(CHAPTER) Because Of You (3RD)

dessy-ds-because-of-you

Poster By LAYKIM

Title : Because Of You (Chapter 3) || Author : DALV || Genre : Romance, Sad, Family, Friendship, Drama || Rating : PG – 17 || Leght :        Chapter ||Main Cast    : – Kim Nara (OC) – Luhan – Kim Jong In|| Other Cast        : Temukan sendiri. OK ^^

Disclaimers                  :           Semua cast milik Tuhan dan orang tua masing – masing. Kecuali LuGe punya Author juga XD kkkk

Author Note                :           Fanfiction chapter saya dengan judul baru. Kekeke Maaf jika masih ada kekurangan ataupun typo. Maaf jika masih ada kekurangan ataupun typo. Semua ini murni dari imajinasi saya. ^^ jika ada kesamaan dengan yang lain itu tidak kesegajaan.

Happy Reading! ^^

“Ani. Kami serius Nara a.” ucap Haraboeji Nara

Nara melihat ke arah Haraboeji nya dan pandangan Haraboeji nya mengatakan ‘tidak ada penolakan Kim Nara’ Nara merinding ketika melihat itu.

“Hah… apa ada alasannya kenapa aku harus di jodohkan? Jika karna harta lebih baik aku jatuh miskin Haraboeji.”

“Ini bukan karna harta Kim Nara! Kami sudah merencanakan ini dari kalian kecil.”

“Apakah aku akan menjadi boneka kalian juga? Aku bingung dengan pemikiran kalian. Hah… aku tau jika perjodohan ini tidak boleh ada kata penolakan. Jadi mau tidak mau aku menerima nya. Tapi dengan satu syarat. Jika aku merasa tidak nyaman dengan kehadiran Luhan aku akan meninggal kan nya kapanpun dan jangan pernah mencari ku kemana pun jika aku sudah pergi. Bagaimana Haraboeji?”

“Haruskah syarat mu seperti itu? Jika syarat mu seperti itu mungkin aku akan menghapusmu dari surat wasiat yang telah ku buat.”

Mwo? Jika begitu hapuslah. Aku tidak mengingikan harta dari keluarga ini dan persyaratan ku tidak bisa di ganggu gugat. Jika perjodohan ini bisa di batalkan dengan kalian tidak mengganggap ku lagi, aku akan bersedia keluar dari rumah ini.”

Kim Jong Suk yang sudah mulai emosi dengan perkataan cucunya itu. Tanpa sadar dia menampar Nara yang sedari tadi berani melawan perkataannya. Semua tamu yang berada di situ terkejut melihat perlakuan Kim Jong Suk. Terlebih lagi Nyonya Kim. Dia tidak pernah sekalipun menampar Nara. Nyonya Kim merasakan dada nya sesak ketika melihat itu. Dia tidak bisa melakukan apapun sekarang. Sedangkan Tuan Kim ketika ingin membantunya tapi di tahan oleh Nyonya Kim yang mungkin sebentar lagi akan mengeluarkan cairan bening karna perlakuan ayah mertuanya ke anak kesayangan nya itu.

Nara memegangi pipi nya yang mulai memerah karna tamparan dari Haraboeji nya. Ya mungkin dia tau sekarang Haraboeji nya lebih mementingkan perjodohan ini ketimbang hati cucu nya yang sakit. Hanya itu yang bisa Nara simpulkan sekarang. Sedari tadi dia menahan cairan bening yang akan keluar dari matanya. Tapi tidak bisa. Untuk kali ini cairan bening itu keluar dengan deras. Tidak ada yang bisa membantu nya untuk saat ini. Semua tidak berani berdiri membantu Nara. Karna mereka semua tau bagaimana sifat dari seorang Kim Jong Suk. Halmoni Nara berdiri untuk menangani emosi suami nya itu.

Nara berdiri dari tempat duduknya dan akan ke kamar nya. Sebelum dia berjalan menuju kamar nya Haraboeji Nara mengatakan sesuatu yang bisa membuat Nara berhenti

“Bukankah dulu kau pernah mengatakan ‘jika aku besar nanti aku ingin menikah dengan Luhan Oppa’ apa kau melupakan itu Nona muda Kim? Haraboeji hanya ingin mewujudkan keiginakan mu Kim Nara!”

“Ya aku meningat hal itu. Aku pernah mengatakan hal itu ketika aku berumur 6 tahun. Tapi tidak setelah orang yang akan kau jodohkan menghianati persahabatan kami.”

“Hah… aku tidak ingin mendengarkan alasan mu lagi nona Kim Nara. Pergilah ke kamar mu dan mulai sekarang kau harus pergi dan pulang bersama Luhan. Tidak ada kata penolakan dan tidak ada syarat apapun!”

“Baiklah kalau begitu. Aku akan mengikuti permainan busuk kalian ini. Aku sudah lelah dengan permainan kalian yang sesuka hati kalian menjodohkan kami. Apa kalian pikir Minno Oppa bahagia setelah kalian menjodohkan dia? Aku rasa tidak. Aku sering melihat dia di club malam dengan Gadis murahan. Sedangkan istrinya? Istrinya menikah lagi dengan Pria lain! Apa kalian tau itu? Ah mungkin kalian tidak tau, karna kalian terlalu sibuk dengan perusahaan kalian sampai-sampai Minno Oppa yang sakit di apartemen nya kalian tidak tau.”

Nara pergi begitu saja setelah dia menyelesaikan perkataannya. Sekarang dia hanya mengganggap bodoh dengan perlakuannya ke keluarga nya itu. mungkin sekarang dia sudah menjadi cucu durhaka yang pernah Kim keluarga miliki. Ya memang hanya seorang Kim Nara yang berani menolak permintaan dari Haraboeji nya.

Luhan menatap punggung gadis nya itu dengan mata yang berkaca-kaca. Dia ingin menghampiri nya tapi dia takut Nara akan semakin kacau jika Luhan yang menghampirinya. Sedangkan Jong In dan Hye Ri pergi menghampiri Nara yang berada di kamar nya. Mereka baru kali ini melihat Nara yang seperti itu. Sesampai di depan kamar Nara mereka berdua langsung membuka pintu kamar Nara.

“Bolehkah kami masuk?”

“Eoh… Masuklah.”

Nara melihat kedua pasangan itu bergantian dan akhirnya mata Nara tertujuh ke tangan kedua sahabat nya.

“Apa kalian bisa menjelaskan sesuatu kepadaku?”

“Eoh? Kami harus menjelaskan apa Nona Muda?” tanya Jong In dengan wajah tanpa dosa

“Kenapa kalian bisa di sini dan kenapa tangan kalian seperti itu?”

“Kami kesini karna di suruh Haraboeji. Dan ini? Kami sudah dijodohkan Kim Nara.” ucap Jong In sambil menaikan tangan nya yang sedang memegangi Hye Ri

“MWO?”

“Ne kami memang sudah di jodohkan dan itu aku yang memintanya. Ya untungnya orang tua Hye Ri adalah rekan bisnis Appa jadi semua berjalan dengan lancar. Dan apa kau tau kami sudah menjalin hubungan selama 3 tahun.”

*FLASBACK

Jong In yang baru pulang sekolah menemui Appa dan Eomma nya yang berada di ruang kerja rumah mereka. Appa dan Eomma Jong In terkejut ketika Jong In menghampiri mereka dengan wajah yang seperti akan meminta sesuatu.

Appa bolehkah aku meminta 1 permintaan kepada mu?”

Wae Jong In a?”

“Bisakah kau menjodohkan ku dengan Lee Hye Ri anak rekan bisnis Appa?”

“Lee Hye Ri? Apakah dia anaknya Lee Hye Kwang?”

Ne Appa. Bisakah? Hanya itu permintaan ku.”

Wae? Kenapa kau mendadak seperti ini? Apa kau sudah melakukan sesuatu dengan dia?”

“A…Anio. Aku hanya ingin kami terikat dan tidak ada yang bisa memisahkan kami lagi. Hanya itu. Ku mohon Appa.”

“Baiklah jika itu mau mu. Appa akan mengurus semuanya. Dan ada syarat nya, jangan pernah menyakitinya Kim Jong In.”

Gomawo Appa. Kau memang yang terbaik. Ne aku janji tidak akan menyakitinya.”

Setelah Jong In keluar Appa dan Eomma nya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak nya itu. Mereka memang mempunyai rencana akan hal itu. Tapi mereka masih merahasiakannya karna mereka takut Jong In akan menolaknya.

*Flashback End*

“Ah iyah aku lupa, ini ada surat untuk mu. Apa kau mengingat surat itu? Itu adalah surat yang kau buang ke tong sampah 7 tahun yang lalu. Tapi aku mengambilnya lagi. Karna aku tau itu surat penting dan kau harus membacanya Na-ya. Itu adalah surat yang kau temui di Private Room kita. Mianhe.” Ujar Jong In sambil memberikan surat yang berwarna baby blue itu

Nara ingat dengan surat itu. Itu adalah surat yang diberikan Luhan ketika Luhan meninggalkan Seoul. Yah memang benar Nara membuang surat itu. Karna bagi Nara jika ada yang meninggalkannya maka apapun yang bersangkutan dengan orang itu maka itu harus di buang jauh-jauh. Entahlah dari mana pemikiran Nara itu. Meskipun dulu umurnya masih 6 tahun tapi sakit baginya di tinggal oleh Oppa kesayangannya selain Jong In. Nara membuka perlahan surat itu.

Annyeong Nara. Mian Gege tidak memberitahu mu tentang kepergian Gege ke Beijing. Gege hanya bisa menitipkan ini ke Jong In. karna ketika Gege ingin berbicara ke kamu, kamu selalu menghindar dari Gege. Gege akan selalu merindukan mu Kim Nara. Apa kamu sedang menangis sekarang? Uljima… Gege akan menjaga diri Gege di Beijing nanti. Gege janji setelah Gege kembali ke korea Gege akan mencari kamu duluan. Ah iyah, apa kamu sudah memaafkan Gege tentang Gege memukul Kkamjong? Jebal maafkan Gege. Apa kamu tau kalau Kkamjong pernah memukul Gege? ah mungkin kau tidak tau itu. seharusnya kau juga memarahi Kim Jong In saat dia memukul Gege. kekeke Jagalah dirimu baik-baik Kim Nara. Gege akan merindukan mu. Saranghae Kim Nara.”

Luhan Gege

Tanpa Nara sadar butiran-butiran bening itu sudah terjatuh mengenai pipinya. Hye Ri terkejut ketika melihat Nara nangis. Tapi tidak dengan Jong In dia sudah mengetahui itu surat dari siapa. Ya sekarang Jong In merasa bersalah karna dia telat memberikan surat itu ke Nara. Jika saja dari dulu dia memberikannya mungkin Nara bisa memaafkan Hyung nya itu. mereka berdua mencoba menenangkan Nara yang mungkin sekarang merasa bersalah ke Luhan.

Hari sudah mulai malam. Tapi Luhan belum pulang dari rumah Nara. Dia berada di balkon kamar tamu yang akan dia tiduri selama beberapa hari ini. Orang tua nya memutuskan pulang ke Beijing karna masih ada pekerjaan yang harus di kerjakan. Sedangkan Luhan? Dia masih ingin di sini menjaga Nara. Dia tidak ingin pergi dari Nara untuk ke dua kali nya. Dia juga tidak tega meninggalkan Nara dengan keadaan yang seperti ini. Sakit memang ketika mengingat perkatan Nara tentang syarat nya. Tapi itulah kenyataan nya sekarang. Dia tidak tau apa salahnya kenapa Nara bisa semarah ini kepadanya.

Tok tok tok

Luhan terkejut akan ketukan pintu itu. Dia melihat kearah pintu ternyata disana sudah ada Jong In.

“Yak Kkamjong. Apa aku sudah menyuruh mu untuk masuk?”

Jong In sudah berjalan ke balkon kamar itu dan menyamai posisinya dengan Luhan.

“Ah Mian Tuan Muda Lu. Habisnya aku sudah ketuk dari tadi tapi tidak ada respon sedikit pun. Jadi yah aku masuk saja. Apa yang kau pikirkan Hyung?”

“Hah… aku tidak tau Jong. Apa aku harus membatalkannya? Aku tidak tega melihat Nara yang seperti itu. Karna aku dia di tampar oleh Haraboeji nya. Mungkin Nara akan semakin membenci ku Jong.”

“Apa kau gila Hyung? Kenapa kau tega sekali terus menyakiti Nara yang tidak tau apapun? Mian surat yang dulu kau titip ke aku barusan aku kasih ke Nara. Mungkin selama ini dia marah bukan karna masalah kau memukulku. Tapi karna kau tidak mengatakan secara langsung kau akan ke Beijing. Aku juga sudah berusaha memberikan surat itu ke Nara tapi Nara tidak ingin menerimana nya. Surat itu dia buang. Tapi aku mengambil surat itu dan aku menyimpannya sampai sekarang.”

Gwenchana. Hah… Mungkin juga seperti itu Jong In. Aku bingung harus bagaimana menghadapi situasi seperti ini. Apa kau ingin mengetahuinya? Tanyakan saja ke Nara. Kekekeke”

“Dan satu lagi dia menangis dan di sela-sela itu di tersenyum setelah membaca surat dari mu. Senyum yang aku kangen dari seorang Kim Nara. Apa ada sesuatu yang kau tulis sampai bisa membuat seorang Kim Nara seperti itu?”

“Haiz. Jinjja. Jangan pernah membatalakan perjodohan ini Hyung. Jika kau membatalkannya aku tidak akan mengganggap mu Hyung ku lagi.”

Ne. Arraseo. Aku tidak akan mengecewakan kalian.”

Chagia-ah, apa kau tidak ingin pulang.” Tiba-tiba Hye Ri membuka pintu kamar Luhan

Ah Ne. Kajja kita pulang. Apa Nara sudah tidur?”

Ne dia sudah tidur. Ah iyah Luhan Oppa jagalah Nara. Dia sedang demam. Aku takut terjadi apa-apa dengan dia. Dan jika kau ingin mengompres nya mintalah dengan Han Ahjjuma.

Ne. Gomawo Hye Ri a.”

Luhan mengantarkan pasangan itu ke luar rumah. Di rumah itu hanya tinggal Nara, Luhan dan Han Ahjjuma. Sedangkan Haraboeji dan Halmoni Nara sudah pergi ke Jepang karna harus menyelesaikan pekerjaan nya. Eomma dan Appa Nara pergi menginap di apartemen Minno. Setelah pasangan itu sudah keluar dari pekarangan rumah Nara, Luhan berjalan masuk menuju dapur. Dapur saat ini sepi. Luhan mengira semua orang sedang keluar. Tapi Luhan salah besar. Han Ahjjuma sedang berada di taman belakang, Han Ahjjuma melihat ke arah dapur dan dia mendapati Luhan kebingungan akan seuatu. Akhrinya ia memutuskan untuk masuk ke dapur.

“Ada yang bisa saya bantu Tuan Muda?” ucap Han Ahjjuma dengan sopan

“Ah Ahjjuma, aku ingin minta tolong untuk membuatkan kompresan untuk Nara. Dia sedang demam.”

“Ah tunggu lah di kamar Nona Nara, Tuan. Saya akan mengantarkannya ke kamar nanti.”

“Hmm.. aku akan belajar dari Han Ahjjuma bagaimana cara membuat kompresan untuk Nara. Bukankah permintaan dia ketika sakit itu selalu hal yang tidak masuk akal. Kekeke”

Han Ahjjuma hanya bisa tersenyum mendengar perkataan Luhan. Ya memang benar. Seorang Kim Nara memang aneh ketika sakit. Dia akan meminta hal yang di luar logika ketika dia sakit. Termasuk kompresan untuk dia. Han Ahjjuma dengan senang hati mengajari Luhan bagaimana cara membuat kompresan untuk Nara.

Cha. Ini udah selesai. Ah iyah, ketika Tuan Muda akan menaruh nya di kening Nara berhati-hatilah. Karna Nara sensitive ketika dia tidur. Jika Nona Nara sudah bangun panggillah aku. Aku akan menyiapkan makan malam untuk nya. Karna setau saya Nona Nara belum makan dari siang tadi.”

Ah Ne Ahjjuma. Gamsahamnida Han Ahjjuma.”

Luhan berjalan ke kamar Nara. Dia tidak mengetuk kamar nya karna tidak ingin membangunkan Nara. Dia memasuki kamar itu dan berjalan ke samping tempat tidur Nara. Dia menaruh kompresan itu di atas meja nakas yang berada di sebelah Nara. Setelah itu dia mengambil kursi meja belajar Nara yang berada di dekatnya. Luhan duduk di sebelah Nara. Dia melihat wajah tenang Nara ketika tidur. Dia memeganggi dan mengelus secara pelan pipi kiri Nara yang tadi siang di tampar oleh Haraboeji Nara. Detakan jantung Luhan sudah tidak beraturan lagi. Dia selalu merasakan ini ketika di dekat Nara. Luhan memeras kompresan yang sudah di buat tadi dan akan di taruh di kening Nara. Tapi sebelum dia menaruhnya dia mencium kening Nara terlebih dahulu. Setelah dia mencium kening Nara dia kembali mencium matanya. Luhan berhenti ketika dia melihat bibir tipis Nara. Dia tidak berani mencium yang satu itu. Mungkin jika Nara tau dia sudah mencium nya Nara akan semakin membencinya.

Nara merasakan ada yang sesuatu yang basah di kening nya. Dia ingin membuka matanya tapi mata itu enggan untuk terbuka. Rasanya berat ketika ingin membukanya. Dia tau di rumah ini hanya menyisahkan dia dengan Luhan. Sedangkan yang lain mungkin sudah melupakan dia. Dan Luhan? Mungkin dia di sini juga karna suruhan Haraboeji Nara. Ya itu yang berada di pikiran Nara sekarang. Meskipun matanya tertutup tapi pertanyaan itu beradu didalam pikiran. Nara mencoba membuka matanya meskipun susah. Setelah dia berhasil dia melihat Luhan yang sedang duduk di sebelahnya dengan sebuah buku di tanggan nya. Luhan yang menyadari itu akhirmya menaruh buku itu ke meja nakas.

“Oh. Na-ya, kau sudah bagun?”

Ne.”

“Apa kepala mu masih sakit?”

Anio. Aku sudah merasa baikan.” Ucap Nara sambil memberikan senyum hangat nya ke Luhan

“Apa kau lapar? Tunggu lah sebentar, Oppa akan menyuruh Han Ahjjuma untuk membuatkan kau makanan.” Luhan berdiri tapi sebelum dia pergi ada sebuah tangan menahannya

“Gege kajjima.”

“Oh—— “ Luhan duduk di sebelah Nara yang masih terbaring itu. “Gege hanya ingin ke bawah untuk membawakan makan untuk mu Nara a. Gege janji hanya 5 menit saja. Jika Gege tidak kembali ke sini lagi kau boleh marah dan membenci Gege. Tapi jika Gege kembali ke sini kau harus janji satu sama Gege.” Ujar Luhan sambil mengelus rambut Nara dan memberikan Nara senyuman nya yang bisa membuat Nara tenang.

Eoh? Janji? Apa itu?”

“Hanya meminta kau untuk belajar memaafkan Gege.”

“Ne. Nara janji.”

Luhan pergi meninggalkan Nara yang masih memberikan senyuman hangatnya ke Luhan. Luhan senang sekarang Nara sudah bisa menerima nya. Luhan juga ingin berterima kasih ke Jong In karna berkat dia semua ini bisa selesai dengan mudah. Tapi belum tentu Nara akan menerima perjodohan itu. mungkin dia baik ke Luhan karna ada maksudnya. Atau mungkin tamparan yang di berikan Haraboeji Nara membuat dia amnesia atas apa yang di buat Luhan. Ah sudahlah itu tidak penting. Pikiran buruk itu tiba–tiba memasuki pikiran Luhan. Dia tidak ingin mengambil pusing atas perjodohan ini. Yang dia pikirkan sekarang hanya ke sembuhan Nara.

Luhan sampai di dapur dan sudah terlihat Han ahjjuma yang sedang menyediakan bubur dan obat untuk nona muda nya. entah dari mana han ahjjuma bisa mengetahui jika nona muda nya itu sudah sadar.

“Oh… Tuan Muda. Aku baru saja akan mengantar ini ke kamar.”

Eoh? Dari mana Han Ahjjuma tau kalau Nara sudah bangun?”

“Jika Nona Nara demam dan di kompres dia hanya akan bertahan 15 menit untuk menutup matanya. Itu sudah menjadi kebiasaan Nona Muda Tuan. Ah… iyah satu lagi Nona Muda tidak menyukai obat mungkin dia akan menolak atau memuntahkan obat ini. Cepatlah membawa ini ke kamar. Jika tidak dia akan marah kepadamu.”

“Ah.. Ne. Tenang saja Ahjjuma aku akan mengurusnya sebisaku. Gamsahamnida Han Ahjjuma” ucap Luhan sambil memberikan senyum yang hangat ke Han Ahjjuma yang sudah berkerja dari Luhan dan Nara waktu kecil dulu

“Ne”

Luhan meninggalkan dapur dan membawa nampan yang berisikan bubur, obat dan air putih. Luhan menyiapkan diri dengan apa yang akan dilakukan Nara dengan ketiga bawaan nya itu. Bubur? Nara pasti akan menolak makanan itu karna mulutnya pasti terasa pahit. Obat? Kalian sudah mengetahuinya dari Han Ahjjuma bagaimana reaksi seorang Nara jika sudah memakan obat. Ya meskipun orang tua nya adalah seorang dokter tetap saja Nara tidak suka dengan obat. Air putih? Mungkin hanya ini yang Nara mau dari ke tiga bawaannya. Luhan hanya bisa membuang nafas nya kasar setelah memikirkan hal yang akan Nara lakukan. Tapi bukan Luhan namanya jika dia tidak bisa memaksa Nara untuk memakan bubur dan obat nya.

Luhan sudah sampai di depan pintu kamar Nara. Luhan mengetuk pintu coklat itu dengan pelan dan memanggil nama Nara. Tapi tidak ada jawaban dari dalam. Luhan takut jika dia masuk tanpa permisi bisa-bisa Nara memarahinya karna masuk tanpa izin. Tapi jika dia tidak masuk janji dia ke Nara bagaimana? Akhirnya Luhan memutuskan untuk masuk. Jika Nara marah itu hal belakangan dari pada dia harus di benci Nara untuk ke dua kali nya.

Luhan mengedarkan pandangan nya ke seluruh kamar. Tapi nihil. Tidak ada satu orang pun di kamar. Apa Nara kabur lewat jendela? Tidak! Jendela masih tertutup dengan rapat. Luhan menaruh nampan yang di bawa ke meja nakas sebelah tempat tidur Nara. Luhan memanggil Nara tapi tidak ada suara sedikit pun yang keluar. Luhan berjalan ke kamar mandi berharap Nara di dalam. Tapi nihil. Tidak ada suara air. Terus Nara dimana? Oh ayolah… apakah dia ingin meninggalkan Luhan? Luhan masih mematung di depan pintu kamar mandi Nara. Tiba-tiba pintu kamar mandi itu terbuka dan terlihat seorang gadis yang sedari tadi di cari oleh Luhan. Yah dia adalah Kim Nara.

TBC

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s