[Multichapter] Destiny — Part 2

destiny-cover-edit

DESTINY

featuring

Kim Myungsoo, Nam Woohyun, Lee Hoya

and others

Special cast. Lee Bada (OC/You)

[Entertainment, Fantasy, Hurt/Comfort]

Terinspirasi dari Drama Korea ‘My Lovely Girl’ [L & Hoya scene only]

zulfhania, 2015

Previous. Teaser | 1

GIRL IN THE GAS STATION

Kadang, kita mencintai seseorang begitu rupa
Sampai tidak menyisakan tempat bagi yang lain
Membuat kita lupa untuk sekadar bertanya,
Inikah sebenarnya cinta?

Bukankah memang begitu cinta seharusnya?
Memberikan senyum untuk dia yang kita cinta
Meski diam-diam menumpuk sedih sangat banyak di dalam hati.
Dia yakin, seperti itulah cinta. *)

*) dikutip dari novel ‘DIA’ karya Nonier

“Kuharap aku dapat melihatmu, tetapi rupanya, aku sama sekali tidak dapat melihatmu.” ~ Part 2

.

“Bodoh! Memangnya kau pikir aku menyukai gadis itu?”

“Ya sudah, kalau kau memang tak menyukainya, jangan dekati dia!”

“Siapa yang mendekati siapa, Kim Myungsoo?! Gadis itu yang mendekatiku duluan, bukan aku!”

“Kalau begitu kau tidak usah menanggapinya, hyung!”

“Huh, memangnya kau pikir aku ini sama denganmu yang bisa seenaknya tak peduli pada oranglain?”

“Apa katamu? YYA!”

Woohyun menutup buku yang dibacanya dengan cukup keras hingga dua lelaki lain yang sedang berdebat di dalam satu ruangan yang sama dengannya menoleh ke arahnya dengan wajah memerah karena emosi. Tanpa mempedulikan mereka berdua, Woohyun beranjak pergi meninggalkan ruangan.

Hoya mendengus begitu melihat Woohyun keluar ruangan. Ia kembali menatap Myungsoo dengan tatapan tidak suka dan berkata, “Aku bilang aku tidak bisa seenaknya tak peduli pada oranglain, Kim Myungsoo. Tidak seperti dirimu, yang bahkan pada gadis yang kau sukai saja kau tidak peduli dengannya.”

Myungsoo balas mendengus mendengarnya. “Kau tidak perlu berpura-pura menjadi orang yang baik, Lee Hoya hyung. Aku tahu kau sama buruknya denganku.”

Tatapan Hoya berubah tajam yang kemudian dibalas dengan tatapan yang sama oleh Myungsoo.

Oh, sepertinya perang dunia kesekian kalinya yang kembali terjadi di antara mereka malam ini belum akan berakhir.

————————

Woohyun menutup pintu mobil dan merebahkan tubuhnya di atas jok mobil yang kini ia gunakan sebagai tempat untuk berbaring. Sunggyu, kakak kandungnya yang hanya terpaut usia 2 tahun lebih tua darinya, baru saja datang menjemputnya setelah ia menelepon kakaknya itu untuk minta dijemput.

“Terimakasih, hyung.” ucapnya pada seorang pria yang sudah duduk menunggunya di jok kemudi.

“Untuk apa?” tanya Sunggyu, pria yang duduk di jok kemudi dengan wajah bingung.

“Untuk segalanya. Terimakasih banyak. Aku benar-benar mencintaimu.” kata Woohyun yang sudah memejamkan matanya.

Sunggyu berdigik ngeri. Ia menyalakan mesin mobil. “Sepertinya kau terlalu lelah. Tidurlah. Aku benar-benar merinding mendengar kau mengucapkan itu.”

Saranghae, hyung,” ucap Woohyun. Matanya masih terpejam.

Sunggyu mendengus. “Sepertinya kau benar-benar ngelindur.” Ia menjalankan mobilnya keluar dari gedung. “Kau yakin akan pulang ke rumah malam ini? Bukankah seharusnya kau merayakan keberhasilan Infinite Power bersama dua rekan kerjamu itu? Boyband-mu baru saja menang, bukan?”

Woohyun menghela napas berat. “Mereka bertengkar, lagi. Entahlah. Aku lelah. Aku ingin istirahat dengan damai.”

Sunggyu melirik Woohyun yang terbaring di atas jok dengan napas teratur lewat kaca spion. Ia juga menghela napas berat, seperti merasakan apa yang sedang dialami oleh adik kandungnya itu.

“Aku tahu berat sekali menjadi leader sepertimu, Nam Woohyun. Tetaplah semangat. Aku akan selalu berada di sisimu.” ucap Sunggyu.

Woohyun sama sekali tidak menjawab. Sepertinya ia sudah tertidur dengan lelap melihat bagaimana ia bernapas dengan begitu teratur. Benar, berat sekali untuknya menjadi leader Infinite Power sehingga ia merasakan lelah yang teramat sangat bahkan ketika rasa bahagia sedang meliputinya saat ini.

————————

Manajer Oh, manajer Infinite Power, menatap Myungsoo dan Hoya bergantian dengan tatapan mengintrogasi. Tangannya terlipat di depan dada sambil tetap menghunuskan manik tajamnya pada keempat manik mata di depannya.

“Sampai kapan kalian akan terus seperti ini?” tanya Manajer Oh.

Myungsoo dan Hoya hanya menundukkan kepala. Sama sekali tidak berani membalas tatapan manajer mereka.

“Kalian tahu, kan, kalau kalian begitu diidolakan di luar sana oleh para Inspirit? Apa yang akan kalian lakukan kalau sampai mereka tahu kalau ternyata idolanya sebenarnya saling bermusuhan?!” bentak Manajer Oh kemudian.

Myungsoo dan Hoya tetap diam, tetapi mereka berdua saling melirik dengan tatapan tidak suka.

Manajer Oh menghela napas berat setelah memutuskan untuk tidak melanjutkan membahas hal tersebut. “Woohyun sepertinya akan pulang ke rumahnya. Jadi hanya kalian berdua yang akan tinggal di dorm. Bisakah kalian pastikan padaku kalau kalian tidak akan bertengkar lagi disana?” tanyanya.

Lagi-lagi Myungsoo dan Hoya tidak menjawab.

Manajer Oh mengacak rambutnya frustasi. “Oh, tolonglah, kalian berdua bukan anak kecil lagi. Kalian tidak perlu dibentak-bentak begini. Termasuk kau, Hoya! Kau setahun lebih tua daripada Myungsoo, seharusnya kau bisa bersikap lebih dewasa daripadanya!”

Hoya mendengus kecil mendengar ucapan manajernya. Sementara Myungsoo hanya melirik Hoya tidak peduli.

“Jangan biarkan media mencium ketidakakuran kalian berdua. Huh, bersyukur sekali penggemarmu yang melihat kalian berkelahi sebulan lalu saat rekaman di kantor SBS tidak segera menyebarkannya di internet. Kalau sampai itu terjadi, Infinite Power benar-benar akan berakhir.”

Kali ini Hoya mengangkat kepala, balas menatap Manajer Oh.

“Sampai kapan kami harus terus menyembunyikannya, hyung? Sampai kapan kami harus bersandiwara?” tanya Hoya lantang. Bahkan Myungsoo dan Manajer Oh sampai kaget mendengarnya.

Manajer Oh lalu tersenyum dan menepuk pundak Hoya. “Kau tidak perlu bersandiwara, Hoya. Kau hanya perlu berbaikan dengan Myungsoo. Mengerti?”

Myungsoo mengangkat sudut bibirnya begitu melihat Hoya kalah.

Manajer Oh beralih pada Myungsoo. “Besok kau kembali ke sekolah, Myungsoo. Aku sudah mengosongkan jadwalmu.” ucapnya, lalu beranjak pergi meninggalkan Myungsoo dan Hoya.

Tubuh Myungsoo langsung melemas. “Ah, hyung~ kenapa aku harus kembali ke sekolah?”

“Kau sudah enam bulan tidak sekolah, Kim Myungsoo.” kata Manajer Oh sambil terus melangkah menjauhi mereka. “Sebentar lagi hari kelulusan dan kau harus lulus dengan baik disana. Tinggalkan Infinite Power setelah ini, hanya sebentar sampai hari kelulusanmu. Aku akan mengatur ulang jadwalmu.”

“Justru karena sudah enam bulan tidak masuk sekolah seharusnya aku tidak perlu kembali lagi kesana.” rajuk Myungsoo manja. “Hyuuung~

Namun Manajer Oh sudah tidak terlihat lagi. Meninggalkan Myungsoo yang masih setengah merajuk dan Hoya yang mendengus lucu.

“Pintar sekali kau ber-akting.” dengus Hoya melirik Myungsoo dengan tatapan tidak suka. Tangannya terlipat di depan dada. Persis seperti Manajer Oh tadi saat memarahi mereka. “Namun sayang, akting-mu kali ini tidak dipedulikan oleh manajer hyung.”

Tatapan Myungsoo beralih pada Hoya. “Apa?”

Hoya kembali mendengus. “Aku sependapat dengan hyung. Kau harus kembali ke sekolah dan meninggalkan Infinite Power. Bahkan dari awal kau sama sekali tidak memiliki passion untuk bergabung bersama Infinite Power. Seharusnya kau bersekolah dulu saja, menamatkan pendidikanmu.” Ia mengetuk-ngetuk tempurung kepalanya. “Agar kau menjadi lelaki yang cerdas dan diidolakan karena otakmu, Kim Myungsoo, bukanlah karena tampangmu.”

Myungsoo mendengus marah. Tangannya terkepal, tetapi kepalan itu sama sekali tidak melayang ke wajah Hoya. Justru Hoya malah memperhatikan tangan Myungsoo yang terkepal dengan tatapan remeh.

“Kenapa? Kau ingin meninjuku?” tanya Hoya.

“Kenapa kau begitu membenciku, hyung?” tanya Myungsoo dengan suara tertahan.

Hoya mengangkat alis, pura-pura terkejut. “Kau tidak tahu?”

Myungsoo hanya diam.

“Kau benar-benar tidak tahu?”

Melihat Myungsoo tidak menjawab, Hoya malah mendengus. “Kalau begitu, cari tahu saja sendiri.” ucapnya, kemudian berlalu meninggalkan Myungsoo dengan seringai iblisnya.

Myungsoo hanya menatap punggung Hoya yang semakin menjauh dengan gigi bergemelutuk menahan emosi.

————————

Woohyun mengerjapkan mata ketika merasakan mobil yang ia naiki tidak bergerak lagi. Ia berpikir ia sudah tiba di rumah, tetapi rupanya Sunggyu sedang mengisi bensin di pom bensin.

Suasana di pom bensin lumayan sepi. Mungkin karena saat ini waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Hanya ada satu sampai dua mobil yang tampak mengantri di belakang mobilnya. Ada juga beberapa motor yang tampak mengantri di pom sebelahnya. Dan saat itulah Woohyun melihat-nya.

Woohyun terpaku, tanpa sadar menegakkan tubuhnya tanpa sama sekali mengalihkan pandangannya pada gadis itu.

Gadis itu berdiri di sebelah motor scoopy berwarna biru putih dengan memakai helm berwarna biru gelap yang membungkus kepalanya. Gadis itu berdiri di barisan antrian paling depan, tampaknya baru saja selesai mengisi bensin melihat bagaimana gadis itu kini mendorong pelan motornya ke depan, memberi tempat untuk pengantri selanjutnya untuk mengisi bensin. Woohyun tahu di antara sekian pengendara motor yang sedang mengantri di sebelahnya, gadis itu bukan hanya satu-satunya. Ada beberapa gadis lainnya yang juga sama-sama mengantri mengisi bensin. Tetapi entah kenapa, di mata Woohyun, hanya gadis itu yang satu-satunya tampak bercahaya, seakan-akan menyinari dunianya, menarik perhatiannya untuk memperhatikan gadis itu lebih dalam.

“Kau sudah bangun, Woohyun?”

Woohyun menoleh kaget pada Sunggyu yang baru saja masuk ke dalam mobil.

“Bensinnya habis, jadi aku mengisinya sebentar disini. Maaf kalau mengganggu tidurmu.” tambah Sunggyu, melirik Woohyun sekilas lewat kaca spion.

Woohyun tersenyum. “Tidak apa-apa, hyung.”

Begitu mobil kembali bergerak, Woohyun kembali mengalihkan perhatiannya pada gadis berhelm biru gelap itu. Namun matanya seketika membulat begitu melihat gadis itu sudah tidak ada lagi disana. Mungkinkah sudah pergi? Cepat sekali.

Meskipun hanya beberapa detik ia melihat gadis itu, tetapi Woohyun tak bisa sedetikpun menghilangkan pesona gadis itu dari dalam pikirannya. Mungkinkah ia jatuh cinta? Cinta pandangan pertama? Secepat itukah? Oh, Woohyun berharap dapat bertemu dengan gadis itu lagi suatu hari nanti.

————————

“Aku harus menjemput Bomi di bandara. Kau tahu, Woohyun? Malam ini dia kembali ke Korea. Setengah jam lagi pesawatnya landing. Eomma dan appa masih dalam perjalanan pulang dari Yongin dan sepertinya mereka akan bermalam di motel. Kau tidur duluan saja di rumah. Tidak usah menungguku. Selamat beristirahat, Woohyun.”

Setelah berkata begitu, mobil yang dikendarai Sunggyu kembali meluncur membelah lengangnya jalanan kota Seoul. Woohyun mendesah pendek memandangi mobil kakaknya yang semakin menjauh. Ia baru tahu kalau kakaknya itu akan seperhatian itu pada pacarnya hingga menjemputnya di bandara, padahal bisa saja keluarga dari wanita itu yang menjemputnya. Woohyun benar-benar merasa terharu dengan ketulusan hati dan kesetiaan Sunggyu dalam berhubungan dengan Bomi, bahkan kakaknya itu rela menunggu pacarnya yang studi di luar negeri untuk kembali lagi ke negaranya sendiri tanpa pernah berpaling pada wanita lain. Sepertinya Woohyun harus banyak belajar dari kakaknya itu.

Woohyun memutar kepalanya memandang rumah besar di depannya. Tujuan terakhirnya di saat dorm Infinite Power tidak lagi bisa dikatakan sebagai tujuan karena dua rekan kerjanya itu yang sering mencari rmasalah. Oh, baiklah, sepertinya ia tetap akan merasa sendirian meskipun beristirahat di rumah.

Woohyun berbalik, memutuskan untuk melangkah masuk ke dalam rumah. Namun tepat ketika itu, ia mendengar suara deruman motor yang melintas, lalu berhenti. Woohyun menolehkan kepala, bermaksud untuk melihat siapa yang baru saja melintas di jalanan. Dan saat itulah, matanya membulat terkejut.

Sebuah motor scoopy berwarna biru putih berhenti tak jauh dari rumahnya. Seorang gadis berhelm biru gelap turun dari motor dan menurunkan standar motornya.

Woohyun memandang gadis itu dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan mimik tidak percaya. Bukankah itu gadis di pom bensin tadi?

Gadis itu melepas helmnya, menggantungkannya di salah satu kaca spion, dan mengambil kuncir rambut dan topi hitam dari dalam saku celananya. Ia lalu menguncir rambutnya menjadi kucir kuda dan memakai topi hitamnya untuk menutupi puncak kepalanya. Ia membuka jok motor dan melongokkan kepalanya pada tangki bensin, lalu menggerutu.

Woohyun tersenyum tanpa sadar. Tidak salah lagi, itu pasti gadis di pom bensin. Tetapi, apa yang gadis itu lakukan disini? Dan, apa yang terjadi padanya? Kenapa dia menggerutu?

Sadar kalau gadis itu membutuhkan pertolongan, Woohyun melangkah mendekatinya.

“Permisi.”

Gadis bertopi hitam itu berjengit kaget. Ia balas menatap Woohyun dengan mimik terkejut.

“Kalau boleh tahu, apa yang sedang terjadi?” tanya Woohyun.

Gadis itu diam beberapa saat sebelum akhirnya berkata, “Motorku mogok. Padahal aku baru saja mengisinya tadi di pom bensin. Tak kusangka motorku akan seboros ini.”

Woohyun tertegun. Ternyata benar, gadis ini adalah gadis yang sama dengan gadis di pom bensin yang ia temui beberapa jam yang lalu. Ternyata Tuhan mendengar harapannya. Bahkan harapannya terkabul bukan untuk suatu hari nanti, tetapi malam ini juga.

“Bolehkah aku memeriksanya?”

Lagi-lagi gadis itu diam untuk waktu yang cukup lama sampai akhirnya mengangguk. Woohyun segera mendekati motor tersebut dan memeriksa mesinnya. Meskipun ia bukanlah seorang montir, tetapi ia sedikit mengetahui hal semacam ini. Dan hanya butuh waktu dua menit untuk Woohyun mengetahui apa yang terjadi pada motor gadis itu.

“Motormu tidak boros. Bahkan bensinnya masih banyak. Tetapi, akinya habis. Sepertinya perlu diganti.”

Manik gadis itu membulat. Ia bergegas berjongkok untuk memeriksa akinya, dan detik itu juga ia bergumam. “Ah, benar sekali. Aku memang belum menggantinya selama sebulan.” ia lalu berdiri dan menatap Woohyun sambil tersenyum. “Terimakasih banyak. Kalau begitu, aku akan membawanya ke bengkel sekarang.”

“Tunggu dulu.” Tanpa sadar, Woohyun menahan lengan gadis itu hingga gadis itu terkejut. Oh, bahkan Woohyun juga merasa terkejut mendapati tangannya yang tiba-tiba saja menahan lengan gadis itu. Akhirnya detik itu juga ia menurunkan tangannya.

“Ya?” tanya gadis itu, agak gugup, setelah Woohyun melepaskan tangannya dari lengannya.

“Ini sudah tengah malam. Tidak ada bengkel yang buka pada jam segini.”

Gadis itu membuka mulut, baru sadar. “Ah, benar.”

Woohyun berpikir sesaat sebelum akhirnya kembali bersuara, “Bagaimana kalau kau mampir dulu di rumahku?”

“Ya?” Gadis itu menoleh terkejut.

“Hm, maksudku,” Woohyun menggaruk tengkuk lehernya. Oh, astaga, kenapa tiba-tiba ia berubah kikuk seperti ini di hadapan gadis itu? “Sepertinya kakakku punya aki di garasi rumahku. Aku akan memasangkannya untukmu. Jadi, maukah kau mampir dulu di rumahku?”

————————

Rupanya aki itu benar-benar ada di garasi rumahnya. Gadis itu akhirnya mau untuk diajak menunggu di halaman rumahnya dan menunggunya memasangkan aki yang baru untuk motor gadis itu, padahal kalau saja Woohyun tahu, sebenarnya gadis itu bisa memasangnya sendiri. Sayangnya, gadis itu hanya diam dan membiarkan Woohyun yang melakukannya. Ia hanya memandangi Woohyun yang tampak telaten menangani motornya, bahkan hingga wajah lelaki itu kusam dimana-mana.

“Wajahmu kusam.” komentar gadis itu akhirnya.

Woohyun menoleh. Namun alih-alih membersihkannya, ia hanya tertawa. “Namanya juga montir dadakan. Tidak ada montir yang wajahnya tidak kusam saat memperbaiki motor, bukan?”

“Kau tidak khawatir wajahmu kotor? Bukankah seorang idola biasanya memperhatikan penampilannya?”

Tawa Woohyun berhenti. “Kau mengenaliku?”

Gadis itu tersenyum tipis. “Tentu saja. Siapa sih yang tidak kenal dengan Nam Woohyun, main vocalist sekaligus leader boyband Infinite Power yang saat ini digandrungi oleh banyak remaja perempuan. Bahkan mereka baru saja membawa pulang piala emas atas kemenangan boyband terbaik pada ajang musik tahun ini.”

Woohyun tertegun. Ternyata gadis itu mengetahuinya, padahal itu baru saja beberapa jam yang lalu. Oh, mungkinkah…

“Kau Inspirit—penggemar Infinite Power?” tanya Woohyun.

Gadis itu tidak menjawab. Dan tampaknya gadis itu tidak akan menjawab. Maka dari itu, Woohyun memutuskan untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.

“Kenapa kau tidak tinggal di dorm bersama dua personil lainnya?” Woohyun mendengar gadis itu bertanya dan ia hanya tersenyum miris mendengarnya.

“Aku ingin tidur dengan tenang.” jawab Woohyun seadanya.

“Apakah tinggal di dorm membuat tidurmu tidak tenang?” Gadis itu kembali bertanya.

“Bukan begitu. Tetapi…” Mendadak, Woohyun menutup mulut hingga membuat gadis itu mengangkat alis, bertanya. “Malam ini aku hanya ingin tidur di rumah saja.” lanjut Woohyun kemudian.

Bibir gadis itu membulat, mengerti. Woohyun langsung merutuki dirinya sendiri di dalam hati. Hampir saja ia mengatakan kalau ia tidak ingin mendengar suara pertengkaran Myungsoo dan Hoya di dorm. Siapapun tidak boleh tahu kalau ternyata antarmember Infinite Power sebenarnya tidaklah akur.

“Selesai.” ujar Woohyun setelah aki baru telah terpasang di motor scopie gadis itu.

Gadis itu berdiri dari duduknya, Woohyun juga.

“Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membalas kebaikanmu. Aku hanya bisa mengatakan terimakasih banyak atas bantuanmu.” kata gadis itu.

Woohyun tersenyum. Dan untuk beberapa saat, gadis itu terpaku. Seperti sebuah virus penyakit, senyum lelaki itu menular hingga tanpa sadar gadis itu ikut tersenyum.

“Tidak apa-apa. Aku senang membantumu.” kata Woohyun.

Woohyun membantu gadis itu mendorong motor scoopy hingga keluar dari halaman rumahnya. Gadis itu memakai helm biru gelapnya setelah melepas topi hitam dan kucir rambutnya. Ia duduk di atas jok motor dan menyalakan mesin.

“Hati-hati di jalan, hm…” Woohyun diam sejenak, bermaksud untuk bertanya nama gadis itu agar ia dapat menyempurnakan kalimatnya. Namun tampaknya gadis itu tidak ingin memberitahunya.

“Terimakasih banyak.” ucap gadis itu, tersenyum yang terakhir kalinya pada Woohyun dan bersiap untuk menggas motornya. “Ah, iya…” tampaknya gadis itu melupakan sesuatu.

Gadis itu kembali menoleh pada Woohyun, memberikan tatapan sedih dan sorot yang menahan luka pada Woohyun. Woohyun tertegun melihatnya.

“Nam Woohyun-ssi, sebenarnya, aku menyukaimu.” ucap gadis itu, lalu menggas motornya, meninggalkan Woohyun yang kembali tertegun karena ucapannya.

—tbc

Nah loh?
Tu cewek kenapa deh? Kemarin bilang benci waktu ketemu Myungsoo, sekarang bilang suka waktu ketemu Woohyun, jangan-jangan nanti pas ketemu Hoya bilang *tiiiiiiiiit* /sensor/ tunggu next chapter aja ya hehe. Jangan lupa tinggalkan jejak ^^

Regards, zulfhania

Advertisements

3 thoughts on “[Multichapter] Destiny — Part 2

  1. Perasaan kemarin km bilang Sungkyu akan lama munculnya. Tapi ternyata dah muncul#jingkrak-jingkrak# Tapi sedih Sungkyu ada yg punya hicks… hicks….
    Tu cewek aneh bgt sih tiba2 bilang suka ma Woohyun. Bikin penasaran ja.

    • Haha aku bilang muncul di part 2 kok wkwk.. sebenernya niatnya pengen jemput ortu di bandara, tapi entah kenapa malah lebih sreg jemput pacarnya hihi, mianhae kak chun :3

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s