[One-shot] So Long

tumblr_mk5midgftp1ri960io1_500

— So Long 

aiveurislin  //  seungyoon x nayeon  //  one-shot  //  sad-romance, friendship //  G

ingin rasanya mengulang semuanya. tapi apa mau dikata?

See another version with different casts here

.

 

Do you remember how you and I were so young and small?
We were always together, do you remember our friends who were jealous of us?

You held my small hand and protected me, always smiling only at me
Baby, we didn’t know back then, we were too young

 

Yak! Neo micheoseo?!”

Pria kecil itu tergelak sambil memegangi perutnya. Rencananya mengagetkan gadis kecil yang berada di sampingnya berhasil. Dengan wajah tertekuk, gadis kecil itu menggerutu pelan sambil terus memukulkan kepalan tangannya ke bahu pria kecil itu.

Huuh! Kenapa kau jahil sekali ‘sih, Seung-Yoon!” gerutu gadis kecil itu. Pria kecil bernama Seung-Yoon itu menghentikan tawanya dan mencubit gemas hidung si gadis kecil.

“Yeon-boo-yah, kau lucu sekali ‘sih. Hey, bukankah kau harus memanggilku Oppa? Aku setahun lebih tua darimu, Pabo-yah!” Seung-Yoon menjitak pelan dahi Na-Yeon. Gadis kecil itu meringis pelan lalu mengerucutkan bibir kecilnya. Ugh! Dia lucu dan menggemaskan sekali.

Tak sampai di situ saja, Seung-Yoon kecil justru melingkarkan tangan mungilnya, membawa gadis cilik bernama Na-Yeon tenggelam dalam dekapannya. Pipi Na-Yeon kecil langsung bersemu merah. Senyum indahnya langsung merekah dan terukir jelas di bibir kecilnya. Beberapa pasang mata mungil langsung terpaku terpesona melihat pemandangan itu.

“Aku akan selalu bersamamu, Na-Yeon-ah. Sampai kapanpun!” ucap Seung-Yoon lalu mencium kilat pipi Na-Yeon. Ia langsung melesat meninggalkan Na-Yeon yang terdiam membeku. Lagi-lagi, Seung-Yoon berhasil menciumnya dan membuatnya malu sekaligus melayang jauh di angkasa. Bagaimana tidak? Teman-temannya yang tadi ia lihat sedang main perosotan dan ayunan kini menatapnya bingung. Aih, bagaimana mungkin kejadian ini bisa dipahami anak-anak berusia lima tahun?

 

-o0o-

 

“Kenapa kau ceroboh sekali ‘sih! Jika kau memang tidak bisa berenang, bilang saja pada Choi Songsaengnim. Kau hampir membuat dirimu sendiri kehilangan nyawamu! Kau tahu betapa khawatirnya aku?” cecar Seung-Yoon tanpa henti. Na-Yeon mengulas senyum tipisnya pada pemuda berusia empat belas tahun itu. Tatapan gadis itu masih sayu dan wajahnya benar-benar pucat pasi. Perlahan, ia menggerakkan jemarinya dan menggenggam tangan Seung-Yoon. Tatapan mereka pun bertemu.

“Aku tak menyangka kau begitu khawatir. Maafkan aku karena membuatmu jadi seperti ini. Tapi, jika aku tak melakukan ini, Choi Songsaengnim akan tetap membuatku masuk ke kolam renang. Kau tahu seperti apa Choi Songsaengnim itu ‘kan?” balas Na-Yeon dengan suara lemah. Seung-Yoon menatapnya iba. Pria itu hanya bisa menggelengkan kepalanya beberapa kali.

“Kau tidak penah berubah, Na-Yeon-ah. Kau tetap keras kepala,” tutur Seung-Yoon. Na-Yeon mengulas senyum lagi.

Seung-Yoon langsung beranjak dari kursinya dan merengkuh Na-Yeon dalam pelukan hangatnya. Wangi parfum khas Seung-Yoon langsung menguar dan menggelitik indera penciuman Na-Yeon. Tak dapat dipungkiri jika Na-Yeon nyaman berada dalam dekapan Seung-Yoon. Kehangatannya menjalar seperti sengatan listrik. Mampu melemaskan setiap sendi di sekujur tubuh Na-Yeon.

“Jika kau seperti ini terus, bagaimana aku bisa tenang meninggalkanmu, heum? Apa aku harus berada di dekatmu setiap saat untuk memastikan kau melakukan semua hal dengan baik?” tanya Seung-Yoon. Na-Yeon mengangguk pelan dan semakin mengeratkan dekapannya pada tubuh Seung-Yoon.

“Baiklah, aku akan berusaha untukmu, Na-Yeon-ah.”

 

-o0o-

 

Do you think of those days like I do sometimes? Do you remember
The nice breeze, the warm sunlight that shone on us? Do you remember

We resembled each other so much and you were my precious friend
Baby, that’s what I believed but you came to me and it was so strange

 

Na-Yeon duduk di salah satu kursi taman sambil menyilangkan kedua kakinya. Tatapannya sedari tadi hanya terpaku pada sebuah lunch-box hijau yang berada di atas pangkuannya. Senyum lebarnya terus saja mengembang. Sengatan sinar matahari musim panas pun tak bisa memudarkan ukiran indah di kedua sudut bibirnya.

Hosh… hosh… maaf aku terlambat,” ucap Seung-Yoon. Pria itu masih membungkuk dan berusaha mengatur nafasnya yang tersengal. Ugh! Salahkan Mark Tuan karena pria itulah yang membuat Seung-Yoon berlari dalam kecepatan maksimal.

Na-Yeon bangkit dari tempat duduknya dan menepuk pelan bahu Seung-Yoon, “Gwaenchana. Aku juga belum lama. Apa kau sudah makan?”

Seung-Yoon mengernyit heran. Terlihat jelas kulit dahinya yang mengerut mendengar pertanyaan Na-Yeon, “Belum. Mark tidak mengijinkanku makan siang sebelum pembahasan tentang kegiatan camping musim semi yang akan di adakan sekolah selesai. Ugh, pria itu mungkin terobsesi untuk membunuhku!”

Na-Yeon terkekeh pelan mendengar keluhan Seung-Yoon. Ia tahu, teman sekelas Seung-Yoon yang bernama Mark itu tidak bermaksud demikian. Seung-Yoon saja yang terlalu berlebihan menanggapinya.

“Bagaimana jika Mark Oppa bersungguh-sungguh ingin membunuhmu? Apa aku harus berubah menjadi Wonder Woman untuk menyelamatkanmu?” ucap Na-Yeon ringan.

“Jangan bercanda. Aku lebih suka Wonder Na-Yeon daripada Wonder Woman.” Tanggap Seung-Yoon yang langsung membuat Na-Yeon tertawa. Seung-Yoon tersenyum riang saat melihat Na-Yeon tertawa lepas. Gadis itu begitu manis ketika ia tertawa –menurutnya.

Oh ya, igeo. Aku menyiapkan makan siang untukmu. Aku sudah punya firasat jika kau belum makan siang. Jadi aku menyiapkannya, khusus untukmu,” Na-Yeon langsung menyodorkan lunch-box hijaunya pada Seung-Yoon. Mata Seung-Yoon langsung berbinar.

“Kau memang yang terbaik, Yeon-ah. Terima kasih,” Seung-Yoon langsung mengambil kotak lunch-box dari tangan Na-Yeon dan menarik lengan gadis itu menuju ke tempat yang lebih teduh.

Seung-Yoon mendudukkan pantatnya di bangku dekat pohon yang rindang, disusul Na-Yeon yang mengambil tempatnya di sebelah pria itu. Jemari Seung-Yoon dengan cekatan membuka lunch-box hijau yang ia taruh di pangkuannya. Nampak sekali jika ia lapar. Matahari yang tadi berada tepat di atas kepalanya pun kini mulai condong sedikit demi sedikit ke arah barat. Arloji hitamnya juga telah menunjuk angka satu lebih lima menit.

Mulut Seung-Yoon menggelembung saat ia langsung melahap tiga bibimbap. Na-Yeon sedari tadi hanya tersenyum memperhatikan.

“Apa kau hudah mhakhan? (Kau sudah makan?)” tanya Seung-Yoon masih dengan mulutnya yang penuh bibimbap.

“Dengan hanya melihatmu makan, itu sudah membuatku kenyang, Kang Seung-Yoon,” Balas Na-Yeon.

Eeiih… mana bisa seperti itu? Bagaimana pun, kau harus makan. Kalau kau sakit, lalu siapa yang membuatkanku bibimbap seenak ini selain kau?” mendengar ucapan Seung-Yoon, mau tak mau Na-Yeon melontarkan senyum. Pria itu langsung mengulurkan tangannya bermaksud menyuapi Na-Yeon.

“Hey, apa aku harus menyiapkan makan siangmu untuk setiap harinya? Kenapa kau tidak makan di rumah saja? Kupikir Geum Ahjumma juga pasti mau menyiapkan makan siang untukmu. Kau tinggal memintanya saja,” ungkap Na-Yeon berkomentar disela kegiatan mengunyahnya. Seung-Yoon lalu mencubit pelan pipi Na-Yeon dan gadis itu langsung mengaduh kesakitan. Huuh! Selalu saja!

Yak, kau keberatan ya untuk hal itu? Kalau begitu mulai besok kau tidak usah menyiapkan makan siang untukku. Lagipula, aku tidak pernah menyuruhmu untuk membuatkanku makan siang. Kau saja yang terlalu baik!” balas Seung-Yoon seraya meninggikan nada suaranya.

Keurae… lalu apa yang akan kau makan besok? Batu? Atau tanah? Oh Tuan Kang Seung-Yoon, aku tak berharap kau menjadi manusia tak normal nantinya,” Ucap Na-Yeon. Seung-Yoon melenguh pelan. Hey, kau pikir Seung-Yoon itu apa, Im Na-Yeon?

“Justru kau yang tidak normal karena berpikiran seperti itu, Nona. Tentu saja aku masih bisa hidup walaupun hanya dengan memakan ramyun atau sejenisnya,” Tanggap Seung-Yoon. Pria itu lalu memasukkan sepotong bibimbap lagi ke mulutnya.

Na-Yeon terdiam sejenak. Gadis itu lalu mengulas senyum lembut kepada pria yang duduk di sampingnya itu, “Ramyun itu makanan cepat saji, Seung-Yoon. Jangan menyiksa lambung dan kawan-kawannya yang bersarang di perut buncitmu. Tenang saja, aku akan terus membuatkanmu makanan walaupun dunia menentangnya.”

Seung-Yoon tertawa lebar lalu mengelus pelan puncak kepala Na-Yeon. Membuat surai panjangnya yang ia ikat ekor kuda kini sedikit berantakan.

“Aku tahu kau pasti akan mengatakan hal itu.”

 

-0o0-

 

“Kau piket sendirian? Mana yang lainnya?” Na-Yeon mengerjap pelan sambil menyentuh dadanya. Seung-Yoon tertawa ringan melihat gadis itu tersentak mendengar seruannya yang tiba-tiba. Pria itu masih menyembunyikan tubuhnya dan hanya menyembulkan kepala dan lehernya dari balik pintu. Oh, Na-Yeon sekarang mungkin berpikir jika Seung-Yoon adalah jelmaan dari seekor kura-kura.

“Kau membuatku terkejut, Seung-Yoon! Masuklah!” Seung-Yoon melangkah memasuki kelas. Na-Yeon kembali meneruskan pekerjaannya, menyapu lantai. Gadis itu tiba-tiba menggerutu dongkol ketika mendapati Seung-Yoon duduk dan menyilangkan kedua kakinya di atas meja dengan tatapan terfokus pada layar datar ponselnya. Heol, apa pria itu benar-benar tidak berniat membantunya? Atau berpura-pura tidak melihatnya yang sedang kesusahan karena harus piket sendirian?

Yak, sebenarnya apa alasanmu kemari? Jika kau tak berniat membantuku dan hanya berdiam diri seperti itu, lebih baik kau pulang. Kau malah semakin membuat suasana hatiku bertambah buruk!” Cecar Na-Yeon lalu menggerak-gerakan sapunya asal. Seung-Yoon langsung bangkit dan membalas cecaran Na-Yeon dengan cubitan pelan di pucuk hidung mancung gadis itu.

“Baiklah gadis bawel! Aku akan membantumu.”

Pria itu berjalan ke sudut ruangan dan mengambil sapu yang tergeletak di atas lantai. Ia lalu menggerakkannya ke kanan dan ke kiri serta ke depan dan ke belakang persis seperti apa yang Na-Yeon lakukan tadi.

Na-Yeon menatap diam Seung-Yoon yang kini bergelut dengan sapu dan kotoran yang menghuni kelasnya dengan senang hati. Gadis itu lalu mengulas senyum tipis dan kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.

Hmm, Ia tahu, Seung-Yoon akan selalu membantunya keluar dari sebuah permasalahan dengan cara yang tak bisa ia tebak apalagi ia bayangkan.

 

-0o0-

 

Jeongmal jwesonghamnida,” Ucap Seung-Yoon lalu membantu merapikan buku-buku yang berserakan di sekitar kakinya. Gadis berambut blonde yang tak sengaja ia tabrak juga ikut membantunya memungut buku dan menumpuknya.

Ah, gwaenchanasimida.” Balas gadis itu. Seung-Yoon memakukan tatapan bola matanya pada sosok gadis berambut blonde itu. Ia sedikit heran dan nampak tak mengenali gadis di depannya itu. Ini adalah kali pertamanya bertemu dengan gadis itu –pikirnya.

“Sepertinya kau murid baru. Apa aku benar?” ucap Seung-Yoon sembari merapikan buku-buku yang berserakan. Ia menoleh sekilas dan mengangguk sambil tersenyum, “Ne. Aku pindahan dari Washington. Namaku Carine Lee.”

Seung-Yoon membalas senyum hangat gadis berambut blonde bernama Carine Lee itu, “Ah. Aku Seung-Yoon. Nampaknya kau sedang kerepotan. Mau kubantu?” tawarnya. Oh, dia benar-benar gentleman rupanya.

“Ah, thanks a lot, Seung-Yoon.”

Yes, no problem. I’m glad to help you, Carine,” Kini Seung-Yoon membawakan beberapa buku tebal milik Carine yang ia tumpuk dan mengikuti langkah gadis itu menyusuri koridor dalam.

Dari jauh, Na-Yeon mengamatinya dalam diam. Rasa sesak kembali menyelimuti hatinya dan lagi-lagi ia berusaha menahan rasa menyakitkan itu untuk kesekian kalinya. Memendamnya seolah hanya ia yang berhak merasakannya dan orang lain tak perlu tahu perasaan hatinya.

“Na-Yeon-ah…”

Na-Yeon menempelkan jari telunjuknya di depan bibir. Menginstruksikan agar seseorang yang ada di sampingnya untuk diam. Ia kemudian menoleh dan mengulas senyum tipis.

“Aku baik-baik saja, Yoo-Jin-ah. Kajja!”

Gadis bernama Yoo-Jin itu menghela nafas panjang sembari mengamati punggung Na-Yeon yang semakin jauh dari jangkauannya. Ia merasa miris dan kasihan. Tapi, ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia tahu, Na-Yeon tidak suka di kasihani olehnya walaupun sebenarnya ia hanya ingin membantu.

“Seandainya, aku bisa membantumu, Na-Yeon-ah. Setidaknya, Seung-Yoon juga perlu tahu perasaanmu yang sesungguhnya. Ia berhak tahu….”

 

Honestly, I was afraid, I wasn’t used to my trembling heart when I saw you
Actually, I resented you for acting like everything was normal
Why didn’t you know my heart?

 

Na-Yeon menelengkupkan kedua tangannya di atas meja. Seung-Yoon pun juga sedang bergelut malas dengan sebuah komik series detektif conan di atas tempat tidur queen size milik Na-Yeon. Gadis itu berulang kali menghela nafas beratnya.

“Hey, kenapa kau belum mengerjakan PR mu? Apa terlalu sulit? Mau kubantu?” tawar Seung-Yoon. Na-Yeon mengulum bibirnya lalu menggeleng pelan. Ia menegakkan kembali bahunya dan memutar kursinya menghadap Seung-Yoon.

Wae? Kau punya masalah? Mau berbagi?” tawar Seung-Yoon tanpa mengalihkan perhatiannya sedikit pun dari gambar-gambar seri detektif conan yang dipandangnya menarik.

Na-Yeon menghirup oksigen dalam-dalam, “Aku ingin bertanya padamu mengenai suatu hal.”

“Tentang apa?”

Eumm…. apa kau pernah jatuh cinta pada seseorang?” tanya Na-Yeon pelan dan hati-hati. Oh baiklah, ini adalah pertanyaan paling sensitif yang pernah Na-Yeon katakan selama 14 tahun persahabatan mereka. Bahkan Seung-Yoon sampai-sampai mengalihkan perhatiannya dari komik dan malah menatap Na-Yeon heran.

“Kau aneh sekali, Na-Yeon-ah. Kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang hal itu?” tanya pria itu heran.

“Aku hanya ingin bertanya saja. Lagipula kita sudah bersahabat sejak kita duduk di bangku taman kanak-kanak. Wajar saja jika aku bertanya tentang hal ini,” balas Na-Yeon berusaha membela diri.

Oh baiklah, aku memang pernah jatuh cinta. Bahkan aku sedang menyukai seseorang. Puas?!” Seung-Yoon kembali menutupi wajahnya dengan komik dan berusaha menghiraukan Na-Yeon.

“Siapa?”

Seung-Yoon membanting buku komiknya dan mendekat ke arah Na-Yeon. Kini wajah mereka berdua berjarak beberapa inchi dan hal itu cukup membuat jantung Na-Yeon berdetak tak karuan, “I-TU-BU-KAN-U-RU-SAN-MU.”

Na-Yeon mendengus kecil dan mendorong tubuh Seung-Yoon hingga hampir terjungkal, “Kau suka dengan siswa baru pindahan dari Washington bernama Carine Lee ‘kan?” tanyanya kehilangan kendali. Nada suaranya meninggi. Namun sayang, Seung-Yoon sepertinya tidak se-detail itu untuk memahami arti nada suara Na-Yeon kali ini.

Ne, aku menyukainya sejak pertama kali melihatnya. Kurasa dia gadis yang baik dan sopan. Ia juga ramah dan bersahabat. Jadi, apa keputusanku untuk menyukainya itu salah?” ucap Seung-Yoon mengintimidasi. Na-Yeon menunduk seketika. Ya, memang benar ia tak berhak untuk menilai seberapa baik Carine Lee untuk Kang Seung-Yoon.

“Apa dia tahu tentang perasaanmu?”

Seung-Yoon lagi-lagi menatap Na-Yeon dengan tatapan yang sulit diartikan, “Kurasa dia belum tahu. Tapi aku membuatnya tahu tentang perasaanku sesungguhnya. Waeyo? Apa kau menyukai seseorang juga? Jujur saja padaku.”

Na-Yeon mengangkat dagunya dan tersenyum tipis, “Gadis bernama Carine Lee itu pasti sangat beruntung. Dia punya orang yang bisa mencintainya.”

“Apa kau sedang menyukai seseorang, Na-Yeon-ah?” terka Seung-Yoon. Na-Yeon menatap sendu Seung-Yoon dan kembali menunduk.

“Aku menyukai seseorang sejak lama. Ia sangat baik. Entah sejak kapan aku mulai menyukainya. Tapi, ia tak pernah melihatku. Ah, aku salah, ia selalu melihatku. Tapi sayangnya, ia tak pernah tahu perasaanku. Walaupun begitu, aku tetap bahagia karena bisa menyukainya walaupun dia sendiri tak tahu perasaanku yang sesungguhnya,” Jelas Na-Yeon membuat Seung-Yoon terkekeh pelan. Baru kali ini, Na-Yeon mengatakan hal itu. Sebelumnya, Seung-Yoon menganggap Na-Yeon adalah sosok cuek dan bukanlah sosok melankolis dalam hal ini. Gadis itu bahkan belum pernah berbicara tentang kisah cintanya selama 14 tahun persahabatan mereka.

Yak, kupikir pria itu cukup tak tahu diri. Apa dia begitu dungu? Oh, coba katakan siapa pria itu? aku akan benar-benar memberinya pelajaran karena telah begitu lambat untuk menilai semua perhatianmu.”

Na-Yeon tak membalas ucapan Seung-Yoon. Ia lebih memilih diam dan membiarkan Seung-Yoon terus menertawakannya. Kedua tangannya bertaut erat.

‘Aku berharap, kau tidak pernah tahu perasaanku yang sebenarnya. Apalagi mengetahui satu faktu bahwa orang itu adalah kau, Kang Seung-Yoon’

 

Feel me, feel me, tell me, tell me, love me, love me (though it’s too late)
Feel me, feel me, tell me, tell me, love me, love me (though it’s too late)

 

“Aku mencintaimu.”

Mata Seung-Yoon melebar seketika, “Mwo? K-kau mencintaiku, Na-Yeon-ah?”

Ne. Pria yang selama ini aku maksud adalah kau, Seung-Yoon-ah. Tolong maafkan aku untuk semua hal yang telah kusembunyikan darimu.” Ujar Na-Yeon sembari menyembunyikan kedua tangannya di balik punggung. Wajahnya tertunduk pelan. Ia masih berusaha mengumpulkan keberaniannya pada satu-satunya orang yang menjadi orang paling dekat dengannya. Satu-satunya orang yang bisa mencuri hatinya.

“J-jadi, selama ini kau…. kenapa kau menyembunyikan semuanya?”

“Aku tidak ingin melukai persahabatan kita, Seung-Yoon-ah. Kau tidak pernah melihatku sebagai seorang wanita. Sedangkan aku hanya berusaha mempertahankan persahabatan ini dan melawan ego-ku sendiri. Sekarang aku menyerah. Semua pertahanan hatiku sudah tidak bisa menahan gejolak ini lebih lama lagi. Kita berdua sudah sama-sama dewasa, Seung-Yoon. Aku hanya ingin mengungkapkan semuanya untuk terakhir kalinya sebelum aku pergi dari sini.”

“Pergi? Na-Yeon-ah, candaanmu tidak lucu. Ini semua tidak benar ‘kan? Katakan!” Na-Yeon menatap sendu Seung-Yoon. Pria itu sedang mencoba mengatur emosinya agar ia tak kehilangan kendali.

“Keputusanku untuk pergi adalah kenyataan yang harus aku jalani. Ayahku sudah memanggilku untuk mengikutinya ke Inggris. Tak ada alasan lagi untukku tinggal di Seoul. Aku juga berpikir akan lebih baik jika kita berpisah di sini. Maafkan aku, Seung-Yoon-ah.”

Seung-Yoon menarik lengan Na-Yeon dan mendekap erat tubuh sahabatnya itu, “Berhenti mengucap kata maaf dan tetaplah di sisiku, Na-Yeon-ah. Aku mohon.”

“Apa kau berpikir untuk menjadi seorang yang egois, Seung-Yoon-ah? Apa kau tidak mengerti jika berada di sisimu lebih lama lagi justru semakin membuatku terluka? Apa itu yang kau inginkan? Aku lelah dan aku harus pergi. Dengan begitu semuanya akan berjalan dengan semestinya. Kau dan aku akan mendapatkan akhir yang bahagia,” ucap Na-Yeon dan dekapan Seung-Yoon mulai mengencang. Gadis itu lalu mendorong pelan bahu pria yang telah berstatus sebagai sahabatnya selama 14 tahun itu. Ia menelengkupkan telapak tangannya ke pipi Seung-Yoon yang hangat.

“Jangan bersedih. Aku tetap Yeon-boo-ya sahabat kecilmu. Kita masih bisa bertemu lagi di masa depan. Jangan khawatir dan buatlah siapapun yang ada di sampingmu nyaman, baik aku, Carine, atau siapapun.”

Na-Yeon lagi-lagi mengulas senyuman dan mau tak mau Seung-Yoon pun membalas senyuman manis gadis yang ada di hadapannya ini.

“Kapan kau pergi?”

“Aku akan pergi…. setelah aku benar-benar ingin pergi.”

 

You came to me, into my heart, as something more than a friend
Next to you, I hid my heart, hiding behind the friend label

 

“Sebelum nona Na-Yeon pergi, ia menitipkan surat ini pada saya. Nona berpesan, jika Tuan Seung-Yoon datang, saya harus menyampaikan surat ini.” Seung-Yoon menatap diam surat yang terbungkus amplop putih itu. Perlahan ia menariknya dari tangan bibi Jung. Bibi Jung nampak heran dengan perubahan raut wajah Seung-Yoon yang mendadak sendu. Namun wanita setengah baya itu segera menepis anggapan herannya.

“Saya masuk dulu, Tuan. Masih banyak pekerjaan yang harus saya lakukan.” Setelah menyerahkan surat Na-Yeon, wanita setengah baya itu pamit dan masuk ke rumah. Seung-Yoon masih terdiam dan enggan bergerak sejengkal pun dari tempatnya berdiri. Ditatapnya nanar surat dengan hiasan hati berwarna merah itu. Melihat benda itu seolah-olah langsung mengingatkannya pada Na-Yeon. Ya, gadis itu sangat menyukai bentuk hati. Hati berwarna merah yang orang-orang sebut sebagai lambang dari cinta.

Ia perlahan menggerakkan jemarinya yang bergetar untuk membuka amplop itu. Dikeluarkannya secarik kertas yang terlipat rapi dari dalam amplop. Ia menghela napas sejenak lalu mulai membaca tulisan hangeul Na-Yeon yang rapi.

 

Dear Kang Seung-Yoon-nim,
Hai. Eum, sebenarnya aku bingung dari mana aku harus memulainya terlebih dahulu. Ini bukan sesuatu yang menjadi keahlianku. Tapi ini adalah satu-satunya cara agar aku tak perlu berhadapan langsung denganmu. Entah kenapa, aku mulai merasa takut untuk muncul di hadapanmu sekarang. Lucu bukan? Setelah 14 tahun aku mengenalmu, baru kali ini aku merasa sangat malu berada di dekatmu.
Kau mengenalku dengan sangat baik. Lebih dari siapa pun termasuk kedua orangtuaku. Aku merasa seperti gadis paling bahagia karena bisa mengenalmu dan menghabiskan banyak waktuku yang berharga bersamamu. Melihatmu tumbuh menjadi pria dewasa dan bertanggung jawab.
Aku sangat menikmati sisa-sisa waktuku bersamamu. Dari detik menjadi menit, lalu berubah menjadi jam dan akhirnya menjadi hari-hari yang menyenangkan jika melewatinya bersamamu. Kau ingat, saat kita kecil dulu kau sering mencuri ciumanku sembari memelukku dari belakang? Atau kau mengomeliku karena terlalu memaksakan diri untuk bisa berenang padahal aku tak bisa? Dan kebiasaanku untuk memberimu makanan walaupun aku sendiri belum makan? Ah, semua itu…. aku akan terus mengingatnya seumur hidupku.
Aku sadar, ini salah. Setiap hari aku memaksakan diri untuk terus berpikir ini salah. Perasaan ini sangat salah. Tapi aku kehilangan kendali dan akhirnya mengikuti kehendak bodoh hatiku. Bagaimana pun juga aku tak mau ikatan persahabatan yang telah kita jalin selama 14 tahun ini retak hanya karena keegoisan hatiku. Setiap detik, aku terus berusaha mempertahankan label teman itu. Hampir setiap saat aku selalu menyematkannya dalam setiap tindakanku. Dan setiap saat pula aku hampir menjadi gila karena terlalu memaksakannya walaupun aku tak bisa.
Kepergianku ke Inggris bukanlah akhir dari segalanya. Aku akan kembali. Tapi aku tak tahu waktu yang tepat. Bisa saja sepuluh tahun mendatang? Atau dua puluh tahun mendatang? Atau mungkin aku tak akan kembali karena terlalu malu untuk bertatap muka denganmu. Aku tak bisa memastikannya. Tolong maafkan keegoisanku.
Aku harap jika aku kembali nanti, aku bisa melihatmu bersanding dengan Carine atau perempuan lain yang bisa menerimamu dengan baik. Jangan khawatirkan aku. Aku akan baik-baik saja. Aku akan berusaha menghapus perasaanku padamu selama berada di Inggris. Mungkin aku bisa menemukan pria lain yang bisa membalas cintaku dengan cintanya yang tulus. Dan tentunya, aku akan berusaha menata hatiku untuknya.
Kau tentu tahu bahwa kau termasuk salah satu pria terbaik yang pernah aku kenal. Dan aku senang karena seseorang yang kesepian sepertiku bisa bertemu denganmu. Terima kasih karena telah menjadi penghiburku untuk 14 tahunku yang berharga. Aku akan terus mengingatnya. Selamat tinggal, Seung-Yoon-ah.
Tertanda,
Gadis bodoh yang telah lancang mencintaimu,
Im Na Yeon♥

 

Jemari Seung-Yoon perlahan meremas salah satu ujung surat. Membuat benda itu menjadi sedikit kusut. Tatapan matanya mulai meremang, terbias oleh airmata yang telah memenuhi kedua pelupuk matanya. Ia lalu mengusapkan punggung tangannya yang lebar ke kedua matanya secara bergantian.

“Maafkan aku, Na-Yeon-ah. Tolong maafkan aku dan kembalilah…..” ucap Seung-Yoon lirih. Kepalanya tertunduk dalam. Kedua bahunya bergetar. Udara dingin di sekitarnya pun mulai menghujamnya. Ia lalu mengangkat dagunya. Melihat dedaunan kering yang berserakan diterpa angin. Sama seperti Na-Yeon membawa pergi serpihan kecil hatinya yang kini terpecah belah.

“Bagaimana jika sekarang aku telah mengerti arti dari kehadiranmu di sisiku? Bagaimana jika aku menyadari satu fakta bahwa hanya kaulah yang aku butuhkan? Bagaimana jika aku juga mencintaimu sekarang? Kembalilah padaku, Na-Yeon-ah. Kumohon…. aku membutuhkanmu….”

 

-o0o-

 

Na-Yeon perlahan membuka kedua matanya. Ia memalingkan tatapan matanya pada jendela pesawat dan mengamati hamparan luas padang awan pulih yang kini menutupi permukaan bumi. Ia menarik kedua sudut bibirnya sembari menyentuh kaca tebal pesawat. Ia menyentikkan jemarinya mengukir suatu nama di permukaan kaca yang berembun.

강승윤

Nama itu terukir begitu saja. Gadis itu mengulas senyumnya lagi. Kedua maniknya kini mulai memerah dan mengembun. Terasa berat. Ia biarkan sebulir airmata jatuh menuruni pipinya. Sementara salah satu telapak putihnya berusaha menahan isakan yang tertahan di ujung lidahnya.

Oh, berhentilah. Sungguh, apa airmata itu begitu tak tahu diri? Apa isakannya tak peduli dengan kata hatinya yang menyuruhnya berhenti? Bodoh!

“Aku masih terus berusaha tersenyum.
Tak peduli apakah aku ini gila atau hanya sekedar tak waras.
Aku hanya merasa waktu berlalu begitu cepat dan kejam.
Bagaimana pun mesin waktu juga tak mampu menghentikannya.
Dan jika mesin itu ada, aku juga tak berniat menggunakannya.
Aku hanya akan menggunakan memoriku untuk kembali dalam waktu.
Aku masih terus tersenyum ketika aku mengingatnya.
Aku tak akan menyesalinya. Aku bersungguh-sungguh.
Cerita itu berputar dan terus berputar.
Aku tak ingin menghentikannya.
Biarkan saja ia berputar dan terus berputar.
Dan aku juga akan terus mengulangnya lagi dan lagi.
Menata hatiku? Dapatkah aku melakukannya?
Aku terus memikirkannya selagi menatap awan putih.
Dan apakah awan putih itu bisa menjawabku?
Jawabannya…. aku tak tahu….”

–fin.

nice to meet you guys 🙂

Advertisements

4 thoughts on “[One-shot] So Long

    • Waduh, perkaranya agak susah kalo nyatuin mereka berdua. Yah, biarkan saja mereka dengan status seperti itu. Mungkin untuk selanjutnya bisa kamu teruskan sendiri sesuai imajinasi yang kamu inginkan.

      Thanks for leaving comment 😀

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s