[FICLET] Blue Moon

bluemoon

arin yessy storyline

Blue Moon (+1500 words)

starring : VIXX Leo & Park Jiyeon

rate/genre : PG-13 | hurt, romance

Disclaimer : I own nothing but the story and poster. So sorry kalau absurd dan banyak typo serta kesalahan tata bahasa (*my bad).

Happy Reading~~

special buat kemarin yg minta couple ini, this fic for you~

.

“Leo…”

“Leo…”

Bisikan itu menggelitik rongga telinga laki-laki itu. Diurungkannya keinginan untuk memejamkan kedua kelopak matanya.

“Leo… Leo sssstt..”

Ahh suara sialan itu.

Suara yang amat dikenalnya.

Apakah kali ini ia sedang berhalusinasi? Kenapa terdengar begitu nyata? Leo melirik ke arah sebotol cairan bening berukuran sepuluh mililiter yang terpajang indah di nakas dekat tempat tidurnya. Sama sekali masih bersegel dan belum tersentuh. Jarum suntik yang ada disampingnya juga tampak belum keluar dari kemasannya

Jadi bisa dikatakan Leo tak sedang berhalusinasi sekarang. Ia belum menyuntikkan obat anti depresan itu.

“Yak!! Jung Leo!”

Leo terpaksa bangkit dari kasurnya. Dan menemukan bahwa suara tersebut terdengar semakin jelas ketika ia melangkah mendekati jendela kamarnya.

“Jiyeon?”

“Yak, pabo.. Aku memanggilmu dari tadi tahu?” Jiyeon mengajungkan jari telunjuknya, memberi kode pada Leo untuk membuka kusen jendelanya.

“Apa yang kau lakukan?” Leo memutar kedua bola matanya. Hanya Jiyeon satu-satunya gadis perawan yang datang mengunjungi kamarnya selarut ini.

Gadis aneh, terkadang Leo kesal akan tingkah kekanakan gadis itu. Tapi jika membencinya? Leo tak akan sanggup walau sehari bernafas tanpa gelak tawa Jiyeon. Dan sepertinya ia harus meninggalkan kebiasan itu segera.

“Jangan bilang kau lupa sekarang tanggal berapa?”

“Yang jelas hari ini bukan hari ulang tahunku.”

“Ini hari ulang tahunku pabo. Tepat pukul 00.01” Jiyeon nyengir. Ia menunjukkan jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.

“Lalu?”

Gadis itu mengerucutkan bibirnya. Leo jelas tak antusias dengan apa yang jiyeon utarakan.

“Ayo kita rayakan ulang tahunku. Kajja..!” Gadis itu berusaha menelan kekecewaannya akan sikap acuh Leo.
Ia menarik lengan namja itu dan melupakan bahwa kenyataannya mereka terpisahkan oleh kusen jendela. Jiyeon berada di luar kamar, sementara Leo masih berada di dalam kamarnya.

“Ck.. Lakukan saja sendiri, aku ngantuk.” Leo menghempaskan cekalan tangan Jiyeon.

“Ayolah,,, please kali ini saja, temani aku merayakan ulang tahunku.”

“Hhhsss kau benar-benar menyebalkan heuh? Do it by yourself Jiyeon! Aku sedang tidak mood melakukan apapun.”

Jiyeon menghentikan usahanya. Jelas ia kecewa mendapati keinginannya untuk menghabiskan malam ulang tahunnya bersama Leo sahabatnya harus batal kali ini.
Leo banyak berubah. Begitulah yang dipikirkan Jiyeon. Terlebih mengetahui bahwa dirinya lah penyebab utama segala perubahan dalam diri sahabatnya itu membuat kesedihan Jiyeon bertambah. Ia ingin mengembalikan semuanya seperti dahulu, namun kembali ia harus mengubur harapannya itu rapat-rapat. Karena semuanya takkan kembali seperti sediakala.

“Ara.. Selamat beristirahat Leo, Mian aku menganggu tidurmu..” Jiyeon mengembangkan senyum terbaiknya. Berharap semoga suasana hati Leo akan membaik ketika ia menemuinya esok pagi. Gadis itu melambaikan tangannya dan berjalan menjauh.

Sementara Leo memandang kepergian gadis itu dengan tatapan pias, seolah tak berdaya. Ada sebuah rasa sakit yang merambat melewati ruang-ruang hatinya. ‘Mianhae Jiyeon-na’

Rumah Leo berada tepat di lembah bukit kecil tak jauh dari danau buatan. Mereka dulu sering menghabiskan malam dengan bercengkerama di tepi danau yang airnya berwarna biru kehijauan. Sekedar menyapa akrab teratai-teratai yang tumbuh di permukaannya, atau hanya berdiam diri menyaksikan keindahan rembulan purnama di pertengahan bulan.

Kali ini, tepat di hari ulang tahunnya, untuk sekali dalam beberapa tahun bulan menyapa dengan sinar birunya yang indah. Jiyeon tersenyum ke arah rembulan yang tampak berukuran lebih besar dari biasanya. Hari ini blue moon terlihat begitu jelas dari tempatnya mendudukkan diri. Air danau yang tenang merefleksikan keindahan blue moon dengan sempurna.

Gadis cantik itu menyeka air mata yang menetes di pipi. Digenggamannya terdapat beberapa batang kembang api yang masih baru. Seharusnya ia menyalakannya bersama Leo untuk merayakan dua puluh satu tahun hari jadinya terlahir ke dunia. Namun laki-laki itu mengabaikannya, seperti hari-hari sebelumnya. Seolah persahabatan mereka yang sudah terajut selama dua belas tahun tak memiliki arti.

Jiyeon mendesah pelan. Ia mengambil korek api dan menyalakan salah satu kembang apinya.

Percikan-percikan api itu terlihat indah menyala di keremangan malam. Untuk sesaat Jiyeon tak merasa sendiri. Ia merasakan kehadiran Leo melalui percikan dan gemercik suara kembang api yang dulu sangat disukai oleh laki-laki itu. Tak ada kue ulang tahun, tak ada kartu ucapan penuh dengan nada ceria, tak ada Leo, bahkan Jiyeon tak berani melontarkan harapan untuk pertambahan usianya disaat gadis-gadis lain memiliki sejuta impian dan cita-cita. Yang ada hanya dirinya yang merasa sepi, dan percikan kembang api ini.

“Jadi kau akan menghabiskan semua kembang apinya tanpa menungguku?”

Jiyeon terkesiap. Suara yang amat dikenalnya menginterupsi kesunyian.

“Leo..” bisikan Jiyeoin nyaris beradu dengan hembusan angin.

Laki-laki itu mendudukkan dirinya dengan nyaman di hadapan Jiyeon. Mengambil sebuah kembang api dan menyalakannya. Ia menyerahkan kembang api yang sudah menyala itu dalam genggaman Jiyeon.

“Selamat ulang tahun Jiyeon..”

Jiyeon memiringkan wajahnya, lengkung mata tajam itu tercetak jelas disana, menatap Jiyeon dengan tatapan sendu dengan sejuta rahasia yang tersimpan rapat.

“Gomawo.. Kupikir kau marah padaku tadi. ” Jiyeon tersenyum. Senyumannya terlihat makin indah ketika cahaya kembang api memperlihatkan wajah ceria itu. Jejak-jejak air mata sudah tak terlihat disana.

Suasana kembali meremang ketika percikan kembang api telah habis.

Leo mencekal pergelangan tangan Jiyeon sebelum gadis itu menyalakan kembang api berikutnya.

“Wae? Kau sekarang juga tak suka kembang api?” ucapan Jiyeon begitu polos terlontar dari bibirnya.

Leo mengeleng lemah. Ia mengusap punggung tangan Jiyeon dan menuntun jemari lentik itu untuk menyentuh wajahnya.

“Leo?”

Leo tak menghiraukan panggilan sejuta tanya yang Jiyeon ucapkan. Ia kini beralih mengecupi punggung tangan gadis itu. Kelopak matanya terpejam, menikmati sentuhan jemari gadis itu menyapa wajah tampannya.

“Leo… Kau kenapa?”

Jiyeon tak berusaha menarik telapak tangannya dalam genggaman Leo

“Kenapa kau merahasiakannya dariku Jiyeon?”

“Apa yang kau bicarakan Leo?”

“Pertunanganmu.. Kenapa kau merahasiakannya dariku.”

Jiyeon membelalakkan manik mata hazelnya. Hal yang paling ia takutkan menjadi kenyataan. Semuanya akan terungkap sebelum ia sempat menjelaskan apapun pada Leo.

Ia takkan bisa menyakiti laki-laki itu. Tak pernah bisa. Ia mencintai Leo.. Namun kenyataannya begitu pahit ketika menyadari bahwa sampai kapanpun mereka tak kan pernah bisa bersama.

“Maafkan aku Leo, pertunangan itu sangat mendadak.. Semua perjodohan itu sudah di atur oleh paman dan bibi. Aku pun sangat terkejut.” Jiyeon mencoba menjelaskan. Berusaha meyakinkan Leo bahwa ini bukanlah keinginannya.
Namun nampaknya Leo tak cukup tertarik akan pejelasan itu. Ia sudah mengetahui bahwa cepat atau lambat hubungan mereka akan berakhir. Entah hubungan jenis apa yang ia maksud. Mungkin juga tali persahabatan yang sudah dua belas tahun terajut, atau hubungan antara kedua insan yang saling mencinta. Tapi satu hal yang pasti, hubungan mereka takkan mengenal kata selamanya.

“Siapa laki-laki itu?”

“Nama… Namanya Oh Sehun.”

“Kau mencintainya?”

“Kau tahu jawabanku Leo. Dan jawabanku belum berubah.”

“Apakah kau akan mencintainya?”

“Siapa?”

“Oh Sehun.”

Jiyeon mendesah pelan. Ia tak ingin menjawab pertanyaan itu, terlalu sulit.

“Kau sendiri, apakah kau mencintai Ye In?”

“Hanya kau yang kucintai..”

“Kau harus belajar mencintainya, ia akan menjadi istrimu sebentar lagi.”

Ada nada kegetiran disana. Jiyeon meneguhkan hatinya mati-matian demi mengucapkan sederet kalimat yang menyakiti hatinya sendiri.

“Apakah kau menginginkan hal itu Jiyeon?”

“Apa?”

“Kau ingin aku melupakanmu?”

“Ya, tentu saja. Kau harus meneruskan hidupmu Leo, temukan kebahagian untuk hatimu.”

Jiyeon melepaskan tautan tangan mereka. Ia mengambil kembang api terakhir dan menyalakannya.

“Leo, Hari ini anggaplah sebagai awal yang baru. Dan kembang api ini adalah terakhir kali kita memainkannya bersama. Karena setelah ini kau bisa menyalakannya bersama Ye In.” Jiyeon memaksakan senyumannya.

Percikan kembang api terlihat indah menerangi wajah mereka berdua. Leo menatap sendu wajah Jiyeon. Wajah yang amat dikenalnya. Setiap lekuk keindahan wajah Jiyeon tercetak jelas dalam otaknya. Bagaimana bisa ia melupakan gadis itu semudah mengatakannya? Rasanya hanya amnesia lah yang mampu membuatnya lupa akan Jiyeon dan kenangan yang telah mereka lewatkan bersama.

Hanya dua menit saja. Percikan kembang api itu memudar kemudian suasana kembali meremang. Hanya cahaya rembulan yang menerangi mereka.

Entah setan apa yang merasuk. Kini Leo membingkai wajah Jiyeon dengan kedua telapak tangannya. Dikecupnya dengan lembut kening, kelopak mata, dan hidung bangir gadis itu.
Ia tahu, ia tak berhak melakukannya. Mencium gadis yang sudah bertunangan adalah hal terbodoh yang pernah ia lakukan. Terlebih ketika ada gadis lain yang juga menanti cintanya disana.

Jiyeon memejamkan kelopak matanya. Merasakan sentuhan bibir Leo di permukaan bibirnya. Refleks Jiyeon mengalungkan kedua lengannya di leher Leo. Kepala mereka bergerak saling menyesuaikan. Mencari posisi terbaik untuk sebuah ciuman yang berkesan.

Tak ada nafsu yang menggelora. Leo meyakinkan dirinya bahwa Jiyeon bukanlah miliknya. Jadi, Ciuman itu terkesan lembut tanpa intimidasi.

Jiyeon melayang. Merasakan sensasi aneh seolah melambungkan isi perutnya. Hal asing yang pertama kali ia rasakan. Sungguh menyenangkan, terlebih ketika Leo -laki-laki yang masih dicintainya- yang memberikan kenangan indah itu.

Takdir sangat menyakitkan. Takdir mempertemukan mereka, takdir yang membuat mereka mencinta, dan takdir pula yang kelak akan memisahkan mereka. Semuanya terasa tak adil, ketika keputusan kedua orang tua telah diambil. Hanya demi sebuah balas budi, Jiyeon yang yatim piatu tak akan sanggup menolak keinginan paman dan bibinya untuk menikah dengan lelaki pilihan mereka. Sementara Leo, ia tak mempunyai pilihan lain selain menerima Ye In disisinya.

Blue moon yang indah menjadi saksi ketika ciuman itu semakin dalam. Ketika kedua bibir mereka bertemu untuk pertama dan terakhir kalinya. Ya, terakhir kalinya sebelum semuanya kembali sedia kala.

Leo menyibakkan helaian rambut cokelat yang menutupi wajah gadis itu. Ia menatap refleksi dirinya dalam manik mata Jiyeon.

“Leo.. Mulai saat ini, kau bisa melupakanku.”

Jiyeon beranjak menegakkan tubuhnya. Setengah hati ia melepaskan tautan tangan mereka.

“Jiyeon..”

“Hemm?” Jiyeon mati-matian menahan air matanya.

“Berbahagialah..”

“Kau juga Leo..”

Jiyeon melangkah menjauh diiringi tatapan hampa dari kedua manik mata kelam itu. Gadis itu tetap berjalan, menembus hutan kecil yang akan mengantarnya ke jalan pulang. Tak sedikitpun ia menoleh. Sementara Leo bernafas dalam ruang kehampaan yang mengisi hatinya, Jiyeon meninggalkannya dengan beberapa bekas luka yang entah kapan akan sembuh benar.

Untuk kesekian kalinya takdir tak memihak mereka, dan justru menjadikan blue moon tahun ini menjadi saksi bisu pertemuan terakhir mereka sebagai sepasang insan yang pernah saling mencinta.

FIN.

Author’s note :
FF apa ini?!  Maapkeun ya semuanya kalau mengecewakan. Ini FF spesial buad yg request Mas Leo keripik tempe LC_Ovan 🙂 commentmu bikin emesh deh .. Peluk cium dari Leo.. Mind to review?? Have a nice day semuanyaaa *xoxo

Advertisements

16 thoughts on “[FICLET] Blue Moon

  1. Iiii kok sedih sih.. Kok nyesek sih😭
    Aaaaa aku gasuka sama takdir mereka yg harusin mereka buat pisah😭
    Asli ff ini bikin aku baper masa…
    Anyway aku juga lagi suka banget nih sama abang leo😆😊😆
    Bikin ff yg cast nya leoji lagi dong kak😁😁😁

  2. wahhhhhhh FF ini khusus buat Q gomawoooooo bener” ngak nyangka bakal dibikinin FF Jiyeon×Leo walau sad ending tapi cukup mengobati rasa shipper ku ke mereka

    Permainan takdir yang menyakitkan takdir yg membuat mereka bertemu takdir yg membuat mereka mencinta takdir juga yg membuat mereka rela melepas cinta dan harus hidup bersama orang lain

    Bang Leo kripik tempe harus berani dong kalo ang cinta bawa aja Jiyi nikah secara diam” dan hidup bersama aduhhhhh dasar tuan poker face maka’a jangan diem aja ilang kan si uri Jiyi mana Jiyi harus sama Theun lagi walau sama” vutih sevutih kapas tapi bagi ku pesona sangarmu yang paling keren bang lain kali harus bergerak cepet jangan karena makanan aja baru cepet masalah cwe juga dan bang Leo kripik tempe semoga rambyt mu ngak berbelah lagi dn style’a balik ke dulu lagi

    udah ahhh coment w panjang amet udah kaya pidato di kantor camat, buat author semangat terus dan sekali lagi terima kasih atas FF’a walau baru sempet baca sekarang karena hape rusak alias modar

  3. Yaaaaahh… kasian Leo sama Jiyeon. Pada akhirnya mereka harus saling merelakan untuk tidak bersama. Nyesekkk… tapi mau gimana lagi, udah takdir mereka buat berpisah :’) tapi dua belas tahun sahabatan terus saling mencintai itu rasanyaaa… apalagi mereka harus berpisah itu rasanyaaaaa…. kasian kak sama Leo dan Jiyeon T.T
    Btw FF-nya keren kaak… jjang!! Daebakk!! Walaupun sesungguhnya aku belum kenal sama Leo–karena baru liat dia di MV Beautiful Liar–tapi feel di ff ini dapet bangets. Ngena ngena bikin baper gitu lhoo :”D dan entah kenapa lagu Beautiful Liar terus muter di kepala aku pas baca ff ini… hehehehe berasa soundtrack :3
    Weh, komenku kepanjangan yaa? Maafkann XD btw, keep writingg and hwaitingg kaak!!! 😀

    • Huaaa senengnya d comment author senpai sepertimu..
      Iya nih aq langsung ngeh sama leo,, thanks banget buat poker facenya yg sangat mendukung..
      Aq sebenernya jg baper abis nulisnya., hiksss bingung mau d bawa kemana hubungan mereka .. Hihi
      Tp aniwey makasiii udah comment ya amy xoxo
      Keep writing juga bwd kamuu~~

  4. oh tidak q dukung yg bilang mereka kawin lari aja..
    setidaknya jiyeon jujur ama bibi dan pamannya secara baik2 biar jelas,walaupun balas budi tapi merelakan kebahagian sendiri dan orang lain itu juga gak dibenarkan..

  5. Hueee kenapaaaa kenapaaa nyesekkk leoo lu kenapa kgk bawa kabur si jiyeon aja sih.. Kawin lari kek… Atau apa kek penting jangan nyesek kek beginii :’v hueeee

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s