[FICLET] Drama Lovers

a

− Drama Lovers −

Arisa Storyline | Xiumin & Yuna | Ficlet Collection | Teen 

“…pada akhirnya keberanian itu mencuat ke permukaan juga.”


Yuna  telah mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum menjejakkan kaki di depan gerbang sekolah. Segala konsekuensi sudah ia pertimbangkan sematang mungkin. Walaupun ia harus merelakan waktu tidurnya tersita hanya untuk meyakinkan diri, pada akhirnya keberanian itu mencuat ke permukaan juga. Dengan ditemani langit yang mulai menguning, Yuna berdiri disana, bersandar pada tembok di kiri gerbang. Sementara hari menjelang malam, para penghuni sekolahnya juga mulai mengurang, Yuna masih bertahan menunggu seseorang, tanpa kawan disisinya.

Dengan bermodalkan keberanian yang masih diragukan, Yuna berniat menuntaskan rencananya hari ini juga. Rencana yang sudah ia pikirkan sejak lama. Yuna membuang napas bosan. Bingung harus berbuat apa, Yuna tertunduk, memainkan sebuah amplop dengan jemarinya. Selagi insan yang ia tunggu belum juga menampakkan batang hidungnya, Yuna memutar-balik amplop itu hingga beberapa kali untuk membunuh rasa bosan.

Yuna spontan menegak tatkala mendengar suara ricuh dari kejauhan. Kemudian indra penglihatannya menangkap tiga orang lelaki yang sedang berjalan beriringan sambil melempar tawa. Ketiga lelaki itu berjalan ke arah gerbang utama.

Salah satu dari mereka adalah tujuan Yuna. Lelaki yang berdiri di tengah sambil memegang raket tennis. Peluh membanjiri wajah tampannya, dan benarlah opini Yuna; bahwa lelaki itu memang tampan alami. Peluh yang membanjiri wajah tampannya hanya akan menambah kesan ‘keren’ pada figur Kim Min Seok –atlet Tennis.

Min Seok Sunbae keren. Batin Yuna terus bersahutan, menyatakan bahwa kakak kelasnya sangatlah keren.

Yuna meneguk ludah. Oke, sekarang bukan saatnya untuk memuji Min Seok. Yuna harus segera menunaikan niatnya.

Yuna lekas menyisir surai legamnya dengan jemari kemudian memperbaiki letak seragam yang melekat pada tubuhnya. Digenggamnya amplop pink itu dengan sepuluh jemarinya. Menghela napas singkat, Yuna menghampiri tiga lelaki yang masih berjarak dua meter darinya.

Yuna menjeda langkahnya saat berhadapan langsung dengan Min Seok. Yuna kebingungan menunjukkan ekspresi manakala berhadapan langsung dengan lelaki pujaannya. Hingga merunduklah satu-satunya jalan keluar yang terlintas di alam fikirnya. Yuna tertunduk kemudian mengulurkan amplop di tangannya dengan kegugupan yang melingkupi.

“Min Seok Sunbae. Ini untukmu. Aku tunggu jawabanmu besok, di taman Sandy pukul 4 sore.” Ucap Yuna tanpa tergugu sedikitpun, namun lebih terkesan buru-buru.

Ini sudah direncanakannya sejak lama. Dan tak dapat dipungkiri, jikalau rasa malu itu membabi buta dalam benaknya. Dalam sejarah hidup Yuna, ini adalah pertama kalinya ia mengambil sikap agresif terhadap lelaki. Dan pemaparan ‘Aku tunggu jawabanmu besok, di taman Sandy pukul 4 sore’ sebenarnya berkat usul sahabatnya, Nami. Terkesan memaksa, memang. Oke, kalimat Runa lebih terdengar seperti ajakan untuk, err –kencan? Kenapa Yuna baru menyadarinya sekarang?

Yuna yakin, Min Seok adalah lelaki yang baik. Oleh karena itu dia berani melakukan aksi memalukan ini. Terlebih saat Min Seok meraih amplop itu dari tangannya, Yuna semakin yakin kalau lelaki yang dikaguminya selama ini benar-benar baik. Kemudian Yuna berbalik, masih dalam keadaan tertunduk, berharap Min Seok tak mengenali parasnya. Semua berlalu begitu cepat. Tepat setelah berbalik, Yuna melangkah dengan ringan, seakan seluruh bebannya habis dilahap senja. Yuna lekas mengangkat wajah, kemudian menghembuskan napas lega. Tidak sia-sia ia menunggu hingga tiga jam lamanya. Ternyata latihan Tennis itu membutuhkan waktu yang lama. Terbukti dengan kepulangan Min Seok yang baru saja terlaksana.

Namun, belum genap empat langkah, rupanya Yuna harus kembali bersitegang dengan suasana kelam sore itu.

“Kwon Yuna.” Min Seok memanggilnya. Spontan, Yuna menghentikan langkahnya, kemudian berbalik dengan tempo lambat, selaras dengan wajahnya yang kian tertunduk.

“Besok aku ada latihan tennis. Jadi kujawab sekarang saja, ya?” lanjut Min Seok dan Yuna hanya terdiam seribu bahasa.

Menjawab sekarang? Seriously? Bahkan Yuna tidak yakin kalau Min Seok sudah membaca suratnya.

Andai saja Yuna punya kekuatan sejenis teleportasi, tentu saja Yuna sudah bertolak dari sana. Ini adalah saat-saat yang memalukan, menegangkan sekaligus membingungkan. Honestly, Yuna kalut akan situasi ini. Tidak peduli seberapa keras Yuna mempertimbangkan segala macam konsekuensi yang ada, pada akhirnya, Yuna dihadapkan pada situasi yang tak pernah terfikirkan sebelumnya.

“Kau menyatakan cinta dengan cara yang murahan. Biar kutebak, kau suka menonton drama, kan?” tebak Min Seok yang tahu-tahu saja sudah berdiri di depannya. Yuna meneguk ludah gugup. Cukup. Tanpa perlu dijelaskan lebih detail, Yuna sudah tahu apa jawabannya. Sudah jelas, ia akan dipermalukan oleh kakak kelasnya sendiri –seperti drama-drama yang ia tonton sebelumnya.

Tunggu, kenapa Min Seok malah bertanya sesuatu yang mempermalukannya? Ini sedikit menyebalkan –bagi Yuna.

Yuna mengangkat wajah dengan teratur –was-was. And see! Bahkan kedua sahabat Min Seok juga telah berdiri di samping kanan dan kirinya, membuat Yuna merasa dikepung oleh lelaki-lelaki sporty yang tampan. Mungkin Yuna akan bersyukur dengan kondisi ini, jika saja ia tidak dihadapkan pada situasi memalukan tadi.

“Kwon Yuna?” menyadari tak ada tanggapan dari Yuna, Min Seok memanggili nama gadis itu dengan dahi yang terlipat, bingung. Yuna memang sedang asyik mendalami paras tampan Kim Min Seok. Tidak heran mengapa ia larut dalam ketampanan paras lelaki itu, dan tidak menyadari situasi.

A-ah ya. Drama? Aku hobi menonton drama.” Ucap Yuna spontan. Ingin rasanya Yuna menjahit mulutnya saat itu juga. Spontanitas memang datang di saat yang tidak tepat. Yuna jujur. Dan ini kejujuran yang tidak jauh-jauh dari ungkapan ‘mencoreng muka sendiri’. Yuna… terdeteksi sebagai perempuan terkonyol di sekolahnya.

Ketiga lelaki itu tertawa memandangi Yuna. Sementara Yuna hanya bisa memamerkan tampang polosnya yang dilengkapi paras malu-malu.

Hingga lamat-lamat terdengar sebuah suara yang begitu menyejarah dalam hidup Yuna; membuat Yuna bingung, harus malu ataukah bahagia? Keduanya serentak menimpa perasaan Yuna.

Min Seok berucap disela tawanya. “Drama? Tidak buruk.” Min Seok tampak berpikir, kemudian menatap kedua mata Yuna dengan seulas senyum yang begitu menenangkan. “Bagaimana jika kukatakan kalau aku menerima penyataan cintamu?” Lanjutnya.

-fin-


Advertisements

2 thoughts on “[FICLET] Drama Lovers

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s