[3rd Chapter] One Last Cry

onelastcry2

One Last Cry

introprologue | 1st | 2nd |

Park Jiyeon, Jessica Jung, Kim Myungsoo, Choi Minho

romance, family, friendship, marriage life | PG-13

dislaimer : don’t copy my fic juseyoo~ sorry for typos

happy reading

Minho tak benar-benar sedang tertidur ketika Jessica mengecup puncak kepalanya dan keluar dari dalam kamar secara diam-diam. Ribuan pertanyaan berkelebat di dalam otak Minho, mempertanyakan tindakan keluar malam-malam seorang diri yang tak pernah dilakukan oleh seorang Jessica selama tahun pertama umur pernikahan mereka. Laki-laki itu mencium gelagat aneh dari istrinya, dan mungkin ada sesuatu yang Jessica sembunyikan darinya.

Lihat esok, karena Choi Minho akan segera mengetahuinya.

.

.

.

 

“Oh.. nona Jessica, syukurlah anda datang kemari.” Raut panic wajah Ahjumma Lim menyambut kedatangan Jessica. Gadis itu diminta masuk tanpa banyak basa-basi, Jessica bahkan tak sempat membuka coatnya dan sekedar menyampirkannya di gantungan baju.

“apakah terjadi sesuatu ahjumma?”

“saya juga tidak mengerti nona, sebaiknya anda temui nona Jiyeon saja.”

Jessica melangkah tergesa-gesa melewati lorong yang akan membawanya ke kamar Jiyeon. Pintu kayu itu tertutup rapat, dan tak terdengar suara apapun ketika ia mencoba untuk mendengarkan melalui celah pintu. Jessica menghirup banyak oksigen untuk mensuplai paru-parunya yang entah sejak kapan merasa sesak. Mungkin bukan sesak tepatnya, gadis itu gugup. Ia tak pernah segugup ini bertemu dengan Jiyeon dan feelingnya mengatakan bahwa gadis itu sedang tak baik-baik saja. Bahkan Jessica tak bisa berhenti memikirkan segala kemungkinan-kemungkinan selama perjalanan tadi. Ia hanya takut, semoga saja semuanya baik-baik saja.

“tok tok tokk..”

“Jiyeon…”

“Jiyeon-ah.. ini eonni,”

Apakah Jiyeon sudah tidur?

Jessica bertanya menggunakan ekspresi wajahnya pada asisten rumah tangga Jiyeon yang memilih menunggu di ujung lorong. Wanita paruh baya itu memberi kode agar Jessica sebaiknya masuk ke kamar itu.

“Jiyeon-ah, bolehkah eonni masuk?”

Tak ada jawaban. Dugaan-dugaan buruk itu semakin jelas terlihat. Suara Jessica cukup keras terdengar hingga ke balik kamar, tapi Jiyeon tak kunjung menyahut panggilannya apalagi mmebukakan pintu dan mempersilahkannya masuk.

“eonni masuk ya?”

Jessica memutar kenop dan membuka pintu itu perlahan. Netranya membulat sempurna melihat betapa berantakannya kamar adik tirinya ini. Beberapa barang pribadi Jiyeon tergeletak di lantai, sejumlah make-up pun tampak telah dijatuhkan secara sengaja hingga tampak beberapa diantaranya sudah pecah dan tak lagi bisa digunakan. Pecahan kaca vas dan bingkai yang retak menambah kekhwatiran Jessica. Marah-marah dengan cara merusak segala barang seperti ini bukanlah gaya adiknya. Jessica tahu persis jika Jiyeon akan lebih memlih untuk berhenti berbicara pada siapapun daripada merusak barang-barang pribadinya sendiri. Atau kecuali jika kali ini ia sudah benar-benar tak bisa menahan amarahnya.

Jessica memperhatikan setiap langkahnya dengan hati-hati, jika tak ingin kakinya terluka karena benda-benda tajam ini. Ia tergerak menghampiri Jiyeon yang terduduk lemas sambil menyandarkan punggungnya di dekat jendela. Rambut cokelat panjangnya menutupi sebagian besar wajahnya hingga kakaknya sendiri tak dapat mengira apa yang sedang gadis itu lakukan.

Tapi tunggu, bahu itu bergetar. Jessica menebak bahwa gadis itu sedang menangis.

“Jiyeon-ah..”

Jiyeon yang menyadari keberadaan Jessica yang tepat bersimpuh di hadapannya justru semakin meneggelamkan wajahnya diantara kedua lututnya.

“Jiyeon-ah..” Jessica menatap prihatin ke arah adiknya yang masih berusia dua puluh dua. Baginya Jiyeon masih seperti adik kecil yang harus ia lindungi. Dan Jessica benar-benar tak tahan dengan bau alcohol yang menusuk indera penciumannya. Dua botol minuman beralkohol tergeletak tak tersisa dan Jessica benar-benar tak mengerti akan tindak tanduk Jiyeon kali ini. Bukankah beberapa jam yang lalu mereka baru saja melewatkan makan malam keluarga yang sangat menyenangkan? Kenapa semuanya seolah berbalik arah hanya dalam waktu amat singkat.

“Jiyeon-ah, apa yang sebenarnya terjadi?”

Jessica menyentuh bahu Jiyeon yang bergetar.

“kau bisa ceritakan apapun padaku Jiyeon-ah, bukankah kita bestfriend?”

Jiyeon menghambur ke pelukan Jessica yang bersimpuh dihadapannya.

“aku sangat benci padanya eon, aku benci sekali padanya, benci sekali!” Jiyeon mengeratkan pelukannya, tak menghiraukan tubuh Jessica yang cenderung lebih kecil dari tubuhnya. Cairan bening itu masih meleleh melewati kedua pipinya dan menghapus make-upnya yang semula ditata dengan sempurna.

“apa yang kau bicarakan jiyeon-ah?”

“eonni.. apa aku ini kurang cantik? Apa aku ini kurang baik? Aku mencoba untuk menjadi gadis yang manis dan tunangan yang pengertian, tetapi kenapa laki-laki itu selalu mengabaikanku? Ia justru mencintai kakak tiriku. Apa salahku eon??!”

Jessica melepaskan pelukan mereka. Perkataan Jiyeon seolah menohok setiap pembuluh darah yang mengalir di tubuhnya. Ia meraup wajah Jiyeon dengan kedua telapak tangannya hingga dapat dilihatnya dengan jelas betapa kacaunya diri Jiyeon saat ini.

“apa yang kau katakan? Jangan berpikir seperti itu Jiyeon, myungsoo itu tunanganmu.”

“bagaimana bisa aku mengatakannya kami bertunangan sedangkan kudengar dengan telingaku sendiri bahwa tunanganku menyukai kakak tiriku?!”

Jesscica terhenyak. Kenyataan ini terlalu menyakitkan untuk didengar olehnya, terlebih oleh Jiyeon yang tengah menjalaninya. Tiba-tiba selintas bayangan masa lalu membuat Jessica terkesiap.

Jiyeon menggoncang-goncangkan Jessica dalam lamunan gadis itu. Jiyeon meminta jawaban dari bibir Jessica atas pertanyaan yang ia ajukan. Kilat amarahnya terlihat jelas terlepas kepada siapa emosi itu ditujukan. Apakah kepada kakak tirinya yang disukai oleh tunangannya ataukah kepada tunangannya yang menyukai kakak tirinya. Tapi satu hal yang pasti, Jiyeon muak kepada kenyataan bahwa ia bukanlah seseorang yang mengisi hati Myungsoo. Demi Tuhan, demi apapun, kenapa harus Jessica? Kakak tiri yang sangat ia sayangi. Jika saja itu adalah gadis lain, maka Jiyeon tak akan merasa terpukul seperti sekarang. Terlebih ketika sebenarnya gadis itu sudah mengetahuinya beberapa waktu yang lalu, dan ditambah dengan sikap arogan ketika Myungsoo memperlakukan dirinya justru semakin menambah luka di hati Jiyeon.

“Jawab aku eon!!”

“eonni!” tarikan gadis itu semakin kuat menarik-narik coat yang Jessica kenakan. Namun seberapa kuat pun Jiyeon mendesaknya, Jessica urung mengucapkan sepatah katapun. Kakak tirinya itu hanya melayangkan tatapan sendu dalam diamnya.

“say something eonni! Apa yang harus kulakukan heuh?”

Jiyeon menumpu tubuhnya dengan kedua tangannya. Bahunya terkulai dan ia hanya dapat terduduk sambil memandang kosong kearah lantai.

“aku suka padanya eon, tapi kenapa dia tidak menyukaiku? Kenapa aku tidak bisa memiliki laki-laki yang mencintaiku seperti Minho oppa yang sangat mencintaimu? Kenapa aku selalu menjadi nomor dua dan kau selalu menjadi nomor satu?”

“jiyeon-ah apa yang kau bicarakan?”

“memang kenyataannya begitu kan? Kau selalu mendapatkan apa yang kau inginkan dan aku tak akan mendapatkan apa yang ku inginkan jika aku tidak bekerja keras untuk mendapatkannya. Bahkan aku harus bekerja keras untuk mendapatkan hati tunanganku yang kau rebut eon, lucu sekali kan?” tawa hambar Jiyeon mengisi udara yang terasa semakin menyesakkan udara. Untuk pertama kalinya Jiyeon menatap Jessica dengan ekspresi penolakan. Dan Jessica yang menyadarinya memilih untuk bangkit dan merapatkan coatnya.

“aku tidak pernah merebut hati tunanganmu jiyeon-ah!”

“tapi bagaimana bisa ia menyukaimu? kenapa Myungsoo bisa jatuh cinta padamu? apa yang kau lakukan sebenarnya dibelakangku?”

Jessica tak percaya dengan kata-kata yang terlontar dari bibir adiknya. apakah Jiyeon sedang mencurigainya sekarang?

Namun Jessica lebih memilih untuk menahan diri.

“tenangkan dirimu jiyeon-ah, kita akan bicara lagi besok.”

“jadi sekarang kau akan meninggalkanku? Hmmm… bagaimana jika aku memberitahukannya pada Minho oppa? Kira-kira akan seperti apa reaksinya ya?” Jiyeon masih mengumbar tawanya. Kesadarannya masih berada di ambang lima puluh persen kendati dua botol bear sudah berpindah ke dalam perutnya.

“Don’t you dare to do that Jiyeon-ah!”

“why? Kenapa tidak boleh? Tidak adil sekali! Kau mendapatkan keduanya dan aku tak mendapatkan apapun.”

“kau mabuk. Tidurlah, kita akan bicarakan ini besok pagi.”

Jessica melangkah menjauhi sosok Jiyeon yang masih terduduk di dekat jendela kamarnya. Tak dihiraukannya panggilan bernada amarah dan ancaman-ancaman yang keluar dari bibir adiknya, kendati dalam hati ada kekhawatiran besar yang menyelimuti.

Sungguh Jessica tak dapat berpikir dengan jernih sekarang. Bagaimana bisa semua ini terjadi?

Jessica meremat tangannya yang berada di balik saku coat yang ia kenakan. Pikirannya melayang-layang menampilkan wajah Kim Myungsoo si biang onar dari segala kekacauan hari ini. Laki-laki itu memang harus diberi pelajaran.

.

.

Choi Minho, laki-laki itu tengah memakai dasinya sambil mematut dirinya di depan cermin. Beberapa kali ia salah mengenakannya, namun urung hal tersebut membuatnya ingin membangunkan sang istri. Jessica terlihat amat nyenyak dalam tidurnya kendati mata hari sudah terbit menyinari celah-celah gordyn kamar mereka.

Setelah lima menit bergelut dengan dasi berwarna donker itu, senyum Minho terkembang tatkala dasi itu kini telah terpakai secara sempurna di kerah kemejanya. Ia beranjak menghampiri Jessica yang masih bergelung dalam selimutnya. Wajahnya terlihat amat damai dalam tidurnya.

Gadis itu kelelahan, bahkan diam-diam Minho merasakan gerakan resah Jessica yang tak kunjung dapat menutup matanya padahal jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Ada yang salah dengan kepergian istrinya tadi malam. Dan Minho sudah mengetahuinya dari sopir keluarga mereka. Pergi mengunjungi Jiyeon saat tengah malam seperti kemarin bukanlah kebiasaan Jessica, kecuali jika memang ada hal mendesak. Oh Ya Ampun, semua ini membuat rasa penasaran Minho bertambah besar. Ia benci jika harus bermain rahasia-rahasian dengan istrinya sendiri.

Minho menghembuskan nafasnya perlahan. Tangannya tergerak untuk menyentuh pipi Jessica yang terasa dingin ketika bersentuhan dengan lapisan kulitnya.

Seketika itu pula Jessica terkesiap. Melihat keadaan Minho yang sudah rapi dan menyadari betapa terangnya pagi ini membuat Jessica otomatis mendudukkan tubuhnya.

“kau sudah mau berangkat?” Jessica menurunkan kakinya dari atas ranjang. Tangannya bergerak lincah mengikat rambut panjangnya.

“aku bangun terlambat ya?”

“kau mau sarapan apa sayang?” Jessica yang merasa tak enak hati hendak segera membasuh wajahnya lalu membuatkan sarapan untuk suaminya seperti yang selalu ia lakukan setiap pagi, namun Minho telah lebih dahulu mencekal pergelangan tangannya.

“waeyo? Kau tidak mau sarapan?”

Minho mengeleng, kemudian tersenyum sambil memiringkan wajahnya.

“kenapa kau malah terbangun? Padahal aku lebih suka melihatmu tertidur pulas seperti tadi.”

“heyy,, tapi aku bangun terlambat, eottohke? Mianhae sayang..”

“kau baru terlambat bangun sekali sayang, jangan berlebihan seperti itu.” Minho mengusap puncak kepala Jessica dengan sayang.

“tapi kau tetap mau sarapan kan? Aku akan membuatkannya sekarang.”

“aku akan sarapan di kantor saja, kau bisa tidur kembali kalau masih mengantuk.”

“aniya.. gwencana.. kalau begitu coffe saja oke?”

Tanpa menunggu persetujuan Minho, Jessica telah lebih dahulu melesat menuju lantai bawah untuk mencuci wajahnya di wastafel kemudian mulai membuatkan kopi dengan satu sendok kecil cream dan susu seperti yang selalu Minho nikmati pagi-pagi sebelum ia berangkat ke kantor. Sementara Minho memperhatikan gerak-gerik istrinya dengan seksama. Tak ada yang mencurigakan karena gerakan Jessica selalu cekatan seperti biasa, benar-benar ibu rumah tangga yang baik.

“waeyo?” Jessica menyadari tatapan intens yang sedari tadi Minho layangkan untuknya. Mendadak rasa gugup itu kembali mendominasi. Oh Ya Tuhan, saat ini gadis itu hanya berharap bahwa Jiyeon hanya bermain-main dengan kata-kata yang ia lontarkan tadi malam. Karena hidupnya akan hancur jika Minho mengetahui apa yang terjadi semalam. Bukan hanya hidupnya saja, tapi mungkin juga karier Kim Myungsoo.

“Argghhh….!” Bodoh sekali, gadis itu terlalu kalut dengan kekhawatiran yang menyelimutinya sampai tak memperhatikan kemana arah ia harus menuangkan air panas.

“gwencaha?” Minho menarik tangan istrinya dan menyalakan keran air untuk membasuh punggung tangan Jessica.

“kau harus berhati-hati, bagaimana bisa kau melamun sambil membawa air panas seperti tadi?”

“aku tidak apa-apa sayang..” Jessica hanya menunjukkan cengirannya.

“apakah kau sedang memikirkan sesuatu?”

Tangan keduanya masih berada di bawah keran air yang menyala.

“aniya..”

“jeongmal?”

“hemmm..” Jessica mengangguk mantap namun tatapannya masih terfokus pada air yang mengalir dari balik keran.

“jika ada yang menganggumu, kau bisa menceritakan apapun padaku sayang..”

Jessica mematikan keran air dan mengelap tangan mereka berdua dengan tissue. Kali ini tatapan matanya memilih untuk menatap dirinya yang tengah mengeringkan kedua tangan Minho menggunakan tissue.

“tidak ada yang mengangguku sama sekali, jangan khawatir okey?”

Gadis itu kembali sibuk dengan rutinitas membuat kopinya yang sedikit tertunda. Sementara Minho menghela nafasnya pelan. Jessica jelas tak ingin menceritakan apapun kepadanya saat ini, dan sebagai suami yang pengertian, ia tak ingin mendesak istrinya untuk bercerita lebih jauh. Lagipula cepat atau lambat Minho pasti akan mengetahui semuanya dengan cara-cara yang tempuh sendiri.

“kau ada acara hari ini?” Minho menerima secangkir kopi dari tangan Jessica, juga selembar roti yang telah di olesi selai kacang.

“hmmm… mungkin aku akan pergi shopping hari ini, tidak apa-apa kan?” Jessica mendudukkan dirinya di kursi terdekat dari posisi duduk suaminya.

“kau tidak ada rencana bertemu dengan Jiyeon hari ini?”

“rasanya tidak.”

“itu berarti kita bisa makan siang bersama hari ini?”

“Baiklah, aku akan menemui oppa di kantor..”

Minho menyesap kopinya sambil memperhatikan jam tangan rolex yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

“bagaimana kalau jam satu?”

“hmm.. baiklah..” Jessica tersenyum sambil merapikan dasi yang Minho kenakan. Kedua lengannya kemudian tergerak untuk melingkar di pinggang Minho yang bangkit dari kursinya.

“aigoo… kenapa kau tiba-tiba memelukku seperti ini?” Minho terkekeh geli dengan tingkah tak lazim Jessica pagi ini, karena biasanya laki-laki itu lah yang paling berinisiatif dalam urusan bermanja-manjaan.

“aigoo… wangi sekali suamiku.”

“baiklah.. suamimu ini harus berangkat kerja.” Mereka masih berpelukan sampai di depan pintu depan rumah. Minho mengecup kedua pipi Jessica dan kemudian masuk ke dalam mobilnya.

“oppa, hati-hati di jalan..”

“hmmm.. sampai bertemu nanti.”

Jessica melambaikan tangannya dan masih berada di depan rumah menunggu mobil Minho menghilang di balik tikungan.

Setelah itu bergegas ia masuk dengan langkah lebar-lebar menuju kamar mereka. Ia megambil handphonenya dari balik laci nakas, mencari kontak yang familiar dan menyentuh tombol call setelah menemukannya.

“yeoboseyo?”

“hmm”

“kita harus bertemu.”

“ada masalah apa?”

“masalah penting. Temui aku di café dekat taman kota satu jam lagi.”

“aku sedang sibuk.”

“kim myungsoo, aku tidak ingin berdebat denganmu sekarang.”

“baiklah, satu jam lagi.”

“click.”

.

.

Pandangan mata Minho focus memperhatikan jalanan kota Seoul yang terhampar di depannya, sementara tangan kirinya bergerak lincah memainkan handphone dan melakukan panggilan telpon.

“yeoboseyo?” suara di seberang menyahut.

“aku ada tugas mendadak untukmu.”

“apapun itu tuan.”

“sekarang juga pergilah ke rumahku dan awasi istriku. Tapi ingat! Jangan sampai hal ini diketahui oleh siapapun.”

“baik tuan.”

“bagus, laporkan padaku secepatnya ketika kau mendapatkan sesuatu.”

“baik akan saya laksanakan tuan.”

“click.”

Minho melemparkan handphonenya sembarang. Kedua tangannya kini menggenggam setir mobil dengan kuat. Dalam benaknya ia bertanya-tanya, apa yang sedang coba disembunyikan oleh Jessica?

 

TBC.

 

maap ya, cuma pendek nih cuma 2000 words kali ini. Kemarin2 gak sempet update karena sekarang dah ada di kost, jauh dari rumah dan juga wifi hikss.. jadi mohon pengertiannya ya readers, saya usahakan update seminggu sekali okay? mind to review? biar semangat sayanya 😀

Advertisements

30 thoughts on “[3rd Chapter] One Last Cry

  1. dasar si myungg…jiyeon.ny frustasi bgt yahhh….pasti sakit hati bgt klo tunangan.ny suka sama kakak tiri.ny..mnding klo suka.ny diem2..lahh..klo d cuekin juga jiyeon.ny…

  2. kayak baca fanfic minho ma jessica ngk ad bagian jiyeon dikit pun.
    apa jessica selingkuh sama myungsoo,apa minho belum cukup.jagan serakah gitu donk.

  3. kayak baca fanfic minho ma jessica ngk ad bagian jiyeon dikit pun.
    apa jessica selingkuh sama myungsoo,apa minho belum cukup.jagan serakah gitu donk

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s