The lost Soul [Chapter 5]

_the lost soul 2

The Lost Soul

a fanfic by Yuna Lazuardi Lockhart

 Thriller, Angst, Sad romance, Family, Friendship, Psyco, Detective

Chapter, Series

Cast:
  • Choi Siwon , as Choi Siwon
  • Choi Jiwon, as Choi Jiwon
  • Jessica SNSD, as Jessica Giovelle
  • Leeteuk, as Arlane Dennis Giovelle
  • Heechul, as Casey Giovelle
  • Sungmin, as Vincent
  • Yesung, as Jeremy
  • OC’s Yeollane Giovelle,
  • Other cast.

Disclaimer: FF ini murni berasal dari pikiranku dan dituangkan kedalam karya orisinil milik ku. Semua cast milik agensi, keluarga fans, dan Tuhan, tapi Siwon milik saya (?) So, don’t copy plagiat or claim this FF as yours!

***

|| Teaser || Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 ||

NB: biasanya author gak mengharapkan komen dari kalian, cuman pengen kalian suka sama ceritanya. Tapi kali ini tolong RCL (Read, Comment, Like) yaa… Karena author butuh saran supaya tulisan author lebih bagus lagi.

Happy reading~!!

***

“Ketika aku melihatmu, aku tahu bahwa aku jatuh cinta padamu. Lalu ketika aku kehilanganmu,aku tahu bahwa jiwaku akan pergi bersamamu…”

.

.

Siwon berdiri di depan ruangan tempat adiknya dirawat, di Angels Hospital. Dengan senyum penuh harapan, lelaki itu menatap pada seorang gadis yang terbaring dengan berbagai alat yang menunjang kehidupannya.

Aku janji, Jiwon… jika Yeol tidak dapat membawa jantung untukmu, aku akan mendapatkan jantung baru untukmu, apapun caranya.” Ucap Siwon dalam hati.

“Siwon.”

Dengan cepat lelaki itu menghampiri seorang gadis mungil berambut hitam yang tersenyum lebar, “Bagimana ? Apa kau mendapatkannya ? Jantung baru Jiwon ?” tanya Siwon cepat.

“Tenanglah…” lagi-lagi gadis itu tersenyum. Senyum yang menenangkan.

“Bagaimana ? Apa ayahmu membeli jantung yang cocok untuk Jiwon ? Berapa aku harus membayarnya ?” tanya Siwon lagi.

Gadis itu menggeleng, “Ayahku tidak membelinya. Aku mendapatkan jantungnya dari seorang pendonor. Pendonornya adalah seorang pria yang sekarat karena kecelakaan. Kebetulan dokter yang menanganinya adalah teman baik ayahku. Ia mengatakan bahwa pria itu tak akan bisa bangun dari koma karena otaknya sudah mati. Lalu aku cepat-cepat menemui keluarganya saat aku tahu bahwa otaknya sudah mati…” Yeollane terhenti, gadis itu menarik nafas panjang sebanyak yang dibutuhkannya. Ia bahkan tak berhenti tersenyum.

“Lalu…? Apa yang terjadi ? Mustahil kalau kau meminta izin langsung dari keluarganya. Mereka pasti menolak, kan’…?” seru Siwon.

“Kau benar. Awalnya mereka menolak mentah-mentah, tapi karena bujukan dokter dan campur tangan ayahku, entah mengapa pada akhirnya mereka menyetujuinya…”

Mendengar kata-kata terakhir Yeollane, Siwon memeluk gadis itu kuat-kuat hingga tubuh mungilnya terangkat. Kemudian mereka berputar sambil tertawa. Dan seketika itulah Yeollane menyadari bahwa dirinya tak pernah merasa bebas seperti saat ini. Betapa menyedihkannya dia karena tidak menikmati hidup hanya karena pekerjaan dan tradisi keluarganya. Saat itulah Yeollane tahu, betapa menyenangkannya memiliki teman.

Sekali lagi, maafkan aku, Siwon. Aku menipumu dan memanfaatkanmu. Bahkan aku telah membohongimu dua kali…” batin Yeollane.

. . . . .Flash back

Malam begitu kelam, langit tampak tak berawan dan bintang-bintang seolah lenyap dari bumi. Bulan pun tak bersinar, seolah takut pada malam yang sunyi ini. Hembusan angin membelai lembut dedaunan yang bergoyang kesana-kemari, meniupkan hawa yang cukup dingin. Disebuah ruangan bernuansa putih di sebuah rumah sakit, seorang dokter bertubuh jangkung menatap pada kalender tua yang kertasnya telah lapuk dan menguning. Dilihatnya tanggal 14 di bulan November yang dilingkari tinta berwarna merah yang juga telah memudar.

“Aku akan membalasnya, Giovelle. Penghinaan yang kau lakukan padaku 16 tahun lalu…” gumam Dr.Dalton. “Aku akan membalasnya perlahan, melalui putrimu dan temannya yang sekarat.”

“Itu kesalahanmu, payah.” Suara seorang gadis memenuhi ruangan.

Secepat kilat Dalton membalikan tubuhnya dan melihat pada seluruh ruangannya dengan waspada. Bola matanya yang terang menari kesana kemari, mencari sesosok perwujudan dari suara yang tiba-tiba terdengar.

“Siapa kau ? Tunjukan dirimu…” balasnya dingin.

Dalam waktu kurang dari satu detik, seorang gadis mungil berjalan dengan sangat cepat masuk kedalam bayangan besar dibalik tirai.

“Kenapa ? Apa kau takut, Dalton ?” lagi-lagi suara itu terdengar.

Sebulir keringat sebesar biji jagung turun dari dahi pria tua itu, “Keluarlah. Jangan bersembunyi.”

“Kau takut…” ucapnya lagi.

Lagi-lagi mata yang tampak keriput itu melirik tajam pada setiap sudut ruangannya, “Apa mau mu ?” tanyanya parau.

“Pergi.” Tegas suara itu.

“Apa ?” Dalton menelan liurnya.

Seorang gadis mungil berambut hitam muncul dari bayangan di pintu, “Aku ingin kau pergi. Pergi untuk selamanya.”

Dalton menoleh, lelaki itu menatap dengan seksama gadis mungil dihadapannya. Bola matanya naik turun mencoba menelanjangi gadis itu dengan matanya.

“Kau…” Dalton terhenti.

Lelaki itu menarik nafas panjang saat ia menatap bola mata cokelat yang sangat dikenalnya. Mata cokelat yang dulu sangat disukainya, dan mata cokelat yang membuatnya terhina.

“Ye… Yeol… Yeollane ?” panggilnya pelan.

Gadis itu menoleh, menatap datar dan dingin pada sesosok pria tua dihadapannya. “Apa yang kau rencanakan ?” Yeollane melangkah mendekati Dalton.

Pria tua itu tersenyum licik, “Aku ingin menghancurkanmu. Kau dan keluargamu.”

“Atas dasar apa ?”

“Penghinaan yang Casey lakukan 16 tahun yang lalu…” geramnya.

“Itu kesalahanmu.” Tegas Yeollane.

“Kesalahanku…?” ulang Dalton kesal.

“Ya. Dennis bilang, kau salah memberikan obat padaku dan Jessie saat kami anak-anak. Lalu Dad memecatmu. Kurasa itu kesalahanmu.” Yeollane memutar bola matanya.

“Salah memberi Obat ?” ulangnya lagi.

“Kesalahanku ?” lanjutnya.

“Itu tidak sesederhana yang kau katakan!” bentak Dalton.

“Tidak ?” Yeollane mengerutkan keningnya.

“Ayahmu memecatku karena aku menyelamatkan seorang perawat yang hampir dibunuhnya!” lanjutnya murka.

“Perawat ?”

“Mungkin kau tidak akan ingat, tapi dialah yang merawatmu sejak bayi.” Dalton terhenti.

“Dan ayahmu, Casey, ia memaksa meniduri wanita itu dengan penuh penghinaan! Aku menolongnya saat ayahmu hampir-hampir mencekiknya, dan aku dipecat!” suara pria itu meninggi untuk kesekian kalinya.

“Kau seharusnya bersyukur karena Dad tidak membunuhmu…” sahut Yeollane pelan.

“Bersyukur ? Apa yang harus di syukuri ? Menjadi pengangguran ? Tidak, Yeol… Kau tak mengerti apapun.” Tegasnya.

“Ayahmu bukan hanya memecatku. Dia bahkan mencabut izin praktek ku.” Lanjutnya miris.

“Itu bukan urusaku.”

“Aku tahu, kalian memang keluarga tak beradab.” Dalton menarik ujung bibirnya.

“Tarik kata-katamu.” Yeollane mendelik kesal.

“Kenapa ? Bukankah itu benar ?” Dalton melipat tangannya.

“Ayahmu, Casey, adalah seorang pembunuh yang tak bisa mendapatkan apa yang di inginkannya. Dennis laki-laki hebat. Tapi ia tunduk dibawah kaki ayahmu, anak itu tumbuh menjadi seorang pengecut. Sementara Jessica seperti wanita murahan yang tidur dengan lelaki manapun. Dan kau, Yeollane, hanya seorang gadis kecil yang menyangkal kenyataan. Kalian menyedihkan…” ucapnya.

Yeollane melebarkan matanya. Dalam satu gerakan yang tak terlihat, gadis itu mencekik dokter tua itu dalam genggamannya.

“Tarik ucapanmu, dan aku tidak akan membunuhmu.”

“Aku tidak pernah takut mati, Yeol…” jawab Dalton santai.

Yeollane mengeratkan cekikannya. “Aku bahkan berulang kali mempertaruhkan nyawa saat bekerja dengan ayahmu…” lanjutnya parau.

“Diam” Yeollane menghela nafas, “Tarik ucapanmu…” sahutnya sedikit lebih pelan.

“Tidak. Itulah kenyataannya, dan kau harus bisa menerima kenyataan.” Balas Dalton tenang.

“Hentikan.”

“Aku kira saat Casey membawamu dulu, kau akan tumbuh menjadi seorang gadis cerdas dan realistis sama seperti ibumu. Tapi ternyata tidak. Rupanya didikan Casey merusakmu…” Dalton berhenti, ia mulai kehabisan nafas.

Yeollane mengeratkan lagi cekikannya. Sekilas tatapannya tampak bingung, tetapi kemarahan atas penghinaan terhadap keluarganya membuatnya kalut.

“Aku kasihan pada Lyn, mungkin kalau wanita itu masih hidup ia akan menangis melihat putrinya seperti ini…”

Tangan Yeollane gemetar dan spontan melepaskan cekikannya. Gadis itu mengambil seutas tali dari sakunya dan menjerat Dalton yang hampir kehabisan nafas. Ia tahu, tidak mungkin ia mencekik Dalton dengan tangannya sendiri. Ia harus menghilangkan bukti. Dengan cekatan Yeollane mengikat ujung tali tersebut pada ventilasi udara di toilet. Digantungnya Dalton hingga lelaki itu kehabisan nafas.

“Apa maksud semua ini ?” tanya Yeollane pada dirinya sendiri.

. . . . .Flashback end

Pagi itu langit cukup cerah. Berkas-berkas cahaya matahari menerobos masuk ke dalam ruangan besar bernuansa klasik. Ditengah ruangan, Mr. Thunder duduk dimejanya seraya menghirup secangkir kopi pagi. Dilihatnya satu kursi kosong di salah satu sisi mejanya, lalu melihat arloji di pergelangan tangannya.

“Mr. Thunder, maaf aku terlambat.” Seorang pria dengan penampilan kacau masuk kedalam ruangan.

“Choi Siwon ?” tanya Mr. Thunder.

“Maaf Mr. Thunder. Adik ku akan dioperasi pagi ini, jadi aku menunggunya sampai dia masuk ke ruang operasi. Maafkan aku…” ucapnya cepat.

Mr. Thunder menghela nafas, “Aku mengerti. Duduklah.”

Siwon menempati satu-satunya kursi kosong disana. Lelaki itu berusaha menarik nafas dalam-dalam dan menenangkan diri. Dilihatnya tiga orang lainnya yang wajahnya tampak tak asing bagi Siwon.

“Baiklah. Kita akan memulai rapatnya.” Mr. Thunder memecah keheningan.

“Pertama, aku akan mengenalkan kalian satu persatu. Di sisi kananku adalah dua anggota terbaik CIA, Vincent dan Jordan. Dan di sisi kiri adalah detektif kelas satu, Choi Siwon dan anggota terbaik FBI, Jeremy.” Lanjutnya.

“Mr. Thunder, mengenai masalah yang akan kita bahas, apakah kami bisa melihat videonya ?” tanya Vincent.

“Tentu.” Mr. Thunder memutar rekaman CCTV saat pembunuhan Mr. Hardwick.

Dalam rekaman itu terlihat seorang pria tua yang tengah duduk tenang sambil menyesap secangkir teh. Lalu, detik berikutnya pria tua itu berteriak beberapa kali dan rekaman berakhir tiga detik setelah Mr. Hardwick terkulai tak bernyawa.

“Tak ada apapun disana.” Sahut Jordan bingung.

“Kau bercanda ? Dia hanya duduk disana sambil menyesap teh, lalu berteriak dan mati.” Sambung Vincent.

“Aku bahkan memperhatikan rekaman itu berulang-ulang selama lebih dari tiga jam. Tapi sampai sekarang aku tak mengetahui apapun. Bahkan aku tidak tahu bagaimana si pembunuh membunuh Mr. Hardwick.” Jelas Jeremy.

Mr. Thunder memperhatikan mereka semua satu per satu dan menatap lama pada Siwon. Pria itu tak mengeluarkan pendapat apapun. Ia hanya duduk dan merenungkan sesuatu.

“Ada apa Mr. Choi ? Apa yang kau pikirkan ?” tanya Mr. Thunder penasaran.

“Kalau dia bisa membunuh tanpa menyentuh korbannya, dia pasti memperhitungkannya dengan baik.” Gumam Siwon.

“Bagaimana bisa ia memperhitungkan hal itu ?” sanggah Jeremy.

“Seorang pembunuh profesional akan memperhitungkan sekecil apapun kemungkinan yang ditimbulkan dari perbuatannya. Bahkan kalaupun disana tidak ada kamera CCTV, dia akan tetap memperhitungkan segalanya.” Sambung Siwon.

“Tapi bagaimana dia bisa membuat dirinya seperti bayangan tak kasat mata…” Vincent terhenti.

“Ya, dia pasti punya trik untuk melakukan semua ini. Tapi apa ?” ucap Jeremy.

“Itulah tugas kalian. Kalian harus menyelidikinya.” Sahut Mr. Thunder tiba-tiba.

“Mr. Thunder…” panggil Siwon pelan.

“Ada apa ?” Mr. Thunder dan tiga orang lainnya menatap Siwon bersamaan.

“Maafkan aku, tapi aku harus kembali ke rumah sakit sekarang. Aku takut kalau nanti Jiwon mencariku…” lanjutnya.

“Baiklah. Rapat sampai disini. Kita lanjutkan lain kali, kalian bisa pergi.”

“Terimakasih, Sir…” jawab semuanya kompak.

Sepeninggal mereka, Mr. Thunder memejamkan matanya. Terbayang jelas malam dimana ia meminta pada Casey untuk membunuh Hardwick.

. . . . .Falshback

“Tok… tok… tok…” Mr. Thunder berdiri didepan sebuah ruangan.

“Masuk…” sahut seseorang dari dalam.

“Cekclek…” dengan perlahan Mr. Thunder membuka pintu dan melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan bernuansa hitam putih.

Ruangan itu cukup besar dan mewah dengan cat putih dan karpet bergaris zebra. Ditengah ruangan, seorang pria duduk dibalik meja hitam besar. Ia tersenyum. Sekilas wajahnya tampak manis, seperti seorang anak perempuan yang polos. Mr. Thunder menyipitkan matanya sebelum akhirnya duduk di hadapan pria itu.

“Casey Giovelle ?” tanya Mr. Thunder membuka percakapan.

Casey mengangguk, “Apa ada yang bisa ku bantu, Thunder ? Sudah lama, ya ?”

“I… Iya… Aku ingin meminta sesuatu darimu.” jawab Mr. Thunder gugup.

“Apa itu… ?”

“Aku ingin kau membunuh seseorang untuk ku.”

Casey tersenyum, “Siapa ?”

“Joseph Hardwick.” Sahutnya cepat.

“Ah… si koruptor yang tertangkap. Apa ada alasan mengapa kau ingin aku untuk membunuhnya ?” tanya Casey.

“Tidak. Aku hanya ingin menuntaskan pekerjaanku, yaitu menghukumnya.” Jawab Mr. Thunder.

“Well, aku akan meminta putriku melakukannya.” Ia mengendikan bahu.

“Ti… Tidak.” Sanggah Mr. Thunder.

“Tidak ? Kenapa ?”

“Aku ingin kau yang membunuhnya. Aku ingin dia mati ditanganmu.”

“Harganya bisa naik menjadi 3 kali lipat dari sebelumnya.” Tawar Casey.

“Berapapun akan ku bayar.” Mr. Thunder mulai berkeringat

“Sebelumnya aku ingin menegaskan sesuatu.”

“A… Apa itu ?”

“Alasanmu membunuh Hardwick, adalah karena kau takut kedokmu terbongkar. Apa aku benar ?” Casey menarik ujung bibirnya.

“………” tak ada jawaban apapun dari Mr. Thunder.

“Karena kau adalah dalang dari penggelapan dana negara dan salah satu bawahanmu tertangkap. Kau tidak ingin ia berceloteh membawa namamu saat disidang, makanya kau ingin Joseph Hardwick mati.”

Mr. Thunder memucat, “Tidak. Bukan karena aku takut dia akan membeberkan semuanya. Itu tidak benar. Bunuh saja dia untuk ku, dan aku akan membayarmu.”

“Kau tahu Thunder ? Bahkan jika kau memberikan seluruh hartamu untuk membayarku, aku tidak akan melakukan apapun yang kau minta jika aku tidak menginginkannya. Seharusnya kau tahu itu.” Casey mendelik.

“Joseph Hardwick adalah anjingku yang paling setia. Dia tidak akan menceritakan apapun pada hakim.” Sangkal Mr. Thunder.

“Tapi kalau seekor anjing tertangkap, ia akan menyeret tuannya. Atau setidaknya dia akan menggongong pada tuannya.” Casey menyeruput kopinya.

“Tapi itu hanya asumsiku. Jangan tersinggung…” lanjut Casey.

“Jadi apa kau akan membantuku ?”

“Well, pergilah.”

“Uangnya akan di kirim setelah Hardwick mati…” Mr. Thunder bangkit dari kursinya dan keluar.

. . . . .Fashback end

“Casey Giovell. Aku akan menghancurkanmu. Lyn, Andrew aku akan membalas kematian kalian…” sahut Mr. Thunder pelan.

***TBC***

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s