[ Ficlet ] Stranger By The Night

Stranger By The Night.Pis!

Stranger By The Night

Sequel.

Stranger By The Day

Wu Yifan and Park Jiyeon

Romance|| Ficlet || PG

 

 .

 

 

 

Jadi aku memilih untuk menunggunya. Orang asing itu, yang tadi pagi datang mengganggu jam-jam pagiku yang tenang. Ugh, cukup menengangkan dengan menyaksikan betapa dia begitu nekat menelanjangi dirinya di depan mataku. Dia sengaja membuatku terpukau. Pasti. Apakah dia sudah lama menstalker tempat ini. Alasan kehujanan adalah satu-satunya caranya supaya bisa telanjang di depanku. Ish! wajahku sudah merebak keunguan karena keracunan virus mematikan seorang Yifan.

 

Di luar udara cukup dingin, dan hari sudah beranjak malam. Kegelapan di luar sana menjasi temaram karena lamlu-lampu jalan mulai di nyalakan. Aku masih merapikan beberapa catatan keuanganku sambil duduk di meja kasir. Aku tidak melakukan nal ini setiap hari, hanya jika aku sempat saja. Distro ini tidak terlalu ramai akhir-akhir ini jadi pemasukan tidak trlalu banyak. Rasa’rasanya aku harus sesikit berhemat untuk bulan ini jika aku masih mau usaha ini berjalan lancar. 

 

Beruntung aku tidak harus menyewa tempat ini karena gedung ini sudah aku beli ketika aku mengawali usaha ini. 

 

Tring

 

Terdengar pintu terbuka. Seorang customer laki-laki masuk dengan jaket tebal. Dia sebentar melihat ke arahku.

 

“Annyeong !” sapanya. Aku tersenyum.

 

“Ada yang bisa kubantu ?” tanyaku. Sepertinya dia masih pelajar. Wajahnya terlihat masih seperti anak-anak, posturnya sudah melebihi postur tubuhku. Dia tampan dan sangat ramah. 

 

“Aku butuh t-shirt, Nunna!” ujarnya.

 

“T-shirt.”  Aku berdiri dan berjalan ke deretan t-shirt. 

 

“Apakah kau membuat sendiri semua t-shirt ini.” dia bertanya dengan sopan. Aku terkesan.

 

“Tidak. Ada temanku yang mensuply dan sebagian dari hasil pencarianku sendiri. Aku tidak memasang merk khusus, tapi semoga setelah usahaku berjalan baik, aku bisa mempunyai merk sendiri.”

 

“Sepertinya yang ini bagus.”  ujarnya sambil mengambil satu buah t-shirt berwarna merah hati. 

 

“Kau seorang pelajar?” tanyaku

 

“Ya. Aku masih kelas tiga. ” jawabnya

 

“Kau tinggi sekali.” 

 

Aku mengukur ukuran T-shirt di punggungnya. Anak jaman sekarang pertumbuhannya maksimal. Pikirku. Mereka sepertinya tidak terlalu banyak berpikir bagaimana mencari makan, orang tua mereka sudah memenuhi kebutuhan gizi mereka dengan baik.

 

“Nunna, kau sendirian di sini?” tanyannya sambil menoleh sedikit. Aku melihat sudut matanya.

 

“Hm, sayangnya begitu. Aku sudah lama tinggal sendiri di sini.”

 

“Apa kau tidak punya kekasih?” 

 

“Belum. Apa kau berminat?”  ah, usulan macam apa ini. Kenapa aku bisa segenit ini.

 

Dia tersenyum.

 

“Nunna, kau sungguh cantik. Aku akan dengan senang mengencanimu .”

 

“Siapa mengencani siapa?”  seseorang tiba-tiba muncul di belakangku. Aku meloncat kaget, begitupun dia yang berdiri di depanku, yang dengan kedua tanganku sedang mengukur punggungnya. 

 

Aku menatap kehadiran dia lagi. Yifan. Dengan tatapan serius dia menatap bocah tanggungitu.

 

“Kau berani mengencani yeojachinguku? Apa kau sudah bosan hidup!” gertak Yifan. Aku menunduk menahan sesuatu yang tidak jelas dengan percakapan ini. Apa dia menyebutkan aku sebagai yeojachingunya.

 

“Maaf, aku hanya sedang berimprovisasi dengan Nunna cantik ini.”

 

“Kau mau berimprovisasi dengan tinjuku?”  Yifan menarik lengan bocah itu. Aku segera berdiri diantara mereka

 

“Kenapa membuat keributan di sini.”  keluhku.

 

Yifan menatapku.

 

“Aku menghubungimu berkali-kali tapi kau tidak menjawab panggilanku.”  

 

Aku melirik ponselku yang tergeletak di atas meja kasir. Mana bisa aku mendengarnya. Kuhela napasku jengkel. Lalu kenapa dia marah. 

 

“Nunna, aku akan datang lagi besok.”  ujar bocah itu. Aku kasihan padanya, dia tidak jadi membeli produk dari tokoku. Yifan sungguh menyebalkan.

 

“Kau mengusir pelangganku, Yifan ssi!”  aku berujar ketus, melangkahkan kakiku menjauh darinya.

 

“Dia sepertinya merayumu.”

 

“Aku hanya berusaha ramah pada pelangganku. Kau pun pelangganku, aku juga ramah padamu.”

 

“Aku akan mengambil pakaianku yang tertinggal.”  ujarnya. Sepertinya dia sedikit sensitive dengan penjelasanku mengenai pelanggan. Wajahnya ditekuk muram.

 

“Akan kuambilkan sebentar.”  jawabku, sambil naik ke lantai dua. Aku sudah mencucinya, mungkin sudah kering. Tapi entahlah. Seharian tadi hujan, jadi mungkin tidak kering maksimal.

 

Aku membuatkan secangkir teh. Mungkin dia mau meminumnya. Ya, dia kelihatannya kedinginan, tanpa baju hangatnya yang basah. 

 

“Maaf, bajumu belum kering. Besok saja kau bisa kembali lagi ke sini.”  Aku menatapnya yang berdiri tidak jauh dari tangga

“Termasuk celana dalamku?” tamyanya tanpa dosa

“Ya.” Jawabku

“Tsk!” dia berdecak

“Kenapa?” tanyaku lagi

“Tidak. Baiklah.”

“Kau sudah selesai dengan interviewnya?”

“Yup!”

“Lancar?”

“Not bad!”

“Apakah kau..”.

“Apa kau selalu seperti ini pada setiap pelangganmu?”

“hum?” aku tergugu

“Kau terlalu ramah.”

“memangnya kenapa kalau aku ramah?”.

“Ah, sudahlah! Berapa yang harus kubayar untuk baju yang aku pakai ini?”  tanyanya.

 

“Sebentar. ” aku berjalan ke kasir, mangambil nota yang sudah aku siapkan tadi. Aku menyerahkannya padanya.

 

Kemudian dia mengeluarkan dompetnya, mengambil credit cardnya.

 

“Apa teh itu untukku?”  Aku melirik secangkir teh di sampingku. Kuperhatikan sebentar. Apa dia akan senang jika kenyataaanya teh itu aku buat untuknya. Dia tersenyum. Sepertinya suasana hatinya sudah cerah.

 

“Hm, silahkan!”  jawabku

 

“Apa kau tidak takut tinggal sendrian di sini?”  matanya meyelidik.

 

“Tidak terlalu. Tapi sesekali aku merasa sedikit takut. Aku manusia biasa, terlebih yeoja, aku pasti merasakan hal semacam itu. Tapi pengamanan di toko ini sudah sangat canggih. Aaku tidak terlalu memikirkan rasa takut itu. Kau tahu, pikiran mengendalikan tubuhmu. Jika aku takut, maka aku tidak bisa melakukan apapun.”

 

Yifan mengangguk.

 

“Kenapa dia ingin mengencanimu?”  pertanyaan itu lagi

 

“Siapa?” tanyaku

 

“Bocah ingusan tadi?”

 

“Dia cute.” jawabku

 

“Kau suka namja yang lebih muda darimu?”

 

“Hm, kalau tidak ada namja yang tua dariku yang ingin mengajakku kencan, maka kenapa tidak menerima ajakan kencan dari namja yang masih dibawah umurku.”

 

“Berapa umurmu?” tanyanya dengan senyuman

 

“Kenapa?”  wajahku bersemu merah sambil mengembalikan credit cardnya

 

“Siapa tahu umurku lebih tua darimu.”

 

“Jadi kau ingin mengencaniku?” 

 

Dia tidak menjawab, hanya melebarkan senyumannya yang tadi hanya segaris. Aku menelitinya dari ujung rambut, hingga ujung kaki.

 

“Kenapa kau menatapku begitu. Apa kau meragukanku? Tadi pagi kau sudah melihat keseluruhan tubuku. Aku namja sejati. Aku juga tampan.” ujarnya

 

“Hm, ya.” jawabku

 

“Tanggapanmu aneh.”

 

“Umurku 22 tahun.” ujarku menyela.

 

“Aku 25. Berarti aku boleh mengencnimu.” 

 

Aku menunduk lagi menyembunyikan senyumku. Dia memang terlihat lebih tua dariku, tapi belum tentu lebih dewasa dariku, dari caranya berbicara, dia masih labil.

 

“Apa kau tidak mau berkencan denganku?”

 

“Kenapa tiba-tiba kau mau mengencaniku? Apa kau mengenalku?”

 

“Kita bisa saling mengenal mulai saat ini.”

 

Aku tidak menjawab. Mungkin diam lebih baik untuk merenungkan sesuatu yang terjadi diantara kami. Tatapannya sangan tajam. Dia sungguh menarik. Garis wajahnya sangat tampan. Semua yang terlihat darinya adalah keindahan seorang namja. Aku tahu aku tertarik padanya. 

 

“Kau hanya orang asing yang sekedar mampir untu membeli produk di tokoku. Kebetulan kau tampan dan sangat percaya diri..”

 

“Juga sangat sexy.”  sambungnya

 

Aku merengut.

 

“Juga tampan.” sambungya lagi

 

Kusunggingkan senyuman anehku.

 

“Juga, baik hati dan tidak sombong”  

 

“Ya. Juga sangat narsis.”  ucapku.

 

Kali ini da tertawa. Agh, dia memang mempunyai semua itu. Apa yang bisa kulakan dengan namja setampan dia. Menerima ajakan kencannya. Wow! batinku bersorak

 

“Kau sepertinya menyukaiku.”  Yifan melangkah mendekatiku. Aku mendadak diserang ketegangan luar biasa. Tubuh tinggi menjulang itu semakin menutupi cahaya lampu di tengah ruangan. 

 

Yifan mendekat dengan pasti sambil tersenyum. Aku tersenyum sekaligus khawatir. Apa yang akan dia lakukan. Demi Tuhan saat ini sedang sepi. Bagaimana jika dia hanya sekedar membuatku luluh kemudian dia menusukku dan membunuhku. Kemudian dia meninggalkan mayatku berlumuran darah di dalam toko ini…

 

Aku merenung sebentar. Kalau dia akan membunuhku, apa keuntungan yang dia ambil. Dia bukan seorang jahat. Dia tadi membayar pakaian yang dia sudah pakai. Lalu..

 

“Kau terlalu banyak berpikir!”  Yifan menghela napasnya. 

 

“Aku takut!” ujarku lirih ketika dia sudah tiba di depanku

 

“Takut? Padaku? Kenapa? Apa wajah tampanku ini membuatmu takut?”  

 

Aku sekali lagi tersenyum. Aku sudah menduga kalau laki-laki tampan itu cenderung stress. Karena mereka takut dikatakan jelek. Tapi apalagi jika dia jelek. Arrgh!  

 

“Aku takut karena kupikir kau seorang psikopat.” 

 

Dia menyeringai. Saat itulah pintu terbuka. Bocah yang tadi berniat membeli poduknya tapi tidak jadi itu masuk sambil tersenyum.

 

“Nunna, aku lupa topiku.” ujarnya.

 

“Kau taruh di mana?”  gertak Yifan langsung. Ish, kenapa dia yang galak.  Memangnya dia yang punya toko. Kalau begini caranya semua langgananku bisa ke laut semua. Astaga. Bocah itu ketakutan ketika Yifan mendekatinya. 

 

HUP

 

Aku menahan dada Yifan yang terlihat sangat emosi itu dengan tanganku. Demi melihat tanganku di tempelkan di dadanya, dia tiba-tiba menjadi lumer.

 

“Jiyeon!” bisiknya. Matanya menjadi sayu dan bibirnya terlihat menganga.

 

Aku mengernyit.  “What?”  

 

“Kau menyentuh dadaku.” jawabnya.

 

“Yak, aku memang sengaja menyentuhmu. Apa kau tahu, itu semua supaya kau tidak membuat semua langgananku kabur. Kau ini benar-benar ingin membuatku bangkrut!.”  hardikku keras. Dia tersenyum melihat emosiku memuncak.

 

“Nunna, aku akan kembali besok. Aaku bersumpah dia itu stress!”  ujar sang bocah sambil berlari keluar.

 

Yifan melihat dengan sengit ke arah bocah itu. Aku mendengus.

 

“Kau jangan seenaknya saja di sini.”  ujarku sambil meninggalkannya dengan geram.

 

“Kau jangan marah-marah. “

 

“Bagaimana aku tidak marah, kau seenaknya datang dan bersikap seolah-olah namjachinguku, lalu membuat pelangganku takut dengan sikap burukmu itu, bagaimana aku tidak marah!”  

 

“Baiklah, aku akan datang lagi besok untuk mengambil baju basahku.”  Yifan berjalan ke arah pintu.

 

“Tunggu!”  ujarku menghalangi langkahnya.

 

“Apa? Kau kan tidak suka denganku, aku akan pergi saja. Pelanggan sepertiku benar-benar menyusahkanmu.”

 

“Tadi kau ingin mengatakan apa padaku?”

 

“Yang mana?” tanyanya.

 

Aku melengos malu.  Sepertinya aku harus bersembunyi dulu. Segera aku meluncur ke arah meJa kasir lagi dan pura-pura menyibukkan diriku.

 

Yifan keluar dari pintu itu tanpa permisi lagu. Aaku mendadak merasa seperti kehilangan. Sedih sekali. Padahal baru tadi pagi kami berkenalan. Aneh. Sebaiknya tidak berharap macam-macam.  

 

Drrrt..drrttt.drttt

 

Aku menoleh ponselku yang bergetar di mejaku. Yifan.

 

Maaf, aku tadi bersikap menjengkelkan. Aku tidak suka melihatmu terlalu dekat dengan namja lain, meskipun itu masih lebih muda darimu. Aku hapal dengan semua pelanggananmu, dan sepertinya aku tidak pernah melihatnya datang ke tokomu selama ini. 

 

 

 

Oh Tuhan!  Dadaku berdegub kencang membaca pesannya. Aku memnbaca lagi kalimat terakhirnya. ‘selama ini‘ apakah itu artinya selama ini dia sudah memperhatikanku, dan toko ini.

 

 Jeng..jeng..jeng…

Fin.

Advertisements

22 thoughts on “[ Ficlet ] Stranger By The Night

  1. Duijjang stalker Jiyi ternyata sampe semua pelanggan yg dateng dia hapal udah Duijjang PDKT dan kalo udah yakin ajak nikah biar ngak diambil orang hehehe

    Namja pelajar cute yang ada dikepala malah Jungkook BTS Zelo BAP dan Jun U-Kiss

  2. Yifan ternyata stalker sejati’a Jiyi sampe semua pelanggan toko Jiyi dia hapal, dateng” ngaku pacar Jiyi ngusir pelanggan Jiyi dan bersikap narsis dasar tiang Duijjang stresss kan Duijjang udah sering memperhatikan Jiyi nahh sekarang waktu’a PDKT dan nyatain perasaan’a daripada direbut namja pelajar yang cute itu hehehe

    Ngebayangin kalo namja pelajar itu Jungkook BTS atau Zelo BAP atau bahkan Jun U-Kiss

  3. ommo…yifan sensi bgt. blom resmi jga sdh over am jiyeon, ckckck
    tp ak penasaraan am anak sekolahan iy. ap sehun ? mgkin jga jungkook hhee

    dan trmkasih utk sequel. dan ak hrap next utk sequel n lg cuzz msh bnyakk hal yg blm trungkap dsni

  4. omooo ceritanya bersambung kayaknya bakal ada lagi sambugan ceritanya kkk
    yifan disini mengingatkan ff Honey
    emng dasar yifan sifatnnya ga berubah2 padahal udah take ff baru wkwkwkkwk

  5. lhooo kris masih marah nih endingnya ? jiyeon ya jelas was was lah mereka baru pertama ketemu udah diajak jadian aja :”) wkwkwkwk

  6. Yaaaa dan sifat yifan mank bner” seenaknya -_- untung gnteng, jiyeon ciee jiyeon, udh itu pede bgt lgi yifan -_- sking pedenya sensinya jg, smpe kbur tuhh bocah pelanggan jiyeon

  7. jeng jeng jeng yi fan udah lama memperhatikan jiyeon..
    woo langsung nebak takut keduluan bocah haha

    emang ya yi fan narsisnya gak pernah luntur..

  8. Wah jiyeon ada” aja giliran mo di ajakin kencan beneran yifan pula datang ganggu dan ngaku” sbg namjachingu lagi
    Berati benar selama ini yifan udh perhati’in jiyeon ,, baru pertama kali datang ke toko jiyeon dan kehujanan cuman buat alasan aja

  9. pas scene terakhir….
    jeng jeng jeng…. kok jd agak merinding ya, satu sisi parno sm pembeli ‘bocah’ yg katanya yifan dia blum prnh ke tokonya jiyeon dan yg ak pikirkan dia punya niat jht ke jiyeon…
    dan… satu sisi parno kalo bisa aja yifan yg mlh punya niat jht ke jiyeon krn udh lama mata2in dia #komengeje

  10. Sexy Couple Is Back :v

    wehhh siapa yang jadi brondongnya itu.

    semoga xiumin. Tapi umin kagak tinggi.
    chanyeol kah..???
    Sehun kah..???
    Jangan-Jangan kai lagi .hahahahaha

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s