Cannibal [Chapter 6-Last]

CANNIBAL 2

 “Lucu memikirkan bahwa di luar sana ada orang lain yang berusaha menghancurkan kita, namun lihatlah sekarang kita berbaring di ranjang dan berbicara tentang masa lalu.”

2015 © slmnabil

poster belongs to Jungleelovely © poster channel

PREVIOUS

Kim Ahra.

Jongin tidak tahu menahu soal nama itu, namun respon tubuhnya berkata lain. Tiba-tiba saja ia merasakan tengkoraknya dihantam kuat-kuat, membuatnya.merasakan pening yang luar biasa hebat.

Sedangkan tepat di sampingnya Hyena tahu ada yang tidak beres dengan Jongin, hanya dia tidak mau menunjukannya saja. Apakah mengingatkan Jongin akan masa lalunya baik atau tidak? Entahlah, Hyena harus menunggu. Tak ayalnya seorang psikopat, ia akan membunuh Kim Jongin perlahan dengan memori-memori usangnya.

“Kau baik-baik saja?” tanya Hyena berpura-pura perduli. Padahal kenyataannya persetan dengan penghapusan memori, ia akan membuat Jongin bunuh diri untuk yang kesekian kalinya.

Tapi terkadang ekspektasi tak realistis bisa saja membunuh pengerat yang kau buat. Jongin terlihat kesakitan, dan Hyena -sialnya- tidak sebenci itu untuk mengacuhkannya. “Jongin, kau berkeringat. Ada apa?”

Ia memutar alat bantu jalannya, menghadap Jongin yang terpaku memegang tengkorak kepalanya, Jongin meringis. Hyena refleks menyentuhnya.

Dia panik bukan main, namun tidak bisa berbuat banyak karena tungkainya tidak berfungsi dengan baik. Hyena tidak tahu keputusannya benar atau tidak saat dengan santainya ia menarik bahu Jongin turun, menyejajarkan tinggi mereka. Dan Hyena mendekapnya.

Disingkarkannya telapak tangan Jongin yang meremas tengkoraknya kasar, dengan mengelus rambutnya lembut sebagai pengganti.

“Kita pulang, kau akan baik-baik saja,” kata Hyena lirih persis di telinganya. “Bertahanlah, aku akan mencari bantuan.”

Ia baru saja akan melepaskan dirinya dari Jongin, namun pria itu terlanjur tak sadarkan diri. Jongin hampir saja terjatuh jika sepasang lengan tidak cepat-cepat menopang berat tubuhnya. “Bibi!” seru Hyena begitu melihat pemilik lengan yang sejatinya adalah Bibi Han.

“Lama tidak bertemu, Nona.”

Wanita paruh baya ini terlihat baik-baik saja, syukurlah. Hyena sempat berpikiran liar kalau Key akan menyakitinya karena Bibi Han terlibat juga dalam penculikannya, kenyataan bahwa ia tidak melindungi Hyena saat Seulgi membawanya.

“Bi, apa yang sedang kau lakukan di sini?”

Bibi Han menyunggingkan senyum simpul. “Kita lewatkan saja dulu acara nostalgianya, Tuan Kim butuh pertolongan Nona.”

Hyena melirik Jongin lagi, sial hampir saja ia melupakannya. Mengikuti instruksi Bibi Han, beberapa penjaga keamanan datang kemudian membawa Jongin kembali ke basement.

“Aku saja,” cegah Bibi Han saat Hyena baru saja hendak membuka pintu kursi kemudi.

Menunjukkan persetujuaannya, Hyena memutar alat bantu jalannya lalu membuka pintu belakang-di mana Jongin berada. Ia menumpukan lengannya terlebih dahulu sebelum perlahan memindahkan seluruh anggota tubuhnya, terlihat lihai dengan itu.

Setelah Bibi Han memasukkan kursinya ke bagasi, ia memacu mesin darat itu dengan kecepatan yang cukup tinggi.

Hyena memeriksa keadaan Jongin, lelaki itu masih tak sadarkan diri. Ia menjulurkan lengannya, menyingkirkan surai yang menyampul dahi Jongin sebelum menyeka bulir-bulir air yang mulai menyusut.

Disebut gerakan tak sadarpun tidak, Hyena jelas-jelas tahu apa yang sedang diperbuatnya. Ia mengkhawatirkan monster ini. Dirinya yang menyebut-nyebut akan membunuh Kim Jongin dengan kenangan, malah terjembab dalam permainannya sendiri dan memori indah bersama Jongin mulai berdatangan.

Bagaimana lelaki ini menyentuhnya, tersenyum, menangis, dan mencintainya. Hyena merasa bodoh karena ia terus membiarkan kepingan memori itu berdatangan dan meregenerasi dirinya menjadi satu kesatuan utuh, yang cukup kuat untuk menyadarkannya kalau ia masih menyimpan perasaan terhadap pria ini.

Hyena meraih kepala Jongin, sebelum menempatkannya di bahu miliknya. Bibi Han mencuri lihat dari kaca spion, dan ia merasa berada dalam lingkar kebahagiaan mereka.

Dalam diam, tanpa sepengetahuan dirinya sendiri, hati kecil Hyena melantunkan doa.

Semoga Jongin tidak mengingat apa-apa.

Seulgi pikir Jongin sudah kembali, jadi ia melesat menuju halaman depan meski dirinya mengakui kalau ia memang kesal karena akhir-akhir ini lelaki itu lebih menunjukkan perhatiannya pada Jeon Hyena. Namun sungguh, kekesalan semacam itu tak ada apa-apanya dibanding Key yang ternyata berada di hadapannya dan bukannya seseorang yang ia harapkan.

“Apa?” tanyanya ketus.

Key menunjukkan seringaian serupa. “Kurasa urusan kita belum selesai, gadis rubah.”

Bukan tanpa alasan Key menapaki ternit milik Jongin yang sejatinya ingin ia telan bulat-bulat. Bercak darah Hyena di karpet beludru yang sebelumnya ia lihat tiba-tiba saja memacu adrenalinnya. Dan Key mengetahui dengan jelas kalau Seulgi-lah yang menghantam kepala Hyena dengan tabung sampai menyebabkannya terluka, tentu saja dengan meninggalkan jejak merah di barang miliknya.

“Aku tidak ingat pernah terlibat sesuatu denganmu, jadi jangan menggangguku dan selesaikan saja dengan Kai,” kata Seulgi sembari membanting pintu, kalau saja Key tidak kalah cepat menahannya.

“Kau membuat Hyena terluka, tentu saja itu urusanku. Dan soal Kim Jongin, aku memang berniat membunuhnya setelah kau,” timpalnya sarkastik. “Mau tahu kabar baiknya? Aku lapar sekali sekarang.”

Dalam satu gerakan Key mendorong Seulgi kuat-kuat dan menyebabkan punggung gadis itu bersinggungan dengan jendela yang sekarang tak lagi berbentuk karena tekanan yang terlalu besar.

Seulgi meringis merasakan serpihan kaca menghujam bagian belakang tubuhnya. Tangannya mengepal menahan sakit, dan bibir tipisnya mulai mengeluarkan bercak darah karena ia menggigitnya terlalu kuat.

“Sayang sekali, padahal aku mengantisipasi pertarungan sengit,” remeh Key.

Tangannya sudah terkepal di udara, berancang-ancang untuk meninju Seulgi tepat di wajahnya dan membuatnya tak sadarkan diri. Namun gadis itu terlebih dahulu membalikkan keadaan dengan menepis lengan Key dan menendang kuat tulang keringnya, alasan konkret mengapa lelaki itu terdampar di ternit.

“Kenapa para lelaki selalu mementingkan superioritas?” kata Seulgi merendahkan sembari menyeka cairan kental di sudut bibirnya.

Tanpa melakukan banyak pergerakan berarti gadis itu mengambil langkah perlahan menuju kamarnya di ujung ruangan, berusaha meminimalisir rasa sakit dengan sedikit merendahkan tubuhnya.

Pikirnya Key sudah berhasil ia lumpuhkan, buktinya saja lelaki itu tidak melakukan perlawanan. Namun dalam sekejap Seulgi sudah mendapati dirinya kembali terjembab di lantai dengan kepala membentur meja terlebih dahulu.

“Shit!” umpatnya saat linu menggerogoti tubuhnya lagi.

Kerja impulsnya tak lagi sinkron, membuat pandangannya mulai berkunang-kunang. Ia menyentuh pelipisnya yang ternyata teraliri darah segar, pantas saja.

Seulgi siap membalas jika saja Key tidak tiba-tiba menarik rambutnya ke belakang. Lelaki itu mendekatkan bibirnya ke indera pendengarnya, lalu berbisik mengancam. “Sekali lagi kau bergerak, kupastikan lehermu tidak bisa menengok lagi seumur hidup.”

Seulgi sadar, ini bukan soal adu kekuatan lagi. Ia harus memutar otak agar sebisa mungkin Key tidak membunuhnya, dan satu-satunya cara adalah negosiasi. Meski ia tak yakin apa yang lelaki ini inginkan.

“Kau ingin aku melakukan apa?”

Key menyeringai. “Tadinya aku ingin menyuruhmu bunuh diri dengan menggigit lidah, namun sepertinya tidak terlalu menyenangkan.”

“Lalu apa? Kau mau apa?”

“Bekerjalah padaku.”

Seulgi mendengus sembari memutar bola matanya. “Sebagai apa? Penari striptis di kasinomu? Maaf tapi aku tidak tertarik sama sekali.”

“Jauhkan Kim Jongin dari Hyena.”

“Hah, kenapa? Kau terlibat dengan sesuatu yang disebut cinta? Ah, kau dicampakkan bukan olehnya? Jangan bodoh, itu menggelikan.”

Key memutar kepala Seulgi, mempertemukan pandangan mereka kemudian merangsek semakin dekat. “Jangan menggunakan kata ‘dicampakkan’ jika kau saja seperti itu, Nona. Lihat? Tak ada gunanya kau menolak, ini tawaran bagus. Aku memiliki Hyena, dan kau bisa melakukan apapun dengan Jongin.”

“Garis bawahi, dia Kai bukan Jongin.”

Key menghempaskan Seulgi asal kemudian menyeka jemarinya yang terkena noda darah. “Ya, ya terserah kau saja. Yang jelas, kau bersedia ‘kan?”

“Bukan perkara sulit, baiklah.”

Jika yang dimaksud Hyena adalah rumah, maka tentu saja artinya kediaman Key. Meski Bibi Han mengatakan kalau lelaki itu menyuruhnya mengosongkannya, bukan berarti itu berlaku bagi dirinya juga ‘kan?

Hyena tak bisa bayangkan kalau ia tidak bertemu Bibi Han, orang lain mungkin saja membawa Jongin ke rumah sakit bukannya rumah. Dan berdasarkan kesimpulan yang ia tarik sendiri lelaki ini tidak suka tempat itu. Ada alasan bukan kenapa ia sampai mempunyai Dokter pribadi?

“Kau yakin kita tak perlu memeriksanya? Sepertinya dia butuh perawatan,” kata Bibi Han.

Hyena tampak berpikir. Benar juga, Jongin tidak boleh hanya dibiarkan saja seperti ini. Kecuali ia masih memiliki niat untuk membunuh lelaki ini.

Tapi pikiran semacam itu tidak berkelebat di benaknya, sedikit pun tidak.

“Aku tidak tahu soal perawatan, tapi aku tahu siapa yang perlu dihubungi.”

Hyena merogoh saku jaket yang dikenakan Jongin, mencari keberadaan benda persegi panjang pintar yang menyimpan ribuan data di dalamnya. Mungkin kontak seseorang yang disebut-sebut Dokter pun ada di sana.

Ia mulai tergesa-gesa, panik karena Jongin tak kunjung sadar. Seharusnya ia dibaringkan di tempat yang nyaman, namun apa daya Hyena dan Bibi Han tidak bisa melakukannya. Jadi sejak tadi Jongin masih bersandar di bahu Hyena.

“Ketemu!” pekik Hyena.

Ia cepat-cepat menggeser layarnya, dan menekan ikon kontak. Syukurlah ia tidak perlu pusing mencarinya, karena hanya ada kontak dua orang di sana. Seulgi dan Dokter Tiffany. Tanpa pikir panjang ia segera menghubungi sang dokter.

Hyena mendengar nada sambung cukup lama sebelum sapaan seseorang menusuk gendang telinganya.

“Halo? Kai?”

Hyena menyahut. “Maaf Dokter tapi Jong-ah Kai tak sadarkan diri, jadi bisakah Anda kemari?”

Akhirnya Jeon Hyena bisa bernapas lega saat sorotan lampu merobek atmosfer gelap di sekitar perumahan. Lama kelamaan sinarnya semakin menyilaukan sebelum akhirnya padam, tergantikan oleh siluet seorang wanita semampai dengan rambut tersanggul rapi.

Tiffany mengetuk kaca mobil. “Saya yakin Anda yang menghubungi. Perkenalkan Tiffany, dokter pribadi Kai. Kita belum saling menyapa bukan sebelumnya?”

“Ah benar. Saya Jeon Hyena, istr-” Hyena menghentikan perkataannya sedikit tak yakin. “Istrinya,” lanjutnya tegas.

Tiffany tersenyum. “Sebelum menjelaskan lebih lanjut, Kai harus dipindahkan terlebih dahulu.”

Ia memberi sinyal pada supirnya, meminta pertolongan untuk membawa Jongin masuk ke dalam.

Dan untungnya, dia laki-laki.

.

.

.

Sejak awal mereka selalu terikat, mungkin lebih seperti ditakdirkan. Kebahagiaan, kepedihan, dan kengerian dibagi bersama. Karena Kim Jongin dan Jeon Hyena adalah satu kesatuan, satu bagian yang sempat terbelah –namun tidak lagi.

Hyena terus meyakinkan dirinya kalau Jongin adalah monster, kalau lelaki itu tak pantas hidup. Tapi yang dilakukannya saat ini adalah khawatir, tidak bisa tidur menyadari Jongin hanya dibatasi sebuah dinding dari kamarnya dan ia tengah meregang nyawa.

Entah sudah berapa banyak erangan Jongin muntahkan. Entah seberapa deras air mata yang sudah ia luncurkan.

Hyena merasakannya, kepedihan yang sama seakan Jongin adalah sebagian lain dari dirinya. Dan ia merasa frustasi seakan ia bisa berlari menerjang dinding dan mengoyak Tiffany untuk berhenti menyiksa Jongin.

Hyena tidak yakin namun saat Jongin sadar ia mencuri dengar dan lelaki itu menyebut-nyebut tentang Kim Ahra, tentang kanibal, tentang dia yang membunuh. Sudah tak diragukan kalau memorinya mulai berhinggapan dan mengais dirinya dari dalam.

Persetan dengan monster. Hyena sungguh ingin berada di sana, menggenggam tangannya atau melakukan apapun yang bisa meringankan siksaan yang tengah dilewati Jongin,

sendirian.

Ia merasa berdosa karena bisa bernapas dengan lega, sedang Jongin perlu berdarah untuk sekedar menghirup oksigen. Ia merasa ingin bunuh diri karena dirinya sungguh pecundang, seseorang yang payah.

Hyena hanya berharap kalau tidak akan kehilangan Jongin malam ini. Mungkin sinting dirinya berpikir seperti itu, mengingat beberapa waktu ini dialah yang ingin membunuh Jongin, menyingkirkannya dari bumi bagaimanapun caranya.

Karena lelaki itu sudah merenggut jalannya, larinya. Tanpa Hyena sadari kebencian tumbuh begitu kuat dan menjelma menjadi perangai yang sewaktu-waktu bisa menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.

Dan saat ini pedang yang ia layangkan tengah berbalik menghujamnya. Hyena mengkhianati dirinya, mencurangi keyakinannya.

Namun ia tidak ambil pusing, tidak rikuh karena satu-satunya yang bersarang di otaknya hanyalah bagaimana caranya ia bisa melihat Jongin dalam keadaan baik saat lelaki itu membuka mata lagi.

Hyena sangat benci menyadari ia terkunci sekarang, Bibi Han mengurungnya dalam ruangannya hanya karena takut kalau-kalau Hyena akan hilang kendali dan membuat segalanya lebih sulit.

Dan ia sadar saat dirinya hampir pingsan saat mendengar kunci dibuka dari luar, memunculkan sang dokter beberapa saat setelahnya.

“Kai-maksudku Jongin tengah terlelap. Aku memberinya obat tidur, jadi kumohon jangan melakukan hal bodoh.”

Hyena bertanya, ada nada sangsi dalam nada bicaranya. “Apakah dia sudah ingat?”

Tiffany mengangguk lemah. “Meski sewaktu-waktu ia bisa saja berusaha membunuh diri lagi, tapi ya ingatannya kembali. Dan mungkin lebih kuat karena ia menekannya selama ini.”

Mendengar kata ‘bunuh diri sontak membuat Hyena terkesiap, tubuhnya menegang sebagai respon. “Jelas-jelas kau yang menyiksanya! Memangnya apa yang kau pikir dirimu lakukan berjam-jam di ruangan yang sama dengannya kalau bukan menyiksanya?!”

Tiffany berusaha tenang. Kemurkaan Hyena memanglah sesuatu yang wajar, ia sudah menduganya. Sejak awal ia tahu kalau Hyena tidak benar-benar membenci Jongin, tidak benar-benar menganggapnya sebagai monster. Dan wanita itu kelimpungan, memaki dan menghina Jongin hanyalah sebuah tindakan pembelaan dirinya, bahwa ia tidak mengkhianati nuraninya.

“Aku hanya berusaha membuatnya mengingat lebih cepat, agar kengerian ini bisa segera berakhir. Mengertilah, aku juga mengenal Jongin dan aku tahu apa yang akan diperbuatnya dalam kondisi seperti ini.”

“Lalu siksa aku! Lakukan hal yang sama terhadapku! Jangan biarkan ia melalui ini sendirian!” Hyena membuncah, dan ia menumpahkan air mata. “Dampingi dia, kumohon. Jangan biarkan dia mati.”

Tiffany mengerjap, terpana. Ia beringsut mendekati Hyena lalu meremas tangannya menguatkan. “Jongin tidak pernah sendirian. Kau mendampinginya, kau selalu berada di sana, dan tidak akan ada yang mati.”

Hyena tidak tahu apa yang tiba-tiba bersarang di kepalanya, meski tak yakin dan setengah hati tapi ia tetap mengatakannya juga. “Buat Jongin melupakannya lagi, kumohon. Kau sudah melakukannya beberapa kali jadi-“

“Itu mustahil,” potong Tiffany cepat. Ia menatap Hyena ragu. “Karena Jongin menolak untuk melakukannya.”

“Maksdumu?”

“Ya, jadi ia tidak terus-terusan mengerang dan kesakitan. Ada saat dimana Jongin sadar, dan aku menawarkannya apakah ia ingin aku membuatnya lebih baik dengan melupakan.”

Jeda sejenak.

“Dan sebelum terlelap, dengan sisa tenaga yang dimiliknya. Jongin mengatakan,” Tiffany menghela napas panjang, “kalau dengan melupakan, ia bisa kehilangan kesempatan untuk memperbaiki. Dia tidak mau melakukannya.”

Dunia Hyena seakan runtuh, ia seperti terjungkal keluar dari orbit. Jongin ingin berubah, ia ingin memperbaiki dan memulihkan. Jongin ingin melakukan penebusan dosa. Membuat Hyena merasa bodoh, tolol, dan konyol. Kebenciannya adalah monster, bukan Jongin melainkan dirinya sendiri.

Hyena melemah, tubuhnya oleng dan ia bersyukur karena tungkainya lumpuh. Untuk pertama kalinya ia tidak mencaci, tidak membenci tungkainya yang cacat. Jongin lebih cacat dari dirinya, dan yang dilakukan lelaki itu tidak lebih dari tersenyum dan bertingkah seakan semuanya baik saja.

“Aku sinting, gila, bodoh. Aku hanya berasumsi, menarik konklusi secara asal dan memberikan penilaian buta. Aku berdosa, aku-“

“Dan masih belum terlambat memperbaikinya,” kata Tiffany. Wanita itu menyunggingkan senyum kemudian berkata lagi, “Jemari Jongin terlalu kedinginan untuk dibiarkan terkulai.”

Setelah itu Tiffany undur diri dan berpamitan. Begitu pula Bibi Han yang mengatakan kalau ia akan kembali setelah menyelesaikan urusannya di rumah.

Seperti itulah terjadinya sampai Jongin dan Hyena berdua saja dalam bangunan luas ini. Dan Hyena sadar kalau dirinya tidak ingin membuang waktu.

Ia menempatkan jemarinya di roda alat bantu jalannya kemudian mulai mengayuh, mengantarkan dirinya lebih dekat dengan Jongin, untuk menghirup oksigen yang sama dengannya.

Pintunya dibiarkan terbuka, Tiffany yang melakukannya dan Hyena tidak bisa tidak berterimakasih karenanya.

Retinanya bisa menangkap refleksi seorang lelaki yang terkulai lemas di ranjangnya. Sekalipun dari kejauhan ia bisa tahu kalau Jongin pucat pasi, dan ia berkeringat.

Hyena bergerak semakin dekat.

Lalu ia menyentuhnya, menggamit jemari Jongin yang dingin.

Dan Hyena tersenyum, sampai rasanya ingin menangis. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa manusia selemah ini menjadi monster di matanya. Bagaimana manusia sepenyayang Jongin bisa membunuh.

Selama ini Hyena tidak ingin mendengarkan. Ia sibuk membangun citra buruk sebagai alasannya untuk bertahan hidup, dan sekarang ia tahu kalau selama ini semuanya salah. Bertahan hidup bukanlah dengan dendam tapi bagaimana menemukan secercah kebahagiaan dari dunia yang membuatmu terjembab.

Kini Hyena sudah tahu, dan dia tidak akan melakukan kesalahan lagi.

Ia menarik punggung tangan Jongin mendekat, lalu menempatkan bibir merekahnya singkat di sana. Hyena tidak sadar saat dirinya mulai menangis dan bintik airnya merembes di kulit Jongin.

“Jangan menangisiku,” suara parau Jongin menerobos gendang telinganya. “Aku tidak suka terlihat menyedihkan.”

Hyena tertawa ringan mendengarnya. “Senang kau kembali,” katanya.

Jongin membalas tawanya sebelum menggeser tubuhnya ke sisi ranjang yang satunya. “Kemarilah,” ia bilang.

Hyena terlalu senang melihat Jongin sadar sampai-sampai ia tidak bisa berpikir jernih. Tanpa mengatakan apa-apa ia memindahkan bobot tubuhnya ke ranjang, melakukan yang Jongin minta ia lakukan.

“Berbaringlah,” katanya.

Jadi ia berbaring.

Jongin merengkuhnya.

Sudah sejak lama ia menginginkan ini kembali.

Lengan berat karena kepala Hyena yang ditopangnya.

Jarinya memainkan rambut Hyena yang selembut sutra.

Dengan kening yang saling menempel sampai pagi datang.

“Tidurlah,” kata Jongin. “Aku akan di sini saat kau bangun.”

 

Jongin tahu ini sudah pagi, tapi ia masih bermalas-malasan. Kemarin adalah hari yang panjang dan melelahkan, jadi ia hanya ingin beristirahat hari ini. Apalagi dengan kehadiran wanita yang tengah terpejam di sampingnya.

Jongin menyentuh alis Hyena, salah satu favoritnya begitu bangun tidur. Hyena sedikit terusik, memaksanya membuka mata.

“Hei,” sapa Jongin yang dibalas serupa dengan Hyena. “Apa yang akan kita lakukan hari ini?”

Hyena menggeleng. “Aku tidak tahu.”

“Bagaimana kalau tidur saja sepanjang hari?”

“Tapi aku lapar. Tunggu sebentar.”

Hyena menyingkirkan lengan Jongin yang menjadi sandarannya kemudian duduk dengan cepat. Ia meraba laci meja di sampingnya dan mengeluarkan sesuatu dari sana yang membuat Jongin berjengit.

“Apa itu?” tanyanya.

“Heroin, aku mendapatkannya dari Afghanistan. Membuatku kenyang lebih lama, jadi aku tidak perlu makan.”

“Kau yakin itu tidak ilegal?”

Hyena menggeleng tegas. “Key itu orang yang tahu soalan seperti itu, jadi ia tidak mungkin melakukan sesuatu yang melanggar.”

Kening Jongin merengut. “Sudah lama aku penasaran. Hubungan kalian yang sebenarnya apa, sih?”

“Teman, kami hanya teman. Mungkin sahabat.”

“Aku tidak yakin ia menganggapmu sebatas itu saja.”

“Sebenarnya sih ia favoritku, yang menemaniku selama ini ‘kan dia.”

“Sekarang sudah tidak lagi,” sahut Jongin posesif. “Aku sudah kembali dan kita baik-baik saja.”

Hyena menatapnya curiga. “Kau yakin? Aku mendengar perutmu berbunyi.”

Jongin nyengir saja karenanya. “Aku memang lapar,” katanya.

Mendengar itu Hyena bergegas menarik kursi rodanya dan memindahkan bobotnya kembali kesana –sudah terbiasa. Sedang Jongin tak henti-hentinya memandangi setiap gerak-gerik wanita itu.

Sebelum bicara Hyena mengkonsumsi heroinnya lalu berkata, “Aku sudah selesai. Kau mau makan apa? Nasi? Roti? Bubur? Atau-“

Tiba-tiba Hyena berhenti, ia memandang Jongin ragu. Sepertinya ia salah bicara, karena terlalu bersemangat. “Emm…eh jadi… bagaimana ya mengatakannya? Emm.. mak-maakkan? Kau mau emm..keluar atau..jadi,” ia gelagapan.

“Berikan makananmu yang tadi,” potong Jongin cepat. “Heroin itu.”

“Tapi… kau yakin? Ah jadi.. baiklah kalah begitu.”

Hyena kembali membuka laci meja dan menyerahkan benda yang sama dengan yang dikonsumsinya tadi. Ia memandangi Jongin sangsi, berkeringat sendiri melihat Jongin yang sepertinya santai saja dengan makanan barunya.

“Kudengar kau ingat,” kata Hyena memulai pembicaraan serius. “Dan kau ingin berubah.”

Jongin diam, tapi ia memperhatikan.

“Mungkin kau bisa memulainya dengan itu. Tapi kutekankan sekalipun kau seperti ini aku sama sekali tidak perduli lagi. Terlebih aku cacat, jadi kau tidak perlu merasa tidak pantas.”

“Apa maksudmu cacat? Kau sempurna, Sayang.”

Hyena terkesiap.

Kumohon hentikan waktu sekarang juga.

Bunuh saja aku.

Aku tidak bisa bernapas.

Dan pertolongan datang. Suara ketukan di pintu membuat atensi mereka sepenuhnya beralih, memunculkan Bibi Han dengan raut khawatir yang tidak bisa ia sembunyikan.

“Nona, ada yang perlu kuberitahu,” katanya pelan.

Hyena bisa melihat gurat-gurat sangsi di matanya, namun ia terlalu penasaran untuk menunggu. “Kenapa? Tidak apa-apa, katakan saja Bi.”

Bibi Han melirik Jongin sekejap sebelum kembali menatap Hyena. “Semalam Asisten Kang menemuiku, dan dia bilang…” Jeda sejenak. “Seulgi dan Tuan Muda bersekongkol untuk menghancurkan kalian berdua.”

Hyena tidak bisa tidak terkejut. Ia masih menerima soal Seulgi yang melakukannya, namun Key… tidakkah Bibi Han berbohong. Key sudah begitu baik padanya selama ini, Hyena selalu sangat berterimakasih dan merasa beruntung karena memiliki teman sepertinya.

Tapi kenyataan ini terlalu mendadak, tiba-tiba dan mengejutkan. Seperti rasanya ia ditonjok di ulu hati. Hyena terdiam.

“Aku mengerti, terimakasih,” balas Jongin. “Tapi apakah Anda keberatan jika meninggalkan kami berdua?”

“Ah tentu saja tidak,” sahut Bibi Han cepat. “Saya permisi.”

Dan pintu tertutup kembali.

Jongin melirik Hyena, berbeda dengan wanita itu ia tidak terlalu terkejut. Ia sudah pernah menduga sewaktu-waktu Seulgi akan menusuknya dari belakang seperti ini. Ia tahu perasaan Seulgi padanya, dan ia juga sadar kalau rekannya itu salah paham akan perlakuan lembutnya selama ini.

Jongin tidak bisa memperbaikinya, namun Hyena telah membuat segalanya berbeda. Dulu ia takut kehilangan Seulgi karena dengan begitu ia akan sendirian, jadi Jongin melakukan segalanya.

Dan Hyena sudah di sini. Jongin tidak sendirian lagi.

Ia bangkit dari ranjang lalu menghampiri Hyena. Menelusupkan lengannya di bawah tubuh wanita itu dan memindahkannya kembali ke ranjang.

Jongin menyandarkan kepala Hyena di dadanya.

“Aku ingin lari saja,” kata Hyena parau. “Aku tidak menyangka Key akan melakukan ini padaku.”

Jongin mencoba bergurau, mencairkan suasana tegang. “Kalau begitu sejak awal kau tidak seharusnya menjadikannya kesukaanmu. Seharusnya aku saja.”

“Itu karena dulu aku belum bisa memaafkanmu. Kenyataan kalau kau membunuh Ahra.”

Rasanya satu detik berlalu dengan begitu panjang. Jongin menghela dalam-dalam, “Kau masih berpikir aku benar-benar berengsek?”

“Titt-tiidaak bukan begitu. Maksudku-“

“Kau tidak serius ‘kan berpikir kalau aku membunuhnya? Astaga Hyena aku masih punya hati.”

“Jadi? Kau tidak membunuhnya? Kau bilang aku hanya berhalusinasi atau-“

“Secara teori ya memang aku yang ya..em membunuh Ahra. Tapi sungguh aku hanya ingin melindunginya.”

“Kau membunuhnya dan sekarang kau mengatakan perlindungan? Jangan gila, Kim Jongin.”

Jongin tahu kalau Hyena marah padanya, namun ia berusaha menetralkan nada bicaranya.

“Waktu itu kacau sekali,” pikiran Jongin menerawang. “Orang-orang saling memangsa dan wanita di seberang jalan membunuh anaknya sendiri.”

Jeda.

“Ia berakhir menabrakkan diri ke truk dan tewas di tempat. Aku takut kau mungkin melakukan hal yang sama, karena ya menghindari kemungkinan orang lain yang akan membunuh anakmu. Jadi.. ya begitulah.”

Hyena terkesiap. Jongin menyimpan begitu banyak rahasia dan setiap ia mengeluarkan satu per satunya, Hyena yakin ia akan selalu terkejut dan terperangah. Hyena tidak bisa melakukan apapun selain diam.

Jongin kembali mengambil alih keadaan.

“Lucu memikirkan bahwa di luar sana ada orang lain yang berusaha menghancurkan kita, namun lihatlah sekarang kita berbaring di ranjang dan berbicara tentang masa lalu.”

“Aku tidak bercanda, tapi aku masih takut.”

“Mereka boleh mencoba, berusaha, dan begitu waktunya tiba kita akan siap. Yang ingin kutekankan adalah kita boleh saja bersiap, namun jangan pernah membiarkan bayangan masa depan menghancurkan masa yang tengah kita jalani. Karena asumsi tidak selalu harus terjadi.”

“Jadi kau mau melakukan apa sekarang?”

“Tidur,” katanya. “Aku ingin tidur lagi.”

.

.

.

|END

Now you see the end hihi :3 Mind to review?

nabil.

Advertisements

2 thoughts on “Cannibal [Chapter 6-Last]

  1. Kenapa ending ceritanya agak ngambang sih kak?Aku pengen tau banget gimana key-seulgi berusaha ngancurin kai-hyena.But over all aku suka,dan aku nangis baca chapter ini.Good luck kak 🙂

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s