[OneShot] Make You Love Me; Sparkle in Love

mylm1

Title                       : Make You Love Me

Author                  : Chenistry & Zora

Length                  : One Shoot

Cast                       : Kim Jongdae (Chen EXO) , Park Sunyeong (Luna F(X)), Lay EXO

Genre                   : Romance, Friendship, Fantasy

Rating                   : R-BO

Summary : Sunyeong dan Jongdae bersahabat sejak lama, tapi Jongdae tidak pernah menyadari bahwa Sunyeong menyukainya sejak dulu. Suatu hari saat Sunyeong marah atas kelakuan Jongdae, datang seorang yang mengaku cupid bernama Lay. Menawarkan bantuan untuk membuat Jongdae manyukainya.

 

 

@@@

 

“Yeong, tunggu!” Teriak Jongdae dari kejauhan. Membuat mata-mata menoleh keheranan. Tapi Jongdae tak peduli. Ia terus berlari mengejar Sunyeong, sahabatnya. Hingga akhirnya ujung tangannya meraih bahu Sunyeong. Jongdae menariknya hingga Sunyeong berhenti berjalan cepat.

 

Sunyeong hanya menatap Jongdae dingin.

 

“Kau kenapa? Tiba-tiba menghilang begitu saja. Ini Myeong-do, banyak orang berlalu-lalang. Kau malah seenaknya pergi,” ucap Jongdae sambil patah-patah bernafas.

 

“Aku tahu,” ucap Sunyeong kemudian berbalik hendak meninggalkan Jongdae.

 

“Hey, kau mau kemana? Aku belum selesai.” Jongdae menarik lengan Sunyeong.

 

“Ini Myeong-do, banyak orang berlalu-lalang. Kau tidak bisa seenaknya berhenti di tengah jalan,” ucap Sunyeong datar, kemudian berlalu.

 

Jongdae menghentakkan kakinya. Mengumpat. Tapi kali ini ia segera mensejajari langkah Sunyeong.

 

@@@

 

Sunyeong tidak tahu, entah sejak kapan Jongdae berubah menjadi pemuda yang memikat hatinya. Tidak, bukannya hanya dirinya yang terpikat. Hampir seluruh siswi menyukainya. Jongdae tidak tampan seperti Chanyeol dan Baekhyun temannya. Ia manis. Saat berwajah datar, wajahnya menyiratkan kedewasaan tapi saat tersenyum kelembutan langsung tersirat di wajahnya.

 

“Sunyeong, lihat! Jongdae sedang bermain sepak bola. Payah sekali ia,” celetuk teman Sunyeong. Membuatnya beranjak segera ikut menonton siswa yang bermain sepak bola.

 

Di sana ada Jongdae. Hanya sebagai kiper. Ia terlihat kelelahan. Sunyeong tersenyum.

 

“Jongdae Sunbae! Hwaiting!” Teriak seseorang. Tapi Sunyeong tahu itu suara siapa. Kim Yerim dari kelas satu. Saat ini sedang dekat dengan Jongdae. Gadis yang tanpa malu meneriaki Jongdae yang berada di tengah lapangan. Saat itu Jongdae tersenyum menanggapi kelakuan gadis itu.

 

Saat semua orang menatap Yerim yang bersemu karena mendapat senyum gratis dari Jongdae, yang bersangkutan malah menatap Sunyeong yang menatap Jongdae tajam. Hanya sedetik, Sunyeong memilih untuk meninggalkan tontonan. Menjauh dari hiruk-pikuk sorak-sorai seisi sekolah soal Jongdae-Yerim.

 

Jongdae bodoh! Umpat Sunyeong dalam hati. Ia berlari menuju atap sekolah yang selama hampir dua tahun menjadi tempat mengadunya.

 

“Bodoh. Bodoh. Bodoh!” Sunyeong mengeluarkan umpatannya. Jujur ia tidak bisa menangis. “Kenapa kau tidak juga mengerti, Jong? Kenapa kau selalu membiarkan gadis-gadis itu mendekatimu? Kapan kau akan melihatku sebagai wanita?” Sunyeong terduduk di lantai atap. Nafasnya satu-satu.

 

Sunyeong sadar, tidak ada gunanya melakukan hal itu. Tidak akan ada yang mengerti. Sunyeong bersandar. Ia menengadah menatap gumpalan-gumpalan awan. Teringat masa-masa bersam Jongdae saat masih SMP. Saat itu keduanya masih tampak polos tidak perlu memikirkan perasaan ini akan berkembang bagaimana.

 

Tanpa sadar, Sunyeong sudah terlelap.

 

@@@

 

Mwo?” itu pertanyaan bingung dari Sunyeong yang saat terbangun mendapati Jongdae sudah disisinya.

 

Mwo?” itu pertanyaan memastikan dari Jongdae untuk Sunyeong yang terbangun.

 

“Kenapa kau di sini?” Tanya SunYeong menyelidik.

 

“Karena kau tak kembali ke kelas sejak tadi.” Jawab Jongdae. “Ayo pulang. Kelas sudah selesai dari tadi.” Jongdae langseung menarik tangan Sunyeong tanpa menunggu persetujuan sang pemilik tangan.

 

“Bagaimana dengan Yerim?” Sunyeong menarik lengannya.

 

“Yerim? Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Yerim.”

 

“Bohong. Hal paling mustahil di dunia ini adalah Jongdae tidak pacaran.”

 

“Sungguh. Aku dan Yerim tidak ada apa-apa. Tapi aku tertarik dengan kakak Yerim.” Jongdae nyengir. Membuat Sunyeong menjitak kepalanya.

 

Belum sempat Sunyeong menceramahi Jongdae, ponsel Jongdae bermbunyi. “Ya? … Tenang aku akan ke sana … sebentar lagi aku akan menjemputmu … oke tunggu saja, bye…” telepon ditutup. Tapi Sunyeong sudah berjalan lebih dulu tanpa menunggu Jongdae.

 

“Yeong, tunggu.” Jongdae memasukkan ponselnya ke saku blazer seragam.

 

“Kerjakan saja urusanmu, Jong. aku bisa pulang sendiri.” Ucap Sunyeong sambil menoleh sekedarnya. Membuat Jongdae benar-benar tidak mengerti.

 

@@@

 

“Sunyeong harus jadi gadis yang kuat supaya tidak di ganggu lagi.” Ucap Jongdae kecil pada Sunyeong yang menangis.

 

Saat itu Sunyeong kecil hanya bisa mengangguk sambil tergugu.

 

@@@

 

“Apa aku harus jadi gadis yang lemah lembut supaya bisa kau lindungi?” gumam Sunyeong sambil memandangi foto mereka yang diambil saat pelulusan SMP.

 

Sunyeong menghela nafas. “Sudahlah, Sunyeong. Mungkin kau masih harus memperbaiki diri.” Itu adalah bentuk penghiburan Sunyeong untuk diri sendiri. Sunyeong membuka jendela kamar. Tampak dari kejauhan orang-orang berlalu-lalang menandakan aktifitas belum terhenti. Lagi-lagi Sunyeong menhela napas.

 

“Jongdae, payah. Kau selalu saja mencari gadis yang lain, padahal aku selalu memandangmu dari sini. Mungkinkah dengan panah cupid kau akan melihatku?”

 

@@@

 

“Yerim yang malang. Lihatlah, kau sekarang hanya bisa menggigit jari saat Jongdae yang kau sukai ternyata menyukai kakakmu.” Gumam Sunyeong dari atap sekolah yang sedang menonton drama amatir oleh Jongdae, Yerim dan Seulgi –kakak Yerim.

 

Saat itu Yerim hanya bisa menggigit bibir melihat Jongdae yang menggandeng tangan Seulgi mesra. Bersama sahabatnya, Joy, Yerim menangis dari balik pohon memandang Jongdae dan Seulgi yang semakin mesra saja.

 

“Sunyeong yang malang. Lihatlah, kau justru hanya tenggelam dibalik atap sekolah memandang Jongdae dengan siapa saja ia berkencan. Tanpa pernah berani mangakui perasaanmu padanya. Yerim seribu kali lebih baik darimu.” Sunyeong bergumam sendiri. Mengejek diri sendiri.

 

“Jadi namanya Jongdae?”

 

Suara itu sungguh mengagetkan Sunyeong. Bagaimana tidak? Ia hanya sendirian di atap dan sekarang ada seorang lelaki di sampingnya. Tidak dikenal pula. “Eomma.” Sunyeong refleks mundur. Tapi entah apa pasalnya, ia malah terjengkang. Dan berakhir dengan duduk meringis menahan sakit. “Ah…”

 

Dan lelaki itu sepertinya bukan tipe lelaki romantis. Buktinya dia tidak menolong Sunyeong. Bukankah dalam drama yang sering ditontonnya sang lelaki selalu meraih pinggang si wanita jika hendak terjatuh? Aduh Sunyeong, sepertinya kau terlalu banyak menonton drama.

 

“Kau tak apa?” tanya lelaki itu polos. Entah sungguhan atau pura-pura.

 

“Apa aku terlihat baik-baik saja?” tanya Sunyeong sewot.

 

Lelaki itu berjongkok di hadapan Sunyeong. “Tidak juga.”

 

“Kau siapa?” tanya Sunyeong. Kali ini ia sudah bisa bicara lebih baik meski jelas di nada bicaranya ia tak suka kehadiran lelaki itu.

 

“Lay. Dewa Amore keturunan ke 109.” Jawabnya polos.

 

Sunyeong terkekeh. “Aku tidak pernah percaya dongeng itu.” Sunyeong berdiri. Lelaki yang mengaku bernama Lay itu ikut berdiri. “Jangan bercanda! Dewa Amore? Kau datang kepadaku karena malangnya diriku yang tak pernah bisa membuat orang yang kusuka tidak menyukaiku juga?”

 

Sialnya, meski Sunyeong sudah membentak, lelaki itu tetap mengangguk polos.

 

“Ah…..” Sunyeong kehabisan ide. Ia hanya mengusap wajahnya. “Aku tidak percaya.” Ucap Sunyeong sambil berlalu.

 

“Tapi kau harus percaya.” Ucap lelaki itu.

 

“Bagaimana aku bisa percaya jika Dewa Amorenya sepertimu? Sejak kapan Dewa Amore pakai seragam?” Sunyeong sewot.

 

“Err. Aku hanya mengikuti trend. Jika aku memakai pakaian dewaku pasti kau akan kaget.” Jawab lelaki itu.

 

Kau pakai seragam saja sudah membuatku kaget. Gumam Sunyeong. “Berapa umurmu?” Sunyeong juga tidak tahu kenapa ia melontarkan pertanyaan itu.

 

“207 tahun.” Lagi-lagi ia menjawab polos.

 

See? Lelaki benar-benar gila. “Kalau begitu buktikan padaku kalau kau benar-benar Dewa Amore.” Meski ia ingin tidak percaya, Sunyeong penasaran juga.

 

“Apa yang harus kulakukan?” lelaki itu terlihat bersemangat.

 

“Disana. Ada seorang lelaki sedang bersama seorang gadis. Dan di balik pohon sana, ada dua orang gadis sedang menguntit. Bisakah kau buat lelaki itu jatuh cinta pada gadis dibalik pohon?” Sunyeong menunjukkan tempat drama amatir tadi berlangsung.

 

Lay mengikuti arah tunjuk Sunyeong. “Kau yakin? Bukankah itu Jongdae-mu?”

 

“Tak apa. Asal kau kembalikan lagi seperti semula. Bisa, bukan?” Sunyeong menantang.

 

“Tentu saja.” Ucap Lay. Lelaki itu mulai memfokuskan diri. Mulutnya komat-kamit membaca matra. Tak lama kemudian tangannya bercahaya. Sparkle. Debu keemasan itu menuju tempat drama amatir itu berlangsung.

 

Selanjutnya Sunyeong bisa melihat Jongdae berubah pikiran. Ia tidak lagi menyukai Seulgi. Jongdae segera berlari menuju pohon tempat Yerim dan Joy sembunyi.

 

“Omaigat.” Ternyata ini sungguhan. Sunyeong mulai penasaran apa yang terjadi. Jongdae meraih tangan… Joy? Jongdae juga mendeklarasikan cintanya.

 

“Kenapa Joy? Kenapa bukan Yerim?” Sunyeong protes pada Lay.

 

“Menurutku dia lebih cantik. Jongdae pasti suka.”

 

Sunyeong menepuk dahinya. Astaga! Meski ia mengaku dewa amore dan sudah berumur 207 dia lebih mirip pemuda tanggung yang baru saja mengenal gadis. Labil. Gumam Sunyeong. Melupakan kejadian setelahnya adalah Yerim menangis keras melihat Joy yang tidak menolak Jongdae. Malah ia tersipu-sipu.

 

“Cepat kembalikan seperi semula.” Sunyeong baru sadar. Ia menyuruh Lay untuk buru-buru mengembalikan seperi semula.

 

Beberapa menit kemudian masalah terselesaikan entah bagaimana.

 

“Bagaimana? Kau percaya.” Lay tersenyum bangga.

 

Sunyeong tertawa. “Ya aku percaya. Lay adalah dewa Amore.” Ucap Sunyeong sambil menegak minumannya.

 

“Kalau begitu sebagai langkah awal apa yang harus aku lakukan untuk hubunganmu dan Jongdae?” tanya Lay polos.

 

Sunyeong tersedak. Sepertinya petir baru saja mengingatkannya bahwa kisah cintanya begitu menyedihkan hingga membutuhkan bantuan Dewa Amore.

 

@@@

 

Dewa Amor adalah dewa asmara yang memakai baju kebangsaan dewa dengan sepasang sayap putih yang lebar dan menggunakan panah serta busur untuk melakukan pekerjaannya. Setidaknya itulah yang Sunyeong tahu tentang dewa Amor, bukan lelaki tinggi berseragam sekolah bernama Lay. Kalau saja bukan karena pertunjukan sihir Lay kemarin siang, Sunyeong mungkin sudah mencap dirinya sendiri gila. Bagaimana pun juga, haruskah ia meminta bantuan pada dewa Amor sinting itu?

 

“Lay kau ada di sini?” teriak Sunyeong ketika ia kembali ke atap sekolah saat jam istirahat siang dimulai.

 

“Bagaimana sudah kaupikirkan?” Lay tiba-tiba bersuara di belakang Sunyeon, dan sekali lagi gadis itu terjatuh karena terkejut. “Ahh … Bisakah kau muncul lebih waras?” gerutu Sunyeong.

 

“Ayo cepatlah berdiri, aku ingin segera menyelesaikan pekerjaan terakhirku,” kata Lay penuh semangat.

 

“Terakhir? Jadi ini kasus terakhir untukmu?”

 

Dengan polosnya Lay mengangguk, lesung di pipinya semakin dalam, di tambah mata yang berbinar layaknya lampu disko. “Cepat katakan apa yang harus kulakukan?”

 

“Kalau begitu kita akan mencari Jongdae. Kau mengeluarkan debu emasmu itu, lalu membuat dia jatuh cinta padaku. Mudahkan?” Lay mengangguk paham, entah kenapa dia begitu semangat hari ini. Mungkin karena setelah hari ini dia akan dibebas tugaskan. Percayalah, sebagai dewa asmara Lay pun ingin memiliki liburan.

 

Sunyeong berjalan turun terlebih dahulu diikuti Lay di belakangnya, melewati anak tangga menuju lantai dua di mana kelas Jongdae berada. Semoga saja Jongdae masih ada di sana. Mereka berdua berjalan menyusuri koridor lantai dua, menuju kelas 2-5 yang berada di ujung gedung. Dari kejauhan Jongdae muncul dan melihat Sunyeong. “Yeong!” seru Jongdae dari kejauhan.

 

Sunyeong langsung melihat kebelakang, ternyata lay sudah mulai membaca mantra dan debu keemasan mulai bermunculan di sekitar tangan Lay. Dihembuskanlah debu itu perlahan menuju Jongdae yang setengah berlari menghampiri Sunyeong.

 

Duarrr… debu itu terserap oleh orang lain. Dia Shindong-seongsanim yang tiba-tiba keluar dari kelas. “Oops …,” kata Lay yang langsung berjalan mundur.

 

“Kenapa? Lay, Lay tunggu aku ….” Sunyeong yang melihat Lay hendak lari, menahan anak lelaki itu. Sedangkan Shndong-seongsanim berjalan semakin dekat. Dengan senyum lebar yang menyeramkan.

 

“Sunyeong-ssi, kenapa kau mau pergi? Aku mencintaimu,” ujar Shimdong-seongsanim penuh dengan imajiner balon-balon hati yang melayang di sekitarnya.

 

MWOOOOO???” Sunyeong berteriak, sambil berlari diikuti Lay. Mereka naik kembali ke atap sekolah secapat yang mereka berdua bisa.

 

=*=

 

“Kau gila?! Bagaimana bisa debu emasmu itu terbang ke Shindong-seongsanim? Kau ingin menjodohkanku dengan guru itu. Kau ini sungguhan dewa amor atau bukan? Bagaimana bisa terjadi hal seperti itu?” Rasanya Sunyeong bisa mati gila kalau Lay tadi tak membatalkan mantranya. Ahh … demi tuhan, kenapa dari sekian banyak lelaki di sekolah ini harus Shindong-seongsanim yang terkena debu emas itu secara tak sengaja.

 

“Sudahlah, jangan marah-marah. Aku sudah mengubah semuanya seperti semula. Jadi mari kita coba sekali lagi.” Lay berusaha membujuk, ia tahu ia salah, tapi bukan berarti dia akan menyerah begitu saja.

 

Sunyeong mendelik. “Mencoba sekali lagi?! Tidak, tidak, itu sama saja aku bunuh diri. Kali ini aku akan menyatakan perasaanku sendiri,” ucap Sunyeong penuh dengan semangat.

 

“Memang kau bisa?” Seperti ada bom yang baru diledakan, semangat Sunyeong memudar seketika. Lay benar-benar kejam. “Bukannya aku berada di sini karena ketidakmampuanmu, nona kecil.”

 

“Untuk itulah kau berada di sini, bantu aku menjadi pemberani. Benar juga, sihir yang bisa membuatku jadi pemberani. Supaya aku bisa menyatakan cintaku.”

 

“Tidak ada yang seperti itu, tetapi jika kau bersikeras ingin melakukan sendirian dengan segenap hati aku kan mendukungmu. Hwating!” kata Lay datar tak berniat menjadi semangat lagi.

 

Sedangkan Sunyeong memutar bola matanya malas. Dasar tidak berguna, batin Sunyeong.

 

=*=

 

Setelah makan malam, ia mengirim pesan pada Jongdae untuk datang ke taman bermain dekat rumah Jongdae. Dengan bantuan Lay dalam pakaian dan debu emas yang membantu memoles wajah Sunyeong. Gadis itu kini telah siap berperang melawan ketakutannya. Dia meyakinkan pada dirinya bahwa ia harus berani. Jika tidak begitu, untuk apa bantuan dari dewa Amor bila tak menghasilkan apapun.

 

Sunyeong tiba lima menit lebih cepat, ia bersandar pada ayunan kayu sambil memainkan ponselnya. Dari kejauhan Lay sudah mengawasi gadis itu. Bukan karena Lay tak yakin pada Sunyeong, yang mungkin saja akan kabur sebelum menyatakan cinta. Namun Lay memiliki firasat buruk.

 

“Yeong! Ada apa kau memanggilku? Dan ada apa dengan pakaianmu?” kata Jongdae yang membuyarkan lamunan Sunyeong dari ponsel pintarnya. Sunyeong tak langsung menjawab ia hanya tersipu karena sepertinya Jongdae terkejut dengan pakaian gadis itu yang terlihat feminim.

 

“Jongdae, ada yang ingin kukatakan padamu,” ujar Sunyeong ketika Jongdae duduk di ayunan tepat di sebelah kiri Sunyeong.

 

Jongdae tersenyum jahil. “Apa katakanlah?”

 

Deg … Sunyeong mengangguk mantap. Napasnya tersenggal-senggal. Namun mulutnya tetap berusaha merangkai kata. “Aku menyukaimu, Jondae,” lirih Sunyeong sekian detik kemudian. Setidaknya Sunyeong ingin mengatakan yang sejujurnya. Meski Jongdae tak mungkin mempercayainya. Tidak, sebenarnya Sunyeong sudah lelah dengan semua ini. Ia tidak ingin menyembunyikan perasaannya lagi. Ia ingin Jongdae melihatnya sebagai wanita.

 

“Aku juga, Yeong. Kau sahabat terbaikku.” Jongdae hendak mencubit pipi Sunyeong, tetapi tangannya terhempas begitu saja oleh tangan Sunyeong.

 

“Sahabat?” tanya Sunyeong parau.

 

“Kenapa kau berpikir aku akan menyukaimu lebih dari itu?” canda Jondae. Seperti seluruh dunia tengah memusihi Sunyeong saat ini. Hatinya terlalu terpukul oleh sebuah candaan kosong itu.

 

“Kenapa kau berpikir bahwa ini semua hanya candaan? Kenapa kau tak menyukaiku? Aku jelek? Apa aku tidak secantik Seulgi? Yerim? Joy? Apa kau tidak bisa menerimaku sedikit saja?” Sunyeong benar-benar sudah tidak bisa menahan emosinya.

 

“Yeong.” Sekali lagi Jongdae mencoba meraih tangan Sunyeong yang gemetar. Gadis itu menangis dan Jongdae tak cukup pintar untuk memahami gadis yang satu ini.

 

“Lepaskan!” Sunyeong beranjak dari posisinya. Menjauhkan diri dari tangan Jongdae yang mencoba meraih lengannya. Gadis itu berdiri kaku di depan Jongdae yang kebingungan. Perlahan es membekukan tubuhnya, dimulai dari kaki hingga tangannya tak bisa bergerak. Sedang air matanya itu terus mengalir, tetapi tubuhnya tak cukup kuat untuk berbalik pergi. Sunyeong merasa malu, marah dan kecewa. Ia menyesal telah menyatakan cintanya.

 

“Ayo pergi,” kata seorang lelaki yang menarik tangan Sunyeong paksa. Dia Lay, si Dewa Amor yang tidak berguna kini menggengam tangan Sunyeong erat. Membawa gadis itu berjalan menjauhi taman, entah kemana. Mereka hanya berpikir untuk berjalan lebih jauh. Yang lebih Sunyeong syukuri, Lay sama sekali tak memandang iba padanya. Hanya tatapan hangat dengan senyum ramah.

 

=*=

 

Jongdae tak mengerti apa salahnya. Kenapa Sunyeong bersikap seperti itu? Dan siapa lelaki yang bersama Sunyeong malam itu? Jondae tak tahu harus bagaimana menghadapi Sunyeong di sekolah nanti. Tunggu, Jongdae rasa ia pernah melihat lelaki berlesung pipi itu di suatu tempat.

 

“Jondae-ah,” panggil seorang gadis ketika Jongdae berjalan masuk ke gerbang sekolah. Seulgi dengan senyum yang manis dan hangat merangkul lengan Jongdae mesra. “Kenapa teleponku tak kau angkat semalam? Kau selingkuh ya?” canda Seulgi yang hanya dijawab Jongdae dengan senyum candaaan.

 

Sejujurnya pikiran Jongdae masih berkelebat tentang bayangan Sunyeong dari malam hingga kini. Gadis itu tak mengangkat teleponnya atau membalas pesannya. Ada apa sebenarnya dengan Sunyeong?

 

Ketika ia memasuki gedung sekolah dan mendapati Sunyeong hendak menaiki tangga. Ia langsung berlari ke arah gadis itu, meninggalkan Seulgi begitu saja. Demi meraih pundak Sunyeon agar anak perempuan itu membalikan tubuh kepadanya.

 

“Kita bicara,” kata Jongdae yang segera menarik tangan Sunyeong paksa. Mereka menaiki tangga menuju atap sekolah. “Kau ini sebenarnya kenapa?” tanya Jongdae begitu emosi ketika keduanya sampai di atap sekolah. Sunyeong tak kunjung menjawab. Hal itu malah membaut Jongdae semakin frustasi dan kebingungan. “Katakanlah sesuatu. Aku benar-benar tidak mengerti kalau kau hanya diam saja. Kau ini sebenarnya kenapa?”

 

Masih hening, hingga sekian detik kemudian Sunyeong menarik napas panjang dan berkata, “Jongdae, aku tahu dari awal kau tak menyukaiku seperti caraku menyukaimu. Kau tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja setelah semua ini terjadi. Maaf membuatmu bingung dan harus memikirkan perasaanku yang tak penting ini. Jadi kumohon lupakanlah. Kita sahabat baik ‘kan? Sunyeong berbalik pergi, tubuhnya selangkah demi selangkah menjauh dari Jongdae menuju pintu atap.

 

Jongdae terpaku menghadapi kepergian Sunyeong begitu saja. Ia tak pernah berpikir Sunyeong memiliki perasaan itu padanya. Tidak hingga detik ini. Kakinya hendak bergerak menyusul Sunyeong. Namun di pintu atap itu berdiri lelaki tinggi dengan lesung pipi yang segera memeluk Sunyeong. Dia Zhang Yixing, siswa pindahan yang ikut klub sepak bola. Jongdae mengenal lelaki itu, tetapi tak cukup akrab untuk bertegur sapa.

 

Anehnya ada sesuatu dalam diri Jongdae yang terasa panas ketika ada lelaki lain yang memeluk Sunyeong erat seperti itu. Perasaan yang tak pernah Jongdae rasakan sebelumnya. Namun Jongdae tak cukup berani untuk berjalan menghampiri Sunyeong.

 

=*=

 

Sunyeong berjalan menjauh meninggalkan Jongdae di belakang punggungnya. Entahlah hatinya sudah terlalu lelah. Dia sudah terlalu malu untuk berhadapan lagi dengan Jongdae. Dan sejujurnya ia tak baik-baik saja. Namun saat Sunyeong mengangkat wajahnya, ia melihat Lay berdiri di depannya. Secara tiba-tiba lelaki itu memeluk Sunyeong hangat.

 

“Lay, bisakah kau gunakan kekuatanmu untuk membuatku melupakan perasaan ini,” ujar Yeong.

 

Lay menggeleng. “Kau tak perlu sihir. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku. Jadi kau akan lupa rasa sakit itu,” ucap Lay parau dan malah mengeratkan pelukannya pada Sunyeong.

 

“Apa maksudmu?” Sunyeong tergagap.

 

“Aku jatuh cinta pada kecantikan hatimu Sunyeong. Kau begitu cantik hingga tak seorang bisa memahami kecantikanmu,” lirih Lay. Sunyeong tak berniat menjawab atau berkata sesuatu. Ia juga tak ingin melepaskan dekapan Lay dari tubuhnya. Gadis itu hanya merasa tenang berada di sisi Lay seperti saat ini.

 

Sebenarnya selama ini, dari kejauhan Lay selalu memandangi Sunyeong yang begitu setia menyukai Jongdae. Sunyeong yang seringkali mengalah pada perasaan Jongdae dengan wanita-wanita lain. Sunyeong yang selalu memperhatikan Jongdae, bagaimanapun keadaan lelaki itu. Sunyeong yang cantik dengan senyum hangatnya. Dan secara ajaib, Lay jatuh hati pada kecantikan itu.

 

 

END

 

Zora Note : Ini kolaborasi sama temanku yang bukan author IF .. heheheh …  Kenapa di-share di sini? Karena aku pingin /plak/ XD

Advertisements

3 thoughts on “[OneShot] Make You Love Me; Sparkle in Love

  1. OMG! Aku sukaaaaaaa banget apalagi karakter Lay okeeee sekali. Kereeen! Sumpah ini keren dan mampu membuatku nyesek, ketawa dan terharu.
    Ampun deh kebayang kalo Lay sebaik itu.
    Btw, bkin epep Lay lg donk. Jujur, q mampir d epep ini krn ada Lay. Hihihi…
    Fighting aja yaaaa

    • makasihhhhhhhhhhhhhhhhhh … heheheh ini ide ceritanya dari temen ku , bagian tengah smpe akhir itu aku hanya menmbahkan XD
      oke oke … lain waktu aku bikin ff lay lagi hhehhe …
      figthing ^^

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s