[4th Chapter] Illusion

illusion4

arin yessy presents

Illusion

1st | 2nd | 3rd

Kim Myungsoo, Irene RV, Daniel Henney

.

.

sorry for typos

happy reading~

.

.

Myungsoo mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, melewati deretan hutan pinus yang menghijau di daerah pinggiran negara bagian California.

Bayang-bayang pertemuannya dengan Irene, wajah gadis itu, dan bagaimana ia bersikap padanya masih teringat dengan sangat jelas. Bahkan mungkin masih lekat dalam ingatannya bagaimana sosok Irena, atau teman-temannya memanggilnya Irene,  yang dahulu ia katakan teman, atau mungkin lebih dari seorang teman. Lebih tepatnya kekasih hati.

Kemudian gadis di restoran tadi, atau gadis berpakaian biru langit dengan gelang aneh yang dikenakannya, yang kemarin tampak bersama ayahnya, atau gadis yang memakai bando pita berwarna pink itu.. bernama Irene. Namun ia tak tampak seperti Irene yang terakhir kali terekam dalam memori otaknya.

Sudah berapa lama ia tak berjumpa dengan gadis itu? Setahun, dua tahun, atau satu windu? Yang jelas terakhir kali yang myungsoo ingat, Irene tak pernah Nampak seceria hari ini. Ia bahkan merengek, bersikap manja layaknya seorang remaja, sama sekali tak memiliki beban dalam hidupnya. Jauh bertolak belakang dengan Irene yang pendiam dan tampak seperti gadis depresi tempo dulu.

Myungsoo mengacak rambutnya frustasi, sementara ia masih mempertahankan kecepatan mobilnya melaju dikisaran 80-90 km/h. Diliriknya sebuah foto yang terpajang di dashboard aston martin dbs kesayangannya, salah satu kenangan yang tersisa dari sosok Irene yang pernah ia kenal.

Myungsoo tak pernah mengganti mobilnya sejak empat tahun lalu kendati ia bisa saja membeli mobil keluaran terbaru, bahkan dua bingkai foto berukuran kecil itu tak pernah berpindah dari dashboardnya apapun yang terjadi. Irene bersikeras menyuruhnya membeli mobil ini untuk merayakan kelulusan Myungsoo dari sekolah menengah atas. Alasannya sederhana, Myungsoo yang tampan akan tampak seperti James Bond dalam film Casino Royale dengan aston martin hitam metaliknya.

Seberkas senyuman terlukis di bibir laki-laki itu. Mengingat sosok dan kenangannya akan Irene membuat suasana hatinya membaik. Karena entah sejak kapan untuk terakhir kalinya ia bisa tersenyum segembira ini.

.

.

Waktu itu musim salju hebat melanda kota pinggiran Kansas di pertengahan Januari..

Irene berusaha sekuat tenaga melangkahkan kakinya yang terasa sangat berat karena tinggi salju yang hampir sebatas lutut. Nafasnya memburu. Berlapis-lapis sweater yang ia gunakan tak mampu mengusir hawa dingin yang menusuk pori-porinya, bahkan hal ini justru memperlambat gerak tubuhnya. Namun tekad mengalahkan segalanya. Ia memberanikan dirinya melewati pinggiran hutan yang sepi, berpegangan pada setiap batang pohon pinus yang dilewatinya, hingga manik mata hazelnya menangkap sebuah bangunan kayu. Tampak seperti sebuah rumah peristirahatan.

Irena mempercepat langkah kakinya. Dinginnya salju seakan menembus lapisan sepatu boat yang ia gunakan, membuat jari jari kakinya mati rasa. Sesekali ia memperhatikan ke arah belakang, waspada bila ada seseorang yang tengah memperhatikan gerak-geriknya. Atau mungkin seseorang akan menyekapnya dari belakang seperti yang pernah terjadi tempo hari akibat dirinya yang tidak cukup waspada.

Irene menghembuskan nafasnya yang terasa sangat berat. Kakinya sudah berhasil lolos dari gundukan salju dan tengah menapak di sebuah lantai kayu yang tampak hangat diterpa sinar lampu petromaks.

Ia mengetuk pintunya dengan terburu-buru, seorang laki-laki muda berusia awal dua puluhan membukakan pintu untuknya.

“Irene..”

“ssstt..”

“masuklah.”

Laki-laki itu, Myungsoo.. mendekap bahu Irene kemudian membawa gadis itu masuk setelah memastikan tak ada satu hal pun yang mengikuti kedatangannya.

“bagaimana kau…?”

“aku kabur.”

“bagaimana bisa?”

“aku membunuhnya..” Irena menutup rapat bibirnya. Matanya bergerak-gerak gelisah, bahkan mungkin ia hampir menangis sekarang.

“Ya Tuhan Myungsoo, aku membunuh penjaga itu soo.. aku pembunuh.” Gadis itu mulai menangis sekarang. Tak percaya dengan apa yang baru saja diperbuat oleh kedua tangannya.

“Tidak! Kau bukan pembunuh! Kau tidak bersalah, aku yang bersalah telah menyeretmu ke dalam permusuhanku dengan ayahmu.” Myungsoo meraih Irene ke dalam pelukannya hingga semakin pecahlah tangis gadis itu.

“aku membunuhnya myungsoo. Dia.. dia.. tidak bergerak. Dia.. dia berdarah, banyak sekali..”

“sssttt.. tenanglah Irene..”

“Aku takut, mereka akan menemukan kita.. Kau harus pergi sekarang” Irene melepas paksa pelukan mereka. Ia menghapus kasar air matanya.

“Tidak, aku akan menghadapi ayahmu kali ini, aku tidak ingin terus bersembunyi.”

“Tidak!! Kau tidak tahu siapa ayahku Myungsoo! Demi Tuhan aku tidak ingin kehilanganmu, jangan bertindak bodoh dengan menggantung nyawamu sendiri!” Gadis itu mencengkeram lengan kursi yang di dudukinya. Pikirannya melayang-layang menampilkan bayangan wajah marah ayahnya dan sosok Myungsoo yang tampak lemah tak berdaya meregang nyawa.

Semua ini bukan semata hanya tentang persaingan bisnis, namun lebih dari itu, dan hanya myungsoo lah yang tahu bagaimana persisnya semua ini berawal.

“Ayo kita pergi dari sini.”

“pergi kemana lagi Irene?”

“Kemanapun! Sampai tidak ada satupun yang mengenali kita, bahkan NSA sekalipun.” Irene menghirup nafasnya kuat-kuat. Tangannya gemetaran kendati ia tengah berdiri tak jauh dari perapian.

“Kita bisa pergi ke Swiss atau ke negara manapun. Lalu kita akan memulai hidup yang baru di sana dengan identitas baru. Aku ingin berjalan-jalan di taman tanpa ada yang menguntitku, aku ingin pergi ke sekolah tanpa diawasi oleh siapapun, aku ingin menikah, memiliki anak….” Gadis itu hampir kehabisan nafas, ia tertohok oleh ucapannya sendiri. Karena realitasnya sungguh jauh berbeda dari yang ia bayangkan.

“Aku hanya ingin hidup normal myungsoo!”

Myungsoo membingkai wajahcantik  Irene dengan kedua telapak tangannya.Mengecup singkat bibir pucat itu penuh sayang.

 Gadis itu masih berusia tujuh belas tahun dan takdir serasa tak adil memihak kepadanya. Seharusnya ia sedang berada di pusat perbelanjaan menghabiskan uang ayahnya yang melimpah, atau menghabiskan libur musim dingin dengan bermain ski di Trentino, bukannya ikut terseret di dalam arus permasalahan yang diciptakan oleh ayah dan kekasihnya.

Ingin sekali myungsoo meraup segala rasa kegelisahan yang ada di hati gadisnya, walau itu tak pernah mampu ia lakukan. Myungsoo tahu Irene sangat menyayangi ayahnya terlepas dari berbagai reputasi buruk yang disandang oleh pemilik Braun Enterprise itu. Daniel Henney Braun tak akan segan menghabisi setiap lawan bisnisnya. Ia adalah roda penggerak dari percaturan politik dan ekonomi negeri ini. Dia bukan orang baik, Myungsoo tahu itu. Tapi tidak dengan Irene, gadis itu tak tahu apa-apa. Daniel Henney Braun membesarkannya dengan sangat baik. Menjauhkannya dari segala isu sensitive dan memperlakukannya seperti seorang puteri. Karena sungguh, ia bisa saja mendidik Irene menjadi seorang pianis ternama, supermodel terkenal, business woman bertangan dingin, atau bahkan mendidiknya menjadi seorang pembunuh. Tapi nyatanya gadis itu tumbuh dengan baik menjadi pribadi polos dan menutup matanya akan segala hal yang terjadi di dunia ini. Ia bahkan tak tahu bila ayahnya adalah seseorang yang berhati sekeras baja jika saja Myungsoo tak hadir di hidupnya dan merubah hari-harinya yang sempurna menjadi mimpi buruk.

“aku sayang padamu Myungsoo.. jadi tolong kali ini saja, dengarkan kata-kataku please..”

 

.

.

Myungsoo terperangah. Bayang-bayang ilusi masa lalu itu kembali berkelabat dalam pikirannya.

Hari itu adalah hari terakhirnya bertemu dengan gadis mentarinya. Karena selepas hari itu, Irene tak pernah muncul lagi menerangi paginya.

Timah panas itu menembus lengan kanan lalu bahu kirinya. Dan mereka menyeret Irene dari pelukannya. Melepaskan paksa tautan tangan mereka dan menyuntik gadis itu dengan obat bius hingga dapat dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri betapa tak berdayanya ia dan Irene akan takdir yang ditorehkan oleh pena Mr.Braun.

Mengingat hari itu bagai terjerembab kembali ke dalam mimpi buruk yang kelam. Sebuah keajaiban bahwa myungsoo masih dapat menghirup nafas saat ini setelah ia melewati malam yang panjang dengan sekujur tubuh dan hati yang penuh luka. Layaknya ia berjalan di sebuah labirin gelap dan tak berujung. Ia tak dapat menemukan Irene dimanapun ia melangkah, dan hal itu sungguh amat menyakitkan.

Myungsoo menghela nafasnya. Ia mencengkeram setir mobilnya dengan lebih kuat. Seharusnya ia mendengar kata-kata Irene dan membawa gadis itu pergi saat itu juga. Karena jika saja ia cukup cepat, mungkin myungsoo masih dapat menikmati manik mata hazel dan senyum sumringah gadisnya yang secerah mentari pagi.

“apakah itu kau Irene?” Myungsoo berbisik ke arah bingkai foto di atas dashboard mobilnya. Wajah Irene dengan senyum polosnya yang sangat myungsoo rindukan.

“aku merindukanmu..”

“aku akan membawamu ke tempat dimana kau seharusnya berada, jangan khawatir..”

Myungsoo menurunkan kecepatan mobilnya dan berbelok ke arah sebuah gang sempit yang membelah hutan pinus. Kemudian memarkirkan aston martin hitamnya di depan sebuah rumah berlantai dua yang lantainya terbuat dari kayu dan berdinding bebatuan mineral. Manik matanya menangkap sesosok laki-laki paruh baya yang tengah sibuk menggergaji kayu.

“butuh bantuan?” Myungsoo menutup pintu mobilnya dan menghampiri sosok lelaki itu.

“Oh.. kau datang? Tumben sekali..” laki-laki paruh baya itu melemparkan senyumnya kearah Myungsoo. Ia senang ada yang datang mengunjunginya.

“sedang tidak ada kerjaan. Kenapa menggergaji sebanyak ini?”

“hanya mengisi waktu luang.” Ia meletakkan alat gergajinya dan mengelap keringatnya dengan handuk kecil.

“kemarilah.. biarkan aku memelukmu sebentar..” Myungsoo menepuk-nepuk pundak laki-laki paruh baya tersebut di sela-sela dekapannya. Umur pria itu sebenarnya masih empat puluh limaan, namun beban dan tekanan hidup membuatnya tampak lebih tua dari usianya.

“ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu.”

.

.

 

“aku bertemu dengannya.”

“siapa? Daniel?”

“bukan.. Irene, aku bertemu dengannya, dua kali.”

Mata pria itu membulat sempurna. Ia bahkan dengan gugup memilih kembali meletakkan cangkir tehnya sebelum ia sempat menyesapnya.

“benarkah?”

“tapi ada sedikit berita buruk.”

“Oh tidak, berurusan dengan si bajingan Daniel sudah cukup buruk. Adakah yang lebih buruk lagi?” Pria paruh baya itu menatap intens wajah myungsoo yang sudah dianggapnya sebagai puteranya sendiri.

“jangan bilang luka-lukamu itu….?”

“aku bertemu dengan Daniel kemarin lusa ketika baru pulang dari club. Dia memukulku dan melemparkan cek. Cihh! Dia pikir aku ini laki-laki miskin?” Myungsoo mengambil sesuatu dari saku jaket yang ia kenakan.

“lalu apa yang terjadi?”

“ini…” Myungsoo meletakkan di atas meja beberapa lembar foto berukuran 3R yang sengaja dijepret oleh orang-orang suruhannya ketika mereka berada di restoran beberapa jam silam. Pria itu mengamati lekat-lekat sosok wanita yang ada di dalamnya. Hatinya bergemuruh, ia sangat merindukan sosok ini sama halnya dengan Myungsoo.

“Joohyun… putri kecilku sudah dewasa..”

Myungsoo menyesap the hitamnya pelan-pelan. Ia ingin segera mengatakan kejadian yang menurutnya sangat janggal. Namun sepertinya tak ada salahnya membiarkan Mr.Bae melepas kerinduan kepada puteri semata wayangnya.

“Oh Ya Tuhan.. andai saja aku pulang lebih cepat hari itu, andai saja aku tidak bertengkar dengan ibumu pagi itu, andai saja aku tidak menerima tawaran tender dari pemerintah waktu itu, mungkin kau masih ada di sini menjadi anak ayah Joohyun-ah.”

Myungsoo menghela nafasnya kasar. Ia tak suka ketika Mr. Bae mulai mengungkit-ngungkit perihal penyelesan yang sudah terjadi bertahun-tahun lamanya.

“sudahlah.. jangan salahkan dirimu sendiri. Itu bukanlah kesalahaanmu. Daniel yang merebut segalanya darimu.”

“laki-laki bajingan itu tak pernah puas! Mungkin ia juga akan membunuhku jika tahu aku masih hidup.”

Pria paruh baya itu beranjak untuk mengambil sebuah album foto dari balik laci cabinet. ia meletakkan foto-foto Irene yang dibawa Myungsoo di halaman yang masih kosong di antara lembaran foto-foto lainnya yang dijepret oleh Myungsoo maupun oleh orang-orang suruhannya. Ia masih setia mengamati tumbuh kembang gadis walau hanya melalui selembar foto. Dan setelah tiga tahun tak ada kabar, akhirnya hari ini ada sejumlah lembaran foto baru yang bisa ia pajang untuk mengisi lembar kosong album khusus miliknya.

Pria paruh baya itu menyentuh hangat satu persatu lembaran foto berukuran 3r itu. Sebuah senyuman simpul terlukis di bibirnya.

Walau sangat menyakitkan, tapi dengan hanya melihat wajah cantik puterinya dari balik jepretan lensa kamera rasanya telah cukup mengobati rasa rindu yang bersarang di hati kendati gadis itu tak pernah menganggapnya sebagai seorang ayah. Gadis itu hanya memanggilnya dengan sebutan Bae Ahjussi, karena Irene hanya mengenalnya sebagai ayahnya myungsoo. Ya, mereka telah bertemu beberapa kali sebelumnya –sebelum Irene menghilang dari kehidupan mereka-.

“tapi ada yang aneh..” myungsoo bergumam.

“apa maksudmu?”

“Irene tidak mengenalku..” myungsoo menerawang kea rah jendela dengan pemandangan hutan pinus yang terhampar di luar rumah.

“bagaimana bisa?”

“entahlah.. hati kecilku mengatakan bahwa gadis itu adalah Irene, tapi tingkah laku, gerak tubuh, bahkan penampilannya tak seperti Irene. Ia bahkan tak mengingatku. Tapi lusa tempo hari ia pergi bersama Daniel, dan gadis itu memanggilnya ‘ayah’…… apakah berarti…?” Myungsoo menerka-nerka jawaban yang tepat dari sederet pertanyaan yang berkecamuk dalam pikirannya.

“gadis itu memang Irene.”

.

.

.

Advertisements

One thought on “[4th Chapter] Illusion

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s