[ Threeshot ] Deep In Your Eyes 1/3

deep in your eyes-alana cantique.

Title || Deep In Your Eyes

Cast || Jiyeon | Chanyeol | Xiumin | Hyuna

Genre || Romance | Angst

Rated || PG-17

Length || Twoshot/maybe

 Disclaimer.

This is not very serious Vampire’s story!

Warning of Chanyeon smooth scene!

Lupakan teasernya yang A.L.A.Y.

Typos berhamburan di sekitar kita!

/kita?Lu aja kali/*tunjuk pala ndiri*

CEKIDOT TRALALALA…..

 

 

 

Tempat tidur ini, dan cahaya yang samar. Kebiru-biruan, dan suara yang bening dari arah luar. Pagi. Banyak kemilau yang semakin menjelaskan cerita di setiap sudut kamar. Sepasang meja dan kursinya. Juga cermin dan bayang-bayang gaun merahnya. Terasa lambat bergerak. Menari dengan hembusan angin dari jendela yang terbuka. Hampir membuyarakn semua kenangan dalam satu kedipan mata. Jiyi masih terbaring di sana. Dia hanya menatap tanpa bergeming, pada semua bayangan yang tercipta di dalam kamarnya. Kamar mereka berdua. Dia dan Luhannya. Kemudian menelungkup. Kembali tersenyum untuk sebuah kenangan.

 

Langkah kaki itu. Terhitung hingga tiba di depan pintu kamarnya. Kayu tua yang mulai terlihat rapuh, tanpa kekuatan sedang berderit untuk terbuka. Sebuah wajah yang tak kalah indahnya dari pesona pagi ini. Jiyi mengakuinya. Sudah lama, namun dia belum mampou untuk meyakinkan bahwa wajah tampan itu tidak seprrti wajah yang membuat hatinya menaruhkan asa. Smirks yang lembut terpasang di sana. Pagi ini dia terlihat sedikit kusam. Keseluruhan tubuhnya, juga helai rambutnya. Dia menatap dengan cahaya pagi yang sedikit mengganggunya. Lengannya menutupi matanya.

 

“Kenapa kau belum menutup jendela itu?” keluhnya. 

 

Dia masih berjalan bertelanjang kaki. Helai rambutnya yang kusam menarik perhatianku.

 

“Kau dari mana semalam?” tanya Jiyi

 

Chanyeol menggapai tirai berwarna biru itu untuk tertutup. Diam sebentar di sana hingga Jiyi bangkit dari pembaringannya.

 

“Aku menyusuri tepi sungai. ” jawab Chanyeol.

 

Jelas terlintas dalam ingatan Chanyeol mengenai beberapa pagi yang lalu, ketika Jiyi menopang dagunya pada pinggir jendela, ketika mentari sudah mengintip di kejauhan Timur, ketika tangannya menyapa pundaknya. Lembut. Santun, bahkan Jiyi sempat mengira kehadiran kembali akan Luhannya. 

 

“Kau cantik sekali pagi ini.”  Chanyeol tidak sedang menggoda.Dia memuji Jiyi yang masih menatap mentari dari tirai jendela kamarnya yang tertutup.

 

“Aku merasa bosan.” keluh Jiyi. 

 

Dia menyibukkan diri dengan helai rambutnya, yang berlanjut pada sentuhan jemari Chanyeol. Rambut kehitaman yang berkilau indah. Harum. Jiyi membiarkannya. Telapak-telapak tangan yang sedikit keras itu menyapa manis kulit kepalanya. Ada banyak cerita mengerikan yang pernah dialami tangan kokoh itu. Kematian dan darah. Mengusap dan menekan, membiarkan Jiyi terlena. 

 

Pijatan-pijatan yang lembut yang semakin mengarah pada ransangan yang mengelabui akal sehatnya. Jiyi tersenyum sebentar. Dia menikmatinya.

 

“Kita bisa melakukan hal yang tidak membosankan.” Bisik Chanyeol di telinga Jiyi.  Sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya. Jiyi memejamkan matanya sesaat.

 

“Seperti apa misalnya?” tanya Jiyi.

 

“Hm, mungkin kita bisa ke kota, bermain di game station, atau menyelam di danau atau mungkin juga ke club malam. Kita bisa menikmatinya berdua. Hanya berdua.”  Chanyeol merasa sangat yakin sekali jika Jiyi akan menjadi miliknya. Cepat atau lambat dia akan terbiasa dengan kebersamaan ini. 

 

Jiyi berpikir. Matanya sayu dan kian redup. Chanyeol segera menutup jendela kamar dengan sigap. Dia menangkap bayangan asap di sekujur tubuh Jiyi. Bagaimana mungkin Jiyi bisa bertahan di depan jendela yang terbuka ketika sinar matahari menyerangnya. Tirai itu hanya menutupi cahaya, bukan kekuatan bola apinya.

 

“Aku masih membutuhkanmu di sini.” ujar Chanyeol ketika dia bersimpuh dan memeluk Jiyi. 

 

Namun seperti biasanya, Jiyi menjauhkan tubuh Chanyeol darinya. Luhan. Bayangan tubuh tercintanya itu masih selalu menghantuinya. 

 

“Seperti kau membutuhkan Luhan?” tanya Jiyi.

 

“Kau mengerti dengan maksudku.”  Chanyeol melangkah meninggalkan Jiyi.

 

Langkah kakinya antara ada dan tiada. Terkadang terdengar dengan jelas, terkadang menghilang tanpa suara. Jiyi merebahkan diri dengan perasaan yang sepi. 

 

Dia membutuhkan sesuatu untuk hatinya. Jiyi menoleh ke arah di mana Chanyeol menghilang. Setiap hari bersamanya, menatapnya, berbicara dengannya. Bertengkar lalu berburu bersama dan menghisap darah dari buruan yang sama. 

 

Ini rumit. 

 

 

.

.

.

 

 

Suara langkah kaki menyeret terdengar hampir menggema di setiap sudut rumah. Jiyi menoleh bersamaan sejurus tatapan Chanyeol yang tajam. Dia lebih dulu menyeringai dengan hawa berbeda yang sejak tadi datang mengganggunya. Sebuah kehangatan. Sepotong tubuh manusia, dan daging, darah. Dia menembus di kepala Jiyi. Sangat segar. Dia dihantui oleh naluri membunuh.  Sudah terlalu lama sejak dia meninggalkan kehidupannya di kota, dia tidak mencium bau manusia.

 

“Jangan !”  Jiyi melarang Chanyeol untuk menyerang sosok yag berdiri di depan pintu pondok mereka. Lantai kayu yang di injak manusia di luar sana terdengar sangat memilukan. Jiyi menahan diri. 

 

“Jika dia berusaha untuk masuk, aku akan menghabisinya.” Chanyeol berpaling dari Jiyi.

 

“Aku sudah pernah merasakan darah manusia. ” bisik Jiyi

 

“Apa kau ingin merasakannya lagi ?” 

 

Chanyeol terdiam. Ada satu hal yang selama ini tidak diungkapnya. Sesuatu yang sangat fatal. Entah untuk berapa lama lagi dia akan menunggu untuk kemunculannya. Cepat atau lambat dia akan muncul.  Itu sebuah kesalahan. Seharusnya dia tidak melakukannya. 

 

“Apa yang kau pikiran ?” tanya Jiyi.

 

Chanyeol belum sempat menjawabnya, lalu

 

Tok-tok.tok

 

 

Chanyeol mengurungkan niatnya untuk menceritakan kejadian itu, pada malam di mana dia begitu emosi karena tidak jadi memikiki Jiyeon. Ketika Luhan datang dan melayangkan tendangannya, ketika dia mengambil Jiyi dari tubuhnya. Malam itu Chanyeol pergi ke sebuah pemukiman penduduk. Di sana dia bertemu tidak sengaja dengan seorang yeoja. Pakaiannya sungguh sexy. Dia memakai cobalt biru ketat dengan potongan yang rendah di dadanya. Pantatnya yang begitu sintal meyembul sempurna. Malam itu dia diluar batas nalurinya. Dia hanya ingin bercinta. Hanya bercinta. Namun keharuman dan kesegaran darah yang membayang ditubuhnya membuat Chanyeol kehilangan akal sehatnya. Sesuatu yang pernah dilakukannya itu yang mungkin akan membuat kehidupan mereka sedikit terganggu. Namun Chanyeol berharap semua itu tidak akan terjadi. Chanyeol bahkan tidak mengetahui nama yeoja itu.

 

Ketukan di pintu itu terdengar sangat janggal dan asing. Tidak ada tamu yang berani datang sebelumnya ke pondok ini. Jiyi semakin kuat mencengkram lengan Chanyeol. Dia menggeleng, menekan naluri vampire jantan yang membuat hidupnya rumit. Dia kini terperangkap dalam sebuah dilemma tak berkesudahan bersamanya.

 

Merasakan lengan itu, dalam gengamannya, Jiyi merasa seperti terserap masuk ke dalam pusat dari jiwanya. Sangat kuat .

 

“Apa karena dia kau memegangku begitu hebat. Siapa dia ?” tanya Chanyeol.

 

“Aku tidak tahu. ” jawab Jiyi, mengurai pegangannya.

 

“Dia pasti mencarimu.” bisik Chanyeol. Suaranya sangat berat dan sedikit serak. Dia mengucapkannya dengan sangat nakal. Namun Chanyeol memalingkan wajahnya. Pada pintu itu.

 

“Aku akan membukanya.”  Ujarnya

 

“Apa kau pikir dia tidak akan takut.” Jiyi mencegah. Dia berjalan ke arah pintu. Detak jantung manusia di depan sana bisa didengarnya dengan sangat jelas. 

 

Detik berikutnya, Jiyi sudah membuka pintu kayu itu. Angin langsung menyeruak masuk bersama tubuh yang menerjang Jiyi dengan hebat.

 

“Aigoo, lama sekali kau membuka pintunya. Aku sudah kedinginan. Ku pikir kau tidak ada di rumah. Jiyi, kenapa lampunya begitu redup. Aku tidak biasa dengan suasana seperti ini. Tidak bisakah kau nyalakan lampu utamanya. Ah, aku butuh kehangatan. Di mana perapiannya. Apa kau tidak mempunyai sistem penghangat ruangan?”

 

Jiyi tercengang dengan kecerewetan manusia yang baru saja masuk ke dalam pondoknya. Chanyeol hanya menyeringai geli.  Dia hanya menatap sosok payah itu masuk dan berjalan hilir mudik karena kedinginan.

 

“Xiumin, kenapa kau bisa sampai ke sini ?” tanya Jiyi dengan rasa tak percaya. Namun juga penuh dengan kerinduan. Sudah lama dia tidak bertemu dengan sahabatnya yang konyol itu.

 

“Jiyi, aku kedinginan.”  ujarnya.

 

“Aku akan menyalakan perapiannya.”  Jiyi melirik ke arah Chanyeol.

 

“Aku akan ambil dulu kayunya. ” Dia berjalan keluar. Vampire bertubuh tinggi yang belakangan ini senang bertelanjang dada itu sama sekali tidak merasakan hawa dingin. Tubuhnya kebal dengan hawa legunungan ataupun musim dingin sekalipun. 

 

“Apa aku menggangu kalian ?” Xiumin seperti orang bodoh menatap Jiyi yang masih mematung. 

 

“Aku masih belum percaya kalau kau bisa ke sini lagi.”

 

“Aku sangat merindukanmu.” ujar Xiumin.

 

Brakh

 

Chanyeol menjatuhkan kayu-kayu itu dengan keras di depan perapian. Xiumin dan Jiyi tak urung menoleh. Cepat sekali dia mengambil kayu bakar. Pikir Xiumin dengan mata berkedip heran. 

 

“Apa kau baik-baik saja bersamanya?” bisik Xiumin. 

 

“Kau tidak perlu berbisik di sini, karena tidak diucapkan pun aku bisa mendengarmu!”  Chanyeol melengos ke arah Xiumin. Kenapa namja itu bisa di sini lagi. Apa tujuannya? Apakah dia ingin membawa Jiyi kembali ke Seoul.

 

“Aku hanya ingin memberikan hadiah untuk ulang tahun Jiyi. Dia berulang tahun yang ke delapan belas tahun saat terakhir kami bersama.” jawab Xiumin.

 

Jiyi menunduk. Ulang tahun? Usianya tepat dua puluh tahun. Kenapa dia melupakan tanggal lahirnya. Kenapa waktu sepertinya berhenti berjalan untuk hidupnya. Jiyi menatap Chanyeol. Vampire tampan itu mendekati dengan sebuah tatapan emotional yang membuat Jiyi tercekat. Tangannya lebih dulu tiba untuk menyentuh wajah Jiyi.

 

“Aku lupa.” Jawab Jiyi

 

“Kau tidak sedang menghindari perlakuan istimewa dariku kan?”  Chanyeol mendengus lirih.

 

“Ani, aku sungguh lupa Chanyeol Oppa. Aku lupa.” jawab Jiyi bersungguh-sungguh. Chanyeol mendekap Jiyi, membuat Xiumin merasa risih. Dia berpaling dan merasa miris dengan kondisi itu.

 

 

 

 

 

Angin tiba-tiba berhembus kencang, dan dingin. Udara di luar memang dingin seharusnya tidak sampai sedingin ini di kulit Xiumin. Sudah lama rumah ini jauh dari kehangatan. Aura dari kematian memang menyelubungi dinding-dinding kusamnya. Bahkan ada sebagian dindingnya rudak dan tidak di perbaiki. Kenapa semua ini dibiarkan begitu saja. Kenapa Jiyi tidak membuat rumah ini nyaman baginya.

 

Perapian pun menyala diantara kegelisahan Jiyi. Dia sedang mendalami beberapa hal yang Xiumin sampaikan beberapa saat lalu. Chanyeol tidak terlihat. Dia malas untuk berlama-lama menghadapi Xiumin. Dia memlih untuk mencari kesenangan di dalam hutan. 

 

“Kau terlihat semakin dewasa, Xiumin!”  

 

“Aku merasa sangat kesepian sejak kau tidak ada bersamaku.”  Jiyi hanya tersenyum.

 

“Kau seharusnya mencari kekasih.”

 

“Sudah.” Xiumin melemparkan sebuah kayu lagi ke dalam api. Nyalanya menjadi lebih besar. Dan menjadi lebih hangat di sekitar perapian. Xiumin tidak berani menjauh dari depan api. 

 

Jiyi duduk agak jauh.Dia sedikit gelisah jika berhadapan dengan api. Rona wajahnya menjadi kian tipis. Hawa panas itu seakan-akan mengikis kulit arinya, dan menyisakan kepulan asap halus yang melayang di sekujur tubuhnya.

 

“Lalu?” kejar Jiyi. Dia ingin tahu apakah Xiumin berhasil memperoleh kekasih.

 

“Aku mencari yeoja yang seumur denganku, tapi yang datang padaku justru ABG-ABG labil. Mereka masih SMP. Mana bisa aku mengencani anak SMP. “

 

 

Jiyi tersenyum.

 

“Kenapa tidak. Mereka pasti sangat lucu dan imut.”

 

“Mereka masih sibuk dengan bimbingan belajar dan les. Jika aku mengencani anak SMP, maka aku akan dilaporkan ke Komnas Perlindungan Anak, karena dianggap pedofil.”

 

Xiumin memperhatikan raut muka Jiyi yang muram.

 

“Kau belum bisa melupakan Luhan?” tanya Xiumin

 

Jiyi hanya tersenyum. Dia menoleh ke segala arah mencari Chanyeol. Di mana dia?  

 

“Bagaimana dengan Chanyeol. Apa dia masih jahat padamu?” Xiumin begitu hati-hati menanyakan hal itu.  Dia merasa sedikit ngeri jika wajah Chanyeol langsung menyeruak dan menerkamnya dari belakang.

 

“Apa kau masih takut padanya?”  tanya Jiyi.

 

“Aku selalu ngeri jika melihatnya. Apa kau lupa, dia selalu mengatakan aku sebagai fresh meet. Apakah aku terlihat segar?”  tanya Xiumin sambil menepuk nepuk pipinya.

 

“Hm, kau sungguh segar. Kulitmu kemerahan dan menggiurkan. Aku sendiri ingin sekali menjilati tubuhmu dan sedikit mengnikmati darahmu.”  Jiyi mendekat

 

“Jiyi!”  teriak Xiumin dengan wajah pucat. Dia menjauh dengan spontan.  Jiyi terkekeh melihatnya.

 

“Hahaha, Mian! Aku hanya bercanda. Agh, Xiumin kau benar-benar temanku yang paling lucu. Aku beruntung mengenalmu. Aku tidak akan membiarkanmu terluka. “

 

“Baguslah! Aku akan baik-baik saja, jika memang seperti itu.”

 

“Appa dan eomma ?” Tanya Jiyi ragu. 

 

“Mereka sebenarnya tidak baik-baik saja. Sangat merindukanmu, terlebih eomma. Dia selalu menangis. Appa bahkan menjadi stroke karena terlalu memikirkanmu.”

 

Jiyi menunduk. Dia tidak bisa memungkiri hatinya begitu sakit mendengarkan kabar mengenai kedua orang tuanya. Air matanya menetes dengan deras. Bulir-bulirnya begitu besar mengalir hingga membasahi pakaiannya.

 

“Maafkan aku sudah membuatmu menangis, Jiyi.”  Xiumin menjadi khawatir.

 

“Xiumin, aku sangat merindukan orang tuaku.” 

 

“Pulanglah!” bisik namja imut itu. Dia menatap serius. Dia ingin Jiyi kembali ke kota. Namun Jiyi menggeleng. 

 

“Aku tidak punya tempat di sana. Aku merasa sangat tersiksa berada diantara manusia. Kepalaku sepertinya dipenuhi oleh hasrat membunuh. Aku sangat tertekan. 

 

“Mengenai khasus itu, aku sungguh merasa prihatin.”

 

“Ya, bagaimana khasusku waktu itu?”  Jiyi seakan tersadar dengan episode kecil mengenai pembunuhan laki-laki yang akan memperkosanya waktu itu.

 

“Semua orang mengira jika orang tuamu mempunyai anak seorang pembunuh. “

 

“Mereka menyalahkan kedua orangtuaku?”  

 

Xiumin mengangguk.

 

“Selama dirimu belum ditemukan, mereka akan mengawasi apartement orangtuamu 24 jam penuh.

 

“Apakah mereka mengikutimu?”tanya Jiyi

 

“Entahlah. Apa mereka berpikir kalau aku adalah orang terdekatmu?” Mereka saling menatap dengan gelisah.

 

“Mereka tidak akan menemukanku di sini. Tempat ini jauh dari pemikiran banyak orang. Kalaupun mereka bisa tiba di sini, mungkin mereka tidak akan menemukan aku. Chanyeol pasti akan membuat masalah jika ada manusia datang ke tempat ini. Dia tadi hampir menerkammu.”

 

“Aku begitu ngeri. Dia semakin bertambah aneh.”  bisik Xiumin. Matanya masih berkeliaran ke sana sini jika membicarakan Chanueol. Dia sungguh takut. Jiyi tersenyum

 

“Sebenarnya dia bertambah sexy, Xiuminie.”

 

Xiumin melirik sengit namanya dipanggil seperti nama wanita. Dia merengut.

 

“Kenapa?”  tanya Jiyi.

 

“Kau tega sekali memanggilku Xiuminie.” 

 

“Memangnya kenapa, itu panggilan yang manis.”

 

“Benarkah? apakah aku manis?”  tanya Xiumin.

 

“Kau manis, dan hentikan! Aku tidak akan memujimu manis terlalu banyak. Nanti kau terkena diabetes.” 

 

Xiumin merengut.

 

“Mengenai Chanyeol lagi. Kenapa kau mengatakan dia semakin sexy, aku justru melihatnya semakin bertambah liar. Rambutnya panjang dan kulitnya semakin gelap kecoklatan. Bahkan celana yang dia pakai terlihat dekil dan kotor. Apa kau tidak mengurusnya. ”  

 

Jiyi tercekat mendengarnya. Benarkah begitu. Apakah Chanyeol terlihat kusam. 

 

Selama Luhan masih ada, Chanyeol tidak pernah terlihat sekotor itu. Berarti Jiyi memang tidak mengurus Chanyeol seperti Luhan mengurusnya.  Kenapa dia baru tersadar akan hal itu. 

 

Jiyi berdiri dan berjalan keluar. Entah kenapa dia mersa seperti ingin sekali bertemu dan menatap mata vampire tampan itu.

 

“Chanyeol Oppa!”  bisiknya ketika menatap danau dan hutan. Malam ini tidak ada bulan. Semuanya seperti dalam kegelapan abadi.

 

 

 

 

Chanyeol seperti mendengar panggilan itu. Tubuhnya gemetar ketika desah napas Jiyi menyapanya lewat angin. Dia berbalik, dia ingin kembali ke pondok dan menemui Jiyi, namun kemudian matanya yang tajam menangkap bayangan sosok yang mencurigakan di kejauhan. Chanyeol bergerak ke sana. Tubuhnya melesat diantara dahan-dahan pepohonan menuju ke arah Timur laut. Sekumpulan kabut tidak menghalangi aksinya. Hal itu hanya masalah kecil tidak berarti. Chanyeol bisa melewati malam tanpa kesulitan. 

 

Di sana di dekat sebuah pemukiman penduduk yang terpisah dari lingkup keramaian terdapat tiga buah pondok terbuat dari kayu. Suasananya sangat mencekam. Chanyeol tidak melupakan tempat itu. Dia pernah ke sana .

 

Kakinya berdiri tegak di dahan yang tinggi, tidak jauh dari pondok pertama. Namun sepetinya dalam pondok itu sudah tidak terdapat kehidupan lagi. Sepi. Bahkan penerangan pun tidak ada. Kemudian terlihat lagi bayangan berwarna biru melintas di hadapan Chanyeol.

 

“Hei!”  Teriak Chanyeol seakan-akan memanggil. Bayangan itu berhenti di bawah sebuah pohon di depan sana. Dia yeoja berambut panjang dengan tatapan mata yang sungguh misterius itu menyambut kehadiran Chanyeol dengan senyuma.

 

Vampire tampan berpostur tinggi itu terpana melihat hal itu. Dia menjadi sedikit was-was ketika dia menyadari bahwa yeoja itu adalah sosok yang pernah dia ajak bercinta beberapa waktu dulu. 

 

“Kau mencariku?” tanyanya berani. Matanya memerah ketika Chanyeol mendekat. 

 

Langkah Chanyeol menjadi lirih ketika dia menyadari bahwa sosok itu memang benar yeoja yang dia setubuhi di malam Jiyi tidak berhasil dia dapatkan. 

 

“Kau mencari pasanganmu? Kenapa baru sekarang kau datang?” tanyanya lagi. Bibirnya merah berlumuran darah. Chanyeol merasa seperti dunianya menghilang. Dia telah merubah yeoja itu menjadi vampire, telebih karena dia memilihnya. Memlilih tanpa berpikir panjang. Saat itu pikirannya buntu. Dia ingn membuat pembalasan pada Luhan dan Jiyi, namun pada akhirnya dia tidak sanggup.

 

“Namaku, Hyuna. Apa kau ke sini untuk menjemputku?”  dia mendekati Chanyeol dan menyentuhi tubuh vampire jantan yang begitu memukaunya. Dia menjilati leher Chanyeol dan menggeram karena merasa menemukan pasangannya.

 

“Aku ingin tahu dengan siapa aku akan mengabdi.”  bisiknya lagi. Kali ini saling menatap dan mereka-reka sebuah pengertian. Chanyeol merasa teriris batinnya. Dia menyesali apa yang telah dia lakukan. Apa yang akan terjadi dengan Jiyi. Kenapa dia melakukan hal itu. 

 

Jiyi.

 

Chanyeol meninggalkan vampire betina itu dengan cepat tanpa meninggalkan kesan ramah ataupun ingin menjadikan Hyuna sebagai pasangannya. Dia melesat pergi, namun dia tidak yakin apakah vampire bernama Hyuna itu akan berdiam diri. Sepertinya dia mempunyai naluri yang lebih tajam dari Jiyi. Dia sangat terlihat kejam. Chanyeol sungguh menyesal. 

 

Jiyi.

 

Batinnya terus berteriak memanggil Jiyi. Hingga beberapa menit kemudian dia tiba di depan pondok. Dia melihat Jiyi berdiri di depan pintu dan menatapnya. Tubuh itu langsung di terkamnya. Di bawanya masuk dan langsung dihujaninya dengan ciuman. 

 

Tubuh Jiyi terhempas ke dinding, dengan tubuh Chanyeol  menekan hebat. Dia mencengkram wajah manis Jiyi dan membuat bibirnya sempurna melumat Jiyi. Xiumin menatapnya dengan keterpukauan. Namun sebentar dia berpaling. Dia tidak berani menatap hal itu dan memutuskan untuk masuk ke ruangan lain. Dia hanya berpikir bahwa antara Jiyi dan Chanyeol saat ini adalah sepasang kekasih. Mereka mahluk yang sama dan mereka saling membutuhkan.

 

Chanyeol seperti ingin melakukan sesuatu pada Jiyi. Dia tidak bisa membendungnya malam ini. Terlebih ketika dia merasa seperti Jiyi telah memanggil jiwanya. Dengan sigap dia melepaskan semua yang dikenakan Jiyi.

 

“Apa yang kau lakukan?”  Jiyi berteriak sambil menopang dada Chanyeol.  Dia begitu terbawa suasana. 

 

“Please!”  bisik Chanyeol penuh permohonan. Tatapannya sungguh indah. 

 

“Chanyeol Oppa!”  Jiyi menjadi gelisah menangkap tatapan mata yang begitu penuh gairah. Bagaimana ini, apakah dia akan mengijinkan Chanyeol menyentuhnya.Setelah sekian lama. 

 

Mereka saling menatap sebelum Jiyi akhirnya mendekat dengan pikiran bergemuruh hebat. Semua bayangan kenakalan Chanyeol padanya muncul dengan sendirinya. Tubuhnya yang begitu kuat dan membopongnya, kemudian meringkusnya hingga dia merasa hampir kehilangan kesuciannya jika Luhannya tidak datang. Saat itu.

 

“Jiyi…”  Chanyeol membopong tubuh Jiyi untuk naik ke dalam kamarnya. Dengan gerakan cepat dia melesat dan menempatkan Jiyi di atas pembaringan.

 

Tangan Jiyi menahan Chanyeol untuk mendekatinya. Namun sepertinya vampire jantan itu tidak perduli. Dia terlihat lebih sangar dan buas ketika menepiskan tangan Jiyi. Di terkamnya Jiyi dan dibuatnya dia berada dalam kuasanya. Lututnya bertumpu di atas kasur, diantara kaki Jiyi yang terbuka. Dia menggenggam jemari Jiyi dan menelusuri tubuh Jiyi. Tubuh kekarnya bergerak erotis dengan menempatkan kejantanannya diantara kaki Jiyi yang terbuka.

 

Dengan cepat mereka sudah bergumul dalam kegelapan. Jiyi merasa aneh dengan hal ini. Sesaat lalu dia begitu ingin bertemu dan menatap Chanyeol karena ada sebuah perasaan lain yang begitu mengganggunya. Namun sekarang, Chanyeol datang dengan membawa segunung gairah yang membuatnya begitu membutuhkannya.  Membutuhkan Chanyeol.  Dia menginginkan Chanyeol. Ada apa dengan malam ini?

 

“Apa yang terjadi denganmu?”  bisik Jiyi, ketika Chanyeol mulai meremas dadanya dengan lembut. Matanya begitu liar dengan tubuh Jiyi. Dia menggeram dalam cumbuannya.

 

Jiyi memejamkan matanya karena merasakan sesuatu yang tidak seperti biasanya. Chanyeol memang tidak selembut Luhan. Dia sangat brutal dan menggebu-gebu. Namun dia sungguh mengesankan. Apa yang membuat Chanyeol begitu nekat. Biasanya jika Jiyi menepiskan tubuh itu, maka Chanyeol tidak pernah lagi berani untuk melanjutkan apapun yang dilarang Jiyi. 

 

Namun malam ini…

 

“Chanyeol Oppa….”  Kesejatian Chanyeol tertanam dengan manis dalam tubuh Jiyi. Mereka saling menatap.  Dia bergerak dengan cepat dan sangat menghentak, membuat Jiyi berteriak dalam pelukannya. Berkali-kali. Lalu mengimbanginya. Mencengkram dengan kuat ke dalam bahunya. Tubuh yang dingin itu seperti selimut salju. Dia menempel dan menelusup dalam kulit. 

 

Rasa yang sungguh nikmat. Dia memejamkan matanya tanpa berani menatap wajah vampire yang begitu menyelaminya. Desahan napas Chanyeol selalu menyebut namanya.’Dia bergerak hingga terus membuat wajah Jiyi bersemu-semu. Semakin keras Jiyi mendesah, semakin dalam dia menghujamkan kesejatiannya dalam tubuh Jiyi, hingga Pada akhirnya dengan satu kali jeritan hebat dan erangan panjang Jiyi melepaskan klimaksnya. Tubuhnya melenting dalam dekapan Chanyeol yang mendapatkan kepuasannya tidak lama setelah Jiyi menggigit lehernya.

 

“I Love You”  bisik Chanyeol ketika tubuhnya bergulir di sisi Jiyi, yang masih menutup wajahnya dengan selimut. Chanyeol menariknya dan membuat Jiyi menatapnya. Namun Jiyi memejamkan matanya, membuat Chanyeol tersenyum geli.

 

“Katakan padaku sesuatu. Apa aku hebat?” Tangan Chanyeol meraih tubuh Jiyi dan memeluknya, menenggelamkannya di dadanya.

 

“Oppa, kau membuatku malu. Kenapa kau melakukan ini?” 

 

“Aku merasa kau memanggilku. Aku merasa sepertinya aku begitu diinginkan malam ini.”  Chanyeol mengusap punggung Jiyi

 

“Aku tadi mencarimu .”  ungkap Jiyi. Pernyataan itu membuat senyum Chanyeol merebak semakin lebar. Dia mengecup puncak kepala Jiyi.

 

“Kau merindukan aku?”  

 

“Oppa, apakah aku mengurusmu dengan baik?”

 

“Kenapa kau bertanya seperti itu?”

 

“Karena Xiumin mengatakan kalau kau terlihat kusam. Kulitmu semakin bertambah gelap, dan pakaianmu dekil. Kau terlhat seperti gelandangan.”

 

Chanyeol tercengang mendengar penjelasan Jiyi mengenai dirinya. Kemudian dengan cepat dia berdiri, dan melangkah ke depan cermin dengan tubuh telanjangnya. Jiyi sempat memalingkan wajahnya. Dia sama sekali belum pernah melihat Chanyeol nude di hadapannya. Meskipun sesaat lalu mereka sudah bercinta.

 

Chanyeol memegang wajahnya, juga rambutnya.

 

“Apa menurutmu aku begitu kusam?”

 

“Kau sedikit terlihat gelap. “

 

“Kulitku baik-baik saja. Aku laki-laki Jiyi. Aku merasa bangga dengan tubuh seperti ini. Wajahku juga terlihat lebih tampan dengan rambut panjang.”  Chanyeol mendekati Jiyi lagi. Dia menatap dengan mata yang tersenyum

 

“Apa kau mulai menyukaiku?”  tanya Chanyeol.

 

Jiyi menunduk ketika Chanyeol menggapai pinggangnya dan memberikan ciuman di sekujur tubuhnya. Jiyi mendesah dan menahan rasa geli yang bercampur nikmat. Chanyeol membuatnya bergairah kembali. Vampire itu melebarkan kembali kaki Jiyi dan memberikan penetrasinya kembali. Dia mempunyai kekuatan lebih dari sekedar kata perkasa. 

 

Beberapa saat mereka lalui dengan saling bergumul. Ini adalah kali pertama Jiyi membiarkan dirinya terbelenggu oleh pesona Chanyeol. Di dalam hatinya dia mencoba untuk menenangkan jiwa Luhan. Dia tidak mengkhianatinya. Jiyi hanya sedang berusaha untuk melangkah. Meski masih tertatih. Dia menerima dan memberikan Chanyeol sebuah kesempatan. 

 

Malam ini  teras begitu sepi, hanya desah gairah mereka yang terdengar hingga Xiumin merasa pilu mendengarnya. Hatinya tercabik-cabik mendengar Jiyimdalam cumbuan Chanyeol. Kenapa mereka melakukan hal itu semalaman. Xiumin bahkan tidak bisa tidur. Dia meringkuk di atas kasur yang dingin. Di dalam ruangan ini, penghangat ruangan benar-benar sudah rusak. Dia mencoba untuk kembali ke perapian di ruang keluarga. Langkahnya sedikit ragu untuk mencapai tempat itu. Sepertinya rumah ini bukan lagi tempat yang menyenangkan untuknya. Semua bagian-bagiannya sudah menjadi horror baginya. 

 

Krakh

 

Xiumin mendengar sesuatu. Dia seperti merasa diperhatikan. 

 

Matanya memperhatikan setiap sudut uang gelap dan sepi. Kenapa dinding-dinding di sini seperti sedang memperhatikannya. Xiumin berjongkok di depan perapian untuk menyalakan kembali apinya. Dia menaruh beberapa kayu bakar dan membuat api di sana. Ketika api mulai menyala, suasana mulai merambah pada kehangatan. Ada sedikit cahaya yang membuatnya sedikit tenang. Dia bisa melihat ke sekelilignya. Semua terlihat sangat sunyi. Xiumin terpaksa melakukan hal ini. Dia hanya ingin melihat kondisi Jiyi, meski dia tahu resikonya akan seperti ini.  Digentayangi oleh rasa ngeri.

 

Sesuatu bergerak di depan pintu. Dia melihat sekelebat bayangan yang hampir membuat jatungnya melesat hebat. Wajah pucat itu menyembul dengan sebuah senyuman. Xiumin tercekat. Ada mahluk lain di dalam rumah ini selain Jiyi dan Chanyeol. Siapa dia?

 

“Hai manis! Apa kau butuh seseorang malam ini?”  sapanya sambil mendekat dengan cepat. sedetik saja dia sudah berada di depan Xiumin, merobohkan namja itu dan duduk di atas tubuhnya. Xiumin menganga ketakutan. Dia seperti kehilangan oksigen di sekitarnya. Sesak. O God! Siapa mahluk ini?

 

“Apa kau ingin sedikit bersenang-senang denganku?”    Hyuna mengikis kulit leher Xiumin dengan jemarinya. Darah mengalir perlahan. 

 

Dengan telunjuknya Hyuna menyesap darah yang dia ambil dari leher Xiumin yang terluka.

 

“Darahmu sungguh manis. Semanis wajahmu.”

 

“Jiyiiiiiiiiiii!” teriak Xiumin dengan keras. 

.

.

.

BAAAAA…..Dah segitu aja dulu, nanti disambung lagi sama yg laennya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

46 thoughts on “[ Threeshot ] Deep In Your Eyes 1/3

  1. Kkkk kesian xiumin semaleman cuma bisa uring2an karena sendirian dan harus mendengar chanyeon saling bergumul di kamar wkwkwk
    Dan yg lebih miris lagi dy ketemu hyuna
    Waduhhh xiumin kenapa2 ga tuh??

  2. Daebak daebak ceritanya lan … Apa jiyeon udh suka sma chanyeol ya smpai mereka ngelekuin itu?? What Jadi dulu chanyeol membuta kesalahan smpai di jdiin hyuna vampir,, mkin seru ni cerita ,, aigo xiumin mau diapain sma hyuna??

  3. lhaaaaa xiumin mau diapain hyuna tuh ?!? agresif banget hyuna… ternyata dia korbannya chanyeol, pas keadaan chanyeon udah baik baik aja kenapa harus muncul hyuna T.T mereka anu an sampe pagi wwkwkwkwkwk terkikik gaje, lanjuutt asaapp unn

  4. Omo chanyeon akhirx tdr brsm keunde bgmn dgn hyuna? Apa dy bkl gigit xiumin trs xiumin jd vampire n jd pasangan hyuna? Omo chanyeol ngpn jg tdr sm hyuna bzzz.. next dong mei

  5. akhirx jiyi nerima chanie jg…
    chanji slamat kan xiu2…ntar d mkan hyuna tuh anak…
    g rela kl xiu ikut jd vampir…
    dtggu next part…

  6. Anyeong…aq Readers bru dsini…n aq jg fansx Jiyi suka bgt ama ff JY…krennn critanya trnyata mreka vampire…gx sbr bwt next partx.

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s