TWOSHOT – REGRET [1/2]

IRISH-REGRET

Author : IRISH

Tittle : REGRET

Main Cast : EXO’s Do Kyungsoo & OC’s Lee Yubin

Rate : PG-15

Length : Twoshoot

Genre : Fantasy, School-life, Sad Romance

Disclaimer : This story is entirely fantasy and created by Irish. Any resemblance to real persons or organization appearing in this story is purely coincidental. EXO’s Do Kyungsoo belong to his real-life. OC’s belong to their fake appearance

“Kau benar-benar tidak ingin menunggu sedikit lebih lama lagi?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Seorang namja tampak terduduk di lantai. Ia baru saja terjatuh akibat ulah teman-teman nya yang secara sengaja menjegalnya. Namja itu tertunduk diam, tapi kemudian salah seorang murid bergerak menyentuh leher namja itu. Membuat namja itu dengan geram memukul murid tersebut, dan akhirnya, namja itulah yang jadi bulan-bulanan murid lain.

“Aneh! Dasar orang aneh!”

“Haha! Lihatlah si bodoh itu!”

“Dasar kau! Orang aneh berpita hitam!!”

Yubin memandang ke arah beberapa orang yang sekarang tampak tengah mencaci maki seorang namja seangkatannya. Yeoja itu menyernyit saat melihat namja yang tengah dikerjai itu, Do Kyungsoo.

Murid dari kelas yang sama dengan Yubin, namja yang sama sekali tidak punya teman di kelas dan berpenampilan aneh karena dilehernya selalu ada sebuah pita hitam melingkar. Belum lagi, tidak pernah ada murid yang mendengar namja itu bicara.

Dan tanpa bisa membohongi dirinya, Yubin tidak pernah bisa mengabaikan keadaan namja itu. Seisi kelas juga tau jika Yubin lah satu-satunya orang yang peduli pada Kyungsoo.

Seperti saat ini, saat Yubin dengan kesal menghampiri murid-murid itu dan mendorong mereka.

“Ya! Berhenti mengganggunya!”

“Omo omo! Lihat siapa yang datang.”

“Aish! Ppali! Pergilah!”

Dengan sekuat tenaganya, Yubin mendorong murid-murid itu, dan akhirnya usaha yeoja itu berhasil walaupun sebenarnya murid-murid itu menyingkir karena sudah puas mengerjai korbannya.

“Neo gwenchana, Kyungsoo-ah?”, ucap Yubin, berjongkok di depan namja itu, tapi seperti yang selalu terjadi selama ini, namja itu mengabaikan Yubin, dan malah beranjak untuk berdiri, meninggalkan tempat itu.

Seolah sudah kebal pada perilaku Kyungsoo, Yubin hanya menggeleng pelan.

“Do Kyungsoo.. Kau seperti batu karang..”, gumam yeoja itu tanpa sadar

Yubin akhinya melangkah meninggalkan tempat itu, walaupun sebenarnya Ia sangat ingin menyusul namja itu, memastikan jika namja itu baik-baik saja.

Di kelas, seperti biasanya, Kyungsoo lah satu-satunya orang yang tidak mendapatkan kelompok saat pembagian tugas. Dan seperti biasanya pula, Yubin akan jadi orang paling baik hati untuk menawarkan namja itu bergabung dengan kelompoknya.

Seisi kelas tentu saja sudah hafal apa yang akan terjadi setelahnya, tanpa bicara apapun Kyungsoo akan mengabaikan Yubin, dan akhirnya mengerjakan tugas itu sendirian. Sebenarnya sudah banyak yang mengklaim bahwa Yubin menyukai Kyungsoo, tapi sikap yeoja itu semakin lama di lihat sebagai usaha yeoja itu membuat Kyungsoo berbaur dengan murid dikelas yang jelas menolak keberadaan namja itu.

“Yubin-ah, berhentilah bicara pada namja aneh itu, dia bisa saja keturunan orang jahat, lihat saja pita aneh itu, jika ada yang berusaha menyentuh pita itu, dia bersikap seolah akan membunuh orang itu.”

“Tapi dia tidak pernah bersikap jahat padaku.”, ucap Yubin kemudian

“Lihat saja nanti, aku yakin ada yang salah dengan namja itu.”

Yubin mengerucutkan bibirnya, sebelum akhirnya Ia melemparkan pandangan ke arah namja itu, dan tersentak saat pandangan mereka bertemu. Beberapa saat Yubin terdiam, tapi kemudian Ia tersenyum pada namja itu, membuat Kyungsoo segera mengalihkan pandangannya.

“Dia benar-benar batu karang..”

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Yubin duduk didepan sebuah rumah makan ayam. Yeoja itu mengipas-ngipasi wajahnya dengan topi yang Ia kenakan. Hari sudah malam ketika yeoja itu baru saja selesai dengan pekerjaan sambilannya.

“Nah, ini ayam pesananmu.”, ucap ahjussi pemilik warung

“Aigoo, gomawo ahjussi.”, ucap Yubin sambil kemudian mulai menyantap ayam goreng yang Ia pesan.

Memang seperti itulah kegiatan Yubin setiap hari. Yeoja itu berangkat pagi buta ke sekolahnya dengan berjalan kaki, dan disore sampai malam hari yeoja itu menjadi kuli angkat barang di pasar yang ada di dekat warung itu.

Dan setiap harinya hanya ayam goreng itulah yang menjadi bayaran Yubin. Terkadang yeoja itu bahkan hanya makan mie instan sekali sehari.

Yubin memandang bingung saat seseorang meletakkan sekotak susu dan duduk disebelahnya. Saat menoleh, yeoja itu membelalak dan tersedak. Membuat sosok yang kini duduk di sebelahnya itu membuka kotak susu yang Ia berikan pada Yubin, lalu menyodorkannya.

Dengan refleks tangan Yubin segera mengambil kotak susu itu dan meminumnya. Sejenak yeoja itu mengatur nafasnya, sampai akhirnya Ia bicara.

“D-Do Kyungsoo?”, ucap yeoja itu tak percaya melihat sosok Kyungsoo sekarang duduk disampingnya.

Namja itu tidak bicara apapun, membuat Yubin akhirnya menelan kekagetannya. Yeoja itu lalu menggeser piring ayam gorengnya.

“Makanlah,”, ucap Yubin sambil tersenyum, melihat namja disebelahnya masih diam, Yubin tanpa sadar merinding, entah karena efek raut namja disampingnya yang begitu datar, atau karena namja itu tiba-tiba muncul dengan setelan hitam-hitam yang membuat kulitnya terlihat begitu pucat, atau karena angin dingin yang berhembus.

Yeoja itu akhirnya melanjutkan makannya dalam diam. Berusaha mengunyah dengan sepelan mungkin agar tidak timbul suara apapun.

“Kenapa kau terus membantuku disekolah?”

Yubin hampir saja tersedak untuk kedua kalinya saat mendengar Kyungsoo bicara. Ini pertama kalinya bagi yeoja itu mendengar suara Kyungsoo.

“Nae? Kau bicara padaku?”, ucap Yubin dengan wajah bodoh yang akhirnya membuat Kyungsoo melengos.

Namja itu berdiri, hendak beranjak pergi, tapi Yubin dengan sigap menahan lengan namja itu.

“Aku hanya tidak suka melihatmu diperlakukan seperti itu.”, ucap yeoja itu akhirnya

Kyungsoo menyentakkan pelan tangan Yubin, membuat cekalan yeoja itu terlepas.

“Aku tidak suka sikapmu. Aku tidak suka jika harus berhutang budi pada orang lain.”

“Tapi aku tidak menganggap kau berhutang apapun padaku.”

Kyungsoo berbalik, memandang yeoja itu lama, dan lagi-lagi membuat Yubin diam-diam merinding karena tatapan namja itu.

“Benarkah? Ku kira kau juga penasaran dengan pita ini.”, ucapnya, menyentuh pelan pita hitam yang melingkar dilehernya.

“Sebenarnya aku juga penasaran, tapi aku tau kau tidak suka orang-orang banyak bertanya padamu tentang pita itu.”, ucap Yubin membuat Kyungsoo tertawa mendengus, meledek.

“Kau dan yang lainnya sama saja.”

“Mwo? Ya! Tentu saja berbeda, aku tidak pernah mengganggumu, atau meledekmu seperti anak-anak.”, bantah Yubin

“Ya tapi kau selalu menyebutku batu karang.”

Mata Yubin membulat kaget.

“Darimana kau tau?”, ucap yeoja itu tak percaya

“Sama saja seperti mereka.”, ucap Kyungsoo

“Ya! Tentu saja berbeda!”, lagi-lagi Yubin membantah

Kyungsoo hanya diam, tidak menanggapi ucapan yeoja itu, dan membuat Yubin tersadar bahwa sangat aneh jika Kyungsoo muncul ditempatnya.

“Apa yang kau lakukan disini? Aku tidak pernah melihatmu ada disekitar tempat ini.”, ucap Yubin kemudian

“Aku sering ada disini.”

“Mwo? Kojimal.”

“Aku tidak berbohong.”

“Aish, terserah kau saja.”, ucap Yubin menyerah, yeoja itu lalu menatap Kyungsoo dari atas sampai bawah. Dan menyernyit.

“Mwo?”, ucap Kyungsoo

“Kau suka warna hitam?”, tanya Yubin

“Ya.”

“Pantas saja. Kau terlihat lebih menyeramkan saat diluar sekolah. Disekolah kau terkadang terlihat menggemaskan dan—”, Yubin yang tadinya tanpa sadar tersenyum segera terkesiap saat kata-kata itu meluncur tanpa izin dari otaknya.

“Menggemaskan? Jangan katakan jika kau menyukaiku Lee Yubin.”

“Mwo?”, Yubin berdiri, menjajari namja yang sekarang menatapnya itu

“Siapa juga yang mau repot-repot menyukai batu karang pelit kata sepertimu.”, ucap Yubin akhirnya

“Baguslah. Aku juga tidak berminat untuk suka pada yeoja hiperaktif.”

Yubin memandang kesal namja di depannya.

“Aku tidak hiperaktif! Dan juga, kenapa kau ada disini huh? Kenapa kau bicara padaku? Dan meledekku? Kenapa memberi susu itu padaku? Kau mau meracuniku? Atau jangan-jangan kau ini menderita split personality? Disekolah saja kau bersikap bisu-tuli mengabaikanku. Huh.”

Yubin sekarang bersedekap, dan menunggu jawaban dari namja didepannya yang tampaknya tidak akan menjawab semua pertanyaan yeoja itu.

“Kau terlalu banyak bicara, makanya aku mengabaikanmu. Lagipula, jika kita bicara disekolah, bukankah sikap itu terlalu seperti teman?”

Yubin memicingkan matanya.

“Whoah.. Namja ini.. Kata-katanya tajam sekali..”

Yeoja itu mengibas-ngibaskan topi di wajahnya, bergerak seolah Ia berusaha menghilangkan kemarahan yang muncul karena ucapan enteng namja didepannya.

“Apa aku punya julukan baru sekarang?”, ucap Kyungsoo

“Ya. Kau batu kerikil pelit kata!”, ucap Yubin kesal, yeoja itu mengambil ayam terakhir yang ada dipiringnya dan dengan segera melangkah pergi dari tempat itu.

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Seolah tak terjadi apapun dimalam harinya, ke esokan hari Kyungsoo bersikap seperti biasa. Membuat Yubin hanya bisa memandang namja itu penuh tanda tanya. Dan akhirnya gemas pada sikap namja itu.

“Ya! Do Kyungsoo!”

Yubin berlari kecil mengejar langkah Kyungsoo saat namja itu akan melangkah pulang dijam terakhir. Tapi namja itu tidak menghentikan langkahnya. Membuat Yubin dengan cepat berusaha mengejar namja itu.

“Ya!”

Tangan Yubin bergerak menggapai bahu namja itu saat kemudian tanpa sengaja tangan Yubin menyenggol pita hitam itu. Dan seolah pita hitam itu sangat sakral, Kyungsoo berbalik, mencekal erat tangan Yubin.

“Maafkan aku! Aku tidak melakukannya dengan sengaja! Sungguh! Aku bersumpah!”, ucap Yubin ketakutan saat Kyungsoo menatapnya dengan tatapan mematikan yang biasa Ia tunjukkan pada orang-orang yang berusaha menyentuh pita itu.

“Akh! Akh! Appeuda! Kyungsoo-ah! Hentikan! Akh!”, Yubin meringis kesakitan saat cekalan namja itu dirasakannya sangat kuat dan menyakitkan.

“Apa yang sedang kau coba lakukan huh?”, ucap Kyungsoo, tampak tidak berniat melepaskan cekalannya.

“Akh! Kyungsoo-ah! lepaskan! Manhi appeuda!”, ucap Yubin, satu tangannya berusaha melepaskan cekalan Kyungsoo yang begitu kuat.

“Jangan pernah bicara padaku, dan jangan pernah menyentuhku.”, ucap Kyungsoo dingin sesaat sebelum namja itu melepaskan cekalannya dan melangkah meninggalkan yeoja itu.

“Ah..”, Yubin terdiam saat melihat bekas cekalan Kyungsoo meninggalkan luka memar di pergelangan tangan kanannya, dan bahkan bekas kuku namja itu menciptakan luka dipergelangan tangan Yubin.

Sementara tatapan yeoja itu kini terarah pada namja yang berjalan cepat meninggalkannya. Tampak tidak merasa bersalah atas perbuatan yang baru saja dilakukannya.

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Kyungsoo terdiam melihat yeoja dengan rambut sebatas punggung dan dibiarkan tergerai itu sekarang tampak berusaha menahan sakit di tangannya. Bahkan tindakan yeoja itu melempar sayuran ke dalam truk tidak selincah biasanya.

Beberapa kali Kyungsoo mendapati yeoja itu memutar-mutar dan memijat pergelangan tangannya. Dan bahkan meringis kesakitan.

Saat jam menunjuk angka sebelas, yeoja itu mengakhiri pekerjaannya, dan sekarang Kyungsoo bisa melihat yeoja itu menghabiskan waktunya di warung ayam tempat Ia biasa makan.

Tanpa sadar Kyungsoo melangkah mendekati yeoja itu, dan seolah tersadar, Yubin dengan mudah menyadari keberadaannya.

“Oh, hebat, kau muncul lagi.”, ucap Yubin, mengalihkan pandangannya, berusaha menganggap Kyungsoo tidak ada disana.

“Apa tanganmu baik-baik saja?”

“Berkat kau? Tidak.”, ucap Yubin masih dengan nada kesal yang sama

“Aku tidak bermaksud melukaimu.”, ucap Kyungsoo akhirnya, duduk disebelah yeoja itu, tapi dengan cepat Yubin menggeser duduknya.

“Jangan dekat-dekat. Aku tidak mau jadi korban perubahan mood mu.”, ucap Yubin dengan nada sindiran kental dalam suaranya.

“Kau tidak perlu menyindirku karena kejadian tadi sore.”

“Bukankah kau bilang padaku untuk tidak bicara padamu?”, ucap Yubin akhirnya, mengalihkan pandangannya ke arah namja itu, namja yang kini menatapnya dalam diam.

Yubin kemudian menghela nafas panjang.

“Aku benar-benar tidak bermaksud menyentuh pita mu tadi. Aku tadinya mau menepuk bahumu. Maaf.”, ucap Yubin membuat Kyungsoo menarik kursinya untuk mendekati Yubin

Namja itu kemudian menarik tangan Yubin, dan mengeluarkan pita dari dalam kantongnya.

“E-Eh?”, Yubin menatap pita itu, lama.

Kyungsoo kemudian mengikatkan pita itu dipergelangan tangan Yubin.

“Biarkan seperti ini, aku tidak suka melihat luka itu..”, ucap Kyungsoo pelan

“Kurasa kau tidak salah, aku sering melihatmu semarah itu jika ada yang berusaha menyentuh lehermu.”

Kyungsoo tertawa pelan.

“Bahkan aku sendiri takut untuk menyentuhnya.”

“Nde?”, Yubin mengerjap beberapa kali saat mendengar ucapan namja di depannya

“Kau tidak pernah menyentuhnya?”, tanya Yubin dan dibalas dengan gelengan pelan oleh namja itu.

“Yubin-ah, kita terlahir dengan cara yang berbeda.”

Kali ini Yubin menyernyit.

“Maksudmu?”

“Aku akan memberitahumu nanti, jika saatnya sudah tiba. Jadi, kalau kau penasaran dengan pita ini, kau harus menunggu sampai hari itu datang, bagaimana?”

“Baiklah, jadi aku akan bilang pada anak-anak bahwa ka—”

“Untuk apa kau memberitahu mereka?”, potong Kyungsoo

“Kau tidak berniat menunjukkannya pada mereka juga?”, tanya Yubin membuat Kyungsoo memutar bola matanya dengan kesal.

“Tidak. Aku hanya akan menunjukkannya padamu.”

“Aku?”, Yubin menunjuk dirinya sendiri

“Ya. Kau tidak mau? Aku bisa saja melepasnya sendiri tanpa memberitahu siapapun.”, ucap Kyungsoo enteng

“Ya! Mana bisa begitu! Oh! Kau akan melepaskan pita itu?”, ucap Yubin, mata yeoja itu membulat, menatap Kyungsoo dengan tatapan penuh arti.

“Ya. Nanti jika saat nya sudah tiba. Jadi kau harus menunggu, mengerti?”

Yubin mengerucutkan bibirnya.

“Baiklah. Berapa hari lagi?”, pertanyaan Yubin kini membuat Kyungsoo sedikit tersentak

“Kau mau cepat-cepat melihatnya?”, tanya Kyungsoo

“Tentu saja. Aku sudah sangat penasaran.”

Kali ini Kyungsoo tertunduk.

“Dihari ulang tahunku, kurasa.”, ucap Kyungsoo pelan

“Whoah! 30 hari lagi!”

“Mwo?”

“Ya. Ulang tahunmu, 30 hari lagi, kau tidak ingat?”

“Dan kenapa kau ingat?”, Kyungsoo balik bertanya pada yeoja itu

“Itu karena..”

“Jangan bilang, selama dua tahun ini, kau orang iseng yang selalu menaruh kue di lokerku saat hari ulang tahunku. Benar kan?”

Yubin mengangguk-angguk cepat.

“Benar. Aku yang menaruhnya. Tapi kau selalu membuang kue nya. Padahal aku sudah membelinya mahal-mahal.”, gerutu Yubin

“Kalau begitu belikan aku satu lagi tahun ini. Kau tau, aku tidak pernah makan kue tart sekalipun di hari ulang tahunku.”

“Mwo? Aish, kau ini benar-benar punya masa kecil tidak bahagia. Baiklah, aku akan membelikanmu lagi..”, Yubin tersenyum cerah, tapi kemudian raut wajah yeoja itu berubah menjadi serius, “awas saja kalau kau ingkar janji.”, lanjutnya

“Aku tidak pernah melanggar janji. Asalkan dihari ulang tahunku, kita membolos dan menghabiskan seharian bersama, bagaimana?”

Yubin mengerjap beberapa kali, dan tanpa pikir panjang yeoja itu mengangguk.

“Setuju.”

“Bagus.”

Tanpa Yubin tau, raut dingin namja itu berubah, ada kesedihan diwajah namja itu. Namun ada juga rasa senang. Namja itu akhirnya tersenyum penuh arti, dan membuka mulutnya.

“Kuharap kau tidak akan menyesal nanti.”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

Advertisements

18 thoughts on “TWOSHOT – REGRET [1/2]

  1. Salam dari pembaca baru, irish 😀 . Udah baca sama part 2 Ini karakter kyungsoo-nya dingin banget, juga ini ide pita hitam, sungguh imajinatif banget. Aku suka ^^ gak tahu mau comment apa lagi, pokonya suka banget ini fiksi pertama yang aku baca dari author irish. 😀

  2. Aq malah mikirnya kyungsoo itu terlahir dah pakai pita hitam itu.. Dan kalau pitanya dibuka kepalanya lepas *aq pernah baca yg versi ini d urban legend.. Aq harap sih tebakanku salah., hoho..
    Keep writing ya irish, salam kenal juga

    • Huehehehe inspired nya emang dari urban legend itu kak😂😂 dibikin salah deh ah huehehe :3 thankyou ya kak :3 salam kenal jugaa

  3. aku merasa pernah baca suatu cerita. apakah dirimu mendapat inspirasi dari sebuah urban legend? soalnya akhir-akhirnya juga seram menyedihkan 😦 tapi karena aku tidak melihat tertulis genre horror, jadi kurasa ini akan berakhir dengan cerita yang cukup menegangkan /?
    di tunggu lanjutannya ya~ 😀

    • IYEEPP tepat sekali. Cerita ini terinspirasi dari sebuah urband legend. Dan yeah, aku juga gak begitu suka sadism in stor, jadi, aku ubah sedikit endingnya huehe. Thankyou anyway 😀

    • Buahaha cerita ini sebenernya inspired by urband legend itu emang. Tapi diriku tak sanggup membuat kepala Kyungsoo menggelinding :’) jadi kubuatkan ending lain untuknya /plak/ thankyou yaa~

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s