[Oneshoot] JOY

Joy arinyessy

arin yessy presents.

J.o.y

feat : Park Sooyoung, Wu Yi Fan (Kris), Park Jiyeon, & Jeon Jungkook

rate/genre : PG-15 /family, romance

Disclaimer : Fic pertama saya yang castnya pakai couple Joy-Jungkook, hope u guys enjoy it. And noona kece mau ngucapin Happy Birthday buat adek jungkook, semoga makin akur sama Joy (?). Happy reading and sorry for typos!

.

.

Hidup menawarkan banyak pilihan, dan Joy memilih untuk menyingkirkan rasa egois itu

.

Joy tidak menyukai hujan. Ia sangat benci ketika titik-titik air hujan membasahi rambut panjangnya. Ia benci ketika genangan air hujan mengotori sepatu boot mahal chanel yang baru saja dibelinya minggu kemarin. Dan Joy amat benci dengan apa yang tengah ia lakukan hari ini di tengah-tengah hujan yang melanda di awal musim semi.

Joy mendengus pelan. ia memperhatikan ujung-ujung sepatu bootnya yang sudah basah. Payung transparan itu masih setia ia pegang kendati terkadang menjadi tak berguna karena angin berhembus cukup kencang membuat titik-titik air hujan mampir membasahi ujung-ujung rambutnya. Manik matanya beralih memperhatikan lampu di persimpangan jalan yang sudah berganti menjadi merah, pertanda ia harus cepat-cepat menyebrang bersama pejalan kaki yang lain.

Joy memperhatikan dengan seksama setiap bangunan yang berjejer di sepanjang jalan. Mencari sebuah café yang dikatakan oleh ayahnya melalui sambungan telepon tiga puluh menit yang lalu. Sebenarnya Joy enggan keluar dari rumah dengan cuaca seburuk ini, terlebih ditambah dengan suasana hati yang tak kalah buruk setelah percekcokannya dengan Jungkook lusa silam. Namun apa daya, ia hanya seorang anak di rumah itu. Hati kecilnya juga mengisyaratkan walau seberapa beratpun Joy akan mengatakan iya untuk setiap keinginan ayahnya.

Joy berdiri sejenak di depan sebuah bangunan berlantai dua itu, memastikan bahwa memang ia seharusnya berada di tempat ini. Aroma kopi tercium jelas begitu ia melangkahkan kaki ke dalam ruang yang sedikit hiruk pikuk oleh para pelanggan yang tengah bercengkerama dengan akrab. Joy tersenyum kearah sang ayah yang tampak melambaikan tangan ke arahnya. Ia menutup payungnya dan meletakkannya di sebuah tempat khusus tak jauh dari pintu masuk.

“Hai dad..”

“Hai sayang,” Kris memeluk puterinya dan menyuruh gadis itu untuk duduk.

“ada apa menyuruhku ke sini tiba-tiba?” Joy melirik ke arah sosok wanita yang duduk di samping Kris. Perasaannya mengatakan bahwa wanita itu adalah kekasih ayahnya.

“kau ingin pesan apa?” Kris memilih tidak menjawab dan menyodorkan sebuah buku menu.

“ice Americano saja. Aku tidak punya banyak waktu dad, 30 menit lagi aku harus ikut kelas balet remember?”

Kris menghela nafasnya, anak gadisnya tumbuh dengan sangat baik. Sifat dinginnya diwariskan dari diri ayahnya sendiri.

“ice Americano satu” Pelayan itu mengangguk dan mencatat pesanan Joy. Kris melirik sekilas kea rah wanita yang duduk di sampingnya, seolah meminta dukungan.

“dad ingin memperkenalkanmu pada calon istri dad, namanya Park Jiyeon.”

“Hallo.. Park Jiyeon imnida..” wanita cantik itu mengulurkan tangannya, cukup lama sebelum akhirnya Joy dengan setengah hati mau membalas jabatan tangan itu.

“Joy..”

“namamu sangat cantik, sama cantik dengan parasmu.” Jiyeon tersenyum. Sebenarnya dalam hati ia sangat kikuk ketika berhadapan dengan gadis yang akan menjadi puterinya kelak. Ia bahkan tak bisa tidur menantikan pertemuan ini.

“terimakasih kepada ibuku yang sudah menurunkan kecantikannya.” Joy tersenyum remeh. Ia sudah terbiasa di puji berkat paras cantiknya. Bahkan saking terbiasanya ungkapan-ungkapan seperti itu benar-benar membuat isi perutnya serasa ingin keluar. Membual.

“Joy..” Kris tak suka ketika Joy mulai bersikap seenaknya.

“memang seperti itu kan?”

“Joy, bersikaplah yang baik. Jiyeon akan menjadi ibumu juga nanti. Dia akan merawatmu dan juga menjagamu kelak, jadi dad harap kau mulai bisa membuka hati dan menerima keberadaannya di hidupmu.” Kris menatap lamat-lamat manik mata hazel puterinya. Namun Joy tak tampak antusias. Ia melemparkan pandangannya seolah bosan, dan menemukan bahwa pemandangan hujan di luar sana jauh lebih menyenangkan daripada pemandangan dua insan yang sedang dimabuk cinta ini.

“aku tidak butuh siapapun untuk merawatku dad, I’m going 17th okay? Aku bisa mengurus diriku sendiri.”

“Joy!” Kris meninggikan suaranya.

“sudahlah Kris, memang butuh waktu bagi Joy untuk menerimaku di keluarga kalian. Jangan paksa puterimu.” Jiyeon menengahi. Ia mengelus-elus pundak Kris dan hal itu cukup membuat Joy geli karenanya. Oh Ya Tuhan lihatlah sikap perempuan ini. Benar-benar memuakkan. Berlagak seolah ia adalah istri idaman namun siapa yang tahu wajah di balik topeng keramahan yang ia pertontonkan di hadapannya.

“Baiklah, sepertinya tidak ada yang dibicarakan lagi kan?” Joy bangkit dari kursinya dan mengambil cup ice americanonya yang berada di atas nampan sebelum pelayan sempat menaruh pesanannya di atas meja.

“See you at home, dad… Jika kau memang pulang ke rumah nanti.” Joy menyesap minuman berbahan dasar kopi itu dan melenggang pergi dari hadapan kedua orang yang hanya melihatnya tanpa mampu berkata sepatah katapun .

Kris menghela nafasnya kasar. Rasanya ingin sekali ia meluapkan emosinya atas tindakan tidak sopan puteri semata wayangnya, namun ketika mengingat betapa banyak waktu yang terlewatkan bersama Joy membuat emosinya berubah menjadi kesedihan. Kris memang sibuk, Ia hanya bertemu anak gadisnya sesekali dalam satu bulan. Membayangkan Joy sudah cukup sulit hidup tanpa pengasuhan seorang ibu membuat Kris merasa bersalah, dan dirinya semakin merasa bersalah ketika tak mampu memberikan banyak cinta dan waktu untuk puteri kecilnya yang ternyata telah beranjak tujuh belas tahun.

“maafkan puteriku Jiyi.”

Jiyi menggeleng lemah. Ia mengusap pundak lelaki itu penuh sayang.

“tidak perlu meminta maaf Kris, aku sangat mengerti pasti sangat sulit menerima seseorang baru dalam hidupnya. Terlebih ketika orang itu akan menjadi ibu tirinya.”

“aku tak tahu lagi bagaimana harus membuatnya mau menerimamu Jiyi.”

Jiyeon tersenyum maklum. Kris rupanya benar-benar tak begitu mengenali puterinya.

“jangan memaksanya terlalu keras.. biarkan dia menerimaku sedikit demi sedikit..”

Dalam lubuk hati kecilnya Jiyeon lebih mampu mengerti apa yang Joy inginkan. Gadis seperti Joy di umurnya yang beranjak dewasa membutuhkan seseorang yang mampu membimbingnya, mencurahkan kasih sayang dan waktunya. Dan Kris tak ada di sana. Maka untuk itulah Jiyeon hadir, rasa cintanya yang besar pada Kris menumbuhkan rasa sayang pula untuk Joy. Kris begitu antusias bercerita tentang puteri tunggalnya yang mewakili Korea Selatan di kompetisi ballet Wina tahun silam, atau ketika Joy memberinya hadiah syal rajutan tangannya sendiri. Hingga Jiyeon berani menyimpulkan bahwa gadis itu adalah anak yang baik, hanya saja ia sedang kecewa akhir-akhir ini.

“terimakasih Jiyi, kuharap rencana pernikahan kita tak akan tertunda hanya karena sikap Joy.”

“aku akan berusaha semampuku untuk mengambil hati Joy.” Jiyeon mengembangkan senyumnya kendati dalam hati ia pun ragu akan keabsahan yang terucap di bibirnya. Entah apa ia bisa berhadapan dengan gadis tipikal Joy.

.

.

Joy membanting pintu mobil dengan kasar begitu ia keluar dari jok penumpang belakang. Raut wajahnya sangat masam dan kedua alisnya berkerut tegang.

“Ahjussi.. Sudah kubilang berapa kali, aku tidak suka menunggu! Jangan terlambat lagi menjemputku! Aku tidak suka menunggu sendirian malam-malam begini! Bagaimana jika ada yang hendak mencelakaiku?!”

“maafkan saya nona..” Sopir keluarga wu hanya menunduk sopan. Ia tak berani menentang Joy walau maksudnya hanya sekedar memberi penjelasan bahwa ada kemacetan luar biasa di jalan akibat sebuah kecelakaan lalu lintas hingga ia terlambat tiga puluh menit lamanya. Namun menjelaskan hal ini kepada Joy yang tengah naik pitam sama saja dengan cari mati, karena mungkin gadis itu akan mengeluarkan kata-kata yang sanggup membuatnya kehilangan pekerjaan saat itu juga.

Joy mendengus kesal. Ia berlalu sambil menenteng tasnya. Sungguh hari ini suasana hatinya sangat kesal, benar-benar kesal sampai otakknya mendidih. Argghhh semuanya gara-kara Jeon Jongkook sialan. Bisa-bisanya laki-laki itu mengacuhkan seorang Joy sedangkan mereka berpapasan di koridor sehabis makan siang tadi. Memang semuanya bukan salah Jongkook, Joy bahkan mengalihkan pandangannya begitu jongkook melintas. Namun tetap saja, hal ini sangat menyebalkan. Terlebih ketika Jongkook tak melakukan apapun untuk memperbaiki hubungan mereka. Oh ayolah, mana mungkin mereka putus dengan cara sekonyol ini? Hanya karena berlagak tidak saling mengenal?

Memang sebenarnya bukan itu masalahnya. Joy yang sangat manja tak ingin kehilangan Jongkook yang memutuskan untuk menempuh pendidikan di angkatan laut setelah ia lulus nanti. Dan mendengar kata akademi angkatan laut sudah membuat bulu kuduk gadis itu ngeri. Terbayang bagaimana penyiksaan yang harus dialami kekasihnya itu disana. Oh tidak, tentu saja Joy tak akan rela jika sampai Jongkook di bentak oleh seniornya, masa orientasi selama tiga bulan, bertahan hidup di hutan hanya dengan sekotak korek api, belum lagi jika harus mendaki tiang-tiang kapal di kapal latih perang. Ya Tuhan Joy tak akan sanggup kehilangan Jongkook dengan cara sekonyol itu.

Joy benar-benar tak mengerti kenapa kekasihnya itu sangat ingin menjadi seorang pelaut. Hell no, memang apa sih yang diharapkan dari seorang pelaut kecuali kau harus siap ditinggal jauh dalam waktu yang lama? Oh tidak, bisa-bisa Joy benar-benar tak bisa tidur tiap hari memikirkan keselamatan Jongkook. Belum lagi dengan segala kemungkinan seperti putus komunikasi, jarak, waktu, dan segalanya akan terasa lebih sulit lagi. Entah berapa banyak jongkook menyakinkan Joy bahwa itu hanyalah pikiran-pikiran buruk saja, namun justru hal itu membuat semakin sulit Joy menerimanya.

Dan beginilah mereka, berakhir dengan saling mendiamkan tanpa tegur sapa. Sungguh hal ini membuat Joy hampir gila. Di lain sisi ia sangat merindukan renyah tawa dan hangat senyum laki-laki itu, namun disisi lain sikap egoisnya lebih menguasai. Ia ingin Jongkook tetap disampingnya bagaimanapun caranya.

“Joy…” Joy mendelik kaget. Lamunannya buyar tergantikan oleh sosok sang ayah yang sedang duduk manis di ruang makan. Tumben sekali jam makan malam seperti ini ayahnya berada di rumah. Karena biasanya joy akan makan malam di kamarnya sembari belajar, tentu saja karena tak ada yang menemaninya makan malam dengan selayaknya di meja makan.

“Joy, kemarilah..”

Dengan langkah setengah diseret Joy menghampiri Kris. beberapa mangkuk makanan tersaji cantik dengan uap yang masih mengepul ke udara. Seorang perempuan muda berusia dua puluh limaan membawa sebuah lasagna yang baru saja diangkat dari oven.

Wanita itu datang lagi. Joy sudah menduganya. Dirinya saja tak mampu membuat Kris mau meluangkan waktu untuk makan malam dirumah. Dan lihatlah, wanita ini baru datang sekali ke rumah dan ayahnya mau repot-repot meluangkan waktunya yang katanya sangat berharga itu, hanya demi sebuah makan malam? Ckck.. Joy merasa kasihan pada dirinya sendiri.

“Hai Joy.. bagaimana kabarmu?” Jiyeon meletakkan lasagna hangat itu di atas meja.

“tidak baik. Apa pedulimu?”

“Joy, bersikaplah yang sopan. Jiyeon datang kesini khusus untuk memasakkan kita makan malam.. duduklah, ayo kita nikmati makan malamnya.”

“Tidak. Aku sudah kenyang.” Joy membuang muka dan memilih berlalu menaiki tangga cepat-cepat.

“Joy!”

geez,,, anak itu benar-benar…!” Kris berdiri dari tempat duduknya hendak mengejar anak gadisnya. Namun lengan Jiyeon menahannya.

“biarkan dia beristirahat dulu..”

.

.

“seharusnya kau tak perlu repot-repot membawakannya makan malam.” Kris memperhatikan Jiyeon yang tengah menuangkan sop asparagusnya di sebuah mangkuk. Beberapa piring makanan ia letakkan di sebuah nampan, lengkap dengan segelas jus orange kesukaan gadis itu.

“jangan berbicara seperti itu, dia juga anakmu oppa..” Jiyeon tersenyum geli melihat tingkah Kris yang menjadi sangat kekanakan. Tak heran ia kalah berdebat dengan puterinya sendiri. Ya bagaimana tidak? Laki-laki itu bahkan tak memiliki waktu untuk bercengkerama hangat dengan puteri semata wayangnya.

“biarkan saja dia kelaparan, anak itu sesekali harus diberi pelajaran.”

“Jangan begitu, Joy itu masih remaja, kau yang harus lebih pengertian kepadanya. Gadis seusianya juga memiliki banyak masalah yang dihadapi di sekolah, belum lagi beberapa bulan lagi ia akan melewati tes masuk perguruan tinggi. Pasti ia sangat stress sekarang.”

Jiyeon menghela nafasnya. Ia beralih memotong beberapa lasagna.

“aku juga pernah seusia Joy… dan menjadi remaja itu tidak mudah. Apalagi jika ayahnya saja sibuk sekali, sampai tak sempat mengajak refreshing sejenak.” Jiyeon hampir tertawa karena Kris terkena sindiran yang ia layangkan.

“Oke baiklah, jadi menurutmu aku ini bukan ayah yang baik?”

“Tidak.. kau adalah ayah yang baik, kau menuruti semua keinginan puterimu bahkan tanpa dia memintanya kepadamu. Namun kau justru tak tahu apa yang paling diinginkan olehnya.” Jiyeon mengelap tangannya menggunakan tissue kemudian mengkat nampan makan malam Joy dengan hati-hati.

“yang Joy butuhkan hanyalah waktumu.” Jiyeon mengecup sekilas pipi kiri Kris dan hal itu tampaknya cukup membuat Kris kaget bukan kepalang. 100% Jiyeon telah menamparnya dengan telak. Jika memang sikap acuh dan dingin Joy diakibatkan karena ia kurang perhatian dan kasih sayang, rasanya memang cukup masuk akal. Kris memang sibuk, namun hal itu urung tak bisa di buat menjadi sebuah alasan pembenaran dari sikap Kris selama ini. Gadis itu akan terus tumbuh menjadi dingin dan acuh sama seperti dirinya, dan sungguh demi apapun Kris tak ingin membuat anak gadisnya tumbuh dewasa membawa sikap-sikap seperti itu.

Sementara Jiyeon telah sampai di depan kamar Joy. Sangat mudah menemukan kamarnya karena ada banyak ornament bertuliskan nama ‘Joy’ yang tertempel  di depan pintu.

Jiyeon mengetuk pintu dan membukanya ketika gadis itu menyahut dengan sepatah kata “what?!”

“sudah kukatakan aku tidak berselera lagi. Apalagi jika makanan itu kau yang membuatnya.”

Perkataan Joy jelas menyakiti hati Jiyeon, namun untuk kesekian kalinya Jiyeon menghela nafas. Ia tahu resikonya dari awal. Jika memang ia sudah memantapkan hati untuk mencintai Kris, maka tak ada alasan pula baginya untuk tidak menyayangi Joy.

“tapi kau harus makan Joy, kau belajar di sekolah sampai sore kemudian kau juga berlatih ballet sampai malam hari. Kau butuh banyak asupan gizi Joy.” Jiyeon meletakkan nampan itu di atas meja belajar Joy dimana buku-buku dan sejumlah pajangan tertata rapi di sana.

“cih.. kau berkata seolah kau sudah jadi ibuku.”

Gumaman Joy terdengar cukup jelas di telinga Jiyeon. Alih-alih marah, jiyeon hanya menyunggingkan senyumannya. Perkataan Joy mengingatkannya pada kenangan masa lalu.

“Kau tahu Joy, dulu aku juga sama sepertimu..”

“oyeah? Jangan menyamakan aku sepertimu, kita ini berbeda kau tahu?”

Jiyeon memilih untuk menghiraukan tanggapan Joy. Ia menerawang ke kaca-kaca jendela yang terbuka.

“aku juga memiliki ibu tiri dan saudara tiri perempuan bahkan.”

Joy mencuri-curi pandang ke arah Jiyeon, nyatanya ia tertarik akan sepenggal kalimat yang diucapkan oleh wanita bersurai cokelat itu.

“waktu itu usiaku lima belas tahun, appaku adalah seorang perwira tinggi di angkatan darat dan sering sekali bepergian karena tugasnya. Aku hanya sendirian di rumah, sampai suatu sore appa pulang bersama seorang wanita dan juga seorang gadis yang sebaya denganku. Ia memperkenalkan mereka sebagai calon keluarga baruku.”

Jiyeon memberi jeda pada kalimatnya. Ia melirik kea rah Joy yang menyandarkan dirinya di dekat pintu balkon berlagak seolah acuh tak acuh dengan kedua tangan dilipat, kendati Jiyeon tahu gadis itu tak benar-benar mengacuhkannya. Joy masih mendengarkan ceritanya dengan seksama diantara hembusan angin di awal musim semi.

“kau tahu bagaimana perasaanku kala itu Joy? Aku benar-benar sangat marah, aku merasa terkhianati, menganggap seolah-olah appa tak sayang lagi padaku. Aku merasa tersaingi, bahkan aku tak berbicara dengan Appa selama dua minggu lamanya.”

“lalu apa yang kau lakukan?” pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Joy bahkan tanpa ia sadari. Buru-buru ia merutuki dirinya sendiri. Ah dasar bodoh.

“aku merenung selama dua minggu itu. Pertama kupikir hidupku akan berakhir seperti Cinderella, tersaingi posisinya oleh ibu dan saudari tiriku. Aku sudah mulai berpikir yang tidak-tidak, aku bahkan tak bisa tidur karenanya.”

“namun appa meyakinkanku bahwa aku hanya takut pada bayang-bayang. Karena kenyataannya kulihat calon ibu tiriku adalah wanita yang baik, ia bahkan selalu mengantarkan bekal makan siang ke sekolahku dan mau menggantikan appa menghadiri rapat para wali murid. Saudariku juga cukup menyenangkan, ia mengajariku bermain piano walau yeah sampai sekarang aku hanya mahir menyanyikan dua lagu dengan lancar.”

“Kemudian mereka menikah, dan kami tinggal se rumah. Dan kau tahu apa Joy? Rumah kami menjadi lebih hidup. Aku tak perlu khawatir sendiri lagi ketika Appa bertugas di luar daerah karena ada umma yang menyambutku di rumah, memasakkan masakan enak, dan menjadi teman mengobrolku. Juga ada saudariku yang bisa diajak belajar bersama-sama. Dan akhirnya bayang-bayang burukku tak terbukti.”

Jiyeon melangkah hati-hati mendekati Joy. Ia menepuk pelan pundak gadis itu.

“aku tidak tahu apa yang kau bayangkan Joy, namun kujamin bayang-bayang tersebut tak akan terbukti nantinya.. kau bisa pegang kata-kataku.”

Joy menatap manik mata Jiyeon lekat-lekat. Ia tak dapat menemukan kebohongan disana karena memang Jiyeon tengah bersungguh-sungguh dengan kata-katanya. Bahkan Joy sedikit terkesima melihat betapa cantiknya Jiyeon dari jarak sedekat ini. Oh ya ampun, bagaimana mungkin wanita seperti Jiyeon tidak cocok mendampingi ayahnya yang juga tampan rupawan? Perempuan ini seperti miss universe. Bisa dibayangkan bila kelak keduanya memiliki seorang anak, ya ampunn pasti Joy akan menjadi saudari paling bahagia karena memiliki adik-adik kecil yang lucu, cantik, dan tampan.

Hah, oke ini agak ngawur. Tapi yang jelas kata-kata Jiyeon terpatri dengan jelas di otak genius Joy. Bahkan gadis itu mau memakan makan malam yang Jiyeon buatkan untuknya. Tapi tentu saja Joy terlalu gengsi untuk mengakuinya. Jadi ia lebih memilih memakannya setelah Jiyeon berlalu keluar dari kamarnya tiga puluh menit silam.

Joy mengambil sepiring lasagna dan memakannya di balkon. Hmmm.. bahkan masakan Jiyeon terasa sangat enak sekali di lidahnya, entah karena efek lapar atau karena memang rasanya benar-benar enak. Tapi yang jelas semua piring-piring makanan itu sudah bersih tak bersisa, hanya meninggalkan sepotong lasagna terakhir yang sedang dinikmati oleh Joy.

Gadis itu menatap ke arah bintang-bintang yang bersinar terang. Sebuah suara dari bawah membuat kegiatannya terhenti. Ia mengintip sedikit ketika Kris mengecup puncak kepala Jiyeon dan membelai rambut cokelat itu sebelum wanita itu menjalankan mobilnya. Juga jangan lupakan senyum manis yang saling dilempar oleh keduanya. Oh benar, Joy tahu ayahnya benar-benar sangat mencintai Jiyeon. Dan untuk pertama kalinya ia dapat melihat ayahnya menjadi laki-laki yang sangat berbahagia. Rasanya sangat kurang ajar merusak kebahagian laki-laki yang sudah merawat dan membesarkannya selama ini.

Joy menghela nafasnya. Lasagna di tangannya sudah habis. Ia menatap kembali bintang di langit.

“bintang, apakah aku ini sangat egois?”

Joy mengeluh kepada bintang-bintang. Ia ingin berbahagia bersama ayahnya. Namun jika kebahagian itu berarti diisi oleh kehadiran orang yang baru….. Baiklah, Joy akan mengambil kesempatan itu!

Drrrtttttt…. Drrrrttttt…

Joy menghambur masuk mendengar getaran suara ponselnya. Nama ‘Jongkook bunny’ lengkap dengan foto laki-laki itu terpampang di layar smartphonenya. Hah dasar! Bahkan namja itu tak menyapanya seharian tadi, juga hari-hari sebelumnya. Lalu sekarang tanpa merasa bersalah langsung menelepon malam-malam begini?

Oh yang benar saja, tapi tunggu.. bagaimana jika jongkook meminta mereka untuk putus? Apa?!!! Tidak, Joy tak akan sanggup kehilangan jongkook.

“what?!”

“Joy, bisakah kita bertemu.”

“sekarang?”

“tahun depan Joy.”

“hah?!”

“haha…” tawa jungkook terdengar pecah di seberang. “tentu saja, aku ingin bertemu denganmu sekarang di taman. Kutunggu 15 menit lagi, jika kau tak datang….”

“bagaimana jika aku tak datang?”

Jungkook menghela nafasnya.

“aku akan tetap menunggumu..”

Joy termenung sejenak. Sebentar, bukankah mereka sedang bermusuhan kan? Apakah berarti Jungkook telah membuat keputusannya perihal kelanjutan hubungan mereka. Duh mendadak darah Joy mengalir dengan deras. Ia sangat cemas jika memang hubungannya dengan jungkook akan berakhir hari ini. Eotohkke? Membayangkan hari-harinya di masa depan tanpa jungkook membuatnya hampir gila.

“Joy,, kau masih disana?”

“ah ugh.. okay, aku akan kesana.”

Joy hendak menutup sambungan telepon mereka.

“JJooyyyyy….!!”

“what?”

“bawakan aku syal oke? Aku sangat kedinginan.”

“baiklah, cerewet.”

“click”

.

.

Joy menangkap siluet tubuh atletis Jungkook di keremangan lampu taman. Bergegas ia menghampiri laki-laki itu karena Joy tak memiliki banyak waktu lagi. Ia harus belajar untuk ulangan Kimia esok pagi, terlebih karena ulangannya diadakan di jam pertama. Ahh benar-benar merepotkan!

“ada apa?” Joy mendudukkan dirinya di samping Jongkook dan mengalungkan syal berwarna putih itu di leher laki-laki yang ‘masih’ berstatus sebagai kekasihnya.

“aku sudah mengambil keputusan Joy.”

Mendadak wajah Joy menegang. Ia tahu cepat atau lambat jungkook akan mengambil keputusannya perihal hal yang selama ini mereka ributkan. Dan joy memiliki firasat bahwa ia akan kalah kali ini. Impian jungkook terlalu sayang untuk tak diwujudkan.

“oh.. baguslah.”

“kau tak ingin mendengarnya?”

Joy memperhatikan seksama wajah jungkook.

“baiklah.”

“aku sudah memutuskan untuk tidak mendaftar di akademi angkatan laut setelah kelulusan nanti.”

Joy membulatkan kedua mata sipitnya. Tak percaya dengan kalimat yang terlontar di bibir kekasihnya. Namun mendadak ada rasa lain yang menggerayapi lubuk hatinya. Karena mendadak jungkook terlihat amat menyedihkan. Bagaimana mungkin laki-laki itu mengubur dalam-dalam cita-citanya? Menjadi seorang laksamana laut adalah impian jungkook sejak ia berada di sekolah dasar. Bagaimana mungkin jungkook mengambil keputusan itu segampang membalikkan telapak tangan?

“Tapi.. tapi kenapa?” tangan Joy refleks menyentuh pundak Jungkook. “apa karena aku? Apa karena pertengkaran kita?”

Mendadak rasa bersalah lebih mendominasi sanubari Joy. Ia telah egois lagi untuk yang kesekian kalinya. Mendadak perkataan Jiyeon terlintas dalam benaknya.

Benar. Joy hanya takut pada bayang-bayang yang bahkan belum terjadi atau mungkin tak akan terjadi. Bagaimana bisa Joy yang genius menyimpulkan segala hal sesempit ini. Apa lagi ini tentang Jungkook. Impian Jungkook sangat berharga dan semuanya sirna hanya karena keegoisan seorang kekasihnya, Joy.

“aku sudah memikirkannya Joy. Kumohon jangan tanyakan kenapa, karena aku takut berubah pikiran.” Manik mata jungkook menerawang ke sisi jalan.

“kau tak perlu melakukan segala hal hanya untuk memenuhi permintaanku Jung. Kau tahu, ada beberapa permintaan yang tidak harus dikabulkan. Lagipula kau ini bukan ibu peri yang harus menuruti semua keinginanku.”

“aku tak mengerti maksudmu Joy.”

“kau harus memikirkan masa depanmu Jung.”

“tapi kau juga bagian dari masa depanku..”

Joy termenung dengan penuturan Jungkook. Terkesan sangat jujur dan terbuka. Untuk itulah Joy bisa gila hanya dengan membayangkan sehari hidup tanpa Jungkook. Oke, baiklah terlalu berlebihan. Namun setidaknya kini Joy tahu bahwa ada dirinya dalam rencana masa depan Jungkook, begitupun sebaliknya.

“aku tidak ingin menjadi egois Jung. Jika memang kau ingin masuk akademi lakukanlah. Aku tak apa, selama kau senang berada disana.”

“benarkah? Kau tidak sedang mengerjaiku kan Joy?”

“hhsss apakah wajahku terlihat sedang bercanda?” Joy mengerucutkan bibirnya, membuat Jungkook tak tahan untuk tak mencubit kedua pipi chubby itu.

“Gomawo.. tapi besok, jangan berubah pikiran okay?”

“Okay. Kali ini aku tak akan berubah pikiran. Lagipula kau harus mengganti model rambutmu itu nantinya. Menjadi jeon jeongkook si botak hahaha..” tawa Joy memecah udara malam. Membayangkan ucapannya saja sudah cukup membuat perutnya geli.

“ara ara.. terserah kau saja Joy, tapi nanti kau akan bangga padaku. Bahkan kau akan menitikkan air mata haru untukku. Lihat saja..”

Joy mengulum senyumnya dan menempelkan kepalanya di permukaan dada bidang Jungkook.

“aku tidak sabar menunggunya Jung, kau harus membuatku bangga.”

“Dan kau! Dilarang melirik bahkan menatap laki-laki lain lebih dari lima detik selama aku disana.”

Joy berjengit. “apa berarti aku juga tak boleh menatap seongsainim yang sedang mengajar di kelas?”

“itu pengecualian.”

“lalu aku juga tidak boleh menatap daddy Kris?”

“itu juga pengecualian. Yang jelas kau tak boleh menyukai laki-laki lain selain aku, yaksok?!”

“Oke Oke.. terserah kau saja.”

Jungkook tersenyum hangat.. ia membelai lembut rambut tergerai Joy yang berada di dalam dekapannya. Ia sangat rindu pada gadis itu. Tak bertegur sapa dengan Joy bagai kehilangan separuh sumber kecerian dalam hidupnya. Dan Joy, senyum manis itu masih terukir jelas di bibirnya. Semuanya menjadi lebih indah ketika ia memutuskan untuk tidak menjadi gadis egois dan menghilangkan rasa takutnya akan bayang-bayang. Karena hidup memang memiliki banyak pilihan, dan Joy kini memilih untuk menghilangkan trademark ‘gadis egois’ dalam dirinya.

 

FIN.

 

Akhirnya ada satu ff oneshot yang bisa di publish disini, ah terharunya saya. Dan sorry banget yang nungguin One Last Cry, chapter berikutnya akan saya tulis ulang lagi soalnya ikut kehapus bersama dengan foldernya T__T jadi akan saya publish lusa. thanks~~ xoxo

Advertisements

9 thoughts on “[Oneshoot] JOY

  1. Lahaula malah fokus ke kris-jiyeon nya padahal main cast nya joy wkwkwk :””)) suka banget lah wkwk kirain jiyon bakal jadi ibu tiri jahat etaunya engga wkwk.. Joy cepatlah buka hatimu biar nanti kamu sama jiyeon bisa kaya aurel ashanty*apalah apalah* wkwk ciee jungkook soswit ihiy wkwk.. Sequel dong thorrr… Ampe krisyeon nikah terus punya anak lagi buat jadi adenya joy teruuss ampr joy jungkook nikah wkwkwk

  2. Jiyeon “miss universe” setuju banget, Jiyeon jadi apa aja cocok deh, keibuan oke, manja juga oke, pokoknya suka banget ma jiyeon, ceritanya juga seru dan keren. Semoga arin bisa terus dapet inspirasi buat nulis ff tentang jiyeon 🙂

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s