[Multichapter] Destiny — Part 4

DESTINY

featuring

Kim Myungsoo, Nam Woohyun, Lee Hoya

and others

Special cast. Lee Bada (OC/You)

[Entertainment, Fantasy, Hurt/Comfort]

Terinspirasi dari Drama Korea ‘My Lovely Girl’ [L & Hoya scene only]

zulfhania, 2015

Previous. Teaser | 1 | 2 | 3

GIRL IN FRONT OF TOILET ROOM

Kalau hanya ada satu jenis manusia,
Mengapa mereka tidak bisa rukun?
Kalau mereka semua sama,
Mengapa mereka merepotkan diri untuk saling membenci?

Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang,
Hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya,
Hingga kau menyusup ke balik kulitnya
Dan menjalani hidup dengan caranya *)

*) dikutip dari novel ‘To Kill A Mockingbird’ karya Harper Lee

“Kuharap aku dapat berbicara denganmu, tetapi rupanya, aku sama sekali tidak dapat berbicara denganmu.” ~ Part 4

.

Setelah Myungsoo merenung semalaman dan memikirkan ulang perkataan Hoya, ia menyesal telah berkata akan meninggalkan Infinite Power pada Woohyun. Esok paginya, ia memutuskan untuk tetap datang ke lokasi syuting dan bertemu dengan Woohyun yang menatapnya dengan tatapan terkejut.

“Aku minta maaf soal kemarin.” kata Myungsoo pada Woohyun. “Aku sadar kalau aku memang selalu berbicara tanpa berpikir. Kukatakan aku menyesal mengatakan hal itu padamu. Aku berjanji tidak akan meninggalkan Infinite Power, hyung.”

Demi mendengar ucapan Myungsoo, Woohyun tersenyum haru. Ia menepuk pundak Myungsoo dengan tatapan penuh rasa terimakasih dan tak mengucapkan apa-apa setelah itu. Woohyun tak membutuhkan alasan. Dengan Myungsoo datang syuting dan berkata maaf padanya, Woohyun tak lagi membutuhkan alasan. Woohyun tahu, meskipun Myungsoo bersikap keras kepala dan berbicara asal ceplos, sebenarnya lelaki itu masih memiliki sisi ‘mengakui kesalahan’ di dalam hatinya. Maka dari itu, begitu Myungsoo mengakui kesalahannya, Woohyun tak lagi bertanya apa-apa. Myungsoo kembali. Itu sudah cukup untuk Woohyun.

Berbeda dengan Hoya. Main dancer Infinite Power itu sama sekali tidak muncul di lokasi syuting. Meskipun lelaki itu tidak akan disorot kamera, namun nyatanya Hoya tetap dicari oleh seluruh staf dan produser, bahkan Woohyun dan Myungsoo sekalipun. Ponselnya tidak aktif dan lelaki itu sama sekali tidak bisa dihubungi. Akhirnya setelah sejam menunggu, syuting tetap dilaksanakan tanpa kehadiran Hoya.

“Seharusnya kita berdua yang marah padanya, bukan dia yang marah pada kita berdua.” keluh Myungsoo pada Woohyun saat break syuting. “Dia yang telah mengucapkan kata-kata menyakitkan itu pada kita berdua, mengatakan kalau kita berdua sama sekali tidak pantas bergabung di Infinite Power, lantas kenapa malah dia yang ngambek pada kita?”

Woohyun hanya tersenyum mendengarnya. Ia merangkul pundak Myungsoo dan menepuk pundak lelaki itu pelan. “Egonya masih tinggi, biarkan saja dulu. Nanti kalau emosinya sudah reda juga akan datang kembali pada kita. Biasanya juga begitu, kan?”

Myungsoo menghela napas berat. “Kenapa sih kita jadi begini? Aku jadi merindukan hari-hari dimana kita sebelum debut.”

Ya, dulu, sebelum mereka debut, pertengkaran semacam kemarin tidak pernah terjadi di antara mereka. Tak ada sosok Myungsoo yang keras kepala, tak ada sosok Hoya yang pemarah, dan tak ada sosok Woohyun yang tampak lemah seperti orang ditindas. Semua itu berubah semenjak setahun yang lalu, entah karena apa. Yang Myungsoo tahu adalah sejak setahun lalu, nama Infinite Power ramai dibicarakan orang-orang dan banyak tawaran rekaman acara televisi yang datang pada mereka. Jumlah para Inspirit juga semakin banyak dan mengidolakan mereka. Myungsoo juga sering mendapatkan tawaran beberapa drama televisi sejak saat itu, yang kemudian membuatnya harus vakum dari sekolah dan kegiatan promosi bersama Infinite Power. Myungsoo jarang melakukan kegiatan bersama Infinite Power hingga akhirnya begitu ia kembali, Hoya dan Woohyun sudah berubah. Hoya berubah pemarah, dan Woohyun berubah kalem seperti orang yang tertindas. Hey, kemana sosok Hoya yang dulu peduli padanya? Kemana sosok Woohyun yang dulu ceriwis dan sering mengajaknya mengobrol? Sampai sekarang Myungsoo tidak tahu apa yang membuat mereka berubah hingga perlahan ia juga berubah keras kepala dan rasa kekeluargaan di Infinite Power musnah begitu saja setelah hampir dua tahun bersama.

“Kau masih tidak tahu apa salahmu?”

“Astaga!”

Myungsoo yang baru saja keluar dari toilet pria langsung terlonjak kaget begitu mendengar suara di belakang telinganya. Ia membalik tubuhnya sambil memegang dadanya yang berdebar karena terkejut, sementara iris hitamnya membulat begitu mendapati gadis bertopi hitam dengan rambut yang dikucir kuda ke belakang berdiri menyandar di samping pintu toilet pria.

“Kau lagi?!” pekik Myungsoo, terkejut.

Gadis itu balas menatap Myungsoo dengan ekspresi bingung. “Kenapa kau terkejut begitu?”

“Bagaimana bisa aku tidak terkejut kalau kau selalu saja datang mengagetkanku dan muncul tiba-tiba?! Seperti cenayang saja! Dan sejak kapan kau berdiri disitu?!” tanya Myungsoo dengan setengah membentak. Ia masih tidak bisa memaafkan gadis itu yang muncul tiba-tiba di depan matanya dan membuat jantungnya yang malang itu berdebar akibat terkejut.

Gadis itu mengedikkan pandangannya pada pintu toilet pria dengan wajah tanpa dosa. “Sejak kau masuk ke dalam sana. Kau tidak melihatku? Padahal aku melihatmu masuk ke dalam sana setelah kau berpamitan dengan Woohyun tadi.”

“Tidak! Aku tidak melihatmu!” bentak Myungsoo hingga gadis itu terdiam. “Aku tidak pernah melihatmu hingga kau muncul tiba-tiba di depanku! Sedang apa kau disini?! Ingin menggangguku lagi, hah?! Ingin mengatakan kau benci padaku lagi, begitu?!”

Memang. Setelah pertemuan pertama mereka sebulan yang lalu di halaman belakang gedung saat ajang musik award itu berlangsung dan gadis itu yang mengomentari cara Myungsoo menyatakan suka pada Soojung, hingga tiba-tiba saja mengatakan benci padanya sebelum meninggalkannya, gadis bertopi hitam itu selalu muncul di hadapan Myungsoo sejak hari itu. Myungsoo bertemu dengan gadis itu di sekolah sebelum hari kelulusannya seminggu lalu. Gadis itu mengomentari cara Myungsoo berteman dengan teman-teman sekolahnya yang bukanlah artis, mengomentari cara Myungsoo belajar di kelas, bahkan hingga mengomentari cara Myungsoo memakan kimbab dengan gaya yang aneh. Gadis itu berisik, banyak bertanya, dan selalu mengusiknya. Bahkan kehadiran gadis itu selalu tiba-tiba. Tiba-tiba muncul di atap sekolah ketika Myungsoo sedang menyendiri disana. Tiba-tiba muncul di dalam kelas ketika Myungsoo sedang sendirian disana. Dan tiba-tiba muncul di belakang sekolah ketika Myungsoo sedang makan kimbab diam-diam tanpa sepengetahuan manajernya yang mungkin akan menggebuknya begitu tahu ia makan makanan seperti itu di hari dietnya. Pokoknya gadis itu benar-benar aneh dan selalu saja tiba-tiba muncul di depannya. Bahkan Myungsoo tidak tahu apakah gadis itu benar-benar bersekolah di sekolah yang sama dengannya ataulah hanya seorang penggemar yang selalu menguntitnya kemanapun ia pergi. Tetapi masalahnya setiap kali gadis itu hendak pergi dari hadapannya, gadis itu selalu memberikan tatapan menahan luka dan kesedihan yang mendalam dalam sorot matanya, lalu berkata, “Sebenarnya, aku membencimu, Kim Myungsoo-ssi.” sampai sampai Myungsoo bosan mendengar gadis itu berkata demikian dan tak lagi memikirkan perkataan yang sebenarnya membuat otaknya bertanya-tanya tentang alasan perkataan itu. Seperti misalnya, hari ini.

Lihat saja, begitu Myungsoo keluar dari toilet pria di lokasi syuting—yang jelas-jelas sebelum ia masuk tadi, tidak ada siapa-siapa di luar sana—gadis itu sudah berdiri menunggunya di samping pintu toilet pria—setelah muncul tiba-tiba, tentu saja—sambil menyandarkan punggungnya ke dinding, lalu mengeluarkan pertanyaan aneh, “Kau masih tidak tahu apa salahmu?”

Bah! Memangnya sedari tadi mereka sedang mengobrol hingga tiba-tiba dia bertanya begitu?! Dan memangnya gadis itu benar-benar cenayang hingga muncul tiba-tiba saja begitu di depannya?! Kalau memang benar begitu, seharusnya Myungsoo segera pergi dari hadapan gadis itu sebelum cenayang itu menarik keluar nyawa dari dalam tubuhnya.

Gadis itu tersenyum miris pada Myungsoo. “Ternyata kau sudah mengenaliku dengan baik, ya, sampai sampai kau tahu kalau aku akan mengganggumu ataupun mengatakan benci padamu.”

“Cih!” Myungsoo membuang muka. Lupakan kalau ia pernah tertarik pada gadis itu saat pertama kali melihatnya di bawah hujan dua bulan lalu, karena saat ini ia sangat membenci gadis itu. Gadis yang katanya juga membencinya. “Kau gadis aneh!”

“Kau bilang kau menyesal telah mengatakan akan meninggalkan Infinite Power, tetapi kenapa kau masih tidak tahu apa salahmu?”

Myungsoo kembali menoleh pada gadis itu dengan kening berkerut. Nah, kan, gadis ini berbicara aneh lagi sekarang!

“Aku memang menyesal, kok. Buktinya aku kembali lagi pada Infinite Power dan tidak meninggalkan syuting.” jawab Myungsoo ketus.

Gadis itu tersenyum, miris. “Kau kembali bukan karena menyesal, Myungsoo.”

Myungsoo terdiam, semakin menatap aneh gadis di depannya.

“Kau tahu tidak, sih, kalau selama ini kau tidak mempedulikan perasaan orang-orang di sekitarmu?” gadis itu bertanya.

“Aku tidak begitu.” jawab Myungsoo seadanya.

Lagi-lagi gadis itu tersenyum miris. “Kau begitu, Kim Myungsoo. Kau tidak menyadarinya karena selama ini kau hanya memikirkan dirimu sendiri.”

Kali ini Myungsoo menatap gadis itu dengan tatapan tidak mengerti. “Kau ini sebenarnya bicara apa, sih?”

“Apakah kau pernah memikirkan perasaan dua rekan kerjamu saat kau melakukan syuting sendirian untuk MV kalian bertiga?” tanya gadis itu.

Myungsoo terdiam.

“Apakah kau pernah memikirkan perasaan dua rekan kerjamu saat hanya kau yang mendapatkan tawaran drama televisi, sementara mereka berdua tidak?”

Myungsoo masih terdiam.

“Apakah kau pernah memikirkan perasaan dua rekan kerjamu saat kebanyakan penggemar menyukaimu, padahal kau tidak pernah bernyanyi maupun menari dengan baik bersama mereka bertiga?”

Melihat Myungsoo yang masih saja terdiam, gadis itu kembali tersenyum, miris. “Sudah kubilang kalau kau tidak pernah memikirkan perasaan orang-orang di sekitarmu, Kim Myungsoo. Kau hanya memikirkan dirimu sendiri hingga kau tidak tahu apa kesalahanmu pada dua rekan kerjamu.”

Myungsoo geram. “Jadi kau menyalahkanku karena telah membuat mereka berdua berubah? Itu bukan salahku! Dan bukan berarti juga aku tidak memikirkan mereka! Aku kan visualnya, jadi jelas saja kalau aku syuting sendirian untuk MV, mendapat tawaran drama lebih banyak, dan juga memiliki penggemar lebih banyak daripada mereka. Itu karena aku adalah visualnya!”

Gadis itu mengangguk-angguk. “Ya, kau seperti itu. Kau memang selalu seperti itu, Kim Myungsoo, menjadikan posisi visualmu sebagai jawaban dari setiap pertanyaan, seakan-akan posisi visual itu lebih penting dibandingkan yang lainnya, tanpa pernah sedikitpun memikirkan perasaan oranglain yang memiliki posisi yang jauh lebih penting daripada posisi visual.”

Myungsoo kembali terdiam.

“Aku tanya padamu, Kim Myungsoo.” gadis itu menatap Myungsoo intens. “Sebenarnya Infinite Power itu apa, sih?”

Myungsoo tidak menjawab.

“Apakah kau pikir Infinite Power adalah kumpulan pria model yang hanya dilihat tampangnya saja oleh para penggemar? Bukan, kan? Infinite Power adalah boyband, kan? Lalu, apakah kau pikir MV Infinite Power adalah tayangan drama yang hanya dilihat model dramanya saja oleh para penggemar, tanpa mendengarkan suara ataupun musiknya? Dan apakah kau pikir penampilan Infinite Power saat di atas panggung hanyalah hiburan semata yang hanya dilihat orang-orangnya saja oleh para penggemar, tanpa melihat gerakan tariannya? Kalau memang begitu yang kau pikirkan, apa gunanya ada main vocalist dalam sebuah boyband kalau suara ataupun musiknya tidak didengar? Apa gunanya ada main dancer kalau gerakan tariannya tidak dilihat?”

Myungsoo membuang muka. “Tetap saja posisi visual itu lebih penting daripada main vocalist dan main dancer! Kalau tidak ada visual, mana bisa boyband itu menarik perhatian penggemar? Mana bisa boyband itu menjadi terkenal?”

“Astaga!” Gadis itu tampak terpekur mendengarnya. “Ternyata kau belum mengerti juga, Kim Myungsoo, setelah aku mengatakan itu semua padamu.”

Myungsoo kembali menoleh pada gadis itu dengan tatapan tidak suka, kali ini sambil berkacak pinggang.

“Bagian mana yang harus kumengerti dari perkataan tak berguna yang keluar dari mulutmu, hah?!” teriak Myungsoo, murka. “Kau kira kau adalah orangtuaku hingga memberiku petuah seperti itu?! Kau kira kau adalah orang hebat yang selalu ikut campur dengan masalah oranglain dan bisa menyelesaikannya dengan mudah semudah membalikkan telapak tangan?! Aku tidak membutuhkan petuahmu! Aku tidak membutuhkan kau untuk mencampuri seluruh masalah pribadiku! Urusi saja dirimu sendiri sebelum kau mengurusi oranglain! Dasar gadis tidak tahu diri!”

Gadis itu terdiam. Ia menatap Myungsoo dengan tatapan sedih dan sorot menahan luka yang mendalam, lalu tersenyum miris.

“Sudah kubilang kalau sebenarnya aku membencimu, bukan?” ucapnya, lalu berbalik pergi meninggalkan Myungsoo.

YYA! AKU JUGA MEMBENCIMU, KAU TAHU?!” balas Myungsoo.

————————

Myungsoo kembali ke lokasi syuting dengan napas terengah-engah. Woohyun yang melihat Myungsoo seperti itu sampai bingung. Ia menghampiri Myungsoo dengan wajah khawatir.

“Kau kenapa, Myungsoo?” tanya Woohyun, hendak menyentuh pundak Myungsoo untuk menenangkannya.

Namun Myungsoo terlebih dahulu menangkisnya hingga Woohyun cukup tertegun.

“Aku tidak ingin diganggu!” ucap Myungsoo dengan suara tertahan, lalu melepaskan tangan Woohyun, dan berjalan menuju salah satu bangku yang kosong dan duduk disana.

Woohyun hanya memandang Myungsoo dengan pandangan kecewa. Ia berniat hendak menghampiri lelaki itu kembali untuk menenangkan pikirannya, namun tampaknya itu tak berguna. Maka dari itu, Woohyun duduk di bangku kosong lain daripada duduk di bangku kosong sebelah Myungsoo, memilih untuk menghindari Myungsoo.

Syuting hari ini berlangsung lebih lama dibandingkan kemarin. Mungkin karena Myungsoo berkali-kali melakukan kesalahan, atau mungkin karena suasana hati lelaki itu yang sedang buruk, atau mungkin juga karena pemeran wanita yang mengeluh karena Myungsoo tidak bisa menghayati perannya dengan baik. Woohyun yang melihatnya dari belakang kamera hanya mendesah berat, benar-benar merasa kecewa pada Myungsoo, tetapi ia tidak bisa berkata untuk menasehatinya. Ia takut kalau ia malah… disalahkan. Seperti yang pernah Hoya lakukan padanya waktu itu.

Syuting baru selesai ketika mendekati malam. Myungsoo langsung meraih jaketnya dan berjalan menuju travel tanpa membungkukkan badan sebagai rasa terimakasih. Woohyun pun mewakili Myungsoo untuk membungkukkan badan sebagai rasa terimakasih pada para staf, produser, maupun pemeran wanita, lalu langsung berlari menghampiri travel.

Begitu Woohyun masuk ke dalam travel, Woohyun sudah melihat Myungsoo bersandar di jok tengah dengan mata terpejam. Tampaknya lelaki itu lelah sekali.

Hyung, langsung pulang ke dorm saja.” kata Woohyun pada Manajer Oh yang juga sudah duduk di balik kemudi, yang kemudian dibalas dengan anggukan oleh manajernya.

“Tidak.” Myungsoo menyahut dari jok tengah hingga membuat Woohyun dan Manajer Oh menoleh ke belakang dan memperhatikan Myungsoo yang masih terpejam. “Kita ke diskotik, hyung. Aku ingin minum.”

Woohyun mendelik. “Besok kau masih syuting, Myungsoo.”

“Sedikit saja.” sahut Myungsoo. “Aku benar-benar ingin minum.”

Woohyun dan Manajer Oh saling pandang dengan tatapan pasrah. Si keras kepala berbicara, maka mereka tak punya pilihan lain selain menurutinya.

————————

Myungsoo datang ke diskotik yang sama dengan yang Hoya kunjungi saat ini. Mereka sempat bertemu pandang sebelum Myungsoo mengalihkan pandangannya duluan. Ia terlalu lelah dan ingin segera minum, maka dari itu ia tidak mempedulikan Hoya yang sedang duduk di salah satu sudut diskotik bersama beberapa aktor ANA Entertainment lainnya. Gadis bertopi hitam itu benar-benar merusak mood-nya saat ini. Awas saja kalau gadis itu muncul di hadapannya lagi, ia tidak akan membiarkan gadis itu lolos dengan perkataan-perkataan menyakitkan yang keluar dari mulutnya itu.

Berbeda dengan Myungsoo yang tidak begitu mempedulikan Hoya karena mood buruknya gara-gara gadis bertopi hitam itu ketika mereka bertemu pandang, Hoya justru melihat Myungsoo membuang muka padanya karena lelaki itu marah padanya karena perkataannya yang ia ucapkan pada Myungsoo kemarin di loksi syuting. Menyadari Myungsoo marah padanya, Hoya malah semakin marah padanya. Padahal nyatanya sebenarnya Myungsoo hanya tidak ingin berurusan dengan oranglain maka dari itu ia memilih untuk mengabaikan Hoya. Tetapi Hoya malah menganggap lain.

“Bukankah itu Myungsoo?” tanya Sungyeol, aktor ANA Entertainment yang bergabung dengan meja Hoya hingga seluruh orang di mejanya menoleh pada Myungsoo yang memilih meja kosong dan duduk sendirian.

“Benar.” timpal Dongwoo, aktor lainnya. “Dia ingin minum? Memangnya sudah boleh? Bukankah dia masih bersekolah?”

“Dia baru saja lulus seminggu yang lalu.” sahut Hoya. Ia menatap Myungsoo yang kini mengambil minuman pertamanya dengan tatapan tidak suka. “Ya, meskipun telat setahun.”

Sungyeol tertawa, ia sudah setengah mabuk. “Kupikir kabar kalau Myungsoo tak punya otak itu hanya lelucon, tetapi ternyata itu benar-benar nyata. Bodoh sekali lelaki itu sampai harus melewati masa SMA selama 4 tahun.”

Hoya hanya tertawa dalam hati mendengar ucapan Sungyeol, membenarkan ucapan lelaki itu. Tatapannya masih mengarah pada Myungsoo yang sedang menenggak gelas pertamanya dengan tatapan tidak suka.

“Hey, bukankah itu Soojung?”

Hoya menoleh ke arah pintu diskotik begitu Sungjong, aktor yang lain, berseru. Matanya memicing, memperjelas penglihatannya pada sosok gadis yang mengenakan dress mini ungu ketat yang baru saja masuk ke dalam diskotik. Benar, itu Soojung.

“Kudengar Soojung menyukaimu.” kata Sungjong pada Hoya.

Hoya mengangkat alis. “Benarkah?”

Sungjong mengangguk. “Jessica—kakaknya Soojung—pernah mengatakannya padaku. Dia benar-benar tergila-gila padamu, Hoya.”

Hoya hanya mendengus tidak peduli. Matanya kembali teralih pada Myungsoo yang masih menenggak minumannya. Namun tiba-tiba saja ia melihat Myungsoo berdiri dari duduknya dengan pandangan lurus ke depan. Hoya mengikuti arah pandang Myungsoo dan menyadari kalau Myungsoo sedang memandang ke arah Soojung yang baru saja masuk ke diskotik. Hoya melihat Myungsoo hendak melangkah mendekati gadis itu.

Myungsoo menyukai Soojung. Hoya tahu itu. Maka tidak heran kalau Myungsoo akan menghampiri gadis itu.

Namun kemudian Hoya tertegun, menyadari sesuatu. Salah satu sudut bibirnya terangkat ke atas begitu menemukan ide cemerlang.

Myungsoo menyukai Soojung, tetapi Soojung menyukaiku. Sepertinya itu menarik, batin Hoya dalam hati.

Hoya menoleh pada Sungyeol, Dongwoo dan Sungjong, lalu tersenyum smirk pada mereka. “Kalian tahu? Aku juga menyukai Soojung.” katanya.

Sungyeol, Dongwoo dan Sungjong cukup terkejut dengan ucapan Hoya.

“Setelah tahu kalau dia juga menyukaiku, berarti aku harus bergerak cepat, bukan? Terimakasih atas infonya, Sungjong.”

Setelah berkata begitu, Hoya bangun dari duduknya dan bergegas mendekati Soojung sebelum Myungsoo yang terlebih dahulu tiba di dekat gadis itu.

Myungsoo menghentikan langkah dan terkejut begitu melihat Hoya bergerak mendekati Soojung dan berhenti tepat di depan gadis itu. Tetapi rasa terkejutnya tidak cukup sampai disitu.

Karena tiba-tiba saja ia melihat Hoya meraih pinggang Soojung yang tampak terkejut dengan kehadiran Hoya yang tiba-tiba, merapatkan tubuh gadis itu pada tubuhnya, mengikis jarak di antara mereka, lalu mencium bibir merah muda Soojung.

Manik Myungsoo serasa ingin meloncat keluar saat melihatnya.

Hoya-mencium-bibir-Soojung. Gadis yang disukainya!

—tbc

Nggak ada yang perlu dijelasin di part ini, reader renungkan sendiri aja apa yang tersirat dalam part ini, wkwk… Untuk next chapter belum tau mau di publish kapan, hari Senin udah mulai kuliah dan kembali rapat ini-itu, jadi aku gak janji bakal update cepet, tapi aku bakal usahain. Enjoy it aja yaa ^^ Jangan lupa tinggalkan jejak 🙂

Regards, zulfhania

Advertisements

5 thoughts on “[Multichapter] Destiny — Part 4

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s