[Ficlet] Perhaps

perhaps

Perhaps

by Tyavi

Soloist IU aka Lee Jieun and EXO Park Chanyeol

Romance, Fluff / Ficlet (746 words) / G

Summary :

Kenapa dia memperhatikanku terus? 

.

.

.

Lee Jieun POV

 

Bukannya aku terlalu percaya diri atau apa, walaupun sedari tadi aku sibuk bercumbu dengan novel sastra tebal-ku ini, tetap saja aku bisa merasakan kalau sedari tadi pemuda—yang tidak kukenal—itu melihat ke arahku terus. Ayolah aku tidak semenarik itu untuk diperhatikan oleh pemuda—yang lumayan tampan—itu. Aku hanya gadis berkacamata, tidak cantik dan rambutku, aku bahkan hanya menguncirnya asal. Aku tidak menggunakan dress cantik, yang kugunakan hanya kemeja katun berlengan dengan jeans biru tua dan sepasang sepatu kets abu-abu. Sangat biasa dan tidak menarik—ya, lagipula aku bukan mau berkencan.

Ah, aku baru ingat kalau hari ini adalah hari sabtu. Pantas saja cafe ini sangat ramai oleh pasangan. Menyebalkan. Apa hanya aku yang duduk sendirian disini? Masa bodoh, selama masih ada buku dan kopi aku tidak akan mati kebosanan. Lagipu—

“Permisi, apa kau sedang menunggu seseorang?”

Suara seseorang menginterupsiku, sepertinya suara laki-laki. Aku menengadah, melihat seseorang yang kini berada di depan mejaku. Benar saja, seorang pemuda jangkung yang tak lain adalah pemuda yang sedari tadi memperhatikanku.

Sekarang apa yang dia inginkan?

“Ehm, tidak.”

“Bolehkah aku duduk disini?”

“Heh?”

“Aku sendirian dan kulihat kau juga sendiri, sedangkan kafenya sedang ramai. Kasihan pasangan yang tidak mendapat tempat duduk. Jadi, daripada bangku ini kosong, bolehkah aku duduk disini?”

Belum sempat aku bersuara dia berkata lagi.

“Lagipula sepertinya kita satu kampus.”

Jadi itukah sebabnya dia memperhatikanku terus. Rupanya dia satu kampus denganku. Tunggu dulu, aku baru ingat kalau wajahnya tidak asing, Aku pernah melihatnya di sekitar gedung Fakultas Ekonomi. Hanya sekedar itu, Aku tidak tahu namanya. Tidak ada salahnya sih kalau hanya duduk semeja. Toh dia tidak sepenuhnya orang asing.

“Ehm, tentu”

.

.

Pemuda itu terus bergerak-gerak gelisah di kursinya. Dia menatapku lalu sesekali membuang tatapannya dan menatapku lagi. Ada apa dengannya?

“Ehm, apa kau tidak nyaman duduk dengan orang yang tidak kau kenal?”

Akhirnya dia bersuara. Kuangkat wajahku dan menatapnya.

“Tidak, lagipula tadi katamu kita satu kampus.”

“Tapi aku tidak tahu namamu. Itu artinya kita belum saling mengenal.”

“Ehm, iya.”

“Perkenalkan namaku Park Chanyeol, kau bisa memanggilku Chanyeol. Dan, namamu? ”

Pemuda aneh, tapi sepertinya dia tidak jahat. Yah, setidaknya aku tidak sendirian.

“Lee Jieun.”


Park Chanyeol POV

 

Ugh, menyebalkan. Si Byun eyeliner itu lebih memilih berkencan dengan pacarnya, terpaksa aku harus jalan-jalan sendirian. Walaupun sendirian setidaknya ini lebih baik daripada aku berlama-lama di apartemen. Lagipula ini adalah akhir pekan.

Di sinilah aku, berjalan-jalan sendirian di taman yang berjarak 100 m dari apartemen Baekhyun. Tak jauh dari taman bermain anak-anak aku melihat sebuah gedung sedang bercat putih. Sebuah kafe, sepertinya menyenangkan. Tidak ada salahnya menghabiskan sore hari dengan segelas latte.

Aku baru saja membuka pintu kafe saat presensi seseorang mengusikku. Mengunci atensiku pada dirinya seketika. Gadis berkacamata dengan surai cokelatnya yang dikuncir asal. Sedang asyik membaca sama seperti setiap kali aku melihatnya. Sangat tenang, dan cantik. Dia ada disini, Gadis yang hampir 3 bulan ini kuperhatikan. Jieun.

Setelah membayar pesananku—segelas latte dan sepotong cheese cake, aku menghampiri salah satu meja yang masih kosong. Meja itu berjarak lima meja dari miliknya. Dan beruntungnya dia menghadap ke arahku—yang duduk menyamping. Hanya tinggal menoleh ke samping kanan dan aku dapat menatap wajah—sedang membaca—nya.

Apakah dia sedang sendirian?

Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya. Mungkin ini adalah kesempatanku untuk bicara dengannya.

Apa kuhampiri saja?

Itu terdengar gila.

“Bagaimana ini? Tidak ada meja yang kosong, kita tidak bisa duduk ”

Kulihat ada pasangan yang sedang bingung mencari tempat duduk. Ku perhatikan cafe ini memang sangat ramai. Tentu saja hari ini kan hari sabtu. Kasihan juga. Hei…tunggu

Ini bisa menjadi kesempatan bagus.

“Permisi, anda bisa duduk disini,” ujarku mempersilahkan sepasang kekasih itu.

“Benarkah? Terima kasih. Tuan sudah mau pergi?”

“Tidak, aku akan menghampiri temanku, ” jawabku dan tersenyum ramah.

“Oh begitu, maaf merepotkanmu.”

“Tidak apa-apa.”

Aku bangkit dari kursi yang sedari tadi kutempati. Perlahan kuhampiri meja bernomor 16 itu. Dia masih belum menyadari atensiku yang sedang mengarah padanya. Gadis itu masih menunduk—asyik membaca buku tebal bersampul biru langit-nya.

Bagaimana ini?

Dia akan bereaksi seperti apa ya?

Apakah tidak apa-apa seperti ini?

Aku berdeham kecil untuk menetralkan detak jantungku yang tidak beraturan. Dan gadis itu, dia tidak bergeming. Apakah novel itu begitu menarik?

“Permisi, apa kau sedang menunggu seseorang?” Akhirnya aku dapat mengeluarkan suaraku.

Dia menengadah, raut keheranan terlihat jelas diwajahnya. Tentu saja. Memang siapa yang tidak heran tiba-tiba dihampiri orang tidak dikenal—dan ingin duduk dengannya. Mungkin sebentar lagi dia akan menganggapku aneh dan sudah mengganggu ketenangannya atau mungkin—

“Ehm, tidak”

—aku punya kesempatan.

Fin.

.

Tyavi‘s little note : Annyeong!!! Maaf kalo absurd dan abal, ini juga ff lama hehe :v

Terinspirasi dari kebiasaan author yang suka sendirian di kafe saat akhir pekan

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s