Fallen into You [Twoshoot – 1 Part]

fiy

Tittle: Fallen Into You [Chapter 1]

sricptwriter by : Kkyuzizi [NadiaAlifia_]

 Main Cast :

INFINITE’s Kim Sunggyu

APINK’s Jung Eunji

Support Cast : 

INFINITE Nam Woohyun [Sunggyu’s Bestfriend]

SNSD Choi Sooyoung [Sunggyu’s Classmate]

OC Kim Haneul [Kim Halmeoni]

OC Jung Eunsoo [Eunji’s sister]

INFINITE Kim Myungsoo [Sunggyu’s brother]

EXID Ahn Hani [Sooyoung’s friend]

Genre : Sad, Hurt, Friendship, School Life, Fluff, Romantic

Length : Twoshoot

Rating : T

Poster by lightlogy @ IFA

Disclaimer : Halo~ ini kali pertama aku buat fanfiction. Tema dan alur benar-benar dari hasil pemikiranku. Untuk seluruh cast, aku hanya meminjam nama mereka. Mereka sepenuhnya milik Tuhan dan keluarga masing-masing. Mohon review atau koreksi nya ya kalo ada kesalahan atau kekurangan di fanfic ini. Sampaikan saja di kolom komentar. Thank you and Happy reading~!

 

 

“ Love is sweet when is new. But, love is sweeter when is true.”– Jung Eunji

 

                                                                         

CHAPTER 1

17 Maret 2010

Braakk!

“Kau! Dasar jalang! Kau habiskan semua hartaku! Pergi kau dari rumah ini!”

“Abeoji!”

“Diam kau, Eunji! Kalian berdua sama saja! Dasar jalang. Pergi kalian!” Ayah Eunji menyeret kedua putrinya keluar rumah. “Jangan pernah muncul lagi di hadapanku!” Ayah Eunji kemudian menutup pintu rumah mereka.

“Apa yang harus kita lakukan? Maafkan eonni Eunji-ya” Eunsoo tertunduk di depan rumah mereka. Eunji menatap sekilas kakak nya dan kemudian pergi meninggalkan kakaknya di depan rumah mereka. Eunsoo mengikuti Eunji dan berjalan dibelakangnya “Maafkan eonni, Eunji-ya”

Eunji menghentikan langkahnya dan berbalik menatap kakaknya “Pergi.”

“Maafkan aku, Eunji-ya. Aku memang bersalah. Aku menyesal” Eunsoo berlutut di hadapan Eunji berharap adiknya itu mau memaafkan kesalahanya.

“Eomma suka menggoda lelaki yang sudah berkeluarga. Karena itu aku selalu menjadi bahan ejekan di sekolah. Abeoji mengusir kita karena kau selalu meminta uang padanya dan sekarang kau hamil di luar nikah. Masalah apalagi yang harus ku hadapi?” Eunji menyeka air matanya dan berkata “Pergi kau. Cari lelaki yang sudah menghamilimu. Minta dia bertanggung jawab. Jangan mencariku lagi. Aku kecewa padamu.” Eunji meninggalkan kakaknya yang masih berlutut di jalanan malam yang dingin.

Eunji berjalan menyusuri jembatan layang yang sepi. Eunji menengok kebawah jembatan ‘haruskah aku?…bunuh diri?’ pikirnya. Eunji menggelengkan kepala ‘Tidak. Jangan berbuat hal konyol seperti itu’ ia kembali berjalan tanpa tujuan sampai ia melihat sesosok wanita mirip sekali dengan ibunya sedang bercumbu dengan seorang pria paruh baya didalam mobil di ujung jembatan. Eunji mendekati mobil itu dan… benar. Itu ibunya.

“Eomma…” lirih Eunji. Wanita itu terkesiap.

“Eunji-ya…” Wanita itu merapikan pakaian dan rambutnya yang berantakan. Eunji berlari meninggalkan ibunya dan pria disamping ibunya yang tak mengerti apa yang sedang terjadi.

 

 

23 Juli 2013

“Aku berangkat”

“Hati-hati, Eunji-ya”

Ne. Halmeoni

Eunji membuka pagar dan berjalan dengan santai menuju sekolahnya. Tiga tahun berjalan begitu cepat bagi Eunji. Masih teringat jelas di otaknya bagaimana ia dan kakaknya diusir dari rumah dan  menemukan ibunya… ah. Eunji pun tak mau lagi mengingat kejadian setelahnya. Apa salah Eunji sehingga ia harus menanggung beban masalah keluarga seberat ini.

Eunji sebenarnya sangat menyayangi keluarganya. Saat ia masih duduk dibangku sekolah dasar, ia mempunyai segalanya. Rumah, teman-teman, kasih sayang keluarganya.

Semua itu sirna kala Ayah Eunji di tipu oleh salah satu rekan kerjanya. Perusahaan Ayah Eunji bangkrut. Ibu Eunji tak tahan hidup miskin akhirnya mencari laki-laki lain. Kakaknya yang suka menghamburkan uang dan pergi clubbing. Ayahnya yang dulu penyayang berubah menjadi Ayah yang pemarah dan kasar. Apa yang bisa dilakukan Eunji kecil?

Eunji sudah berniat melupakan kejadian tiga tahun lalu dan memulai hidup baru bersama Nenek Kim. Nenek Kim menemukan Eunji tengah tertidur di emperan kedainya pagi buta saat ia hendak membuka kedainya, tiga tahun lalu.

Eunji telah lima belas menit menit menunggu di halte bis. “Kenapa lama sekali? Aku bisa terlambat” Eunji menoleh ke kiri dan menemuka seorang lelaki berseragam sama dengannya. ‘Apakah ia dari sekolah ku juga? Hm, dia cukup tampan’ batinnya. Merasa diamati, lelaki itu pun menoleh ke arah Eunji “Kenapa kau menatapku?” Eunji memalingkan wajahnya dan tidak menjawab.

Bis yang ditunggu pun datang. Eunji berdeham dan segera memasuki bis.

Eunji berjalan menuju kelasnya. Tatapan sinis dan menghina sudah biasa baginya. Ia tak mempunyai teman apalagi sahabat. Namun Eunji tak memperdulikan itu semua. Ia hanya ingin segera lulus dari sekolah ini dan membantu Nenek Kim di kedai.

Eunji memasuki ruang kelas dan duduk dibangku pojok belakang kelasnya. Eunji anak yang pendiam. Tak akan berbicara jika tak di tanya. Ia sudah biasa melakukan tugasnya sendiri. Eunji benci satu hal di sekolahya. Kerja kelompok.

Sunggyu sedikit berlari menuju ruang guru. Ia sempat lupa jika ia di panggil Lee seonsaengnim untuk membawa hasil penelitian minggu lalu. Tak lama, Sunggyu sampai di ruang guru. Sunggyu menghampiri meja Lee seonsaengnim. Annyeonghaseyo

Lee seonsaengnim berdiri menyambut kedatangan Sunggyu “Oh Sunggyu-ya. Ini tugasnya?”

Ne. Seonsaengnim. Maaf saya sedikit terlambat.” Sunggyu meletakkan beberapa lembar kertas ke atas meja Lee seonsaengnim. “Ada lagi yang harus saya lakukan, seonsaengnim?”

Lee seonsaengnim menggeleng. “Aniya. Kau bisa pergi. Oh ya. Kapan kau akan membuka pendaftaran untuk calon Ketua OSIS yang baru?”

Sunggyu mengangguk kecil “Mungkin bulan depan, seonsaengnim.

“Baiklah. Belajarlah dengan rajin. Sebentar lagi kau akan ujian akhir.” Lee seonsaengnim menepuk bahu Sunggyu. Memberikan pesan dan semangat pada Ketua OSIS itu.

Ne, seonsaengnim. Saya permisi” Sunggyu membungkukkan badannya. Memberikan hormat pada gurunya itu lalu berlalu keluar ruang guru.

Sunggyu berjalan santai menuju kelasnya. Ditengah koridor sekolah, seseorang tiba-tiba merangkul bahunya “Hey, bro”

“Kau membuatku kaget saja, Woohyun-ah” Sunggyu mendelik dengan matanya yang sipit.

“Mian, Sunggyu-ya. Oh ya. Kau darimana?” Woohyun melepaskan rangkulannya dan berjalan sejajar dengan Sunggyu. Sesekali ia membalas sapaan para gadis di sepanjang koridor sekolah.

“Dari ruang guru. Mana Myungsoo?” Sunggyu menanyakan keberadaan adiknya itu.

“Oh, Myungsoo. Dia sedang latihan basket di lapangan. Itu.” Woohyun menunjuk tim futsal di lapangan. Sunggyu menengok ke arah lapangan dan mengangguk kecil.

Saat melewati ruang laboraturium seorang gadis menabrak Sunggyu “Gwenchana?” Tanya Sunggyu. Woohyun hanya memperhatikan kedua orang itu.

Ne.” Gadis itu membungkuk singkat dan berlalu dari hadapan Sunggyu dan Woohyun.

“Jung Eunji?” ucap Woohyun tiba-tiba.

“Kau mengenalnya?” Sunggyu menatap Woohyun dan punggung Eunji yang berlalu.

“Tidak. Aku melihat tag name nya tadi.”Woohyun terkekeh.

Sunggyu mengangguk kecil “Arasseo. Kau ke kelas duluan saja. Aku mau ke kantin dulu.”

“Oke. Jangan lupa belikan aku minuman” Woohyun mengedipkan sebelah matanya dan segera berlalu meninggalkan Sunggyu. “Ckckck. Dasar anak itu.” Sunggyu tersenyum kecil dan berjalan menuju kantin. Sesampainya di sana, ia melihat para siswa berkerumun. “Ada apa ini?” ucap Sunggyu sedikit berteriak. Para siswa langsung memberikan jalan begitu melihat Ketua OSIS mereka ada disana. Sunggyu berjalan mendekati pusat perhatian. “Apa yang terjadi?” Tanya Sunggyu pada Hani “Dia menabrak Sooyoung dan tidak mau meminta maaf dan malah menyalahkan kami. Padahal dia berjalan sambil menunduk.”

Sunggyu mengalihkan pandangan nya dari Hani ke seseorang yang sedang menunduk dengan seragam penuh siraman jus jeruk. “Kau! Minta maaf sekarang. Dasar adik kelas tak tahu diri! Minta maaf sekarang!” teriak Sooyoung.

“Tunggu, Sooyoung-a. Kenapa kau teriak-teriak begini? Selesaikan masalah nya baik-baik. Jangan seperti ini. Kau membuat masalah di tempat umum. Tidak usah pakai teriak-teriak. Kau adalah senior disini. Berikan contoh yang baik pada adik kelasmu.” Titah Sunggyu. Sooyoung menghela nafas kasar begitu mendengar ucapan Sunggyu.

“Tapi, Sunggyu-ya. Dia menabrakku! Lihat! Seragamku terkena bumbu kari!” Sooyoung menunjuk bagian kemejanya yang terkena bumbu kari.

“Lalu? Kau kan bisa ganti dengan seragammu yang lain. Atau kau bisa meminjamnya pada temanmu.”

“Tapi..” Sooyoung ingin membantah tetapi ia mengurungkan niatnya “Ayo. Kita pergi dari sini. Hani-ya, aku pinjam seragammu.” Sooyoung dan Hani segera pergi dari kantin. Seluruh siswa yang menonton kejadian tadi langsung membubarkan diri.

“Kau tidak apa-apa?” Sunggyu memberikan sapu tangannya kepada gadis itu untuk membersihkan sisa jus jeruk di seragamnya. Gadis itu diam saja. “Sudah. Pakai saja. Daripada kau risih dengan sisa jus itu. Memakai ini akan membuatmu lebih baik.”

Gadis itu menerima sapu tangan Sunggyu meski agak ragu. “Gamsahamnida.

Sunggyu menngibaskan tangannya. “Tidak perlu. Namamu siapa?”

“Jung Eunji.”

Jung Eunji? Ah, Sunggyu ingat sekarang.

“Kau yang tadi menabrakku di depan laboraturium?”

Ne.  Joesonghamnida” Eunji membungkuk singkat.

“Tidak apa. Lain kali kalau berjalan jangan menunduk. Kau akan menabrak seseorang di depanmu. Seperti tadi.” Sunggyu menepuk pelan bahu Eunji. Gadis itu hanya mengangguk mengiyakan.

“Kau bisa kembalikan sapu tanganku kapan saja. Oke, aku duluan.” Sunggyu tersenyum dan  meninggalkan Eunji yang sedang menggenggam saputangannya.

Eunji akhirnya mendongak setelah lama menunduk. Karena itu sudah menjadi kebiasaan bagi Eunji. Berjalan sambil menunduk. Ia tak mau para siswa melihat raut wajahnya yang menyedihkan. Ia sudah cukup kenyang dengan cibiran para siswa kepadanya. Eunji menatap punggung Sunggyu sampai akhirnya hilang di belokan koridor. Dia. Kim Sunggyu. Orang pertama yang bersikap hangat padanya. Menolong Eunji saat ia tak mampu melawan kepada senior nya. Eunji tersenyum kecil. Hampir tak terlihat. Namun, Eunji benar-benar tersenyum.

Halmeoni. Aku pulang!” Eunji melepas sepatunya dan memasuki rumah Nenek Kim.

“Eunji-ya. Kau sudah pulang. Ganti bajumu lalu lekaslah makan. Tidak enak jika nasinya sudah dingin.” Nenek Kim membantu Eunji melepas tas nya.

Ne, halmeoni.” Eunji masuk kedalam kamarnya dan mengganti seragamnya dengan pakaian santai. “Halmeoni. Kenapa tidak ke kedai?” Eunji duduk di meja makan dan mulai menyantap sajian di depannya.

Halmeoni ingin istirahat satu hari saja. Capek juga jika harus membuka kedai setiap hari.” Nenek Kim duduk disamping Eunji dan memijat-mijat lengannya .

Eunji meneguk minumannya “Kalau begitu biar aku saja yang membuka kedai halmeoni. aku hanya harus memasak ddeokbokki dan jajjangmyun kan?”

Nenek Kim menggeleng pelan lalu menggenggam tangan Eunji. “Tidak usah Eunji-ya. Kita dirumah saja hari ini. Besok baru kita membuka kedai lagi.”

arasseoyo. Tapi apakah halmeoni sakit? Daritadi kulihat halmeoni memijat lengan terus.” Eunji ikut memijat lengan Nenek Kim yang satunya. Ia kasihan melihat Nenek Kim hidup sendiri. Karena itulah ia memutuskan tinggal bersama Nenek Kim tiga tahun lalu.

“Nenek. Tadi.. ada seorang lelaki menolongku.” Eunji tiba-tiba mengungkit kejadian di kantin tadi.

“Benarkah? Wah, itu bagus. Apakah dia tampan?” Nenek Kim antusias mendengar curahan hati Eunji.

Eunji memiringkan kepala “Yah.. lumayan. Dia seniorku di sekolah, halmeoni.”

“Senior? Lain kali ajak dia mampir kesini.” Nenek Kim tersenyum senang

 “Eii, halmeoni. Mana mungkin aku mengajak seorang lelaki datang kemari?” Eunji mengibaskan tangannya.

Nenek Kim terkekeh “Arasseo. Aku akan ke kamar dulu. Eunji, kau cuci piring dan bersihkan kamarmu. Bagaimana bisa kamar seorang gadis berantakan seperti kapal pecah? Ckckck” omel Nenek Kim sambil membantu Eunji membawa piring ke dapur. “Ne, halmeoni.” Eunji mengerucutkan bibirnya dan berjalan menuju kamarnya. Nenek Kim tersenyum melihat Eunji.

Saat Eunji memasukkan seragamnya ke keranjang baju kotor, ada sesuatu yang jatuh darisana. Eunji memungut benda itu. Saputangan milik Sunggyu. Terdapat satu jahitan kecil di pojok saputangan itu bertuliskan ‘김성규’[Kim Sunggyu].

“Kim Sunggyu..” Eunji menggumamkan nama Sunggyu. Entah kenapa senior nya yang satu itu membuat Eunji merasa bahwa ia tidak sendiri di sekolahnya. Eunji tersenyum kecil dan memasukkan kembali seragam dan saputangan Sunggyu kedalam keranjang. “halmeoni! aku akan mencuci. Jika butuh aku, cari saja aku di belakang rumah.” Nenek Kim berteriak dari dalam kamar “Arasseo!

Keesokan harinya saat pulang sekolah, Eunji berdiri di samping gerbang sekolah sambil menggenggam saputangan Sunggyu yang sudah ia cuci kemarin.

‘lihat. Itu dia yang menabrak Sooyoung sunbae di kantin kemarin’

‘Sst. Itu yang namanya Jung Eunji. Lihat saja tampangnya. Sombong sekali.’

‘Kenapa dia berdiri disamping gerbang seperti itu? Apa dia tidak mau pulang?’

‘Hey, dia anaknya seorang wanita yang suka menggoda lelaki yang sudah menikah.’

Beberapa siswa tampak membicarakan Eunji. Meski hanya bisikan, Eunji tau mereka membicarakannya. Dalam hati, Eunji sungguh ingin segera pulang dan membantu Nenek Kim. Tetapi, ia harus mengembalikan saputangan itu. Bisa saja saputangan itu masih diperlukan oleh Sunggyu.

Sudah 15 menit Eunji menunggu. Sekolah mulai sepi. Tetapi, Sunggyu belum juga keluar. Eunji masuk lagi kedalam sekolahnya. Mencari di sepanjang koridor, di ruang OSIS maupun di kantin. Nihil. Sunggyu tidak ada.

Eunji berjalan ke belakang lapangan basket untuk beristirahat sebentar. Disana ia melihat seorang lelaki sedang berlutut di depan dinding dan sesekali meninju dinding itu dengan tangannya. Eunji mendekati lelaki itu “Sunbae?” Sunggyu mendongak dan mendapati Eunji di sampingnya.

Sunggyu berdiri dan merapikan pakaiannya yang kotor terkena noda tanah. “Oh iya. Ada apa?”

“Ini.” Eunji mengulurkan saputangan milik Sunggyu “Gamsahamnida, sunbae. Itu sudah aku cuci kemarin.”

Sunggyu mengambil saputangan itu dan menatap Eunji sekilas. “Kalau begitu, aku pulang dulu, sunbae. Annyeonghigyeseyo.” Eunji membungkuk singkat lalu berbalik.

Sunggyu menahan lengan Eunji. “Temani aku.” Eunji berbalik lagi dan menatap Sunggyu. “Ne?” bibir Eunji sedikit membuka. Ia menatap lengannya yang berada di genggaman Sunggyu. “Temani aku.” Ucap Sunggyu sekali lagi.

Setelah berpikir sejenak Eunji mengeluarkan ponselnya. Menelpon Nenek Kim.

“Halo, halmeoni.

“Aku akan pulang sedikit terlambat. Seorang teman memintaku menemaninya sebentar. Boleh tidak?”

“Iya. Aku tidak akan lama. Setelah ini aku akan segera pulang.” Eunji menatap Sunggyu sejenak.

Ne, halmeoni. Aku tutup teleponya ya”

Eunji menganggukan kepala kearah Sunggyu “Baiklah. Akan aku temani.” Pertama kali sejak ia bersekolah disini. Ia mengiyakan ajakan seseorang.

Sunggyu tersenyum.

Di kedai, Nenek Kim meletakkan gagang telepon dan tersenyum “akhirnya ia mempunyai teman. Aku tidak cemas lagi sekarang.” Nenek Kim menyambut pelanggan yang datang. “Osseo Oseyeo” dan mempersilahkan pelanggan itu duduk dan memberikan pesanannya.

Eunji duduk disamping Sunggyu. Suasana canggung dan sunyi menyelimuti keduanya. Akhirnya Sunggyu membuka pembicaraan. “Tadi itu nenekmu?”

Eunji mengangguk. “Ne.”

Sunggyu ikut mengangguk. Sesaat suasana itu menyelimuti keduanya lagi. eunji sudah terbiasa dengan suasana yang sunyi pun hanya memejamkan matanya dan membiarkan angin sore membelai wajah dan rambutnya. Tiba-tiba ia Eunji berkata “Kenapa sunbae memintaku untuk menemanimu?”

Sunggyu ikut memejamkan matanya sama seperti Eunji. “Entah. Aku juga tidak tau. Tanganku refleks menahanmu. Aku tidak tahu.”

“Kenapa tadi kau memukuli tembok?”

“Aku sedang kesal.” Jawab sunggyu sambil merentangkan tangannya.

“Kenapa?”

“Hanya saja. Aku hanya merasa kesal.”

Eunji membuka matanya dan menatap kearah Sunggyu. “Ne? Kau pasti mempunyai alasan kenapa kau bisa kesal.”

“Kau.. apa benar yang dikatakan siswa-siswi disini?” Sunggyu mengubah topik pembiaraan

“Maksud, sunbae?

Sunggyu mengubah posisi duduknya menjadi miring ke kiri. Menatap Eunji.“Kau.. anak seorang wanita yang suka menggoda lelaki yang sudah menikah?” Sunggyu mengucapkan kalimat itu dengan hati-hati. Eunji menatap Sunggyu lama. “Baiklah. Maaf sudah bertanya. Kau tidak perlu menjawabnya.” Sunggyu kembali ke posisi duduknya semula dan memejamkan matanya lagi.

Eunji menerawang ke depan dan membuka mulutnya “Ya. Ibuku wanita yang suka menggoda lelaki yang sudah menikah.”

Sunggyu membuka matanya. Ia menunggu Eunji meneruskan kalimatnya “Dulu, Ayahku adalah pengusaha sukses. Keluarga kami hidup dalam kebahagiaan dan penuh kasih sayang. Lalu, semua itu berakhir saat perusahaan ayahku bangkrut. Dia ditipu. Ibuku stress dan memilih mencari lelaki lain. Kakakku suka menghamburkan sisa uang yang ayah punya dan akhirnya… dia hamil tanpa aku tau siapa ayahnya. Dan ayahku.. dia berubah menjadi ayah yang pemarah dan kasar. Pada akhirnya aku tau. Bahwa semuanya didasari oleh uang. Bukan cinta dan kasih sayang.” Eunji tidak percaya kepada dirinya sendiri jika ia bisa menceritakan semua masa lalu nya dengan santai kepada orang yang baru ia kenal. Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Eunji. Eunji tersenyum dalam hati.

Sunggyu menatap Eunji dalam “Kau… tidak apa-apa?”

Eunji mengangguk santai. “Ne. Aku tidak apa-apa.”

“Kau mau menjadi temanku?” Eunji balik menatap Sunggyu dalam. Teman? Eunji mengira teman adalah suatu hal yang mustahil ia dapatkan di dunia ini.

“Kau akan mendapat masalah jika berteman denganku.” Eunji menunduk menatap kedua kakinya.

Sunggyu mengangkat sebelah alisnya “Masalah? Hah, kau kira jika aku berteman denganmu aku akan mendapat cibiran dari seisi sekolah, begitu?” Eunji mengangguk pelan.

“Hahahahaha!” Sunggyu tertawa lebar. Ia memegangi perutnya yang sakit. Eunji menatap Sunggyu bingung. Dia kenapa? Batin Eunji.

“Hey. Apa yang kau takutkan?. Saat kau di cibir barulah kau bisa merasakan apa itu hidup. Kau juga akan bosan jika hidupmu mulus-mulus saja. Dan satu lagi. kau tidak perlu takut. Aku ini ketua OSIS, lho.” Sunggyu tersenyum bangga saat mengucapkan kata ‘Ketua OSIS’.

Eunji menimang-nimang sejenak ajakan Sunggyu untuk menjadi temannya. “Baiklah. Kita teman.” Ucap Eunji akhirnya. Eunji tersenyum lebar untuk pertama kali setelah tiga tahun lamannya.  Jantung Sunggyu berdegup lebih cepat dari biasanya saat tak sengaja melihat Eunji tersenyum begitu lebar. Sesaat kemudian ia bisa mengontrol dirinya. “Bagaimana jika kita bertukar nomor telepon?” tawar Sunggyu. Eunji mengangguk dan memberikan ponselnya pada Sunggyu.

Sunggyu dan Eunji sampai di depan gerbang rumah Nenek Kim. “Masuklah” ucap Sunggyu.

“Kau.. tidak mau mampir, sunbae?” Sunggyu mengibaskan tangannya. “Sudah sore. Aku pulang saja. Lain kali aku akan mampir.” Eunji mengangguk singkat.

Keduanya sama-sama terdiam. Sunggyu berdeham berusaha memecah suasana canggung yang menyelimuti mereka saat ini. Akhirnya ia membuka permbicaraan. “Masuklah. Aku pulang.” Sunggyu menunjuk rumah Nenek Kim dengan dagunya. Eunji mengangguk dan membuka gerbang rumah Nenek Kim. Sebelum menutup gerbang, Eunji berbalik “Terimakasih sudah mengantarku, sunbae” Sunggyu tersenyum hangat. “Sama-sama” Eunji ikut tersenyum dan memasuki rumah.

Sebelum benar-benar memasuki rumah Sunggyu berkata “Biasakanlah dirimu untuk tersenyum. Itu akan membuat mu jauh lebih baik.” Eunji menghentikan langkahnya. Saat ia berbalik, Sunggyu sudah tidak ada. “Baiklah. Aku akan mencobanya” ucap Eunji seakan Sunggyu masih ada disana.

Sunggyu berbaring di kasurnya dan menatap langit-langit kamarnya. Sesaat kemudian terdengar suara ketukan pintu “Sunggyu-ya!” Sunggyu bangkit dan membuka pintu kamarnya “Oh, Woohyun-a. Masuklah.” Woohyun memasuki kaamr Sunggyu dan duduk di pinggir tempat tidur Sunggyu.

“Jadi? Kenapa kau menyuruhku kesini?” Woohyun mengambil koleksi komik Sunggyu dan membacanya. Sunggyu diam sesaat sampai akhirnya membuka mulut “Kau percaya pada cinta pada pandangan pertama?”

“Tidak juga. Kenapa?” ujar Woohyun yang tetap fokus membaca komik Sunggyu.

“Tidak. Aku hanya merasa ada seseorang yang menarik perhatianku.”

“Siapa?”

Sunggyu berbaring lagi dan kembali menatap langit-langit kamarnya.“Kau tau Jung Eunji?”

Woohyun menutup komik yang ia baca dan menatap Sunggyu penuh tanya. “Gadis yang menabrakmu di depan laboraturium kemarin?” Sunggyu mengangguk.

“Jadi.. apa yang menarik perhatianmu dari dia?”

“Entah. Mungkin karena dia selalu menjadi bahan cibiran di sekolah dan dia mempunyai masa lalu yang kelam itu membuatku merasa ingin.. melindunginya.” Woohyun mengerutkan kening mendengar ucapan Sunggyu. “Bagaimana kau tau jika dia memiliki masa lalu yang kelam?”

Sunggyu mengubah posisi tidurnya “Tadi dia bercerita padaku.”

“Sudah sebegitu dekatnya kah kalian sampai ia menceritakan kisah pribadinya padamu?”

“Tidak juga. Entahlah, aku hanya bertanya padanya apakah benar gosip kalau dia anak dari wanita yang suka menggoda lelaki yang sudah menikah itu benar dan dia malah menceritakan masa lalunya. Aku rasa itu yang merubah kepribadiannya.”

Woohyun mendengus “Jadi karena itu kau memintaku datang kesini? Hanya untuk mendengar ceritamu itu? Kau tau, aku buru-buru datang kesini dan belum mematikan Play Station ku!”

“Aku hanya ingin kau mendengar curahan hatiku, Woohyun-a” Sunggyu berjalan menuju jendela kamarnya dan membukanya. “Hah. Kau seperti gadis saja, Sunggyu-ya. Kau kan bisa menceritakan itu padaku besok di sekolah”

Sunggyu terdiam. Ia bingung pada dirinya sendiri. Kenapa gadis satu itu sangat menarik perhatiannya. Mungkin Sunggyu menyukai Eunji? Tidak, Sunggyu tidak mau menyimpulkan itu terlalu cepat. Mungkin saja ini hanya rasa simpati pada Eunji karena masalah dalam hidup Eunji.

Woohyun menggelengkan kepala melihat temannya yang satu itu. Woohyun kembali melihat-lihat koleksi komik Sunggyu dan mengambil salah satu lalu membacanya. “Baru kali ini aku melihatmu begitu penasaran pada seorang gadis. Aku rasa kau benar menyukainya, Sunggyu-ya” Sunggyu berbalik dan menepuk punggung Woohyun “Bukan begitu. Dasar bocah tengik.”. Woohyun hanya mendengus lalu kembali membaca komik Sunggyu.

Sunggyu membuka gerbang rumah Nenek Kim. Berjalan menuju pintu rumah dan mengetuknya. “Siapa?” terdengar suara seorang wanita dari dalam rumah. Tak lama, pintu pun terbuka “Mencari siapa, nak?” Sunggyu mengusap tengkuknya “Eunji sudah berangkat, halmeoni?”

-To Be Continued-

 

 

 

 

Advertisements

One thought on “Fallen into You [Twoshoot – 1 Part]

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s