kita.”

“Bagaimana bisa begitu? Bagaimana kalau kau yang melakukan kesalahan? Kalau kau selingkuh? Atau kau meninggalkanku?”

“Akan ku pastikan tidak akan ada satupun dari hal itu terjadi.”

“Cih, kau percaya diri sekali.”

Aku masih ingat bagaimana bibir mungil itu merengut saat Ia kalah berdebat denganku. Sampai akhirnya dengan gemas aku mendaratkan ciuman kecil disana, membuat kedua pipi yeoja itu bersemu merah.

Ah. Aku tidak pernah mengerti bagaimana manusia bisa tergila-gila satu sama lain sampai aku merasakan hal seperti ini padanya.

Im Myungin. Gadis bernama aneh yang sejak awal kepindahanku ke kota ini sudah menatapku dengan tatapan curiga dan tidak bersahabat. Seorang teman sekelas yang selalu berusaha mengerjaiku bersama yang lainnya, yang selalu bersemangat saat melihatku terkena jebakan, dan akhirnya memberi perhatian lebih padaku saat tanpa sengaja Ia melukaiku dengan tangannya sendiri.

Perhatian yang awalnya Ia tunjukkan sebagai permintaan maaf, sampai akhirnya Ia mulai melindungiku dari anak-anak yang berusaha mengerjaiku. Dan saat akhirnya kami sama-sama di hukum dan mengalami kejadian yang membuatku tertarik padanya.

Ah, tidak. Aku sudah tertarik padanya dari awal kemunculannya, saat melihat yeoja itu muncul dengan rambut berhighlight merah muda menyala yang terlihat berantakan. Aneh, tapi unik. Terutama karena Ia punya minus yang sangat parah dan tidak bisa melakukan apapun tanpa kacamata berlensa tebalnya.

Diam-diam aku kembali teringat pada malam saat kami berpisah. Ketika hubungan diantara kami baru saja terjalin, dan dimalam harinya aku malah hampir membunuhnya dengan melukai leher nya dengan taringku. Hal terbodoh yang pernah aku lakukan.

Aku memejamkan mataku, ingin sekali melupakan kejadian pahit itu. Kejadian yang membuat Myungin membenciku. Siapa yang tidak akan membenci orang yang berusaha membunuhnya?

Tapi empat tahun ini aku sadar, Myungin tidak hanya merebut perhatianku, Ia mengambil setengah hidupku bersamanya. Ia membawa semua ingatan dan bagian menyenangkan dalam hidupku. Menyisakan luka dan penderitaan selama empat tahun ini.

Dan akhirnya, aku memberanikan diriku untuk kembali. Kembali untuk meminta separuh hidupku yang sudah Ia ambil.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes..

Myungin melangkah pelan menyusuri trotoar. Langkah pendek gadis itu terlihat hati-hati, di tangannya terdapat sebuah kacamata yang lensanya terlepas satu. Beberapa kali terdengar helaan nafas berat dari mulut yeoja itu. Hari ini benar-benar mengesalkan baginya.

Setelah file-file nya hilang secara tiba-tiba, entah yeoja itu lupa dimana menaruhnya, atau itu sabotase, gadis itu tidak habis pikir kenapa di jam selanjutnya Ia harus mendapat amukan dari bosnya, juga dari pelanggannya.

Seolah belum lengkap, saat berganti pakaian, yeoja itu lupa melepaskan kacamatanya dan benda itu sukses jatuh di lantai dengan bonus, lensa terlepas.

Sekali lagi yeoja itu menghembuskan nafas berat, dan akhirnya berdiri di halte, berharap Ia tidak akan salah naik bus karena penglihatan yang sangat pas-pas an terutama dimalam hari seperti ini.

“Im Myungin.”

Myungin menoleh saat mendengar seseorang menyebut namanya dengan cara yang sangat dikenalnya. Yeoja itu menyipitkan matanya, berusaha menebak siapa yang memanggilnya.

“Jaehyun? Kaukah itu?”, ucap yeoja itu akhirnya saat Ia tidak bisa menebak sosok yang berdiri sedikit jauh dari tempatnya sekarang. Ia ingat Ia sudah meminta salah satu teman di sebelah apertemen kecilnya untuk membawakan kacamata untuknya.

Sementara sosok itu akhirnya memberanikan diri untuk melangkah mendekati Myungin, dan mengulurkan sesuatu yang membuat Myungin tersenyum lega.

“Oh astaga, suaramu terdengar berbeda Jaehyun-ah.”, ucap Myungin saat menerima sebuah kacamata di tangannya, dan dengan segera yeoja itu memasang kacamatanya.

“Aku bukan Jaehyun.”

Myungin menoleh kaget, dan seketika yeoja itu terbelalak.

“N-Neo..”

“Lama tidak bertemu, Myung-ah..”

“J-Jongin..”

Namja berkulit gelap itu tersenyum tipis, menunggu reaksi selanjutnya dari gadis yang empat tahun lalu berlari ketakutan dengan darah segar mengalir dari lehernya. Gadis yang berteriak mengusir namja itu dengan suara yang sangat ketakutan.

Gadis yang tidak muncul di sekolah mereka sampai empat hari, dan kembali ke sekolah, namja itu sudah pergi, benar-benar menuruti keinginan gadis yang sangat disayanginya itu, menjauh.

“Minusmu masih sama seperti dulu?”, tanya Jongin memecah lamunan Myungin, yeoja itu berdeham pelan, tampak seolah berusaha menemukan suaranya, dan akhirnya mengangguk pelan.

“Mmm, ya. Yang kiri masih seperti dulu, hanya saja yang kanan sedikit bertambah parah.”, ucap yeoja itu pelan

“Bagaimana kabarmu?”, tanya Jongin lagi saat tercipta keheningan cukup lama diantara mereka.

Myungin menatap lama sosok itu, memastikan jika sosok di depannya masih sama seperti dulu saat terakhir kali mereka bertemu.

“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?”

“Kurasa.. aku sudah baik-baik saja.”

Myungin menyernyit bingung.

“Maksudmu?”

“Aku baik-baik saja setelah mendengar bahwa kau baik-baik saja, Myung-ah.”

Myungin tersenyum, kaku. Lalu mengusap-usap pelan kedua telapak tangannya, hal yang biasa Ia lakukan saat salah tingkah.

“Kau masih memanggilku seperti dulu.”, ucap Myungin akhirnya

“Kau mengingatnya?”

“Tentu.”

Kembali tercipta keheningan kaku diantara dua orang itu. Diam-diam Myungin merutuki bus nya yang tak kunjung datang.

“Myung-ah..”

“Ya Jongin?”, ucap Myungin, mengalihkan pandangannya dari jalanan yang sedari tadi di tatapnya intens.

“Maafkan aku.”, ucap Jongin akhirnya, menatap yeoja itu, lama, penuh penyesalan.

Seolah paham apa permintaan maaf yang Jongin bicarakan, Myungin tersenyum.

“Aku sudah memaafkannya sejak dulu.”

“Tapi kenapa kau—”

“Bisa kita tidak membicarakannya?”, potong Myungin tiba-tiba, membuat Jongin menatap yeoja itu, dan menemukan ketakutan dalam tatapan yeoja itu.

“Maaf.”, sekali lagi kata itu keluar dari mulut Jongin, membuat Myungin menarik dan menghembuskan nafas panjang.

“Kejadian itu sudah berlalu empat tahun Jongin-ah, bukankah ada baiknya jika kita—”

Ucapan Myungin terhenti saat sebuah bus berhenti di halte. Bus yang akan membawa Myungin pulang. Tapi yeoja itu bergeming, tatapannya mengarah pada Jongin, berpikir, dan diam-diam memperhatikan namja itu.

Namja itu masih sama sempurnanya seperti dulu dalam ingatan Myungin, raut wajah namja itu masih terlihat dingin, dan jika diperhatikan lebih teliti dan hati-hati, kedua manik mata namja itu berwarna merah gelap, persis seperti saat terakhir kali Myungin melihat kedua mata itu.

Dan melihat hal itu, Myungin mengalihkan pandangannya. Tersadar bahwa bus yang sedari tadi di tunggunya sudah ada di depan mata. Satu sisi hati yeoja itu ingin melangkah naik dan meninggalkan semua ini, tapi tubuh yeoja itu menolak untuk bergerak. Ia malah membatu di tempat itu.

Bahkan Ia masih bergeming saat bus itu berlalu. Myungin mengalihkan pandangannya, dan tatapan yeoja itu bertemu dengan pemilik sepasang mata berwarna kelam itu. Butuh beberapa detik bagi Myungin untuk mengatur ulang apa yang ingin Ia katakan. Dan butuh beberapa detik lain bagi yeoja itu untuk membuka mulut.

“Ada taman di dekat sini, mau bicara disana?”, ucap Myungin, memaksakan sebuah senyum untuk muncul di wajah lelah itu.

Tanpa bicara apapun Jongin mengikuti langkah yeoja itu. Mereka berjalan dalam diam sampai akhirnya Myungin menghentikan langkahnya, dan duduk di sebuah ayunan.

Seolah melihat visualisasi dari masa lalu mereka, Jongin tersenyum. Ingatannya membawa namja itu pada keadaan yang sama, saat Myungin duduk di atas ayunan, dan menatapnya, menunggu namja itu untuk mendorong ayunan untuknya. Dan tanpa sadar, Jongin melangkah ke belakang yeoja itu, membuat Myungin berjengit kaget.

“Kau mau apa?”, ucap yeoja itu

“Siapa yang akan mengayunkanmu kalau bukan aku?”, ucap Jongin membuat Myungin terdiam, namja itu masih tidak berubah.

Ia masih mengingat segalanya tentang Myungin.

“Gomawo.”, ucap Myungin saat Jongin mulai bergerak dan membuat ayunan itu berayun pelan.

“Kebiasaanmu masih tidak berubah.”, ucap Jongin memulai pembicaraan

“Kau juga, kau masih mengingat kebiasaanku.”

“Bagaimana bisa aku melupakannya? Bahkan sampai berpuluh tahun pun aku tidak akan lupa, Myung-ah.”, ucap Jongin, tidak tahan untuk tidak mengungkapkan perasaannya pada yeoja itu sementara kedua tangan Jongin begitu ingin merengkuh gadis itu.

Kaki Myungin bergerak menyentuh tanah, membuat ayunan berhenti. Sejenak, yeoja itu berusaha menetralkan pikirannya, membiarkan keheningan memberinya kesempatan untuk berpikir.

“Jongin-ah..”

“Ya?”

“Kau.. benar-benar seperti yang aku lihat saat itu?”, tanya Myungin tanpa bergerak dari tempatnya.

Beberapa detik Jongin terdiam. Sampai akhirnya Ia menjauhkan tangannya dari rantai ayunan, dan melangkah mundur, membuat Myungin membalikkan badannya, menatap namja itu dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.

“Aku tau kau akan mengusirku seperti disaat itu. Lagipula, aku hanya kembali untuk menepati ucapanku.”

“Ucapanmu? Yang mana?”, Myungin berucap ragu

“Kau sudah lupa? Tentang siapa yang bisa mengakhiri hubungan kita?”, ucapan Jongin berhasil membuat Myungin membulatkan matanya, mulut gadis itu terbuka untuk bicara, tapi tidak ada satupun kata keluar dari mulut gadis itu.

“Aku tidak ingin melihatmu datang setiap tanggal 14 ke tempat itu Myung-ah. Aku tau selama empat tahun ini kau pasti lelah karena terus datang ke tempat itu. Aku akan mengakhirinya Myung-ah. Mengakhiri hubungan kita.”

“B-Bagaimana kau tau?”

Jongin tersenyum, memandang lama wajah innocent yang begitu dirindukannya itu. Dan tanpa bisa menahan dirinya, Jongin melesat dengan kecepatan yang membuat nafas Myungin memburu karena ketakutan.

“Bisakah aku memelukmu untuk terakhir kalinya?”, ucap Jongin, menatap sayu yeoja yang sekarang menengadah memandangnya.

Jongin sangat ingin mendaratkan satu ciuman penuh kerinduan di bibir yeoja itu, tapi Ia takut, Ia takut Ia akan semakin menambah kebencian gadis itu padanya. Ia tidak ingin kembali membuat gadis itu berteriak mengusirnya seperti yang terjadi empat tahun lalu.

Dengan ragu Myungin berdiri, membuat Jongin bisa dengan jelas mencium aroma darah yeoja itu, dan tanpa sadar Jongin memandang leher yeoja itu. Mencari bekas luka yang sudah Ia tinggalkan di tubuh yang begitu disayanginya itu.

Jongin mengalihkan pandangannya saat Ia hanya berhasil menemukan sebuah tatto disana. Ia tidak suka melihat tatto ada di kulit cantik yeoja itu, tapi tidak bisa melakukan apapun tentang hal itu.

Perlahan Jongin menarik bahu yeoja itu ke dalam pelukannya. Satu pelukan yang Jongin harapkan dapat menghapus semua kerinduannya pada yeoja itu selama empat tahun ini. Ingin rasanya namja itu lebih lama lagi memeluk Myungin, tapi namja itu memilih untuk melepaskan Myungin karena yeoja itu nyatanya tidak membalas pelukannya.

“Gomawo..”

Ragu, Myungin mendongak, memandang sosok itu.

“Ya..”, hanya itu kata-kata yang berhasil menerobos keluar dari mulut Myungin

“Jaga dirimu baik-baik Myung-ah..”

Jongin menyentuh kedua pipi yeoja itu, yeoja yang hanya menatapnya dengan tatapan yang sama sedari tadi. Tanpa perasaan, tanpa keinginan untuk melihat namja itu lebih lama lagi.

“Kau tau, walaupun seluruh tubuh ini sebenarnya sudah mati, tapi empat tahun ini aku benar-benar merasakan kematian.”, Jongin tersenyum miring, yang hanya ditanggapi dengan kediaman yang sama oleh Myungin.

“Bukankah kau bilang kau akan pergi?”

Bagaikan kesakitan lainnya, Jongin hanya diam saat mendengar Myungin bicara. Tanpa bereaksi apapun, namja itu akhirnya berbalik, dan melangkah pergi meninggalkan Myungin. Membawa satu kesakitan lainnya.

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Myungin melangkah pelan di trotoar, mengabaikan rasa dingin yang mulai menusuk tubuhnya. Mengabaikan kelelahan pada kedua kakinya yang meronta ingin beristirahat. Langkah yeoja itu terhenti di depan sebuah toko dengan kaca gelap yang memantulkan bayangannya juga beberapa cahaya di sekitarnya.

Yeoja itu memandang diam dirinya yang ada di kaca. Memperhatikan bayangan itu dari atas sampai bawah seolah bayangan itu adalah orang lain. Perlahan, Myungin melangkah mendekati kaca itu, dan tatapannya tertuju pada sebuah tatto yang ada di lehernya sejak empat tahun lalu.

Hati-hati, Ia menyentuh tatto itu, dan terdiam saat jemarinya menyentuh dua cekungan cukup dalam disana. Luka yang ditinggalkan Jongin empat tahun lalu. Myungin sekali lagi memandang tatto itu, dan tertunduk. Tatto bertuliskan kata ‘Jong-In’ dengan huruf hanja itu memang tampak samar, tapi yeoja itu tau jelas bahwa Ia memang sengaja mengukir nama itu di lehernya.

Myungin mengalihkan pandangannya, dan sekarang tatapan yeoja itu berkeliling, sementara tubuhnya Ia sandarkan di kaca. Tatapan Myungin bersarang pada sebuah iklan elektronik besar di ujung jalan.

Sebuah iklan yang menampakkan sepasang kekasih tersenyum dibawah guyuran hujan. Dan tulisan berwarna cukup mencolok dengan kata-kata ‘be my other half’ tertera disana. Memang tulisan itu tidaklah aneh karena iklan itu memang diperuntukkan bagi produk kosmetik yang menunjukkan bagaimana kosmetik itu menjadi sebagian dari hidup yeoja yang ada di iklan.

Tapi bukanlah hal itu yang membuat Myungin tersentak. Kata-kata itu. Ia pernah mendengarnya. Di satu hari bahagia yang begitu sulit untuk yeoja itu lupakan..

“Myung-ah. Aku janji aku tidak akan pernah melukaimu, aku janji aku akan terus dan terus menyayangimu, aku janji kita akan terus bersama.”

“Benarkah?”

“Aku serius. Nanti kalau kita sudah sama-sama lulus dari perguruan tinggi, aku akan melamarmu!”

“Kau pasti bercanda Jongin pabo!”

“Tidak! Aku mau kita terus bersama. Aku mau kau jadi setengah dari hidupku.”

“Maksudmu?”

“Ya. Kau adalah pelengkap hidupku, setengah bagian hidupku yang selama ini hilang.”

“Aish, teruskan saja kebohonganmu.”

“Aku tidak bercanda. Aku janji.”

Myungin tersentak dari lamunannya. Sekali lagi yeoja itu menatap ke arah iklan besar yang masih terus berulang itu, kemudian Ia berbalik, menatap pantulan dirinya disana, hingga akhirnya yeoja itu berlari ke tempat tadi Ia meninggalkan Jongin.

Yeoja itu mengatur nafasnya, dan sekali lagi berlari ke sekeliling taman.

“Jongin-ah! Jongin-ah!”, gadis itu berteriak dengan sisa-sisa kekuatannya, dan menatap putus asa ke sekitarnya.

Namja itu sudah tidak ada dimanapun. Dan sekarang, Myungin duduk di tepi jalan dengan frustasi dan ketakutan yang amat sangat.

Apa namja itu benar-benar meninggalkannya?

“Kau mencariku?”

Myungin segera mendongak, dan kini Jongin menatap gadis yang tengah memandangnya dengan mata berkaca-kaca itu.

“Jongin-ah!”

Tanpa Jongin duga, yeoja itu langsung menghambur ke pelukannya, membuat namja itu merasa bingung atas sikap Myungin.

“Kau tidak meninggalkanku.. Kau tidak meninggalkanku..”

Pelan, Jongin melepaskan pelukan yeoja itu, dan menatapnya tidak mengerti.

“Kenapa?”, tanya Jongin

“Kau tidak ingat? Kau pernah berjanji kau tidak akan pernah melukaiku, kau berjanji kau akan terus menyayangiku, kau berjanji kita akan terus bersama. Kau tidak ingat?”

“Myung-ah..”

“Buktikan itu sekarang Jongin-ah. Buktikan itu, dan kita akan bersama. Buktikan bahwa kau benar-benar menyayangiku, dan jangan lukai aku seperti empat tahun lalu. Kau.. Kau bisa berubah seperti empat tahun lalu, dan membuktikan semuanya.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Jongin’s Eyes..

“Kau.. Kau bisa berubah seperti empat tahun lalu, dan membuktikan semuanya.”

Aku tersentak saat mendengar ucapan Myungin. Seperti empat tahun lalu? Ia memintaku mengulang kejadian empat tahun lalu?

“Tidak.. Aku tidak bisa..”

“Kenapa?”, kali ini Myungin menatapku dengan tatapan terluka yang membuatku benar-benar membenci diriku.

“Jika kau tidak melukaiku, itu artinya kau benar-benar menyayangiku. Dan jika kau benar-benar menyayangiku, kita akan terus bersama. Kau memintaku untuk jadi setengah dari hidupmu, bukankah begitu?”

Aku memandang Myungin, ragu.

“Kau masih sangat takut karena kejadian empat tahun lalu?”

“Ya..”, Ia berucap pelan, “dan aku masih sangat mengingatnya. Kau juga begitu bukan? Bisa kita melakukannya lagi? Aku ingin membuktikan jika ka—”

Aku memejamkan mataku. Dan menarik nafas panjang, merekam bau darah Myungin yang segera membakar kerongkonganku. Aku menginginkan darahnya.

“Berlarilah.”, ucapku hampir berupa desisan, dan sejenak setelah aku mendengar helaan nafas kaget, aku mendengar derap langkah menjauhiku.

Aroma darah tercium semakin kuat dalam penciumanku begitu Myungin berlari, dan hembusan angin mengirimkan aroma darahnya. Aku membuka mataku, dan tatapanku sudah tertuju pada tubuh yang sekarang berlari menjauh dariku.

Dalam sekejap tubuh ini tidak ingin berdiam, dengan cepat aku melesat, dan tidak sampai sepuluh detik aku sudah memerangkap tubuh itu dalam cengkramanku. Dengan kasar menahan kedua lengan rapuh itu di sebuah pohon.

Sementara aku mendengar nafas memburu dan degupan cepat jantungnya. Dan dua hal itu semakin membuatku menginginkan darah di tubuhnya. Dengan kasar aku menyingkirkan rambut yang menutupi lehernya, dan memiringkan kepalanya. Taring ini sudah siap untuk merobek nadinya.

“Akh.. Jongin-ah..”

“Jongin-ah.. Andwae.. Andwae..”

Mendengar suara itu. Mendengar suara kesakitan itu kembali menggema dalam pikiranku. Dan mengingat bahwa pemilik darah ini adalah seseorang yang tidak bisa aku lepaskan sedetikpun dalam hidupku..

“Saranghae..”

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes..

Myungin gemetar ketika Jongin menariknya dengan kasar dan mencengkramnya di pohon. Persis seperti empat tahun lalu. Dan tanpa bisa berbohong, Myungin ketakutan. Ia tidak ingin dilukai untuk kedua kalinya. Ia begitu takut.

Jongin menepis rambut yang menutupi leher Myungin, dan sekali lagi, yeoja itu merasakan bahwa namja yang ada di hadapannya bukanlah Jongin. Rasa sakit mulai merambati tubuh yeoja itu ketika Jongin menekan rahangnya ke satu sisi.

“Akh.. Jongin-ah..”

Myungin memejamkan matanya. Bahkan jika namja di hadapannya kembali melukainya seperti empat tahun lalu dan kembali merusak kepercayaannya pada namja itu. Ia sudah pasrah.

“Aku mencintaimu..”

Yeoja itu membuka matanya saat merasakan sesuatu yang lembap menyentuh lehernya. Dan perlahan, yeoja itu menyentuh lengan namja di hadapannya. Membuat namja itu melepaskan cengkramannya, menatap yeoja yang meringkuk ketakutan itu.

“Aku hampir melukaimu lagi..”, Jongin berbisik pelan, membuat yeoja itu tersenyum, sangat samar.

“Kau tidak melakukannya. Kau tidak melukaiku.”

Jongin sekali lagi menatap yeoja itu. Membuat Myungin terpana, dalam jarak sedekat ini, euforia yang bertahun lalu selalu Ia rasakan saat Jongin ada di dekatnya sekarang kembali meledak-ledak.

“Myung-ah..”

Jongin tersentak saat yeoja itu menciumnya, lembut, dan tidak singkat. Namja itu masih terpana bahkan saat Myungin sudah melepaskan ciumannya.

“Aku juga mencintaimu.. Jongin-ah.. Jangan pernah tinggalkan aku..”

Jongin merengkuh yeoja itu ke dalam pelukannya. Hanya tiga kata  yang gadis itu ucapkan dan sanggup membuatnya merasakan hal yang begitu lama Ia impikan.

 Bahkan jika harus menunggu beberapa tahun lagi sampai yeoja di depannya mau mempercayainya seperti dulu, Ia tidak apa-apa. Perasaannya pada yeoja di dalam pelukannya sudah terlalu membuncah.

“Aku tidak akan pernah melukaimu Myung-ah. Tidak akan.”

“Aku percaya padamu Jongin-ah..”

Jongin melepaskan pelukannya, jemari dingin namja itu bergerak menyentuh leher Myungin, dan menatap sedih yeoja itu saat Ia merasakan dua cekungan dalam di leher yeoja itu.

“Maafkan aku karena luka ini..”

Myungin menggeleng.

“Empat tahun aku bertahan menunggumu karena luka ini.”, ucap Myungin

“Benarkah?”

“Tidak pernah satu haripun ku lewatkan tanpa menunggumu Jongin-ah. Dan tidak pernah satu haripun aku merasa lelah karena hal itu. Aku menyayangimu, walaupun kita berbeda, walaupun bersama denganmu artinya aku ada dalam bahaya, aku tidak peduli. Semua tentangmu, tidak akan pernah membuatku lelah.”

End.

Advertisements

3 thoughts on “[ONESHOT] JUST THREE WORDS

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s