[Oneshoot] Autumn Event – Precious You

PY

Chunniest and Amy Park Present

A Fanfic Requested by Sarah

Precious You

Genre: Romace – Family – Drama | Lenght : Oneshoot | Rated: PG15

Kim Ji Won a.k.a Kim Bobby (iKON)

Lee Hi a.k.a Lee Hayi / Kim Hayi

Supporting Cast :

Shin Jimin (AOA)

Aku pikir, bersamanya seumur hidup bukan pilihan yang tepat.”

^

^

Sorot mata penuh kebencian adalah hal pertama yang Hayi lihat saat bertemu dengan seorang lelaki bernama Kim Bobby. Hingga tiga tahun berikutnya, Hayi masih melihat sorot yang sama di mata lelaki itu.

Hayi melihat lelaki itu berjalan ke arahnya bersama seorang gadis cantik di sampingnya. Wajahnya berubah dingin saat melihat Hayi. Lelaki itu membuang muka dan tak mempedulikan Hayi saat mereka melewatinya.

Oppa,” panggil Hayi, tetapi Bobby masih berjalan dan tidak mengindahkan panggilan itu.

“Bobby oppa.”

Seketika langkah Bobby terhenti mendengar panggilan Hayi yang lebih lengkap. Melihat kesempatan itu, Hayi segera berlari menghampiri Bobby yang tak berbalik.

Oppa, aku datang membawa makan malam untukmu. Appa dan eomma sangat khawatir karena oppa tak kunjung menghubungi mereka.”

Bobby menatap kotak bekal besar di tangan Hayi, kemudian tatapannya beralih pada gadis dua tahun lebih muda, yang tadi berjalan di sampingnya.

“Aku tidak butuh itu. Katakan pada appa tak perlu mengkhawatirkanku, karena aku bisa menjaga diri. Dan untuk eomma, lebih tepatnya eomma-mu, tak perlu bersandiwara karena aku muak melihatnya.”

Genggaman tangan Hayi di bekal itu mengerat mendengar hinaan yang selalu didengarnya dari Bobby. Memang, setelah kedua orang tua mereka menikah, Bobby tak sedikitpun memberikan respon yang baik. Dia selalu menunjukkan sikap penuh kebencian kepadanya dan juga ibunya. Hayi membalas tatapan tajam Bobby.

Oppa boleh saja menghinaku sesuka hati. Namun, jangan pernah menghina eomma seperti itu. Eomma tak pernah bersandiwara apapun karena eomma sangat tulus menyayangimu, Oppa!”

Terdengar tawa sinis dari lelaki itu. “Terserah katamu. Tapi aku tetap tidak mau menerimanya.”

Oppa, siapa dia?” Hayi bisa mendengar pertanyaan gadis berambut merah sebahu itu. Kehadiran Hayi seakan tidak ada bagi Bobby.

“Dia bukanlah siapa-siapa. Kita pergi,” Ucap Bobby menarik gadis itu seraya meninggalkan Hayi.

Kepala Hayi pun segera tertunduk, dan air mata yang sedari tadi ia tahan pun pada akhirnya menetes. Hayi sungguh tak tahu mengapa Bobby sangat membencinya.

Selama tiga tahun, Hayi selalu berusaha menjadi adik yang baik untuk Bobby, tetapi lelaki itu tak pernah sedikitpun tersenyum bangga padanya. Saat mendengar ibunya akan menikah dan Hayi akan memiliki kakak lelaki, gadis itu begitu senang dan tak sabar bertemu kakak yang bisa diajaknya bersenang-senang bersama. Namun, hal itu tak pernah terjadi mengingat Bobby sangat membencinya.

*     *     *     *     *

Lee Hana, ibu kandung Hayi, memasuki dapur saat putrinya sedang membungkus sebuah bekal. Wanita itu menghampiri Hayi dan menepuk bahunya.

“Apa kau akan ke sana lagi?” Tanya Hana yang dibalas oleh anggukkan Hayi tanpa menghentikkan kegiatannya.

“Aku rasa Bobby tidak akan menerimanya lagi.”

Senyuman tersungging dari bibir merah muda Hayi. Gadis itu tidak langsung menjawab perkataan ibunya. Ia menalikan pita sehingga membentuk sebuah kupu-kupu di atas bekal itu terlebih dahulu kemudian menoleh pada ibunya, “Mungkin oppa akan menolaknya. Tapi tidak ada salahnya jika aku memaksa dia menerima makan malam ini, kan, eomma?”

Hana pun mengelus rambut coklat Hayi yang tergerai. “Apa kau sangat ingin Bobby menyayangimu seperti adiknya?”

Aku ingin lebih dari itu eomma, jawab Hayi dalam hati. Dia tidak mungkin mengatakan keinginan yang sesungguhnya pada sang ibu.

“Ya, eomma,” jawab Hayi sambil tersenyum.

“Kau gadis yang baik, Hayi. Eomma yakin suatu saat Bobby akan menyayangimu. Appa dan eomma akan sangat bahagia jika kalian bisa menjadi kakak dan adik yang saling menyayangi.”

Hayi pun hanya bisa mengangguk, menyetujui ucapan ibunya.

“Kalau begitu, aku pergi dulu, eomma.”

Hana mengangguk, “Hati-hati.”

Hayi mencium pipi ibunya sebelum ia pergi meninggalkan kediaman keluarga Kim. Gadis itu mengeratkan jaketnya saat udara dingin menerpa tubuhnya begitu ia membuka pintu. Namun, semangat Hayi menghangatkan tubuh gadis itu. Udara dingin tidak akan mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Bobby. Ia tipikal gadis yang pantang menyerah.

Hayi menatap bekal di tangannya dan tersenyum mengetahui dirinya akan bertemu dengan seseorang yang sudah menarik perhatiannya selama tiga tahun. Hayi tahu, sebagai adik dia tidak boleh memiliki perasaan ini. Namun setiap hati tidak mungkin bisa dikendalikan, sama halnya dengan hati gadis itu. Perasaan itu muncul seiring rasa penasaran Hayi pada Bobby yang membencinya.

Hayi bertekad tidak akan menyerah menghadapi kakak tirinya. Seperti kata ibunya, Bobby pasti juga akan menyayanginya seperti gadis itu menyayangi Bobby. Memikirkan hal tersebut, Hayi pun bersenandung senang seraya berjalan menuju rumah kecil Bobby.

*     *     *     *     *

Hari sudah malam saat Bobby menyusuri rute menuju apartemen kecil yang disewanya. Kuliah seharian sudah membuat otak dan tubuhnya lelah. Hanya satu yang diinginkan lelaki itu, segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Meskipun apartemennya tidak sebesar rumahnya, tapi Bobby merasa nyaman tinggal di sana.

Bobby menaiki tangga satu persatu. Namun, di tangga terakhir langkahnya terhenti saat melihat seseorang duduk di depan pintu apartemennya. Meskipun wajahnya tersembunyi di balik kedua lututnya, Bobby masih bisa mengenali sosok adik tirinya. Lelaki itu kembali berjalan ke arah Hayi. Mendengar suara ketukan langkah kaki, Hayi pun mendongak. Seketika Hayi segera berdiri melihat Bobby datang. Seperti biasa, hanya ekspresi dingin yang ditunjukkan lelaki itu.

Oppa, aku datang membawa makan malam lagi,” ucap Hayi dengan suara bergetar.

Bobby yang sedang membuka kunci pintu langsung menoleh mendengar nada aneh di suara Hayi. Terlihat wajah Hayi begitu pucat dan bibirnya bergetar karena menggiggil kedinginan.

“Sudah berapa lama kau di sini?”

“Entahlah. Dua jam, mungkin.”

“Pulanglah,” usir lelaki itu.

Bobby membuka pintu dan langsung masuk ke dalam. Hayi pun segera mengikuti Bobby sebelum lelaki itu menutup pintunya.

“Kubilang, pulanglah.”

“Tidak sebelum oppa menerima makan malam ini.” Hayi menyerahkan kotak bekal pada Bobby.

“Aku tahu oppa membenciku dan eomma, tapi paling tidak hargailah masakan eomma. Eomma sudah bersusah payah membuat makanan ini. Sayang, kan, jika makanan seenak ini dibuang?”

Bobby menghela napas berat, pada akhirnya ia mengambil bekal itu dari tangan Hayi.

“Baiklah. Hanya kali ini saja. Jangan datang lagi. Sekarang, pulanglah.”

Bibir Hayi melengkung senang, akhirnya kakaknya menerima bekal itu.

“Baiklah. Sampai jumpa besok, Oppa.”

“Tidak ada kata ‘besok’. Sudah kubilang, jangan ke sini lagi.”

“Baiklah.”

Sesuai janjinya, Hayi pun harus pulang setelah Bobby menerima bekal itu. Baru dua langkah berjalan, Hayi pun berhenti. Bobby melihat adiknya masih terdiam, lelaki itu pun memutuskan untuk menunggu sampai gadis itu benar-benar pergi. Namun, hal berikutnya yang terjadi, Bobby segera menahan tubuh Hayi yang jatuh pingsan. Lelaki itu menunduk dan melihat wajah Hayi semakin pucat dan tubuhnya menggigil. Akhirnya Bobby pun membawa Hayi masuk ke dalam apartemennya.

*     *     *     *     *

Bobby memeras handuk kecil hingga mengeluarkan air yang ada di dalamnya. Diletakkannya handuk kecil itu di atas dahi Hayi yang panas. Bobby mengamati wajah Hayi yang masih belum sadarkan diri. Mata coklat tua Hayi yang besar jika terbuka, bibir mungilnya yang penuh, dan semua detil wajah Hayi tak pernah hilang dari ingatan Bobby. Tangan lelaki itu terulur mengelus pipi Hayi yang terasa panas.

“Maafkan oppa karena oppa harus berpura-pura membencimu, Hayi-ah,” ucap Bobby sambil menyunggingkan senyuman yang tidak pernah diperlihatkan di hadapan gadis itu.

Tatapan Bobby tertuju pada bekal yang tergeletak di lantai dan masih rapi. Perut Bobby pun mulai protes karena belum kunjung diisi sejak siang tadi. Lelaki itu berdiri dan mengambil bekal itu.

Oppa… Bobby oppa…”

Bobby menoleh dan melihat Hayi mengigau memanggil dirinya. Lelaki itu meletakkan bekal kembali ke lantai lalu menghampiri Hayi. Dia melihat Hayi terus memanggil meskipun gadis itu belum membuka matanya. Tangan Bobby terulur menggenggam tangan Hayi yang panas.

“Aku di sini, Hayi.”

Mendengar bisikan Bobby, Hayi pun kembali tenang. Tatapan Bobby tertuju pada tangannya yang begitu pas menggenggam tangan Hayi yang lebih kecil darinya. Dia menarik tangan Hayi dan mencium punggung tangannya. Bibirnya menyunggingkan senyuman senang bisa menggenggam tangan gadis itu.

Selama ini lelaki itu selalu memiliki keinginan menggenggam tangan gadis itu. Namun, ia takut akan menginginkan hal yang lebih jika dia sudah menggenggam tangan Hayi. Bobby pun merebahkan tubuhnya di samping Hayi. Dia masih mengamati wajah Hayi yang begitu cantik dari samping. Semakin lama, mata lelaki itu semakin berat hingga akhirnya dia pun terlelap di samping Hayi.

*     *     *     *     *

Burung-burung dengan riang berkicau memulai pagi. Matahari pun mulai muncul menerangi kota Seoul. Merasakan hangatnya sinar matahari yang mengintip dari jendela, Hayi perlahan membuka matanya. Dia mengedipkan matanya dan merasa asing dengan langit kamar di atasnya. Gadis itu menoleh dan melihat Bobby yang tengah tidur di sampingnya, masih dengan menggenggam tangannya.

Sebuah senyuman menggambarkan betapa bahagianya gadis itu melihat kakaknya menggenggam tangannya dan tidur di sampingnya. Gadis itu ingin menghentikan waktu dan terus merasakan kedekatan ini. Terdengar erangan dan Bobby pun mulai membuka mata. Melihat Hayi masih menatapnya, Bobby segera melepaskan genggaman tangannya dan terduduk.

“Pulanglah dan jangan pernah kembali lagi,” Bobby berdiri lalu menghampiri wastafel dan mencuci mukanya.

“Mengapa oppa sangat membenciku?”

Bobby tak menjawab pertanyaan Hayi dan melanjutkan menggosok giginya. Hayi berdiri dan menghampiri kakaknya tersebut. Kedua tangan Hayi terulur memeluk punggung Bobby.

“Apa yang harus aku lakukan agar oppa tak membenciku? Melihat tatapan penuh kebencian dari oppa selalu membuat hatiku sedih. Katakan, Oppa, apa yang harus kulakukan agar oppa tidak membenciku? Aku akan melakukan segalanya agar oppa bisa menyayangiku.”

Bobby berkumur lalu mencuci tangannya. Dia mengeringkan tangannya dengan lap yang tergantung di sampingnya. Lelaki itu berbalik dan mendorong Hayi hingga menabrak dinding.

“Jika aku menginginkan tubuhmu, apa kau juga akan memberikannya?”

Tatapan Bobby memang setajam biasanya tapi Hayi tak menemukan sorot kebencian yang biasa ia lihat.

“Jika itu bisa membuat oppa menyayangiku, aku akan memberikannya.”

Hayi membuka kancing kemejanya satu persatu tanpa mengalihkan tatapannya dari Bobby. Kancing kesatu terbuka, lalu sama halnya dengan kancing kedua, dan kancing ketiga tertahan karena tangan Bobby menghentikannya.

“Hentikan. Apa kau akan melakukan hal ini pada lelaki yang membencimu? Tidakkah kau merasa seperti perempuan murahan? Pulanglah! Aku tidak ingin melihatmu lagi!”

Bobby berbalik, tak ingin melihat Hayi dengan kemeja yang setengah terbuka. Gadis itu pun menggelengkan kepalanya dan diikuti air mata keluar dari pelupuk matanya.

“Tidak. Aku hanya melakukannya pada oppa saja. Aku hanya ingin oppa menyayangiku. Jika aku bisa memberikan tubuh ini, aku rela asal bisa menggantikan posisi gadis yang oppa bawa kemarin.”

Mendengar pengakuan Hayi, Bobby kembali berbalik dan menatap Hayi tepat di kedua mata. Sesungguhnya lelaki itu tidak percaya dengan perkataan Hayi. Seorang gadis yang ia ketahui sangat baik dan terlihat polos, bisa dengan rela melakukan hal seperti itu hanya demi dirinya. Bobby pun berucap, “Apa kau gila?”

“Aku tahu aku sudah sangat gila karena menyukai kakak sendiri, tapi kita bukanlah saudara kandung, Oppa. Jika oppa tak mengijinkanku menggantikan gadis itu, paling tidak janganlah membenciku. Aku tidak ingin dibenci olehmu, oppa.”

Hayi pun terduduk di lantai dan menangis. Bahunya bergetar seiring tangisan putus asanya terdengar. Perlahan Bobby menghampiri adiknya dan ikut duduk di hadapannya. Dia menatap wajah adiknya yang sudah basah karena air mata.

“Maafkan oppa, oppa tidak tahu jika kau memiliki perasaan yang sama.”

Tangis Hayi terhenti dan dia pun menatap Bobby kaget.

“Jadi oppa…”

Bobby mengangguk. “Ya, oppa sangat menyayangimu sebagai seorang gadis, bukan sebagai kakak pada adiknya. Oppa sadar jika kita kakak beradik, karena itu oppa berpura-pura membencimu dan berusaha mengubur perasaan ini. Maafkan aku, oppa tidak tahu jika kau begitu menderita karena sikapku.”

Hayi menyunggingkan senyuman dan gadis itu langsung memeluk Bobby erat.

“Jangan berpura-pura membenciku lagi, Oppa.”

“Tidak akan, Hayi-ah, karena oppa sangat menyayangimu.”

Hayi tersenyum bahagia mendengar kakaknya memanggil namanya.

*     *     *     *     *

Hayi menatap wajahnya yang sudah dirias tipis di cermin. Rambut coklat panjangnya digelung ke belakang, meninggalkan anak-anak rambut yang sudah tertata rapi. Ponsel Hayi bergetar dan dengan semangat gadis itu membuka pesan yang baru saja masuk.

Aku sudah di taman. Cepatlah datang.

Hayi pun membalas pesan dari Bobby sebelum akhirnya mengambil tas dan keluar dari kamarnya. Di dapur, ibu Hayi yang sedang menata makan siang langsung menoleh ketika mendengar Hayi berlari turun ke lantai satu.

“Hayi-ah, sebentar lagi makan siang. Kau mau ke mana?” Tanya Hana melihat putrinya yang tengah mengenakan sepatu.

“Aku tidak ikut makan siang, eomma. Aku ada janji dengan temanku. Aku pergi dulu, eomma!” Hayi melambaikan tangannya lalu keluar dari rumah. Hana hanya bisa menggeleng melihat tingkah putrinya yang selalu riang.

………

Seorang lelaki mengenakan jaket tebal hitam dengan topi yang dipakai terbalik tengah duduk di bangku taman. Terdengar ponselnya berbunyi. Dia pun meraih benda itu dan membuka pesan yang masuk.

Tunggu aku, Oppa. Aku segera datang.

Bobby tersenyum membaca pesan dari Hayi. Dia pun dengan sabar menanti kekasihnya. Ya, kekasihnya. Sejak Hayi menginap di apartemennya dan sejak Hayi mengaku memiliki perasaan yang sama dengannya, Bobby pun tidak menghilangkan kesempatan untuk menjalin hubungan yang sudah lama ia inginkan bersama Hayi. Sekarang, ia tidak perlu pura-pura membenci Hayi lagi karena gadis itu juga mencintainya.

Bobby tahu, tidak seharusnya menjalani hubungan layaknya sepasang kekasih dengan Hayi, mengingat keduanya sudah resmi menjadi kakak-adik tiri. Namun, hati dan tubuhnya tidak bisa mengelak jika ia ingin memiliki Hayi, mengesampingkan kenyataan bahwa gadis itu adalah adiknya. Biarlah dirinya dicap sebagai lelaki egois yang mungkin akan mengecewakan ayahnya kelak. Ia tidak peduli, karena yang ia inginkan adalah mencintai Hayi sepenuhnya sebagai seorang gadis. Ia lelah jika harus terus berpura-pura membenci Hayi.

Sebuah senyuman merekah pada bibir Bobby ketika ia melihat Hayi berlari ke arahnya. Lelaki itu pun segera berdiri dan meraih gadis itu ke dalam pelukannya.

“Aku sangat merindukanmu, Hayi-ah.”

Hayi juga tersenyum dan membalas pelukan lelaki itu.

“Aku juga sangat merindukanmu, Oppa.”

Bobby melepaskan pelukannya dan menatap gadis itu.

“Kau sudah satu minggu tidak datang, jadi hadiah apa yang akan kau berikan pada kekasihmu yang sabar ini?”

“Baiklah, aku akan mentraktir oppa makan. Bagaimana?”

Shirreo.”

“Kalau aku teraktir es krim, bagaimana?”

“Aishh… Kau pikir aku anak kecil?”

Hayi tertawa melihat Bobby yang terlihat kesal. Tiba-tiba Bobby menarik tengkuk Hayi dan mencium pipinya.

“Itu baru hadiah yang tepat. Ayo kita pergi berkencan,” Bobby pun menarik Hayi yang tersipu malu.

Mereka berdua memutuskan berkencan di COEX Aquarium. Banyak sekali ikan dalam berbagai bentuk dan ukuran yang ditampilkan di tempat itu. Terkadang, Bobby menirukan bibir ikan-ikan yang lucu, membuat Hayi tertawa melihatnya. Mereka juga takjub melihat ikan yang berukuran besar atau pun ikan yang memiliki tubuh cantik. Bobby dan Hayi terlihat sangat serasi sehingga tak ada yang menyangka mereka adalah kakak dan adik.

Setelah puas melihat ikan-ikan, Bobby mengajak Hayi makan di salah satu restoran yang ada di sana. Bobby mengamati Hayi yang masih membaca menu makanan. Dengan bibir yang sedikit maju, Hayi terlihat sangat imut.

“Bagaimana dengan spaghetti, bukankah kau menyukainya?”

Hayi meletakkan menu makanan dan menatap Bobby tak percaya.

“Bagaimana oppa bisa tahu?”

“Aku selalu tahu apa yang kau suka dan apa yang tidak kau suka.”

“Apa Oppa sekarang bekerja sebagai peramal, eoh?” Bobby tertawa mendengar candaan Hayi.

“Tentu saja tidak.”

Akhirnya mereka pun memesan spaghetti untuk mengisi perut mereka yang keroncongan. Acara makan itu diiringi canda tawa dan juga terkadang Bobby menyuapkan mie pada Hayi layaknya sepasang kekasih. Mereka berdua tak ingin menukarkan apapun untuk bisa menikmati momen-momen bahagia seperti ini.

Oppa.”

Bobby dan Hayi menoleh dan terkejut melihat gadis yang bersama lelaki itu minggu lalu.

“Jimin, apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku sedang menemani adikku. Bukankah dia adalah gadis yang berdiri di apartemenmu minggu lalu? Siapa dia, Oppa?”

“Dia adalah adikku. Kim Hayi.”

Hayi tampak kesal karena Bobby mengenalkan dia sebagai adiknya.

“Oh… Kenapa kau tidak memperkenalkanku minggu kemarin, Oppa? Aku jadi belum memperkenalkan diri pada anggota keluargamu. Annyeong Hasseyo, aku Shin Jimin, teman Bobby oppa,” Jimin mengulurkan tangan untuk berkenalan.

Hayi memaksakan senyumannya dan membalas uluran tangan Jimin. “Annyeong hasseyo, aku Kim Hayi.”

“Kalau begitu, bolehkah aku dan adikku bergabung di sini?” Jimin menunjuk adik perempuan yang berdiri di sampingnya.

“Tentu saja,” jawab Bobby membuat hati Hayi semakin kesal karena kencan mereka terganggu.

Gomawo. Perkenalkan, dia adalah adikku, Shin Jinhee,” Jimin memperkenalkan gadis kecil berambut hitam panjang dan cantik. Jimin dan adik perempuannya pun bergabung bersama Bobby dan Hayi. Hayi tampak semakin kesal melihat Bobby dan Jimin terlihat begitu akrab. Bahkan tak jarang Bobby dan Jinhee tertawa mendengar cerita Jimin, sedangkan Hayi memilih diam dan tak ingin berkata sedikitpun.

“Hayi-ah… Hayi-ah…” Panggilan Jimin menyadarkan Hayi dari lamunannya.

Hayi melihat Bobby menatapnya cemas. Hayi langsung memaksakan senyuman di wajahnya.

“Ada apa, Eonnie?”

“Kata Bobby kau selalu mendapatkan peringkat pertama di sekolah. Benarkah itu?”

“Ya, itu benar,” Hayi mengangguk membenarkan ucapan Jimin.

Ommo.. Hebat sekali. Aku bahkan belum pernah menyentuh peringkat itu. Apa kau sudah memiliki pacar, Hayi-ah?”

Seketika Hayi terdiam. Dia pun melihat ke arah Bobby.

Ne.”

Ommo… Pasti kekasihmu beruntung sekali mendapat perempuan yang cantik dan pintar.”

Gamsahamnida, Eonnie.” Tanpa Jimin sadari, Bobby dan Hayi saling berpandangan dan melemparkan senyuman.

*     *     *     *     *

Hari sudah gelap ketika Bobby berjalan mengantar Hayi. Sejak meninggalkan COEX Aquarium, lelaki itu tak mendengar Hayi berceloteh lagi seperti saat mereka berangkat. Gadis itu tampak cemberut dan menekuk wajahnya. Bahkan terkadang gadis itu menendangi kerikil yang menghalangi jalannya.

“Ada apa, Hayi-ah? Dari tadi kau diam saja?” Tanya Bobby melihat reaksi Hayi.

Hayi tak kunjung menjawab. Dia terus berjalan tanpa menoleh ke arah Bobby. Langkah kaki gadis itu terhenti saat Bobby menahan tangannya. Hayi menatap Bobby kesal.

“Apa oppa hanya menganggapku seperti adik saja? Mengapa oppa tidak mengatakan pada Jimin eonni jika kita berpacaran?”

“Jadi hanya karena itu kau marah?”

Hayi menatap lelaki di hadapannya tak percaya. ” Hanya? Apa bagi oppa aku bukan orang yang penting?”

Bobby tersenyum lalu menangkup kedua pipi Hayi yang mulai dingin diterpa angin.

“Sejak mengetahui perasaanku, bagi oppa tidak ada gadis lain yang lebih penting dari seseorang yang sudah menarik perhatianku. Gadis yang sudah merengkuh duniaku. Dan saat ini, gadis yang sangat penting itu sudah berdiri di hadapanku. Tak ada hal yang lebih membahagiakan selain mendapati kau di sisiku, Hayi-ah.”

Hati Hayi seakan bersorak gembira mendengar ucapan romantis lelaki di hadapannya. Seakan ada kembang api yang meledak-ledak di dalam hati gadis itu.

“Tapi bagaimana dengan Jimin eonnie?”

“Jimin adalah teman sekampusku. Dan banyak teman kampusku yang tahu jika kau adalah adikku. Jika aku memperkenalkan dirimu sebagai kekasihku maka semua orang juga akan tahu termasuk appa dan eomma. Jika hal itu terjadi, mereka akan memisahkan kita. Dan aku tak ingin mengambil resiko kehilanganmu.”

Hayi merutuki dirinya sendiri karena sudah marah pada Bobby. Padahal, kekasihnya sudah berpikir sejauh itu demi hubungan mereka.

“Tapi minggu lalu oppa mengajak Jimin eonnie ke apartemenmu.”

“Kami hanya mengerjakan tugas bersama. Apa kau cemburu?”

Hayi memajukan bibirnya kesal. “Tentu saja.”

Gemas, Bobby mencubit lembut pipi Hayi.

“Tenang saja, aku dan Jimin tidak memiliki hubungan lebih dari teman. Percayalah pada oppa. Sudah malam, lebih baik kau cepat pulang. Appa dan eomma pasti mencemaskanmu.”

Ne, Oppa,” Hayi pun berbalik berjalan meninggalkan Bobby.

Baru berapa langkah berjalan, gadis itu kembali berbalik dan berlari menuju Bobby. Sebuah kecupan kilat pun langsung mendarat di bibir Bobby.

“Sampai jumpa, Oppa.” Hayi pun berlari meninggalkan Bobby yang tersenyum senang.

*     *     *     *     *

Hayi memasukkan nasi dan lauk pauk ke dalam sebuah tempat makan tanpa melepaskan senyumannya. Sudah seminggu ia menjalani hubungan cinta dengan Bobby, membuat rasa bahagia gadis tersebut tidak pernah hilang. Ia pun sudah tidak sabar untuk memberikan bekal makan siang untuk Bobby dan menghabiskan waktu bersama lelaki itu.

“Ini perasaanku saja atau memang kau semakin sering mengantarkan bekal makan untuk Bobby?” tanya Hana. Hayi terlalu fokus menyiapkan bekal makan sehingga ia tidak menyadari kehadiran sang ibu yang sudah berdiri di hadapannya. Gadis itu pun hanya memberikan senyuman kecil sebagai jawaban atas pertanyaan ibunya.

“Oh, apa arti dari senyuman itu, Hayi? Apakah Bobby sudah mulai membuka hatinya untuk menerima bekal makan?”

Hayi pun terkekeh. “Aku tidak akan menyiapkan bekal makan siang ini dengan wajah ceria jika Bobby oppa masih tidak mau menerimanya, Eomma.”

Sebelah alis Hana terangkat. Ia bingung sekaligus tidak percaya dengan pernyataan putrinya. “Dia sudah tidak membencimu?”

“Bahkan, Bobby oppa sudah menyayangiku,” ujar Hayi tanpa mengurangi konsentrasinya dalam menata bekal makan siang.

Setelah selesai menyiapkan makan siang untuk Bobby, perhatian Hayi pun tertuju pada ibunya. Senyuman gadis itu perlahan memudar ketika menyadari tatapan sang ibu yang begitu dalam kepadanya. Bahkan, mata ibunya kini tampak berkaca-kaca hingga pada akhirnya wanita itu meneteskan air mata.

Eomma, kenapa kau menangis?” tanya Hayi khawatir.

Hana menggelengkan kepala, memberitahu Hayi bahwa dirinya baik-baik saja. “Aku bahagia, Hayi. Aku menangis karena bahagia. Syukurlah jika Bobby sudah mulai menyayangimu, sehingga rasa bersalah itu tidak akan menghantui aku lagi.”

Dahi Hayi berkerut. “Rasa bersalah?”

Hana mengangguk. Ia mengusap rambut Hayi dengan penuh kasih sayang terlebih dulu sebelum berkata, “Kau anakku satu-satunya. Sejak aku menikah dengan Tuan Kim, aku sangat berharap kau akan bahagia, karena akhirnya kau memiliki seorang ayah juga seorang kakak laki-laki yang bisa menjadi pelindungmu.”

Mendengar ucapan ibunya, kepala Hayi tertunduk. Tiba-tiba saja sebuah perasaan yang mengganjal menghampiri hatinya. Entah mengapa, ia merasa bersalah pada ibunya.

Hayi pun kembali mendengar ucapan sang ibu dalam diam. “Namun, Hayi, melihat sikap Bobby yang tampak membenci kita ketika pertama kali menjadi bagian dari keluarga Kim, aku sangat sedih. Dan aku semakin merasa bersalah ketika melihat kau dengan sabar mendekati Bobby. Kau tidak pernah berhenti memberi bekal makan pada Bobby walau kau tahu dia tidak akan menerimanya. Melihat itu, hatiku amat perih, tapi sayangnya aku tidak bisa berbuat apapun. Maafkan aku, Hayi.”

Gadis itu mencoba tersenyum. “Tidak apa-apa, Eomma. Lagipula, sekarang Bobby oppa sudah menyayangiku.”

“Ya… tentu saja, Hayi, Bobby sudah menyayangimu dan akan terus menyayangimu,” ujar Hana sambil menyeka air matanya. Ia pun tersenyum, “Aku harap kalian menjadi kakak-adik yang baik. Memiliki keluarga kecil seperti ini adalah impianku, Hayi. Melihat kau bahagia dengan seorang kakak lelaki yang menyayangimu seperti Bobby adalah impianku. Aku sangat bahagia jika Bobby sudah mulai menyayangimu sebagai adiknya.”

“Jika kau bahagia, maka jangan menangis lagi, Eomma. Jangan membuatku khawatir,” tutur Hayi seraya menggegam tangan ibunya.

Hana membalas genggaman Hayi dengan erat. “Aku tidak akan menangis lagi. Aku berjanji.”

Hayi pun mengambil bekal makan siang untuk Bobby seraya menyentuh bahu ibunya dengan pelan. “Aku pergi dulu, Eomma.”

Hana mengangguk dengan semangat. “Baiklah, hati-hati. Juga, sampaikan salamku pada Bobby, ya!”

Hayi menjawab ucapan sang ibu dengan senyuman kecil, kemudian ia pun melangkah pergi. Seluruh perkataan ibunya barusan membuatnya berpikir, apa aku pantas menjalani hubungan sebagai kekasih Bobby oppa untuk selamanya?

*     *     *     *   *

Perkataan sang ibu masih terngiang di telinga Hayi. Gadis itu memerhatikan Bobby yang tengah lahap memakan bekal makan siang darinya. Logika dalam diri Hayi mengatakan bahwa hubungannya dengan Bobby tidaklah benar dan ia harus segera mengakhirinya, tetapi hati Hayi berkata bahwa ia tidak bisa melepaskan Bobby karena gadis itu sudah terlanjur mencintainya.

“Kenapa menatapku seperti itu? Apa aku terlalu tampan buatmu?”

Tawa Hayi pun terdengar, “Kau terlalu percaya diri, Oppa!”

Bobby membalas perkataan Hayi dengan senyuman. Lelaki itu membersihkan sisa makanan yang ada di sekitar mulutnya dengan sapu tangan ketika sudah selesai makan. Setelah itu, ia menatap Hayi dengan serius. “Sepertinya kau sedang banyak pikiran. Jika ada masalah, kau bisa menceritakannya padaku, Hayi-ah.”

Gadis itu menghela napas seraya berkata, “Oppa, apa hubungan kita akan terus seperti ini selamanya?”

Sebelah alis Bobby terangkat, sedikit heran dengan pertanyaan yang dilontarkan Hayi. “Kenapa kau bertanya seperti itu?”

Senyuman tipis tersungging dari bibir Hayi. “Tidak apa-apa. Hanya saja, mungkin kita akan menyakiti perasaan appa dan eomma, karena menjalani hubungan yang tidak semestinya.”

“Jangan merasa bersalah pada mereka, Hayi,” Tukas Bobby yang membuat Hayi menatapnya serius. “Kita saling mencintai, bukan? Jika kita memang saling mencintai, maka sudah sepantasnya kita menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih. Aku juga bukan orang bodoh, Hayi, dan aku sangat paham jika hubungan kita adalah hal yang tabu. Menyakiti perasaan kedua orangtua kita? Tentu saja. Namun, rasanya akan lebih tersiksa jika berpisah dan mementingkan perasaan kedua orangtua kita.”

Hayi mengangguk, membenarkan perkataan Bobby, tetapi masih tampak kecemasan di dalam wajah mungilnya. “Tapi aku merasa bersalah pada mereka, Oppa.”

Bobby menghela napas. “Tentu saja. Tentu saja kita berbuat salah pada mereka. Namun, bukankah manusia memang diciptakan untuk berbuat kesalahan, Hayi-ah? Jadi, kau tidak perlu khawatir.”

Benar, setiap manusia diciptakan untuk berbuat kesalahan. Namun, Hayi tidak bisa menuruti perintah kakaknya untuk tidak mengkhawatirkan perasaan kedua orangtuanya. Setidaknya, ia tidak ingin membuat wanita yang telah melahirkannya merasa kecewa.

*     *    *     *     *

“Malam, Hayi.”

Hayi tersenyum pada Tuan Kim yang bergegas untuk duduk di hadapannya. “Selamat malam juga, Appa.”

Hayi dan Tuan Kim sedang duduk di meja makan, bersiap untuk menyantap makan malam mereka, sedangkan Lee Hana tengah sibuk menyiapkan dan menata makanan di atas meja.

“Bagaimana, Hayi, apa kau sudah mengambil keputusan untuk meneruskan pendidikan di sebuah universitas?” tanya Tuan Kim lagi.

“Hayi ingin masuk Kedokteran di Seoul National University. Ia ingin menjadi dokter sepertimu, tetapi dia ragu karena biaya pendidikan di sana sangat mahal,” jawab Hana yang telah selesai menyiapkan makanan seraya duduk di samping Tuan Kim.

“Ah, Eomma, kenapa berkata seperti itu…”

“Karena memang itu yang kau katakan padaku kemarin,” ujar Hana sambil tersenyum.

“Jika memang kau ingin masuk Kedokteran di Seoul National University, aku akan mendukungmu. Masalah biaya, kau serahkan padaku saja, Hayi-ah. Kau adalah anak yang pintar. Jangan memikirkan biaya pendidikan dan kejarlah saja cita-citamu.”

“Tapi biaya kuliah di sana terbilang sangat mahal, Appa. Aku tidak ingin merepotkanmu,” ujar Hayi.

Tuan Kim tersenyum, “Bagiku, tidak ada kata ‘terlalu mahal’ untuk mencari ilmu. Jangan merasa terbebani, karena sudah menjadi kewajibanku untuk membiayai hidupmu, Hayi-ah. Lagipula, jika memang kau merasa tidak enak, kau bisa mengurangi beban biaya dengan mencari beasiswa. Seoul National University memang universitas yang mahal, tetapi banyak beasiswa yang mereka tawarkan sebagai alternatif. Aku sangat mendukung keinginanmu meneruskan pendidikan di sana, Hayi. Dan percayalah, kuliah di Kedokteran Seoul National University tidaklah semahal yang kau bayangkan. Aku berkata jujur, karena aku pun alumni kampus itu,” jelas Tuan Kim seraya tertawa.

“Terima kasih, Appa. Aku akan belajar lebih giat lagi mulai sekarang,” ungkap Hayi pada akhirnya.

“Sebagai seorang ayah, aku akan terus mendukung cita-citamu.”

“Kau pasti sangat beruntung memiliki ayah sepertinya, Hayi,” tutur Hana seraya memberikan semangkuk nasi pada Hayi. Gadis itu hanya tersenyum kecil.

Mata Hayi pun ketika itu melekat pada sang ibu yang kini tengah menyajikan nasi untuk Tuan Kim. Ibunya tampak bahagia, terlihat dari sebuah senyuman yang terpancar dari bibirnya. Senyuman yang membuat hati Hayi terasa sejuk, sekaligus membuatnya merasa bersalah.

Sejak ayah kandungnya meninggal, ia tidak pernah melihat ibunya tersenyum seperti sekarang. Pada saat itu, yang Hayi lihat hanyalah air mata sang ibu yang kehilangan belahan jiwanya. Wanita paruh baya itu lebih sering mengurung diri di kamar, menangisi kepergian suaminya yang diakibatkan oleh sebuah kecelakaan pesawat.

Sekarang, kehadiran Tuan Kim pun bagaikan sebuah cahaya bagi ibunya. Pria itu mampu mengembalikan senyuman yang sempat hilang dari bibir wanita yang telah melahirkannya ke dunia. Dan… Hayi pun yakin ibunya akan sangat kecewa jika wanita itu mengetahui hubungannya dengan Bobby.

Tidak hanya ibunya, tetapi Tuan Kim pun pasti akan kecewa. Beban di pundak Hayi semakin berat ketika ia tahu betapa Tuan Kim menyayanginya sebagai anak. Pria itu dengan suka rela mengeluarkan biaya pendidikan untuk seorang anak yang bahkan bukan merupakan keturunannya. Jadi, bagaimana bisa Hayi tega menyakiti perasaan kedua orangtuanya tersebut? Bagaimana bisa ia menjadikan sebuah keegoisan hatinya sebagai balasan atas kebaikan Tuan Kim? Dan bagaimana bisa rasa cintanya pada Bobby ia gunakan sebagai senjata untuk kembali membunuh senyuman kebahagiaan yang terpancar dari bibir ibunya? Sungguh, Hayi merasa sudah melakukan sebuah kesalahan besar.

“Hayi, kenapa kau tidak memakan makananmu?” tanya ibu Hayi, menyadarkan gadis itu dari lamunannya.

“Ah, ya, aku akan memakannya, Eomma,” jawab Hayi cepat sambil tersenyum kaku.

*     *     *     *     *

Hayi menutup pintu kamar kemudian menguncinya. Gadis itu berjalan lunglai menuju tempat tidur sebelum akhirnya duduk di atasnya. Tangannya kini membuka sebuah laci yang ada di meja kecil di samping tempat tidur. Ia pun meraih sebuah bingkai foto yang sudah mulai berdebu. Hayi tersenyum melihat foto tersebut. Foto dirinya dengan ibu dan ayah kandungnya yang sedang tersenyum bahagia.

Telunjuknya kini bermain-main di bagian foto sang ayah. Tidak tahan, akhirnya Hayi pun menteskan air mata. “Seandainya kau masih di sini, Ayah. Kau tahu, kepergianmu bukan hanya meninggalkan sebuah kesedihan, tapi juga menumbuhkan luka yang dalam padaku. Jika saja kau masih hidup, aku mungkin akan bahagia menjadi kekasih Bobby oppa tanpa merasa bersalah pada eomma dan Tuan Kim.”

Hayi menyeka air matanya kemudian menyimpan kembali bingkai foto di laci. Gadis itu mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya ia memutuskan untuk mengubungi seseorang.

“Bobby oppa, apa kita bisa bertemu besok?”

*     *     *     *     *

Hayi memainkan kakinya di atas rumput. Angin musim gugur mulai terasa di tubuh sehingga ia mengeratkan jaket putih yang dikenankannya. Ia memerhatikan keadaan taman yang sepi karena masih pagi. Taman yang terletak di komplek rumahnya itu sama sekali tidak berubah, walau sudah lama ia tidak mengunjunginya. Sebuah taman yang mempertemukan dia dengan Bobby untuk pertama kali.

Empat tahun lalu, ketika ia baru pindah ke komplek perumahan ini, berkunjung ke taman adalah rutinitas yang ia lakukan setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah. Gadis itu sangat suka membaca buku di bangku taman sambil menghirup udara segar di pagi hari. Ketika membaca buku, Hayi pun sering melihat Bobby melewati taman itu dengan sepedanya. Pada saat itu, Hayi dan Bobby hanya bertegur sapa lewat sebuah senyuman kecil, dan sejak itulah Hayi mulai menaruh perhatiannya pada Bobby. Tak heran jika gadis itu sangat kaget ketika tahu bahwa Bobby akan menjadi kakak tirinya. Hayi pun lebih bersedih lagi saat Bobby berpura-pura membencinya ketika ibunya dan Tuan Kim telah resmi menjadi suami-istri.

“Mengenang pertemuan pertama kita, huh?”

Hayi mendongkak dan mendapati Bobby yang sudah berdiri di hadapannya. Lelaki itu tersenyum seraya duduk di samping Hayi. Gadis itu berucap, “Akan sangat berkesan lagi jika oppa ke sini dengan menggunakan sepeda.”

Bobby tersenyum, “Benarkah? Kalau begitu lain kali aku akan naik sepeda jika akan bertemu denganmu.”

“Ide yang bagus,” ungkap Hayi.

“Ada yang ingin kau sampaikan sehingga kau ingin menemuiku?”

Pertanyaan Bobby membuat senyuman Hayi memudar dengan perlahan. Dia pun mengalihkan perhatiannya dari Bobby dan menatap daun-daun yang mulai jatuh berguguran. Ia tahu keputusannya akan melukai hati Bobby, tetapi ia tetap harus mengatakan yang sesungguhnya jika ia ingin terbebas dari perasaan bersalah pada kedua orangtuanya.

“Aku pikir, kita tidak seharusnya bersama, Oppa.”

Bobby langsung menoleh dan menatap Hayi dengan sedikit tajam, “Apa yang membuatmu berpikir seperti itu, Hayi?”

“Aku tidak ingin mengecewakan ibuku, juga ayahmu. Hubungan kita akan melukai mereka, Oppa. Mari kita akhiri semua ini dan mencoba untuk menjadi kakak-adik sebagai mana mestinya,” ungkap Hayi tanpa melihat ke arah Bobby.

“Kau sudah tahu jawabannya, Hayi. Aku sangat benci jika harus menjadi kakakmu.”

“Hatiku juga perih jika aku harus menjadi adikmu, Oppa!”

“Lalu mengapa kau ingin mengakhiri hubungan kita?”

“Sudah aku jelaskan, aku tidak ingin menyakiti perasaan orangtua kita.”

Bobby tertawa sinis setelah mendengar alasan Hayi untuk kedua kalinya. Ia pun menyentuh dagu Hayi dan membuat gadis itu menatap matanya. Bobby menghela napas, mencoba menahan amarahnya seraya berkata, “Dengar, Hayi, hidup di dunia ini adalah tentang menyelamatkan diri dan bertahan. Agar kau bisa selamat dan bertahan, kau harus rela melihat orang lain terjatuh dan mati. Jadi, jika kau ingin bahagia, kau juga harus rela melihat kedua orangtua kita kecewa dan tersakiti.”

Hayi menjauhkan diri dari Bobby dan tersenyum lembut, “Aku tidak bisa, Oppa. Setidaknya aku tidak bisa membuat ibuku tersakiti.”

“Hatimu terlalu baik, Hayi.”

“Lagipula, semua ini akan percuma. Kita tidak mungkin selamanya menyembunyikan hubungan ini, bukan? Bahkan kelak kita tidak bisa menikah dan memiliki sebuah keluarga seperti pasangan normal lainnya karena orang-orang tahu kita adalah kakak-adik. Semua itu hanya akan menghabiskan waktu, Oppa.”

Bobby menggeleng, tidak setuju dengan perkataan Hayi. “Aku tidak peduli. Asal aku bisa berada di samping orang yang aku cintai dan memilikinya, aku tidak peduli. Aku mencintaimu, Hayi.”

Oppa—“

“Begini saja, Hayi,” Bobby pun memotong perkataan Hayi karena sudah terlalu lelah untuk berdebat. “Kau bisa mengakhiri hubungan ini dan tidak mengecewakan ibumu juga ayahku. Namun, tolong jangan berharap kita akan memiliki hubungan kakak-adik seperti yang kau inginkan, karena aku membenci hal tersebut. Kau boleh mengakhiri ini semua, tapi jangan berharap kau bisa bertemu denganku lagi. Apa kau sanggup?”

“…..”

Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut gadis itu. Hayi tampak kebingungan, sehingga Bobby pun kembali berucap, “Kau tidak sanggup, bukan? Maka dari itu, berhentilah merasa bersalah dan tetaplah bersamaku.”

Hayi menghela napas dan tersenyum samar pada Bobby, “Asalkan bersama, kita tidak apa-apa, bukan?”

“Kita akan baik-baik saja,” ujar Bobby kembali tersenyum lalu mengecup bibir Hayi dengan perlahan.

*     *     *     *     *

Jimin melihat semuanya. Jimin melihat Bobby mencium Hayi, gadis yang ia ketahui sebagai adik dari lelaki itu. Tentu saja perasaannya sakit melihat mereka berdua berciuman, karena sesungguhnya ia juga memiliki perasaan pada Bobby. Namun, hatinya lebih sakit lagi karena Bobby mencintai orang yang tidak seharusnya lelaki itu cintai, terlebih lelaki itu tidak memberitahukan Jimin tentang keadaan yang sesungguhnya.

Tidak ingin berlama-lama melihat kemesraan mereka berdua, Jimin pun melangkah mendekati Bobby dan Hayi. Gadis itu segera berdehem sehingga Bobby dan Hayi saling melepaskan ciumannya dan menatap kaget kepada Jimin.

“Aku tidak sengaja lewat sini ketika berangkat ke kampus, dan melihat kalian berciuman di pagi hari yang cerah ini ternyata membuat hatiku mendung, ya,” ujar Jimin sambil tertawa kaku.

“Jimin-ah…”

“Seharusnya kau berkata jujur padaku, Oppa. Kau seharusnya memperkenalkan Hayi sebagai kekasihmu pada saat itu. Kau tidak perlu berbohong, karena itu akan memberikan sebuah harapan yang sia-sia untukku.”

“Jimin eonni…” kali ini Hayi yang berucap, tetapi Jimin lagi-lagi memotong ucapannya.

“Aku tidak bisa membayangkan betapa kecewanya orangtua kalian,” tutur Jimin sambil tersenyum. “Semoga hari kalian menyenangkan.”

Jimin pun berbalik karena tidak ada yang ingin gadis itu sampaikan lagi. Ia pun melangkah meninggalkan Bobby dan Hayi dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.

*    *     *     *     *

Oppa, Jimin eonni sudah mengetahui hubungan kita. Apa yang harus kita lakukan?” tanya Hayi sambil membenamkan kepalanya di dada Bobby. Mereka berdua kini sedang duduk di sofa yang ada di apartemen lelaki tersebut.

“Semuanya akan baik-baik saja,” jawab Bobby, berbohong. Sesungguhnya ia pun tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Lelaki itu sebenarnya panik jika saja Jimin membeberkan tentang hubungannya dengan Hayi. Ia sudah menghubungi Jimin beberapa kali, tetapi ponsel gadis itu tidak aktif.

Oppa, apa Jimin eonni menyukaimu?”

Bobby tersenyum seraya mengusap rambut Hayi perlahan, “Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Aku tidak ingin dia memilikimu.”

“Jangan khawatir, Hayi, aku hanya mencintaimu,” ujar Bobby.

Hayi tersenyum, “Ya, oppa pasti—“

“Kim Bobby!”

Baik Hayi maupun Bobby menoleh. Keduanya saling menjauhkan diri dan segera berdiri dari sofa ketika melihat kehadiran Tuan Kim. Wajah Bobby tampak bingung, “Bagaimana appa bisa masuk?”

“Kau menyewa apartemen ini dengan uangku sehingga aku bisa tahu password pintunya. Namun, bukan hal itu yang penting.”

Bobby mengangguk, mencoba untuk menunjukkan wajah yang tenang. “Lalu, apa yang membawamu datang ke sini?”

Melihat ekspresi Bobby yang sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah, Tuan Kim pun segera melangkah mendekati Bobby kemudian menampar kedua pipi lelaki itu secara bergantian. Membuat Hayi terkaget.

“Apa ada alasan yang membuatmu menamparku?” tanya Bobby dengan tenang.

“Anak kurang ajar, kau berpura-pura tidak tahu rupanya. Aku menamparmu karena kau telah memperlakukan adikmu dengan salah, Kim Bobby! Kau tidak seharusnya berpacaran dengan Hayi!” jelas Tuan Kim dengan nada tinggi.

Bobby tersenyum, “Apa ada bukti jika aku berpacaran dengan Hayi?”

“Berciuman di taman dan berpelukan di dalam apartemen ini sudah menjadi bukti yang kuat, Bobby.”

“Mmm… Jadi kau sudah mengetahui hubungan kami. Kalau begitu apa masalahnya? Kami saling mencintai dan kami berhak untuk bersama.”

Sebuah tamparan mendarat lagi di pipi kanan Bobby. “Sadarkan dirimu, Kim Bobby! Hayi sudah menjadi adikmu dan kau tidak berhak menjalankan hubungan dengannya. Aku dan Hana sudah menikah, jadi jangan coba-coba untuk merusak hubungan kami!!”

Bobby pun langsung tertawa sinis. “Merusak hubunganmu dengan ibu Hayi? Appa, yang seharusnya sadar diri adalah dirimu. Kau yang seharusnya tidak menjalani hubungan dengan ibu Hayi. Aishh… kau benar-benar tidak punya malu. Kau seharusnya tidak menikah lagi dan membuat ibuku kecewa!!”

“Ibumu sudah meninggal, Bobby!”

Mata Bobby berkilat ketika mendengar perkataan terakhir ayahnya. “Iya, eomma memang sudah meninggal. Dan kau yang membunuhnya!! Sadar, appa, kau yang membunuh eomma!! Jadi, kau tidak berhak menikah dan bahagia dengan wanita lain karena kau sendiri yang mengambil nyawa eomma!!”

“Jaga omonganmu, Kim Bobby!”

“Aku hanya berkata tentang kenyataan!” balas Bobby dengan napas tersenggal. Dadanya terasa sesak karena emosi. Mata Bobby pun berkaca-kaca, tetapi ia tidak sudi untuk mengeluarkan air mata.

“Jangan berkata omong kosong, Bobby!” ujar Tuan Kim dengan penuh penekanan.

Bobby ingin membalas perkataan Tuan Kim, tetapi matanya mendapati Hayi yang tengah menatapnya sambil menangis. Lelaki itu mendengus kesal dan segera pergi dari apartemennya, meninggalkan Tuan Kim dan Hayi.

*     *     *     *     *

“Daripada bosan menunggu ayahmu, lebih baik kita bersepeda. Bersepeda sambil menikmati udara musim gugur adalah hal yang terbaik, Bobby-ah!”

Bobby yang baru berumur enam tahun itu pun menaikki sepeda kecilnya yang beroda tiga. “Eomma, apakah appa tidak akan pulang lagi?”

“Ayahmu sedang dinas ke luar kota dan baru pulang minggu depan,” jawab ibu Bobby seraya mengecup lembut kening anaknya.

“Yaah… jadi appa tidak akan ikut main sepeda dengan kita?”

Senyuman tersungging dari bibir sang ibu, “Ayahmu gila kerja, sih. Otak dia terlalu sulit untuk diajak bersenang-senang.”

…….

Bobby yang sudah remaja itu langsung menghampiri ibunya yang terjatuh dari kasur. “Eomma, kau harus ke rumah sakit. Biar aku telepon appa, ya?”

Wanita itu menahan lengan anaknya,”Ayahmu sedang sibuk, jangan menganggunya.”

“Tapi kau sakit, Eomma. Ayah adalah seorang dokter, dia pasti tahu cara menyembuhkanmu.”

“Aku tidak apa-apa, Bobby. Sungguh,” ujar ibunya dengan sebuah senyuman yang membuat Bobby hanya bisa menghela napas pasrah.

……

Keringat dingin kini memenuhi seluruh tubuh Bobby. Tangan kanannya menyangga ponsel di telinga dengan bergetar. Ketika panggilannya dijawab, Bobby pun langsung berucap, “Appa, aku sangat membutuhkanmu. Eomma—“

“Maaf, Bobby, ada hal penting yang harus aku lakukan sekarang.”

“Tapi, Appa! Yobseo? Appa?!! Aishhh!!”

Bobby mengumpat dan segera memasukkan kembali ponselnya. Ia pun berbalik dan menghampiri ibunya yang terbaring lemah di tempat tidur. Matanya terbelalak ketika mendapati sang ibu tampak tidak bergerak.

Eomma? Eomma? Eomma, bangun! Kumohon, Eomma. Buka matamu, Eomma!”

Seberapa keras Bobby mengguncang tubuh ibunya, wanita itu tetap bergeming dan tak kunjung membuka mata. Ibunya telah berhenti bernapas.

“Jangan tinggalkan aku, Eomma! Kumohon jangan tinggalkan aku!!” Bobby pun memeluk tubuh sang ibu, menangisi kepergian wanita yang amat dicintainya.

…….

Mengingat seluruh kenangan bersama ibunya membuat air mata Bobby menetes. Ia pun segera menyekanya karena ia sangat tidak suka menangis. Seluruh perkataan Tuan Kim yang diucapkan padanya di apartemen membuat Bobby semakin benci pada pria itu. Lelaki itu duduk sambil memeluk kedua lututnya, menatap pemandangan sungai Han yang tampak damai di malam hari.

Kepergian sang ibu merupakan pukulan terberat dalam hidup Bobby. Saat itu ia merasa seperti pecundang karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan nyawa ibunya. Ia hanya bisa meminta bantuan ayahnya yang lebih mementingkan pekerjaan daripada keselamatan ibunya. Karena itu, Bobby pun berpikir jika kematian ibunya disebabkan oleh ayahnya. Jika saja sang ayah bisa mengesampingkan pekerjaannya, mungkin saja ibunya bisa terselamatkan. Bobby selalu berpikir, percuma saja jika ayahnya mendapat julukan dokter bedah terbaik di Korea Selatan jika pria sialan itu tidak bisa menyelamatkan nyawa istrinya sendiri.

Rasa benci pada ayahnya itu semakin tumbuh dalam hati Bobby ketika ayahnya memutuskan untuk menikah lagi. Di samping ia tidak suka karena pernikahan ayahnya membuat ia tidak bisa mencintai Hayi sebagai seorang gadis, lelaki itu juga tidak suka dengan perhatian sang ayah pada ibunya Hayi yang melebihi perhatian pria itu pada ibu kandungnya. Sejak menikah dengan Lee Hana, ayahnya tidak terlalu terpaku pada pekerjaan dan lebih meluangkan waktu untuk keluarga termasuk istri barunya tersebut. Bobby sungguh tidak suka dengan sikap sang ayah yang menurutnya tidak adil.

“Aku tidak akan mengakhiri hubunganku dengan Hayi, karena seharusnya kau yang berpisah dengan istri barumu itu, Appa.”

Lelaki itu tidak peduli dengan kemarahan sang ayah karena hubungannya dengan Hayi. Ia tidak peduli jika ayahnya memang akan membencinya karena ia tidak bisa menyayangi Hayi sebagai adik. Bobby juga tidak akan melepaskan Hayi, gadis yang sangat berharga sekaligus seorang gadis yang mengembalikan semangat hidupnya setelah kepergian ibu kandungnya.

Dan Bobby pun tidak akan membiarkan sang ayah mengambil orang yang ia cintai untuk yang kedua kalinya.

*     *     *     *     *

Tuan Kim sama sekali tidak mengeluarkan kata apapun kepada Hayi. Bahkan ketika mereka tiba di rumah, Tuan Kim masih menolak untuk berbicara pada Hayi. Gadis itu pun sadar, betapa kecewanya Tuan Kim kepadanya.

“Oh, kalian pulang bersama?” sambut Hana ketika melihat Hayi dan Tuan Kim memasuki ruang tamu bersamaan.

“Hana, jangan biarkan Hayi bertemu dengan Bobby. Mereka adik-kakak, tidak sepantasnya mereka berpacaran,” ungkap Tuan Kim yang membuat Hana merasa heran.

“Berpacaran?”

Tuan Kim tidak menjawab, pria itu berjalan memasuki kamar tanpa memedulikan pertanyaan Hana. Hayi pun hanya bisa terdiam ketika mendapat tatapan tajam dari sang ibu.

“Pergilah ke kamarmu dan segera tidur,” ucap sang ibu seraya menyusul Tuan Kim.

Hayi pun menuruti perintah ibunya dan melangkah menuju kamarnya. Setibanya di sana, gadis itu langsung merebahkan diri di kasur. Ia menghela napas. Sungguh hari yang berat, pikir Hayi.

Hayi tidak paham dengan perselisihan antara Bobby dan Tuan Kim, tetapi yang ia pahami adalah betapa marah dan kecewanya Tuan Kim karena hubungannya dengan Bobby. Hayi benar-benar tidak bisa membayangkan jika ibunya sama kecewa dan marah seperti Tuan Kim. Tidak, Hayi tidak ingin membuat sang ibu merasa kecewa padanya.

Setelah berpikir cukup lama, Hayi pun pada akhirnya mengambil sebuah keputusan. Sebuah keputusan yang mungkin akan mengubahnya menjadi seseorang yang egois. Ia mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu.

Bobby oppa, mari tidak bertemu lagi. Aku rasa ini adalah jalan yang terbauk. Terima kasih untuk semuanya. Aku akan menjadi adikmu yang baik.

*     *     *     *     *

Sudah tiga hari sejak Hayi memberikannya pesan perpisahan kepada Bobby. Lelaki itu pun tidak pernah bertemu dengan Hayi sejak saat itu. Bahkan ketika ia dengan nekad datang ke rumah orangtuanya, Hayi bersikeras untuk tidak menemui Bobby yang sialnya keinginan gadis itu didukung penuh oleh sang ayah yang dengan senang hati mengusirnya dari rumah, sedangkan ibunya Hayi hanya menatap kosong kepadanya.

Bobby menghela napas dan meneguk kopi hitam miliknya sampai habis. Ia bahkan tidak ada niatan untuk masuk kelas dan lebih memilih duduk tanpa melakukan apapun di kafetaria kampus. Dia masih menncintai Hayi, dan sangat tidak ingin kehilangannya.

“Bobby oppa, kau sendiri saja?”

Mata Bobby mendelik akan kehadiran Jimin. Lelaki itu tersenyum sinis ketika Jimin duduk di hadapannya, “Mau apa kau menghampiriku? Ingin mengatakan bahwa kau sangat puas setelah hubunganku dan Hayi hancur?”

Dahi Jimin berkerut tidak mengerti, “Apa maksud oppa?”

“Jangan berpura-pura, Shin Jimin, aku tahu bahwa kau yang mengadu pada ayahku tentang hubunganku dan Hayi,” ungkap Bobby dengan nada sengit.

Jimin tertawa miris dan menatap Bobby kecewa, “Apa ada bukti bahwa aku yang mengadu pada ayahmu?”

“Kau satu-satunya yang melihat Hayi dan aku berciuman di taman, dan kau juga menyukaiku. Kedua hal itu sudah cukup menjadi alasan kau mengadu pada ayahku untuk menghancurkan hubunganku dan Hayi.”

“Kau tahu bahwa aku menyukaimu? Ketika buku harianku terbawa olehmu, kau sungguh membacanya, bukan?”

“Hal itu tidak penting—“

“Hal itu sangat penting, Oppa!” tukas Jimin yang mulai berkaca-kaca, “Waktu itu, kau mengembalikan buku harianku tanpa berkata apa-apa walaupun sangat jelas kau membaca dan sudah mengetahui perasaanku yang sesungguhnya! Jika memang kau sudah tahu bahwa aku menyukai—bukan—mencintaimu, maka setidaknya beritahu aku. Dan jika memang kau tidak memiliki perasaan yang sama denganku, setidaknya bicaralah langsung padaku sehingga aku tidak berharap terlalu jauh untuk memilikimu! Bobby oppa, kau sungguh keterlaluan!”

“Dan kau lebih keterlaluan, Jimin! Kau mengadu pada ayahku dan menghancurkan semuanya!” balas Bobby.

“Aku memang mencintaimu, tetapi aku tidak cukup jahat untuk melakukan hal itu.” Ucap Jimin sambil menahan air matanya.

“Tolong jangan berbohong, Jimin.”

“Aku bukan dirimu, Oppa. Berbohong bukanlah keahlianku. Aku berkata jujur. Untuk apa aku mengadu pada ayahmu ketika aku bahkan tidak kenal dengan keluargamu? Lagipula, tidak ada gunanya aku mengadu pada ayahmu karena pada akhirnya hatimu akan tetap milik Hayi,” jelas Jimin. Gadis itu tersenyum kaku, “Aku tidak akan pernah melakukan hal yang tidak berguna seperti itu.”

Jimin pun berdiri dari tempat duduknya. Sorot matanya masih menatap Bobby dengan perasaan kecewa. “Aku menghampirimu sekarang karena aku ingin berkata bahwa aku sangat mengharapkan kebahagiaanmu. Jika memang Hayi bisa membuatmu bahagia, maka kejarlah dia dan perjuangkan cinta kalian. Terima kasih sudah mau menjadi temanku, Oppa. Aku pergi dulu.”

Bobby menghela napas dan menatap kepergian Jimin dengan rasa bersalah. Berbagai macam masalah yang berputar di kepalanya membuat lelaki itu tidak bisa berpikir lurus. Dia bahkan menuduh Jimin sembarangan dan membuat gadis itu kecewa padanya. Jimin adalah teman yang baik, sehingga Bobby sangat merasa bodoh telah menyakitinya. Lelaki itu mengusap wajahnya dengan kasar, masalah yang ia hadapi sekarang benar-benar membuatnya gila.

*     *     *     *     *

Langkah Bobby terhenti ketika ia mendapati Lee Hana yang tengah berdiri di depan pintu apartemennya. Lelaki itu membuang muka seraya bertanya, “Ada keperluan apa?”

Hana tersenyum, “Aku ingin berbicara denganmu.”

Alis Bobby terangkat dengan jawaban Hana yang terdengar ramah. Lelaki itu menghela napas, “Kita berbicara di dalam saja.”

Wanita itu mengangguk setuju. Mereka berdua pun segera memasuki apartemen milik Bobby dan duduk di sofa ruang tamu secara berhadapan. Hana yang baru mengunjungi apartemen Bobby pun tengah melihat-lihat suasana apartemen tersebut yang terbilang minimalis.

“Tempat tinggalmu sangat rapi, ya.”

“Tolong jangan berbasa-basi dan silakan katakan tujuanmu datang ke sini,” ungkap Bobby.

Senyuman tersungging di bibir Hana, “Aku ingin mengatakan beberapa hal yang berkaitan dengan pernikahanku dengan ayahmu. Namun, tolong jangan menyanggah perkataanku dan dengarkanlah dulu penjelasanku sampai akhir. Bagaimana?”

“Silakan lanjutkan,” ujar Bobby seraya menyandarkan tubuhnya di kursi, mendengarkan secara baik-baik penjelasan dari ibu tirinya tersebut.

Hana menghela napas kemudian mulai berucap, “Aku mengerti jika kau tidak bisa menerimaku, karena memang posisi ibumu sangatlah mustahil untuk digantikan. Namun, Bobby-ah, tolong jangan membenci ayahmu hanya karena kau merasa ia lebih memerhatikan aku daripada ibumu. Bobby, ayahmu sangat mencintai ibumu, bahkan cinta yang ia berikan pada ibumu jauh lebih besar daripada untukku.”

Bobby tersenyum sinis, “Jika memang appa mencintai ibu kandungku, kenapa dia lebih memilih untuk bekerja, bekerja, dan bekerja, tanpa peduli dengan ibu? Bahkan ia tidak ada di samping ibu ketika ibu menghembuskan napas terakhirnya!”

“Dia selalu bekerja keras demi ibumu, Bobby. Ayahmu sering mengikuti dinas dan bertemu dengan dokter terbaik di berbagai tempat agar ia bisa mencari cara untuk menyembuhkan penyakit ibumu. Ayahmu datang ke berbagai tempat untuk mempelajari semua tentang kanker otak, penyakit yang diderita ibumu. Dia bahkan berusaha menemukan obat untuk menyembuhkan penyakit ibumu secara total, yang berakhir dengan sebuah kegagalan karena itu adalah hal yang tidak mungkin. Ketika kau menelepon ayahmu saat ibumu dalam masa kritis, sesungguhnya ayahmu tengah sibuk menghubungi teman-temannya yang memiliki keahlian dalam penyakit tersebut untuk memberikan bantuan darurat. Namun, Tuhan lebih dulu memanggil ibumu,” jelas Hana yang mampu membuat Bobby terdiam.

Hana pun tersenyum lembut, “Aku tidak sedang membela ayahmu, melainkan berbicara mengenai kenyataan yang dilakukannya. Kau juga harus tahu, aku bukanlah orang asing di sini, Bobby-ah. Ibumu adalah teman kuliahku, dan aku juga sangat mengenal baik ayahmu. Walaupun aku seorang psikiater, tetapi aku dan ayahmu sering bertemu karena kami praktik di rumah sakit umum yang sama.

Dan aku pun sering melihat ayahmu yang bekerja keras demi menyelamakan ibumu. Aku benar-benar melihat langsung keinginan kuatnya untuk menyembuhkan ibumu, dan betapa besar cintanya pada ibumu, Bobby-ah. Jadi, kumohon, berhentilah menyalahkan ayahmu karena kepergian ibumu bukanlah kesalahannya, itu sudah takdir Tuhan.”

Hana berhenti berbicara sejenak kemudian melanjutkan, “Dan ayahmu sangat terpukul ketika kehilangan ibumu. Dia juga tidak pernah berhenti menyalahkan dirinya sendiri, karena dia pun berpikir bahwa kepergian ibumu adalah sebuah kegagalan yang amat besar dalam hidupnya. Dia sempat mengundurkan diri sebagai dokter, dan satu hari sejak pemakaman ibumu, ayahmu juga terpaksa dirawat inap, ia kerap kali mencoba menyakiti dirinya sendiri, merasa tidak pantas untuk hidup karena telah gagal menyelamatkan orang yang paling dicintainya,”

Bobby menggeleng tidak percaya. “Kau bohong. Setelah pemakaman ibu, ayah langsung bekerja lagi, tidak dirawat di rumah sakit. Bahkan nenekku juga berkata demikian!”

“Itu karena nenekmu dan anggota keluarga lain tidak ingin kau khawatir, Bobby. Setelah ditinggalkan oleh ibumu, mereka tidak ingin kau terluka akan kondisi ayahmu. Mereka tidak ingin kau khawatir.”

Bobby menghela napas seraya mengusap wajahnya dengan kasar. Air matanya pun menetes tanpa ia sadari, “Mereka tidak ingin membuatku khawatir, dan merahasiakan semua ini dariku?! Silakan lanjutkan penjelasanmu yang mungkin akan membuatku lebih terlihat bodoh.”

Hana menatap Bobby lembut, kemudian kembali berbicara, “Ayahmu memintaku untuk menikah dengannya, bukan karena dia mencintaiku, Bobby. Dia hanya meminta bantuanku agar dia sembuh dan tidak terus-menerus melukai dirinya sendiri sehingga ia mungkin akan mati dan meninggalkanmu seorang diri. Dengan menikah denganku, dia berharap bisa menebus semua kesalahan yang pernah ia lakukan pada ibumu. Dengan menikah denganku, dia juga berharap bahwa setidaknya dia bisa kembali bangkit dan benar-benar melindungi keluarganya, terutama dirimu.”

“Pernikahan kalian sama sekali tidak membantuku. Dengan kalian menikah, aku tidak memiliki kesempatan untuk hidup bahagia dengan Hayi!”

“Ayahmu dan aku tidak tahu bahwa kalian saling mencintai, Bobby. Aku mohon maaf atas hal itu. Aku sangat paham perasaanmu, dan aku juga sangat paham perasaan Hayi. Aku tidak menentang hubungan kalian, karena aku sangat mengharapkan kebahagiaan putriku. Namun, tolong berikan aku dan ayahmu sedikit waktu.”

Bobby menatap Hana dengan bingung, “Maksudmu?”

“Tolong bersabar sampai ayahmu benar-benar sembuh, Bobby. Penyakit mental yang dideritanya tidaklah sesimpel yang kau bayangkan. Melihat kau dan Hayi bericiuman secara langsung, dan tindakkanmu yang memberontak karena ingin terus bersama Hayi, membuat ayahmu kembali menyalahkan diri karena merasa ia salah mengambil keputusan, membuat ia menyesal untuk yang kedua kali,” jelas Hana. Wanita itu tersenyum sebelum kembali berucap, “Aku tidak melarangmu untuk menjalin hubungan dengan Hayi, tapi tolong berikan aku waktu untuk menyembuhkan ayahmu dan berpisah dengannya. Bagaimana, Bobby?”

Bobby pun mengangguk, “Lakukan yang terbaik untuk ayahku.”

*     *     *     *     *

Bobby masih duduk di sofa, sedangkan Hana sudah pergi meninggalkan apartemen. Lelaki itu menangis dalam diam. Setiap penjelasan Hana mengenai keadaan sang ayah membuat hatinya terpukul dan merasa sebagai orang paling bodoh sedunia. Ia tidak tahu jika ayahnya lebih tersiksa karena kepergiaan ibunya. Bobby pun merasa sangat kurang ajar karena ia hanya bisa menyalahkan sang ayah tanpa mengetahui keadaan yang sebenarnya.

Bobby pun meraih ponselnya. Ia mengetikkan pesan kemudian mengirimkannya. Yang diinginkan lelaki itu sekarang adalah kesembuhan sang ayah. Ia sadar bahwa dirinya tidak pantas untuk egois dan membiarkan ayahnya tersiksa sampai akhir.

Baik, mari kita tidak bertemu. Namun, aku tetap tidak ingin menjadi kakakmu. Suatu saat aku pasti akan memilikimu lagi, Hayi-ah.

*     *     *     *     *

One Year Later…

Hayi berlari kecil ke sebuah taman. Dia pun melompat-lompat riang dan bermain-main dengan daun-daun yang berjatuhan. Ia sangat suka musim gugur, dan ia sangat senang karena akhirnya ia bisa menikmati waktu santai setelah dicekoki oleh tugas-tugas kuliah yang cukup membuat dirinya muak. Tidak hanya mahal, ternyata kuliah di Kedokteran juga sangatlah sulit.

Gadis itu pun segera duduk di bangku taman, menunggu kedatangan seseorang. Ia tengah menunggu ibunya, karena ibunya bilang mereka akan bertemu di sana. Memang, Hayi sudah tidak tinggal dengan ibunya dan Tuan Kim lagi karena ia tinggal di asrama kampus bersama teman-teman seperjuangannya.

Hayi pun tidak berhenti tersenyum, tidak sabar untuk bertemu ibunya. Namun, senyumnya memudar dan digantikan dengan perasaan sedih ketika ia melihat seseorang yang tengah bersepeda melewatinya. Orang itu mengingatkannya pada lelaki yang amat ia cintai. Lelaki yang tidak pernah ditemuinya sejak setahun yang lalu. Lelaki yang amat ia rindukan hingga saat ini.

Bobby benar-benar tidak menemui Hayi, bahkan menghubunginya. Mereka tidak pernah saling menghubungi lagi sejak saat itu. Sebenarnya hal itu membuat Hayi merasa sedih, karena ia masih sangat mencintai Bobby. Gadis itu masih berharap bisa kembali bersama Bobby dan hidup bahagia dengannya. Namun, melihat kenyataan yang menyatakan bahwa Bobby tidak ingin menemuinya, tampaknya harapan gadis itu mustahil.

“Apa duduk di sini membuatmu merasa nyaman, huh?”

Hayi menoleh dan ia pun terkaget sekaligus tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Bukan ibunya yang dia lihat, melainkan lelaki yang amat ia rindukan. Hayi mendapati Bobby yang tengah berdiri di depannya sambil tersenyum manis.

Hayi pun berdiri, “Oppa?!”

Bobby terkekeh melihat ekspresi Hayi, “Kau seperti melihat setan, Hayi.”

Oppa… kau… di sini… kenapa?” ucap Hayi terbata-bata karena sesungguhnya ia tidak percaya dengan kehadiran Bobby.

“Tentu saja aku ingin bertemu denganmu, bodoh!” jawab Bobby sambil berdesis.

“Bertemu denganku?”

Bobby menghela napas berat, gadis yang dicintainya itu belum paham atas situasi yang sesungguhnya. Tanpa berkata apapun lagi, Bobby pun langsung meraih Hayi ke dalam pelukannya dan berucap, “Aku sangat merindukanmu.”

Hayi tersenyum mendengar ucapan Bobby, tetapi ia masih tidak ingin membalas pelukan lelaki itu. “Lepaskan, Oppa, sebentar lagi eomma ke sini dan aku tidak ingin dia melihatnya.”

Tawa Bobby pun terdengar, “Dia tidak akan marah. Lagipula, ibumu tidak akan ke sini.”

Hayi melepaskan pelukannya dari Bobby dan menatap lelaki itu dengan heran, “Maksud oppa?”

“Ibumu menyuruhmu ke sini untuk bertemu denganku, Hayi.”

Sebelah alis Hayi terangkat, semakin bingung atas penjelasan Bobby. “Aku tidak mengerti.”

“Ibumu menyuruh aku untuk bertemu denganmu dan kembali mengungkapkan padamu bahwa aku sangat mencintaimu. Aku sangat mencintaimu dan kau adalah gadis paling berharga dalam hidupku sehingga aku tidak ingin melepaskanmu!”

Mata Hayi melebar karena tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. “Maksud oppa, eomma sudah… mengizinkan kita untuk bersama?”

“Sebenarnya, dia sudah mengizinkan kita bersama sejak setahun yang lalu,” ungkap Bobby sambil tersenyum. Lelaki itu pun kembali berucap, “Tapi kami tidak memberitahumu karena yang kami utamakan pada saat itu adalah kesehatan ayahku. Dan, kini, setelah ayahku sembuh, aku kembali untuk mengambil hatimu, Hayi-ah.”

“Setelah ayahmu sembuh? Memangnya ayah sakit apa? Aku benar-benar tidak mengerti.”

“Ada banyak hal yang belum aku beritahu padamu, Hayi. Namun, aku tidak akan menceritakannya sekarang. Yang jelas, sekarang aku ada di hadapanmu dan siap untuk menjadi kekasihmu selamanya.”

“Tapi bagaimana dengan orangtua kita? Apa mereka akan berpisah karena kita bersama?”

Bobby menangkup wajah Hayi dengan kedua tangannya. “Agar salah satu dari kita bahagia, maka harus ada yang berkorban, Hayi-ah. Dan orangtua kitalah yang berkorban untuk kebahagiaan kita. Kau juga tidak usah merasa terbebani lagi, karena mereka sudah mengizinkan kita bersama sebagai sepasang kekasih.”

Hayi pun menunduk dan meneteskan air mata. Hal itu membuat Bobby sedikit panik, “Kau baik-baik saja?”

Hayi mengangguk. “Aku tidak apa-apa. Hanya saja, aku bahagia. Aku sangat bahagia karena harapanku untuk bersamamu selamanya kini bisa terwujud. Aku sangat mencintaimu, Bobby oppa.”

“Aku juga sangat mencintaimu, Hayi.”

“Berjanjilah untuk tidak meninggalkan aku lagi.”

Bobby tersenyum, “Aku berjanji.”

Lelaki itu pun merengkuh Hayi dan mengecup bibirnya perlahan. Hayi pun membalas ciuman tersebut. Mereka tampak senang karena pada akhirnya mereka bisa menemukan sebuah titik kebahagiaan dalam kisah cinta mereka. Dan kebahagiaan itu semakin terasa lengkap dengan daun-daun musim gugur yang menjadi saksi bisu kebersamaan mereka. Kebersamaan mereka yang kini bisa berlangsung untuk selamanya.

Memang, Bobby maupun Hayi pernah berpikir bahwa mereka tidak bisa terus bersama, apalagi bertahan untuk selamanya. Namun, pemikiran itu semua hilang ketika kesabaran dan rasa cinta yang bertahan di dalam diri masing-masing membuat keduanya menemukan kata ‘selamanya’ di dalam kisah cinta mereka. Bobby dan Hayi pun akan berusaha mempertahankan hubungan mereka, tidak akan melepaskan satu sama lain sampai kematian yang melakukannya.

Benar, cinta mereka terlalu berharaga untuk diakhiri.

** Selesai **

^

^

Akhirnya, oneshoot ini selesai juga ^.^ silakan tinggalkan komentar jika sudah membaca~~

Dan untuk Sarah, semoga suka yaa 😀

Advertisements

17 thoughts on “[Oneshoot] Autumn Event – Precious You

  1. mianhae telat banget baca FF ini 😦

    but
    suka banget sama ceritanyaa~
    awalnya aku kira bakal sad ending begitu tau mereka sama2 suka dg status kakak-adik
    hihi
    tapi untungnya happy ending.
    dapet banget feel nya apalagi waktu mama nya Hayi jelasin yang sebenernya terjadi sama papanya bobby
    thankyou ya udah buatin request-an aku

    *brb copy-paste-save di laptop 🙂

  2. Aaaaak bapeeeeeer T.T sumpah aku mewek pas baca penjelasan Hana tentang ayahnya Bobby, dapet banget feelnya, rasa bersalah ayahnya, dan entah kenapa aku lebih tertarik sama hubungan kekeluargaan mereka daripada kisah cintanya Bobby dan Hayi. Tapi syukurlah kalo pada akhirnya mereka bisa bersama, meskipun orangtua mereka harus berkorban :”
    Kak Chun, Kak Ami, kereeeeeen! Aku suka fanfic kalian 😀

  3. Eonniiiiiii i’m coming…
    Aku udah baca. Ini epep family banget dan menggambarkan begitu indahnya kasih sayang diantara anggota keluarga. Karakter yang aku suka justru Shin Jimin *salahfokus 😀
    Alurnya daebak, muluuuuus semulus pipiku. Huehehe *senyum evil
    Btw, aku gak kenal Bobby dan Leehi. Kekeke… tapi kalian berdua menggambarkan karakter mereka bagus dan aduuuh bingung ini mau komen apa lagi. Tulisannya rapi. Gk kek punyaku kebanyakan typo. Hihihi perkenalkan, aku The Queen of Typo XVII. Wkakakaka… *admin gaje

    • Baru tahu pipi Lia mulus bahkan nyamuk kepleset pas lewat. Terimakasih buat komennya yg panjang kayak tembok besar China. Cerita ini bagus karena aku dan Amy bekerjasama dengan baik. Untuk the queen of typo XVII q baru tahu ada gelar seperti itu hee…he.e…

    • Kak liaa…. komen kak Lia juga macem drabbleee kwkwkwkw
      Sama kak, aku juga suka karakter Jimin di sini. Tapi sayang ya dia gak bisa jadian sama Bobby XD
      Terima kasih, kaakk~~ FF kakak pun keren bingits sampe bikin aku mewek :”D
      Dan yeahh… kak chunn partner-ku tersayang~ ini FF gak bakal jd kalau kita gak bekerja sama dg baik. xoxo ❤
      Btw, aku juga dijuluki queen of typoo di kampus. kita sehati kak liaaa… kita sehatiiiiii /langsung heboh/ /terus langsung kabur lagi/
      btw. once again, thanks for read yaaa ^^

  4. Huahhhh annyeonggg!!!

    Ini ff bagus bgt… bikin baper masaaa padahal aku ga suka leehi sama bobby 😂😂😂😂 tapi aku suka alurnya.. trus iti si bobby brutal bgt… tp akhirnya nyesel sihh… yg pwnting happy ending!!

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s