[Oneshoot] Baby Step

yoon bomi baby step cover ff with sungjae copy

Hey, I’m back NOW!

with

B A B Y   S T E P

“And I LOVE you, in the every STEP that I TAKE

starring by YOOK SUNGJAE BTOB and YOON BOMI A-PINK

Sad Romance, Hurt, Life

A FanFic By Yuna Lazuardi Lockhart
requested by Hanhyera – Rosaliana

Summary : Sungjae & Bomi adalah penari hebat yang suka mengikuti lomba menari di sana sini bahkan menjadi juara. Suatu ketika, mereka dipertemukan satu sama lain dalam suatu lomba. Mereka saling mengakui kehebatan menari mereka masing-masing. Tetapi, mereka tidak ingin menjadi yang nomor dua, karena mereka sama-sama ingin menjadi pemenang. Apa daya, memang salah satu dari mereka lah yang harus menjadi pemenang, dan yang satu lagi harus menerima kekalahan itu dengan pahit. Hal ini menimbulkan rasa kebencian antara mereka berdua. Lalu bagaimana bila suatu hari mereka menerima kabar kalau ternyata Sungjae dan Bomi menjadi pasangan duet dalam menari? Mungkinkah yang tadinya saling membenci, akan saling mencintai karena menjadi pasangan menari?

5.615 words

                                                                                                                                     

B A B Y   S T E P

.

.

.

“Selanjutnya, Yoon Bomi!”

Riuh tepuk tangan para penonton memenuhi salah satu studio termewah itu. Kilasan cahaya dan sorotan lampu menari indah di atas panggung megah yang tampak luar biasa. Dengan artistik klasik dan tema modern, disana begitu meriah. Yah ini lah Dancing Kingdom. Tempat dimana setiap dancer yg memiliki mimpi dan percaya akan mimpi, datang berjuang untuk memenuhi mimpi mereka. Dan disinilah ia -Yoon Bomi— sekarang. Berada diantara para penari lainnya untuk menguji bakatnya dan meraih mimpi.

“Kudengar kau lulusan oxford? Apa benar oxford sehebat itu?” Sapa seorang pemuda dengan senyum tersungging di bibirnya, membuat lengkungan indah yang begitu manis. “Kenalkan… Namaku Sungjae. Kurasa kita bisa bertemu lagi nanti.” Lanjutnya penuh percaya diri.

Kedua alis Bomi bertaut. Ucapan penuh percaya diri itu melebur di dalam dadanya, meresap dan memberikan simultan yang cukup untuk membuatnya kesal. “Yah, aku akan senang jika kita bertemu lagi. Setidaknya kita bisa tahu mana yang benar-benar kompeten dan mana yang cuma mengandalkan bakat…” Bomi membalas senyuman hangat pemuda itu, kemudian menatapnya tajam. “Aku tahu kemampuanmu. Tapi aku tidak akan mengalah disini.”

“Yah, setahuku lulusan luar negri itu lebih ahli dalam hal teori dari pada praktek. Makanya kebanyakan dari mereka berakhir sebagai dosen atau trainer.” Lagi, pemuda bernama Sungjae itu tersenyum. Tapi kali ini ia menarik ujung bibirnya seraya tersenyum tipis, mengejek. Pemuda itu meneruskan langkahnya kembali ke belakang panggung yang sempat terhenti tadi, sontak Bomi menoleh, “Aku tahu kemampuanku. Tapi sepertinya rasa percaya dirimu agak terlalu tinggi.” Ucapnya sambil menuju ke panggung.

Bomi melanjutkan langkahnya menuju panggung. Satu persatu anak tangga itu di naikinya dengan langkah yang tegas dan penuh percaya diri. Dan disinilah ia. Disebuah panggung megah yang memiliki banyak penonton. Sekali lagi, riuh tepuk tangan penonton membahana ke seluruh sudut ruangan. Sorotan demi sorotan lampu berfokus pada dirinya, dan disitulah musik berputar.

Alunan musik yang tenang dan mempesona itu menghipnotis seluruh penonton, sementara Bomi masih berdiri luwes ditengah panggung. Tak ada ukiran garis lengkung indah diwajahnya. Matanya yang sayu dengan bulu mata bak boneka itu membuatnya sangat anggun. Dengan langkah kecil ia mulai melangkahkan kakinya, mengikuti irama musik yang mulai naik ritmenya. Pertunjukan pun dimulai.

Dalam diam pemuda itu beridiri di belakang panggung. Sedikit, ia menarik tirai penutup panggung, mengintip pertunjukan yang tengah menampilkan Bomi yang anggun. Dari sana ia -Sungjae— terperangah. Mulutnya terbuka menjadi huruf o besar. Ini pertama kalinya ia begitu takjub pada tarian seseorang. Matanya yg hitam pekat itu masih menatap Bomi yg bersinar. Gerakan demi gerakan tarian itu serasa begitu menusuk jiwa. Ritme yang pas membawa semua orang yang melihatnya masuk ke khayalan masing-masing.

Tak terkecuali Sungjae. Pemuda itu tiba-tiba saja merasakan sesuatu yang aneh melanda dirinya. Entah apa yang terjadi, tapi begitu ia menoleh sekelilingnya jauh berbeda. Ia mengerjapkan matanya berulang kali, tak percaya dengan apa yang sedang menghampirinya. Sekilas tadi ia yakin kalau pikirannya sedang melayang sangat jauh hingga sanggup membuatnya melihat hamparan padang rumput dengan wangi bunga yang merekah. Gila. Yah, ini gila…

Apa itu? Gerakan itu… ada apa dengannya? Kenapa rasanya aku terhipnotis oleh gerakan demi gerakan itu? Demi Tuhan, sadarlah Sungjae!

Sungjae memukul pelan kedua pipinya sendiri. Ia keheranan dengan perasaan yang menyelimutinya saat ini. Bagaimana bisa hanya dengan melihat tariannya, ia begitu terpesona pada sosok yang tadi sempat diremehkannya. Langkah kakinya, ayunan tangannya, gerakan kepalanya, bahkan juntaian rambut yang jatuh di kanan dan kiri wajahnya itu seolah berbicara. Tarian ini begitu ajaib. Langkah ringan dengan ritme yang lumayan cepat. Tapi gerakannya begitu gemulai, memberikan sebuah spirit yang jelas. Menggugah perasaan terdalam setiap orang yang melihatnya, termasuk Sungjae.

Sungjae memegangi dadanya, “Ya Tuhan… Mengapa jantungku berdetak secepat ini hanya karena melihat tarian?”

***

 

Few month later. . . . .

Dentingan piano yang berulang itu terdengar jelas disana. Dengan nada-nada tinggi yang panjang dan menyentuh, ia mengiringi tarian seorang gadis kecil. Alunannya yang lembut dan melengking sedih menggema jelas. Cermin-cermin besar yang terpampang di setiap sisi dinding memantulkan tarian ballet yang begitu indah. Langkah-langkah mungil diatas lantai kayu itu menghangatkan suasana, seolah tak peduli dengan kepingan salju di luar sana.

“Jimin, coba angkat tubuhmu lebih tinggi. Jangan melompat dengan ujung kaki tertekuk dan cobalah tersenyum.” Wanita muda itu melipat tangannya di dada, keningnya berkerut sambil berpikir.

“Ahra, coba kau ayunkan tanganmu lebih luwes. Bayangkan kalau kau sedang ada disebuah padang rumput dengan bunga yang bermekaran. Hirup wanginya, lalu sentuh perlahan bunga-bunga indah itu.” ia melanjutkan, “Luna, lakukan hal yang sama dengan Ahra.”

Wanita itu kemudian merendahkan tubuhnya, lalu membantu Jimin mengangkat tubuhnya sedikit lebih tinggi seraya meluruskan kaki mungilnya yang tertekuk. Kemudian ia beralih pada si mungil berambut cokelat. Perlahan ia mencontohkan gerakan yang seperti membelai bunga di padang rumput yang luas. Tiga gadis kecil itu berhenti sesaat. Mereka lalu mencoba mempraktekan apa yang diucapkan mentornya.

“Baiklah, hari ini cukup sampai disini. Minggu depan kita akan ujian sebelum memasuki minggu-minggu kontes. Kalian harus banyak berlatih dan istirahat. Kalau menang, kita makan ice cream bersama, arraseo ?”

Arra, unnie~!

Detik berikutnya anak-anak itu menghambur pulang, sementara wanita itu masih duduk disana, termenung. Dalam dadanya seperti di jatuhi bongkahan-bongkahan es runcing yang lasung jatuh merusuk hatinya. Dilihatnya lagi deretan buffet di samping jendela yang memajang begitu banyak penghargaan dari ajang kontes menari. Dari mulai kontes kecil, sampai kontes berskala internasional yang di akui dunia. Di eja lagi dalam hati tulisan yang terukir indah disana, Yoon Bomi.

Bogoshippo batinnya sedih.

Ckelek. Pintu itu terbuka, menampilkan sesosok pemuda bertubuh tinggi tegap dengan mata kelam dan tatapan setajam elang, “Benarkah disini adalah tempat khursus ballet yang terbaik ? Bisa aku mendaftarkan keponakanku disini ? Ia punya bakat yang luar biasa walaupun masih anak-an—”

Ucapannya terhenti begitu Bomi berbalik. Dengan mimik yang tidak dapat diartikan itu ia menatap Bomi dalam. Lalu wajahnya berubah menyebalkan. “Jadi tempat ini milikmu ?”pemuda itu bertanya. “Aku Sungjae, kita pernah bertemu di Dancing Kingdom. Apa kau ingat, Yoon Bomi ?” lanjutnya kemudian.

Bomi mengangguk, “Tentu saja. Kau masih banyak bicara seperti waktu itu. Jadi, siapa nama keponakanmu ?”

Sungjae mendengus. Bola matanya berputar dan keningnya berkerut. Bibirnya kemudian membentuk lengkungan sinis yang menyebalkan. Lelaki itu tampak tengah menahan emosinya. “Nyatanya ucapanku benar. Lulusan luar negri itu cuma pandai teori. Dan hal itu juga berlaku padamu. Kau juga berakhir disini, menjadi trainer.” Ia berucap.

“Kurasa kau datang untuk mendaftarkan keponakanmu, bukan untuk berdebat. Apa aku salah ?” Bomi menaikan sebelah alisnya. Sejak dulu ia paling tidak suka di tantang. Dan sikap pria di hadapannya ini tengah menantangnya.

Sungjae tersenyum, “Kau tidak pantas menang. Ternyata aku benar, kan’? Aku tahu kalau kemenangan itu tidak akan berarti banyak untukmu…”

“Hentikan, itu sudah berlalu. Kenapa kau masih kesal dan mempermasalahkan kekalahanmu ? Kau kalah bukan salahku. Aku yakin mereka tidak menilai sembarangan. Ada apa denganmu ?” Bomi mulai kehilangan kesabarannya. Hampir saja ia berteriak, kalau tidak ingat keponakan Sungjae akan jadi muridnya.

Kali ini Sungjae menatapnya lekat-lekat. “Ayo bertanding. Satu lawan satu. Kalau kau menang lagi, maka aku akan mengakui kemampuanmu. Sejujurnya saat itu aku melihat seseorang menyuap jurinya sebelum kau naik, makanya aku tidak pernah menerima kekalahanku.”

“Jadi maksudmu, aku yang mengirim orang itu untuk membayar mereka ?!” suara Bomi meninggi, menggema di ruangan yang luas itu, “Aku tidak tahu apa masalahmu. Sejak awal sepertinya kau membenciku, entah karena kemampuanku jauh diatasmu atau karena hal lainnya. Tapi kau harus tahu, itu sangat kekanak-kanakan.” Lanjutnya.

Sungjae membelalakan matanya. Ia bergeming disana, tak mengatakan atau melakukan apapun. Wajahnya berubah tegas dan dingin, “Geurae… kita lihat, apakah kau bisa menandingi orang yang sangat kekanak-kanakan ini. Besok, jam dua siang di panggung Incheon, datanglah…” ucapnya seraya pergi.

Sepeninggal Sungjae, Bomi ambruk. Kakinya terasa lemas, tak sanggup menopang tubuhnya yang gemetaran. Yang tadi itu bukan hanya tak baik untuk mentalnya, tapi juga untuk tubuhnya. Perlahan, tangan mungilnya meraih botol kecil dengan butiran pil dari sakunya. Detik berikutnya ia menenggak beberapa butir pil itu lalu diam disana beberapa saat. Sebelah tangannya lagi ia gunakan untuk mengelus dada perlahan. Keningnya berkerut dan mulai berkeringat. Ya Tuhan, apa yang terjadi padaku ? ucapnya dalam hati.

***

 

Incheon. . . .

Bomi melangkahkan kakinya perlahan memasuki salah satu gedung pencakar langit paling terkenal di Seoul. Dalam hatinya terbesit sedikit keraguan, bukan karena takut kalah. Tapi karena takut kalau ia tak sanggup melakukannya. Debaran jantungnya sudah sangat tidak beraturan sejak ia membuka mata pagi tadi.

Kenapa ia datang? Untuk apa ia melakukannya? Apa yang membuatnya mau melakukan ini? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar dikepalanya, membuat langkahnya semakin pelan dan penuh ketidakpastian. Tapi disinilah ia sekarang. Di acara dance battle paling popular saat ini, Incheon Stage.

“Aku kira kau tidak akan datang hari ini…”

Suara itu membuat Bomi berbalik dan menemukan sesosok manusia yang paling tidak ingin ditemuinya sekarang. Ia bahkan tidak tahu kenapa harus datang, tapi di hatinya yang terdalam ia ingin datang. Ia ingin sekali lagi menari di atas panggung, di kelilingi penonton, mendengar sorak-sorai yang lama tak pernah diterimanya lagi, dibawah lampu sorot yang hanya berfokus padanya.

Sungjae tersenyum, “Kita akan lihat siapa yang benar-benar memiliki kemampuan sekarang…”

“Ya, ayo kita lihat.” Sahut Bomi datar. Saat ini ia sama sekali tidak peduli pada Sungjae yang terlalu banyak mengusiknya. Yang ia tahu, dengan menerima tantangan Sungjae, ia bisa kembali dan menari lagi diatas panggung. Melanjutkan mimpinya yang sudah lama mati.

“Aku benar-benar menunggumu dipanggung. Jangan lari.” Ucap Sungjae lagi. Kali ini mimik wajahnya begitu serius. Tersirat suatu misteri dibalik ucapannya kali ini, tapi tak tahu apa. Dengan mata kelam dan tatapan elangnya itu Sungjae menatap Bomi, membuat kedua bola mata mereka bertemu.

“Aku benar-benar akan melawanmu kali ini.” Balas Bomi.

Sungjae berbalik menuju panggung, “Yah, aku suka itu.”

Saat Sungjae menaiki panggung, Bomi mengekornya, membuat pemuda itu sedikit tersenyum penuh arti saat melihatnya.

Beberapa menit berikutnya di isi oleh perkenalan singkat Sungjae dan sebuah video sebelum lampu-lampu studio dimatikan dan music mengalun begitu cepat dan… indah. Tepuk tangan penonton mengiringi awal tarian Sungjae. Sorotan lampu yang hanya berfokus padanya memuat semua orang terpana, termasuk Bomi.

Dentuman music yang khas di sertai beberapa melodi bernada rendah itu sukses membuat decak kagum para juri. Gerakan yang tegas dengan kecepatan diatas rata-rata itu membuat Sungjae mendapat nilai unggul. Garis wajahnya yang maskulin itu tampak bercahaya. Dan entah mengapa Bomi mulai suka melihatnya.

Detik demi detik berlalu. Tanpa sadar tepuk tangan penonton sudah menggema kembali, tanda bahwa Sungjae sudah menyelesaikan tariannya. Kali ini Bomi yang terpana. Sosok Sungjae yang muncul dari kegelapan panggung menghipnotisnya, membuat jantungnya berpacu dua kali—tidak. Tiga sampai empat kali lebih cepat dari biasanya.

“Sekarang, ayo kita lihat kemampuanmu…” Sungjae menarik tangan mungil Bomi, membuatnya bangkit berdiri.

Perlahan Bomi berjalan ke tengah panggung, lalu menghampiri sang pianis yang duduk manis di sudut kanan panggung, memberikan sedikit aba-aba padanya sebelum memulai tariannya. Sama seperti Sungjae, ia juga harus memberikan perkenalan diri secara singkat. Tidak ada yang penting dari semua itu, tapi Bomi sengaja bercerita agak lama untuk mengulur waktu. Ia harus berpikir, apa yang akan ditampilkannya tanpa konsep dengan gerakan menyentuh yang menggerakan emosi orang-orang.

Tepuk tangan meriah pun mengiringi awal tariannya. Dentingan piano bernada tinggi dengan ritme yang lambat itu membuat seisi studio menjadi hening. Sama seperti sebelumnya, Bomi masih bergeming di panggung. Hingga nada piano itu meninggi, ia mulai beranjak. Lagi, wajahnya yang sendu tanpa dosa itu menemani tariannya. Gerakannya masih selembut sutra, langkahnya masih seringan kapas dan ayunan tangannya masih sehalus kelopak bunga di musim panas.

Sungjae yang duduk ditempatnya lagi-lagi terperangah. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini ia tidak terhanyut dalam gerakan Bomi yang menghipnotis. Tidak. Tariannya kali ini tidak sedamai padang rumput seperti waktu itu. Alunan music yang menyayat hati itu terdengar begitu perih, ditambah mimik wajahnya yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata, membuat orang-orang yang melihatnya dapat merasakan emosi yang begitu mendalam. Bukan. Bukan karena alunan musiknya yang begitu ballad dan menyentuh, tapi karena gerakan yang seolah sampai ke hati.

Akhirnya Bomi selesai. Setelah tarian itu perasaannya begitu kacau. Ada rasa bahagia yang membuncah dari dalam dirinya, begitu banyak hingga hampir meluap. Tapi ada juga perasaan was-was, takut dan ragu yang masih menyelimuti langkahnya yang mulai gemetar.

“Kau pucat. Gwenchana?” Sungjae bertanya begitu Bomi duduk di bangku kosong disebelahnya.

Gwenchana.” Jawabnya singkat, terlalu singkat sampai Sungjae tidak tahu harus berkata apa.

Baru beberapa menit duduk disana, Bomi tiba-tiba saja bangkit berdiri. Dengan cepat ia berlari menuju toilet. Sementara Sungjae hanya mampu duduk dan melihatnya dengan penuh tanda tanya. Ada apa dengan Bomi ? Hanya itu yang ia pikirkan sekarang. Tapi tak ada waktu untuk itu. Para juri tengah menilai dan akan memberikan hasil dari battle yang mereka lakukan.

“Setelah berdiskusi, para juri telah memutuskan pemenang dari Incheon Battle kali ini!” suara MC begitu bersemangat, hingga membuat Sungjae semakin penasaran dengan hasilnya.

“Pemenangnya adalah—”

Sementara itu. . . . . .

Bomi berjalan sempoyongan hingga ke toilet. Begitu disana, ia memilih bilik paling ujung yang tampak terpencil kemudian masuk dan mengunci pintunya. Dengan cepat ia menutup closet, lalu duduk diatasnya. Keringat dingin sudah mengalir membasahi dahi dan wajahnya. Kaki dan tangan yang lemas dan gemetar itu sudah ditahannya sejak ia menginjakan kaki disini. Bahkan saat duduk, kakinya tidak berhenti gemetar.

Rasa nyeri di dadanya semakin menjadi-jadi. Seolah kulit dan tulang dadanya menempel lalu dihisap kuat dan hampir lepas dari tempatnya. Nafasnya mulai sesak dan pandangannya kabur. Dengan sisa-sisa tenaga di raihnya botol kecil berisi pil berwarna halus yang selalu dibawanya. Dengan susah payah ia membuka tutupnya lalu menelan beberapa butir sekaligus.

Menit demi menit berlalu. Sambil menahan rasa sakit Bomi duduk lemas disana, menunggu pil-pil yang ditelannya barusan memberikan reaksi yang bagus, menghilangkan rasa sakit darinya. Pelan, ia mencoba menggerakan jemarinya yang sempat mati rasa. Hingga tak berapa lama, pil-pil itu bereaksi lebih baik dari dugaannya. Rasa sakitnya mulai berkurang, pandangan matanya jelas dan kakinya berhenti gemetar. Dengan perasaan lega, Bomi akhirnya keluar.

Cukkhae

Suara itu sempat mengejutkan Bomi. Di lihatnya Sungjae berdiri di depan toilet wanita, menunggunya. Wajahnya tampak lebih tenang sekarang, tidak menyebalkan, sinis dan dingin seperti sebelumnya.

Mianhae, biar bagaimanapun aku benar-benar keterlaluan kemarin. Dan soal keponakanku, noona-ku bilang, dia akan mendaftarkannya di tempatmu.” Ucapnya lagi.

Bomi tersenyum, menampilkan lengkungan terindah dibibirnya, “Gwenchana… aku justru ingin berterimakasih. Karenamu, aku bisa kembali ke panggung. Seandainya kau tidak menantangku kemarin, mungkin aku tidak akan pernah bisa menari diatas panggung lagi.”

“Kenapa ?” Sungjae menatap Bomi lekat-lekat.

Lagi, Bomi tersenyum, “Karena aku tidak bisa melanjutkan mimpiku.”

“Apa mimpimu ?” Tanya Sungjae lagi.

“Aku bermimpi untuk menari di panggung tertinggi. Dimana semua orang bisa melihatku dengan senyuman…” gadis itu membalas tatapan Sungjae, membuat manik mata mereka bertemu.

“Bagus! Kau tahu, kita diundang untuk tampil minggu depan. Kita akan mengisi acara di festival ulang tahun Incheon Stage. Eotte ? Luar biasa, kan’ ?” seru Sungjae.

Air muka Bomi seketika itu juga berubah. Dalam hatinya ingin sekali ia meng-iya-kan apa yang Sungjae katakan. Tampil di festival ? Tentu saja itu menarik. Tapi tidak akan menarik lagi kalau ia tiba-tiba pingsan ditengah pertunjukan. Aku begitu menyedihkan, batin Bomi.

Eottokhe ? Hal-hal luar bisa seperti ini mungkin hanya datang sekali! Kau akan mengambil kesempatan emas ini, kan’?” tanya Sungjae lagi, membuat hati kecil Bomi semakin menginginkannya.

“Ehm…a—aku tidak tahu akan mengambilnya atau tidak. Minggu depan aku punya ujian untuk murid-muridku sebelum memasuki minggu kontes.” Ujarnya.

Wajah Sungjae berubah serius, “Tawaran ini datang pada kita sebagai partner. Kita harus bersama-sama tampil disana. Apa kau yakin akan melewatkan kesempatan ini ? Kau memimpikan panggung tertinggi. Setidaknya untuk naik ke tempat yang tinggi harus melewati tempat yang rendah, kan’? Kecuali kalau kau memang mempunyai mimpi lain yang lebih kuat dibandingkan panggung tertinggi itu…”

“Bukan begitu. aku—”

“Apa ?” potong Sungjae cepat, “Kau hanya perlu berkata iya, dan masalah akan selesai. Kita tampil minggu depan.” Lanjutnya.

“Baiklah,”

***

 

“Yoon Bomi agashi, dokter Cho sudah menunggu.”

Pagi itu rumah sakit tampak masih sepi meskipun jam sudah menunjukan pukul delapan pagi. Mungkin badai salju yang baru saja berhenti menjadi penyebab utamanya. Jalan-jalan membeku, subway tertutup salju dan bus juga berhenti beroperasi. Tapi itu bukan masalah untuk Bomi. Tempat khursusnya yang hanya berjarak lima menit jalan kaki dari rumah sakit membantunya untuk pergi kesana tanpa hambatan berarti.

Ceklek. Bomi membuka pintu berwarna putih polos itu dan masuk ke ruangan dengan warna serupa. Disana duduk seorang dokter muda yang sudah beberapa bulan ini menjadi oppa sekaligus sahabat baiknya.

Annyeong, Bomi-ah~!” sapanya hangat, seperti biasa. Dan sama seperti biasanya, sapaan itu juga selalu berhasil membuatnya tersenyum.

Eotte ? Bagaimana kabarmu ? Apa ada hal menarik yang terjadi ? Kau tampak bahagia hari ini…” dokter itu bertanya.

Bomi tersenyum, “Kemarin aku ikut Incheon Stage, dan minggu depan aku akan tampil di acara festival mereka!”

Air muka dokter muda itu berubah, wajahnya yang tadinya hangat dan bersahabat kini dingin dan tegas, garis wajahnya yang telihat santai itu lenyap seketika. “Kurasa kita sudah sepakat, tidak ada lagi tarian yang membuang banyak energy, kan’?”

Kali ini perubahan itu terjadi pada Bomi. Senyum lebarnya yang tadi tak bisa hilang itu sekarang lenyap seketika. Keningnya berkerut dan alisnya bertaut, “Menari adalah duniaku. Impianku adalah berada di panggung tertinggi, tapi aku harus berhenti hanya karena—”

“Kecuali kalau kau tak mau bertemu ibumu, lakukan apa yang kau mau.” Potongnya cepat.

“Cho Kyuhyun!” seru Bomi. Gadis itu sudah menahan tangisnya yang hampir tumpah, “Aku seperti ini bukan karena keinginanku. Aku juga bukannya tidak mau disembuhkan. Tapi kau sendiri mengatakan kalau belum ada cara untuk menyembuhkannya. Itu artinya apapun yang aku dan kau –kita—lakukan, hasilnya akan tetap sama. Aku akan mati.”

Dokter itu menatap Bomi dengan wajah datar, “Kalau sejak awal kau berpikiran begitu, mengapa kau datang menemuiku ?”

“Aku ingin sembuh. Aku ingin kembali pada duniaku dan melanjutkan mimpiku.” Jawabnya cepat.

“Kau tahu jelas jawabannya, tapi berkata seolah kau mau hidup seperti ini selamanya. Mungkin itulah yang membuatmu belum bisa sembuh. Kau berpikir hasilnya akan sama. Tapi kenyataannya tidak. Saat kau berhenti, riwayat kesetahanmu membaik. Kita sama-sama tahu ketika kau menari, sama saja kau sedang membunuh dirimu perlahan. Lalu bagaimana kalau kau mati sebelum ibumu berhasil menemukan obatnya ?” dokter Cho menatap Bomi lekat-lekat.

“Hanya kali ini saja, aku ingin melakukannya. Ini yang terakhir kalinya, aku janji!” Bomi membalas tatapan itu dengan puppy eyes andalannya.

“Sebagai dokter aku tetap tidak menyarankannya. Semua keputusan ada ditanganmu. Kau tahu mana yang terbaik, jadi jangan berjanji padaku. Berjanjilah pada ibumu. Ia yang tengah berjuang mencari cara untuk menyembuhkanmu…” jelas dokter Cho pada akhirnya.

Bomi melangkahkan kakinya perlahan dari ruangan itu. Ia mendengar jelas apa yang dikatakan dokter Kyuhyun tentang penyakitnya. Sekeras apapun ia berpikir, otaknya meminta untuk mendengar ucapan dokter, tapi hatinya berkata lain. Ia sangat menginginkan pentas itu. sudah lama rasanya sejak ia merasakan perasaan bahagia yang membuncah saat menari.

Langkahnya terus berlanjut, hingga ia berdiri di sebuah ruko sederhana tempatnya menjalankan khursus ballet. Gedung itu hanya memiliki dua lantai, tidak seperti ruko lainnya. Dengan desain melebar dan balkon yang luas, tempat ini sempurna untuk dijadikan studio tari. Tempat yang dulu juga pernah di impikannya, tapi di hapus karena tidak menantang. Mata bulatnya yang jernih menatap sekali lagi pada bangunan di depannya, menerawang jauh tetang apa yang baru saja ia bicarakan dengan dokter Cho.

“Kita harus latihan, kan’?”

Suara itu tiba-tiba saja memecah keheningan dan membuyarkan lamunan Bomi. Tangan kekar yang kecokelatan itu tiba-tiba saja hinggap di pundaknya, merangkul dengan penuh kehangatan.

Bomi mencoba tersenyum, “Tentu. Ayo masuk…”

Mereka berdua memasuki studio tari Bomi. Fasilitas yang tersedia disana cukup lengkap. Dengan cermin besar yang bisa membantu mengkoreksi kesalahan, dan sound system yang terbilang lumayan untuk latihan.

“Pertama, kita harus tentukan tema.” Usul Sungjae.

Bomi tampak berpikir, “Aku selalu suka kisah romantis Romeo dan Juliet. Kurasa akan sangat menyentuh kalau kita gunakan tema itu.”

“Okay, aku suka itu. Berarti musiknya sedikit ballad dan temponya lambat. Gerakannya….” Sungjae terhenti, ia memikirkan bagaimana langkah selanjutnya.

Tiba-tiba saja Bomi bangkit. Ia juga menarik Sungjae untuk bangkit berdiri bersamanya. Kemudian ia memegang tangan pemuda itu, meletakannya di pinggul, lalu menyatukan tangan mereka yang lain seperti gerakan dansa.

“Kita bisa mulai dengan ini.” Ucapnya.

Kali ini giliran Sungjae. Tiba-tiba saja ia melepas genggaman tangannya pada Bomi, membiarkan gadis itu berputar kemudian menariknya ke dalam pelukan.

“Kalau begini, kita bisa membuat konsep musical, iya kan’?”

Bomi tertawa, dan begitu seterusnya. Mereka saling memberikan ide dan masukan-masukan satu sama lain hingga akhirnya terbentuk sebuah tarian bertema Romeo and Juliet berkonsep musical.

***

 

Day -1 festival

Malam itu lagi-lagi badai salju. Sungjae dan Bomi yang baru saja menyelesaikan latihan mereka duduk di ruangan studio itu dengan penuh keringat. Keduanya tengah duduk bersandar di dinding, menatap ke jendela yang di depan mereka.

“Bomi-ah, gwenchana ?” tanya Sungjae begitu melihat wajah Bomi yang begitu pucat.

Dengan segenap tenaga gadis itu mengangguk, “Gwenchana. Jinjja gwenchana

Sungjae yang yakin betul kalau Bomi tidak dalam keadaan baik memegang kening gadis itu, mengecek apakah ia demam atau semacamnya. Dan, yah… Suhu tubuh Bomi memang meningkat. Akan tetapi Sungjae merasa ada yang aneh. Sekali lagi ia mengecek keningnya, lalu menggenggam tangan mungilnya.

“Yoon Bomi! Kau demam, tapi ujung tangan dan kakimu menggigil. Ayo ke rumah sakit!” serunya kemudian. Pemuda itu menatap Bomi lekat-lekat. Gadis di hadapannya sudah seperti mayat hidup dengan wajah pucat dan lingkaran hitam disekitar mata.

Gwenchana…”

Kali ini Sungjae menarik lengan atas Bomi, bermaksud membuatnya berdiri. Akan tetapi gadis itu langsung menepisnya kasar, “Nan gwenchana!” serunya.

Andwe!! Kau sakit. Kita harus pergi ke rumah sakit sekarang!”

Bomi menatap Sungjae denga tatapan memelas, “Gwenchana, Sungjae-ah…”

“Kita akan ke rumah sakit sekarang.” Tegas Sungjae kemudian.

Lelaki itu kemudian bangkit. Ia meletakan tangannya di belakang lutut dan pundak Bomi, lalu memapahnya. Dilihatnya sesaat badai salju yang masih terjadi di luar. Sungjae melihat kesekitar, tapi tak ada selimut dalam studio. Ia pun berinisiatif dan melepaskan tirai jendela yang tampak lembut dan hangat, lalu melilitkannya ke tubuh Bomi, menjaganya tetap hangat sementara ia membawanya kerumah sakit.

Gwenchana” lagi, Bomi mengatakan kata-kata itu.

Sungjae menatap Bomi yang hampi-hampir tidak sadarkan diri, “Bertahanlah. Kita akan pergi ke rumah sakit.”

Dengan bermodal nekat, akhirnya Sungjae menerobos badai salju tersebut. Ia berlari secepat mungkin melawan udara dingin yang menusuk sampai ke tulang. Tidak ada satupun kendaraan yang lewat saat itu. Yah, ditengah badai begini, semua orang tengah asyik menikmati segelas cokelat panas sambil menonton TV. Hingga akhirnya ia sampai di Seoul Hospital. Rumah sakit besar terdekat yang ada disana. Dan itu akan menolong Bomi.

“Kau beruntung, Bomi-ah… Studiomu sangat dekat dengan rumah sakit.” Ucap Sungjae pelan, sangat pelan seperti bisikan.

Dengan langkah cepat, Bomi pun dilarikan ke ICU untuk mendapat perawatan. Disana ada lebih dari satu dokter yang langsung menangani Bomi. Tapi Sungjae melihat ada seorang dokter muda yang langsung masuk menerobos para dokter lainnya. Sekilas mereka beradu pandang. Sungjae tidak mengerti, tapi yang jelas ia sudah lega karena Bomi selamat.

ICU. . . .

Kyuhyun langsung menerobos rombongan para dokter magang yang sedang mengerumuni pasien itu. Dilihatnya dengan seksama, Bomi-lah pasien yang sedang ramai mereka bicarakan. Gadis itu terbaring lemah dengan wajah pucat disana. Dengan sigap Kyu memasang stetoskopnya, lalu memeriksa keadaan Bomi.

“Suster, tolong ambil sampel darahnya dan kirim ke lab. Ppali!” perintahnya pada seorang perawat yang berjaga.

Tak berhenti sampai disitu, Kyu kemudian mengambil jarum suntik. Ia menyuntikan beberapa jenis obat yang dia sendiri belum pernah menggunakannya. “Dokter Hong, ambil beberapa bius dan obat yang baru dikirim prof.Yoon kemarin. Dokter Lee, tolong pasang oksigennya. Dokter Jung, berdiri disana. Bersiaplah melakukan CPR jika diperlukan!”

“Dokter Cho, tubuhnya tidak merespon!” seru seorang dokter magang yang tengah memasang alat pacu jantung.

Sial! Apa yang sudah kau lakukan, Yoon Bomi!? Batin Kyu resah.

Setelah detik-detik menegangkan itu, akhirnya Bomi bisa diselamatkan. Kyuhyun yang baru saja keluar dari ICU langsung dihampiri oleh Sungjae. Pemuda itu dengan sigap bangkit saat melihat seorang dokter keluar dari ICU.

“Bagaimana keadaan Bomi, dok?” tanya Sungjae.

Kyuhyun menatap tajam Sungjae yang berdiri dihadapannya, bertanya soal Bomi seolah ia benar-benar khawatir. “Siapa kau ?”

“Aku Sungjae. Aku teman sekaligus partner tarinya di festival bes—”

BUUUAGGHHH.

Sebongkah tinju menghantam rahang kiri Sungjae amat keras, bahkan membuat bibirnya berdarah. Tanpa berpikir lagi, Kyuhyun langsung menghantam Sungjae begitu pemuda itu mengatakan kalau ia-lah orang yang secara tidak langsung ikut membunuh Bomi perlahan.

“Ikut aku, brengsek!”

Sambil menahan sakit, tanpa mengucapkan sepatah katapun Sungjae mengikuti kemana dokter muda itu pergi. Hingga mereka tiba disebuah ruangan khas dokter yang bernuansa putih polos.

“Duduk,” perintah Kyuhyun.

“Ada apa ? Kenapa kau memukulku ?” tanya Sungjae seraya duduk.

Kyuhyun menatap lelaki di depannya dengan tatapan membunuh, “Apa kau yang membuat Bomi mengikuti festival bodoh itu ? Apa kau juga yang membuat Bomi menari di Incheon Stage ?”

“Benar. Aku melakukannya! Kenapa ? Menari adalah dunia-nya dia menikmati setiap waktu latihan untuk tampil di festival.” Sungjae tersenyum sinis.

Kyuhyun tampak tak percaya dengan apa yang di dengarnya, “Bodoh! Saat kau mengatakan padanya untuk melanjutkan mimpinya dan kembali ke dunia-nya, maka sama saja kau sedang membunuhnya.”

“Apa yang kau bicarakan?” Sungjae mengerutkan keningnya.

“Yoon Bomi sakit. Dia terinfeksi virus yang tidak ada obatnya. Virus itu terus menyebar cepat menyerang sistem kekebalan tubuhnya. Kekebalan tubuhnya sama dengan nol. Kondisinya sama dengan orang-orang yang terinfeksi AIDS.” Kyuhyun menekankan setiap kata dalam kalimatnya.

“Dia tidak bisa terlalu lama terkena sinar matahari, atau terlalu banyak mengeluarkan energy. Setiap kali itu terjadi, maka tubuhnya yang akan menajdi korban. Perlahan sistem imunya akan menyerang organ penting. Orang tuanya adalah seorang professor yang sampai hari ini masih meneliti tentang virus yang menjangkit Bomi. Itu sebabnya aku katakan bahwa kau sama saja sedang membunuhnya. Apa kau mengerti ?” lanjutnya lagi.

Sungjae tidak bisa mengatakan apapun lagi setelahnnya. Lidahnya benar-benar kelu dan tubuhnya mematung disana bagai dipaku. Dalam bayangannya masih jelas senyuman Bomi yang seolah tanpa beban, raut wajahnya yang begitu bahagia saat berbicara mengenai dunianya dan gemulai tubuhnya yang menghipnotis saat menari. Semua itu berputar di kepala Sungjae, membawanya pada kenangan bertahun lalu…

#Flashback. . . . .

Hari itu Sungjae kecil berdiri di depan sebuah rumah minimalis bergaya barat. Dilihatnya seorang gadis kecil dengan mata bulat yang bersinar keluar. Dengan langkah ringan kaki-kaki mungilnya terus berjalan menghampiri Sungjae yang masih berdiri di depan rumahnya. Koper yang sama kecilnya dengan dia di seret dengan begitu antusias.

Anak lelaki itu penasaran, Kau mau kemana ? Sebentar lagi liburan musim panas akan berakhir. Apa kau akan berlibur ditempat yang jauh ?

Sungjae, coba tebak…” gadis kecil itu mengulum senyum.

Anak lelaki bernama Sungjae itu menatapnya dengan sedikit heran, Apa ?

Aku, ayah dan ibuku akan pergi ke Amerika! serunya.

Mata Sungjae terbelalak, Whoaahh Amerika ? Hebatnya! Apa aku boleh ikut ?

Andwe! potong gadis itu cepat.

Andwe ? Woyeo ? tanya Sungjae tak kalah cepat.

Gadis kecil itu tampak berpikir sebentar, Eomma bilang kami tidak akan kemali ke Seoul. Setelah dari Amerika kami akan melanjutkannya ke Paris, Jepang, Vienna, Singapore, Indonesia, Hongkong, Mesir, Eropa, Inggris dan masih banyak lagi. Kurasa orang tuamu tidak akan mengizinkan, kan?

Eh ? Kau akan keliling dunia ? Sungjae bertanya lagi.

Iya! Eomma bilang, aku bisa sekolah di Oxford nanti. Bukankah itu luar biasa ? Aku akan jadi penari paling terkenal nanti… ucapnya bahagia. Bagaimana denganmu ?

Tentu saja! Meskipun cuma di Seoul, aku juga akan jadi penari paling hebat. Kau tunggu saja! balas Sungjae tak mau kalah.

Baiklah, kalau begitu sampai jumpa nanti, saat kita sama-sama menjadi penari terkenal! gadis itu melambaikan tangan, Aku harap kita akan bertemu lagi nanti! serunya.

Sungjae yang melihat kepergian gadis itu masih terpaku disana. Dalam diam ia mengeluarkan tiga tangkai bunga berwarna-warni yang sedari tadi disembunyikan dibalik punggung. Yoon Bomi, kita akan bertemu lagi kan? gumamnya.

#Flashback End. . . . . .

 

“Lalu apa yang harus aku lakukan ?” lamunan Sungjae tiba-tiba buyar saat kata-kata itu keluar dari bibirnya.

Kyuhyun masih duduk disana, menatapnya seolah ingin sekali membunuhnya, “Berhenti membual tentang mimpinya, kemudian menjauhlah.”

“Aku tidak bisa menjauh darinya.” Jawab Sungjae cepat.

Kyuhyun menyeringai, “Kau pikir, kenapa Bomi memilih studio yang sangat dekat dengan rumah sakit ? Itu karena hidupnya bergantung pada rumah sakit. Setiap tiga hari sekali ia harus cek up dan menebus obat-obatan untuk bertahan.”

“Aku bisa membuatnya berhenti!” sanggah Sungjae.

“Kalau kau ingat, kita pernah bertemu di Dancing Kingdom. Aku adalah orang yang kau lihat tengah menyuap para juri tepat sebelum Yoon Bomi naik ke atas panggung. Kau pikir kenapa aku melakukannya ?” Kyuhyun menatap dalam manik mata Sungjae, mengintimidasi. “Aku melakukan itu demi menjaganya tetap hidup. Dia berjanji padaku. Kalau dia bisa memenangkan kontes itu, dia akan berhenti.” Lanjutnya.

“Aku juga akan membuatnya berhenti!” teriaknya frustasi.

“Bagaimana caranya ? Kau yang membuatnya kembali pada mimpinya, dan sekarang kau bilang akan membuatnya berhenti. Apa yang akan kau lakukan ?” tanya Kyuhyun serius.

Sungjae menarik nafas panjang, “Aku juga akan berhenti.”

***

 

Pagi itu Bomi membuka matanya. Dengan seragam putih bergaris ia bangkit dari tempat tidur kemudian mencabut infuse di tangannya. Sekilas ia melihat Sungjae disana. Pemuda itu duduk di sofa sambil memejamkan mata. Wajahnya terlihat begitu lelah, seolah tadi malam adalah malam terpanjang yang pernah dilaluinya. Pelan, gadis itu menghampiri pemuda yang masih terlelap. Jemarinya yang pucat membelai lembut rahang Sungjae yang memar, membuat pemuda itu terbangun.

“Bagaimana keadaanmu ? Apa ada yang sakit ? Apa perlu aku panggil dokter ?” pertanyaan beruntun itu lolos begitu saja melihat Bomi berdiri di hadapannya.

Bomi cepat-cepat menarik tangannya, lalu menatap mata kelam di depannya. “Nan gwenchana Tapi, Sungjae-ah, festivalnya ?”

“Lupakan festivalnya.” Kata Sungjae serius, “Kita tidak akan kesana. Dan kau lebih baik melupakan mimpimu, seperti sebelumnya…”

Bomi membelalakan mata, “Tidak. Kita harus tampil disana. Jam berapa sekarang ? Ayo berdiri! Kita akan kesana!”

Gadis itu beranjak ke samping tempat tidur, membongkar buffet kecil lalu mengeluarkan semua perlengkapannya dari sana. Dengan cepat ia memasukan barang-barang itu ke dalam tas, lalu menatap Sungjae dalam. “Aku sudah selesai. Ayo kita pergi.” Lanjutnya sambil melangkah keluar.

“Berhenti.” Sungjae bangkit, “Berhenti disana dan kembali ke tempat tidurmu. Aku akan panggil dokter untuk melihat keadaanmu.” Lanjutnya penuh penekanan.

Bomi mengalihkan pandangannya, ia melanjutkan langkahnya yang terburu-buru sambil menenteng tas besar di pundaknya. Ia tak peduli. Ia benar-benar tak mau lagi peduli soal apapun. Yang jelas ia ingin tampil di festival itu.

“Yoon Bomi, kubilang berhenti!!” Sungjae menarik lengan atas gadis itu, lalu menyeretnya kembali ke kamar. “Persetan dengan festival bodoh itu. Kau bisa mati!”

Bomi menarik nafasnya dalam. Perlahan air mata meluncur melalui kelopak matanya yang terbelalak. Disana ia masih menatap Sungjae, tak percaya dengan apa yang dikatakan pemuda itu. Dengan kaki gemetar gadis itu kembali melangkah keluar.

Geumanhe!!!” lagi, Sungjae menahan gadis itu. Kali ini suaranya meninggi, membuat orang-orang di sekitar berfokus pada mereka.

“Kumohon, berhenti. Jangan mati…” Sungjae menatap langsung pada manik mata Bomi yang sendu. Tanpa sadar, bulir bening itu keluar dari matanya yang kelam.

Bomi menarik nafas, “Ini yang terakhir kalinya, Sungjae. Aku ingin tampil disana. Kumohon…”

“Apakah kau ingat, dulu kita pernah lebih dekat dari ini ?” Sungjae memejamkan matanya, sontak kedua tangannya menarik tubuh mungil Bomi ke dalam pelukannya, “Sebelum kau pergi, aku kira kita akan tumbuh bersama-sama. Tapi nyatanya kau pergi dan tak pernah kembali. Saat aku melihatmu, kau benar-benar melupakan aku. Bukankah itu jahat ?”

Ucapan Sungjae kali ini sukses membuat Bomi bergeming. Gadis itu tiba-tiba saja teringat pada sesosok lelaki kecil yang dulu selalu menemaninya, “Kau… Yook Sungjae ? Benar-benar Sungjae ?”

Sungjae mengangguk, “Ya, Sunjae kecil yang tak bisa ikut atau pun menghentikan kepergianmu”

“Kenapa ?”

“Sama seperti sekarang. Aku ingin kau berhenti. Aku tak sanggup melihatmu lebih menderita dari ini. Jadi aku mohon…” pemuda itu mengeratkan pelukannya, “Dulu aku tidak bisa menghentikanmu. Andai waktu itu aku punya keberanian untuk membuatmu tetap tinggal, kita mungkin tidak seperti sekarang ini…”

“Sungjae-ah­, bantu aku mewujudkan mimpi terakhirku…” Bomi melepaskan pelukannya, kemudian menatap Sungjae penuh harap. “Cukup temani aku tampil di festival itu. Setelahnya, aku janji akan melakukan apapun demi kesembuhanku. Eotte ?”

“Tapi—”

“Aku memohon padamu. Perlukah aku berlutut ?”

“Baiklah.”

***

 

Bomi menatap kemegahan panggung di depannya. Akhirnya dengan segala upaya, Kyuhyun memberikannya kesempatan terakhir untuk menikmati dunianya. Jam sudah menunjukan pukul 18:25 KST. Lima menit lagi pertujukan akan dimulai. Bangku-bangku penonton sudah semuanya penuh. Bahkan tak sedikit yang rela berdiri di depan panggung.

Yah, mereka adalah pembuka acara. Lampu-lampu sorot mulai menyala dan lampu mulai di padamkan. Panggung megah itu menjadi gelap, dan jantung Bomi berdebar tak karuan. Sungjae yang merasakan hal itu menggenggam tangan Bomi lebih erat, hingga beberapa menit kemudian mereka mendapatkan aba-aba untuk memulai.

3…

2…

1…

Pertunjukan dimulai.

Alunan music melantun begitu lembut di pendengaran. Suara biola yang penuh keindahan itu memberikan suarasa romantis bagi siapapun yang mendengarnya. Detik berikutnya lampu sorot menyala. Sorotan yang jelas itu berfokus pada mereka berdua –Bomi dan Sungjae— yang berdiri terpisah di kanan dan kiri panggung.

Sungjae dari sisi kiri menghampiri Bomi dalam diam. Wajahnya yang maskulin membuat gadis-gadis disaha berteriak histeris. Dengan langkah mantap yang pasti ia menghampiri Bomi di sisi kanan panggung. Dengan gerakan bak pemain musical professional, Sungjae mengulurkan tangannya pada Bomi, memintanya berdansa.

Mereka tersenyum satu sama lain, menggambarkan kebahagiaan yang sampai pada penonton saat berdansa menuju ke tengah panggung. Akan tetapi tiba-tiba saja Bomi terhuyung kebelakang, sontak Sungjae dengan refleks menyanggah punggungnya hingga tampak seperti bagian dari pertunjukan. Keringat dingin mulai meluncur dari dahi Bomi, akan tetapi mereka terus menari mengikuti alunan musik. Sungjae tahu, bahwa ada yang tidak beres pada Bomi meskipun wajahnya tampak baik-baik saja. Yah, gadis itu selalu pandai menyembunyikan segalanya.

Menit demi menit berlalu. Sejauh ini tak ada yang salah pada pertunjukan mereka. Gerakan demi gerakan yang luwes nan gemulai itu begitu menghipnotis penonton. Tampak wajah mereka begitu serius dan terperangah melihat dua insane yang memadu kasih di tengah panggung, hingga akhirnya Bomi terjatuh.

Putaran terakhir itu tidak begitu baik, sehingga Bomi kehilangan keseimbangan sekaligus kesadaran. Pandangan terakhir yang ia lihat adalah Sungjae. Dan memang benar, Sungjae dengan lembut mengecupnya saat ia terjatuh sebelum memapahnya keluar turun dari panggung tepat saat music berakhir. Dan pertunjukan itu berakhir sempurna di iringi tepuk tangan meriah dari para penonton.

“Aku memenuhi janjiku, Bomi-ah… Kita sukses menampilkan tarian yang menggugah jiwa setiap orang. Lalu bagaimana dengan janjimu padaku ?”

-END-

Hai… hai kak Ros~

Hutangku padamu (?) lunas sudahhh…

mind to review ?

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s