[Drabble Series] – How To #3

HOWTOSERIESPOSTER

| Title : How To #3 | Author : knock13 | Main Cast : Bae Irene, Xi Luhan | Genre : Romance, Comedy | Rating : G | Length : Drabble |

Disclaimer : Storyline is mine. Typo(s) everywhere. Please, don’t be a plagiator. Enjoy!

Summary : Irene sudah mengucapkan selamat tinggal pada paginya yang damai sejak tiga bulan yang lalu. Sekarang, bagaimana caranya agar Irene bisa menendang lelaki itu keluar dari apartmentnya?

Previous : How To #2

“Ini tidak bisa dibiarkan.” Irene mendesis di depan mesin minuman lalu mengetuk-ngetuk mesin tersebut dengan jari-jarinya. Irene mungkin harus bersyukur karena Wendy mudah percaya dengan kata-katanya. Ya, Irene, entah apa yang merasukinya mengatakan bahwa Luhan adalah sepupunya dari Cina yang untuk sementara akan tinggal bersamanya sebelum mendapatkan apartment yang layak. Dan dengan polosnya Wendy mempercayainya begitu saja dan dengan santainya mengatakan ‘Pantas saja kalian berdua terlihat mirip’. Irene nyaris memuntahkan semua sarapannya saat mendengar ucapan Wendy di Cafe.

“Apa yang kau lakukan? Berdoa di depan mesin minuman?” Irene tersentak dan mendapati Luhan telah berdiri di sampingnya dan menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Irene menghela nafas perlahan lalu menatap Luhan tajam. “Jangan berbicara dengan ku. Jangan berada di dekat ku….” Luhan baru saja membuka mulut untuk menyela ucapan Irene, tapi Irene menyela terlebih dahulu, “…Jangan bertanya apapun. Jangan.” Irene lalu berjalan menjauh, meninggalkan Luhan dengan dahi yang terlipat menatap gadis itu.

“Ada apa dengannya?”

“Luhan!!!”

“Uh? Oh hai, Park Chanyeol, bukan?” Lelaki yang memiliki senyum lebar tersebut mengangguk, membenarkan tebakan Luhan. “Hei, ayo kita bermain basket. Sebagai ucapan selamat datang di kampus ini.”

“Tapi…” Luhan berpikir sesaat, “…baiklah.” Chanyeol tersenyum lagi mendengar permintaannya di-iyakan oleh Luhan. Sebenarnya Luhan ingin menolak ajakan Chanyeol, namun mengingat bahwa daripada dirinya sendiri lagi di apartment besar milik Irene; karena Irene tidak akan berada di apartment sebelum pukul 10 malam, jadi lebih baik dirinya menghabiskan waktu bersama teman-teman barunya di kampus ini.

o 0 o

Luhan menatap perpustakaan di seberang lapangan basket, perpustakaan milik fakultas ekonomi dan bisnis; Luhan adalah mahasiswa teknik arsitektur, yang terlihat masih terang benderang padahal jam sudah menunjukkan pukul delapan malam.

“Park Chanyeol…” Luhan memanggil Chanyeol yang tengah memasukkan barang-barangnya ke dalam tas besar miliknya, “…bukankah semua perpustakaan di tiap fakultas akan ditutup pada sore hari? Kenapa perpustakaan disana masih terbuka?”

Chanyeol mengikuti arah telunjuk Luhan, “Ah…itu? Ya, peraturannya memang seperti itu, tapi akhir-akhir ini perpustakaan tersebut masih terbuka dan terang benderang seperti yang kau lihat.”

“Kenapa? Bukannya itu peraturan mutlak?”

“Kau mengenal Irene? Gadis cantik dari fakultas ekonomi dan bisnis?” Luhan menaikkan alisnya, “…Irene lah yang selama ini berada di dalam perpustakaan itu, aku tidak tahu apa yang dilakukannya. Dia selalu berada disana hingga larut malam; aku bahkan pernah melihatnya keluar dari perpustakaan saat pagi hari dengan baju yang sama dengan yang digunakannya di hari sebelumnya. Apa dia tidak memiliki rumah?” Chanyeol menggelengkan kepala membantah pemikirannya sendiri, “Ah tidak mungkin, orang tua Irene adalah salah satu donatur di kampus ini.”

“Lalu mengapa gadis yang bernama Irene itu betah di perpustakaan?” tanya Luhan.

“Aku tidak tahu.” Chanyeol mengangkat bahunya, “..jangan buang-buang waktu untuk mencari tahu tentangnya, dia gadis yang cantik, tapi untuk membuatnya mengatakan hai padamu saja sangat susah. Dia terlalu tertutup dan pendiam….” Chanyeol meraih tasnya, “…aku akan pulang sekarang. Kau ingin pulang bersama?”

“Tidak usah. Aku akan pulang sendiri. Aku masih memiliki beberapa urusan.” Chanyeol mengangguk lalu menepuk bahu Luhan, “Kalau begitu aku duluan.” Luhan melambaikan tangannya pada Chanyeol. Lalu kembali menatap perpustakaan tersebut. Irene? Apa yang Chanyeol maksud adalah Bae Irene? Luhan meraih ponselnya lalu menghubungi Ibunya.

“Ibu? Apa Ibu memiliki nomor ponsel Irene? Bisakah Ibu meminta nomor ponsel Irene pada Bibi Bae?” Luhan mengerutkan dahinya, “Tidak. Tidak di club malam. Aku juga tidak mabuk, Ibu. Aku baru saja selesai bermain basket dengan teman kampus ku……Baiklah. Aku akan menunggu.”

Luhan mematikan panggilan teleponnya lalu membereskan barang-barangnya, tak lama kemudian deringan ponsel yang menandakan satu pesan masuk membuat aktifitasnya terhenti. Nomor ponsel Irene. Luhan akan memastikan sendiri bahwa Irene yang Chanyeol maksud adalah Irene yang tinggal bersamanya.

Dalam nada panggilan kedua, seseorang di seberang sana menjawab panggilan teleponnya.

“Halo?”

“Irene?”

“Ya, aku Irene.”

“Dimana kau?”

“Siapa kau?”

“Luhan.”

Pip. Luhan menganga menatap ponselnya. Oh, Irene baru saja mematikan panggilan teleponnya secara sepihak. Luhan memasukkan ponselnya dengan kasar ke dalam tas lalu kembali menatap perpustakaan tersebut. Sudah gelap. Apa itu berarti Irene sudah pulang? Luhan berjalan menuju parkiran dan melihat Irene juga berjalan dari arah berseberangan dengannya. Luhan baru saja akan memanggil Irene namun gadis itu lebih dulu berlari menuju gerbang kampus dengan tergesa-gesa.

“Uh? Kemana dia?” Luhan segera masuk ke dalam mobilnya dan memutuskan untuk mengikuti kemana Irene pergi.

Sudah hampir setengah jam Luhan melihat Irene duduk di halte bus, entah apa yang gadis itu pikirkan, sudah lima bus yang dilewatkannya. Apa Irene tidak berniat pulang? Luhan hampir saja turun dari mobil dan menyeret Irene pulang bersamanya saat sebuah bus berhenti di depan halte dan gadis tersebut masuk ke dalam bus itu. Luhan menjalankan mobilnya mengikuti bus yang membawa Irene.

“Minimarket?” Luhan tidak dapat lagi menghitung berapa kali dahinya berkerut karena tingkah aneh Irene hari ini. Kali ini Irene singgah di sebuah minimarket dekat apartment dan membeli sekaligus menyeduh sebuah ramyun instan. Luhan ingat stok makanan masih sangat banyak di kulkas. Jadi, mengapa gadis itu memilih makan ramyun instan?

Luhan mengamati Irene yang tengah menyantap ramyun instannya dengan hati-hati. Gadis itu sedang makan namun terlihat tidak seperti orang sedang makan. Karena percayalah, Irene lebih terlihat seperti robot yang di program untuk mencicipi makan manusia. Dia terlalu kaku. Luhan mengingat Chanyeol yang tadi mengatakan bahwa Irene merupakan gadis yang susah untuk di dekati. Luhan memutar memorinya saat pertama kali bertemu Irene, tidak ada sapaan khas selamat datang yang diterimanya. Irene hanya mengangguk dan sedikit tersenyum kaku pada kedua orang tuanya juga orang tua Luhan. Dan juga perkelahian mereka beberapa hari yang lalu, walaupun Irene terlihat marah dan berteriak pada Luhan, Luhan tidak merasa dirinya sedang berhadapan dengan manusia. Luhan merasa Irene terlahir menjadi sebuah robot daripada seorang gadis cantik. Irene cantik, Luhan mengakui hal tersebut. Namun gadis itu terlampau kaku dan bahkan terkesan menghindari keramaian.

Luhan terlalu lama bergelut dengan pemikirannya sendiri tatkala Irene sudah melangkah keluar dari minimarket dan berjalan menuju apartment. Luhan segera menyalakan mobilnya dan berbelok masuk ke dalam parkiran bawah tanah apartment. Setelah memastikan mobilnya terparkir dengan baik, Luhan memasuki lift lalu menekan angka 25; lantai apartment Irene.

“Irene!!”

Irene menoleh mendengar suara Luhan. Astaga, lelaki itu baru pulang juga? Irene merutuki Luhan dalam hati; dengan cepat Irene memasukkan password apartmentnya dan membuka pintu apartmentnya dengan kasar; mengabaikan peraturan yang dibuatnya sendiri, Irene sedikit berlari menuju kamarnya dengan sepatu yang masih melekat di kedua kakinya. Irene baru saja sampai di depan ruang makan ketika Luhan menarik tangannya dan membuat dirinya berhadapan dengan Luhan.

“Ada apa?” tanya Irene datar.

“Kau ingin tahu sesuatu? Bukan kepribadian ku yang harus diperbaiki; melainkan kepribadian robot mu itu.”

Irene terdiam di depan Luhan. Matanya menatap Luhan dengan tajam; tidak ada seorang pun yang boleh mengusik kepribadiannya. Tidak seorang pun, bahkan Wendy yang notabene-nya adalah sahabat dekat Irene, tidak pernah menyinggung hal-hal seperti itu. Irene sangat sensitif dengan hal-hal yang menyangkut dengan dirinya. Atau kepribadiannya.

“Kita tidak sedekat itu, Xi Luhan. Aku harap kau tidak merepotkan diri untuk mengurusi kehidupan maupun kepribadian ku. Selamat malam.”

.

.

.

Semoga suka dengan series  Irene x Luhan yang ketiga ini 😀

Enjoy!

Thank You.

With Love,

knock13

Advertisements

8 thoughts on “[Drabble Series] – How To #3

  1. Tertutup, emang harus ada privasi tapi jangan kaku. Irene terlalu misterius, apa ada yang ditutupi? Ada penyebab sikap kaku dan tertutup Irene? Ah molla~

  2. Aiiih irene kau sulit sekali ditebak.
    Mgkn kepribadiannya seperti itu dikarenakan ia memendam banyak hal sendirian *sok tau*
    Ayo Lu, dekati irene terus. Pasti ia akan menjadi manusia seutuhnya ^^
    Fighting and gumawo for update ^^

  3. Aduh irene kenapa misterius banget sihhh
    Mbak jangan galak-galak lohhh, kan serem, sayang muka cantik tapi kelewat dingin
    Masih penasaran ada maksud apa dibalik penitipan luhan ke irene, mereka dijodohin secara ga langsung ya? Kekekekeke
    Ditunggu kelanjutannya 😉

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s