[Oneshoot] Autumn Event – STILL

STILL

Starring by.

Kim Taehyung BTS and Ryu Sujeong Lovelyz

|| Friendship, Romance, Hurt/Comfort | PG-15 | Oneshoot (6k+ words) ||

Fanfic Requested by LA_Khilda

Storyline by zulfhania and Knaraxo

Poster by Laykim © Beautiful Healer

Bagaimana bisa persahabatan dua makhluk adam dan hawa dapat bertahan hingga bertahun-tahun lamanya, sementara terdapat satu hati yang merasa ingin lebih dari sekedar sahabat?

‘because i’m still loving you, my friend…’ —– STILL

.

.

Bola orange itu dengan ringannya menjebol jaring-jaring basket di atas sana. Seiring dengan suara jeritan dan teriakan histeris dari para perempuan di bangku penonton dan juga tim cheerleader di pinggir lapangan, lelaki berpostur tinggi yang baru saja meraih tiga poin berkat lemparan akurat yang ia lakukan di luar garis batas three point hanya tersenyum tipis saat menerima high five dari teman-teman setimnya.

“Kerja bagus, Kim Taehyung.” seru Jimin, ketua timnya saat memberinya high five.

Taehyung, lelaki berpostur tinggi itu hanya berdeham pendek menanggapi seruan Jimin. Ia kembali memposisikan dirinya di tengah lapangan basket, bersiap untuk memulai kembali pertandingan setelah timnya mendapatkan tiga poin atas tim lawan.

Ketika bola orange dari tangan lawan hendak dioper ke tangan lawan yang lain, Taehyung mengambil kesempatan dengan memukul bola orange itu hingga lolos dari tangan lawan. Dan hanya butuh waktu tujuh detik untuk Taehyung men-dribble bola orange itu dari tengah lapangan menuju pinggir lapangan, mengopernya pada Jimin untuk mengecoh lawan, lalu dikembalikan padanya setelah sepersekon detik, kembali berlari mendekati ring basket di pinggir lapangan dan…

SHUT!

Taehyung melakukan slam dunk dengan begitu sempurna. Dua poin tambahan untuk tim sekolah Taehyung.

Suara jeritan histeris para perempuan kembali terdengar dari bangku penonton tepat ketika Taehyung kembali meraih poin. Bahkan beberapa di antara mereka tak segan meneriakkan nama Kim Taehyung dengan berlebihan. Maklum, kebanyakan penonton yang hadir adalah idolanya Taehyung. Termasuk gadis berponi pagar dengan bentuk mata bagai bulan sabit yang duduk di antara para penonton. Tak hentinya ia tersenyum menatap sosok Taehyung yang berdiri di tengah lapangan basket dengan peluh yang membasahi wajahnya. Percayalah, lelaki itu terlihat lebih tampan dan maskulin saat sedang berkeringat.

Mata bulan sabit gadis itu tampak membulat begitu maniknya menangkap Taehyung yang mendadak menoleh ke arahnya. Air muka gadis itu berubah semakin cerah dan tanpa sadar mengangkat tangannya untuk melambai ke arah lelaki itu. Taehyung tidak balas melambaikan tangan, bahkan wajahnya tidak menampilkan ekspresi apa-apa dan segera memalingkan pandangannya ke arah lain. Gadis itu langsung merengut begitu diabaikan oleh Taehyung. Ia menurunkan tangannya dengan wajah kecut.

Lelaki itu benar-benar…

* * *

Pertandingan sudah usai setengah jam yang lalu. Kemenangan diraih oleh tim sekolahnya Taehyung dengan nilai 147-110 atas tim lawan. Kebanyakan poin diraih dari tangan Taehyung, pemain terbaik dalam tim mereka. Bahkan Jimin sampai berkali-kali mengucapkan terimakasih banyak pada lelaki itu, namun yang diucapkan terimakasih hanya tersenyum tipis tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Menurut Taehyung, tingkah Jimin benar-benar berlebihan. Taehyung kan hanya melakukan tugasnya sebagai pemain basket untuk bermain basket dan memenangkan timnya, jadi tidak ada yang perlu dilebih-lebihkan.

“Kim Taehyung!”

Taehyung dan beberapa lelaki tim basket sekolahnya menoleh ke sumber suara dan mendapati gadis berponi pagar dengan bentuk mata bagai bulan sabit melangkah mendekati mereka dengan langkah pelan sekaligus ragu.

Taehyung hanya menatap gadis itu tanpa ekspresi hingga akhirnya ia menyadari maksud kedatangan gadis itu. Ia lalu bergegas membereskan barang-barangnya.

“Sepertinya aku harus pulang duluan.” kata Taehyung sembari membereskan barangnya.

Teman-teman setimnya langsung tersenyum meledek.

“Asyiknya yang pulang bareng pacar.” ledek Jimin.

Taehyung melemparkan tatapan tajam pada Jimin. “Sujeong hanyalah seorang teman.”

“Ya, teman tapi mesra.” celetuk Jimin asal, lalu dibalas tawa ledekan dari teman-teman setimnya yang lain.

Taehyung mendengus. “Apapun katamu.” ia lalu memanggul tas ranselnya dan menatap teman-teman setimnya satu persatu. “Kalau kalian mau party, jangan lupa kabari aku.”

Jimin mendesis. “Sudahlah, kau party saja bareng pacarmu itu. Tidak perlu bersama kami.”

“Kalau kau bicara seperti itu lagi, akan kulempar kepalamu ke ring basket.” ancam Taehyung sadis sebelum melangkah meninggalkan teman-temannya.

Jimin hanya tertawa. “Ampun, kakak.”

Tetapi Taehyung tidak sempat mendengar karena ia sudah melangkah menjauhi mereka dan menghampiri Sujeong.

“Mereka benar-benar berpacaran?” tanya salah satu teman setimnya pada Jimin begitu melihat Sujeong yang langsung mengacak rambut Taehyung setibanya lelaki itu di sebelahnya.

Jimin mengangkat bahu. “Entahlah. Taehyung terlalu sulit ditebak. Aku jadi merasa kasihan pada Sujeong.” katanya. “Oh, iya, kita ingin party dimana?”

Sementara Jimin membahas tempat yang akan mereka tuju untuk merayakan keberhasilan tim sekolah mereka, Taehyung justru merengut sebal sambil merapikan rambutnya yang baru saja diacak-acak oleh Sujeong.

“Tidak usah mengacak rambutku.” sahut Taehyung ketus.

Eiiyy,” Sujeong mendesis. “Kenapa suaramu ketus begitu? Aku kan hanya ingin memberimu ucapan selamat.” katanya, lalu kembali mengacak rambut Taehyung dengan wajah menyenangkan. “Aigoo, kerennya big baby-ku ini.”

Taehyung menyingkirkan tangan Sujeong dari kepalanya. “Berhenti memanggilku big baby, Ryu Sujeong! Memangnya aku ini anakmu?!” katanya ketus.

Sujeong hanya menahan senyum, sudah merasa terbiasa dengan tingkah Taehyung yang satu ini. “Belikan aku eskrim, maka aku akan berhenti memanggilmu big baby.”

Taehyung melirik Sujeong dengan lirikan ragu. Pasti gadis ini ada maunya. Sujeong hanya menyengir begitu Taehyung menyadari maksudnya. Ia akhirnya melingkarkan lengannya pada lengan Taehyung.

“Sudahlah, iyakan saja. Kau baru saja menang, jadi kau harus traktir aku.” kata Sujeong lalu menarik Taehyung keluar. “Sekaligus ada yang ingin kubicarakan padamu, Kim Taehyung.”

Taehyung mendengus. Ia sudah menduga akan hal itu.

* * *

“Kau… masuk cheerleader?”

Sujeong memiringkan kepalanya sambil menikmati es krim vanilanya, entah mengerti atau tidak alasan Taehyung terkejut mendengarnya. Mereka sudah berada di kedai es krim dan sedang menikmati es krim, tidak untuk Taehyung tapi hanya untuk Sujeong.

“Ya, aku sudah memikirkannya dengan matang,” Sujeong menawarkan sesendok es krimnya tapi Taehyung mengatupkan mulutnya rapat, mungkin masih terkejut jadi Sujeong memasukkan es krim itu ke dalam mulutnya sendiri. “Aku ingin mendukungmu, memangnya tidak boleh?”

“Tidak.” Taehyung menyambar cepat seakan Sujeong bukan sesuatu yang pantas untuk dipikirkan, seakan-akan itulah pemikiran dalam otaknya.

Sujeong memasang ekspresi cemberut terbaiknya persis seperti anak TK yang tidak mendapatkan boneka. “Sejak dulu aku ingin bisa meneriakkan namamu saat kau bertanding, memerhatikanmu lalu berteriak kegirangan saat kau berhasil memasukkan bola ke ring. Bukankah itu menyenangkan?”

Taehyung menutupi setengah wajahnya dengan tangan, menyembunyikan sesuatu yang tidak disadari Sujeong. Sujeong sendiri sibuk dengan es krim yang tidak sengaja tumpah di seragamnya.

“Taehyung, seragamku kotor!” Sujeong merengek menunjukkan seragamnya yang ternodai warna putih, tidak terlalu terlihat bagi Taehyung jadi ia menghela napas berat. Jika ia tidak melakukan sesuatu maka Sujeong akan semakin merengek.

Taehyung mencari tisu di atas meja, namun yang ia dapati hanyalah tas mereka berdua dan segelas es krim yang telah setengah mencair. Kakinya malas bergerak namun demi Sujeong akhirnya ia pergi ke meja kasir tempat seorang perempuan berdiri sambil memelototi pelanggan laki-laki yang meliriknya.

“Di mana tisu?” Tidak berbasa-basi lagi Taehyung membuka lemari dekat meja kasir, lantas si pelayan langsung menarik kerah seragamnya.

Ya! Kim Taehyung, kau pulang dan tidak memberitahuku?” Si pelayan berdecak kesal, memarahi adik yang keterlaluan kadang sama susahnya dengan mengajari anak kecil belajar bahasa inggris.

Taehyung tidak menggubrisnya, ia menepis tangan si perempuan lalu kembali sibuk mencari tisu. Merasa dihiraukan, si perempuan menjewer telinga Taehyung hingga laki-laki itu terpaksa menutup mulutnya agar Sujeong tidak mendengar teriakannya.

Noona, apa yang kau lakukan?” Taehyung bertanya dengan nada kesal setelah berhasil melepas tangan kakaknya, Kim Taeyoung.

Melihat tisu yang diambil Taehyung, Taeyoung tersenyum kecil dengan pandangan menggoda. “Untuk apa tisu itu? Untuk seseorang? Kau membawa seseorang ke sini? Siapa? Kekasihmu?”

“Berisik,” kata Taehyung dingin, hendak berjalan lagi tapi kerahnya ditarik kembali.

Taeyoung mengapit leher adiknya, tidak peduli saat Taehyung memanggil nama lengkapnya kebiasaan ketika laki-laki itu sedang marah. Matanya terfokus pada Sujeong yang sedang menggumamkan jingle iklan kesukaannya.

“Oh, kau bersama Sujeong?” Taeyoung menghela napas dan langsung tersenyum ketika Sujeong berbalik badan lalu menyapanya dengan riang, sesudahnya tertawa melihat penderitaan Taehyung dan kembali berkutat pada es krimnya.

Setelah berhasil melepaskan jepitan Taeyoung, Taehyung merapikan kerahnya dan mendesis. Kali ini Taeyoung tidak bertindak apa-apa, hanya diam saat Taehyung melangkah.

“Kim Taehyung!”

Taehyung spontan berhenti berjalan, membalikkan badannya karena bagaimanapun ia tipikal adik penurut. “Apa?”

Wajah serius Taeyoung rasanya tidak Taehyung kenali. Mimik wajah langka itu biasanya ditunjukkan pada saat tertentu. Memangnya apa hal serius yang ingin Taeyoung bicarakan?

“Kau… kau tidak keberatan?”

Taehyung mengangkat sebelas alisnya tidak mengerti. “Maksudmu?”

Taeyoung di ambang ragu antara mengatakannya atau tidak. “Selalu bersama-sama dengan Sujeong. Kau tidak keberatan?”

Jelas Taehyung bingung mendapatkan pertanyaan itu dari kakaknya secara mendadak. “Memangnya kenapa?”

Taeyoung memutar bola matanya, kadang berbicara dengan adik yang kelewat cool terasa menyusahkan. “Berhentilah seakan kau tidak tahu. Aku tahu apa yang sebenarnya kau rasakan saat ini.”

Taehyung diam, tidak berusaha mengelak maupun membenarkannya. Ia membalikkan badannya dan kembali berjalan, bersikap tidak peduli pada ucapan Taeyoung barusan.

Begitu duduk di kursinya, Taehyung menyerahkan tisu yang ia ambil kepada Sujeong yang sudah menyanyikan 5 jingle iklan favoritnya. “Terima kasih, big baby!”

“Kau bilang akan berhenti memanggilku dengan sebutan itu jika aku membelikanmu es krim?” Taehyung mengerutkan keningnya tidak setuju.

Sujeong tertawa. “Kali ini aku akan benar-benar berhenti jika kau setuju aku ikut cheerleader.”

“Tidak perlu mengikuti kegiatan aneh seperti itu dan aku akan membelikanmu banyak es krim.” Taehyung akan mengeluarkan dompetnya dari saku celana namun Sujeong menahan tangannya, memberikan sensasi aliran listrik pada kulitnya.

“Mengapa kau tidak ingin aku mendukungmu?” Sujeong menatap tajam Taehyung. Laki-laki itu sendiri resah karena hari ini ia sudah bertatap muka dengan dua orang ceria yang memberikannya tatapan serius.

“Memangnya kau bisa menari?” Sebisa mungkin Taehyung menjaga suaranya agar tidak bergetar dan menimbulkan kecurigaan.

Sujeong tersenyum, senyum yang selalu berhasil meningkatkan perasaan aneh pada diri Taehyung.

“Kau orang yang paling penting padaku, Taehyung. Aku tidak peduli jika harus menari konyol di tengah lapangan sekalipun.”

Taehyung tertegun. Sujeong tertawa kecil dengan pipinya yang memerah, memesan es krim lagi kepada kakak Taehyung yang geleng-geleng kepala karena Sujeong tidak pernah bosan menyantap es krim setiap hari.

Taehyung meremas celananya. Memikirkan kembali perkataan Taeyoung padanya.

“Selalu bersama Sujeong. Kau tidak keberatan?”

Haruskah Taehyung menjawab pertanyaan itu?

Ya, Taehyung tidak keberatan. Namun hatinya?

Tidak, Taehyung tidak tahu.

* * *

Benar. Taehyung memang benar-benar tidak tahu. Taehyung tidak tahu apakah hatinya merasa keberatan atau tidak ketika selalu saja bersama Sujeong. Ia tidak pernah ingin memikirkannya. Karena kalau ia memikirkannya, saat itulah ia akan merasakan sakit pada hatinya.

Sujeong pulang dua jam kemudian setelah merasa sia-sia memohon pada Taehyung untuk menyetujuinya bergabung dengan klub cheerleader. Sebenarnya bukan tanpa alasan Taehyung tidak menyetujui Sujeong untuk bergabung dengan klub tersebut. Sungguh, Taehyung memiliki alasan. Namun ia tak sanggup untuk mengatakannya pada Sujeong. Tidak, entah sampai kapan.

Taehyung mengantar Sujeong sampai depan rumah. Karena jarak antara kedai eskrim dengan rumah Sujeong tidak terbilang jauh, mereka pun memutuskan untuk jalan kaki. Selama perjalanan pulang, hanya Sujeong yang mendominasi percakapan, seperti biasa. Taehyung hanya diam mendengarkan sambil sesekali memandang ke arah Sujeong dengan pandangan tanpa ekspresi. Namun kalau saja Sujeong sedikit peka, harusnya ia menyadari kalau iris hitam yang tengah menatapnya selama ia berbicara sebenarnya menatapnya dengan tatapan yang begitu teduh dan dalam. Sayangnya, Sujeong tidak menyadarinya.

Bahkan mungkin, Sujeong tidak akan pernah menyadarinya.

Taehyung menutup pintu kamar dan melangkah masuk ke dalam kamarnya yang gelap dan tampak pengap dengan langkah lesu. Ia tidak berniat untuk menyalakan lampu kamar dan hanya terus merangkai langkah menuju kasur lalu berbaring di atas sana setelah melepas tas ranselnya.

Taehyung menatap langit-langit kamar, namun yang ia lihat hanyalah wajah gadis itu yang bermain di dalam bayangannya. Gadis itu? Ya, siapa lagi kalau bukan Sujeong. Teman semasa kecil yang saat ini masih menjadi teman dekatnya, oh, bahkan mungkin sahabat dekatnya satu-satunya. Saking dekatnya banyak orang yang mengira kalau mereka berpacaran.

Bayangkan saja. Taehyung dan Sujeong sama-sama menduduki kelas 3 SMA saat ini. Selama tiga tahun masa SMA, mereka selalu saja sekelas dan bahkan duduk bersebelahan di kelas, meskipun tidak semeja. Bagai permen karet, mereka berdua selalu menempel kemana-mana, menghabiskan waktu istirahat bersama, makan siang di kantin bersama, bahkan berangkat dan pulang ke sekolah pun bersama-sama. Siapa yang akan mengira kalau sebenarnya mereka hanyalah bersahabat? Pasti seluruh orang yang melihatnya pun akan mengira kalau mereka berpacaran.

Maka dari itu, banyak murid perempuan yang merasa canggung untuk dekat-dekat dengan Taehyung karena Sujeong yang selalu menempel kemanapun lelaki itu pergi. Bahkan para murid perempuan itu meski datang pagi-pagi untuk diam-diam meletakkan bingkisan di kolong meja Taehyung agar tidak ketahuan oleh Sujeong. Sebenarnya sih Sujeong tidak menyeramkan, bahkan ia merasa tidak keberatan kalau ada perempuan lain yang ingin memberi bingkisan pada Taehyung, bahkan berteman dengan lelaki itu. Namun para murid perempuan itu sudah terlanjur menganggap Taehyung berpacaran dengan Sujeong jadi mereka merasa harus diam-diam memberikan bingkisan pada lelaki itu tanpa sepengetahuan Sujeong.

Taehyung menghela napas berat tanpa ia sadari. Ia malah bertanya-tanya di dalam hati, bagaimana bisa persahabatannya dengan Sujeong masih tetap bertahan hingga bertahun-tahun lamanya sementara ada satu hati yang merasa ingin lebih dari sekedar sahabat.

Kakaknya pernah berkata pada Taehyung, Kalau kau mencintai seseorang, maka katakanlah. Tetapi kalau tidak, maka jangan beri harapan padanya.’

Sayangnya, Taehyung tak bisa melakukannya. Taehyung tak bisa mengatakannya pada Sujeong.

Ya, benar. Satu hati yang merasa ingin lebih dari sekedar sahabat adalah milik Taehyung. Ia tidak tahu perasaan itu hadir sejak kapan. Mungkin ketika Sujeong tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang cantik dan anggun. Atau mungkin ketika Sujeong mengacak rambutnya dengan tatapan penuh kasih sayang. Atau mungkin juga ketika Sujeong menyebutnya dengan panggilan big baby. Atau malah masih ada segala kemungkinan lainnya. Taehyung sungguh tidak tahu mana yang benar. Perasaan itu hadir tiba-tiba, tanpa ia sadari.

Maka dari itu, Taehyung ingin segera mengakhirinya. Ia ingin mengakhiri perasaannya pada gadis itu. Ia ingin menghilangkan nama gadis itu dari dalam hatinya. Ia ingin berhenti menyebut nama gadis itu dalam setiap doa di malamnya. Ia tidak ingin ada kata cinta di dalam persahabatan mereka. Ia tidak ingin merusak persahabatan mereka. Ia benar-benar ingin mengakhiri perasaannya.

Namun bagaimana bisa ia mengakhiri perasaannya kalau Sujeong bergabung dengan klub cheerleader hanya untuk meneriaki namanya ketika ia sedang bertanding basket?

Lagi-lagi Taehyung menghela napas berat ketika teringat dengan ucapan Sujeong saat di kedai eskrim. Kali ini ia menegakkan tubuhnya, mengusap wajahnya yang kebas dengan kedua tangan. Sekali lagi ia katakan, bukan tanpa alasan ia tidak menyetujui Sujeong untuk bergabung dengan klub cheerleader. Nyatanya, ia memiliki alasan. Alasan yang tidak sederhana, alasan yang menyangkut perasaannya. Hatinya.

Sebuah alasan yang mengatakan, kalau Taehyung tak ingin jatuh terlalu dalam pada Sujeong, sahabatnya sendiri.

Taehyung memang pengecut. Bahkan ketika ia belum mulai mengangkat senjata, ia sudah melangkah mundur dan membiarkan dirinya kalah dengan perasaannya sendiri. Tetapi ia tidak punya pilihan lain.

Taehyung hanya tidak ingin persahabatan mereka hancur.

* * *

Matahari yang terik itu tidak menghalangi bagaimana seorang Taehyung berlari menuju ring, memasukkan bolanya dalam sekali kedipan mata. Semua orang terutama para perempuan kembali berteriak setelah melakukannya sepuluh kali, sebanyak itulah Taehyung berhasil menembus pertahanan lawannya.

Waktu permainan habis sebelum lawannya sempat memasukkan bola satu kalipun. Taehyung tersenyum kala teman-temannya berlari memeluk dirinya.

“Kau terlalu hebat, padahal tim yang kita lawan adalah tim paling hebat,” Jimin berdecak kagum, bingung bagaimana mereka yang sama-sama makan nasi setiap hari bisa berbeda kemampuan.

Taehyung tidak menanggapinya karena ia melihat seorang perempuan berdiri di pinggir lapangan, mengenakan seragam biru kebanggaan pemandu sorak sekolahnya. Rambutnya yang diikat dua bergerak-gerak saat ia melompat.

“Kim Taehyung, kau hebat! Give me T, give me A, give me E!

Taehyung menutup mulutnya. Gelak tawa dari pemandu sorak lainnya tidak membuat Sujeong gentar menyemangati Taehyung. Kemudian, tidak mau kalah dari Sujeong yang sangat bersemangat hari ini, seluruh anggota pemandu sorak ikut merayakan kemenangan tim Taehyung.

Jimin tersenyum geli setelah memberikan bola basket kepada Taehyung. “Aku ragu jika Sujeong tidak ada perasaan padamu.”

“Berhentilah berbicara, aku lelah berdebat,” Taehyung mengoper bolanya dengan keras yang untungnya Jimin bisa langsung menangkapnya.

Jimin tertawa. Ia berlari menghampiri Sujeong dan hendak merebut pom-pom milik perempuan itu, namun pada akhirnya berujung menjadi pertengkaran memperebutkan pom-pom.

“Taehyung, Jimin merebut pom-pomku!” Sujeong mengadu pada Taehyung seakan laki-laki itu adalah ibu keduanya.

Taehyung yang baru saja meneguk air putihnya mendengus. Tenggorokannya sudah terasa dingin dan berbicara kepada Jimin berarti tenggorokannya harus kering kembali. Namun seorang Taehyung tidak akan pernah bisa menolak permintaan Sujeong, sampai laki-laki itu sendiri menyukai Sujeong.

Sujeong tertawa puas ketika Taehyung melempar bola basket ke kepala Jimin lalu mengambil pom-pom Sujeong saat Jimin memegangi kepalanya dan sibuk meringis kesakitan.

“Terima kasih,” ucap Sujeong begitu ia menerima pom-pomnya.

Taehyung tidak merespon. Ia merasakan hal yang gawat. Senyum Sujeong muncul artinya debaran jantung Taehyung tidak bisa dihindari lagi. Cepat-cepat ia menutup mulutnya, kebiasaan saat ia merasa malu.

“Taehyung!”

Tanpa disadari Taehyung, Sujeong berdiri hanya berjarak beberapa centimeter. Melihat wajah Sujeong dari dekat merupakan hal paling Taehyung hindari kedua setelah bertemu dengan anjing galak milik tetangganya.

“A—Apa?” Taehyung tidak bisa mempertahankan suaranya, ragu-ragu saat melontarkan pertanyaan itu.

Sujeong memiringkan kepalanya. Tingkah lucunya meningkatkan getaran yang dirasakan Taehyung.

“Kau sudah setuju aku menjadi anggota cheerleader?” Pertanyaan yang tersusun dalam benak Sujeong sejak melihat reaksi biasa Taehyung akhirnya terlontarkan.

Taehyung menghela napas lega, mundur beberapa langkah agar hal-hal gawat seperti tadi terhindarkan. Ia menggaruk kepalanya bingung.

“Aku tetap tidak setuju,” Taehyung berujar dengan suara tegas meskipun wajahnya masih menunjukkan kebingungan.

Sujeong kecewa namun ia berusaha menelannya dengan ekspresi datar. “Tapi kenapa?”

Tidak mungkin Taehyung menjawab pertanyaan itu dengan alasan sebenarnya karena jawaban itu hanya akan menghancurkan bangunan persahabatan mereka, jadi laki-laki itu semakin bingung harus menjawab apa.

“Taehyung, pelatih memanggilmu!”

Jimin melambaikan tangannya dari pinggir lapangan. Taehyung membalasnya dengan anggukan, ia harus segera menghampiri pelatih Kang karena beliau tipikal pria yang tidak suka dibantah.

“Aku harus pergi,” Taehyung membalikkan badannya tapi seseorang menahan tangannya yang tentunya pelaku itu adalah Sujeong.

Ya! Kau belum menjawabku,” kata Sujeong dengan nada kesal, sama halnya dengan pelatih Kang perempuan yang satu ini juga tidak suka pertanyaannya dibantah, apalagi oleh Taehyung.

Semua terasa rumit dibandingkan mengerjakan Logaritma. Taehyung berpikir sejenak untuk mencari alasan yang tepat hingga akhirnya Taehyung menemukan jawaban yang setengahnya tidak terlalu membantu. Sebelumnya Taehyung menghela napas terlebih dahulu.

“Terserah kau saja, asalkan kau tidak menggangguku.”

Wajah Sujeong yang awalnya serius langsung berubah cerah, Taehyung sempat takut temannya itu punya kepribadian ganda. Lalu, selanjutnya ketika Sujeong memeluk tangannya Taehyung tidak bisa mengelak.

“Terima kasih, Big Baby! Aku mencintaimu!” Sujeong tersenyum hingga rasanya kedua matanya ikut tersenyum.

Ucapan yang dikatakan oleh Sujeong barusan berhasil membekukan tubuh Taehyung. Ia membiarkan Sujeong memeluk lengannya hingga suara teriakan pelatih Kang dari gudang perlengkapan olahraga memanggil namanya.

Sujeong melepas pelukannya pada lengan Taehyung dan tersenyum malu, kedua pipinya memerah dan menurut Taehyung itu sangat manis.

“Pergilah, Kang Saem memanggilmu,” Sujeong melakukan gerakan seakan ia sedang mengusir serangga menjauh darinya.

Tanpa komando lebih jauh lagi Taehyung berlari meninggalkan Sujeong. Ia tidak berani berbalik karena jika ia melakukannya maka semua akan terasa lebih rumit. Perasaan itu akan semakin menumpuk dan terus mengganggu pikirannya.

“Benar-benar…,” Taehyung menghela napas tanpa ia ketahui bahwa kini ia menarik sudut bibirnya.

* * *

Rupanya, kehadiran Sujeong di tim cheerleader benar-benar mengusik Taehyung. Suara melengking milik gadis itu sungguh mengganggu konsentrasi Taehyung ketika bermain basket. Hampir beberapa menit sekali ia menolehkan kepala ke arah Sujeong yang bersorak bersama tim pemandu sorak sekolahnya sambil menarikan gerakan tarian yang—menurut Taehyung—itu sungguhlah aneh dan norak. Namun gadis itu tetap bermimik ceria, bahkan melambaikan tangan pada Taehyung demi menyemangati lelaki itu. Membuat jantung Taehyung yang malang selalu berdebar setiap kali diberikan perlakuan seperti itu.

Usai bermain basket, Taehyung langsung duduk di pinggir lapangan sambil menyedot minumannya. Ia melihat Sujeong berlari menghampirinya dengan mimik ceria. Taehyung harus menahan degup jantungnya saat melihat sosok indah itu yang kini berlari ke arahnya.

Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Sujeong duduk di sebelah Taehyung, merebut minuman dari tangan lelaki itu, dan menyedotnya pelan. Taehyung tertegun. Menatap bibir merah muda Sujeong yang kini sedang menyedot minumannya. Sedotan yang sama dengan sedotan yang dipakai Taehyung. Apakah itu termasuk ciuman tidak langsung?

Taehyung segera menggelengkan kepala, lalu berpaling ke arah lain, mencoba mengusir pikiran aneh di dalam otaknya. Sujeong yang memperhatikan Taehyung hanya mengernyit bingung.

“Kau kenapa?” tanya Sujeong, sementara sedotan masih terselip di bibirnya ketika ia berbicara.

Taehyung menggeleng, menoleh sekilas pada Sujeong, dan tanpa sengaja pandangannya mengarah pada kulit mulus leher jenjang Sujeong. Taehyung menahan napas, memperhatikan gerakan kerongkongan di balik leher yang bergerak turun saat gadis itu menelan minumannya. Taehyung menelan ludah dengan susah payah. Ya Tuhan! Itu benar-benar seksi sekali!

“Kau melihat apa, Kim Taehyung?” tanya Sujeong begitu ia menyadari apa yang sedang dilihat Taehyung.

Taehyung tersadar dan menyadari Sujeong sedang menatap tajam ke arahnya sambil menutupi leher dengan salah satu tangannya. Taehyung segera berpaling dengan dada berdebar. Matilah ia! Semoga saja Sujeong tidak mendengar suara detak jantungnya.

Pandangan Sujeong berubah tanpa ekspresi saat melihat wajah Taehyung yang tampak memerah. Apalagi ketika dilihatnya Taehyung sama sekali tidak memberinya jawaban. Tiba-tiba ia mendapatkan firasat aneh. Ia tidak ingin berpikiran macam-macam. Tetapi ia tidak bisa memungkiri kalau ia memang berpikir akan hal itu.

Sujeong menurunkan minumannya, meletakkannya di antara tubuhnya dan tubuh Taehyung, lalu berdeham pelan, memutus keheningan di antara mereka setelah beberapa menit.

“Akhir-akhir ini permainanmu di lapangan tampak membosankan, Taehyung.” Sujeong memutuskan untuk berbicara.

Taehyung tidak menjawab, bahkan ia tidak menolehkan kepalanya sedikitpun pada Sujeong.

“Apakah aku mengganggumu?” tanya Sujeong lagi.

Kali ini Taehyung menolehkan kepala, balas menatap Sujeong yang menatapnya tanpa ekspresi.

“Apakah kehadiranku di tim cheerleader mengganggu permainanmu?” ulang Sujeong.

Iya… jawab Taehyung dalam hati.

“Tidak.” Namun Taehyung malah berkata lain.

Manik Sujeong memicing curiga. “Untuk sepuluh tahun persahabatan kita, kau tidak bisa berbohong padaku, Kim Taehyung. Aku tahu kau sedang berbohong saat ini.”

Aku selalu berbohong setiap hari padamu, Ryu Sujeong, tentang perasaanku padamu… batin Taehyung dalam hati, pedih.

Taehyung mendesah pendek, memalingkan pandangannya, lalu berucap lirih, “Kau benar-benar sok tahu.”

Taehyung kembali meraih minumannya dan hendak menyedotnya, namun tangan Sujeong dengan cepat menahan lengan Taehyung, membuat lelaki itu kembali menoleh dengan bingung.

“Kau tahu kalau aku mencintaimu, bukan?”

Taehyung tertegun, tanpa sadar menahan napas. Sujeong hanya tersenyum samar melihat ekspresi Taehyung yang tampak berlebihan. Sepertinya dugaannya tidak salah.

“Sebagai sahabat, maksudku.” akhirnya Sujeong memperjelas ucapannya.

Taehyung langsung mencelos, merasa tertampar dengan kalimat yang diucapkan Sujeong. Ya, benar. Mereka adalah sahabat. Sampai kapanpun Sujeong hanya akan menganggap Taehyung sebagai sahabatnya. Jadi, bagaimana mungkin beberapa detik lalu Taehyung berharap kalau gadis itu benar-benar mencintainya sebagai seorang lelaki.

Taehyung merasa seperti tersengat oleh listrik beribu volt begitu menyadari tangan Sujeong meraih tangannya dan menggenggamnya dengan lembut. Taehyung menoleh dan dadanya kembali diselimuti oleh perasaan aneh itu ketika Sujeong menatapnya balik dengan tatapan terluka.

“Aku masuk tim cheerleader dengan sepenuh hati, Taehyung, untuk menyemangatimu. Tetapi saat aku melihatmu malah tidak bersemangat setelah aku masuk ke tim cheerleader, aku benar-benar merasa bersalah.”

“Ini bukan karenamu, Sujeong.” sahut Taehyung pelan, dengan suara yang terdengar terluka. Melihat Sujeong terluka, sungguh, ia pun merasa terluka.

Sujeong tersenyum. “Kalau memang bukan karenaku, bermainlah dengan benar, Kim Taehyung. Jangan kecewakan aku. Kau tahu benar kalau aku sangat mencintaimu, kan?”

Taehyung tersenyum, miris. Hanya sebagai sahabat, batinnya mencoba menyadarkannya. Ia lalu menganggukkan kepala dengan pelan.

Sujeong balas tersenyum, namun kemudian senyumnya kembali memudar. Ia memandang Taehyung dengan tatapan bersalah. “Aku minta maaf, Taehyung.”

Taehyung hanya balas menatap dengan tatapan bertanya.

Karena tidak bisa membalas perasaanmu… jawab Sujeong dalam hati.

“Aku minta maaf karena tidak bisa menjadi sahabat yang baik untukmu.” jawab Sujeong kemudian.

* * *

Taehyung sedang menunggu. Ya, sedang menunggu. Ini menggemparkan bagi setiap murid yang melewati lapangan basket. Melihat seorang Taehyung menunggu sama seperti melihat Jimin mengerjakan soal Matematika karena jika dipikirkan rasasnya terlalu mustahil.

Taehyung sendiri tidak terusik karena jika kau menjadi seseorang yang populer maka kau akan terbiasa. Cukup mengalihkan pandangan dan menyibukkan diri maka semua selesai (bagi Taehyung).

Ini sudah menit ke-18 sejak Taehyung sendirian duduk di tepi lapangan basket. Tidak ada teriakan Sujeong ketika memanggil Taehyung atau batang hidungnya saja sudah cukup. Tapi Sujeong tetap tidak muncul. Tidak muncul maka berarti tanda tanya.

“Ke mana dia?” Taehyung bergumam sendiri, menendang kaleng kosong mengingatkannya impian menjadi pemain sepak bola. Tapi berkat seseorang, ia sadar ada mimpi yang lebih besar lagi tersembunyi dalam benaknya.

Ya! Taehyung, kenapa tidak mencoba menjadi pemain basket?”

Taehyung tidak jadi melempar bola basketnya ke dalam ring. Bocah sepuluh tahun itu mengerutkan alisnya ketika teman perempuannya tersenyum lebar merasa ia menemukan gagasan yang sangat brilian.

“Jika kau menjadi pemain basket, pasti kau akan sangat terkenal!” Sujeong bertepuk tangan riang untuk ide briliannya sendiri, sedangkan Taehyung kesal.

“Kau tidak mendukung impianku menjadi pemain sepak bola?” Taehyung merajuk layaknya bocah sepuluh tahun yang normal.

Sujeong memiringkan kepalanya, memikirkan apa yang ia katakan salah namun kenyataannya tidak ada yang aneh pada kalimatnya barusan. “Bagaimana bisa aku tidak mengatakannya ketika justru seperempat waktu luangmu digunakan untuk bermain basket daripada sepak bola?”

Taehyung menghela napas berat, bagaimana seseorang yang hidup bersamanya lebih dari tiga tahun tidak mengerti dirinya. “Ini permintaan Ayahku dan sebagai anak yang baik aku akan menurutinya.”

“Lalu, apa yang sebenarnya kau inginkan?”

Taehyung terdiam. Untuk beberapa alasan ia merasa apa yang Sujeong tanyakan memukulnya telak. Sebagai anak yang belum memasuki usia remaja sebenarnya ia tidak pernah memikirkan impiannya dengan serius, namun kali ini ia merasa berbeda.

Sujeong tersenyum lembut, menghampiri Taehyung lalu menggenggam tangannya erat. “Aku tahu sebenarnya di dalam benakmu ada impian yang tertahan. Keinginan Ayahmu membuat apa yang kau impikan tersembunyikan. Ketika melihatmu yang lebih bahagia saat bermain basket aku yakin kau memimpikannya. Apa aku benar?”

Prinsip seorang laki-laki yang kuat itu tidak menangis sudah runtuh, Taehyung tiba-tiba menangis terisak. Sujeong yang telah menggenggam tangannya itu hanya diam, membiarkan Taehyung menangis adalah keputusan yang paling tepat untuk saat ini.

Dan ketika Taehyung pulang lalu memberitahu ayahnya apa yang ia impikan sekarang, ketika justru ayahnya menangis terharu mendengar anaknya sudah bisa menentukan impiannya sendiri, Taehyung merasa bodoh tidak menyadarinya lebih cepat. Sujeong sudah menyadarkannya dan Taehyung bersyukur punya teman seperti Sujeong.

Taehyung tidak kuat menahan senyumnya. Ingatan yang menyelusup tiba-tiba itu membuatnya sadar bahwa sejak itulah perasaan aneh ini selalu muncul. Tidak bisa dicegah dan tumbuh dengan subur.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Salah satu anggota pemandu sorak yang Taehyung ingat sebagai Rahee si kapten berdiri tidak jauh darinya sambil membawa beberapa pom-pom.

Taehyung ragu untuk menjawabnya tapi pada akhirnya buka suara. “Kau—Kau melihat Sujeong?”

Rahee nampak terkejut. “Sujeong pulang lebih awal. Dia bilang ada tugas kelompok yang harus diselesaikan.”

Kali ini Taehyung yang terkejut. Ia memeriksa ponselnya, tidak ada pemberitahuan pesan dari siapapun bahkan Sujeong. Perempuan itu tidak mengabarinya terlebih dahulu, mungkin perempuan itu lupa.

Setelah berterima kasih kepada Rahee, Taehyung dengan sigap mengirim pesan kepada Sujeong.

To : Sujeong
Kau pulang duluan?

Taehyung tidak sempat memasukkan ponselnya kembali ke saku celana karena satu pesan dari Sujeong masuk ke dalam ponselnya. Tidak perlu heran karena Sujeong beberapa kali memenangkan pertandingan konyol mengetik tercepat.

From : Sujeong
Kau menungguku? Aku pergi kerja kelompok bersama teman-temanku. Maafkan aku tidak mengabarimu X( Kita pulang bersama lain kali, oke? 😀

Taehyung tidak tahan untuk menepuk jidatnya kuat-kuat. Berarti sejak tadi ia menunggu dan dipandangi siapapun yang melewatinya ternyata ia mendapat hasil yang pahit. Tidak menunggu lebih lama lagi Taehyung langsung beranjak pulang. Namun terselip sebuah pemikiran yang Taehyung rasa tidak masuk akal.

Sujeong menjauhiku?

* * *

Tidak terbayang pada akhirnya tebakan itu tepat sasaran.

Sudah beberapa hari ini mereka tidak pernah bertegur sapa. Setiap kali Taehyung lewat, Sujeong (berpura-pura) menyapa temannya yang juga sedang lewat. Taehyung juga pernah menghampirinya karena Sujeong lupa membawa kotak pensilnya dan bukan si pemilik melainkan temannya yang menerima benda tersebut.

Bahkan ketika mereka sama-sama mendapatkan detensi membersihkan toilet guru karena berjalan di koridor ketika pelajaran sudah dimulai, begitu Taehyung tiba di sana toilet sudah (sangat) bersih. Ia menduga Sujeong sudah membersihkannya duluan dan untuk menghindarinya, Sujeong pulang duluan.

Sujeong memang sedang menghindarinya.

Taehyung tidak bisa berkonsentrasi pada pelajaran, sebenarnya lebih tepat dikatakan Taehyung memang tidak pernah konsen. Namun kini ia merenung memikirkan alasan Sujeong menghindarinya.

“Tae! Tae!”

Taehyung menegakkan kepalanya, mengangkat dagunya sejenak untuk bertanya mengapa Jungkook yang duduk di sebelahnya terlihat panik. Ketika ia melihat ke depan kelas, Taehyung harusnya tahu mencari gara-gara dengan Im Saem yang selalu marah dengan alasan PMS sama dengan mencari jurang untuk loncat.

“Bagaimana melamunmu? Menyenangkan?” Im Saem tersenyum bukan berarti beliau sedang gembira, justru sebaliknya.

Taehyung menggaruk kepalanya. “Tidak, Saem. Kau ingin memberiku hukuman?”

Im Saem lagi-lagi tersenyum, lebih lebar karena ia tahu Taehyung yang pada dasarnya memang pintar pasti mengerti maksudnya. “Jika kau keluar dari kelas ini lalu belok kanan dan maju terus, maka kau bisa menemukan Park Saem sedang menunggumu di sana.”

Taehyung tanpa aba-aba langsung berdiri, membungkukkan badannya sejenak lalu dengan cuek keluar dari kelas. Sempat ia lihat Jungkook menghela napas, pasti karena ia tidak punya teman untuk diajak bicara jika bosan.

Seperti yang diinstruksikan oleh Im Saem, Taehyung belok kanan dan terus berjalan maju hingga ia menemukan ruang guru yang pintunya terbuka lebar, mencurigakan karena jika pelajaran mulai ruang guru pasti tertutup, kecuali jika ada murid yang sedang diberi hukuman. Ini tandanya Taehyung punya teman untuk membantu.

Taehyung pelan-pelan masuk ke ruang guru, mengedarkan pandangannya maka ia menemukan Park Saem yang kumisnya selalu tebal dan keningnya yang dipenuhi kerutan sedang duduk di kursinya. Seorang perempuan berdiri di depannya dengan kepala tertunduk.

“Park Saem, aku menagih hukumanku,” Taehyung berjalan ke sisi perempuan itu, merasa mengenal punggungnya meskipun rambut perempuan itu digerai.

Park Saem menggelengkan kepalanya frustasi. “Seorang Taehyung mendapat hukuman membuatku heran. Kalau begitu kau mengerjakan hukuman bersama Ryu Sujeong.”

Taehyung menoleh cepat kepada perempuan di sampingnya, sama dengan apa yang dilakukan perempuan itu. Mereka saling melotot, terutama Sujeong yang tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

Di dalam hati Taehyung tidak tahu apakah ia harus senang atau tidak, mengingat Sujeong jelas-jelas sedang menjauhinya, namun Taehyung tidak bisa mengelak jika ia merindukan sosok Sujeong dalam sehari-harinya. Dan kini kesempatan itu datang.

Lalu, mereka dipersilahkan untuk mulai menyirami halaman sekolah. Taehyung berjalan di belakang Sujeong, memandangi punggung hangat perempuan yang selalu melompat-lompat saat berjalan. Hari ini Sujeong terlihat berbeda. Rambutnya yang selalu diikat kini dibiarkan tergerai, ini sungguh berbeda dengan apa yang Taehyung lihat setiap hari.

Sesampainya di halaman belakang sekolah, tanpa mengajak bicara atau setidaknya menoleh sedikit saja, Sujeong mengambil selang air yang tergeletak sembarangan dan mulai menyirami bunga di sekitarnya. Taehyung sendiri masih berdiam diri di tempatnya.

“Hei, kau menghindariku?”

Sujeong yang tadinya menggoyang-goyangkan selangnya kini terdiam, namun ia tidak berani menoleh ke belakang. Taehyung mendesah keras agar perempuan itu mendengarnya dan merasa tersindir, tapi Sujeong tidak menoleh juga.

Taehyung memberanikan diri berdiri di samping Sujeong, namun Sujeong menggeser tubuhnya. Ketika Taehyung mendekat lagi maka Sujeong juga ikut bergeser kembali, terus begitu hingga akhirnya Sujeong tidak bisa bergeser lagi karena beberapa pot bunga menghalanginya.

“Kau belum menjawab pertanyaanku, Sujeong,” ucap Taehyung pelan. Yang ia inginkan sekarang adalah jawaban, apa ia salah?

Sujeong membuang muka, menjawab terlalu berat untuk mulutnya. Menjelaskan jawaban itu amat melelahkan untuknya sekaligus menakutkan. Membayangkan begitu ia menjawab pertanyaan itu tali hubungan mereka hancur, maka selesai sudah.

Taehyung menepuk pundak Sujeong dan tanpa terduga perempuan itu memukul tangan Taehyung, hal yang tidak pernah dilakukan oleh Sujeong karena perempuan itu tahu Taehyung tidak suka dipukul, dan kali ini laki-laki itu membiarkannya.

“Aku mengizinkanmu memukulku sebanyak-banyaknya tapi kumohon, berikan aku satu alasan kau terus menghindar dariku.”

Kalimat itu terdengar manis bagi Sujeong, rasanya ia mau memeluk Taehyung sekarang dan memuji sahabatnya itu yang kini sudah bisa berbicara semanis itu tapi Sujeong menahan diri. Ia harus melakukan sesuatu agar terhindar dari situasi ini.

Taehyung akan berbicara lagi hingga tahu-tahu badannya terasa dingin, melawan angin dingin yang justru makin membuatnya kedinginan. Sujeong baru saja menyiram Taehyung dengan air dan kini perempuan itu mengepalkan tangannya kuat-kuat, entah merasa bersalah atau justru senang melakukan hal tadi.

“Taehyung, apa kau tidak sadar?” Suara Sujeong saat menanyakannya terdengar bergetar dan Taehyung tahu masalah ini tidak sepele.

“Apa maksudmu?” Taehyung balik bertanya karena sejujurnya, Taehyung tidak mengerti. Yang terus ia pikirkan adalah perempuan yang ia sukai menjauhinya dan ia tidak tahu harus berbuat apa.

Sujeong mengusap genangan air mata di sudut matanya. “Aku sudah membuatmu sakit hati, apa kau tidak marah?”

Dan dengan pertanyaan itu kini Taehyung sudah mengerti dengan sangat jelas alasan tragedi jauh-menjauh ini. Sujeong sudah mengetahui perasaannya. Ini buruk.

Taehyung menggeleng pelan-pelan. “Kau tidak perlu khawatir aku tersakiti atau tidak, asalkan kau tidak lari dariku.”

“Bagaimana bisa aku tidak kabur darimu ketika jika aku bersamamu maka kau hanya merasakan patah hati?!” Sujeong membentak Taehyung, maka dengan itu air matanya perlahan menetes. Taehyung yang melihatnya merasa perih, melihat Sujeong yang selalu tersenyum mampu menangis menusuknya.

Sujeong terus-terusan mengelap air matanya, tidak mau setetes pun turun ke pipinya dan membasahi seragamnya. Taehyung ingin mendekati perempuan itu dan memeluknya, tapi ia sadar jika melakukannya justru akan mempersulit Sujeong.

Sujeong menarik napas dalam-dalam sesudah ia merasa lebih tenang. Ia menatap nanar Taehyung. “Aku minta maaf Taehyung. Aku tidak mau menyakitimu, tapi aku melakukannya.”

Taehyung membuang muka, menghindari tatapan Sujeong yang sungguh membuatnya amat sangat terluka. Ya, ia memang tersakiti karena harus memendam perasaan ini sendirian pada Sujeong, sahabatnya sendiri, tetapi ia akan merasa lebih sakit lagi kalau Sujeong justru menghindarinya begitu mengetahui ia memiliki perasaan pada gadis itu.

“Jangan meminta maaf, Sujeong.” ucap Taehyung lirih, dengan suara yang terdengar menahan luka. “Mendengarmu meminta maaf padaku sama saja dengan mendengar penolakanmu. Dan aku tidak ingin mendengarnya.”

Sujeong juga membuang muka, tak kuasa melihat wajah Taehyung yang terluka. Bahkan ia merasa airmatanya kembali mendesak di pelupuk matanya.

“Maaf.” Hanya itulah yang bisa diucapkan bibir kecil Sujeong.

Taehyung menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan gemuruh dalam dadanya akibat rasa sakit yang ditimbulkan dari kata sederhana dengan 4 huruf yang diucapkan oleh Sujeong namun memberikan efek yang luar biasa bagi tubuhnya. Sakit. Sungguh menyakitkan.

“Kalau kau berkata maaf lagi padaku, aku akan benar-benar membencimu, Ryu Sujeong,” ucap Taehyung tertahan.

Sujeong mengangkat kepala. “Kalau begitu lakukanlah.” katanya, cukup membuat Taehyung tertegun. “Bencilah aku agar kau tidak memiliki perasaan itu lagi padaku.”

“Ryu Sujeong.” Taehyung menunjukkan wajah terluka. “Bagaimana bisa aku membencimu kalau semua kenangan tentangmu selalu mengikuti seperti bayangan yang menempel di bawah kakiku? Kau tak perlu mengatakan hal menyakitkan itu padaku. Perasaan ini milikku sendiri. Aku tidak memaksamu.”

Sujeong mengangguk pelan. “Baiklah, kalau memang kau yang meminta. Aku tidak akan mengatakan hal itu lagi. Dan kau juga tidak akan memaksaku untuk memiliki perasaan itu. Aku hanya akan tetap menjadi sahabatmu, benar kan?”

Cukup lama Taehyung terdiam hingga akhirnya mengangguk dengan ragu. “Iya,” gumamnya pelan, meskipun ia menumpuk rasa sakit yang banyak di dalam hatinya saat mengucapkan hal itu.

Lagi-lagi Sujeong mengangguk. “Baiklah, aku tidak akan menjauhimu lagi. Aku tidak akan meninggalkan sahabatku lagi. Tetapi, Kim Taehyung,” Sujeong menatap manik Taehyung intens. “Bertahan menjadi sahabatmu ataupun meninggalkanmu, bukankah itu sama-sama menyakitkan untukmu?”

Taehyung tidak menjawab. Sujeong juga tidak memerlukan jawaban karena ia kini melanjutkan tugasnya menyiram tanaman. Ia hanya membiarkan Taehyung terdiam, terpekur, merenung atas pertanyaan telak yang ia berikan.

* * *

Seseorang pernah berkata pada Taehyung, ketika kau memulai mencintai seseorang, saat itu pulalah kau akan memulai rasa sakit hatimu. Karena pada masa itu, kau akan mulai merasakan perihnya cinta tak terbalas. Taehyung tahu dan Taehyung menyadari, mungkin hingga beberapa tahun berikutnya, Sujeong hanya akan menganggapnya sebagai seorang sahabat. Tetapi tidak apa-apa. Meskipun ia berharap Sujeong akan melihatnya sebagai seorang laki-laki ataupun ia yang dapat menggumamkan nama lain di dalam hati, selain nama Sujeong, ia merasa tidak apa-apa jika memang harapan itu tidak menjadi nyata. Biarkan saja hanya Taehyung yang memiliki perasaan itu, meskipun menumpuk sedih dan sakit yang banyak di dalam hati. Karena Taehyung akan tetap dan masih mencintai Sujeong, sahabatnya sendiri.

“Sujeong-ah, darimu aku mengerti kalau ‘kau’ dan ‘aku’ tak akan pernah bisa menjadi ‘kita’.” — Kim Taehyung.

-fin.

Nama visitor: LA_Khilda
Main cast(s): Ryu Sujeong Lovelyz & Kim Taehyung BTS
Prompt: “Jika saja aku bisa memohon pada Tuhan, aku ingin Tuhan menghapus namamu dari hatiku agar hatiku bisa menggumamkan nama lain selain namamu. Namun pada kenyataannya, kau abadi dalam hatiku, walau aku tak pernah ada dalam hatimu.”

Kicauan dari author:

zulfhania: Ini pertama kalinya aku buat fanfic duet dan ternyata sensasinya… menyenangkan 🙂 Meski menguras otak untuk menentukan ide yang sesuai dengan prompt. Untuk LA_Khilda, maaf apabila fanfic karya kami berdua tidak sesuai harapan, kami harap kamu suka dengan fanfic ini yaa 🙂 Terimakasih sudah berpartisipasi di Autumn Event 🙂

Knaraxo: Aaah, akhirnya ff ini selesai juga! Aku seneng banget karena kerja keras kami sudah terbayar dengan selesainya ff ini. Aku juga udah lama nggak bikin ff dan rasanya kangen bangeet. Terima kasih buat LA_Khilda yang udah request prompt yang kece dan menarik ini, bikin ffnya jadi menyenangkan juga 😀 Semoga kamu suka dengan ff ini dan thanks banget untuk requestnya di Autumn Event ini XD

Happy reading, guys ^^
Jangan lupa tinggalkan jejak ^^
~ zulfhania and Knaraxo ~

Advertisements

32 thoughts on “[Oneshoot] Autumn Event – STILL

  1. baca fic ini sebelum masuk kelas kuliah tadi dan sukses hampir telat wakakakak ((tetiba curhat))
    feelnya dapet banget disini kirain dua-duanya memendam perasaan gitu ya biar sama-sama sakit eh ternyata cuma taehyung doang. jadi ga tega ngebayangin muka dodolnya taehyung jadi sok serius disini.

    agak nyesek juga kenapa sujeong ga peka disukain sama sahabat tamvannya yang bikin meriah di lapangan basket itu. tapi yah intinya jangan suka sama sahabat sendiri, karna rasanya pasti beda dan takutnya malah sakitnya tuh disini ((nunjuk kepala)) ((ga jadi dangdutan))

    yaudah maaf meracau ga jelas di fic orang :(( keep writing ya kakaks author~~~

    • Walaaah~ justru kalo dua duanya nyimpen rasa mah ya mending jadian aja kali ya, gaada rintangannya kalo gitu, kisah cinta mereka bakal flat2 aja dong, mending yg kayak gini aja, cinta bertepuk sebelah tangan :” wkwk
      Yah mungkin karena Sujeong terlalu menganggap V adalah sahabatnya makanya dia gak pernah peka :” /duh, nyesek/
      Hihi okee gapapa kok, makasih yaa udah sempetin baca plus komen di lapak ini 😀

  2. Annyeong 🙂
    Padahal aku mau jadi yang pertama, huhuhuhu..
    Gapapa deh yang penting request-an aku udah di buat. Gamsahamnida untuk author Zulfhania dan Knaraxo ya!!!#BOW
    Ceritanya nyesek banget ya, jalan ceritanya sama kaya nasib aku. Aku suka sama sahabat dekat aku sendiri. Dan akhirnya dia tau perasaan aku dan menjauh dari aku. Ya ampun, sampai sekarang aku gak bisa move on dari dia. Kok jadi curhat??
    Sekali lagi, Gamsahamnida untuk kedua author yang udah buat request-an aku ya. Gamsahamnida!!!

    • Sebenernya aku udah sms kamu tepat setelah ff ini di publish, tapi ternyata nggak terkirim, makanya aku beritahu lewat kolom komentar, hehe…
      Duh, yaampun, kalo tau kisahmu juga seperti itu, mungkin aku dan Nara bakal kasih solusi di ff ini, sayangnya kami gak tau hehe… Sini deh, Khilda aku bantu kamu sedikit yaa

      Bersahabat dgn lawan jenis itu emang susah susah gampang, apalagi kalo persahabatannya udah mulai memasuki usia remaja, gak bisa dipungkiri kalo kita mulai melirik sahabat kita dgn cara pandang yg berbeda. Itu lumrah kok sebenernya, tapi yg jadi masalah adalah gimana kita ngesikapin rasa itu. Emang sih sakit banget kalo begitu dia tau kita suka sama dia, terus dia ngejauh. Yah, menurutku sih gpp, mungkin dia perlu waktu untuk berpikir, atau mungkin juga berarti dia bukan orang yg tepat buat kamu. Gak perlu sedih, cowok bukan cuma dia doang kok, hey, siapa tahu ada cowok lain d luar sana yg sebenernya diam diam suka sama kamu. So, jgn cuma terpaku dgn satu orang. Yap, kamu harus move on. Pasti bisa kok, gak ada hal yg gak bisa kita lakuin di dunia ini kalo kurangnya niat. Makanya kamu mantepin dulu niatmu untuk move on. Emang sih gak semudah itu, tapi kalo gak sekarang, kapan lagi? kamu gak mau kan terus terbelenggu dgn perasaan yg gak pernah bisa kamu dapetin dari orang itu?

      /nengok atas/
      duh, maaf nih, kok aku malah ngebacot panjang banget ya, wkwk, maklum jiwa ‘mario teguh’-nya keluar hihi.. Semoga solusiku ini bisa bantu kamu yaa. Semangat, Khilda, kamu pasti bisa 😀

      Btw, makasih juga yaa udah baca dan request di event IF kali ini ^^

      • Iya, Zulfa eonni… Maaf baru bales ya, baru sempet buka.
        Gapapa kok, yang penting berguna bagi orang lain. Aku cerita lagi boleh gak?#maksa
        Lanjutannya, dia ternyata pacaran sama sahabat aku sendiri eonni. Rasanya nyesek banget, aku nangis kejer pas itu. Tapi lama-lama aku jadi terbiasa, aku mau coba move on. Resikonya aku akan mengalami cinta sepihak lagi kan?

        Aku boleh minta facebook/twitter Zulfa sama Nara eonni gak?

        • Iya gapapa kok, Khilda 🙂
          Inget kalimat yang kutulis di ff deh.

          “Ketika kau memulai mencintai seseorang, saat itu pulalah kau akan memulai rasa sakit hatimu. Karena pada masa itu, kau akan mulai merasakan perihnya cinta tak terbalas.”

          Itu wajar kok, dear. Apapun yg kita lakukan pasti selalu ada resikonya. Membuat masalah, maka akan mendapat masalah. Jadi gak perlu khawatir 🙂
          Oh, boleh kok, boleh banget, facebook-ku Zulfa Azkia (zulfhania), kalo twitter @zulfhania. Buka staff profile-ku aja, disitu ada semua akun sosmedku kok ^^

    • Iiih, nggak apa kok, yang penting kamu seneng baca FF ini XD
      Gamsahamnida juga yaa, udah request, jadinya aku bisa bikin FF Taehyung-Sujeong (mereka cute banget, right?)
      Aku juga gitu kook, suka sama sahabat sendiri and dia nggak suka sama aku, dan dia ngejauh juga dari aku setelah tahuu /nangis darah /ikutan curhat, hehe. Sabar yaaa, tuhan punya sesuatu yang lebih spesial untuk kita, disimpan untuk kita suatu saat nanti di waktu yang tepat /eaaa, abaikan
      Sama-sama ya 😀

  3. Zulfaaaaaa~~~~~ Knaraaaaaa~~~~ tanggung jawab!!!! Tanggung jawab karena udah berhasil bikin aku nangis! Nyesek ih…. memendam perasaan buat orang yg gak memiliki perasaan yg sama sama kita itu nyesek bingitss dan Standing applause buat Taehyung yg bisa tahan sama penyiksaan secara perlahan ini :”) apalagi dia udah tau kalau emang persahabatan mereka gak bisa diubah jadi cinta. ya ampunnnn gak bisa bayangin perasaan taehyung kayak gimana :”(
    Suka banget quotes taehyung yang terakhir… darimu aku mengerti kalau kau dan aku tidak akan pernah menjadi kita. Itu…. aku merasa disindir sama kata kata itu /nangis lagi/
    Too much feel.. this FF has too much feel!!!! Loveeeee it!!!
    Dan otak taehyung agak mesum jg yah pas dia liat leher sujong dan pemikiran dia ttg Ciuman gak langsung. Ah, taehyung, dasar cowok -…..-
    overall…. ffnya kerenn… I like it like ittttt :3 hwaiting buat zulfa dan knaraxo~~~ keep writing!!! 😀
    PS: maaf komenku nyampah banget sampe panjang gini XD

    • Aiiihh, maafkan kamiiii ._.v Iya kaaak, Taehyung cowok setia bangeeet~ andai aku jadi Sujeong pasti bakalan langsung aku embat :v
      Duh pukpuk kak, jangan nangis lagi yaa hihi, gak usah baper :p haha
      Yah namanya juga cowok sih ya kak, pasti gak akan jauh jauh dari pikiran mesum kayak gitu wkwk
      Makasih banyak ya kak Amy 😀 padahal aku sempet ragu loh kalo gak bakalan kerasa feel-nya, syukurlah kalo akhirnya feel-nya nyampe, jadi reader bisa ngerasain juga gimana rasanya jadi taehyung hihi
      Sipsip, semangat juga buat kak Amy, kutunggu ff duet kak Amy dan kak Chun yg berikutnya. Semangaaaat! 🙂

    • Aaah, makasih banget lho Kak udah nangis (?) Hehe, ini juga berkat Kak Zulfa yang pinter bikin sad story /senggol Kak Zulfa
      Emang Kak nyesek banget, ini juga pengalaman sendiri jadi aku seneng bikinnya, hehe :’D Dan entah kenapa Taehyung ternistakan seperti ini selalu membuatku ketagihan (eh?)
      Emang Kak si Taehyung bisa mesum, tuh pikiran mesum ajarannya Jimin /digebuk Jimin pakek sendal
      Setuju sama Kak Zulfa!! Tadinya sih kupikir takut nggak dapet feel-nya, tapi jujur nih Kak, aku baca ulang FF ini terus mewek sendiri, haha XD
      Hwaiting juga buat my dear Kak Amy, Keep writing too! :*

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s