[Oneshoot] Autumn Event – Autumn Memories

AUTUMN MEMORIES

Autumn Memories

“Seperti daun yang membenci pohon dikala musim gugur—lepas dari dahan tuk tumbuh yang baru. Aku adalah apa yang selalu kau tunggu, namun juga selalu kau benci…”

A fanfic by Yuna Lazuardi Lockhart and Laykim

Starring by BTS’s Jungkook and Red Velvet’s Wendy | Other cast find by your self

Sad Romance, AU, Family, Hurt

Summary: Sunny Hills terbakar! Sekolah luar biasa yang menampung anak-anak berkebutuhan khusus itu kini musnah—dan pemuda itu, Jungkook—tidak hanya kehilangan orang tuanya, tetapi juga hal-hal berharga yang ada dalam hidupnya. Kemudian Wendy, seorang relawan cantik Sunny Hills mengalami cedera—hingga takdir mempertemukan mereka, menghakimi keduanya dalam keadaan tak sepantasnya. Membuat Jungkook begitu membenci gadis itu—gadis sekarat yang telah menyelamatkannya!

.

.

.

Rasanya musim gugur terlalu cepat datang tahun ini. Agustus menjadi akhir musim panas yang berlalu begitu cepat—pun daun-daun dan pepohonan. Helai demi helai  mulai lepas dari dahannya, ketika warna hijau menyegarkan itu berubah menjadi oranye jingga yang cantik. Kadang cuaca tak bisa dimengerti—seperti segelas susu cokelat dan sandwich di pagi hari, mungkin bisa seenak itu—atau seperti berdiri diantara ribuan orang yang menghujat, bisa jadi setidak enak itu.

Dan gadis itu terbaring disana, ditemani alat-alat penunjang kehidupan yang terpasang di hampir sekujur tubuhnya. Bulu mata boneka itu mencuat indah ketika kelopak matanya tertutup—begitu tenang. Dalam gelap sebenarnya Wendy tengah bimbang, kala di depannya ada sebuah kobaran api yang luar biasa  besar. Rasa panas itu mulai menjalar ke seluruh tubuhnya, di ikuti dengan oksigen yang berangsur lenyap di telan asap—mengakibatkan sesak yang parah.

“Kebakaran!!!”

“Kebakaran!!!”

“Kebakaran!!!”

Teriakan itu kemudian menggema, memenuhi setiap rongga pendengarannya—semakin kuat di setiap kata yang terdengar. Kata-kata itu menyusup, menelisik setiap syaraf pendengaran—membuatnya merasakan sakit yang teramat sangat. Ia benar-benar melihat, di sana ada seseorang yang belum keluar—terjebak diantara kelas-kelas yang terbakar. Panas itu menyiksa, tapi tak membuat Wendy menyerah—dengan segenap kekuatannya ia—

Bola mata itu pun terbuka, dengan manik hazel menggiurkan dan iris menyerupai jingga—gadis itu menatap kesekitarnya. Putih—hanya itu warna yang dilihatnya, ditambah beberapa corak keemasan di sudutnya. Detik berikutnya lengan mungil itu terangkat, dengan selang infuse yang terpasang—Wendy mendesah, mencoba mengingat apa yang baru saja dimimpikannya meski tak bisa.

Menelan ludah lantas amat sulit, ketika sepasang selang  masuk melalui hidungnya—bertengger dan mencekik hingga ke kerongkongannya. Kemudian mata itu melirik,  melihat ada seseorang disana—dengan wajah polos dan mata yang berbinar ia menatap. Sebelah pipinya menggembung, mengisap permen loli yang hampir habis. Dirambutnya terselip pita merah yang mengikat poninya—mengedip beberapakali, kemudian bergeming.

Nuguseyo?” Wendy bertanya pelan seraya menelisik, mengamati seberapa jauh orang itu akan menatapnya dalam diam—mengunci kata.

Dan senyum itu merekah, menjadi sebuah cengiran lebar dengan deretan gigi yang rapih, “G—gwen—gwenchana?”

Kening Wendy berkerut, menampilkan raut kebingungan yang nyata—menatap dengan penasaran siapa orang yang ada di depanya ini. Dalam hatinya gadis itu bertanya—sebenarnya apa yang sudah terjadi padanya? Siapa pemuda yang tampak begitu abstrak ini?—dan, oh! Mungkinkah mereka baru saja terlibat sesuatu?

“A—apakah sangat sakit?” ia bertanya lagi, kali ini dengan raut khawatir yang bingung—mencabut permen di mulutnya dalam satu gerakan lalu menyodorkan pada gadis itu, “Ini rasa cola, apa kau mau?”

Entah kenapa senyum itu lolos dari mulut Wendy—lengkungan kering yang dipaksakan itu tampak membuat pemuda di depannya lebih baik, “Nuguseyo?”

Pemuda itu menggaruk kepalanya yang tampak tidak gatal, kemudian merogoh sesuatu dari sweater mickey mouse yang dikenakannya. Sebatang cokelat—yang kemudian di genggamkan pada jemari pucat Wendy, mengundang senyum dua perawat yang masih disana.

“Namaku, Jungkook—panggil aku Jung!” serunya, “Kau suka cokelat kan’?” ia bertanya lagi—menimbulkan stimultan yang aneh pada Wendy.

“Aku Wen—”

“Aku tahu,” potongnya cepat, sangat cepat.

Hening—Wendy membalik tubuhnya, membelakangi Jungkook. Kemudian gadis itu menarik nafas dalam-dalam, menghirup oksigen sebanyak yang dibutuhkannya—kadang ia seperti pagi, hadirnya tak di nanti. Pun memberikan beban berat dalam menjalani hari. Dan untuk kedua kalinya relung hatinya terusik. Semacam simultan yang tengah membantunya mengingat—seperti itulah Jungkook seharusnya, meskipun pada kenyataannya Wendy justru merasakan perasaan lain dalam dirinya. Layaknya sebuah peringatan—bahwa mereka terikat.

Sementara Jungkook tahu, bahwasanya ada banyak hal yang bisa saja terjadi di luar kepalanya—seperti ketika ia melihat eomma-nya ditimbun tanah, atau ketika tadinya ia bisa menyapa Wendy dengan bebas—melihat senyumnya, tertawa bersamanya, mengulas cerita… Sayangnya Jungkook tak begitu mengerti apa yang ada dalam dirinya. Pun keheningan itu terlihat nyaman, tapi nyatanya menyiksa—membelenggu kata dari mereka berdua. Dan kesenyapan itu mencekat, memaksa setiap jengkal ingatan mereka untuk mengulas cerita—berharap bisa membicarakan apa saja.

“Bagaimana bisa kau tahu tentang aku?” pelan, suara itu memecah kesunyian.

“Eum… A—api. Saat itu aku melihatmu masuk ke dalam api. Kau menolongku—dan aku menolongmu, begitulah…” suara itu terdengar tak kalah pelan—sambil menundukan kepala Jungkook berucap, menolak pertemuan dua pasang bola mata, “Aku membuatmu sakit—tidakkah kau benci aku?”

Pertanyaan terakhir pemuda itu sukses membuat Wendy memutar otak—pasalnya ia bahkan tidak ingat apa yang terjadi padanya terakhir kali hingga harus terbaring di rumah sakit, Oh—jangan lupakan alat-alat sialan yang menempel padanya itu.

“Sejujurnya aku sama sekali tidak ingat.” ucapan itu lolos begitu saja—membuahkan sepasang tatapan bingung dari manik kelam yang berbinar, “Termasuk tentang dirimu, Jung….”

Degg!

Detik itu rasanya ada sebuncah nyeri yang mendalam di dada Jungkook, seperti kembang api yang meledak tidak tepat sasaran. Rasanya ada yang mengganjal dan perih sekali di dalam dadanya—rongga yang kosong itu seperti berdarah. Sialnya ia tidak tahu—sama sekali tidak tahu, padahal otaknya sudah bekerja lebih kerasa dari biasanya. Sejujurnya ia sangat sulit mencerna—ucapan Wendy adalah apa yang tidak biasanya dia ucapkan.

Dalam ingatannya, Wendy selalu yang paling disukainya—tak peduli seberapa banyak kata-kata sulit yang tak bisa dijangkau kepalanya, gadis itu akan dengan senang hati memberitahu Jungkook. Terutama tentang hal-hal apa saja yang boleh atau tidak boleh di lakukan—dan, yeah! Dia berhasil. Berlatih keras setiap hari membuatnya bisa diterima orang-orang, meski sebenarnya ia masih tidak tahu—apa yang sebenarnya membedakan mereka hingga ia harus menerima perlakuan khusus? Pun seharusnya—

“Jung…” dan—oh! Panggilan kecil gadis itu berhasil membuyarkan semua pemikirannya.

Dalam satu gerakan Jungkook berbalik, melangkahkan tungkainya menuju pintu—kemudian kembali ke sisi Wendy, begitu sampai tiga kali. Ada tarikan nafas berat yang dihembuskan setiap kali ia berbalik—dan hal itu sukses membuat Wendy bingung.

“Jung?” gadis itu menatapnya, memberikan atensinya pada pemuda itu, “Apa ada yang salah?”

“Wen—Wendy, aku rasa aku harus pergi. Tuan polisi mencariku kemarin—katanya mereka akan mendegarkan ceritaku tentang Sunny Hills.” Sahutnya kikuk.

Gadis itu benar-benar berpikir sekarang, tentang Jungkook, api dan Sunny Hills, “Oke, pergilah…”

“Tapi bagaimana denganmu?” tanya Jung polos, menatap dengan mata kelam yang bingung dan kening berkerut.

Nan gwenchana…” sahutnya meyakinkan.

Detik berikutnya sepasang sepatu beda warna itu berbalik, mengikuti tungkai kokoh yang ditunjang kaki panjang—melangkah pelan hingga keluar dari pintu kaca yang juga di dominasi warna putih.

Sepeninggal Jungkook Wendy menegakan tubuhnya, bersandar pada kepala ranjang rumah sakit yang di tunjang dua bantal—dibantu dua perawat yang masih disana. Hening ia menatap keluar jendela, mengamati perubahan warna yang mendominasi—menyudutkan kehijauan yang memudar. Disana desiran angin lembut tengah menyapa, mengusir perlahan hawa panas matahari yang biasanya menyengat.

Kemudian kepalanya mulai berpikir, mencoba memutar kembali jengkal ingatan yang mungkin hilang—memikirkan bagaimana Jungkook bisa mengenalnya, pun sebenarnya ia tak asing dengan pemuda itu. Surai kelam dan berponi itu seperti sudah lama ia lihat, termasuk sweater mickey mouse yang rasanya amat familiar—terlebih ketika Jungkook menghisap permen loli dan mengeluarkan cokelat. Ini benar-benar membuatnya frustasi—

Ceklek—pintu itu terbuka, menampilkan sesosok pemuda bertubuh tinggi tegap di balut jas putih yang mendominasi—tersenyum padanya kemudian mendekat, memasang kedua ujung stetoskopnya di telinga lalu bersiap memeriksa. Wendy menoleh, memperhatikan seksama seorang dokter muda yang baru saja masuk seraya membaringkan tubuhnya—membiarkan lelaki berjas putih itu yang melakukan tugasnya.

“Bagaimana kabarmu?” dokter itu bertanya, membuat Wendy menatapnya—mencari papan nama agar mereka bisa bicara dengan nyaman.

“Baik—tapi dokter Kim, apa ada sesuatu yang salah padaku?” Wendy balik bertanya—memanggilnya dengan nama keluarganya meskipun nama Kim Seokjin itu melekat di papan nama yang ia lihat.

“Ada apa?” dokter Kim melanjutkan pekerjaannya—ia mengambil botol obat dan menginjeksinya ke jarum suntik yang baru di buka, kemudian menyuntikannya kedalam kantung infuse Wendy.

“Hanya saja saat aku membuka mata tadi ada seorang pemuda yang menungguku—aku sama sekali tidak mengenalnya, tapi merasa sangat familiar dengan apapun yang dia lakukan.” Gadis itu menarik nafas, “Termasuk kenyataan bahwa ia agak tidak normal…”

Geurae, dia sangat mengkhawatirkanmu,” Dokter Kim tersenyum, membubuhkan lengkungan ramah yang agak formal dibibirnya, “Dan anak itu—maksudku pemuda bernama Jungkook itu—sepertinya ia mempunya keterikatan yang kuat padamu. Sejak kemarin dia selalu berceloteh tentang kalian…”

Kening Wendy berkerut, menampilkan raut bingung yang semakin jelas—ini seperti satu lagi notifikasi bahwa mereka memang berhubungan, bahkan terkoneksi dengan baik. Pun keadaan Jungkook benar-benar sulit di terima orang normal.

 “Saat aku melihatnya, rasanya seperti melihat seseorang yang selama ini sudah kau kenal,” gadis itu menarik nafas, memikirkan dengan seksama apa yang baru saja diucapkannya, “Dan ini pertama kalinya aku merasa berbeda—dalam arti positif, maksudku—saat di sekitar orang berkebutuhan khusus…”

Senyum itu mengembang lagi, semakin menonjolkan keramahan pada sosok Kim Seokjin, “Karena aku juga tidak yakin dengan apa yang terjadi diantara kalian—termasuk koneksi seperti apa yang kalian miliki, jadi bagaimana kalau kita lakukan tes lab?”

“Tes lab?” Wendy mengulangi kata terakhir dokter Kim

“Ya, dari hasil lab kita akan tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu—dan mengapa kau tidak bisa mengingat pemuda itu.” dokter Kim menatap Wendy tepat pada manik hazel miliknya, meyakinkan gadis itu untuk melakukan tes seperti yang di sarankan, “Kalau kau mau kita bisa ajukan hari ini, dan pergi tes besok…”

Gadis itu tampak berpikir, menunduk dalam seraya berargumen dengan dirinya sendiri. Sebenarnya ia sangat ingin tahu, mengapa ia harus repot-repot melakukan tes hanya untuk memastikan apa hubungannya dengan Jung? Lantas kalau mereka benar-benar memiliki hubungan—apa yang akan dilakukannya nanti? Lalu mengapa jantungnya mulai berdebar-debar sekarang?

Di lain tempat…

Jungkook masih duduk di sebuah ruangan penuh warna, dengan satu meja besar sewarna pelangi dan tiga bangku mungil senada. Di dindingnya ada banyak gambar-gambar bagus yang menurutnya mirip seperti Sunny Hills—terlebih langit-langit yang digambar serupa langit, dengan awan putih dan latar biru yang luas. Dua pria duduk menatapnya, memberikan atensi penuh pada pemuda yang masih sibuk dengan loli rasa cola-nya. Sesekali bola mata kelam itu berputar, melihat kesekeliling sambil bersiul sesekali—mengabaikan mereka.

“Jeon Jungkook, bisa kita mulai?” seorang dari mereka membuka suara, kemudian mengeluarkan beberapa lembar paper berisi pertanyaan.

Kemudian manik gelap itu beralih, menatap pada dua orang berpakaian formal di depannya—seperti tersedak air laut, rasanya agak sulit bicara, “Tu—tuan polisi, a—aku—”

“Menurutmu bagaimana bisa ada api di sana?” yang lainnya memotong cepat, membuat Jungkook mau tak mau mengurungkan ucapannya.

“A—api!” serunya, mengingat kembali betapa besarnya api saat itu—menguncinya dalam ruangan sesak yang penuh asap, “Api itu sangat besar sampai asapnya menyumpal tenggorokanku…”

“Apa kau tahu dari mana asal apinya?” ia mengganti pertanyaannya—mencoba mencari kalimat yang tidak membingungkan pemuda itu.

Sejenak Jungkook tampak berpikir, keningnya berkerut sementara matanya menatap ke bawah—seperti sedang mencoba mengingat sesuatu, “Rasanya hari itu aku bangun seperti biasa, tuan…”

“Jeon Jungkook, bukan itu yang kami—”

“Aku tahu!” potongnya cepat—terlalu cepat, “Mianhae, a—aku hanya mencoba mengatakan kalau hari itu sepertinya baik-baik saja. Tidak ada yang tau kalau api akan sangat besar disana…”

“Apa tidak ada hal yang mencurigakan di hari sebelum kebakaran?”

“Tidak.” Jawabnya singkat, “Aku bisa melihat senyum Wendy seperti biasa, berbicara dengannya, dan belajar banyak hal saat kami di kelas. Apa tuan tahu, Wendy adalah seonsaengnim terbaik di Sunny Hills!”

Geurae, lalu siapa saja yang ada disana?”

“Eum—aku hanya bisa mengingat Wendy. Yah—aku yakin kalau Wendy ada disana, dia menyelamatkan aku, tuan…” pemuda itu terhenti, menarik nafas panjang—merogoh saku sekali lagi dan mengambil loli cola yang lain, “Sebelumnya aku sempat melihat appa  dan eomma, lalu teman-teman yang lain—dan…sepertinya aku melihat Son ajushi,”

“Siapa Son ajushi?” mereka bertanya lagi, kali ini dengan mimik penasaran—seolah menemukan cara terbaik untuk membuat kimchi dengan rasa terenak. Kadang mewawancarai orang sealot ini—terlebih jika orang itu Jungkook.

“Son ajushi adalah appa-nya Wendy, apa tuan polisi tidak tahu?” pemuda itu bertanya balik—sesekali di kulumnya permen cola yang entah sudah habis berapa, “Tapi Son ajushi tidak sebaik Wendy. Aku pernah lihat mereka bertengkar karena Wendy datang setiap hari ke Sunny Hills—dia ditampar.”

Mendengar jawaban itu, salah satu dari dua penyidik tersebut menarik nafas—seolah dengan menarik nafas masalah akan terselesaikan dengan mudah. Sejujurnya mereka—Jimin dan Jhope—sangat tidak menyukai tugas ini, terlebih mengetahui bahwa orang yang di selidiki sejenis Jungkook.

“Ini tidak akan berhasil, kau mau melanjutkan?” pemuda itu, Jimin, bertanya pada rekannya—yang langsung dijawab dengan gelengan singkat, “Sejujurnya dia tidak menjawab apa yang kita tanyakan…”

Detik berikutnya Jungkook beranjak—pemuda itu melangkahkan tungkainya mengelilingi ruangan yang bahkan tidak lebih luas dari toilet di Sunny Hills itu, kemudian tersenyum lebar. Sangat lebar—hingga kedua penyidik disana dibuat bingung olehnya.

Wae?”

“Ini seperti di Sunny Hills,” singkatnya.

“Jeon Jungkook…” Suga memanggilnya pelan, sangat pelan—yang anehnya langsung mendapat respon dari pemuda itu, “Apa kau yakin tidak ada orang yang ingin menghancurkan Sunny Hills?”

Dan senyum itu lenyap, berganti dengan beberapa kerutan di kening—juga segelumit kebingungan yang Jungkook sendiri tidak mengerti, “Sunny Hills adalah tempat yang menyenangkan, kenapa harus ada orang yang membencinya?”

Jleb!

Pupus sudah harapan mereka berdua. Mendengar jawaban terakhir Jungkook rasanya seperti di vonis hukum mati oleh hakim—dibunuh hanya dengan satu kalimat dan ketukan palu tiga kali, “Baiklah, kau boleh pergi…”

“Te—terimakasih tuan polisi,” pemuda itu terhenti, langkahnya yang panjang itu kemudian mulai menuju pintu—hampir pergi, “Tapi tuan polisi, Son ajushi pernah mengatakan kalau ia akan melakukan sesuatu pada Sunny Hills—ini sangat lucu menurutku, karena Wendy ada disana. Jadi kupikir ia hanya bercanda—maksudku tidak mungkin Son ajushi menghancurkannya…”

Detik itu juga kedua penyidik yang masih tertinggal di dalam saling menatap, memfoskuskan pandangan mereka pada punggung Jungkook yang hampir menghilang di lorong kantor—kemudian tersenyum satu sama lain. Terkadang menyelidiki kasus per kasus itu menyenangkan, pun memang ada kalanya kasus tersebut sangat sulit ditegakan—seperti benang basah.

“Selanjutnya kita harus menyelidiki tuan Son, kan’?” Jimin bertanya—pertanyaan yang jawabannya sudah pasti iya—hanya dijawab anggukan kepala singkat dari Jhope.

.

.

.

Wendy sudah siap ketika dokter Kim masuk—infusenya sudah terpasang di kursi roda yang dia naiki, dengan seragam mozaik ala pasien dan senyum yang mengembang gadis itu menyambut dokter Kim.

“Bagaimana, apa kau sudah siap melakukan tes?” pertanyaan itu meluncur bersamaan dengan senyum ramah tamah yang biasa, menimbulkan anggukan mantap dari Wendy—mengiyakan pertanyaan dokter Kim.

Ceklek—kemudian pintu itu terbuka, menampilkan sesosok pemuda dengan kaos merah dan celana jeans panjang. Dilampirkannya tas bergambar superman ke bahu, kemudian tersenyum lebar ke arah Wendy—menatap gadis itu lama, kemudian mulai mencurigai apa yang dilihatnya.

“Wendy, kau mau kemana?” pertanyaan itu lolos begitu saja, mengundang senyuman di wajah dokter Kim.

Dokter Kim bersiap mendorong kursi roda Wendy, “Kami akan pergi ke dokter lain sekarang.”

“Dokter lain?” bingungnya, “Apa dokter tidak bisa menyembuhkan Wendy?” lanjutnya, mengerutkan kening seraya menatap gadis itu tepat di manik hazelnya—memberikan seluruh atensinya, mengirim sinyal bahwa ia benar-benar khawatir.

“Bukan Jung, dokter Kim akan membawaku pada orang yang akan membantuku sembuh…” Wendy tersenyum kikuk—masih membiasakan diri dengan Jung, “Mau ikut?”

“Dokter, boleh aku yang dorong Wendy?” ia bertanya, lebih ditunjukan untuk dokter Kim.

Lagi, dokter Kim tersenyum, “Tentu.”

Dengan senang hati, pemuda pemilik marga Jung itu mendorong kursi roda di mana Wendy sedang duduk manis dengan lengan yang masih tertancap jarum infus. Jungkook tersenyum senang. Hanya dengan melakukan sesuatu untuk Wendy seperti itu telah membuat bunga-bunga di hatinya bermekaran.

Cuaca boleh saja dingin, musim boleh saja berganti namun hati Jungkook tak akan pernah berubah dan akan selalu berbunga dengan Wendy yang ada di sampingnya.

Roda kecil yang menggelinding seiring ayunan langkah Jungkook yang tengah mendorong kursi roda itu, menyusuri koridor rumah sakit, mengukir jejak abstrak di atasnya.

“Sebentar lagi kita akan sampai di ruang dokter yang dapat menangani penyakit Wendy. Kalian tidak usah takut. Dokter itu sudah berkali-kali membantu kesembuhan pasien yang mengidap penyakit sejenis dengan yang diderita oleh Wendy.”

Akhirnya…

Kelegaan dirasakan Jungkook, terlebih Wendy. Keduanya sangat mempercayai kata-kata dokter Kim. Tidak mungkin dokter profesional itu berkata sesuatu yang sebaliknya agar dapat membuat mereka tenang.

“Syukurlah… aku sangat lega,” ucap Jungkook disusul kedua sudut bibirnya yang melengkung membentuk bulan sabit di wajah imutnya. Pemuda itu merasa sangat bersalah pada Wendy. Apa yang terjadi pada Wendy saat ini merupakan sebuah cambuk yang setiap hari, setiap jam, setiap menit bahkan setiap sekon mengukir luka di atas punggungnya.

Dua menit kemudian, dokter Kim menghentikan ayunan langkahnya dan berdiri di depan sebuah ruang bertuliskan nama seseorang, “Dokter Choi”.

Tok tok tok!

Ceklek!

Dokter Kim mengetuk papan penghalang yang berdir di tengah bingkai kayu berwarna putih. Detik berikutnya, dengan pelan, dokter Kim memutar knop pintu ruangan tersebut.

Jungkook dan Wendy merasa sedikit tegang saat hendak memasuki ruang beraksen putih dengan segala benda yang terpajang di dalamnya merupakan alat-alat kedokteran dan hanya beberapa dekorasi interior seperti lukisan, bunga, dan foto yang menghiasi ruangan tersebut.

Pintu telah dibuka maka tak ada alasan lagi bagi Jungkook untuk tetap berdiri mematung di sana.

Roda pun menggelinding lagi.

Seorang dokter muda berdiri di belakang meja kerjanya dengan lengkungan senyum yang menawan. Dokter Choi Minho. Ya, itulah nama lengkap pemilik ruangan tempat di mana Jungkook dan Wendy berada.

“Silahkan duduk.” Dokter muda itu berjalan menuju sofa yang tertata rapi di sudur ruangan. “Saya benar-benar terkejut melihat gadis secantik nona Son apalagi Anda datang ke tempat ini,” kata dokter itu yang berusaha menyanjung Wendy agar tak menciutkan semangatnya untuk sembuh.

Layaknya anak kecil yang mendapatkan mainan baru, Wendy merasa senang atas sambutan yang diberikan oleh sang dokter. Senyumnya merekah diikuti oleh Jungkook yang melakukan hal yang sama dengannya.

Jungkook menyaksikan dengan sepasang mata kepalanya saat Wendy diperiksa oleh dokter Choi. Perasaannya kacau. Namun dia ingin agar Wendy segera sembuh dan penyakit apapun yang dideritanya segera lenyap.

‘Cepatlah sembuh, Son Wendy. Kau harus sembuh. Aku… tidak bisa hidup tanpa melihatmu sembuh. Jika saja aku bisa menggantikanmu, akan ku lakukan sebisaku,‘batin Jungkook. Ia menyembunyikan kesedihan dan kekhawatirannya pada Wendy dengan selalu tersenyum pada gadis yang telah menolongnya.

Tanpa terasa, 30 menit terlalu. Detik demi detik rasanya terbuang begi saja. Jungkook dan Wendy kembali ke kamar perawatan Wendy diikuti oleh seorang perawat cantik yang membawa nampan berisi cairan obat, infus, dan jarum suntik.

“Jung, bisa belikan aku sebuah diary?”

Kening Jungkook berkerut. Aneh sekali Wendy memintanya untuk membeli diary. Untuk apa diary? tanya Jungkook dalam hati. “Baiklah, aku akan kembali lagi nanti.” Ia menyerahkan kursi roda Wendy pada perawat yang berdiri di sampinnya. “Tolong jaga Wendy sebentar.”

Melihat sikap manis Jungkook yang sama sekali tak memperlihatkan kekurangannya sebagai anak autis membuat Wendy tersenyum. “Hati-hati, Jung!”

Pemuda imut itu hanya menganggukkan kepala dan sedetik kemudian dia beranjak pergi meninggalkan Wendy dan perawat di depan pintu. Cara berjalan Jungkook sangat berbeda dengan orang lain pada umunya. Hal itu membuat perawat berparas cantik menatapnya tanpa berkedip.

***

Perawat berbalut seragam putih dengan rambut diikat rapi telah menyelesaikan salah satu tugas dari profesi yang ditekuninya. Selepas mengganti botol infus milik Wendy, ia menatap Wendy dengan tatapan iba.

Merasa ditatap oleh sang perawat, Wendy mengukir senyum tipis untuk menghilangkan kekhawatirannya akan kondisinya sendiri. “Terimakasih telah merawat saya dengan baik,” ucap Wendy yang masih berusaha tegar menghadapi penyakit yang kini menghampiri hidupnya.

Sang perawat masih terdiam. Kedua bola matanya berkaca-kaca seakan berkata  bahwa dirinya akan mendoakan yang terbaik untuk Wendy.

“Apakah pemuda tadi adalah kekasih Anda?” tanya  sang perawat dengab nada datar. Entah apa yang dipikirkannya sehingga pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutnya.

Lagi-lagi Wendy hanya tersenyum. “Dia adalah seseorang yang berharga dalam hidupku. Hidupnya lebih berharga daripada hidupku sendiri. Jeon Jungkook adalah pemuda yang tabah dan selalu ceria.”

Keunde, apakah dia mengidap penyakit….”

Anhi,” jawab Wendy singkat.  Dia tidak ingin orang lain mengatakan hal buruk tentang Jungkook. Tidak ada seorang pun yang diijinkan membuat Jungkook bersedih, termasuk dirinya sendiri. “Dia… seperti itu karena hidupnya mengalami sesuatu yang sangat menggoncang jiwanya.” Perlahan, cairan bening terlihat ingin menyeruak keluar dari sudut mata Wendy.

“Maaf.”

Wendy menyeka air mata yang hendak menetes jatuh dari sumbernya. “Tidak apa-apa. Aku harap suster tidak membicarakannya lagi. Apalagi… di depan Jungkook.”

Perawat itu mengangguk pelan.

“Aku sangat merasa bersalah padanya,” kata Wendy secara tiba-tiba.

Kalimat yang baru saja terlontar dari bibir manis gadis bermarga Son itu mampu menarik atensi sang perawat yang sebelumnya telah menanyakan perihal Jungkook.

“Apa maksudnya?”

Wendy menghela nafas panjang. “Ayahku lah penyebab kebakaran itu. Ayahku dan ayah Jungkook pernah berselisih paham hingga….” Tanpa disadari, wajah cantik Wendy telah basah oleh cairan hangat yang keluar dan mengalir menganak sungai di pipinya.

Sang perawat sangat iba melihat Wendy yang berusaha mengatakan sesuatu yang menyakitkan. Sangat menyayat hati.

“Aku tidak tahu bagaimana harus meminta maaf pada Jungkook. Karena ayahku adalah penyebab meninggalnya orang tua Jungkook. Karena kebakaran itulah… Jungkook menjadi seperti sekarang ini. Semuanya salahku. Pantas bila aku menderita penyakit ini.”

Wendy tertunduk sedih. Ia tak sanggup mengangkat wajahnya. Ia begitu malu bahkan hanya di hadapan seorang perawat yang sama sekali tidak mengenalnya. “Aku ingin menceritakan perasaanku ini pada seseorang tapi… tak ada yang mau mendengarku. Jungkook kehilangan segalanya, begitu juga denganku. Hanya dia yang aku punya.”

“Bersabarlah! Dia pasti akan memaafkanmu.” Perawat itu memeluk Wendy dengan hangat. Dia sabgat memahami perasaan Wendy yang terus merasa bersalah.

***

Jungkook pov

Hosh! Hosh!

 

Son Wendy… bagaimana bisa di emmintaku untuk membeli sebuah diary? Untuk apa dia membutuhkan diary? Entahlah, yang penting aku sudah memenuhi permintaannya. Aku harus sadar diri. Betapa bodohnya aku dan betapa mulianya Wendy yang telah berkorban untukku. Tak hanya membeli sebuah diary, aku akan memenuhi apapun yang dia minta. Akan ku lakukan segala yang dia mau.

Langkahku semakin melemah saat ku sadari tempatku berada tidak lah jauh dari kamar Wendy. Aku berjalan seperti biasa dan entah kenapa rasanya ingin sekali berhenti di sini, di depan ruang kerja dokter Kim. Bodoh kau, Jeon Jungkook! Harusnya kau berlari agar lekas sampai di tempat Wendy. Akhirnya ku percepat langkah kaki ini menuju kamar Wendy.

Setelah sepersekian detik….

Tap!

 

Kakiku berhenti menapaki lantai rumah sakit yang dingin, tepat di depan pintu kamar Wendy.

Deg!

 

Deg!

 

Jantungku…

Dadaku… terasa sesak. Wendy… apa yang baru saja dia katakan?

Oh Tuhan

Cobaan macam apa ini? Apa yang dia katakan tentang kebakaran itu? Apa yang telah terjadi pada saat itu?

Ku pegang dadaku, merasakan betapa semangatnya jantungku memompa darah dan diedarkan oleh pembulu-pembuluh yang menyebar di seluruh tubuhku. Nafasku terengah-engah hingga terasa sedikit sesak. Aku tak tahu apa yang terjadi padaku saat ini. Yang aku tahu hatiku sakit. Kenyataan apa yang dikatakan oleh Wendy? Benarkah itu semua? Lalu untuk apa dia menolongku? Akh! Otakku tak dapat berpikir lebih jauh untuk menjangkau pemikiran itu. Aku tak dapat berpikir lebih keras untuk menemukan jawabannya.

Jebal… jangan katakan hal itu lagi, Wendy.

Aku kecewa

Marah

Sedih

Aku rasa, aku akan benar-benar gila. Anhi, idiot. Ya, aku benar-benar menjadi orang yang idiot. Benar kata orang-orang bahwa aku ini –  adalah orang idiot.

Jungkook pov end.

***

Hari semakin gelap dan suasana semakin sunyi. Berkali-kali Wendy melirik jam berbentuk lingkaran yang terpajang indah di atas dinding. Pukul 8 malam.

Wendy tak bosan-bosannya menatap jam dinding itu dan pintu secara bergantian. Hatinya risau dan cemas. Jungkook tak kunjung menampakkan batang hidungnya semenjak dia pergi membeli diary entah pada jam berapa.

“Ayolah, Jung… ke mana saja dirimu?” lirih Wendy yang tak menyadari peluh menetes membasahi bajunya.

Sementara itu, Jungkook sedang terduduk lemas di sebuah taman. Tak ada lagi tempatnya untuk berteduh. Tak ada lagi seseorang yang dapat mendengar keluhan hatinya. Suasana hatinya sedang sangat kacau. Kenyataan bahwa ayah Wendy lah pelaku insiden kebakaran itu membuat Jungkook semakin tergoncang hingga dia tak mampu berdiri.

Air mata membanjiri wajah Jungkook. Wajah itu tak tampak imut dan tampan seperti sebelumnya. Semua keindahan dan kebahagiaan telah hilang, lenyap dari sosok Jungkook.

“Apakah memang harus seperti ini? Kenapa di saat aku ingin membalas kebaikannya… justru ayahnya yang menyebabkan ini semua.” Jungkook rapuh. Ia tak dapat menahan kesedihan yang melanda dirinya beberapa waktu terakhir. Takdir seakan tengah mempermainkannya. Takdir? Bahkan Jungkook tak percaya lagi pada takdir. Akankah takdir membuatnya hancur berkeping-keping menjadi abu, debu atau sejenisnya?

Suasana di tama malam itu semakin senyap, tak ada suara langkah kaki manusia yang berjalan di sekitar tempat Jungkook merenungi nasibnya. Hembusan angin dingin yang dapat menusuk hingga ke tulang belulang kini tak lagi dirasakan oleh Jungkook. Tubuhnya terasa mati, perasaannya membeku.

Jungkook terlelap di atas bangku besi panjang di dalam taman. Kulit wajah yang semula putih merona kini berubah putih pasi.

***

Kebakaran!!

 

Kebakaran! Ada kebakaran!

 

Teriakan kebakaran dari beberapa orang terdengar bersahutan. Siapa sangka gedung sekolah khusus anak-anak berkebutuhan khusus yang megah dan terkenal hingga ke seluruh wilayah Korea Selatan akan habisa terbakar pada hari ini? Puluhan anak berkebutuhan khusus berlarian bersama para pengasuh relawan yang ingin menyelamatkan diri mereka dari jilatan panas sang jago merah. Lebih dari 50 persen dari bangunan  itu habis terbakar.

 

Tolong… tolong saya….

 

Brukk!!

 

Bertahanlah! G, gwaen…chanayo?

 

Aku akan menolongmu. Bertahanlah sedikit lagi.

Dengan sigap, Wendy menyingkirkan sebuah pintu yang sebagian besar telah hangus terbakar dilalap si jago merah.

 

Uhukk! Uhuk!

 

Gwaenchana?

 

Itulah yang ditanyakan Wendy pada seorang pemuda berparas tampan. Pemuda itu tidak tampak seperti pemuda pada umumnya. Air mata menetes, mengalir dan membasahi kulit halusnya.

Tolong aku…, lirih pemuda itu.

Tubuh Jungkook menggeliat di atas bangku besi yang menjadi tempat tidurnya malam ini. butir keringat bercucuran dari pelipis dan jatuh membasahi tanah.

“Andwae!!”

Hosh! Hosh! Hosh!

Nafas berat, kepala pening, dada yang terasa sesak dan sulit dijelaskan dengan kata-kata. Itulah yang dirasakan Jungkook saat mimpi buruk tentang kebakaran itu hadir menghantuinya. Jungkook menangis sejadi-jadinya. Peristiwa memilukan yang ingin sekali ia lupakan, sering datang menghantui setiap malamnya.

Jungkook merubah posisinya, duduk dengan kedua kaki dilipat ke depan dada. Pemuda itu tampak kacau. Penampilannya saat ini menunjukkan ketidak mampuan dirinya menghadapi kenyataan dan betapa jelasnya cacat fisik yang diderita sebagai seorang idiot. Jungkook menundukkan kepalanya, terlalu takut melihat sesuatu yang bisa membuatnya – gila. Tidak, ia tak tampak gila – hanya saja pikirannya sedang terganggu dan – istilah ‘berkebutuhan khusus’ tak ingin lagi disandangnya. Ia tak mau lagi menjadi anak dungu yang selalu dicela orang-orang.

“Aku adalah orang yang normal, sama seperti kalian….”

Keesokan harinya.

“Saya sarankan, anda harus memberitahukan pada sanak family tentang kondisi anda yang sebenarnya, Nona Son.”

Wendy diam seribu bahasa. Dia sama sekali tidak mempunyai kata-kata yang bisa diucapkan untuk menjawab dokter Kim. “Mmm, dokter Kim… bukannya saya tidak ingin memberitahukan keadaan saya yang sebenarnya. Hanya saja… tak ada sanak family satu pun yang peduli pada diri saya.”

“Bagaimana dengan Jeon Jungkook? Saya belum melihatnya hari ini.”

Wendy terdiam lagi. Kali ini dia tak bisa berkata apa-apa.

“Saya di sini, Dok.”

Jungkook?

Sontak, Wendy dan dokter Kim menoleh ke arah pintu di mana sosok menyedihkan – Jeon Jungkook – berdiri di sana dengan peluh menetes dan membasahi wajahnya.

Jungkook melangkahkan kakinya gontai seakan tak memiliki tenaga sekecil pun untuk mengayunkan kaki jenjang itu. Seulas senyum datar bukannya membuat wajahnya nampak tampan tetapi lebih menyedihkan.

“Jung… kook?” lirih Wendy.

“Katakan pada saya saja, Dok. Saya akan memberitahu keluarga Son sesegera mungkin.”

Wendy tercengang. Bagaimana Jungkook bisa berkata seperti itu?

“Andwae! Tidak perlu,” sahutnya.

“Waeyo?” tanya Jungkook dengan tatapan tak bersahabat.

“Tidak apa-apa. Aku hanya tidak ingin keluargaku yang lain mengetahui penyakitku.”

Jleb!

Kata-kata Wendy – entah kenapa –  membuat Jungkook merasakan perih di dadanya. Sebuah pisau tajam baru saja tertancap di dadanya.

***

Kembali ke kamar Wendy, Jungkook hanya terdiam dan tak berkeinginan mengucapkan sepatah kata ataupun menatap Wendy yang sedari tadi menatap nanar padanya atau – hanya meliriknya. Gadis itu tak sekalipun mengalihkan pandangannya pada obyek lain yang lebih indah dari sosok Jungkook.

Apakah aku begitu mencintaimu, Jeon Jungkook?’ batinnya.

“Jung….”

“Mari kita saling menjauh. Mari… berpisah saat ini juga!” ketus Jungkook tanpa menatap Wendy. Iris hazel itu terpaku pada satu obyek.

“Mwo?”

“Aku sudah muak dengan semua ini. Mari kita berpisah dan tidak bertemu lagi!”

Deg!

Wendy meremas kerah bajunya, berusaha menahan kesedihan. Ya, mungkin saja dengan begitu dia tidak akan menumpahkan air mata di depan Jungkook. Ada apa dengan Jungkook?

“Tapi kenapa? Kenapa kau… bersikap seperti ini?”

Kali ini Wendy berhasil membaut Jungkook mengalihkan perhatiannya. Pemuda itu menoleh ke arahnya dengan kedua manik mata yang tampak sayu. Ekspresi datarnya mengundang seribu pertanyaan di benak Wendy.

“Jung…”

“Kebakaran itu – ayamu yang menyebabkannya, kan?”

Deg! Deg!

Wendy tak dapat menghirup oksigen dengan normal. Dadanya terlalu sesak. Terlalu banyak kata-kata yang membuatnya sedih hingga hatinya terasa bagaikan terhunus pedang tajam. Wendy berusaha tenang dan tidak terlalu emosi menghadapi Jungkook. “Benar, ayahku lah penyebab insiden itu, Jung. Aku… minta maaf tulus dari lubuk hatiku terdalam. Aku mohon….” Air mata tak dapat tertahan lagi. Wendy terisak dalam tangisnya.

Sejujurnya, Jungkook merasakan sakit yang sama dengan yang dirasakan oleh Wendy. Ia harus mampu menahan air mata itu.

“Maafkan aku… maafkan ayahku, Jung.”

Jungkook tak ingin mendengar apapun dari mulut Wendy untuk kesekian kali. Ia sudah merasa sedih dan sangat terpukul. Dengan langkah berat, ia meninggalkan kamar Wendy dan meninggalkan gadis itu dalam kesedihan yang mendalam.

Maafkan aku, Jung. Aku mohon maafkan aku untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Aku berjanji padamu – mulai saat ini aku tidak akan membuatmu melihat seseorang yang melukai hatimu. Selamat tinggal, Jeon Jungkook.

 

Wendy semakin terisak dalam tangis.

***

Satu minggu kemudian.

Musim gugur benar-benar menggugurkan hati Jeon Jungkook dengan sangat baik. Setelah mendengar berita memilukan dari rumah sakit tempat Wendy dirawat, hati Jungkook semakin tergoncang. Son Wendy – gadis yang menolongnya saat insiden kebakaran terjadi, kini telah menghembuskan nafas terakhir.

Demi apa?

Demi apa Jungkook mengumpat sejadi-jadinya? Demi apa dia mengutuk diri sendiri?

Wendy meninggal karena dirinya. Jungkook benar-benar terpukul setelah Wendy pergi untuk selamanya.

Jungkook pov

Son Wendy… aku memaafkanmu. Aku mohon kembalilah tersenyum padaku dan menghiburku seperti waktu dulu. Kau telah menolongku, jadi biarkan aku menolongmu. Maafkan aku. Maafkan aku… maafkan aku yang terlalu bodoh dan dibutakan oleh balas dendam. Aku… adalah pemuda bodoh dan benar-benar idiot. Kau yang mengubahku menjadi laki-laki sejati. Tapi… kenapa kau pergi meninggalkanku? Kembalilah padaku, Son Wendy. Ku mohon….

Air mataku tak pernah kering menangisi kepergian Wendy. Kakiku tak pernah letih berdiri di depan makam Wendy. Hatiku tak pernah berhenti mengatakan ‘maaf’ pada Wendy. Ingatanku tak pernah lupa pada seorang gadis bernama Son Wendy. Maafkan Jeon Jungkook yang bodoh ini. Aku… sangat menyesal meninggalkanmu menghadapi penyakitmu sendirian. Aku membentakmu, mengacuhkanmu dan marah padamu. Di sisa hidupku, aku tak akan bisa tenang menjalani kehidupan ini. Maafkan aku untuk yang pertama dan terakhir kalinya.

Entah aku menjadi lebih baik atau tidak, semua itu karena dirimu, Wendy.

Semoga kau tenang di sana, Son Wendy. Aku – Jeon Jungkook akan selalu menunggumu.

Jungkook pov end

Musim gugur berlalu begitu lama. Hari demi hari dihabiskan Jungkook hanya berdirir menatap makam Son Wendy yang nampak tenang. Ia berharap Wendy dapat meraih ketenangan dan kedamaian di sana. Musim kemarau – menjadi kenangan pahit dalam hidup Jeon Jungkook.

FIN

Aaaaaakh teriak sekeras-kerasnya karena epep ini udah kelar. Hueeee….

Mian to Dek Jung. Di hari ultahmu, aku dan Ayun malah bikin epep mewek ini. Miahae….

Like dan komen sangat diharapkan gaes.

Tinkyu ^^

Advertisements

49 thoughts on “[Oneshoot] Autumn Event – Autumn Memories

  1. Halooo kak Lay, kak Ayun, maaf nih baru sempet nongol dan baca hihi.. Dan yaampun ini kenapa malah sad endiiiing :”( Sumpah gak nyangka banget sama endingnya T_T Aku pikir gak bakal meninggal, endingnya ngagetin._.
    Kerenlah kak! Duet kalian berdua berhasil 😀

  2. Kenapa? Kenapa Wendy-nya meninggal??? T.T Oh, my sweet girl wendyyyyyyyyyyyy /langsung nangis dipojokan/
    Dan Jungkookiee~~ dia emang cocok bertingkah ‘aneh’ kayak gitu. Di bayanganku dia jatuhnya lucu.
    Dan pas si dokter Kim masuk, aku pertamanya ngebayangin itu dokter bapak-bapak. dan pas tahu namanya Kim Seokjin, aku langsung ngakak~ ngebayangin bapak-bapak itu berubah jadi sosok Jin dengan senyuman manisnya~ Akhhhhh~~ betah deh kalau diobatin sama dokter macem Jin XD
    Btw, Jungkook, penyesalan emang di akhir, ya? Aku tahu kamu kecewa, aku tahu kamu tersakiti, tapi jangan sampai emosi menguasai diri kamu terus ninggalin wendy gitu aja (?)/apa ini/ Nyesel kan akhirnya ditinggal Wendy. Ah , aku baper, aku baper, aku bapeeeerrrr /masih mewek karena Wendy meninggal/ 😥
    Dannn aku suka FF-nya!!! Keren pokoknyaaaa!! :’D
    Eh? Komen aku kepanjangan ya? Maafin yaa… aku emang suka hyper kayak Taehyung (?) XD

    • Komenmu udh kek drabel, Shafaaaaa…
      Penyesalan selalu d akhir lah. Masak penyesalan d awal kan gk mungkin. Critanya wendy kna pnyakit berbahaya (sejenis perdarahan di otak krn tertimpa material bangunan waktu kebakaran) gegara nolongin dek Jung. Trs dy mninggal deh. Makanya dek Jung mnyesal pake buanget.
      Wahaaa masalah dokter Kim itu ide Ayun. Aku tinggal nglanjutin wktu Jungkook mnta ijin mau dorong kursi roda Wendy. Huehehehe…

      • hehehehehe nanti di FF kakak selanjutnya komenku bakal dijadiin ficlet ahhhhh XD
        Iya kak duh Wendy pergi secepat itu kasian dek jung-nya T.T
        wahahaha ternyata~~ bagus kok bagus ide ayunn… berhasil bikin aku berharap bisa punya suami dokter macem Jin XD

    • Annyeong shafaaa~!

      Wuahahaha maapkeun kita ber2 yg tega buat wendy lewat(?) Trus soal jungkook jgn salahkan kita krn dia jd autis gitu atas permintaan rekuester(?) Hahahaha.. iyahh pertama kali liat jungkook itu kan cute2 gimana gitu.. jd kupikir lucu aja kalo di buat agak aneh.. biar kesan autisnya itu ga perlu di sebut tp dia keliatan ga normal /plakk/ *apaini*

      Kalo soal dokter kim itu… sebenernya aku lg mikir… siapa diantara mereka yg cocok jd dokter. Dan eng ing eng… seokjinlah jawabannya (?)

      Di akhir si jungkook kapok kayaknya udh salah sangka gitu wahahaha… thankyou for readingg^^

      Btw komen aku ikut kayak drabble wkwkwkwk

      • Annyeongg ayuunn~~ :3
        Hueee gak apa apa kok kwkwkw
        btw aku suka jungkook autis (?) gitu. lucu kesannya bikin gemeshh~
        Seokjin emang cocok jadi dokter. dia wajahnya ramah soalnya bikin pasien2 adem, termasuk aku /kabur/
        wokee~~~ semangat buat next FF yaaa. Hwaiting!!!!! 😀

  3. ya ampunnn keren banget ffnya..
    nih kayaknya yang part atas sampe tengah ayun yg ngerjain ya? soalnya yg pertengahan kebawah ane kayaknya kenal sama typo2 macem begituan, pasti punya mami lia ini mah >_< tapi aku terharu lho part waktu jungkook menyesal gitu.. ahh keren pokoknya,,
    aq pengen take request jg d autumn event, tapi shinhyonya menggantungkanku.. huhu

    • Haduuuuuh ketahuan. Padahal udh ngetik pake lepi loh saeng. Tetep aja bnyak typo. Biarin lah. Mls ngedit. Kekeke… yaaa namanya jg Queen of Typo XVII

    • Thankyouuu kakak^^ hehehe ketauan yaaahhhh … ketikan aku rada bedaa.. tp gpp kita berdua sehati kok.. endingnya kak lay bnr2 ekspektasi aku pas ngirim email ff separo jadi waktu itu hahaha

  4. Keren banget, Mamih, Kak Yun! I like it so much. Jongkok kasihan yak? Tapi gapapa sih. Dia bukan biasku wkwk
    Tapi bener lho, ffnya keren banget, sukses bikin mewek 😀

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s