[Multichapter] Story of Byun Family — Chapter 11

req-zulfhania-byun-family

Starring by.
Byun Baekhyun (EXO) | Kim Taeyeon (SNSD) | Kim Taehyung (BTS) | Kim So Hyun (Actrees)

Support casts.
Park Jimin (BTS), Yook Sungjae (BtoB), Lee Halla (The Ark), Park Jane (The Ark), Bae Irene (Red Velvet), Joy Park (Red Velvet), Jessica Jung (Ex-SNSD), Oh Sehun (EXO), and others

Genre. Family, Marriage-life, Brothership

Rating. PG-15

Length. Multichapter

zulfhania, 2015

Poster by Laykim © Beautiful Healer

Previous. Teaser | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10

Chapter 11

Bahwa luka yang ditorehkan oleh keluarga akan selalu menancap di dalam hati seseorang, bahkan hingga kehidupannya di masa mendatang.

.

Kondisi Taehyung kemudian membaik dengan pesat dalam waktu beberapa hari. Peralatan medis yang dulu membungkus hampir di seluruh tubuhnya, kini hanya ada selang infus yang terpasang di tangannya, selebih itu alat-alat medis lainnya telah dilepas dari tubuhnya. Meskipun kondisinya telah membaik, ia tetap tidak diperbolehkan pulang ke rumah dan disarankan untuk tetap tinggal di rumah sakit agar dokter dapat mengontrol kondisi Taehyung tiap beberapa jam sekali.

Banyak sekali hal yang berubah selama beberapa hari terakhir ini. Taehyung dengan cepat mengenali keluarganya. Ia sudah tidak lagi memanggil ayahnya, ibunya, maupun adiknya dengan suara yang canggung seperti pada hari-hari pertama. Kini ia memanggil ayahnya, ibunya, maupun adiknya dengan begitu akrab dan ceria.

Taehyung juga lebih sering tertawa, sangat bertolak belakang dengan kepribadiannya sebelum ia kehilangan memorinya. Sohyun sangat senang mendapati kakaknya yang kini banyak bicara. Ia selalu tidak sabar pulang sekolah untuk mampir ke rumah sakit dan berbagi cerita pada kakaknya. Ia juga seringkali menemani kakaknya pergi ke halaman rumah sakit untuk sekedar menghirup udara segar, tentu saja ia mendorong kursi roda kakaknya dengan hati-hati. Taehyung tidak begitu memikirkan kakinya yang tak bisa bergerak. Dengan ia bisa bernapas dan melihat dunia ini saja, ia merasa sudah amat bahagia.

Baekhyun dan Taeyeon juga tampak bahagia melihat putranya yang cepat pulih dan cepat beradaptasi dengan lingkungan barunya, seperti menghadapi Taehyung yang baru saja lahir kembali ke dunia ini. Ya. Taehyung yang baru. Benar-benar baru. Taehyung yang lama telah pergi meninggalkan mereka. Sempurna pergi dari kehidupan mereka. Butuh waktu bagi Baekhyun dan Taeyeon untuk menyesuaikan diri dengan kepribadian Taehyung yang sekarang, yang sangat berbeda dengan sebelumnya. Kini, lelaki itu banyak sekali bertanya, tentang hal-hal yang sama sekali tidak penting, persis seperti Sohyun. Hanya Sohyun yang langsung cepat akrab dengan kepribadian Taehyung yang sekarang. Baginya, memiliki kakak yang lebih banyak bicara dan mudah tersenyum serta tertawa lebih membuatnya merasa nyaman daripada memiliki kakak yang tidak banyak bicara dan tidak memiliki ekspresi sama sekali.

Namun hingga beberapa hari kemudian, semuanya tampak berubah. Perlahan demi perlahan, Taehyung kembali menjadi sosok yang acuh tak acuh dan berbicara apa adanya. Beberapa ingatannya mulai kembali. Dan Sohyun-lah yang pertama kali menyadarinya.

————————

Hari ini adalah akhir pekan. Sohyun datang ke rumah sakit unuk menemani Taehyung, sementara Baekhyun dan Taeyeon pulang ke rumah untuk mengambil beberapa pakaian ganti sekaligus istirahat sejenak di rumah. Selama Taehyung koma, Baekhyun dan Taeyeon harus bergantian untuk menjaga Taehyung sehingga mereka tidak pernah lagi tidur bersama. Maka dari itu, mereka berdua membiarkan Sohyun yang hanya menemani Taehyung dan mereka bisa tidur bersama lagi di rumah.

Sudah saatnya bagi Taehyung untuk makan siang. Sohyun membantu para suster meletakkan makanan di atas meja makan Taehyung yang sudah dirancang menyatu dengan ranjangnya. Menu makanan hari ini adalah sup dan Taehyung begitu menikmati makanannya.

“Apakah eomma sering memasak ini saat di rumah?” tanya Taehyung kalem sambil menyuap supnya ke dalam mulut.

Sohyun yang duduk di sebelah Taehyung tertegun. Ia menoleh pada kakaknya dengan mimik terkejut. “Kau sudah ingat?”

Taehyung mengedikkan bahu. “Hanya tiba-tiba saja merasa familiar dengan makanan ini.”

Sohyun menggelengkan kepala, berdecak. “Tidak mungkin. Kau pasti sudah mengingatnya, oppa.” ia lalu mencondongkan tubuhnya pada Taehyung, menatap kakaknya intens. “Coba katakan padaku, apa lagi yang sudah kau ingat?”

Lagi-lagi Taehyung mengedikkan bahu. “Aku tidak tahu.” jawabnya kalem, lalu kembali menyuap supnya. “Huah, ini benar-benar lezat.”

Sohyun mendesis, perlahan menarik tubuhnya kembali. “Kau tidak mengakuinya.”

Taehyung menoleh sebal pada Sohyun, lalu memukul kepala adiknya dengan sendok di tangannya. “Sudah kubilang aku memang tidak ingat.”

“Aw.” Sohyun memekik, memegang kepalanya. “OPPA!

Kemudian Sohyun dan Taehyung sama-sama tertegun. Merasa de javu.

“Apakah aku pernah melakukan hal itu padamu?” tanya Taehyung, menatap Sohyun dengan mata mengerjap.

Sohyun menurunkan tangannya dari kepalanya dengan gerakan pelan. “Iya.” jawabnya kemudian, benar-benar merasa terkejut dengan kebetulan macam ini.

Taehyung mengernyit sejenak, merasa aneh. Tetapi ia hanya mengedikkan bahunya dan kembali melanjutkan makannya, tidak begitu ingin memikirkan hal tersebut.

“Kenapa eomma dan appa lama sekali ya?” ia mencari topik lain. “Mereka tidak sedang bertengkar di rumah seperti biasanya, kan?”

Dan kali ini Sohyun benar-benar tertegun. Seperti biasanya, katanya? Ia memandang kakaknya dengan tatapan tidak percaya.

“Ingatanmu benar-benar sudah kembali, Taehyung oppa.”

Taehyung menyangkalnya setengah mati, berkata tidak mungkin dengan apa yang Sohyun katakan. Tetapi, tepat pada hari itu juga, Baekhyun dan Taeyeon pun sama-sama menyadari, kalau ingatan putranya sudah kembali ketika teman-teman Taehyung datang menjenguknya.

————————

Jimin, Sungjae, dan Joy berdiri di depan pintu kamar inap Taehyung dengan perasaan was-was. Sudah hampir 10 hari semenjak Taehyung siuman, inilah pertama kalinya mereka menjenguk Taehyung. Ada perasaan was-was dan khawatir yang meliputi mereka saat bertemu dengan Taehyung nanti. Jimin dan Sungjae sama-sama tahu kalau Taehyung mengalami amnesia gara-gara kecelakaan itu. Mereka khawatir saat bertemu dengan Taehyung nanti dan Taehyung tidak mengenali mereka, mereka tidak tahu apa yang harus mereka bicarakan dan malah menimbulkan suasana yang canggung di antara mereka. Maka dari itu, mereka memanggil Byun Sohyun untuk menemaninya di dalam kamar Taehyung. Tetapi tetap saja mereka masih merasa was-was.

“Ada eomma dan appa juga kok di dalam. Tidak usah khawatir. Kami akan membantu kalian bertiga.” kata Sohyun yang berdiri menunggu di depan pintu, menunggu keputusan ketiga orang itu.

“Ya sudahlah, masuk saja. Tanggung nih, sudah sampai sini. Kita juga sudah membeli ini,” kata Joy, menunjuk parsel di tangannya.

“Baiklah, kita masuk ke dalam.” putus Jimin akhirnya.

Sohyun melangkah masuk terlebih dahulu, menemukan kakaknya yang sedang duduk bersandar di atas ranjangnya, mendiamkan Baekhyun dan Taeyeon yang duduk di atas sofa.

Oppa, ada teman-teman sekolahmu datang kesini.”

Taehyung menoleh pada Sohyun, lalu memperhatikan dua orang lelaki dan seorang gadis yang membawa parsel di tangannya masuk ke dalam. Mereka bertiga tersenyum sopan pada Baekhyun dan Taeyeon sebelum mengarahkan pandangannya pada Taehyung.

Taehyung mengernyit, menatap mereka bertiga dengan tatapan bingung. Tetapi kemudian matanya membulat, merasa kenal.

“Oh, halo, Park Jimin, Yook Sungjae, dan—tunggu, sepertinya aku mengenalimu juga. Oh, aku ingat—Joy Park.”

Seluruh orang di dalam kamar Taehyung tertegun demi mendengar lelaki itu yang dengan santainya menyebut ketiga nama itu. Bahkan Baekhyun dan Taeyeon sampai menutup mulut saking tidak percayanya. Jimin, Sungjae, dan Joy pun tak kalah terkejutnya. Mereka menatap Taehyung yang duduk di atas ranjang dengan wajah terkejut, dengan tatapan tidak percaya.

“Lama tidak berjumpa. Bagaimana kabar kalian, Sahabat-sahabatku? Kenapa kalian baru menjengukku sekarang? Apakah kalian takut aku tidak mengenali kalian?” tanya Taehyung.

Dan di hari itulah, segalanya kembali berubah.

————————

Baekhyun dan Taeyeon duduk di balik meja dokter yang saat ini sedang menatap berkas-berkas di tangannya dengan tatapan serius, sementara Baekhyun dan Taeyeon menatap dokter itu dengan tatapan harap-harap cemas.

“Sungguh di luar dugaan, Baekhyun-ssi, Taeyeon-ssi.” kata dokter itu. Ia meletakkan berkas tersebut di atas meja, lalu menatap kedua orangtua itu dengan intens. “Taehyung mengalami kemajuan yang sangat pesat hanya dalam waktu beberapa hari. Sedikit banyak Taehyung mulai mendapatkan memorinya yang hilang. Seperti kepingan puzzle, satu persatu kepingan puzzle itu kembali ke tempatnya, mengisi bagian kosong yang sesuai. Begitu pula dengan ingatan putramu. Tanpa ia sadari, satu persatu memori yang hilang itu kembali ke dalam ingatannya. Namun masih ada bagian-bagian yang belum terisi, masih ada beberapa memori yang belum kembali ke dalam ingatan Taehyung. Kemungkinan besar memori yang hilang itu adalah memori yang sama sekali tidak berkesan untuknya, maka dari itu ia sulit untuk mengingatnya.”

Taeyeon menoleh pada Baekhyun dengan tatapan sedih. “Taehyung mengingat pertengkaran kita, Baekhyun.” katanya.

Baekhyun tidak menjawab. Pikirannya masih berkecamuk dengan perkataan dari dokter.

“Berarti pertengkaran kalian sangat melekat di dalam ingatannya.” Dokter membantu menjawab. Ia menghela napas sebelum kembali melanjutkan, “Menurut analisis data perkembangan Taehyung, kebanyakan memori Taehyung yang sudah kembali adalah memori mengenai keluarganya. Itu berarti dia sangat memikirkan keluarganya sebelum kecelakaan itu terjadi. Dia juga mengingat dengan begitu detail apa yang membuatnya mendapatkan kecelakaan. Cedera pada otaknya sama sekali tidak membuatnya berpikir lambat. Otaknya dapat dengan cepat merangkai seluruh kronologi itu. Sesungguhnya dia adalah anak yang cerdas.”

Kali ini Baekhyun yang menghela napas. “Aku tidak tahu itu merupakan kabar baik atau kabar buruk.” katanya sambil memijit pelipisnya yang berdenyut.

Dokter tersenyum. “Tentu saja itu kabar baik, Baekhyun-ssi.”

Baekhyun kembali memandang dokter itu.

“Meskipun putramu tidak begitu menyadari kalau ingatannya mulai kembali, tetapi setidaknya, saat ini, putramu bisa mengendalikan emosinya dengan baik setelah dia tahu apa yang membuatnya celaka. Dia tidak lagi marah padamu, tidak lagi marah pada istrimu, dan bahkan tidak lagi berniat untuk pergi kabur dari rumah sakit untuk menghindari kalian berdua, tidak seperti sebelum ia mengalami kecelakaan.”

Baekhyun dan Taeyeon terdiam, membenarkan ucapan dokter itu.

Dokter itu kembali tersenyum. “Kuucapkan selamat padamu, Baekhyun-ssi, Taeyeon-ssi. Karena kurasa Taehyung sudah bisa dibawa pulang ke rumah untuk menjalankan aktivitas seperti biasanya. Tetapi, ingat, tetap perhatikan kesehatannya. Karena kakinya belum pulih benar untuk dapat berjalan dengan normal.”

————————

“Selamat datang kembali di rumah, Taehyung oppa.” kata Sohyun sambil mendorong kursi roda Taehyung masuk ke dalam rumah.

Taehyung yang duduk di kursi roda mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah selagi Sohyun mendorong kursi rodanya menuju ruang tengah. Taeyeon mengekor di belakang anak-anaknya dengan tangan menjinjing tas berisi pakaian ganti yang selama ini ia simpan di rumah sakit, sementara Baekhyun masih memakirkan mobilnya di garasi.

Taehyung mengamati seisi rumah dengan tatapan tanpa ekspresi. Mulai dari ruang tamu di sisi kiri yang tadi sudah ia lewati, ruang tengah yang luas dengan televisi di sudut ruangnya, kamar mandi di belakang ruang tengah, ruang makan dengan meja yang cukup untuk empat orang yang bersambungan dengan dapur di sisi kanan, tangga besar yang tinggi melengkung ke lantai atas dengan pagar berukiran klasik, dan sebuah kamar tepat berada di antara tangga dan ruang makan. Taehyung mengamatinya dengan begitu detail, berharap ia dapat mengingat kenangan-kenangan yang pernah ia lalui dalam setiap jejaknya di ruangan-ruangan tersebut.

Baekhyun baru saja masuk ke dalam rumah ketika ia menemukan Taehyung terdiam di kursi rodanya sambil mengamati seisi rumah. Taeyeon juga baru saja turun dari tangga setelah meletakkan pakaian ganti di kamarnya di lantai atas ketika ia melihat Taehyung perlahan menggerakkan kursi rodanya dengan kedua tangannya sendiri.

Sohyun hendak meraih pegangan kursi roda begitu melihat kursi roda kakaknya digerakkan oleh kakaknya sendiri ketika Baekhyun memanggil namanya dan menyuruhnya untuk membiarkan Taehyung. Sohyun pun menghentikan niatnya dan mengikuti perintah ayahnya, membiarkan Taehyung menggerakkan sendiri kursi rodanya.

Taehyung berhenti tepat di depan pintu kamarnya. Susah payah ia memanjangkan tangannya untuk meraih gagang pintu dan membukanya. Ia kembali menggerakkan kursi rodanya masuk ke dalam. Baekhyun, Taeyeon, dan Sohyun juga berjalan mendekat, menghampiri kamar Taehyung. Dilihatnya Taehyung sedang mengamati setiap jengkal isi kamarnya, menyentuh kasurnya, menyentuh meja belajarnya, menyentuh lemarinya, menyentuh cermin besarnya, dan menyentuh jendela kamarnya. Ia membiarkan kenangan-kenangannya di dalam kamar itu meresap ke dalam ingatannya.

Begitu melihat Taehyung yang hanya terdiam di depan cermin besar, Baekhyun berjalan mendekati Taehyung, menyentuh pundak putranya sambil memandang wajah putranya lewat pantulan cermin.

“Kau ingat sesuatu?” tanya Baekhyun, menatap manik Taehyung dari pantulan cermin.

Taehyung mengangguk. “Ini kamarku, kan?”

Baekhyun tersenyum. “Apa yang kau ingat di dalam kamar ini?”

Taehyung terdiam sejenak. Ia melirik Sohyun yang masih berdiri di bingkai pintu kamarnya lewat pantulan cermin sekilas, lalu kembali memandang wajah ayahnya, juga lewat pantulan cermin, dengan tatapan tanpa ekspresi. “Aku dan Sohyun menangis.”

Baekhyun dan Taeyeon tertegun. Mereka menoleh pada Sohyun dan Taehyung bergantian dengan wajah bingung.

“Menangis?” ulang Baekhyun. Mungkin ia salah dengar.

Taehyung mengangguk. “Aku dan Sohyun menangis di dalam kamar ini. Tetapi aku tidak tahu kapan dan kenapa. Semuanya terlihat kabur.”

Baekhyun dan Taeyeon menoleh pada Sohyun dengan pandangan bertanya, berharap putrinya akan menjelaskan. Sohyun hanya balas menatap mereka tanpa ekspresi.

“Saat eomma dan appa bertengkar untuk yang pertama kalinya sepuluh tahun yang lalu.” jawab Sohyun kemudian.

Baekhyun dan Taeyeon lagi-lagi tertegun. Astaga, itu sudah lama sekali.

“Kami berdua menangis disini saat kami melihat eomma dan appa bertengkar untuk yang pertama kalinya.” tambah Sohyun.

Baekhyun dan Taeyeon tentu masih ingat dengan hari itu. Hari itu masih pagi, ketika mereka sarapan di ruang makan bersama Taehyung yang masih berumur 7 tahun dan Sohyun yang masih berumur 4 tahun. Taehyung berkata kalau hari itu adalah hari pembagian rapor kenaikan kelas dan meminta Baekhyun dan Taeyeon untuk datang mengambilnya. Tetapi Baekhyun harus pergi ke luar kota pagi ini untuk proyek kerjanya. Taeyeon juga sudah terlanjur janji untuk menghadiri launching penerbitan buku kesepuluh temannya yang merupakan seorang penulis bestseller. Baekhyun menyuruh Taeyeon untuk membatalkan janji itu dan memaksanya datang ke sekolah Taehyung. Tetapi Taeyeon tidak mau. Ia bersikeras akan datang ke acara temannya. Baekhyun marah. Taeyeon juga marah. Mereka berdebat. Bertengkar. Saling menyalahkan satu sama lain karena tidak peduli dengan anaknya sendiri. Suasana sarapan pagi di meja makan berubah kacau.

Baekhyun dan Taeyeon sama sekali tidak tahu kalau Taehyung menciut melihat mereka bertengkar. Tiba-tiba merasakan matanya memanas. Kemudian ia meraih tangan Sohyun yang masih tidak mengerti apa-apa untuk ke kamarnya. Menghindar dari pertengkaran kedua orangtuanya. Mengunci diri di dalam kamar. Menangis meringkuk di sudut ruang. Menutup kedua telinganya erat-erat saat suara pertengkaran itu terdengar hingga telinganya. Demi melihat kakaknya menangis, Sohyun ikut menangis. Ikut meringkuk dalam-dalam di sebelah kakaknya. Ikut terisak. Ikut menutup kedua telinganya. Tanpa mengerti apa-apa. Namun untuk orang secerdas Sohyun, ia bisa mengingat dengan baik kejadian sepuluh tahun lalu yang menyakitkan itu.

Baekhyun dan Taeyeon sama-sama terpekur saat mengingat kejadian itu. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau pertengkaran mereka begitu lekat dalam ingatan anak-anaknya, bahkan hingga meninggalkan luka yang dalam di hati mereka.

Tubuh Baekhyun meluruh ke bawah dengan wajah terpekur. Ia memutar kursi roda Taehyung untuk menghadapnya. Untuk menatap manik putranya dengan intens. Dan suaranya bergetar saat ia bertanya, “Benarkah? Apakah yang dikatakan Sohyun itu benar?” pada Taehyung.

Taehyung menggelengkan kepala. “Aku tidak bisa mengingatnya, appa. Sepuluh tahun lalu itu sudah lama sekali. Terlihat sangat kabur dalam ingatanku. Tetapi,” ia diam sejenak. “Aku bisa merasakan perasaan sakit yang teramat sangat saat aku mengingat kejadian itu.”

Baekhyun menjatuhkan kepalanya ke sandaran lengan kursi roda Taehyung dengan wajah terpekur. Terlihat sekali penyesalan dalam wajahnya.

Appa minta maaf, Taehyung. Appa benar-benar tidak tahu.” katanya kemudian, dengan suara bergetar, dengan suara yang terdengar menahan luka.

Taehyung hanya menatap Baekhyun dengan tatapan tanpa ekspresi.

“Maafkan appa.” Baekhyun mulai terisak.

Demi mendengar isakan Baekhyun, tangan Taehyung bergerak untuk menyentuh punggung belakang ayahnya, mengelusnya dengan gerakan pelan.

Taehyung memang tidak mengatakan apa-apa. Bahkan wajahnya pun tetap tidak menampilkan ekspresi apa-apa. Tetapi Baekhyun, Taeyeon, maupun Sohyun tahu, kalau Taehyung sudah memaafkan segala kesalahan ayahnya. Segala kesalahan keluarganya.

Keluarga Byun telah ditampar keras melalui kejadian yang menimpa Taehyung. Dan mereka berempat sama-sama belajar dari kejadian ini, bahwa luka yang ditorehkan oleh keluarga akan selalu menancap di dalam hati seseorang, bahkan hingga kehidupannya di masa mendatang.

————————

Hari ini Taehyung kembali ke sekolah.

Taeyeon sudah menyiapkan bekal untuk Taehyung agar putranya itu tidak makan yang aneh-aneh saat di sekolah. Sohyun juga membantu Taehyung saat membereskan buku-buku pelajaran kakaknya. Baekhyun juga membantu menggendong tubuh Taehyung saat putranya hendak naik ke dalam mobil. Kaki Taehyung masih belum membaik, maka dari itu ia masih tetap harus menggunakan kursi roda.

“Teman-teman di kelasmu pasti akan membantumu, Taehyung. Kau tidak usah khawatir.” kata Baekhyun sambil mengemudi mobil keluar dari perumahan. “Dulu, saat appa bersekolah juga ada teman sekelas appa yang kakinya cedera setelah bertanding sepakbola. Dia juga menggunakan kursi roda saat ke sekolah. Awalnya dia merasa minder, takut teman-teman sekelasnya akan mencelakainya, menghinanya, mem-bully-nya. Tetapi ternyata semuanya tidak seburuk yang dia pikirkan. Teman-teman sekelas appa merasa welcome dengan keadaan teman appa yang sekarang. Mereka bahkan membantunya dan tidak pernah membiarkannya dalam kesulitan. Jadi kau tidak usah khawatir kalau teman-teman sekelasmu akan menghindarimu. Mereka pasti membantumu, Taehyung.”

Baekhyun memang telah berubah banyak setelah pembicaraan mereka di kamar Taehyung waktu itu. Bahkan hanya dalam waktu dua hari, pria itu sudah banyak bicara, mengajak ngobrol anak-anaknya bagaimanapun situasinya. Tampaknya kejadian yang dialami Taehyung kemarin benar-benar memberikan efek jera untuknya agar lebih memperhatikan anak-anaknya.

“Taehyung, kau dengar appa berbicara, kan?” tanya Baekhyun, melirik Taehyung lewat kaca spion di dalam mobil karena merasa tidak mendapat respon dari putranya.

“Iya, appa.” jawab Taehyung, acuh tak acuh.

Taehyung juga mengalami perubahan. Meskipun lelaki itu masih saja acuh tak acuh pada keluarganya, tetapi ia tak lagi menyendiri. Ia mulai berbaur dengan keluarganya, mendengarkan celoteh adiknya, petuah ayahnya, bahkan curahan hati ibunya. Ia memang tidak berbicara apa-apa, tetapi ia mendengarkan dengan baik.

Baekhyun kembali berbicara tentang tetek bengek lainnya yang sebenarnya sama sekali tidak penting. Sohyun dan Taehyung masih merasa asing melihat ayahnya terus menerus berbicara sambil mengemudi mobil. Mereka membutuhkan waktu untuk menyesuaikan perubahan sikap ayahnya itu. Jadilah mereka hanya berdeham atau tertawa seperlunya saat mendengar ayahnya berbicara dan sesekali mengeluarkan lelucon—yang sungguh itu sama sekali tidak lucu bagi Sohyun dan Taehyung.

Taehyung melirik ke arah Sohyun selagi Baekhyun berbicara. “Appa cerewet sekali.” ucapnya pada Sohyun, tanpa suara. Dan Sohyun hanya cekikikan mendengar keluhan kakaknya.

TIN!

Tiba-tiba saja mobil yang dinaiki mereka oleng ke sebelah kanan, sementara mobil lain dari arah berlawanan melaju dengan cepat di sebelah kirinya dengan hanya berjarak beberapa senti, nyaris bertabrakan. Hal tersebut sontak saja membuat tubuh Sohyun, Taehyung, maupun Baekhyun sama-sama terbanting ke kanan. Untungnya mereka memakai sabuk pengaman sehingga mereka tidak membentur badan mobil. Tetapi hal tersebut cukup membuat Sohyun dan Taehyung merasa syok hebat.

Appa, ada apa?” tanya Sohyun, dengan suara yang masih terdengar syok.

Taehyung tidak sempat bertanya, karena ia merasa ngilu pada kakinya akibat gerakan mobil yang cukup mendadak.

Baekhyun yang juga masih merasa syok melirik ke belakang sekilas. “Kalian tidak apa-apa, kan?” tanyanya dengan suara khawatir. “Appa terlalu banyak bicara jadi tidak melihat ada mobil yang sedang menyalip dengan kecepatan tinggi dari arah berlawanan.”

Taehyung meringis. “Kalau begitu, appa fokus menyetir saja.” sahutnya. Tangannya memijit kakinya yang terasa ngilu.

“Iya, Taehyung. Appa minta maaf. Kau tidak apa-apa, kan?” kata Baekhyun.

Taehyung tidak menjawab. Baekhyun pun tidak mempermasalahkan putranya yang tidak menjawab pertanyaannya. Dadanya masih berdebar keras karena kejadian yang baru saja terjadi. Hampir saja ia mencelakai dirinya sendiri dan anak-anaknya.

Sebenarnya Baekhyun tidak sepenuhnya jujur berkata pada Sohyun. Ia memang tidak melihat ada mobil yang sedang menyalip dengan kecepatan tinggi dari arah berlawanan, tetapi penyebab utamanya bukan karena ia terlalu banyak bicara. Melainkan karena tiba-tiba saja ia merasa pandangannya mengabur, berputar-putar. Ia merasa pusing mendadak sehingga refleks menekan klakson mobil sambil membanting setir ke kanan begitu menyadari kalau ada mobil yang sedang melaju kencang ke arah mobilnya. Tetapi karena ia tidak ingin membuat khawatir putrinya, ia tidak memberitahu bagian dimana ia merasa pusing tadi.

“Oh iya, Taehyung, teman-temanmu jadi menjemputmu di depan gerbang sekolah, kan?” tanya Baekhyun, mencari topik lain.

Sepertinya ia ingin menghabiskan waktu di dalam mobil dengan berbicara pada anak-anaknya. Benar-benar perubahan yang luar biasa.

————————

Jimin dan Sungjae sudah stand-by di depan gerbang sekolah saat mobil Hyundai-KIA berwarna silver berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Kedua lelaki itu segera membantu Taehyung keluar dari dalam mobil dan mendudukkannya kembali di kursi roda. Mereka juga sempat bersalaman pada Baekhyun sebelum akhirnya pria itu kembali masuk ke dalam mobil dan pergi ke kantor. Sohyun sempat mendorong kursi roda Taehyung dan berjalan beriringan dengan Jimin dan Sungjae hingga akhirnya mereka berpisah di lapangan. Sohyun menuju gedung tingkat menengah bawah, dan Taehyung bersama dua temannya menuju gedung tingkat menengah atas.

Banyak mata yang mengarah pada Taehyung ketika Jimin dan Sungjae mendorong kursi roda Taehyung melewati koridor sekolah. Tetapi Taehyung tidak begitu mempedulikan. Ia hanya balas menatap orang-orang itu dengan tatapan tanpa ekspresi.

Begitu tiba di kelas 2-2, kelas yang tadinya ramai seperti pasar mendadak senyap saat Jimin dan Sungjae datang sambil mendorong kursi roda Taehyung. Sungjae mengantar Taehyung hingga sampai pada mejanya di belakang, sementara Jimin berhenti di muka kelas, berdiri di balik meja guru, dan memukul meja itu dengan tangannya, meminta perhatian dari teman-teman sekelasnya.

“Hari ini Taehyung kembali lagi ke sekolah setelah hampir dua bulan tidak masuk sekolah.” kata Jimin, membuka kalimatnya. “Seperti yang kalian lihat, kaki Taehyung belum pulih dan masih harus menggunakan kursi roda. Jadi kuharap kalian membantunya dan tidak mencari masalah dengannya.”

Taehyung melihat seorang gadis berambut panjang yang duduk tak jauh di sebelahnya menoleh ke arahnya. Dan ia tertegun begitu melihatnya.

“Dan ada hal lain yang perlu kalian ketahui.” Jimin menambahkan. “Taehyung kehilangan beberapa memorinya setelah kecelakaan.”

Kali ini seluruh murid di dalam kelas menahan napas dan menoleh ke arah Taehyung dengan tatapan terkejut sekaligus tidak percaya. Namun di antara keseluruh teman-temannya, Taehyung hanya balas menatap gadis berambut panjang itu. Satu-satunya yang menatapnya dengan mimik tidak terkejut.

“Sedikit banyak memori Taehyung sudah kembali. Tetapi karena ini adalah hari pertamanya dia kembali ke sekolah, jadi dia harus menyesuaikan diri terlebih dahulu. Dan mungkin dia akan merasa asing pada kalian, jadi harap pengertiannya dan mohon bantuannya.” tutup Jimin, lalu berjalan menuju bangkunya.

Ketika Jimin berjalan menuju bangkunya, sudah ada beberapa orang yang mengelilingi meja Taehyung, menatap lelaki itu dengan tatapan takjub.

“Baru kali ini aku melihat orang yang hilang ingatan secara langsung.”

“Byun Taehyung, kau benar-benar hilang ingatan? Daebak!”

“Kau ingat namaku, kan? Irene?”

Taehyung menggelengkan kepala pada Irene, lalu menatap satu persatu orang-orang yang mengelilingi mejanya dengan tatapan menyesal.

“Idola sekolah baru saja mengalami amnesia. Ini benar-benar akan menjadi topik hangat.” ucap salah satu teman sekelasnya dengan berlebihan.

Jimin langsung menabok kepala teman sekelasnya yang satu itu saat berjalan melewatinya. “Jangan coba-coba melakukannya.” ancamnya. Ia juga mengusir orang-orang di sekeliling meja Taehyung untuk tidak mengganggu Taehyung.

Ketika Jimin duduk di bangkunya, Taehyung menoleh pada lelaki itu. “Aku idola sekolah?” tanya lelaki itu.

Jimin menoleh, menunjukkan wajah terluka. “Aku ingin sekali mengatakan tidak, tetapi nyatanya aku harus menjawab iya.”

Tanpa sadar Taehyung tersenyum. “Berarti semua orang mengenalku?”

Lagi-lagi Jimin mengangguk. “Tetapi kau tidak mengenali semua orang yang mengenalmu.”

Taehyung kembali menoleh pada gadis berambut panjang yang saat ini sedang membaca buku di tangannya. Ia lalu mengedikkan pandangannya pada gadis itu. “Apakah dia mengenalku juga?”

Jimin mengikuti arah pandang Taehyung dan tertegun begitu menyadari kalau orang yang dimaksud Taehyung adalah Halla, gadis berambut panjang itu.

“Tentu saja. Dia kan teman sekelasmu.”

Taehyung menoleh pada Jimin, dengan tatapan ingin tahu. “Apakah aku mengenalnya? Atau mungkin… dekat dengannya?”

Kali ini Jimin memandang Taehyung dengan tatapan prihatin sekaligus terluka. Lelaki itu benar-benar tidak mengingat Halla.

Jimin menggelengkan kepala. “Tidak. Kau tidak dekat dengannya. Tetapi kau mengenalnya.” jawabnya kemudian, lalu memalingkan pandangan ke arah lain, tidak ingin membahas lebih lanjut mengenai hal itu. Tetapi batinnya melanjutkan, ‘Kau bukan hanya mengenalnya, Taehyung. Kau bahkan menyukainya.’

Taehyung agak mengernyit. Merasa aneh. Ya, benar-benar aneh. Ia merasa tidak mengenali gadis berambut panjang itu, tetapi di antara teman-teman sekelasnya, kenapa ia tidak bisa mengalihkan pandangannya sedetikpun dari gadis itu? Jimin bilang ia tidak dekat dengan gadis itu, tetapi ketika gadis itu bertatapan dengannya, kenapa ia merasa waktu berhenti berdetik dan tanpa sadar ia menahan napas. Jadi, sebenarnya siapa gadis itu?

————————

Dua minggu kemudian berlalu dengan cepat. Taehyung mengalami perubahan banyak. Ia mulai menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya di sekolah. Sedikit banyak ingatannya mulai kembali. Dengan cepat ia bisa mengingat kembali nama teman-teman sekelasnya, mata pelajaran di kelasnya, dan bahkan guru-gurunya di sekolah. Berterimakasihlah kepada teman-teman sekelasnya yang banyak membantunya selama ia hilang ingatan.

Kakinya juga sudah pulih. Ia tidak lagi menggunakan kursi roda. Ia bisa berjalan sendiri dengan kakinya. Bahkan ia sudah bisa bermain basket bersama teman-teman sekelasnya lagi seperti dulu.

Hanya saja ia masih belum mengingat satu hal.

Gadis berambut panjang itu, Halla. Taehyung belum ingat kalau ia pernah memiliki perasaan gadis itu.

————————

Suara gadis-gadis terdengar menjerit, bersorak, dan berteriak saat Taehyung bermain basket bersama teman-teman sekelasnya di tengah lapangan. Taehyung kembali menunjukkan popularitasnya sebagai idola sekolah setelah ia meninggalkan kursi rodanya. Hampir setiap kali istirahat, ia akan bermain basket ataupun sepakbola di lapangan bersama teman-teman sekelasnya. Hanya untuk sekedar mendengar jeritan para gadis—entah itu gadis tingkat menengah pertama atau tingkat menengah atas—yang duduk menontonnya di pinggir lapangan. Taehyung mengakui kalau ia cukup merasa senang dengan teriakan-teriakan para gadis yang memanggil namanya dengan berlebihan.

“Tidak seperti Taehyung yang kukenal.” komentar Jimin saat melihat Taehyung yang memandang para gadis di pinggir lapangan dengan tatapan yang antusias.

Sungjae mengangguk. “Amnesia mengubah pribadinya. Dia benar-benar berubah banyak.”

Jimin menghela napas saat ia melihat Halla duduk di antara para gadis di pinggir lapangan. “Aku jadi kasihan dengannya.”

Sungjae menoleh pada Jimin. “Siapa?”

Jimin mengedikkan kepala ke arah Halla. “Gadis itu.”

Sungjae juga menghela napas. “Mereka tidak begitu dekat selama ini, jadi Taehyung tidak begitu mengingatnya. Tetapi aku yakin ada saatnya Taehyung akan mengingat perasaannya pada gadis itu.”

Begitu Taehyung dan teman-teman sekelasnya selesai bermain, beberapa gadis di pinggir lapangan berlari mendekati Taehyung dan memberikan bingkisan pada lelaki itu. Namun Taehyung hanya tersenyum dan dengan halus menolaknya, berkata lebih baik uang yang dipakai untuk membeli bingkisan itu lebih baik untuk ditabung saja untuk kehidupan di masa mendatang. Dan demi mendengar ucapan Taehyung yang seperti itu, para gadis sempurna membeku, merasa semakin mengidolakan lelaki di depannya.

“Dia masih saja menolak bingkisan-bingkisan itu.” Jimin kembali berkomentar.

Sungjae tersenyum. “Tetapi dengan cara yang berbeda.”

Jimin terdiam, memperhatikan Taehyung yang tersenyum halus saat menolak bingkisan itu. Diam-diam ia membenarkan perkataan Sungjae. Ya. Taehyung menolak bingkisan itu dengan cara yang berbeda, dengan cara yang lebih ‘manusiawi’.

Ketika bel tanda istirahat telah usai, berbunyi, para gadis di lapangan bergegas masuk ke dalam gedung, begitu pun dengan Taehyung dan teman-teman sekelasnya.

Selagi Taehyung berjalan menuju kelasnya sambil mengelap peluh yang membasahi pelipisnya, seorang gadis berambut panjang berjalan mendekatinya dan menyodorkan saputangan padanya.

Lantas Taehyung menghentikan langkah dan tertegun. Menatap Halla dan saputangan di tangannya dengan pandangan bertanya.

“Kau membutuhkan ini untuk mengelap keringatmu. Pakai saja.” kata Halla sambil mengedikkan saputangan di tangannya pada Taehyung.

Taehyung mengambil saputangan tersebut dengan gerakan pelan. “Terimakasih.” katanya, agak gugup, bahkan ia merasa dadanya berdebar.

Taehyung benar-benar tidak mengerti. Selama dua minggu ini, setiap kali ia bertemu dengan Halla, ia merasa dadanya berdebar, tubuhnya lemas, dan suaranya terdengar gugup. Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri sebenarnya apa yang terjadi padanya, kenapa ia selalu saja merasakan hal seperti itu setiap kali bertemu dengan gadis itu, tetapi hingga saat ini ia belum juga menemukan jawabannya.

Halla tersenyum. “Justru seharusnya aku yang berterimakasih padamu, Taehyung.”

“Eh?” Taehyung bingung.

“Terimakasih karena telah meminjamkan saputanganmu itu padaku hari itu.” tambah Halla, mengedikkan pandangannya pada saputangan yang telah berpindah ke tangan Taehyung.

Taehyung tertegun.

“Sebenarnya sudah lama sekali aku ingin mengembalikannya padamu, tetapi kau tidak pernah masuk sekolah lagi setelah hari itu. Ketika kau sudah masuk sekolah, aku selalu saja tidak sempat mengembalikan sehingga aku selalu menundanya. Kau pernah bilang padaku kalau aku boleh mengembalikannya di saat aku ingin mengembalikannya padamu. Dan kurasa, saat ini adalah saat yang tepat untuk mengembalikannya padamu.” Halla tersenyum, menatap Taehyung dengan tatapan tulus. “Keringkan keringatmu dulu sebelum kau masuk ke dalam kelas. Kau tahu benar, kan, kalau keringat lelaki itu sangat mengganggu indra penciuman saat pelajaran sedang berlangsung?”

Setelah berkata begitu, Halla berlalu pergi, melangkah masuk ke dalam gedung sebelum Taehyung menangkap semburat merah di kedua belah pipinya. Ia melangkah mendahului Taehyung, meninggalkan Taehyung yang benar-benar tertegun.

Tiba-tiba saja memori beberapa bulan lalu terputar di dalam ingatan Taehyung. Saat ia meminjamkan saputangan pada gadis berambut panjang yang duduk di bawah pohon pada hari itu. Saat ia jatuh terduduk dengan tubuh lemas setelah meminjamkan saputangannya pada gadis itu. Saat malam harinya ia bertemu dengan gadis itu di tahanan, dengan wajah gadis itu yang tampak terkejut saat tatapannya bertemu dengan Taehyung lalu memalingkan wajahnya dengan salah tingkah dan hanya fokus memapah tubuh kakaknya, Jessica, untuk keluar dari tahanan. Benar, Jessica. Taehyung juga ingat dengan wanita itu sekarang, dengan pacarnya di diskotik itu. Dimana dia sekarang? Masihkah ia bekerja di diskotik itu? Atau di kafe itu? Taehyung benar-benar merindukannya. Semua memori itu terputar dengan jelas di otaknya. Membuat kepalanya pusing hebat. Berputar. Berpilin. Memusingkan mata.

Tubuh Taehyung merosot ke bawah dengan wajah terpekur. Kini, ia ingat. Taehyung sempurna mengingatnya, alasan di balik debaran di dadanya setiap kali bertemu dengan gadis berambut panjang itu.

—tbc

Chapter 11 is here!
Hihi ternyata aku nggak sabaran banget ya buat fast update. Sebenernya belum beli kuota sih, ini lagi nyuri kuota orang aja /read: orangtua/ hehe abisnya tanggung nih bentar lagi tamat, kalo nggak segera diselesain berasa menghantui di pikiran mulu /oke, ini lebay/
Hm, kayaknya chapter ini alurnya kecepetan banget yah, kayak maksa banget dibuat Taehyung inget secepet itu haha.. Tapi engga juga sih, dalam real life ada juga kok yang kasusnya kayak Taehyung. Terkadang emang luka yang ditorehkan oleh keluarga akan selalu membekas di dalam hati :’) /aku gatau dapet kata kata itu darimana, tiba tiba nongol aja di dalam pikiran/
Oiya, Taehyung akhirnya inget sama Halla dan Jessica juga ya? Oke, oke, next chapter adalah Taehyung’s Chapter, maksudnya adalah chapter khusus untuk Taehyung karena ngebahas Taehyung dan masalah percintaannya aja /ini seriusan/ Jadi, buat yang penasaran, ditunggu aja kelanjutannya yaa~ Kalo nggak pengen baca yang bagian romance bisa langsung di-skip ke chapter 13 kalo nanti udah di publish haha.. Btw, chapter 13 tamat loh! /eh? yah, dibocorin deh/ /langsung kabur ah/
Jangan lupa like dan comment-nya yah 🙂 Enjoy it, guys ^^

Advertisements

9 thoughts on “[Multichapter] Story of Byun Family — Chapter 11

  1. benera udh mau ending wah ga kerasa,keren sih di updatenya bener” cepet buat ff ini,. bacanya juga menguras emosi bgt,keren keren,. okeh next chaptnya ditunggu bgt ya

  2. Next next next. Kenapa cepet end sih? Kakak ngabisin ff kayaknya cuman seminggu. Beda banget sama aku yang mungkin ngabisin setaun #plakk XD. Baekie nggak apa-apa kan?? Jessie lagi mampir ke rumah ku jadi nggak muncul disini #ngimpi. Yuk dilanjut ^^

  3. Hah 😥 udah mau end
    Bagian siSohyun dikit yakk
    Banyakin dong thorr, kasih konflik kecil kek di sklhnya
    Hahahaha, abaikan aje
    Halla~~~~
    Fast updates thor 😚😚

  4. Chapter 13 udh end?😭😭
    Itu Baek kenapa? Gk kanker ato knp2 kn?😅. Kok mau ending malah begini😟, pacar aku kan kasian *lg gak sadar diri*.

    Btw.. bagus deh klo mereka jd happy family😍😍
    Fighting thor^^

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s