Finding Love [Chapter 5] Beginning of All

Finding-Love-2

Finding Love

Cast and Character | Chapter 1: What Happened? | Chapter 2: That Creepy Boy | Chapter 3: Heartbreaker | Chapter 4: Hurt | Chapter 5: Beginning of All

Storyline and Poster © Amy Park

Main Cast:

BTS V – iKON B.I – Kim Hyemi (OC) – EXO Sehun

(Note: no Sehun in this Chapter)

Others:

Block B Zico as Jiho

Multichapter | PG15 | Romance – Family – Friendship – Angst

.

.

“Please remember that a person, who loves you till it hurts, is next to you.”

== Finding Love ==

 

Seven Years Later

“HYEMI!!!! KIM HYEMI!!!”

Suara teriakan Taehyung terdengar dahsyat di telinga Hyemi. Merasa terganggu, wanita itu menutup kepalanya dengan bantal. Dia tidak berniat untuk mendengar teriakan Taehyung dan suara berisik dari pintu yang diketuk oleh pria itu.

“KIM HYEMI! BANGUN!!!”

Teriakan Taehyung kembali mengusik Hyemi yang hendak kembali ke alam mimpi. Tidak. Dia sama sekali tidak berniat bangun dari tidurnya, setidaknya hanya untuk hari ini. Sudah dua hari berturut-turut Hyemi harus menemui jam tidur larut karena deadline berita yang harus dia serahkan pada Pemimpin Redaksi. Khusus hari ini, dia tidak memiliki tugas untuk getting news dan itu tandanya dia free dari pekerjaannya. Dia akan berkencan dengan sang kasur sepuasnya hari ini.

“Hey, sleepyhead!! Kau tidak akan ikut menjemput Hanbin ke bandara? Jangan bilang bahwa kau lupa saudara kembar kita akan pulang hari ini, huh!!”

Hyemi membuka mata dan spontan bangun dari tidurnya. “Iya.. iya.. aku segera bersiap!!”

“Lima menit!”

Hyemi mendengus kesal mendengar ucapan Taehyung. Saudara kembarnya yang satu itu sangat emosional akhir-akhir ini. Hal itu tentu saja membuat Hyemi kesal dan ingin memakannya hidup-hidup.

“Ah, kenapa aku bisa lupa bahwa hari ini Hanbin pulang.” Gumam Hyemi seraya berjalan ke kamar mandi dengan mata setengah tertutup.

===

“Kenapa kau suka sekali tidur, sih?” omel Taehyung ketika Hyemi baru saja keluar dari kamar.

“Aku bukan suka tidur, tetapi membutuhkan tidur. Jam tidurku berkurang karena deadline! Oh, ayolah, kau juga tahu bagaimana pekerjaanku!”

“Siapa suruh menjadi jurnalis. Waktu kerja hanya dihabiskan untuk mencari berita, mencari berita, dan mencari berita. Tidak berbobot.”

Hyemi menatap Taehyung sinis. “Setidaknya pekerjaanku bermanfaat untuk masyarakat yang membutuhkan informasi. Oho, lihatlah pekerjaanmu, hanya menari-nari dan bernyanyi di panggung ditemani dengan teriakan para remaja yang histeris. Heh, tidak ada tantangannya sama sekali.”

“Hey, asal kau tahu, menjadi seorang idol itu susah. Kau tidak merasakan bagaimana sulitnya melalui masa-masa trainee selama dua tahun!”

“Menjadi jurnalis pun tidak mudah. Kau tidak pernah merasakan bagaimana perjuanganku untuk lulus dan mendapat gelar sarjana di bidang itu!” balas Hyemi tidak mau kalah.

“Hey, kau pun tidak pernah merasakan sulitnya mempunya sasaeng fans!”

“Kau bahkan tidak pernah merasakan betapa sulitnya meliput proses investigasi para polisi di sarang teroris!!”

“Kau juga tidak pernah merasakan bagaimana caranya selalu tersenyum dan bahagia di depan publik walaupun kau sedang bersedih.”

“Kau juga tidak pernah—“

“DIAM!” Teriakan Lucile—yang memang sedari tadi sudah memerhatikan perdebatan panjang kedua sepupunya—membuat dua saudara kembar itu menghela napas dan menutup mulut. “Kalian juga tidak pernah merasakan betapa stresnya aku menghadapi kalian!”

Taehyung dan Hyemi hanya terdiam. Mereka dengan senantiasa mendengarkan omelan Lucile. “Kalian ini sudah dewasa, tetapi perilaku kalian masih mencerminkan anak sekolahan. Lebih baik kita berangkat sekarang. Mungkin saja Hanbin sudah tiba di bandara.”

===

Gimpo International Airport

Hanbin melihat jam tangannya seraya berdesis. Sudah setengah jam dia tiba di Seoul tapi dua saudara kembar dan sepupunya belum juga tiba untuk menjemput. Bahkan, pria itu sudah menghabiskan isi cangkir kopi yang ketiga di sebuah kafe kopi yang ada di bandara.

“Kim Hanbin?”

Hanbin mendongkak kemudian terkaget ketika melihat wanita yang baru saja memanggilnya. “Minda?” Hanbin mengerjap lalu berdiri. “Kau Choi Minda, kan? Benar?”

Wanita berambut pendek nun cantik itu tersenyum manis. “Ya. Kau sangat benar. Lama tidak bertemu denganmu, Hanbina.”

Hanbin tersenyum seraya memeluk Minda sesaat. “Lama juga tidak bertemu denganmu. Aku takmenyangka kau juga pindah ke London pada waktu itu. Ah, apa kau sedang terburu-buru? Jika tidak, duduklah denganku untuk mengobrol.”

Minda mengangguk kemudian duduk berhadapan dengan Hanbin. “Tampilanmu lebih dewasa.”

“Tampilanmu juga lebih feminim.” Ujar Hanbin sambil tertawa kecil. Pria itu kemudian melanjutkan bicara, “Apa kau merindukan Taehyung selama ini?”

Raut wajah Minda berubah sendu. Dia tersenyum lirih. “Jika aku boleh jujur, selama tujuh tahun ini aku tersiska karena merindukan dia. Terkadang aku juga berpikir, apakah Taehyung juga merindukan aku?”

“Dia lebih merindukanmu. Kau bukan kau satu-satunya orang yang tersiksa karena masalah yang kalian hadapi. Selama ini Taehyung sudah berubah menjadi orang lain, lebih pendiam dan terbilang kaku. Dia telah kehilangan cahayanya selama ini. Dan asal kau tahu, cahaya kebahagiaannya itu adalah dirimu, Minda-ssi.”

Minda hanya menunduk. Dia tidak tahu akan membalas apa terhadap perkataan Hanbin. Tidak. Perkataan Hanbin sama sekali tidak menyakiti perasaan Minda. Hanya saja, perkataan pria itu amat benar sehingga dirinya merasa bersalah. Dia tahu dan dia pun mengakui, dialah yang selama ini bersalah.

“Maafkan aku, Minda. Aku tidak bermaksud mencampuri urusan kalian dengan berkata seperti itu.”

Minda segera menatap Hanbin dan mencoba untuk tersenyum. “Tidak apa-apa. Apa yang tadi kau katakan itu benar, Hanbin. Aku pun tidak dapat memungkiri bahwa aku memang mencintai Taehyung, tetapi aku tidak bisa bersamanya.”

“Aku mengerti.” Ungkap Hanbin.

“Hanbinaaaaa!!”

Baik Hanbin maupun Minda terkaget karena teriakan tersebut. Detik berikutnya, sudah terlihat Hyemi yang langsung memeluk Hanbin dengan bersemangat. Minda yang melihat itu pun langsung tertawa. Hyemi memang selalu hyper ketika sedang bahagia, sama seperti dulu. Dan Minda bersyukur mengetahui sikap Hyemi yang masih sama seperti dulu.

“Oh, Hyemi, kau mau membunuhku, huh?”

Hyemi melepaskan pelukannya. “Akhirnyaaa, setelah tujuh tahun hanya berkomunikasi denganmu melalui media elektronik, sekarang kita bertemu juga!!”

“Dan tingkahmu masih sama seperti dulu, Mi.”

“Kenapa? Kau tidak suka?” keluh Hyemi.

Hanbin menggeleng. “Aku suka.”

“Bagus. Setidaknya aku tidak seperti Taehyung yang sekarang bertransformasi menjadi fosil. Dingin dan kaku. Aigoo, jika saja Minda tahu bahwa pria itu berubah karena dirinya.”

Well, Minda sudah tahu.” Ujar Hanbin.

“Maksudmu?”

Hanbin menunjuk Minda yang ada di hadapannya. Hyemi menoleh dan matanya langsung terbelalak kaget. “Choi Minda!!! Kau ada di sini! Akhhhh, teman terbaikku dalam memberi contekan!!!”

Wanita itu pun langsung memeluk Minda tidak kalah semangatnya. Minda hanya tersenyum tipis seraya membalas pelukan wanita itu. Hyemi pun berseru setelah melepaskan pelukannya, “Tingkat kebahagiaanku double hari ini!!!”

“Hey, Kim Hyemi, kau seharusnya tidak meninggalkan aku dan Lu—“ perkataan Taehyung yang baru datang pun terpotong ketika dia melihat keberadaan Minda di sana.

Minda tersenyum tipis menyambut kedatangan Taehyung, sedangkan Taehyung hanya bisa memandang Minda dalam keadaan diam. Ada sorot kerinduan di mata Taehyung, tetapi kesedihan juga terselip di dalamnya. Taehyung menghela napas dan memilih untuk memalingkan wajahnya dari Minda. Hal itu membuat Minda menghela napas kecewa.

Lucile yang menyadari suasana yang berubah canggung pun memutuskan untuk membuka suara dengan percakapan basa-basi. “Hai, Minda. Bagiamana kabarmu?”

Minda tersenyum kemudian beranjak dari kursinya. “Baik-baik saja, unnie. Ah, ya, seseorang telah menungguku. Mungkin sebaiknya aku pergi duluan.”

Mwoya.. kau akan pergi secepat itu? Kau mau ke London lagi?” ujar Hyemi kecewa.

“Tidak. Mulai sekarang aku menetap di Korea. Maafkan aku, Hyemi, tapi sekarang aku harus pergi. Nanti aku akan menghubungimu lagi.” Ucap Minda yang dibalas oleh anggukan Hyemi.

Hanbin tersenyum. “Sampai bertemu lagi.”

Minda membalas senyuman Hanbin kemudian berbalik pergi meninggalkan kafe kopi tersebut. Setelah Minda benar-benar pergi, Lucile menepuk bahu Taehyung. “Sudahlah, jangan bersedih seperti itu. Lihat sisi baiknya, dia sudah kembali.”

Taehyung hanya terdiam sehingga membuat Hanbin memutar kedua bola matanya seraya beranjak dari kursi. “Tidak ada yang boleh bersedih karena ini hari pertamaku menginjakkan kaki di Seoul lagi. Bagaimana jika kita semua bersenang-senang?”

“Setuju!!” girang Hyemi.

“Aku punya ide bagus. Bagaimana jika kita main billiard di Hongdae?” usul Lucile.

“Wow, Lucile, aku takmenyangka kau akan berubah menjadi orang yang asik.” Takjub Hanbin.

===

“Barusan aku mencarimu, Minda. Kau dari mana saja?”

Minda tersenyum kepada Jiho yang sedang berdiri di depan pintu masuk bandara. “Maaf membuatmu menunggu lama. Aku baru dari toilet.”

Jiho mengangguk mengerti. “Sebaiknya kita segera pergi. Orang tua kita mungkin sudah menunggu.”

Minda mengangguk seraya menggandeng lengan Jiho. Mereka pun berjalan menuju lapangan parkir. Dalam perjalanan Jiho berucap, “Hey, ini perasaanku saja atau memang kau semakin kurus semenjak kita menikah?”

“Eh? Aku rasa itu hanya perasaanmu saja. Akhir-akhir ini aku banyak makan.”

“Tapi kau tetap cantik.”

Minda terkekeh. “Sejak kapan kau suka merayu seperti itu, huh?”

“Sejak sekarang.” Ungkap Jiho jahil.

===

Daripada kau tidak ada kerjaan di rumah, bagaimana jika kau ikut bersenang-senang denganku dan ketiga sepupuku? Dan, hey, kau tidak merindukan Hanbin?

Yejin menghela napas. Dia sangat merindukan Hanbin, lebih dari yang diperkirakan Lucile. Namun, dia masih tidak sanggup untuk bertemu dengan pria itu. Atau lebih tepatnya, dia takut. Takut jika dia langsung menghambur ke pelukan Hanbin dan menangis sepuasnya di sana. Dia pun takut jika Hanbin akan tahu bahwa selama ini Yejin mencintainya. Terbilang bodoh memang, mengingat dia baru menyadari perasaan itu ketika Hanbin pergi.

Yejin segera mengetikkan sesuatu di ponselnya.

To: Lucile

Baiklah, aku akan segera ke sana.

Rasa rindunya pada Hanbin benar-benar takterbendung lagi. Wanita itu ingin segera menemui orang yang dicintainya.

===

“Aku tidak mengerti mengapa kau bisa sangat terkenal.” Ujar Hanbin seraya meminum teh herbal pesanannya.

Rencana mereka bermain billiard batal karena secara tiba-tiba penggemar Taehyung menghampiri dengan amat histeris. Untung di wilayah Hongdae Lucile mempunyai kenalan yang membuka sebuah bisnis restoran. Dengan bantuan kenalan Lucile, mereka bisa makan dengan tenang di restoran tersebut tanpa khawatir adanya gangguan dari penggemar fanatik Taehyung.

Ketika mereka hendak menyantap pesanan mereka, sang pemilik restoran yang cantik dan berpostur tinggi menghampiri.

“Restoranku sudah resmi disewa olehmu, Lucile. Tidak akan ada pengunjung lain selain kalian.” Ujar Soyou, begitulah nama sang pemilik restoran itu.

Lucile tersenyum. “Maaf sudah menyusahkanmu.”

“Tidak apa-apa.” Senyum Soyou. “Kalau begitu aku tinggal dulu. Ah, ya, selamat menikmati hidangan kalian.”

Soyou merupakan mantan karyawan Lucile di perusahaan. Wanita itu memutuskan berhenti bekerja di perusahaan Lucile dan akhirnya memilih untuk membuka sebuah usaha restoran. Keputusan Soyou tidak salah karena usaha restorannya ini benar-benar sukses. Restoran milik Soyou bisa dibilang restoran bergengsi di wilayah Hongdae.

“Sayang sekali, padahal aku ingin bermain billiard.” Ucap Hyemi kecewa.

“Maaf..” tutur Taehyung. Itu merupakan kata pertama yang dikeluarkan Taehyung setelah pertemuannya dengan Minda.

“Tidak.. tidak.. ini bukan salahmu. Lagipula, aku bisa bermain billyard lain waktu.” Ungkap Hyemi dengan cepat. Dia benar-benar tidak tega pada Taehyung saat ini.

“Yejin akan segera ke sini. Aku sudah mengirim alamat restoran ini padanya.” Ucap Lucile mengganti topik pembicaraan.

“Benarkah? Woah, aku sangat merindukan Yejin nuna.” Kata Hanbin dengan tenang sambil tersenyum.

Taehyung menaikkan alisnya melihat sikap Hanbin. Bukankah itu terlihat aneh? Taehyung tahu bahwa Hanbin memiliki masalah dengan Yejin. Hanbin—walaupun secara tidak langsung—telah ditolak oleh Yejin, bukan? Bagaimana bisa Hanbin bisa sangat tenang ketika akan bertemu dengan wanita yang dicintainya secara sepihak?

“Kenapa sikapmu biasa saja?” Taehyung akhirnya bertanya karena penasaran.

Hanbin menelan makanan yang tengah dikunyah olehnya terlebih dahulu lalu menjawab. “Biasa saja bagaimana?”

“Kau akan bertemu dengan Yejin nuna setelah tujuh tahun berpisah. Dan aku tahu selama tujuh tahun hatimu disiksa olehnya. Tapi mengapa kini kau bersikap seakan selama ini tidak ada sesuatu yang terjadi di antara kalian?”

Hanbin tersenyum, sedangkan Lucile dan Hyemi hanya memerhatikan keduanya sambil menyantap hidangan. “Jika kau berpikir sikapku biasa saja melewati hal ini, kau salah. Aku memang terlihat seakan selama ini tidak ada sesuatu yang terjadi antara aku dan Yejin. Tapi sesungguhnya perasaanku pada Yejin sama seperti perasaanmu pada Minda. Sedih, marah, kecewa, semuanya. Namun, aku tidak pantas menunjukkan itu semua di hadapan kalian. Aku tahu, itu memang munafik. Tapi lebih baik menyembunyikan daripada menunjukkannya dan membuat orang-orang di sekitarku khawatir.”

“Secara tidak langsung kau menasihatiku, huh?” ungkap Taehyung.

“Aku tidak berniat untuk menasihatimu. Jika memang menjadi sosok yang benar-benar berbeda dari dirimu yang sesungguhnya bisa membuatmu lebih baik, aku tidak melarangnya.”

“Ini firasatku saja atau pola pikir Hanbin semakin dewasa, ya?” bisik Hyemi pada Lucile. Lucile hanya terkekeh mendengar pertanyaan sepupunya itu.

“Kau tidak sendiri, firasatku juga begitu.” Kali ini Lucile yang berbisik pada Hyemi.

===

Yejin tidak mengerti mengapa jantungnya berdetak lebih cepat ketika dia berhasil menginjakkan kaki di dalam restoran milik Soyou—Yejin memang harus berjuang melawan kerumunan ‘fans’ fanatik Taehyung di luar restoran untuk masuk. Seluruh badannya tidak bisa digerakan ketika dia melihat sosok pria tampan yang sedang mengobrol di salah satu meja makan. Pria yang amat dia rindukan. Pria yang kini tersenyum ketika melihatnya. Ya, Hanbin telah menyadari keberadaan Yejin.

“Yejin nuna!” ujar pria itu sambil melambaikan tangannya.

Yejin tersenyum singkat. Dia mengontrol perasaannya terlebih dahulu kemudian berjalan menghampiri Hanbin dan yang lain. Jantungnya hampir saja berhenti karena Hanbin tiba-tiba beranjak dari kursi lalu memeluknya.

“Akhirnya aku bisa bertemu dengan nuna lagi. Aku merindukanmu, tahu!”

Aku lebih merindukanmu, bodoh. Sekiranya itulah kata hati Yejin.

“Kau semakin tinggi.” Kata-kata itu yang malah keluar dari mulut Yejin.

“Tapi wajahmu tetap muda walaupun usiamu bertambah tua, nuna.” Ujar Hanbin yang masih memeluk Yejin.

“Berhentilah merayu.” Kata Yejin.

Hyemi yang melihat momen itu langsung berdehem lumayan keras. “Hallo, kalian tidak sendirian di ruangan ini. We’re also here~”

Hanbin dan Yejin pun saling melepaskan pelukan mereka dan tersenyum kikuk pada Hyemi, Taehyung, dan Lucile. Mereka berdua memang tidak sadar bahwa mereka tidaklah sendiri di restoran ini.

===

“Kau sama sekali tidak pernah menghubungiku selagi di Amerika. Hal itu membuat hatiku sakit.” ujar Yejin pada Hanbin yang sedang duduk di sampingnya. Mereka kini sedang duduk berdua sambil melihat keindahan Sungai Han. Tentu saja Hyemi, Taehyung, dan Lucile sudah terlebih dulu pulang.

“Maaf.” Jawab Hanbin yang tidak tahu harus berkata apa lagi. Pria itu menghela napas sejenak lalu bertanya, “Bagaimana kabarmu selama ini?”

“Berada di tengah-tengah. Keadaanku tidak buruk dan tidak bisa dikatakan baik. Kau sendiri?”

“Sama sepertimu.”

Suasana berubah menjadi canggung kembali. Hanbin pun kembali bertanya untuk memecah keheningan di antara mereka. “Selama ini… apakah nuna sudah menemukan pria idaman nuna?”

Yejin menoleh dan menatap Hanbin dengan pandangan yang tidak dapat diartikan oleh pria itu. Yejin pun tersenyum, “Ya. Aku sudah menemukan pria idamanku.”

“Be-benarkah?” ucap Hanbin terbata. Pria itu memaksakan senyumnya. “Pria itu pasti beruntung.”

Dan pria itu bukanlah aku, batin Hanbin.

===

Suasana kantor redaksi Korea Independent sangatlah ramai walau waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Para pegawai sedang sibuk mempersiapkan edisi terbaru untu besok pagi yang tampaknya kali ini sudah masuk ke tahap percetakkan.

Seorang wanita berparas cantik sedang memerhatikan kesibukan para pergawai itu dari ruang tunggu kantor. Dia datang ke kantor redaksi Korea Independent untuk menemui sahabatnya yang bekerja di sana.

“Maaf membuatmu menunggu lama, Yuka.”

Yuka tersenyum ketika melihat sahabatnya. Wanita itu pun langsung beranjak dari sofa, “Aku masih heran mengapa kau memilih berhenti menjadi pemimpin redaksi The New York Times dan pindah ke Korea Independent dengan posisi yang sama, Kim Minseok.”

Minseok terkekeh pelan. “Bekerja di tanah kelahiran lebih menyenangkan daripada bekerja di tanah asing, kau tahu. Nanti kau akan merasakannya sendiri ketika tugasmu di sini sudah dimulai. Kau pasti akan merindukan bekerja di Jepang.”

“Benarkah? Kalau begitu mari kita lihat apakah perkataanmu benar atau tidak.”

“Oke.” Angguk Minseok percaya diri. Pria itu pun melanjutkan berkata, “Sehun baru akan kembali ke Seoul lusa nanti.”

Who cares… aku ke sini bukan ingin menemui pria itu.” Ungkap Yuka.

“Ya..ya…ya.. aku tahu. Kau pasti sangat risih dengan kehadiran Sehun, kan? Walaupun dia adalah tunanganmu.”

Yuka tersenyum. “Kau benar. Nah, berhenti membahas Sehun lalu ajak aku berjalan-jalan dan menghafal daerah Seoul. Kau tahu, aku sudah menunggumu selama dua jam.”

“Baiklah.” Setuju Minseok.

===

Minda melangkah ringan menyusuri koridor sekolah. Dia benar-benar merindukan tempat di mana ia pernah menempuh pendidikan tingkat menengah atasnya dulu. Sekolah yang memberikan banyak kenangan baginya.

Senyum terukir di bibir Minda ketika dia melihat lapangan basket yang masih terlihat sama seperti dulu. Langkah kakinya terhenti. Bayangan Taehyung yang sedang bermain basket di lapangan tersebut pun terlintas dalam benaknya. Sosok Taehyung yang tampak selalu ceria dan terkadang melakukan hal konyol yang membuat orang lain tertawa, juga muncul di dalam pikirannya saat ini.

“Taehyung-ssi, bagaimana cara aku melemparnya?”

Taehyung hanya terdiam sambil memerhatikan Minda dengan tampang polosnya. Minda terkekeh kemudian kembali berucap, “Hey, kau berniat mengajari aku basket, tidak?”

“Hah? Apa? Basket? Oh, iya, kau benar. Kau memintaku untuk mengajari basket.. aku lupa.” Ujar Taehyung sambil menggaruk tengkuknya kaku.

Minda tersenyum. “Bagaimana cara aku melemparnya ke ring? Ada tekniknya, kan?”

Taehyung kembali terdiam sehingga Minda mendekati lelaki itu kemudian memukulkan bola basket secara pelan ke bahunya. “Lupakan. Aku tidak jadi belajar basket denganmu.”

“Eh? Kenapa? Ah, apa tadi kau bertanya kepadaku? Maaf.. maaf.. aku sedang tidak fokus. Jadi, kau mau belajar dari mana?”

Minda terkekeh karena tingkah gugup Taehyung. Gadis itu melakukan beberapa dribble lalu berkata. “Ayo kita bertanding basket saja.”

“Kau yakin? Kau mau bertanding denganku?”

Minda mengangguk. “Iya. Mengapa? Kau meremehkan aku?”

Taehyung menggeleng lalu tersenyum. “Tidak. Hanya saja, jangan salahkan aku jika kau kalah dalam pertandingan ini dan kau harus membelikan aku es krim karena hal itu.”

“Oke. Dan jika kau kalah, kau yang harus membelikan aku es krim.”

“Oke. Deal!” setuju Taehyung dengan nada riang.

Bayangan dirinya yang bermain basket pun kembali berputar di dalam ingatan Minda. Namun, wanita itu segera mengela napas. Hal itu kini tinggal kenangan. Semuanya sudah berubah. Dan betapa Minda ingin mengulang masa-masa sekolah menengah atasnya bersama Taehyung. Sayangnya, hal itu tidaklah mungkin.

Minda memutuskan untuk kembali melangkah. Langkah kakinya kini membawanya ke ruang latihan tim dancer sekolah dulu. Minda memasuki ruangan tersebut. Wanita itu langsung terpaku ketika sadar bahwa ada seseorang yang sedang duduk di sebuah sofa yang terletak di ruangan itu.

“Taehyung?”

Pria itu menoleh dan terbelalak melihat kehadiran Minda. Minda tersenyum tipis lalu menghampiri Taehyung kemudian duduk di sebelahnya, sedangkan Taehyung hanya menghela napas seraya memalingkan wajahnya dari Minda.

“Merindukan sekolah?” tanya Taehyung yang membuat Minda menatap pria itu. Ini kali pertama Taehyung berbicara pada Minda setelah tujuh tahun.

“Ya, tentu saja.” Jawab Minda. Wanita itu kembali bertanya. “Kau sendiri? Merindukan sekolah juga?”

“Hanya mengenang masa-masa indah, yang kini berujung pada kesakitan. Ku rasa kau tahu maksudku.” Ujar Taehyung seraya tersenyum getir.

Minda berusaha untuk menahan tangisnya setelah mendengar perkataan Taehyung. Wanita itu menghela napas kemudian memberanikan diri untuk berkata, “Aku telah menikah.”

Taehyung tertawa sinis kemudian menoleh untuk menatap Minda. “Kau datang ke sini hanya untuk memberitahukan hal itu padaku?”

“Tidak. Aku—“

“Kau tahu, Minda? Setelah kau menyakitiku selama tujuh tahun terakhir, sekarang kau hadir dan menusukku dengan mengatakan bahwa kau telah menikah? Bukankah itu keterlaluan?”

Minda memejamkan matanya sejenak kemudian menjawab, “Maaf—“

“Pergilah dari kehidupanku. Ku mohon, berhenti melukaiku dan lebih baik kau tidak kembali.”

Air mata Minda kini menetes. Entah mengapa, perkataan Taehyung barusan sangat menyakiti hatinya. Wanita itu pun berdiri dan mencoba tersenyum pada Taehyung.

“Kau bukan satu-satunya orang yang terluka, Taehyung-ah. Benar… mencintaimu itu rasanya menyakitkan.”

=== Finding Love ===

Saya tahu ini adalah FF yang paling absurd yang pernah saya bikin, alurnya kurang jelas daan yang terpenting saya menyadari satu hal: Cast-nya kebanyakan sehingga saya bingung mau nentuin fokus cerita ke siapa T-T Setelah baca ulang ternyata konfliknya gak terlalu rumit, yang bikin rumit karena terlalu banyak cast yang punya konflik huhuhuhuhuhu harap dimaklum karena ini adalah ff jadul saya beberapa tahun yang lalu, sedikit demi sedikit akan saya perbaiki!!! :”)

Dan, siapapun yang sudah baca, harap komentarnya ataupun kritik dan sarannya. Percayalah, komentar kalian akan sangat berharga buat saya 🙂 terima kasih ^^

Terakhir, maaf jika banyak typo~

 

 

Advertisements

One thought on “Finding Love [Chapter 5] Beginning of All

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s