H U R T R U T H

hurtruth

H U R T R U T H

VIXX Jung Leo, OC Kim Anna and a girl

Romance, Psychology, Angst, Sad, Hurt/Comfort | Oneshot | PG

Soundtrack :

VIXX LR – Beautiful Liar

VIXX Leo ft. Lyn – Blossom Tears

Summary :

My beautiful liar

Will blossom tears

And we grow apart

.

.

.

Anna POV

Penyesalanku seumur hidup adalah mengenalkanmu padanya.

.

.

.

Pernahkah kau membuat sebuah kesalahan?

Dan kau menyesalinya setengah mati. Karena ada sebuah kesalahan yang sampai kapanpun tidak akan bisa kau perbaiki. Orang bilang tidak ada yang mustahil di dunia ini. Tapi benarkah?

Mungkinkah?

Apa masih mungkin kau akan kembali padaku,

Leo-ya?

.

.

.

Apa masih mungkin? Walaupun saat ini, detik ini, aku melihatmu mencumbu Dia di depan mataku. Dia, iya Dia. Gadis yang baru sebulan kau kenal namun sudah mampu menembus dinding hatimu yang dingin itu. Bukankah ini tidak adil bagiku, Leo-ya? Apa gunanya berada di sisimu selama hampir seumur hidupku?

Bukankah aku yang lebih dulu menyukaimu?

Ini tidak adil. Aku bahkan belum sempat mengatakannya padamu.

Aku merasa kalau menjadi teman sedari kecil itu sesuatu yang istimewa.

Aku tahu semua tentangmu.

Semua.

Tuturmu.

Ekspresimu.

Sorot matamu.

Makanya tepat pada saat itu,

Aku segera sadar kalau kau menyukainya.

.


.

Aku menginjakkan kakiku pada teras sebuah rumah tua. Dindingnya sudah nampak kusam dan kusennya sudah menghitam. Meski begitu, rumah ini termasuk berukuran besar. Kuketuk pintunya, tak lama berselang aku mendengar suara langkah kaki dan pegangan pintu yang ditarik. Pintu terbuka, lalu nampaklah seorang pria berperawakan jangkung yang amat kukenal.

Annyeong, Leo-ya,” sapaku pada pria bermarga Jung itu. Dia menggangguk sekilas dengan ekspresi datar. Tipikal Leo sekali. “Masuk,” jawabnya singkat lalu membuka pintu lebih lebar. Setelah itu dia berjalan masuk meninggalkanku yang selanjutnya bertugas menutup pintu. Kemudian aku menyusulnya, menuju ruang utama yang lebih luas. Bangunan ini memang besar, tapi semua terfokus pada ruang utama ini. Karena bangunan ini hanya memiliki dua ruang yaitu ruang utama dan toilet. Makanya pemandangan sebuah kasur king size tidaklah terlihat aneh karena ruang ini berfungsi sebagai ruang kerja sekaligus kamar tidur.

Aku menanyakan pada Leo kemana pacarnya. Leo sudah hampir enam bulan tinggal bersamanya.

“Dia sedang bekerja,” jawab Leo singkat. Dan aku tidak bertanya lagi padanya.

Aku mendudukkan diri pada kasur yang berada di tengah ruangan. Sejenak aku mengamati keadaan rumah Leo. Tidak banyak berubah. Meski tampak tua namun bangunan ini tidak bobrok. Dan jangan lupakan betapa bersihnya ruangan ini. Atensiku berpindah pada Leo yang sudah kembali berkutat di depan meja kerjanya. Aku bangkit dan berjalan mendekatinya. Leo sedang mendesain, terlihat dari kertas-kertas dan pensil yang berserakan di meja kerjanya. Aku duduk di kursi yang berada di sisi kanan meja kerjanya. Mengamati kelima jari lentiknya yang sedang membuat desain gaun yang terlihat seperti gaun pernikahan.

“Kali ini gaun pernikahan?” tanyaku. Leo memang biasa menerima pesanan desain-desain gaun wanita. Desainer adalah profesi Leo. Alih-alih menjawab, Leo hanya melirikku sekilas. Tidak mendapat jawaban, aku memperhatikan desain gaun itu lebih teliti.

“Wah, gaun yang cantik. Modelnya sederhana dan berupa mini dress,” ujarku kembali, mencoba menarik perhatian Leo.

Kali ini Leo menoleh padaku. Senyuman tipis—benar-benar tipis—tercetak di parasnya. “Benarkah?”

Aku mengangguk pelan. Kemudian aku meraih salah satu pensil yang tidak Leo gunakan. “Tapi, kalau diberikan aksen sedikit di bagian pinggangnya,” aku mulai menggambar di atas desain Leo. Kedua manik cokelatnya mengikuti pergerakan tanganku. “Jadi lebih indah ‘kan?” lanjutku setelah selesai menambahkan sedikit aksen pada desainnya. Mata Leo mengamati hasil kerjanya lekat-lekat dan bibirnya mengulas senyum puas. Dalam hati, aku tertawa kecil melihatnya.

Iseng, kurebut kertas desain itu dari tangannya. Aku berdiri dan melambai-lambaikan kertas itu di depan Leo. Kubawa kabur kertas itu dan Leo mengejarku. Sejenak kami saling berkejaran. Saat Leo menangkapku, kusembunyikan kertas itu di belakang badanku. Kami bermain dan tertawa layaknya anak kecil. Ini seperti mengenang memori semasa kami kanak-kanak.

Aku biasa merebut benda yang dipegang Leo untuk menarik perhatiannya. Karena kalau tidak seperti itu, aku yakin kami tidak akan bermain bersama. Mengingat sifat Leo yang introvert.Tapi suasana berubah saat Leo menarik kasar kertas di tanganku. Aku agak terkejut sebenarnya. Tidak biasanya dia sekasar itu. Tapi aku masih maklum.

“Jangan dimainkan lagi, nanti rusak,” protes Leo.

Aku beringsut mendekatinya, “wae? Apakah itu proyek seratus juta won?”

Ani, jauh lebih berharga dari itu.”

Aku bisa menangkap ekspresi Leo yang tidak seperti biasanya. Dan senyum itu…kenapa tiba-tiba perasaanku tidak enak?

“Ini adalah gaun pengantin untuk…”

Aku berharap aku tuli saat nama itu terlontar dari bibirmu.

.


.

Leo POV

Aku menghembuskan nafas lega memandang isi dari kotak besar berwarna putih di hadapanku. Akhirnya aku dapat menyelesaikannya. Sebuah gaun pengantin berpotongan pendek berwarna putih. Gaun yang ku desain sendiri. Untuk gadis paling spesial. Gadis yang kucintai. Aku tersenyum membayangkan bagaimana reaksinya nanti. Aku hanya dapat berharap dia akan menyukainya. Mengingat bagaimana susah payah aku membuatnya. Ah, gaun ini hanyalah sebagai pelengkap dari sebuah rencana yang amat berarti di dalam hidupku.

Aku akan melamarnya.

Rasanya aku ingin cepat-cepat membuatnya menjadi milikku seutuhnya.

Karena aku terlalu mencintainya.

.


.

Mungkin benar yang dikatakan orang. Tidak seharusnya kita terlalu senang. Karena bisa saja sesuatu yang menyedihkan akan menimpa kita ‘kan?

Apa sesuatu yang menyedihkan itu,

sesakit saat kau mengatakan kau ingin berpisah denganku?

.

Bahkan sebuah undangan hitam di tanganmu itu,

terlihat seperti sebuah pisau bermata dua yang siap menghujam jantungku saat ini juga.

.

Menghentikan detaknya, yang setiap hari kau picu hanya dengan sebuah ulasan senyum.

.

Apakah cinta sesingkat; sebuah senyuman di awal dan kata selamat tinggal di akhir?

.

Padahal mawar merah ini baru saja kubeli,

kenapa aku tidak bisa membaui harumnya?

.

Padahal cincin ini belum melingkar di jari manismu,

tapi kenapa dia sudah tidak bersinar?

.

Padahal aku bisa mengatakan padamu untuk tetap tinggal. Tapi bukankah kau akan bahagia kalau aku melepasmu?

Maka pada akhirnya yang kukatakan adalah “Aku baik-baik saja jika kau mau kita berpisah”.

Aku diam. Aku tidak lagi menatapmu seperti kemarin. Kau bukan lagi orang yang kucintai. Kau mengembalikan hatiku kembali tertutup setelah sempat dengan lancangnya kaubuka.

Tapi kenapa kau menangis dan mengatakan kalau aku berdusta?

Apakah kata-kataku barusan tidak ada artinya?

Kenapa kau seperti ini? Kau menangis di hadapanku. Kau memintaku untuk menarik kata-kataku seraya merengkuh wajahku. Kemudian tubuhmu beringsut jatuh dari kakimu sendiri. Ini bukanlah masa depan kita yang kuharapkan. Kau membuatku terlihat jahat.

Saat aku memantapkan hati untuk melepasmu, kenapa kau meraihku? Dan saat kau benar-benar akan pergi, tanganku malah menggenggammu lebih erat.

Aku melepaskanmu dari gengaman tanganku—maupun tanganmu—yang begitu erat. Tetapi hatiku masih sama. Perasaanku masih sama. Namun aku tetap melepaskanmu.

Meskipun sangat menyakitkan seperti rasanya mau mati, aku tetap berbohong untukmu. Sebuah kebohongan yang manis, bukan?

Aku belum membayangkan bagaimana hidup tanpamu tapi,

semoga kau bahagia.

.


.

“Kenapa kau tidak mencegahnya?”

“Kenapa kau membiarkannya pergi?”

“Bukankah kau mencintainya?”

“Aku ingin dia bahagia.”

“Lalu kenapa dia menangis?”

“Meski begitu dia tetap meninggalkanku.”

“Dan kau membiarkannya. Kau yakin bisa hidup tanpanya?”

“Aku adalah pembohong yang handal.”

“Tidak, kau adalah pengecut.”

.

.

.

“Pernahkah kau membuat sebuah kesalahan?”

Dan kau menyesalinya setengah mati. Karena ada sebuah kesalahan yang sampai kapan pun tidak akan bisa kau perbaiki. Dan waktu tidak dapat diulang.

Penyesalanku seumur hidup adalah melepaskanmu.

.


.

Anna POV

“Anna?”

Raut heran tercetak jelas di paras Leo kala dia membuka pintu. Ini sudah sebulan setelah dia berpisah dengan pacarnya. Ini juga pertama kalinya aku bertemu dengannya setelah kejadian itu. Dia mungkin heran, tapi aku? Aku terkejut. Aku bahkan hampir tidak mengenali seorang Jung Leo. Dia mengenakan kaos longgar berwarna hitam dengan celana abu-abu yang tampak kusut. Tapi…rambutnya. Sejak kapan rambutnya jadi seberantakan itu?

Melihat keadaannya, aku menjadi semakin khawatir. Bagaimana tidak? Setelah selama sebulan penuh aku tidak dapat menghubunginya. Hampir setiap hari aku menyambangi rumahnya tapi tak sekalipun dia pernah membukakakan pintu dan menyahuti panggilanku, aku sampai berpikir apa mungkin dia sudah pindah. Tapi akhirnya hari ini dia membukakan pintu rumahnya dan aku disambut dengan penampilannya yang,

memprihatinkan.

“Ada apa?” tanyanya setelah agak lama kami membisu di ambang pintu.

“Kenapa katamu? Tentu saja karena aku khawatir, bodoh.”

Leo bungkam. Wajahnya tertunduk membuat kepalanya menjadi lebih dekat denganku yang jauh lebih pendek darinya. Membuat netraku menangkap adanya lingkaran hitam di bawah matanya. Leo sedikit tersentak saat tanganku terangkat merengkuh wajahnya. Memperhatikan paras yang hampir tertutup rambut gondrongnya itu lebih jelas.

“Kau sudah berapa lama tidak tidur??”

Leo menepis tanganku di wajahnya dan bergerak mundur. “Maaf Ann, tapi saat ini aku tidak mau bertemu siapapun.”

“Apa?”

“Maaf Ann.” Leo bergerak menutup pintu rumahnya. Belum sempat aku mencegahnya, kudengar suara gaduh di balik pintu. Sontak kudorong pintu yang belum sepenuhnya tertutup itu. Mataku membelalak mendapati Leo terjerembab, ia menjambak rambutnya dan mengerang kesakitan.

.

.

.

“Gejala depresi?”

“Benar, Nona. Dan biasanya pasien mengalami penderitaan fisik seperti sakit kepala dan insomnia.”

.

.

.

Aku memapah Leo dan mendudukkannya di tepi ranjang. Kami baru saja pulang dari rumah sakit. Kulihat Leo memegangi kepalanya. Aku bertanya apakah dia mau minum, tapi dia menggeleng. Maka kuputuskan untuk mendudukkan diri di sampingnya.

“Leo, aku tidak suka kau seperti ini. Kau tidak harus menyimpan semuanya sendiri, Leo-ya. Kau sudah tidak menganggapku lagi?”

Leo mengangkat wajahnya dan menatapku sendu. “Bukan seperti itu Ann, hanya saja aku…” Leo tidak melanjutkan kata-katanya. Dia mengigit bibir bawahnya.

“Biasanya pasien juga merasa cemas, sedih dan kosong yang tidak dapat dikendalikan.”

Ucapan dokter tadi masih terngiang di telingaku. Aku masih tidak menyangka kalau Leo akan seperti ini.

Depresi?

Sialan Kau!

Bagaimana bisa Kau membuat Leo-ku menjadi seperti ini.

Leo kembali mengerang dan mengacak rambutnya kasar.

“Seharusnya aku menghalanginya pergi, Ann,” ujarnya lirih—benar-benar amat lirih—tapi aku masih dapat mendengarnya dengan jelas. Bahkan sekarang air mata telah mengalir dari pelupuk matanya. Meski wajahnya terhalang rambut, tapi aku tidak keliru kalau seorang Jung Leo benar-benar menangis.

“…perasaan bersalah, tak berdaya, dan tak berharga yang luar biasa…”

Aku tidak tahan lagi. Kubawa Leo kedalam pelukanku. Kurengkuh ia dan kurasakan Leo mulai terisak.

Sial, kalau seperti ini,

rasanya aku ingin kau kembali lagi pada Leo. Aku ingin melihat Leo bahagia.

.

Tapi disaat yang sama, perasaan yang berusaha kupendam jauh di dalam dadaku,

meluap keluar.

.

Sebentar saja.

Perasaan yang penuh kontradiksi. Tapi juga perasaan yang tanpa kebohongan.

Biarkan aku disisimu sebentar saja.

.


.

Leo menatap malas pada tumpukkan cd di tanganku. Siang ini aku sengaja ke rumahnya dan membawa setumpuk film-film terbaru untuk ditonton dengan Leo. Dokter bilang aku harus mengalihkan perhatiannya agar dia tidak terlalu larut dalam kesedihannya.

“Ann, kau tahu aku tidak suka film komedi.”

“Lalu kau mau menonton apa? Horror? Kau bahkan lebih horror, Leo-ya.”

Leo tidak membalas. Wajahnya menampilkan senyum yang dipaksakan menanggapi leluconku.

“Kau tidak perlu melakukan ini, Ann.”

Aku menghela nafas perlahan. “Kau mau berbohong padaku? Kau mau mengatakan padaku kalau kau baik-baik saja?”

“Kau lupa? Kau itu payah saat berbohong, Leo-ya. Dan kau tidak akan bisa menipuku.”

Leo menekuk kedua kakinya dan menenggelamkan wajahnya. Aku memejamkan mataku, membiarkan aliran air asin yang telah kutahan sedari tadi mengalir dari pelupuk mataku dan menganak di kedua pipiku. Aku bergerak maju dan menarik lengan baju Leo. Berupaya membuatnya mengangkat wajahnya tapi Leo tetap bersikukuh pada posisinya. Aku mulai memukuli lengannya. Aku kesal. Kenapa Leo jadi selemah ini?

“Aku mencintaimu! Aku peduli padamu! Itulah kenapa aku melakukan ini, Jung Leo!” racauku mengungkap segalanya kendati tanganku masih melayangkan pukulan-pukulan ke seluruh tubuhnya. Perlahan punggung Leo bergerak kebelakang dan dia mengangkat wajahnya.

“Apa maksud perkataanmu barusan?” Leo membelalak menatapku.

Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat.

Sial!

Leo masih menatapku. Tatapannya seakan menutut jawaban segera keluar dari bibirku. Aku menghela nafas kasar. Dadaku bergemuruh.

“Lupakan saja.”

.

“Maaf aku sudah sembarang bicara. Lupakan saja.” Aku bangkit. Mataku menatap lurus ke depan, tidak berani sedikit pun melihat ke arah Leo. Aku meraih tas tanganku dan berjalan ke arah pintu. Namun langkahku terhenti bersamaan dengan sesak yang merambat, saat kudengar Leo bicara.

“Ann…sebaiknya kau jangan menemuiku lagi.”

.


.

Leo POV

“Aku tidak akan pernah bergantung padamu. Ini adalah aku, jangan kau pikirkan lagi. Tinggalkan aku.”

.

.

Tidak, jangan datang padaku. Jangan menunjukkan ekspresi seperti itu. Jangan hiraukan aku.

Kata perpisahan yang kuucapkan mengalir dipipimu bak darah. Bibirmu yang mempertanyakan ‘kenapa’ terlihat menyedihkan bagiku.

Tolong hentikan semua ini.

Harusnya kau mengerti ‘kan?

Keadaanku saat ini. Kalau kau mengatakan hal seperti itu padaku sekarang, aku akan susah. Sekarang saja kalau kau berada di sisiku, aku hampir jadi bergantung padamu. Bisa-bisa aku menjadikanmu penggantinya.

Setengah mati aku berusaha untuk tak menatap manikmu. Karena bila melihat matamu, aku menemukan ketulusan disana. Aku tidak mau terperangkap secepat ulasan senyum lagi.

Maafkan aku, Ann.

.


.

“Leo-ya.”

.

Apa yang terjadi? Kenapa kau ada disini?

“Leo-ya, kenapa kita harus berpisah?”

.

“Bukankah kau mencintaiku?” Kau menanyakannya lagi bahkan dengan sorot mata yang sama. Tidak, jangan tunjukkan ekspresi itu.

.

“Benar, aku mencintaimu, tapi sekarang aku benci padamu, itulah satu-satunya alasan,” dustaku.

“Kau pikir aku tidak mengenalmu? Kau berbohong saat ini. Kau masih mencintaiku. Kau masih sama.” Setelah mengatakan hal itu kau berjalan menjauhiku. Sekarang kau akan kemana? Apa kau akan tetap meninggalkanku?

Kalau kubilang kau harus tinggal, kau tidak akan pergi ‘kan?

Kau berjalan semakin jauh.

Tidak, jangan tinggalkan aku. Aku akan menyusulmu.

“Leo!”

“Leo!”

“Leo!”

.

.

.

“Leo tenanglah…itu hanya mimpi, oke? Tenanglah.”

Wajah Anna menyapa netraku begitu aku membuka mata. Iya, suara yang memanggil namaku tadi juga suara Anna. Anna menatapku dengan raut wajah khawatir. Tangan kanannya mengusap peluh yang entah kapan mengalir dari pelipisku. Jadi itu hanya mimpi?

Tentu saja…

Mana mungkin kau masih disini.

Tanpa sadar tubuhku menggigil seakan hembusan angin malam baru saja menusuk sampai ke tulang, tapi aku sadar di ruang ini tidak ada jendela. Perasaan hangat dan damai menjalar saat Anna merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya.

Dan membisikkan kata-kata menenangkan serta mengusap pelan punggungku.

Nyaman.

.

.

.

Ah tidak. Aku tidak boleh seperti ini.

“Hentikan,” ujarku lirih.

Gerakan tangannya dipunggungku berhenti dan rengkuhannya melonggar.

“Aku sekarang tidak yakin bisa menolakmu.”

Kalau kau seperti ini, aku takut akan goyah. Aku takut akan menjadikanmu pelampiasanku. Aku…

“Kalau begitu kau tidak perlu menolak.” Anna melepaskankan pelukannya. Ia menatapku dan tersenyum. “Biarkan aku ada disisimu, Leo-ya.”

.

.

.

Maafkan aku.

.

.

.

Aku memajukan wajahku dan bibir kami bertemu.

.


.

Author POV

Sinar matahari yang masuk dari celah kusen bangunan tua itu membuat suhu ruangan menghangat. Seorang pemuda bertubuh jangkung menggeliat kecil di atas ranjang besarnya. Lalu kedua kelopak mata sipit itu membuka. Leo menolehkan kepalanya saat dia merasakan deru nafas seseorang berhembus dari sisi kanannya. Dan menemukan Anna terlelap di tepat di sampingnya.

Setelah hari itu Anna tinggal bersamanya. Leo tidak tahu. Leo juga masih belum siap untuk menerima kehadirannya. Tapi Anna menawarkan diri sebagai penawar bagi luka hatinya. Leo tidak tahu apa yang merasuki dirinya sehingga dia mengiakan. Membiarkan lukanya perlahan tersembuhkan lagi. Traumanya susut dalam hangat lembutnya sentuhan gadis itu. Lalu gadis itu membawa banyak perubahan bagi Leo. Lihat saja penampilannya sekarang, sudah lebih rapi dengan rambut berpotongan pendek dan bersurai cokelat. Sedikit demi sedikit Leo mulai menata hidupnya lagi. Dan itu berkat Anna.

Sejenak dia memperhatikan wajah gadis yang selalu ada di sisinya itu. Gadis yang setia menenangkannya dengan sebuah pelukan hangat kapan pun pemuda itu bermimpi buruk. Entah karena dorongan apa, tiba-tiba dia mengulurkan tangannya, hendak menyentuh gadis itu.

Apa Leo sudah mulai terbiasa dengan kehadirannya?

Tapi sedetik kemudian keraguan kembali menguasainya dan Leo menarik tangannya kembali. Ia menghembuskan nafas kasar. Tanpa Leo tahu, gadis itu menyadari semuanya. Pemuda itu terkejut saat seseorang menarik perlahan tangannya. Dia menoleh dan mendapati gadis itu telah membuka matanya. Anna menuntun tangan Leo menyentuh wajah gadis itu. Sejenak Leo terlena dan larut saat kelima jemarinya menyentuh pipi mulus gadis itu. Tapi kemudian dia tersadar dan menarik tangannya cepat. Leo beranjak bahkan sebelum sempat melihat ekspresi kekecewaan di wajah gadis itu.

Masih ada sesuatu. Masih ada sesuatu yang mengganjal di hatinya untuk menerima kehadiran Anna. Dan dia tidak tahu apa itu.

Dia berjalan mendekati meja kerjanya. Sekilas dia sempat menoleh pada gadis itu, irisnya bersirobok dengan manik sendu gadis itu. Ekspresi seakan menuntut penjelasan tercetak jelas pada paras Anna. Tapi Leo tak acuh, tungkainya kembali merajut langkah. Saat sampai di meja kerjanya, Leo terlihat mencari-cari sesuatu tapi dia tidak menemukannya. Dia terlihat tidak tenang dan tubuhnya bergetar hebat. Bak matahari dengan bulan, begitu lama berada disisi pemuda itu membuat Anna sangat peka. Dia beringsut mendekati Leo dan merengkuhnya dari belakang. Meski tanpa kata-kata, pemuda itu terdiam dan mulai tenang.

Bahkan Leo membalas pelukannya.

.


.

Selama sebulan Anna tinggal bersamanya, diam-diam Leo selalu mengamatinya. Kebiasaan gadis itu suka mengamati seluruh penjuru rumah Leo. Mulai dari manekin-manekin bergaun hasil ciptaannya sampai debu di sudut lemarinya. Semuanya diamati oleh Anna. Kertas-kertas hasil desainnya juga tak luput menjadi objek pengamatannya. Semua masih dibatas wajar.

Sampai suatu hari gadis itu menemukan obat-obatan yang berserakan di lantai. Dia sempat mendekati obat itu dan mengambil botolnya. Sekilas gadis itu mengendusnya, tapi kemudian dia meletakkannya lagi di lantai seperti tidak terjadi apa-apa. Gadis itu beralih pada satu manekin yang berada di sebelah meja kerja Leo. Gaun pengantin berpotongan pendek membalut manekin itu. Itu adalah gaun pengantin yang tengah dikerjakan Leo saat ini. Anna menyentuh gaun itu dan tersenyum sumringah. Kemudian perhatiannya tertuju pada boks besar berwarna putih yang diletakkan diatas sebuah lemari berkaki pendek.

Leo yang melihat hal itu segera menghalangi sebelum Anna sempat membuka box itu. Melihat Leo, Anna tersenyum dan berjalan ke arah manekin tadi. Dia mensejajarkan tubuhnya disamping manekin itu. Seakan mengisyaratkan Leo bahwa gaun itu diperuntuk dirinya. Leo hanya mematung menatapnya. Apa gadis ini begitu tulus padanya? Leo merasa, kalau Anna amat memaklumi dirinya.

Sayangnya Leo tidak seteliti itu. Tanpa disadarinya, Anna telah mengantungi satu pil dari beberapa pil yang berceceran tadi. Sebuah pil berbentuk lonjong dan berwarna merah.

.


.

“Dia mencintaiku.”

“Dia tidak mencintaiku.”

Netra Leo mengerjap. Pupilnya mengecil dan melebar menyesuaikan dengan lingkungan yang baru dihadapinya. Cahaya terang yang membungkus sesosok gadis, tengah meringkuk dengan setangkai mawar merah yang hampir bondol di tangannya.

“Dia mencintaiku.”

“Dia tidak mencintaiku.”

Gadis itu terus memetik dan menghempaskan helai demi helai kelopak mawar merah di tangannya. Tak peduli dengan cairan pekat berwarna merah yang telah mengalir dari ujung-ujung jemarinya.

Lagi-lagi Leo mengerjapkan mata. Menerka siapakah gerangan gadis itu. Punggung yang yang telah bongkok, surai yang entah dia harus menyebutnya cokelat atau keemasan, dan jemari-jemari lentik yang entah dengan melihatnya saja Leo sudah amat hafal. Karena ketenangan selalu mengalir dari jemari itu.

“Anna?”

Yang selanjutnya harus Leo hadapi adalah isakan. Tanpa dia sadari, kelopak bunga mawar yang tak terhitung lagi jumlahnya telah menyentuh telapak kaki tak beralasnya. Setiap kelopak yang terjatuh terlihat bak mereka. Membuat hatinya ngilu dan bibirnya kelu.

“Leo-ya.”

Gadis itu menoleh. Bukan paras Anna yang mententramkan yang dilihatnya, melainkan wajah gadis yang tak mau dia ingat lagi presensinya. Iris gadis itu menyendu dan isakan telah berlalu dari bibirnya.

“Leo-ya, kenapa kita harus berpisah?”

Pertanyaan yang sama yang sialnya harus Leo dengar setiap kali dia bermimpi buruk. Maka tanpa berpikir, Leo akan menjawabnya sebagaimana semestinya.

“Aku mencintaimu. Aku peduli padamu. Tapi sekarang aku mem

“Jangan katakan itu, Leo-ya…”

Nafas Leo tercekat. Seakan semua kapasitas oksigennya segera naik, tertahan di ujung tenggorokkannya tanpa sempat diproses paru-parunya.

“Kenapa kau selalu berbohong, Leo-ya? Hari itu, hari dimana aku meninggalkanmu, kenapa kau berbohong dan mengatakan ‘kau baik-baik saja’? Kenapa kau ingin melepaskanku?”

Terlalu banyak ‘kenapa’ di benak gadis itu yang kemudian terealisasikan dengan bait-bait pertanyaan yang terpaksa harus didengar rungu dan dicerna neuron pemuda itu.

“Kau pikir aku tidak mengenalmu? Kau masih mencintaiku, Leo-ya.”

“Persetan dengan itu semua!”

Gadis itu tersentak. Bibirnya mulai melantunkan tangis kendati tangannya meremas kelima jarinya yang terasa perih. Seperih hatinya.

“Aku sendirian. Aku kesepian setiap hari demi melupakanmu. Apakah kau tahu itu? Apakah kau pernah peduli?!”

Isakannya berhenti dan tak bersisa. Seakan gadis itu tak pernah menangis sebelumnya. Bibir merekahnya yang telah kering dan sedikit mengelupas kembali terbuka.

“Maaf.”

Kata yang untuk pertama kalinya terucap semenjak ia meninggalkan pemuda itu.

“Aku minta maaf atas waktu-waktu tersulit yang harus kau lewati.”

Leo memejamkan mata bimbang. Di dalam mimpi pun dia tidak bisa membenci gadis ini.

“Aku tidak akan kehilanganmu lagi.”

Dia mencintai gadis itu. Dia mencintai gadis itu. Dia mencintai gadis itu. Meskipun hatinya akan meledak karena gejolak perasaan ini, dia akan tetap mengatakannya. Karena dia mencintai gadis itu.

“Datanglah ke pelukanku, Leo-ya.”

‘Ann…’

“Aku akan tetap tinggal di sini sekarang. Karena ada banyak hal yang ingin kulakukan untukmu. Karena begitu banyak hal yang harus kusyukuri karenamu. Karena aku sangat bersyukur.”

.

“Mari, jangan pernah berpisah.”

.

.

.

Kedua kelopak mata Leo terbuka dan nafasnya memburu. Dia mengangkat wajahnya dan tersadar kalau ia tertidur di atas meja kerjanya. Dan dia bermimpi lagi. Kejadian menyakitkan itu selalu menjumpai mimpinya beberapa kali. Sungguh Leo tidak ingin mengingatnya. Tapi kali ini gadis itu meminta maaf, apa itu artinya dia tidak akan mengganggu mimpi Leo lagi?

Sedetik kemudian Leo tersadar,

kemana Anna yang selalu memeluknya saat dia bermimpi buruk?

Netranya menyapu seluruh penjuru rumahnya. Berupaya menangkap walau sekedar bayangan gadis itu. Mata sipitnya membelalak saat dilihatnya pintu depan rumahnya terbuka.

Tidak, pasti tidak.

Kemana Anna?

Apa Anna juga meninggalkannya?

Tidak, tidak mungkin Anna meninggalkannya. Gadis itu telah berjanji padanya.

Maka seketika Leo kalap. Emosinya memuncak dan dia melempar barang apapun yang ada di sekitarnya. Kejadian itu, Leo tidak mau mengalaminya lagi. Kenapa dia harus ditinggalkan seperti ini? Leo memegangi kepalanya yang mulai berdenyut.

Tanpa Leo sadari, seorang gadis berbalut dress putih keluar dari kamar mandinya. Gadis itu mengernyit memandang keadaan rumah yang telah berantakan seraya tungkainya merajut langkah mendekati Leo. Kemarahan Leo terhenti dan ketenangannya terkumpul kembali. Sejenak Anna menatap Leo dalam, seakan ingin membaca isi pikiran pemuda itu dari sorot matanya. Kemudian dengan perlahan tangannya terulur memeluk pemuda itu. Menyalurkan ketenangan yang telah menjadi penawar Leo selama beberapa bulan ini. Pemuda itu pun turut menyandarkan kepalanya pada bahu gadis itu. Anna berpikir mungkin Leo bermimpi buruk lagi. Namun Leo, dia tak bisa memungkiri adanya perasaan lega saat melihat gadis itu. Dan diam-diam dia mengakui,

dia sudah mencintai gadis ini.

.


.

“Kau tidak sehat?” tanya Leo suatu hari. Dilihatnya wajah gadis itu pucat. Anna hanya menggeleng lemah dan tersenyum tipis menanggapi. Dengan sigap Leo menarik laci meja kerjanya dan mengambil sesuatu dari dalamnya. Sebuah botol berisikan pil-pil berwarna merah.

“Minumlah pil ini.” Disodorkannya botol itu pada Anna. “Obat ini akan membuatmu lebih baik.”

Anna hanya terdiam. Maniknya menatap kosong pada botol yang diulurkan Leo. Tak ada niatan untuk mengambil botol itu dari si empunya.

“Kenapa?” tanya Leo dengan dahi berkerut. Anna menggeleng pelan lagi dan netranya tidak terlepas dari botol itu. Perlahan tangannya bergerak meraih botol pil di tangan pemuda itu.

“Baiklah, akan kuminum nanti.” Anna tersenyum sekilas.

.


.

Sudah lebih dari satu jam Anna tidak kunjung keluar dari kamar mandi. Gadis itu sedang sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri.

‘Kenapa?’

‘Kenapa kau memberikannya padaku, Leo-ya?’

Anna mengenggam botol itu lebih erat. Tidak salah lagi. Obat ini adalah obat ‘itu’. beberapa hari lalu ia sempat pergi ke salah satu laboratorium dosennya untuk menanyakan perihal obat tersebut. Dan fakta yang didengar gadis itu mengejutkan.

Obat ini adalah obat yang sulit dicari. Kalau mengonsumsinya, obat ini dapat merusak satu-persatu sel ataupun jaringan-jaringan ditubuhmu secara perlahan. Lalu obat ini akan habis tak bersisa dan tidak terdeteksi jika dilakukan visum. Obat ini biasa digunakan untuk membunuh hewan.

Gadis itu sempat heran untuk apa Leo memiliki obat seperti itu. Apa Leo ingin bunuh diri? Tapi, sekarang obat itu diberikan padanya…

‘Apa maksudmu Leo-ya?’

‘Apa kau ingin aku ma—’

Gadis itu membungkam mulutnya dan mulai terisak pilu. Kemudian satu pil itu telah meluncur di kerongkongannya.

‘Aku tidak berani menanyakannya , Leo-ya.’

‘Mungkin dengan begini kau akan bahagia.’

Seluruh tubuhnya mulai terasa nyeri. Mungkin obatnya sudah mulai bekerja. Lama-kelamaan menjadi semakin sakit dan ngilu. Seakan ada ribuan jarum menusuki sekujur tubuhnya dan menghantam saraf-sarafnya.

Dia sudah tidak kuat lagi.

Anna masih bisa merasakan detak jantungnya yang perlahan melambat dan nafasnya terengah.

.

.

.

‘Maafkan aku Leo-ya. Padahal aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak akan pernah meninggalkanmu, Jung Leo’.

.


.

Pemuda berbalut kemeja putih itu menyandarkan tubuhnya di pintu. Memungkinkannya dapat mendengar suara apapun yang muncul di dalam. Setelah dirasa tidak ada lagi suara. Dia memutar kenop pintu dengan hati-hati.

Dan netranya langsung disambut sebuah cermin besar yang terpampang di dinding. Dia beringsut mendekati cermin itu dan mengecek penampilannya. Mengacing lengan kemejanya dan menyugar surai cokelatnya ke belakang. Setelah itu netranya beralih pada pemandangan seorang gadis yang tengah memejamkan matanya dan berbaring di dalam bathub. Beringsut mendekati gadis itu dan mendudukkan diri sejajar dengannya.

Aku sadar aku mencintaimu.

Irisnya menatap tajam pada wajah gadis yang sudah tak berdaya itu. Kemudian dia mengamit tangan Anna dan menghirupnya dalam. Seakan itu adalah pertama kali sekaligus terakhir kalinya dia menghirup harum gadis itu.

Maka aku tidak mau kehilanganmu.

.

.

.

Let’s not grow apart.

.

.

.

Fin.

.

P.S : Konversasi di sebelah kanan adalah sisi devil alias sisi egois Leo. Mantan pacar Leo meninggal sebelum pernikahannya karena depresi Leo melepaskan dia dengan mudah. Anna datang untuk mengabari Leo tapi keadaan Leo sudah depresi.

.

ht

.

Disclaimer : Terinspirasi dari MV Blossom Tears dan MV Beautiful Liar. Sedikit lirik Blossom Tears dan Beautiful Liar. Selebihnya adalah hasil pemikiran author.

.

Tyavi’s little note : Huhu… maaf banget kalo ini gaje. Inspirasinya instan banget karena tiba-tiba ngerasa kalo kedua lagu itu mvnya mirip. Blossom Tears tuh seakan kelanjutan dari Beautiful Liar yang pas Leo galau galau abis ngelepasin ceweknya sampe trauma dan jadi psiko :v

Hehehe. Just my random thought. Mind to leave a comment?

 

Advertisements

9 thoughts on “H U R T R U T H

  1. Haloowww Leo biased is here *lambay lambay*
    Heudeuuuhhh bener banget kayanya beautiful liar itu prequel dari blossom tears ya kan.. MV nya rada mirip gitu huk huk
    caramu menceritakannya oke banget.. duh aku sedih jadinya nih, leo jadi sakit jiwa begini tapi ga papa sih yg penting dia tetep ganteng aja gitu haha *lalu panci terbang*
    sukses ya tyaaaaaa ditunggu ep ep leo lainnya *ppai*

    • *Tossssssss
      yeah kan pemikiran kita samaaaa
      wahhh makasihh yaaa kak nisaaa padahal aku jujur ngerasa ga terlalu pede sm fict ini, ngerasa ga pas aja deh pokoknya. aku masih belajar dan kuakui ini masih sangat amat banyak kekurangannya T^T
      emang sedih sih eonn tapi emang dasar tampang leo yg cocok bgt jadi orang frustasian, dan malah keren plus plus gantengg *pancinya kuoper lagi*
      makasihh yaaa kak nisa mau baca dan komen ff abal ini ^^
      sipp kak 😀

  2. Kyaaa… Nice banget ffnya deh..
    Pertama sumpah aq gak mudeng d scene bagian akhir kan,, abis itu baca lagi scenenya sampe 3 kali, baru engeh klo ternyata cara supaya leo gak kehilangan anna adlh dgn membunuhnya,, jadi si anna gak bakal kemana mana.. Hoho.. Iya kan?
    Huaa aq mau baca ff bang leo lainnya >_<

    • wahhh makasihh kak yessy, ff kakak lebih bagussss T^T
      iyappp betul sekali, basi sih sebenernya kaya mv Blossom tears :v
      yeayyy asal jangan suka nampyeonku abang leo ya kakk hehe
      makasihhh kak yessy mau baca dan komen ^^

    • wahhh makasihhh yaaa, ff ini masih banyak kekurangan kook T^T
      iyaa itu obat untuk hewan. mungkin leo mau menggunakannya buat bunuh diri (?)
      makasihh udh mau baca dan komen yaaa ^^

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s