We Got Married! [Chapter 1]

we-got-married2

INDO FANFICTIONS PRODUCTION || INSIPIRED BY THE KOREAN TV SHOW ‘WE GOT MARRIED’

SCRIPT WRITER SLMNABIL || ART DIRECTOR JUNGLEELOVELY @POSTER CHANNEL

PROUDLY PRESENTS

Kalau Sooyeon perlu sesuatu untuk dibanting, maka ponsel bukanlah jawaban yang tepat. Sekalipun benda mungil berwarna putih itu sudah menyalak saat bulan pun masih enggan meninggalkan posisinya.

Ia meraba meja kecil di samping ranjangnya, menarik paksa alarm barunya lalu menggeser kunci layar masih dengan mata terpejam. Sooyeon mengerjap, mengira-ngira siapa gerangan manusia kurang kerjaan yang mengiriminya pesan di pukul 5 dini hari.

Sialan, adalah kata pertama yang ia ucapkan sesaat setelah kelopak matanya terbuka sempurna. Isi pesannya kurang lebih berbunyi seperti ini, “Manusia produktif itu bukan yang masih bermalas-malasan di ranjang saat orang lain sudah mulai berlari. Datanglah ke stasiun TV hari ini, aku memiliki jadwal promosi di acara musik. Kau tidak lupa soal acaramu ‘kan, Bintang Baru?”

“Dia mengejekku atau apa,” kata Sooyeon. “Hei idiot, seharusnya kau belajar cara mengawali pesan-

“Apa? Apa? Apa?” Sooyeon memotong bicaranya sendiri seketika saat panggilan video dari Chanyeol yang begitu tiba-tiba masuk ke ponselnya. Entah karena panik atau gerakan refleks, ia menyentuh ikon hijau yang memunculkan pemilik wajah di seberang sana setelahnya.

IMG_20150618_141950

“Ketahuan kau, mengumpatku,” kata Chanyeol.

Sooyeon diam saja, namun irisnya melemparkan tatapan tajam sebagai respon.

Chanyeol bicara lagi. “Datanglah ke stasiun TV, aku serius. Produser Lee tidak mengatakan apa-apa padaku dan tiba-tiba saja sudah ada kamera di depan dorm. Aku tidak tahu si bodoh macam apa yang berkoar soal revolusi, membuat semuanya menjadi rumit saja.”

“Jangan main-main denganku, kau menyebalkan. Memangnya siapa yang mengancamku dengan cara murahan untuk menerima acara ini?” debat Sooyeon.

“Kau masih saja tidak bisa mengekspresikan kebahagiaanmu secara benar. Aku tahu kau tidak bisa tidur semalaman ‘kan? Memikirkan berdekat-dekatan dengan manusia setampan ini?”

Sooyeon mendengus. “Mati sajalah sana. Aku mau tidur, awas kau berani menghubungiku lagi.”

“Berarti kau harus membayar denda. Kau tahu Produser Lee mengatakan kalau ia akan menuntutmu atas ketidakloyalanmu terhadap acara sendiri. Jadi jangan konyol dan datang saja ke stasiun TV. Aku sibuk jadi kita tidak bisa bertemu di tempat lain.”

Sooyeon yang semula masih berbaring seketika mendudukkan dirinya. “Kau pikir kau saja yang sibuk? Aku juga harus ke penerbitan hari ini.”

“Aku tidak mau tahu, pokoknya pukul 9 kau sudah harus berada di sini.”

Dan begitulah, perdebatan mereka pagi ini selesai. Chanyeol memutus sambungan sepihak membuat Sooyeon terlihat mulai sinting dengan meneriaki ponselnya sendiri. Ia mengacak rambutnya kesal sebelum bangkit dari tempat tidurnya.

Hanya karena satu orang, satu manusia menyebalkan, jadwalnya berantakan. Mau tak mau Sooyeon harus merubah jam pertemuannya dengan penerbit. Sialnya, ini adalah novel perdananya dan dengan banyak menuntut Sooyeon sudah berasumsi aneh-aneh kalau mungkin saja naskahnya akan ditolak.

Sooyeon mengambil langkah terpaksa ke kamar mandi. Sekelibat, ia bisa melihat sebuah benda mungil berwarna hitam dengan lensa terpasang di sudut kamarnya. Menangkap itu mau tak mau Sooyeon memutar tubuh dan membayar keingintahuannya.

“Sial, sejak kapan ada kamera di sini?”

Kelebatan percakapannya dengan Park Chanyeol menyarang di kepalanya, membuat Sooyeon panik karenanya. Jika rekamannya sudah di mulai, artinya sejak dirinya masih menempel di ranjang sampai saat ini….

“Mereka akan memotong klip ini ‘kan? Tentu saja mereka akan,” katanya sangsi. Perlahan Sooyeon melangkah mundur, namun pandangannya sama sekali belum lepas dari lensa kamera yang sudah bekerja.

“Mereka akan memotongnya,” kalimat terakhir yang diucapkannya sebelum menghilang di balik dinding kamar mandi.

ksy

WE GOT MARRIED’S WRITER, KIM SOOYEON

kim4

Q : Perkenalkan dirimu.

“Kim Sooyeon. Penulis. Aku tidak tahu harus mengatakan apa, tapi aku merasa konyol. Apalagi setelah mengetahui kalau ternyata klip di kamarku tidak dipotong.”

Chanyeol tersenyum menang.

“Jangan salah paham soal perdebatan kami,” katanya melirik ke kamera –masih memainkan ponselnya. “Ketertarikan tidak harus di tunjukkan dengan kata-kata manis bukan?”

plll

GLOBAL STAR EXO, PARK CHANYEOL

chan4

Q : Perkenalkan dirimu.

“Halo, disini Park Chanyeol. Aku senang sekali bisa berpartisipasi dalam acara ini, apalagi sebagai pasangan pertama tanpa campur tangan penulis. Ah tentu saja, penulisnya ‘kan pasanganku.”

[1st Episode]

Knowing Each Other

Bagi pemuda jangkung ini di ikuti kamera kemana-mana mungkin bukan sesuatu yang perlu dibawa rikuh. Tidak diragukan lagi jika ia adalah seorang bintang.

Chanyeol sudah menyelesaikan rekaman pertama dan keduanya, dan sekitar 15 menit lagi untuk yang terakhir. Asal kalian tahu saja tampil dalam acara musik tidaklah sesederhana itu, perlu beberapa jam untuk penyesuaian dengan kamera dan panggung. Bukan menyanyi satu kali lalu pulang. Betapa menyenangkannya jika seperti itu.

Ruang tunggu EXO selalu gaduh. Sebagian bergurau, sibuk dengan ponselnya, bermain game, dan minoritasnya tidur. Dari empat opsi yang tersedia Chanyeol memilih yang kedua, sibuk dengan ponselnya. Mencekoki Sooyeon dengan banyak sekali pesan adalah caranya agar gadis itu berada di teritorialnya sesegera mungkin.

“Hyung, mana dia mau datang kalau pesanmu saja mengancam seperti itu.”

Chanyeol tidak menyadari saat Sehun mencuri lihat sejak tadi, membuat pemuda itu kesal. “Lalu apa yang harus kukatakan?”

“Apa saja, selain menakut-nakutinya dengan kata loyalitas, profesional, tuntutan, atau denda.”

“Kalian itu dua orang yang akan tinggal satu rumah nantinya, tapi kesan pertama antara satu sama lain benar-benar buruk,” Suho ikut menimpali.

“Mungkin kau bisa mulai memanggilnya Sayang,” Baekhyun tersenyum jahil.

Chanyeol mendelik. “Jangan gila,” katanya lalu kembali tenggelam dengan pesan-pesannya.

“Kau akan mengacaukan acaramu sendiri jika tidak datang, Kim Sooyeon. Aku serius, tapi jangan egois.”

Ia melempar ponselnya kesal ke sofa. Memanggil Sooyeon dengan nama lengkap mengingatkannya ke masa lalu. Dulu jika Chanyeol mulai marah atau serius, ia akan memanggil Sooyeon dengan nama lengkap. Dan ia hanya berharap kalau gadis itu masih ingat, dengan begitu Sooyeon akan segera ke sini.

“Waktunya rekaman terakhir.”

Untuk terakhir kalinya, Chanyeol memeriksa ponselnya kembali. Namun tidak ada balasan.

“Tidak usah galau begitu, nanti juga dia datang. Ayo,” kata Suho sembari merangkul pundaknya dan menarik Chanyeol untuk mengambil langkah ke luar.

Beriringan dengan gerakan kakinya, Chanyeol tak henti-hentinya meyakinkan diri untuk tidak berpikir soal Sooyeon lagi. Penggemar tidak akan suka melihat dirinya yang tampak dibebani.

Tapi gadis satu itu sulit sekali disingkirkan. Bahkan di lautan penggemar yang duduk di kursi penonton saja samar-samar ia masih melihat Sooyeon. Chanyeol sudah menaiki panggung, dan seharusnya ia berhenti terlihat konyol dengan menilik-nilik memastikan.

Tetap saja begitu nyata seakan Sooyeon memang tengah berdiri, melihatnya dari radius dua meter di samping kameramen. Gadis itu bersilang lengan di depan dada dan terlihat kesal.

“Datang juga, istrimu.”

Jika Kai tidak tiba-tiba menyenggol bahunya dan mengatakan itu, mungkin Chanyeol selamanya akan berpikir kalau dirinya berdelusi.

Sooyeon memang ada di sana, dia datang.

Sebenarnya Chanyeol tidak berniat sama sekali untuk menarik bibirnya naik, namun nyatanya ia tengah tersenyum begitu lebar saat ini.

“Dia memang sudah gila dari sananya,” cibir Sooyeon tanpa berpaling.

“Kalau begitu, mari kita bentuk kesan yang baik untuknya,” kata Chen. “Buat dia terkesan, Bung.”

Jadi Chanyeol tersenyum, mengerling, enerjik, dan sok keren selama penampilan. Membuat Sooyeon ingin muntah sekaligus bersyukur akan sikap apatis dunia musiknya selama ini.

“Gadis-gadis ini pasti tidak punya kerjaan lain,” katanya kesal karena tidak henti-hentinya lautan manusia di belakangnya berteriak. “Ah berisik!”

Sooyeon terlanjur kesal. Berdiri empat menit di sana bukanlah sesuatu yang ia akan lakukan. Setidaknya ia sudah menunjukkan batang hidungnya di hadapan Chanyeol, pikirnya. Dan Sooyeon meninggalkan ruangan.

Tapi sebenarnya pertunjukan sudah hampir selesai, meski banyak mengumpatpun gadis itu menonton hampir keseleruhan lagu mereka.

Jadi tidak sulit untuk mengimbangi langkah Sooyeon yang malas dengan tungkai panjangnya. Hanya perlu sedikit berlari,

dan

“Kukira kau tidak akan datang,” Chanyeol sudah bisa mengatakan ini tepat di samping gadis itu. “Aku menunggumu di ruangan kami.”

Sooyeon tidak bisa tidak terkejut karenanya, tapi tentu saja ia tidak menunjukkannya secara gamblang. “Aku memang datang, dan kau tidak perlu tahu dimana aku berada.”

Ia mempercepat langkahnya. Tersenyum canggung saat bertemu dengan beberapa artis lain dan pekerja yang menatapnya terheran-heran.

Dan Sooyeon menunjukkan wajah seperti, “Ya,ya aku memang melanggar prinsipku. Tapi serius aku tidak menyukai idol.”

“Ah tapi dengan siapa kau berjalan sekarang?” gerutunya lirih, lebih kepada dirinya sendiri. Sooyeon hampir saja melupakan kalau ada kamera yang sekarang tengah meliputnya dan nanti wajahnya akan disiarkan secara bebas.

“Aku benar-benar berkhianat.”

“Kenapa?” tanya Chanyeol polos.

“Kau tidak perlu tahu.”

Pemuda itu menarik lengan Sooyeon tiba-tiba, mau tak mau ia siap memuntahkan perbendaharaan katanya jika matanya tidak menangkap lensa kamera.

“Aku harus berganti pakaian dulu, jadi tunggu di sini.”

Sooyeon mendelik. “Dan kau berpikir aku akan melakukannya?”

Chanyeol tersenyum menantang. “Atau kau ikut ke dalam dan membantuku berganti pakaian? Pilih satu, orang-orang akan berpikir kau kejam.” Ia menunjuk kamera dengan dagunya.

“Aku-akan-menunggu.”

Sooyeon tidak percaya dirinya mengatakan ini. Tapi ya, dia memang mengatakannya. Dan seluruh dunia sudah mendengarnya.

Namun selalu ada semacam pengalih perhatian, apapun bentuknya Sooyeon hanya selalu ingin berpura-pura tidak melihat dan melarikan diri.

8 orang pemuda tengah berjalan ke arahnya, dan yang dilakukannya adalah memutar tubuh kemudian mengambil langkah defensif sejauh mungkin.

kim4

Q : Kenapa kau menghindari mereka?

“Ah, mungkin orang-orang akan salah paham. Tapi serius dari sananya aku tidak suka terlibat dengan orang-orang musik. Rekan kerjaku tidak ada yang tak tahu kalau aku apatis tentang yang seperti itu.”

Q : Apa ada alasan dibalik itu?

“Kukira kita tidak perlu membahasnya.”

Q : ….

Berselang beberapa menit setelahnya Chanyeol menampakkan diri. Ekspresi pertamanya menyiratkan, ‘Kemana anak ini?’ yang begitu kentara. Mendadak ia ingat soal rekan satu grup yang menggodanya tadi, pasti mereka ada sangkut pautnya. Tidak salah lagi.

“Kalian menerkam istriku atau semacamnya?” tanyanya tak sabaran.

Baekhyun hampir saja tersedak dan memuntahkan kembali air mineral yang tengah diteguknya. “Is-tri-mu yang menghindari kami tahu!” sahutnya dengan penegasan di awal kata.

“Kalau dia tidak mau syuting, awas saja kalian.”

Dan Chanyeol menghilang setelahnya, dengan sedikit membanting pintu.

Menuju lapang parkir adalah hal kedua yang ia lakukan, harap-harap kalau memang Sooyeon ada disana. Chanyeol tidak mau membuang waktu, membuat sang kameramen harus mengerahkan tenaga ekstra karenanya.

Dan disanalah dia, berjongkok sembari memainkan bebatuan di samping mobil yang berlabel ‘Chanyeol&Sooyeon,’ membuat pemuda itu mau tidak mau tersenyum geli.

“Kukira kau akan melarikan diri.”

Sooyeon mendongak, lalu bangkit menarik diri. “Memang sudah akan kulakukan. Tapi sayangnya kemanusiaanku terlalu tinggi.”

Chanyeol tertawa ringan. “Kemanausiaan apaan? Mulut barbar sepertimu?”

“Masuk atau kusumpal mulutmu,” katanya sinis kemudian beranjak ke pintu kemudi.

“Kau pikir apa yang kau lakukan sekarang?” cegah Chanyeol.

Sooyeon berjengit. “Bersiap berkendara tentu saja. Kau ‘kan tidak punya SIM.”

“Sial, tentu saja punya. Minggir kau.”

Tubuh Sooyeon di dorong paksa beberapa langkah ke belakang, Chanyeol seenaknya saja mengambil alih.

“Baiklah, aku tidak harus mengacaukan jadwal karena ini.”

Jadi Sooyeon memutar langkah ke kursi sampingnya, menyentakkan pintu, memasang sabuk pengaman, dan pura-pura tidur. Atau apa sajalah yang mencegahnya sadar kalau ia tengah berada di teritori yang serupa dengan manusia idiot.

“Kita mau ke-“

“Penerbitan, jangan tanya lagi dan mengacau,” potong Sooyeon lalu pura-pura tidur lagi.

Chanyeol mendecak, menginjak gas, mobil pun melaju. “Dasar aneh.”

“Aku akan tahu jika kau mengumpatku.”

chan4

Q : Kau sungguh penurut dengan tidak mengatakan sepatah katapun selama perjalanan. 

“Ayahku selalu mengatakan kalau saat para gadis menyukai pria yang tidak banyak menuntut dan mengerti. Bukankah begitu?”

Q : Tapi kau tidak mengatakan satu patah katapun.

“Memang.”

Q : …

Sudah sampai.

Satu kalimat, dua kata, empat suku kata, sepuluh huruf. Inilah yang membuat Sooyeon terbangun. Ia tidak percaya kalau dirinya benar-benar tertidur.

Sooyeon memendarkan irisnya ke sekitar, dan baru saja berniat berteriak kalau-kalau Chanyeol membawanya ke tempat yang salah.

Namun tidak, bisa dipastikan kalau ia berada di tempat yang tepat. Sooyeon tidak percaya kalau pemuda ini masih mengingatnya.

Menjadi penulis adalah mimpinya sejak dulu, dan penerbitan yang tengah dipijaknya saat ini adalah yang selalu ia targetkan. Sooyeon hanya mengatakannya pada satu orang, dan sekarang orang itu sendiri yang mengantarkannya kemari.

“Kenapa melihatku seperti itu? Baru sadar kalau suamimu ini sangat tampan?”

Sooyeon mendelik. “Menikah saja belum, dasar,” sahutnya sebelum mendorong pintu dan melangkah ke luar.

Gadis itu sudah siap menyalak lagi jika Chanyeol tidak berkata duluan. “Jangan menyuruhku untuk menunggu di mobil, enak saja.”

Sang pemuda jangkung mendahului langkahnya.

“Baiklah, jika aku berdebat dengannya bisa hancur moodku.”

Jadi Sooyeon menyusulnya, meski menyisakan beberapa langkah di antara mereka.

“Aku ini bukan pengawalmu, jalan di sini,” kata Chanyeol yang tiba-tiba menghentikkan gerakkan tungkainya. “Aku tidak akan mengatakannya dua kali, atau kugandeng kau.”

Sooyeon melesat dengan cepat ke samping Chanyeol. “Begini saja,” katanya cepat.

Dan mereka mulai berjalan.

“Lucu sekali, kita berdebat tentang segala hal.”

Sooyeon menyahuti. “Itu bukan sesuatu yang perlu dibanggakan,” katanya.

“Rasanya aku sudah tahu cerita kita berkonsep apa.” Jeda sejenak. “Love-Hate Relationship.”

Mau tak mau sang lawan bicara terkikik geli. “Konklusi macam apa itu?”

“Suka-suka aku.”

chan4

 Q : Love-Hate?

“Tiba-tiba terpikir saja, karena kami berdebat tentang semuanya.”

“Kenapa disini tenang sekali?”

Hal yang Chanyeol tanyakan sedetik setelah kakinya melangkah masuk.

“Memangnya apa yang kau harapkan? Berisik seperti tempatmu?”

“Maksudku, memang mencetak buku itu tidak berisik?”

“Percetakannya di atas. Kau tidak mengharapkan produksi dilakukan terang-terangan ‘kan?”

Sooyeon mendahului langkah, terkesan menggurui. Untungnya Chanyeol tidak begitu menanggapinya, ia terlalu sibuk menelanjangi detil-detil tempat yang begitu asing baginya. Sampai ia tidak sadar kalau ternyata Sooyeon sudah meninggalkannya.

“Semua orang menjadi gila karena Chanyeol membintangi acara ini, dan sekarang kau membiarkannya saja seperti itu,” kata sang editor yang sudah membuat janji temu dengan Sooyeon.

Gadis itu lebih memilih untuk tidak menggubrisnya. “Bagaimana naskahku? Diterima? Siap diterbitkan?”

“Jangan tanya, tentu saja diterima.”

“Anda tidak membuat kesalahan ‘kan? Setahuku imajinasinya benar-benar pendek, hanya secuil.”

Sooyeon tidak bisa tidak terkejut. Ia tidak sadar sejak kapan Chanyeol sudah berada di balik punggungnya dan menguping pembicaraan.

Editor itu tersenyum. “Pasangan lain sibuk membentuk impresi sebaik mungkin di syuting pertama, kalian malah saling mengumpat. Kalian punya hubungan khusus ‘kan?”

Sooyeon mendadak gugup. “Tidak ada sesuatu seperti itu! Karena tidak tahu apa yang harus dilakukan, jadi semaunya saja.”

Masih untung Sooyeon tidak lupa caranya bernapas.

“Kalau begitu, terimakasih dan aku akan menghubungi lagi. Permisi.”

Gadis itu menarik Chanyeol untuk segera meninggalkan tempat ini sebelum mengatakan yang aneh-aneh. Maklum saja, manusia bernama Park Chanyeol memang dilahirkan antik dan tak terduga. Sooyeon yang kewalahan untuk mengantisipasi.

Tarik-menarik ujung pakaian terus saja berlangsung, sampai mereka memasuki area parkir lagi.

“Selamat, Nona Penulis.”

“Mengataiku lalu memberi ucapan selamat? Lelaki plin-plan kau.”

“Karena kau sedang senang jadi aku tidak mau mengacaukannya, aku akan menganggap tidak mendengarnya.”

Sooyeon memutar iris. “Kenapa harus repot-repot?”

“Tiga permintaan untuk calon penulis. Katakan sebelum aku berubah pikiran.”

“Tidak usah, pulang saja.”

“Katakan saja, akan kukabulkan apapun itu.”

“Pulang. Pulang. Pulang. Kabulkan! Itu permintaanku.”

kim4

Q : Kenapa kau ingin pulang? 

“Aku tidak mau melakukan selebrasi dengannya. Kami tidak sedekat itu.”

chan4

Q : Kau benar-benar mengantarkannya pulang.

“Kami sudah cukup berdebat hari ini, jadi aku menurut saja.”

Q : Dari interaksi kalian sepertinya kalian saling mengenal?

“Yah aku tidak akan menampiknya.”

Q : Sejak awal aku penasaran. Apakah kau terlibat dalam suatu hubungan dengan Sooyeon di masa lalu?

“Dia akan membunuhku kalau mengatakannya. Anggap saja kami saling mengenal.”

Dengan apa hubungan bunuh-membunuh kita sebut? 

.

.

.

Next Chapter Preview

Sebut saja ini sebuah persiapan pernikahan berdarah.

“Siapa saja yang mau kau undang?”

“Malaikat maut. Supaya bisa membawamu bersamanya saat ia kembali.”

“Tapi Malaikat Maut dan aku itu sahabat baik.”

“…”

.

.

Buat kalian yang nunggu FF ini sampe bulukan, Nabil cinta kalian ❤ Dan buat readers baru, welcome to my world yaaa 🙂

Segala kritik dan saran mengenai acara ini diperbolehkan untuk meningkatkan kualitas bacaan bersama (?)

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s