[Multichapter] Story of Byun Family — Chapter 12

req-zulfhania-byun-family

Starring by.
Byun Baekhyun (EXO) | Kim Taeyeon (SNSD) | Kim Taehyung (BTS) | Kim So Hyun (Actrees)

Support casts.
Park Jimin (BTS), Yook Sungjae (BtoB), Lee Halla (The Ark), Park Jane (The Ark), Bae Irene (Red Velvet), Joy Park (Red Velvet), Jessica Jung (Ex-SNSD), Oh Sehun (EXO), and others

Genre. Family, Marriage-life, Brothership

Rating. PG-15

Length. Multichapter

zulfhania, 2015

Poster by Laykim © Beautiful Healer

Previous. Teaser | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Chapter 12

Karena ketika orang yang tepat datang, kau akan mengetahuinya. Kau akan tahu kalau itu adalah cinta, bukan hanya sekedar suka.

.

Taehyung melangkah masuk ke dalam kafe bernuansa klasik yang terletak beberapa meter dari sekolahnya. Ia ingat, ia pernah datang kesini sebelumnya. Sekali. Tetapi sama sekali tak berkesan untuknya meskipun ada seorang yang ia kenali disini.

Di balik meja kasir, seorang wanita bertubuh tinggi dengan seragam waitress yang membungkus tubuhnya berdiri disana sambil melayani seorang pembeli. Wanita itu membungkuk sekilas setelah pembeli itu membayar dan mengucapkan terimakasih banyak atas kedatangannya.

Taehyung melangkah mendekatinya dengan langkah bergegas dan berhenti tepat di depan meja kasir. Menatap wanita yang berdiri di balik meja kasir dengan tatapan marah, namun terlihat sekali kalau sebenarnya ada sorot kerinduan dalam tatapan itu. Dan begitu wanita itu menoleh ke arahnya, wanita itu sempurna tertegun.

“Jessica Jung, kenapa kau tidak pernah menghubungiku?” tanya Taehyung dengan suara tertahan, pada wanita itu.

————————

Segelas bubble tea diletakkan di atas meja oleh Jessica. Ia lalu mengambil posisi duduk di bangku yang kosong, berhadapan dengan Taehyung yang sudah terlebih dahulu duduk disana.

“Ingatanmu sudah kembali?” tanya Jessica, memecah suasana dingin di antara mereka.

Taehyung hanya mendengus. “Kenapa kau tidak pernah datang menjengukku ke rumah sakit?” tanyanya, menatap Jessica intens, dengan tatapan marah.

Jessica cukup tertegun melihatnya. “Baru kali ini aku melihatmu menatapku dengan tatapan seperti itu.”

“Jawab saja pertanyaanku.” sahut Taehyung ketus.

Jessica menghela napas. Ia terdiam sesaat sebelum akhirnya melanjutkan, “Karena aku tak ingin merusak kehidupan barumu, Taehyung.”

Air muka Taehyung berubah.

“Aku pernah menjengukmu sekali saat kau masih koma. Aku mendengar kabar kalau kau akan kehilangan beberapa memorimu. Dan kemungkinan besar kau tidak akan mengingatku. Demi mengetahui itu semua, aku beranjak pergi. Pergi dari hidupmu. Meninggalkanmu. Membiarkanmu hidup dengan kehidupanmu yang baru. Tanpa membuatmu teringat lagi padaku. Tanpa ada lagi kehidupan buruk yang pernah kau lalui bersamaku dulu.”

“Kenapa kau berbicara seperti itu, Jessica?” tanya Taehyung dengan suara terluka. “Aku ini pacarmu, bagaimana bisa kau berbicara begitu padaku?”

Jessica tersenyum pahit. “Pacar gelap kan, maksudmu?”

Taehyung tidak menjawab. Tetapi ia merasa terluka saat mendengar Jessica berkata seperti itu.

“Aku sudah berhenti bekerja di diskotik itu, sama seperti Sungjae. Aku hanya akan fokus bekerja disini saja. Kupikir kau sudah lupa dengan tempat ini. Tetapi aku sama sekali tidak menyangka kalau kau justru masih ingat dengan tempat ini, bahkan setelah kau kehilangan memorimu.” ia lalu menatap Taehyung tanpa berkedip. “Dulu, saat pertama kalinya kau datang kesini, kau menganggapku tak kasatmata dan pura-pura tidak mengenaliku. Sekarang, setelah memorimu kembali, kau justru datang kesini dan mencariku. Kau benar-benar mengalami perubahan banyak, Byun Taehyung.”

“Tidak usah membahas hal itu.” kata Taehyung. Ia lalu balas menatap Jessica dengan tatapan lembut. “Terserah kau akan menganggapku sebagai pacar gelapmu atau benar-benar pacarmu. Yang jelas, saat ini aku merindukanmu, Jessica.”

Dulu, saat Taehyung mengatakan hal seperti itu pada Jessica, ia sama sekali tidak benar-benar merindukan wanita itu. Ia hanya menatap manik Jessica tanpa ekspresi dan ucapan palsu itu mjengalir keluar dari mulutnya. Tetapi sekarang, ia duduk di depan Jessica, menatap wanita itu dengan intens, dengan tatapan yang lembut, dan mengucapkan kata rindu itu dengan hatinya yang tulus.

Demi mendengar Taehyung berkata seperti itu, Jessica tersenyum. Ia beranjak bangun, mendekati Taehyung, dan memeluk lelaki itu dengan penuh kasih sayang. “Aku juga merindukanmu.” katanya.

Taehyung menggerakkan tangannya untuk balas memeluk Jessica. Sejak beberapa bulan lalu ia mengenal Jessica dan berpacaran dengannya, inilah pertama kalinya ia balas memeluk wanita itu, dengan perasaannya yang tulus.

“Terimakasih sudah datang mencariku, Taehyung.” bisik Jessica di telinga Taehyung.

————————

Hari ini adalah akhir pekan. Seharusnya Baekhyun menghabiskan waktunya bersama keluarganya. Ia ingin membayar hutangnya pada anak-anak untuk mengajak mereka pergi jalan-jalan, apalagi saat ini Taehyung sudah bisa berjalan dengan kakinya sendiri. Namun ternyata dewi fortuna tidak berpihak padanya.

Pagi-pagi sekali ia mendapat telepon dari direktur dan mendapatkan perintah untuk pergi ke luar kota menemani direktur bersama dua rekan kerja lainnya untuk beberapa hari ke depan. Baekhyun diberi tanggungjawab untuk mengurusi cabang perusahaan yang sebentar lagi akan segera dibuka di luar kota. Dan direktur menyuruhnya untuk berangkat pagi ini. Jadilah rencana jalan-jalan itu akhirnya batal.

“Jangan lupa untuk selalu memberi kabar, Baekhyun.” kata Taeyeon saat suaminya itu pamit dengannya.

“Tentu saja, istriku sayang.” kata Baekhyun, mengecup kening Taeyeon. Ia juga pamit pada Sohyun dan Taehyung setelah memberitahu kalau ia akan pulang secepatnya dan akhir pekan depan mereka akan pergi jalan-jalan bersama.

Mobil Baekhyun pun melaju keluar rumah, meninggalkan Taeyeon, Sohyun, dan Taehyung yang berdiri melepas kepergiannya dengan perasaan cemas.

“Semoga ayahmu bisa mengerjakan tugasnya kali ini dengan baik ya, Sohyun, Taehyung.” kata Taeyeon, memandangi mobil Baekhyun yang menjauh dengan mata berkaca-kaca. “Akhir-akhir ini ayahmu sering sekali merasa pusing saat bekerja.”

————————

Taehyung sudah memiliki acara lain akhir pekan ini. Begitu acara jalan-jalan bersama keluarganya batal, ia langsung memberi pesan pada Jessica untuk menunggunya di depan kafe. Jessica mengatakan iya dan Taehyung segera bersiap-siap. Jessica tidak bekerja di akhir pekan. Maka dari itu, hanya akhir pekanlah waktu yang tepat untuk mengajak Jessica berkencan.

“Ini kencan pertama kita, bukan?” tanya Jessica saat berjalan beriringan dengan Taehyung. Taehyung sudah datang sepuluh menit yang lalu dan mengajaknya untuk berjalan hingga halte bus.

Taehyung menoleh pada Jessica, terkejut. “Benarkah?”

“Kau sama sekali tidak ingat?” tanya Jessica, mengernyit. Taehyung menggeleng, ia memang belum sepenuhnya ingat dengan memori masa lalunya. “Sudah kubilang kalau kau hanya pacar gelapku. Jadi kita hanya berkencan di dalam diskotik saja selama ini.”

Taehyung hanya membulatkan mulutnya. “Oh iya, pria itu sudah tidak datang mencarimu lagi, kan?” tanya Taehyung saat teringat dengan pria bertubuh gempal yang datang ke diskotik waktu itu.

Jessica mengangkat alis, bertanya.

“Mantan suamimu.” Taehyung menambahkan.

“Oh.” Wajah Jessica berubah suram. “Dia pernah datang sekali ke rumah. Saat kau masih koma. Dia kembali memaksaku untuk ikut bersamanya.” tetapi kemudian ia tersenyum. “Tetapi semuanya bisa dikendalikan.”

“Apanya yang bisa dikendalikan? Pria itu berbahaya, Jessica. Kau sendiri yang bilang, kalau selama kau menjadi istrinya, dia hanya menyiksamu.” kata Taehyung, khawatir.

“Aku tahu.” sahut Jessica. Ia lalu menghela napas. “Tetapi aku sungguh baik-baik saja. Adikku mengatasinya dengan baik.”

Taehyung terdiam. Mendadak ia teringat dengan Halla.

“Pernikahanku dengan pria itu ada karena adanya campur tangan dari ayahnya adikku. Sebelum kematiannya, beliau merasa menyesal karena telah menikahkanku dengan pria brengsek itu. Beliau juga berjanji padaku tidak akan membiarkan pria itu menyentuhku lagi. Tetapi beliau meninggal setelah sebulan aku bercerai dengan pria itu dan sejak saat itu pria itu kembali mengincarku. Maka dari itu, begitu adikku mengungkit tentang kematian ayahnya, berkata kalau mendiang ayahnya akan balas dendam padanya, pria itu langsung pergi dan tidak menggangguku lagi setelah hari itu. Memang ancaman yang konyol, tetapi pria itu kan adalah gangster gadungan, maka dari itu ia tetap merasa takut dan pergi begitu saja. Adikku benar-benar mengatasinya dengan baik.”

Mereka berdua tiba di halte bus dan duduk bersebelahan di bangku tunggu sambil menunggu bus datang.

Jessica menoleh pada Taehyung setelah mereka berdua duduk dan hanya berdiam diri. “Kau tidak bertanya kenapa aku menyebut beliau adalah ayahnya adikku, bukannya ayahku? Kau tidak merasa penasaran?”

Taehyung tidak mengangguk maupun menggeleng, namun diam-diam ia merasa penasaran.

“Aku dan adikku lahir dari ibu yang sama, tetapi dari ayah yang berbeda.” Jessica memutuskan untuk tetap menjawab, dan jawabannya membuat Taehyung cukup tertegun. “Ayahku meninggal saat aku berumur 8 tahun. Dua tahun kemudian, ibuku menikah lagi dengan Tuan Lee, ketua gangster di perumahan kami, dan melahirkan seorang putri yang sekarang menjadi adikku. Meskipun begitu, aku tetap menggunakan nama ayahku untuk namaku, Jessica Jung. Aku tidak ingin mengganti namaku menjadi Jessica Lee.”

Jessica mengernyit begitu melihat Taehyung yang masih saja terdiam.

“Halla.” kata Jessica, sukses untuk membuat perhatian Taehyung teralih padanya. “Lee Halla. Dia adikku. Kau mengenalinya, kan?” tanyanya.

Lagi-lagi Taehyung hanya terdiam.

“Kudengar kau sekelas dengannya.” tambah Jessica.

“Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?” tanya Taehyung, akhirnya.

“Tentang?”

“Adikmu.” jawab Taehyung. “Kenapa kau tidak pernah memberitahuku kalau adikmu bersekolah di sekolah yang sama denganku—bahkan sekelas denganku? Kenapa kau baru memberitahuku sekarang?”

Jessica menghela napas. “Karena aku tidak ingin memperburuk nama adikku.” ia diam sejenak. “Kalau kau mengetahui Halla sebagai adikku, kau pasti akan berpikir kalau adikku tidak jauh berbeda denganku yang hidup dalam keburukan. Maka dari itu, aku tidak pernah memberitahukannya padamu. Dan kenapa aku baru memberitahumu sekarang? Karena kurasa kau pernah melihatku dijemput olehnya saat di tahanan beberapa bulan yang lalu.”

Taehyung tertegun, dalam hati membenarkan perkataan Jessica. Jadi, benar, kalau Halla adalah adiknya Jessica? Meskipun mereka hanya kakak-adik tiri, tetap saja itu masih mengejutkan untuknya. Dan, tunggu, sepertinya ia ingat sesuatu. Beberapa bulan lalu, setelah ia menutupi kiss mark dari Jessica dengan plester di lehernya dan Jimin yang menanyakannya ketika esok harinya di sekolah dengan menyebut nama Jessica Jung, ia melihat Halla tiba-tiba saja menoleh ke arah Jimin dengan kening berkerut. Awalnya ia berpikir Halla menoleh padanya karena terkejut mendengar Jimin mengatakan kalau ia dan Jimin bermain ke diskotik, tetapi ternyata ia salah. Ternyata Halla menoleh padanya karena merasa heran saat mendengar Jimin menyebut nama Jessica Jung, kakaknya. Jadi, alasan yang sebenarnya adalah itu?

“Kupikir adikku akan membenciku setelah dia menjemputku di tahanan, mengetahui aku terlalu buruk untuk menjadi kakaknya. Tetapi ternyata, semua tidak seperti yang kubayangkan. Halla justru semakin memperhatikanku dan menyayangiku. Dia tidak ingin aku terjerumus ke jalan yang salah lagi. Dia benar-benar gadis yang baik dan penuh perhatian. Beruntung sekali lelaki yang akan menjadi pacarnya kelak.” tambah Jessica.

Oh, astaga. Kenapa tiba-tiba Taehyung merasa dadanya berdebar?

“Taehyung! Byun Taehyung!” tegur Jessica. Membuat Taehyung segera tersadar. “Kenapa kau malah melamun?”

Taehyung menggelengkan kepala. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menetralisir debaran di dadanya dan menjernihkan pikirannya dari Halla. “Tidak apa-apa.”

Setelah beberapa saat, Taehyung kembali menoleh pada Jessica, tersenyum tulus pada wanita itu. “Aku merasa sangat senang kalau pria itu tidak mengganggumu lagi, Jessica.”

Tak lama kemudian bus datang. Mereka masuk ke dalam dan pergi berkencan untuk yang pertama kalinya.

————————

Pagi ini, Taehyung dan Sohyun terpaksa menggunakan bus untuk pergi ke sekolah. Baekhyun masih di luar kota dan tidak ada kendaraan lain yang bisa dipakai. Kalaupun ada, Taeyeon juga tidak bisa mengendarainya untuk mengantar anak-anaknya. Jadi untuk hari ini hingga Baekhyun pulang ke rumah, Taehyung dan Sohyun harus berangkat pagi-pagi sekali agar tidak ketinggalan bus.

Sohyun bertemu dengan Yeri di dalam bus dan memutuskan untuk duduk bersebelahan. Sehun—ayahnya Yeri—juga ditugaskan ke luar kota sama seperti Baekhyun, maka dari itu hari ini Yeri juga menggunakan bus untuk pergi ke sekolah.

Taehyung duduk menyendiri di kursi paling belakang. Ia belum membeli headphone baru sehingga ia merasa bosan duduk sendirian di belakang tanpa ada musik yang menemaninya. Tetapi bersyukurlah kebosanan itu tak berlangsung lama saat ia melihat siapa yang baru saja masuk ke dalam bus.

Halla cukup tertegun saat mendapati Taehyung duduk di kursi bus paling belakang. Bahkan lelaki itu melambaikan tangan padanya sambil tersenyum tepat ketika tatapan mereka bertemu. Tidak seperti Taehyung yang biasanya.

Agak ragu, Halla melangkah mendekati bangku kosong di sebelah Taehyung dan duduk disana. Taehyung tak bisa menahan debaran di dadanya ketika melihat Halla duduk di sebelahnya.

“Tumben sekali kau naik bus.” Halla membuka percakapan.

Appa sedang di luar kota. Mulai hari ini hingga beberapa hari ke depan, mungkin aku akan naik bus. Kau biasa naik bus dari sini?” Taehyung balas bertanya.

Halla tersenyum dan mengangguk. “Iya, benar. Kebetulan sekali ya kita bertemu di bus ini, Taehyung.”

Taehyung merasa dadanya semakin berdebar saat melihat senyum itu. “Ya. Kebetulan yang menyenangkan.” katanya kemudian.

Wajah Halla langsung merona. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain dan tak berbicara apa-apa lagi setelah itu. Taehyung juga memutuskan untuk tidak bertanya lagi dan memalingkan pandangannya keluar jendela. Debaran itu masih terasa di dalam dadanya.

Mereka memang tidak berbicara apa-apa lagi setelah itu, meskipun duduk bersebelahan. Bahkan kepala mereka menoleh ke arah yang berlawanan, seolah mereka tidak saling kenal satu sama lain. Tetapi senyum di bibir mereka tidak bisa membohongi, bahwa mereka berdua sama-sama merasa bahagia karena duduk bersebelahan di dalam satu bus yang sama. Benar-benar kebetulan yang menyenangkan.

————————

Jimin benar-benar terkejut ketika melihat Taehyung datang ke kelas bersama Halla yang berjalan di sebelahnya. Memang tidak ada pembicaraan di antara mereka berdua. Tetapi senyum di bibir mereka berdua benar-benar tidak bisa membohongi. Taehyung pasti sudah ingat dengan perasaannya pada gadis itu.

Taehyung dan Halla berpisah dan duduk di bangkunya masing-masing. Setelah Taehyung duduk di bangkunya, Jimin langsung mendekat pada lelaki itu.

“Kau sudah mengingatnya?” tanya Jimin dengan wajah penasaran.

Taehyung melirik Halla sekilas. “Dia Halla, teman sekelasku.”

Jimin menggeleng. “Bukan itu, maksudku. Tetapi,” ia diam sejenak, melihat Taehyung yang memandangnya dengan pandangan bertanya. Tidak mungkin kan ia bertanya apakah Taehyung sudah mengingat perasaannya pada gadis itu atau belum. Kalau memang Taehyung belum mengingatnya dan malah bertanya yang aneh-aneh pada Jimin, masalahnya pasti akan menjadi tambah rumit. “Ah, lupakan.” akhirnya ia memutuskan untuk batal bertanya dan kembali duduk di bangkunya.

Taehyung hanya menahan senyum melihat tingkah Jimin yang labil. Ia tahu apa yang akan ditanyakan Jimin, tetapi ia memilih untuk diam saja dan membiarkan Jimin batal bertanya. Temannya yang satu itu ternyata memang benar-benar perhatian sekali padanya. Beruntung sekali Taehyung memiliki sahabat seperti Jimin.

————————

Bel tanda istirahat berdering nyaring. Saatnya makan siang. Murid-murid kelas 2-2 langsung berhamburan keluar kelas, berlari menuju kantin, bahkan ketika Guru Jung belum keluar kelas.

Taehyung masih membereskan buku-buku pelajarannya saat ia melihat Halla bangun dari duduknya, meliriknya sekilas, lalu pergi menuju kantin. Lirikan itu memang hanya sekilas, bahkan kurang dari sepersekon detik, tetapi Taehyung merasa dadanya kembali berdebar.

“Park Jimin.” Taehyung memanggil nama Jimin ketika melihat temannya itu berdiri dari duduknya dan hendak melangkah keluar kelas. “Ada yang ingin kutanyakan padamu.”

Jimin membalik tubuhnya, urung melangkah, lalu menghadap Taehyung. “Apa itu? Cepat katakan, aku sudah lapar sekali.”

Alih-alih bertanya, Taehyung malah diam. Sibuk dengan pikirannya. Menimbang-nimbang apakah perlu bertanya pada Jimin atau tidak.

“Byun Taehyung.” tegur Jimin.

Taehyung segera tersadar. “Ah, iya. Kau ingin ke kantin?” tanyanya.

Jimin mengernyit. “Itu yang ingin kautanyakan padaku?” ia balas bertanya.

Taehyung hanya menyengir. Jimin memutar bolamatanya. “Oh, Geez, tidak penting sekali.” ia lalu mengedikkan dagunya keluar kelas. “Ayo, kita ke kantin.”

“Aku belum lapar. Kau duluan saja.” kata Taehyung kemudian.

“Baiklah. Yook Sungjae, kau ke kantin, tidak?” Jimin beralih pada Sungjae yang masih duduk di bangku depan.

“Aku bawa bekal, Jimin.”

“Oh, Tuhan, jadi kalian membiarkanku makan sendirian di kantin? Tega sekali.” kata Jimin dengan suara terluka, lalu pergi melengos keluar kelas. Di depan kelas, ia bertemu dengan Irene yang juga hendak menuju kantin. “Halo, Irene, ingin makan denganku siang ini?”

Irene tersenyum meledek. “Dalam mimpimu, Park Jimin.” katanya, lalu meninggalkan Jimin.

“Irene, tunggu aku.” Jimin berlari mengejar.

Taehyung hanya memandang punggung Jimin yang semakin menjauh dengan tatapan miris. Manamungkin ia bertanya pada lelaki playboy seperti Jimin. Ia pasti tidak akan pernah mendapatkan jawaban yang tepat.

Sebenarnya, tadi Taehyung belum bertanya pada Jimin. Ia memutuskan untuk mengalihkan pertanyaan setelah berpikir ia tidak akan mendapatkan jawaban yang tepat kalau bertanya pada Jimin.

“Byun Taehyung, kau tidak makan?” tanya Sungjae dari bangkunya.

Taehyung menoleh pada Sungjae yang sedang mengeluarkan sekotak bekal makanan dari dalam tas.

“Joy membawakan bekal makanan untukku. Kau ingin makan denganku?” tanya Sungjae lagi.

Taehyung menjentikkan jari. Orang yang tepat! Sungjae pasti lebih bisa diandalkan daripada Jimin mengenai hal ini. Lantas ia segera mendekati Sungjae dan duduk di depannya.

“Sungjae, aku ingin bertanya padamu.” kata Taehyung, menatap Sungjae intens.

“Bertanya apa?” tanya Sungjae sambil membuka kotak bekal makanannya. Wah, macaroni pedas! Pacarnya itu tahu saja makanan kesukaannya.

“Apakah aku menyukai Halla?” tanya Taehyung.

Sungjae menoleh pada Taehyung, terkejut. “Kenapa kau malah bertanya padaku?”

“Karena aku sudah berpacaran dengan Jessica.” jawab Taehyung.

Sungjae tertegun. Taehyung sudah ingat dengan Jessica.

“Karena aku sudah berpacaran dengan Jessica, maka dari itu aku bingung, apakah aku menyukai Halla atau tidak. Aku ingin bertanya pada Jimin, tetapi rasanya tidak mungkin aku bertanya pada lelaki playboy macam dia. Maka dari itu, aku bertanya padamu.” tambah Taehyung.

Sungjae meletakkan sumpitnya di atas meja, menghela napas pendek, lalu menatap Taehyung dengan intens. “Byun Taehyung, untuk mengetahui kau menyukai Halla atau tidak, bukanlah bertanya padaku, melainkan pada hatimu.” kata Sungjae, lalu menunjuk dada Taehyung.

Taehyung terdiam. Ia memegang dadanya. Hatiku?

Sungjae mengacak rambutnya saat melihat Taehyung yang menunjukkan wajah tidak mengerti. “Oh, Geez, Taehyung. Kau sudah berumur 17 tahun, masa kau tidak mengerti juga.”

Taehyung menggeleng. “Aku buta soal cinta, jadi aku tidak bisa membedakan apakah aku menyukai Halla atau tidak. Atau, malah aku menyukai Halla dan Jessica sekaligus?”

“Kenapa kau malah berpikir begitu?”

“Aku juga tidak tahu. Kemarin, saat Halla mengembalikan saputangan yang pernah kupinjamkan padanya beberapa bulan lalu, mendadak aku teringat padanya. Aku ingat dengan perasaanku padanya. Bukan hanya dia, aku juga teringat dengan Jessica. Kau tahu, Sungjae? Jessica adalah kakaknya Halla. Aku tidak percaya itu. Otakku memang memikirkan Halla, tetapi kakiku malah berlari menghampiri Jessica. Aku menyukai Jessica—tentu saja, dia kan pacarku—tetapi kenapa rasanya aku juga menyukai Halla? Tidak mungkin, kan, aku menyukai keduanya sekaligus?”

“Sebenarnya sih, mungkin saja, Taehyung.” sahut Sungjae. Ia lalu mendesah saat melihat Taehyung yang tampak terpekur dengan kenyataan kalau ia menyukai dua perempuan sekaligus. “Baiklah, aku akan membantumu.”

Sungjae melipat tangan di atas meja, mencondongkan tubuhnya pada Taehyung, dan menatap lelaki itu intens. “Ketika kau berada di dekat Halla, apakah kau merasa senang?”

Taehyung menganggukkan kepala. Ya. Ia tidak bisa memungkiri perasaan senangnya setiap kali berada di dekat gadis itu. Saat mereka duduk bersebelahan di bus pagi tadi, meskipun tidak ada pembicaraan di antara mereka, ia tetap merasa senang.

“Apakau kau merasa nyaman?” tanya Sungjae lagi.

Taehyung menganggukkan kepala lagi. Kalau ia merasa senang, tentu saja ia merasa nyaman. Meskipun terkadang ia tidak tahu apa yang harus ia bicarakan ketika bersama gadis itu, tetap saja ia merasa nyaman.

“Apakah kau merasa dadamu berdebar?”

Taehyung terdiam beberapa saat, lalu menganggukkan kepala. Ya. Ia selalu merasa dadanya berdebar. Bahkan hanya dengan mengingatnya saja, ia sudah merasa dadanya berdebar. Ketika pertama kalinya ia melihat Halla saat ia hilang ingatan pun ia merasa dadanya berdebar.

“Baiklah, sekarang aku ganti karakternya. Ketika kau berada di dekat Jessica, apakah kau merasa senang?”

Taehyung terdiam sejenak, lalu menganggukkan kepala. Dulu, ia memang tidak merasakan apa-apa saat berada di dekat Jessica. Tetapi saat di kafe waktu itu, ia merasa begitu senang karena akhirnya ia bisa mengingat dan berjumpa lagi dengan pacarnya itu. Saat pergi berkencan kemarin pun ia merasa senang sekali.

“Apakah kau merasa nyaman?”

Taehyung menganggukkan kepala. Kalau saja ia merasa senang, berarti ia merasa nyaman. Jessica selalu memberinya tatapan lembut yang membuatnya merasa nyaman. Ia merasa seperti disayangi dan diperhatikan.

“Apakah kau merasa dadamu berdebar?”

Taehyung terdiam cukup lama, bahkan ia sampai tertegun begitu menyadarinya. Tidak. Ia tidak merasa dadanya berdebar. Ia memang senang berada di dekat Jessica. Ia memang nyaman berada di dekat Jessica. Tetapi sekalipun ia tidak pernah merasa dadanya berdebar setiap kali berada di dekat wanita itu. Saat berkencan kemarin dan bahkan ketika wanita itu memeluknya dan ia balas memeluknya, ia tidak merasakan debaran itu. Akhirnya, Taehyung menggelengkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan Sungjae.

Sungjae tersenyum puas. “Berarti kau sudah tahu jawabannya.”

Taehyung mengangkat kepala, menatap Sungjae, meminta penjelasan darinya.

“Kau memang merasa senang dan nyaman ketika berada di dekat Halla maupun Jessica. Tetapi kau tidak menyadari kalau ada perbedaan di antara keduanya. Debaran itu. Kau tidak merasa dadamu berdebar saat berada di dekat Jessica, itu karena selama ini kau tidak menganggapnya sebagai pacarmu.”

Taehyung tertegun. Manamungkin ia tidak menganggap Jessica adalah pacarnya sendiri hanya karena debaran itu.

“Kau memang berpacaran dengan Jessica. Ya, aku juga tahu kau menyukai wanita itu. Tetapi kau melupakan satu hal, Taehyung. Kau lupa kalau suka itu bukan berarti cinta. Dan rasa sukamu pada Jessica itu sebenarnya bukanlah karena cinta. Kau hanya menyukai Jessica sebagai seorang kakak, bukanlah sebagai seorang wanita. Sementara, Halla. Kau bisa bertanya pada hatimu sendiri.”

Taehyung kembali memegang dadanya. Bertanya pada hati? Bagaimana caranya?

“Byun Taehyung.” Sungjae menyebut nama temannya yang sedang dipusingkan oleh cinta itu, menatapnya dengan tatapan lembut. “Ketika kau mencintai seseorang, kau hanya perlu merasakannya disini.” ia menunjuk dadanya. “Di dalam hati. Biarkan hatimu berbicara. Biarkan hatimu yang merasakan. Kau hanya perlu mengikuti alurnya dan membiarkan semuanya terjadi. Karena ketika orang yang tepat datang, kau akan mengetahuinya. Kau akan tahu kalau itu adalah cinta, bukan hanya sekedar suka.” kata Sungjae. Cukup membuat Taehyung tertegun.

“Itulah yang dulu kurasakan sebelum aku berpacaran dengan Joy, Taehyung.” tutupnya kemudian.

————————

Taehyung duduk merenung di balik meja dengan segelas bubble tea di atas mejanya. Pembicaraannya dengan Sungjae beberapa hari lalu masih begitu mengusiknya, membuatnya tak bisa memikirkan hal lain selain memikirkan pembicaraan itu. Berhari-hari ia merenungkan ucapan Sungjae, bertanya pada hatinya, pada perasaannya, tetapi ia belum juga menemukan jawaban. Oh, sebenarnya ia sudah, tetapi ia tidak ingin mengakuinya. Bagaimana dengan Jessica apabila ia mengakuinya?

“Maaf membuatmu lama menunggu.” Jessica datang menghampiri Taehyung dan duduk di depan lelaki itu. “Banyak sekali pembeli yang datang sore ini.” tambahnya.

Taehyung hanya tersenyum mengerti. Ia mendorong segelas bubble tea miliknya pada wanita itu. “Minumlah. Kau kelihatan lelah.”

Jessica meraih minuman itu dan menyedotnya. Dan ia merasa lega begitu minuman dingin itu melewati kerongkongannya yang terasa kering. “Terimakasih, Taehyung.”

Taehyung menatap wajah Jessica dengan lekat. Wanita itu cantik, ia akui. Meskipun usianya sudah 27 tahun, berbeda 10 tahun dengan usia Taehyung, Jessica tetaplah wanita yang cantik. Taehyung mengenalnya sejak Sungjae bekerja paruh waktu di diskotik itu tiap malam. Ia selalu datang menemani Sungjae bekerja, memilih tempat duduk di meja bar paling ujung dan bertemu dengan wanita itu yang memang biasanya berjaga di meja bagian ujung. Mereka berkenalan, bertukar nomor telepon, berbagi cerita, lalu terjadilah kejadian yang kemudian mengubah hidup Taehyung. Jessica mencium lehernya. Demi rasa sakit yang ia rasakan karena kedua orangtuanya kurang memperhatikannya, ia melampiaskannya dengan membalas ciuman itu, lalu terjalinlah hubungan itu. Kekasih gelap.

Dulu, Taehyung memang hanya menganggap wanita itu sebagai pacar gelapnya, tidak pernah memandang tulus dan hanya mengatakan kata-kata yang palsu pada wanita itu. Tetapi semuanya berubah semenjak ia melihat wanita itu menangis di tahanan beberapa bulan lalu. Perasaannya berubah dan ia memandang Jessica dengan cara pandang yang berbeda sejak hari itu.

Kini, ketika ia hendak memperbaiki kesalahannya pada Jessica dan menyadari perasaan sukanya pada wanita itu, Sungjae dengan keras menamparnya dengan perkataannya kalau ia hanya menyukai wanita itu sebagai seorang kakak, bukanlah sebagai seorang wanita. Sungjae dengan keras menyadarkannya kalau sebenarnya selama ini orang yang ia cintai bukanlah Jessica, melainkan…

“Byun Taehyung.” Jessica menyenggol lengan Taehyung, membuat lelaki itu tersadar. “Kenapa kau melamun lagi?”

Taehyung menggelengkan kepala dengan cepat. “Aku tidak melamun.”

Jessica mendesah panjang. “Kau melamun, Taehyung.” ia lalu menatap Taehyung intens. “Ada apa? Ada yang sedang kau pikirkan? Akhir-akhir ini aku sering sekali melihatmu melamun.” tanya wanita itu, khawatir.

Taehyung kembali menggeleng. “Tidak ada.”

Jessica meraih tangan Taehyung dan menggenggamnya lembut. “Katakanlah padaku. Aku akan mendengarkan.”

Taehyung balas menatap Jessica. Tatapannya kemudian berubah bersalah. “Aku minta maaf, Jessica.”

Jessica mengangkat alis. “Untuk apa?”

“Sepertinya Sungjae benar. Selama ini aku hanya menyukaimu sebagai seorang kakak, bukan sebagai seorang wanita. Ada gadis lain yang kusukai saat ini.”

Air muka Jessica berubah. Genggaman tangannya pada tangan Taehyung juga mengendur. Demi melihat hal itu, tatapan Taehyung berubah panik.

“Aku tidak bermaksud membohongimu, Jessica. Sama sekali tidak. Aku hanya baru…” Taehyung tersenyum pahit. “Menyadarinya.” lanjutnya, lalu menundukkan kepala.

Jessica terdiam cukup lama hingga akhirnya ia menghela napas panjang dan balas menatap Taehyung dengan senyum di bibirnya. “Tidak apa-apa, Taehyung. Terimakasih karena kau sudah mengakuinya.”

Taehyung mengangkat kepala, balas menatap Jessica.

“Aku juga minta maaf padamu karena tidak pernah jujur padamu, Taehyung.” kata Jessica. “Sebenarnya, selama ini aku juga hanya menganggapmu sebagai seorang adik, bukan sebagai seorang lelaki.”

Taehyung tertegun.

“Kau masih 17 tahun, Taehyung. Usiamu berbeda sangat jauh dariku. Aku tak mungkin bersama denganmu. Tetapi, dulu aku berpikir kau sudah jatuh terlalu dalam padaku hingga aku tak sanggup untuk membawamu kembali keluar. Aku hanya mengikuti alurnya dan membiarkan semuanya terjadi.”

Taehyung kembali tertegun. Itu kalimat yang dikatakan Sungjae.

Jessica tersenyum. “Aku merasa lega kalau pada akhirnya kau menyadarinya sendiri, Byun Taehyung.”

Taehyung menatap Jessica dengan tatapan tidak mengerti. “Kau tidak marah padaku?”

Jessica berpikir sejenak, lalu menggeleng. “Sama sekali tidak. Aku justru menunggu kau berkata seperti itu, Taehyung.”

Taehyung mendengus lucu. Merasa dipermainkan.

Jessica menggerakkan tangannya untuk mengelus rambut Taehyung. Taehyung cukup tertegun dengan perlakuan Jessica yang terbilang tiba-tiba. Tidak ada perkataan apapun yang keluar dari mulut Jessica. Wanita itu hanya terus mengelus rambutnya dengan senyum cantik yang terukir di bibirnya, membuat Taehyung benar-benar merasa nyaman.

Jessica menurunkan tangannya kembali setelah beberapa menit. Ia melipat tangan di atas meja dan mencondongkan tubuh ke depan, menatap Taehyung dengan tatapan antusias.

“Jadi, siapakah gadis beruntung yang akan menggantikan posisiku sebagai pacarmu, Byun Taehyung?”

————————

Taehyung kembali bertemu dengan Halla esok harinya di dalam bus yang sama. Dadanya kembali berdebar saat Halla melangkah mendekati bangku kosong di sebelahnya. Ketika Halla mengambil posisi duduk di sebelahnya dan melemparkan senyum padanya, Taehyung sempurna merasa meleleh.

Ketika kau mencintai seseorang, kau hanya perlu merasakannya disini. Di dalam hati.

“Halla.” Taehyung menemukan dirinya memanggil nama gadis berambut panjang itu.

Halla menoleh. Dada Taehyung kembali berdebar.

Biarkan hatimu berbicara. Biarkan hatimu yang merasakan. Kau hanya perlu mengikuti alurnya dan membiarkan semuanya terjadi.

“Bolehkah aku minta nomor ponselmu?” tanya Taehyung.

Halla tertegun, terdiam beberapa saat, lalu mengangguk. Semburat merah muncul di kedua belah pipinya. Taehyung bersorak dalam hati.

Karena ketika orang yang tepat datang, kau akan mengetahuinya. Kau akan tahu kalau itu adalah cinta, bukan hanya sekedar suka.

Taehyung tidak tahu kenapa ia malah meminta nomor ponsel pada Halla. Padahal ia bisa melakukan hal yang lebih ekstrim untuk melakukan pendekatan dengan gadis itu. Namun, entahlah, ia hanya mengikuti alurnya saja dan membiarkan semuanya terjadi. Seperti apa yang dikatakan Sungjae.

Taehyung memang tidak salah bertanya pada lelaki itu. Sungjae benar-benar orang yang tepat untuk ditanyakan mengenai masalah ini. Taehyung berhutang banyak pada lelaki itu. Terimakasih, Sungjae.

—tbc

Chapter 12 is here!
Yeay, congrats for Taehyung and Halla! Semoga kalian cepet cepet jadian yah, hihi. Buat yang pengennya Taehyung sama Jessica, um, mianhae… Dari awal bikin ff ini aku emang udah fokus ke hubungannya mereka berdua, Jessica hanyalah perantara di antara mereka berdua #azeeek
Btw, Sungjae bijak banget ya. Aduh, padahal mah aslinya koplak banget. Kok bisa ya kubuat jadi bijak disini #hadeeeh
Okaay, seperti yang kubilang kemarin, kalau chapter 13 adalah the last chapter. Hm, mungkin malam minggu bakal ku update. So, ditunggu aja yaa 🙂
Jangan lupa like dan comment-nya yah. Enjoy it, guys ^^

Advertisements

9 thoughts on “[Multichapter] Story of Byun Family — Chapter 12

  1. Hah….
    Halla sama Taehyung jadian ajaaa
    SiSohyun jarang muncul 😥😥
    Thor, bagiannya siSohyun banyakin dikit dong~~
    Hohoho
    Fast updates ya thor ♥️
    Halla~~~

  2. Sweet. Kak update nya jangan malem minggu dong. Besok aja #plakk. Penasaran banget sama cerita nya. Jessie sama Sehun aja XD Kasian Sehun cuman nyempil dikit jadi bapaknya Yeri. Baekhyun gpp kan kak??

    • Yaampun! Haha, sabar ya dear #pukpuk
      Aduuh, Sehun udah punya Suzy >,< hihi dia emang cuma jadi cameo doang disini
      Nanti kabar Baek aku kasih tahu di last chapter ya, hihi 😀

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s