Remember Me ? [ Chapter-8 ]

remember me-alana cantique


Remember Me ?

Chapter 8

 

Cast. Sehun, Jiyeon, Chen

Genre. Romance/Angst

Length.Chapter

Rated. PG

 

 


 

 

Sehun membanting pintunya dengan keras ketika Jiyeon dan Chen pergi dari apartemennya.Dia mengambil air dingin untuk meredakan emosinya yang memuncak. Kenapa dia bisa begitu emosi ketika Jiyeon pergi bersama Chen.  Kenapa? Bahkan Jiyeon tidak mengatakan apapun padanya. Goodbye or see you tomorrow or something! 

 

Sehun menarik nafasnya lagi dan tenggelam dalam lamunan yang cukup panjang ketika dia melangkah ke kamar untuk menatap Jin Soo yang tertidur. Dengan adanya Jin Soo, maka dia mempunyai senjata untuk bertemu dengan Jiyeon lagi. 

 

 

.

.

.

 

 

Hujan.

 

“Jin Soo, hujan Sayang! bagaimana ini? Kita tidak bisa pergi beli susu, Sayang!” 

 

Sehun menyesali hujan yang turun selepas pukul enam ini. Padahal tadi sengaja dia menunggu Jin Soo bangun dari tdurnya untuk mengajaknya bermain di Mall sambil berbelanja.

 

Sangat menyesalkan jika harus berada dalam kondisi seperti ini. Seharusnya Sehun bisa mengerjakan tugasnya memeriksa beberapa pekerjaan rumah murid-muridnya yang tadi siang dikumpulkan.

 

“Eomma!”  celoteh Jin soo tanpa sengaja. Dia menepuk tangannya di pipi Sehun. Appa tampan itu tersenyum penuh maksud.

 

“Kau memang cerdas. Eomma. Pasti kau menyuruhku agar Appa memanggil Eomma Jiyeon,kan!’ 

 

Tapi Sehun berpikir kembali. Dia tidak mungkin merepotkan Jiyeon di tengah hujan deras seperti ini.Lagi pula, Jiyeon pasti lelah setelah menjaga Jin Soo seharian ini.

 

“Lupakan, Jin Soo, kita akan menunggu hujan reda saja.” Sehun meletakkan Jin soo di box bermainnya. Lalu mengambil ponselnya. Dia sibuk memotret Jin Soo dari segala sudut. Semua terlihat lucu. Sehun tersenyum sendiri melihat beberapa photo hasil jepretannya. Jin soo memang mirip sekali dengannya. 

 

“Apakah aku senang jika kenyataannya kau memang putraku, Jin Soo?” Sehun membicarakan dirinya sendiri. Apakah dia senang dengan kehadiran Jin Soo. Apa yang terjadi pada hidupnya? Kenapa semua kesenangan yang dia alami selama ini tiba-tiba berhenti dan berganti dengan rutinitas yang merepotkan seperti ini. 

 

Sejenak mengintip kondisi di luar yang ternyata hujan sudah berhenti turun. Sehun buru-buru mengenakan pakaian hangat pada Jin Soo. Dia hanya khawatir jika malam ini Jin Soo kehabisan susu. Sekarang dia benar.benar merasa sangat terikat dengan Jin Soo. Dia mulai cemas jika Jin Soo tidak menghabiskan susunya atau tidak mau makan, atau menangis karena kesepian. Sehun berusaha sebisa mungkin menemani Jin soo bermain. 

 

“Jin Soo-ya, kita jalan-jalan sebentar ya.”  ujar Sehun pada Jin Soo ketika bocah lucu itu sudah ada dalam dekapannya. Dia menggendongnya di depan dadanya.

 

“Yeaay! Appa, kita bisa cuci mata lagi!”  teriak Jin Soo.

 

“Di luar dingin sekali, jika kau kedinginan, kau tinggal menangis saja, supaya Appa tau kau kedinginan, arraseo! Appa sangat bodoh sekali, tidak mengerti bagaimana mengurus anak. Andai saja kau bisa bersama eomma-mu. Kenapa dia sakit? sakit apa? dan siapa, di mana, …?”  Sehun bergumam sendiri sementara langkahnya sudah memasuki lift.

 

Dia tidak sendiri di dalam lift. Ada dua orang remaja tanggung yang sebentar-sebentar melirik ke arahnya, lalu tersenyum-senyum. Sehun belum pernah melihat mereka, mungkin teman dari salah satu penghuni di lantai yang sama dengannya.

 

“Itu yang kau bilang single-Appa yang tampan ?”  tanya salah satunya. Sehun mendengarnya tapi mendiamkannya. 

 

“Ya. Dia cute ya!”  balas satunya.

 

“Ne, cute sekali!” jawab sebelahnya

 

“Tapi dengar-dengar dia itu hipersex.  Dia menyukai yeoja sexy dan sering membawa PSK ke apartementnya.  Dia tampan tapi mengerikan dengan nafsunya.”  Yeoja itu melirik jijik pada Sehun. 

 

Sehun mendengarnya sambil menahan nafasnya.

 

“Jadi dia kena batunya karena sudah menebar sperma di mana-mana dia, sekarang dia mempunyai anak tanpa jelas siapa eommanya.”  

 

“Ya. Tapi anaknya juga cute. “

 

“Mudah-mudahan kelakuannya tidak seperti Appanya.”

 

“Yah!”  Sehun terpaksa menghardik, dan kedua remaja yeoja itu tersentak kaget. Mereka melihat Sehun yang menatap dengan emosi.

 

“Kalian kalau menggunjingkan aku, jangan di depanku! Apa kalian pikir aku ini tuli. Aku bisa mendengar kalian bicara meski kalian hanya berbisik. Kalian ini benar-benar berbakat jadi ibu-ibu perumahan, yang selalu bergosip ke sana-sini. Apa kalian punya cita-cita ingin menjadi presenter infoteinment di teve?”

 

Mereka bergeser menjauh dari Sehun.

 

“Mianhae! Kami hanya mendengar cerita Tuan dari eomma teman kami di sini.”

 

“Kalian ini! eomma siapa yang kalian maksud?”  Sehun hanya bisa menghela napasnya. 

 

“Tidak penting.” jawab salah dari mereka.

 

“Tapi apakah benar begitu?” tanya sebelahnya lagi.

 

“Apanya yang benar?” tanya Sehun lagi dengan nada tinggi membuat si penanya beringsut lagi, saling berpelukan dengan temannya.

 

“Kalau kau hipersex.” tanyanya berani.  Sehun menunduk pasrah.

 

Hipersex? Kenapa dia baru tahu kalau dirinya hilersex? Diangkat wajahnya lagi untuk menyapa tatapan mereka yang benar-benar ingin tahu mengenai dirinya.

 

“Ya. Aku hipersex. Apa kalian berminat melakukan threesome denganku?” tanya Sehun dengan tatapan tajam.Sebenarnya dia hanya menakut nakuti mereka, tapi kedua yeoja abege itu keburu ketakut.

 

Tring

 

Pintu lift terbuka, dan kedua remaja itu berlari meninggalkan Sehun yang tertegun bersama Jin Soo.

 

Tsk,  Sehun menggelengkan kepala berkali-kali. Hipersex. Mereka benar-benar tahu banyak tentang mengenai kehidupan Sehun. Gosip mengenai kehidupannya sudah menyebar ke mana-mana. Ini sungguh tidak mengenakan. Apalagi kesan player di dalam dirinya sudah membuat reputasinya berantakan. Sekarang Sehun merasa khawatir, kelak tidak ada seorang yeoja yang mau menikah dengannya.

 

“Jin Soo, sepertinya kita akan berdua selamanya.” gumam Sehun sambi, menepuk punggung Jin Soo dalam gendongannya.

 

 

Dia berjalan hingga bisa mendapatkan taxi dan bergegas masuk untuk menghindari udara yang cukup dingin di luar.

 

“Jin Soo, apa kau tidak dingin ?’ tanya Sehun

 

“Dingin. Kalau Eomma yang memelukku aku tidak kedinginan.” jawab Jin Soo dengan renyah. Suaranya seperti burung berkicau di telinga Sehun.

 

“Arraseo, Appa akan memelukmu supaya kau tidak kedinginan.”  Sehun memeluk Jin Soo dan menggelitik pinggang Jin Soo hingga Jin soo tertawa.

 

“Kalian kompak sekali!”  ujar sang sopir sebelum menginjak gasnya.

 

Sehun hanya tersenyum menanggapinya. Dia hanya merasa lega, Jin Soo tidak terlalu merepotkannya setelah beberapa hari bersamanya. Cukup menengangkan di hari pertama waktu itu, namun selanjutnya Sehun seperi sudah terbiasa dengan kebersamaannya dengan Jin Soo. Mungkin antara dirinya dan Jin Soo memang terjalin satu buah ikatan batin. Sehun semakin yakin jika Jin Soo memang anaknya. 

 

Mereka tiba di depan supermarket. Sehun dengan bangga menggendong Jin Soo dan sesekali mengajaknya bercanda, sehingga Jin Soo terlihat senang. Beberapa wanita memperhatikannya dan bergunjing, namun Sehun tidak memperdulikannya.  Dia mengambil kereta dorong dan meletakkan Jin Soo dengan nyaman pada tempat duduk balita di dalam kereta dorong.

 

Baru saja dia akan melangkah menyusuri lorong, seseorang menepuk pundaknya. Sehun menoleh dan mendapati seorang wanita paruh baya menatapnya dengan tatapan setengah kesal.

 

“Kenapa kau membawa dia ke sini ?” tanya wanita itu sambil memperhatikan Jin Soo.

 

“Siapa? Jin Soo.” Sehun benar-benar bingung.

 

“Ya. Dia anakmu ?” tanya wanita itu

 

“Ya.” jawab Sehun

 

“Jam berapa ini? Kenapa dia belum tidur, malah kau membawanya berkeliaran di tengah cuaca dingin seperti ini?”  wanita itu mengomel pada Sehun tanpa jelas kenapa, membuat Sehun kesal.

 

“Ahjumma, ini baru jam delapan. Lagi pula Jin Soo adalah anakku, jadi kenapa kau harus repot?” Hardik Sehun sambil berjalan meninggalkan wanita itu.

 

“Jangan membuatnya tidur di atas jam sembilan. Dia akan rewel jika bangun pagi.” ujar wanita itu menjelaskan.

 

“Hh, sok tau!” gumam Sehun tanpa memperdulikan ucapan wanita yang dianggap Sehun gila itu. 

 

Tapi kalau dipikir-pikir sepertinya Sehun mengenali wanita itu. Siapa ya? Sepertinya pernah bertemu. Tapi kapan. Di mana? Sehun berusaha mengingat-ingat. 

 

 

 

Sementara itu di rumahnya, Jiyeon sedang duduk di sisi Chen. Namja itu gelisah dengan kondisi Jiyeon. Apakah ingatan Jiyeon akan kembali atau tidak. Dan kenapa kekhawatirannya mengenai Sehun semakin nyata. Anak itu, Jin Soo, kenapa menjadi sebuah momok yang begitu penting dalam hubungan ini. Jiyeon sepertinya sangat terikat pada anak itu. Juga Sehun yang tiba-tiba muncul dalam kehidupannya. Chen hanya berharap bahwa Jiyeon tidak terlalu dekat dengan Sehun. 

 

“Kau tidak menghabiskan tehnya?” tanya Jiyeon lirih

 

“Ke mana eomma ?” tanya Chen

 

“Tidak tahu. Sepertinya pergi.” jawab Jiyeon

 

Chen tersenyum di depan tatapan Jiyeon yang lembut. Dia sungguh terpikat oleh hal itu, sehingga perlahan Chen mengambil dagu Jiyeon dan mendekatkan wajahnya pada yeoja yang tengah menatapnya janggal itu. 

 

“Aku sungguh menyayangimu, Jiyeon.” bisik Chen sambil berusaha mencium Jiyeon. Namun Jiyeon menghindar dengan lembut. Dia merasa belum bisa untuk melakukan itu. Wajah Chen pias dengan berbagai macam pikiran. Malu, dan merasa ditolak. Tapi dia bisa memahaminya. Jiyeon mungkin masih canggung dengan dirinya. 

 

“Maaf.” bisik Jiyeon ketika menyadari sikapnya sungguh mengecewakan Chen.

 

“Tidak apa-apa.” jawab Chen.

 

Tidak lama berselang, Ny. Park datang dengan wajah kesal. Dia menggerutu ketika membuka pintu. Di tangannya ada dua kantong belanjaan yang berisi sayuran dan buah.

 

“Selamat malam Bibi.”  sapa Chen. Dia berdiri menyambut Ny. Park seramah mungkin.

 

“Malam. ” balas Wanita itu, dia berlalu dsri hadapan Chen dan Jiyeon tanpa mengatakan apapun lagi.

 

“Sebaiknya aku pulang dulu, Jiyeon. Kau harus beristirahat. Besok aku akan menjemputmu lagi.”  Jiyeon mengangguk. Dia tidak mau eommanya tahu kalau Jiyeon bekerja mengasuh anak.

 

Sementara Chen sudah bisa merasakan sebenarnya Ny. Park, tidak menyukainya. Apapun alasannya, dia tidak menyukai Chen, meski Chen sudah berusaha untuk bertingkah sopan. Entah apa yang membuat wanita itu meragukan Chen.

 

“Baiklah.” jawah Jiyeon

 

Chen berjalan keluar rumah dengan diantar Jiyeon. Ada yang bisa di rasakan Jiyeon ketika langkah kakinya seperti sedang dibayangi oleh sebuah tangisan. Bayang-bayang kakinya sendiri yang berdarah. Banyak darah. Tiba-tiba Jiyeon menjadi pucat. Dia menatap Chen dengan wajah panik.

 

“Kakiku..”  bisiknya gemetar. Tangan Jiyeon berpegang pada lengan Chen. Namja itu memegangnya dengan kuat dan khawatir.

 

“Jiyeon, kenapa dengan kakimu ?”

 

“Kakiku …di kakiku ada banyak darah.”  ujar Jiyeon sambil terus menatap kedua kakinya nanar.

 

Chen merasa bingung dengan ucapan Jiyeon. Dia sama sekali tidak melihat darah.

 

“Eomma!” teriak Jiyeon

 

Sang eomma muncul dengan tanda tanya besar di wajahnya. Dia mengambil putrinya dari rwngkuhan Chen.

 

“Kau apakan anakku?” tanyanya sengit.

 

Chen menggeleng.

 

“Dia mengeluh tentang kakinya yang bedarah, Bibi. ”  jawab Chen. Ny. Ppark menatap putrinya sementara Chen membantu Jiyeon untuk duduk kembali.

 

“Eomma, tai aku melihat kedua kakiku dialiri darah.”  Jiyeon mulai tenang dan meraba kedua kakinya. Dia menarik napasnya dalam-dalam, sementara eommanya mengusap lengan Jiyeon berkali-kali. Ingatan Jiyeon pasti sedang dihantui detik-detik dia akan melahirkan Jin Soo. Saat itu Jiyeon mengalami pendarahan, darah mengalir deras dari rahimnya. Kalau saja Ny. Park tidak membawa Jiyeon tepat waktu ke rumah sakit, maka Jiyeon akan kehilangan nyawanya, juga Jin Soo. 

 

Tuhan itu adil. Dia tidak menghendaki Jiyeon berlalu, tanpa mendapatkan kebahagiaan, dan Sehun, dia harus bertanggung jawab ata semua penderitaan yang Jiyeon alami.

 

“Kau harus beristirahat. ” Ujar Ny. Park lembut.

 

 

.

.

.

 

 

Hari ini Jiyeon tidak datang ke tempat Sehun. Tentu saja dengan semua aktivitas yang harus dijalaninya, dia merasa ketidakhadiran Jiyeon membuatnya sedikit kecewa. Kemarin dia sudah berharap banyak, Jiyeon bisa menjaga Jin Soo.

 

“Jin Soo, sepertinya kau harus bersama dengan Tante Irene dulu, atau mungkin bersama Xiumin. Kau mau yang mana? ” tanya Sehun pada Jin Soo. Bocah itu sedang bermain dengan ponsel Appanya. 

 

“Eomma!” Celotehnya lagi.

 

“Eomma tidak datang hari ini. ” jawab Sehun.

 

Jin Soo tidak menanggapi. Dia asik menekan-nekan layar ponsel Sehun. 

 

“Kita berangkat sekarang, Jin Soo!”  Sehun mengangkat Jin Soo dan menggendongnya. Dia harus menemui Jiyeon dulu, mungkin Jiyeon sedikit lelah, atau mungkin sakit.

 

Perjalanan menuju ke rumah Jiyeon benar-benar membuat jantung Sehun seperti sedang di hajar ribuan palu. Dia keras sekali menghentak-hentak, hingga Jin Soo yang berada di dalam dekapannya sesekali memegangi dada Papanya yang bidang.

 

 

“Ya, Jin Soo, Appa sagat nervous sekali. Kenapa ya?”  Sehun hanya mengedarkan tatapannya pada jalanan yang mulai ramai. 

 

Tiga kali tikungan lagi dia akan sampai. 

 

“Wuuh!”  Sehun membuang napasnya kasar. Dia mengusap keringat di wajahnya.

 

Taxi berhenti tepat di depan rumah Jiyeon.Sehun turun dan menjinjing sekantong buah Peer untuk Jiyeon.

 

“Kita sudah sampai, Jin Soo.”  Sehun melangkah memasuki pagar yang tidak terkunci. Dia seperti kembali lagi ke masa lalu ketika dia mengantar Jiyeon pulang setelah selesaimelakukan aborsi. Jiyeo saat itu terlihat murung danntidak mau bicara dengannya. Hari itu adalah hari terakhir Sehun melihat Jiyeon.

 

Tangannya sangat ragu untuk mengetuk pintu kayu itu. Kenapa semua terlihat seperti sedang mengawasinya. Benda-benda mati itu sepertinya sedang mengutuki Sehun denga hujatan-hujatan kasar. Mereka seakan-akan tidak menerima kehadiran Sehun.

 

“Siapa ?”  Sebuah suara bersama dengan pintu terbuka kengagetkan Sehun. Namja itu terbelalak dengan sempurna ketika dia melihat ahjumma yang semalam menggerutu mengenai Jin SooJin tinggal di rumah ini

 

“Annyeong!” sapa Sehun

 

Wanita itu, Ny. Park. Dia sama kagetnya dengan Sehun. Namun dari belakangnya muncul wajah Jiyeon menyeruak, memudarkan ketegangan diantara mereka.

 

“Eomma, kau kenapa?” Tanya Jiyeon, namun ketika dia melihat Sehun dan Jin Soo di pintu,…

 

“Jin Soo-ya!”  Jiyeon segera menghambur mendekati Sehun dan mencium Jin Soo sebanyak mungkin. Dia mengambil Jin Soo dan membawanya masuk ke dalam rumah.

 

“Jiyeon, akuingin menitipkannya dulu sebentar, karena aku harus bekerja.”  Ujar Sehun.

 

“Baiklah, Seun-ssi! Kau jangan khawatir. Jin Soo aman bersamaku.” balas Jiyeon. Sementara itu Ny. Ppark berdiri dengan kaku dan masih membisu di depan pintu. Dia mencoba menahan Sehun agar namja itu tidak masuk. Ketika mereka saling menatap lagi, Sehunhanya menunduk.

 

“Saya minta maaf, Bibi, karena saya tidak tahu kalau Anda adalah eommanya Jiyeon.” ujar Sehun salah tingkah.

 

“Kenapa kau ke sini ?” tanya Ny. Park dingin.

 

“Saya menunggu Jiyeon sejak tadi pagi, tapi dia tidak datang, jadi saya memutuskan untuk membawa Jin Soo ke sini. Saya tidak bisa membawa Jin Soo ke sekolah karena saya harus mengajar” jawab Sehun.

 

“Aku tidak perduli. Kau seharusnya tidak membuat Jieon kembali menderita. Dia sudah melupakanmu, dan aku harap dia tidak akan mengingatmu lagi.”

 

“Saya mengerti kalau Jiyeon memang mengalami amnesia. Saya menyesalkan hal itu bisa Jiyeon alami. Saya pun berharap dia tidak mengingat saya lagi. Kenangan dirinya tentang saya memang tidak pantas untuk diingat lagi. Saya minta maaf sudah membuat kehdiupan Jiyeon seperti ini.”  Sehun menunduk dengan hati hancur.

 

“Aku tidak tahu kenapa semu ini bisa terjadi.”

 

“Saya minta maaf, Bibi.” 

 

“Kalau saja kata maaf itu sungguh berarti, Jiyeon pasti bahagia.”  Ucapan itu membuat hati Sehun tercabik-cabik. Matanya nanar menatap Jiyeon dan Jin Soo di dalam sana. Apa yang sedang terjadi diantara mereka. Kehidupan mereka dan takdir mereka. Sehun pun tidak tahu.

 

 

Ny. Park merintih dalam hati melihat Jiyeon bercanda dengan asiknya bersaama Jin Soo. Sehun tidak tahu kalau Jiyeon adalah ibu kandung Jin Soo. Sampai kapan hal ini akan berlanjut. Ini salahnya karena sudah membaw Jin Soo pada Tn.Oh. 

 

 

 

.tbc.

 

 

a/n

 

Hohoho…Alurnya lambat sekali ya. Ga papa ya! Pis! makasih untuk semuanya. Untuk yg baca, untuk yg komentar di ff ku. Makasih semuanya.

Advertisements

38 thoughts on “Remember Me ? [ Chapter-8 ]

  1. kasian jiyeon dipisahkan dr jin soo oleh Ny. Park. Tapi ikatan batin akhirnya menyatukan mereka lagi walaupun jiyeon masih lupa ingatan

  2. Dunia memang sempit takdir sllu mngubungkan mreka trnyata ahjumma yg negor sehun mlm itu omma x jiyi ckckck…… mkin seru jiyi sdikit dmi sdikit mulai ingt walaupun itu hnya hal kecil …. yessss omma x jiyi trnyata jga gak suka ma chen…..

  3. Sehun jadi bahan gosip tetangga tetangga nya.. emmm… kasian jg si… tpi apa blh buat emank bgtu la si sehun.. kira2 kpn jiyi bisa mulai ingat ttg masa lalunya.. apa dy bakalan membenci sehun??

  4. Sehun diomongin samaorang gara” kelakuan’a dan sekarang kena batu’a punya anak tapi ngk tau ibu’a siapa padahal udah didepan mata

    Chen yg sabar ya mungkin kamu bukan jodoh’a Jiyi

    Kapan Jiyi sembuh dari amnesia’a pengin lihat reaksi’a Jiyi&Sehun kalo tau yg sebenar’a

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s