[Multichapter] Story of Byun Family — Chapter 10

req-zulfhania-byun-family

Starring by.
Byun Baekhyun (EXO) | Kim Taeyeon (SNSD) | Kim Taehyung (BTS) | Kim So Hyun (Actrees)

Support casts.
Park Jimin (BTS), Yook Sungjae (BtoB), Lee Halla (The Ark), Park Jane (The Ark), Bae Irene (Red Velvet), Joy Park (Red Velvet), Jessica Jung (Ex-SNSD), Oh Sehun (EXO), and others

Genre. Family, Marriage-life, Brothership

Rating. PG-15

Length. Multichapter

zulfhania, 2015

Poster by Laykim © Beautiful Healer

Previous. Teaser | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9

Chapter 10

Tuhan, apabila memang Kau sedang menamparku saat ini, tolong tampar aku saja. Jangan libatkan anggota keluargaku. Jangan libatkan istriku. Jangan pula libatkan putra dan putriku.

.

Taeyeon menolehkan kepala begitu mendengar suara pintu dibuka. Ia melihat Sohyun yang mengenakan seragam sekolah masuk ke dalam kamar inap Taehyung dengan tangan memegang sekantong plastik berukuran sedang.

“Kau sudah pulang, Sohyun?” tanya Taeyeon begitu melihat putrinya.

Sohyun tersenyum, menghampiri ibunya, dan memeluknya sejenak.

“Bagaimana kabar oppa?” tanya Sohyun, melirik ke arah Taehyung yang masih berbaring di atas ranjang dengan mata terpejam.

Taeyeon terdiam sejenak, lalu menggelengkan kepala. “Belum ada perubahan.”

Sudah empat hari berlalu semenjak Taehyung dirawat di rumah sakit, lelaki itu belum juga sadarkan diri. Tidak ada perubahan apa-apa yang terjadi padanya selama empat hari ini. Taehyung masih tetap diam tak bergeming di atas ranjangnya, tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan disana, selain alat pendeteksi jantung yang menunjukkan bahwa lelaki itu masih bernapas.

Tak ingin membuat suasana berubah sedih, Taeyeon kembali bersuara. “Kenapa kau tidak pulang ke rumah dulu untuk mengganti seragammu, Sohyun~a?”

“Tadi saat perjalanan pulang dari sekolah, aku melewati toko bunga dan tak sengaja melihat bunga ini.” Sohyun mengeluarkan beberapa tangkai bunga berwarna putih yang beraroma harum dari dalam kantong plastik berukuran sedang di tangannya.

Taeyeon mengernyit begitu mengenali bunga yang jarang dijumpai di negaranya tersebut. “Bukankah itu bunga sedap malam? Untuk apa bunga itu?”

Sohyun mengangguk. Ia melangkah mendekati vas bunga yang kosong di atas nakas di sebelah ranjang kakaknya. “Guruku pernah bilang kalau bunga sedap malam dapat memperbaiki ketenangan pikiran dan fisik seseorang. Aromanya dapat menstimulasi sisi kanan otak untuk memberi ketenangan di pikiran dan hati. Jadi aku membelinya, dengan harapan bunga ini dapat membantu Taehyung oppa agar kesehatannya membaik. Eomma tahu? Bunga ini diimpor langsung dari Indonesia karena khasiatnya sangat berguna untuk kesehatan.” katanya, lalu memasukkan beberapa tangkai bunga sedap malam ke dalam vas bunga setelah diisi oleh air.

Taeyeon tersenyum memandang Sohyun. Putrinya belajar dengan baik di sekolah. Ia selalu mengingat dengan baik perkataan guru-gurunya. Demi menyadari hal tersebut, Taeyeon benar-benar merasa bangga pada putrinya. Ia semakin yakin kalau putrinya akan menjadi orang yang hebat di masa depan. Ya, Taeyeon bisa membayangkannya.

Taeyeon membiarkan Sohyun mengurusi bunga sedap malamnya. Ia kembali memeriksa kantong infus Taehyung dan menyadari cairan di dalamnya sudah mulai berkurang.

“Sohyun~a, eomma akan keluar dulu untuk memanggil suster. Cairan infus oppa-mu sudah hampir habis. Kau jaga oppa-mu ya.” kata Taeyeon.

Sohyun hanya berdeham. Taeyeon pun keluar dari kamar inap Taehyung dan menghampiri meja perawat, memanggil salah satu suster dari sana, dan mengajaknya ke kamar inap Taehyung untuk mengganti kantong infus putranya. Namun belum sempat Taeyeon dan suster itu masuk ke dalam kamar inap Taehyung, terdengar suara pekikan yang menyayat hati dari dalam sana.

Lantas Taeyeon segera masuk ke dalam dengan bergegas, begitu pun dengan suster itu. Dan betapa terkejutnya ketika ia melihat alat pendeteksi jantung menunjukkan garis zig-zag yang tidak teratur dan bergerak cepat dengan suara yang melengking tinggi. Sohyun menangis dengan wajah ketakutan bercampur khawatir di sebelah ranjang Taehyung, hendak menyentuh tubuh kakaknya namun selalu urung ia lakukan. Sementara itu, di atas ranjang sana, Taehyung yang matanya masih terpejam mengalami kejang.

Oppa~ oppa~” Sohyun menangis semakin hebat ketika dilihatnya tubuh Taehyung bergerak-gerak tak keruan.

Taeyeon segera mendekati Sohyun, memeluk putrinya yang terisak, dan menenangkannya. Sementara suster itu melangkah mendekati Taehyung, menekan tombol merah di dinding di atas ranjang Taehyung, lalu memeriksa keadaan lelaki itu.

Eomma, oppa kenapa?” tanya Sohyun sambil terisak, memandang takut ke arah Taehyung. Wajahnya benar-benar memerah karena tangis.

Taeyeon tidak menjawab, hanya menenangkan putrinya yang terisak semakin hebat melihat keadaan kakaknya.

Dokter datang tak lama kemudian dan segera memeriksa keadaan Taehyung dengan cekatan.

“Tekanan darah menurun drastis, dokter. Pasien sudah mengalami kejang lebih dari 3 menit.” kata suster menjelaskan selagi dokter memeriksa.

Dokter menurunkan stetoskop dari telinga dan menatap suster intens. “Persiapkan ruang operasi.”

“Baik.” Lantas suster segera berlari keluar dari kamar inap Taehyung.

Dan demi mendengar kata ‘operasi’ dari mulut dokter, tubuh Taeyeon melemas. Ia tak bisa membendung airmatanya lagi.

Eomma~” Sohyun juga semakin terisak. Ia memeluk erat tubuh Taeyeon, melampiaskan rasa takutnya pada ibunya.

Taeyeon balas memeluk. Bibirnya digigit kuat-kuat. Tangannya yang gemetar mengelus pelan punggung putrinya.

“Tidak apa-apa, Sohyun~a. Tidak apa-apa. Oppa-mu pasti baik-baik saja.” kata Taeyeon dengan suara bergetar. Padahal Taeyeon sendiri meragukan akan hal yang baru saja dikatakannya.

Taehyung kejang. Tekanan darah menurun drastis. Dan akan kembali di operasi. Lelaki itu sudah pasti tidak baik-baik saja.

————————

Taeyeon menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya. Airmata mengalir dari sela-sela jemarinya. Mengalir turun. Jatuh membasahi lengannya. Berhenti di siku. Lalu jatuh membasahi roknya.

“Bertahanlah, Taehyung~a.” lirihnya pelan, terisak.

Sejam sudah berlalu sejak Taehyung dibawa ke ruang operasi, namun operasi belum juga selesai. Sohyun sudah tertidur di atas sofa kamar inap Taehyung setengah jam yang lalu setelah menangis hebat melihat keadaan kakaknya. Hanya Taeyeon yang duduk menunggu di bangku tunggu di depan ruang operasi. Menunggu Taehyung. Menunggu operasi selesai.

“Kim Taeyeon.”

Taeyeon menyeka airmatanya begitu mendengar suara yang amat sangat dikenalinya. Ia menoleh ke arah suara dan menemukan Baekhyun dengan seragam kerja yang masih membungkus tubuhnya, berlari menghampirinya dengan bergegas, dengan wajah panik bercampur khawatir.

“Apa yang terjadi, Taeyeon?” tanya Baekhyun setelah duduk di sebelah istrinya.

Taeyeon menyeka matanya saat merasa airmatanya membendung kembali di pelupuk mata. “Taehyung kejang, Baekhyun. Tiba-tiba. Sohyun sampai ketakutan melihatnya.”

Baekhyun terpekur. Pandangannya mendadak kosong. Bahkan rasanya ia merasa tak sanggup lagi untuk bernapas.

“Tekanan darahnya menurun drastis. Kerja jantungnya lemah. Otaknya tak dapat befungsi dengan baik.” Taeyeon kembali menangis, menutup wajahnya dengan kedua tangannya. “Kondisinya semakin parah, Baekhyun.”

Baekhyun memalingkan pandangannya ke arah lain saat merasa pandangannya mengabur oleh airmata. Jemarinya dengan segera menyeka pelupuk matanya, membiarkan air hangat itu berpindah pada jemarinya. Sambil menggigit bibir, tangannya bergerak perlahan meraih pundak Taeyeon, menariknya ke dalam pelukan.

Tak ada yang bisa ia katakan pada Taeyeon untuk menenangkan istrinya. Ia tak mau mengatakan sesuatu yang bahkan tidak tahu apakah itu akan terjadi atau tidak. Maka dari itu ia hanya bisa mengelus pelan pundak istrinya, memeluk istrinya, menenangkan istrinya, sementara Taeyeon semakin terisak hebat dalam pelukan suaminya.

Ketika operasi selesai, Taeyeon sudah tertidur dalam pelukan Baekhyun dengan wajah basah oleh airmata. Dokter keluar dari ruang operasi dan Baekhyun membangunkan istrinya. Mereka berdua sama-sama menghampiri dokter dengan tatapan harap-harap cemas.

“Kondisinya sangat buruk sekali, Baekhyun-ssi, Taeyeon-ssi.” Kalimat itulah yang pertama kali keluar dari mulut dokter saat Baekhyun bertanya. “Operasi memang berjalan dengan lancar. Tetapi aku tidak bisa memastikan kalau kondisinya akan segera membaik setelah ini. Otaknya mengalami cedera parah dan itu benar-benar berdampak fatal untuknya.”

Taeyeon kembali menangis lagi dalam pelukan Baekhyun.

Baekhyun, dengan pandangan kosong, menatap ke arah dokter, mengeluarkan suaranya dengan lirih, “Lalu apa yang harus kita lakukan, dokter?”

“Kita tunggu sampai beberapa hari lagi. Kalau memang dalam jangka waktu seminggu ini Taehyung tidak lagi mengalami kejang, berarti kondisinya mulai membaik. Namun kalau Taehyung kembali mengalami kejang,” Dokter tak segera melanjutkan perkataannya. Ia hanya menatap Baekhyun dan Taeyeon prihatin, lalu menghela napas. “Berdoa saja itu tidak terjadi lagi.”

————————

Malam sudah larut. Taeyeon baru saja kembali ke rumah sakit setelah mengantar Sohyun pulang ke rumahnya. Esok hari masih hari aktif sekolah, putrinya harus tidur dengan tenang di rumah agar tidak lagi membolos seperti hari-hari kemarin.

Ketika Taeyeon kembali ke kamar inap Taehyung, ia menemukan Baekhyun duduk terjaga di sebelah Taehyung dengan tangan menggenggam erat tangan Taehyung yang diinfus tanpa sama sekali mengalihkan pandangannya dari wajah Taehyung. Taeyeon menghela napas sejenak. Sejak Taehyung dikembalikan ke kamar inap setelah operasi, Baekhyun terus saja duduk disana, menggenggam tangan putranya, tanpa sama sekali mengalihkan pandangannya dari wajah Taehyung. Ia menolak diajak makan malam, menolak disuruh mandi, dan bahkan suaminya itu masih mengenakan seragam kerja. Baekhyun sama sekali tidak ingin beranjak dari sana. Dan itu benar-benar terlihat menyakitkan di mata seorang Taeyeon, istrinya.

Taeyeon melangkah dengan pelan mendekati Baekhyun, menyentuh kedua pundak suaminya, lalu berkata pelan, “Pulanglah, Baekhyun. Biar aku yang menjaganya disini.”

“Aku ingin tetap disini, Taeyeon.” kata Baekhyun, dingin.

“Besok kau harus kerja, Baekhyun.” kata Taeyeon.

“Aku ingin tetap disini, Taeyeon.”

“Kau harus istirahat, Baekhyun.”

“Sudah kubilang aku ingin tetap disini!” Baekhyun malah membentak.

Mata Taeyeon terasa memanas setelah mendengar bentakan Baekhyun. Sikap keras kepala suaminya kembali muncul ke permukaan. Dan ia tidak bisa menghentikannya.

“Besok Taehyung ulangtahun.” Baekhyun kembali bersuara, suaranya terdengar putus asa. “Aku ingin menemaninya disini.”

Taeyeon menghela napas berat, berusaha mengontrol airmatanya yang mulai menggunung di pelupuk mata.

“Kita batal pergi jalan-jalan.” Baekhyun kembali melanjutkan. “Kita batal merayakan hari ulangtahun Taehyung dengan pergi jalan-jalan. Dan aku batal memperbaiki semua kesalahanku padanya.”

“Ini bukan salahmu, Baekhyun.” sela Taeyeon.

“Ini semua salahku, Taeyeon.” Baekhyun bersikeras.

Taeyeon menggelengkan kepala.

“Kalau saja aku tidak keras kepala malam itu, tidak menampar wajahnya, tidak membentaknya, dan tidak membiarkan Taehyung pergi kabur, mungkin ini semua tidak akan terjadi.” tambahnya, diiringi dengan suaranya yang terdengar bergetar. “Mungkin Taehyung tidak akan kecelakaan. Mungkin Taehyung tidak akan terbaring disini. Dan mungkin Taehyung tidak akan koma pada hari ulangtahunnya. Siapa yang menyangka kalau kita akan merayakan hari ulangtahunnya di rumah sakit.”

Taeyeon kembali menggelengkan kepala. “Tidak, Baekhyun. Ini bukan salahmu.” hanya itulah yang bisa ia ucapkan.

“Kau benar, Taeyeon.” Baekhyun tidak mengindahkan ucapan istrinya. “Aku memang hanya memikirkan diriku sendiri. Aku memang kurang memperhatikan anak-anak. Aku benar-benar tidak becus menjadi ayah untuk Taehyung dan Sohyun.”

Taeyeon segera memeluk Baekhyun dari belakang, meletakkan dagunya di atas puncak kepala Baekhyun. Airmatanya mengalir saat berkata, “Hentikan, Baekhyun. Itu terdengar menyakitkan. Berhentilah berbicara.”

Baekhyun memejamkan matanya, membiarkan airmatanya turun membasahi pipinya, jatuh membasahi punggung tangan Taehyung yang sedang digenggamnya.

Malam ini, entah untuk yang keberapa kalinya, Baekhyun dan Taeyeon menangis lagi dalam diam, memikirkan Taehyung, memikirkan anak-anaknya. Menyesali apa yang telah terjadi.

————————

Hari ini hari ulangtahun Taehyung.

Baekhyun benar-benar menginap di rumah sakit semalaman, sementara Taeyeon pulang untuk menemani Sohyun di rumah. Baekhyun tertidur di sebelah ranjang Taehyung dengan tangan menggenggam erat tangan putranya. Begitu terbangun pagi harinya, ia langsung mengecup kening Taehyung, mengucapkan selamat ulangtahun pada putranya sambil berharap kalau putranya akan segera sadar.

Taeyeon dan Sohyun datang ketika langit mulai terang. Sohyun sudah mengenakan seragam sekolah dan Taeyeon membawakan seragam kerja untuk suaminya. Sohyun juga mengucapkan selamat ulangtahun pada Taehyung, berbisik lirih di telinga kakaknya, lalu mengecup keningnya dengan penuh kasih sayang. Setelah Baekhyun selesai mandi dan bersiap, ia dan Sohyun pun pamit pada Taeyeon untuk berangkat kerja dan sekolah.

Taeyeon duduk di sebelah Taehyung setelah Baekhyun dan Sohyun pergi. Memandang putranya dengan tatapan lembut.

“Umurmu sudah tujuhbelas tahun, Taehyung. Kau sudah dewasa.” kata Taeyeon, mengelus pelan punggung tangan Taehyung. “Maafkan orangtuamu karena harus membuatmu melewati hari ulangtahunmu di rumah sakit, Sayang. Kami benar-benar menyesal. Kami harap kau segera sadar, agar kami bisa mengganti perayaan hari ulangtahunmu di hari lain secepatnya. Kami menyayangimu.” tutupnya, lalu mengecup kening Taehyung cukup lama.

Sore harinya, Sohyun pulang dari sekolah dan membawa teman-teman Taehyung ke rumah sakit. Jimin, Sungjae, Joy, dan bahkan Halla datang untuk menjenguk sekaligus mengucapkan selamat ulangtahun pada Taehyung. Sebenarnya hanya Jimin, Sungjae, dan Joy yang datang menjenguk. Namun begitu mengetahui kalau mereka akan menjenguk Taehyung dan mengucapkan selamat ulangtahun pada lelaki itu, Halla dengan refleks menghampiri mereka dan berkata akan ikut. Demi mendengar hal tersebut, Jimin hanya tersenyum-senyum sendiri, berpikir bahwa cinta Taehyung tidak bertepuk sebelah tangan. Tetapi Sungjae merusak bayangannya dengan berkata bahwa Halla hanya menunjukkan rasa peduli pada teman sekelasnya. Jimin hanya mendengus sebal pada Sungjae, merutuk temannya yang satu itu, yang selalu saja merusak kebahagiaan oranglain.

Tak ada yang bisa mereka berempat lakukan selain mengucapkan selamat ulangtahun ketika menjenguk Taehyung. Taehyung tidak bangun ataupun tidak merespon. Ia hanya tidur tak bergeming saat mereka berempat mengucapkan selamat ulangtahun padanya. Tetapi hanya dengan melihat wajah Taehyung dan alat pendeteksi jantung yang menunjukkan bahwa lelaki itu masih bernapas, mereka dapat pulang ke rumah dengan perasaan lega.

————————

Seminggu pun berlalu dengan begitu cepat. Dan selama seminggu itu, Taehyung tidak lagi mengalami kejang. Dokter datang memeriksa Taehyung dan berkata keadaan lelaki itu sudah membaik usai operasi seminggu yang lalu. Dan demi mendengar ucapan dokter itu, Baekhyun dan Taeyeon dapat bernapas dengan lega. Bahkan saking merasa leganya, Taeyeon sampai menangis, sambil memperhatikan wajah putranya dengan senyum di bibirnya.

Namun ternyata kelegaan itu tidak berlangsung lama.

Karena esok harinya, begitu malam hari tiba, tubuh Taehyung mendadak kembali mengalami kejang. Tepat ketika Baekhyun yang sedang berjaga. Alat pendeteksi jantung itu kembali menunjukkan garis zig-zag yang tidak teratur dengan suara lengkingan yang tinggi. Suasana di dalam kamar inap Taehyung mendadak kacau. Dokter yang tidak menyangka hal ini akan terjadi, panik, dan segera menyuruh para perawat untuk mempersiapkan ruang operasi.

Taehyung kembali menjalani operasi yang ketiga. Namun sayang, operasi berjalan tidak sesuai dengan harapan. Tubuh Taehyung menolak untuk dioperasi.

————————

“Epilepsi.” kata dokter, membuka penjelasan setelah Baekhyun dan Taeyeon duduk di balik meja kerjanya. “Kali ini bukan kejang, melainkan epilepsi.”

Baekhyun dan Taeyeon saling berpandangan, tidak mengerti.

Dokter menghela napas. “Epilepsi tidak jauh berbeda dengan kejang. Justru epilepsi disebabkan karena sebelumnya pernah mengalami kejang. Epilepsi bisa diidentifikasi setelah pasien mengalami lebih dari satu kali kejang. Penyebab epilepsi ini adalah cedera pada otak.”

Dokter kembali menghela napas, kali ini terdengar lebih berat. “Tetapi ini benar-benar mengherankan, Baekhyun-ssi, Taeyeon-ssi.” ia memandang Baekhyun dan Taeyeon dengan tatapan tidak mengerti. “Penderita epilepsi biasanya dapat ditangani dengan operasi. Tergantung epilepsi yang seperti apa. Biasanya kami menangani epilepsi jenis simptomatik parsial. Operasi dapat dilakukan dengan mengangkat bagian otak yang abnormal tanpa mengorbankan fungsi dari sisa otak. Tetapi untuk Byun Taehyung,” dokter menggelengkan kepalanya. “Tubuhnya menolak untuk di operasi. Tekanan darah selalu menurun drastis setiap kali kami ingin memulai operasi. Dan kami tidak bisa memaksakan diri untuk tetap melakukan operasi apabila tidak ingin berakibat fatal untuk kesehatan otaknya.”

Baekhyun dan Taeyeon sama-sama terpekur mendengar penjelasan dokter.

“Lalu, kalau bukan dengan operasi, apa yang akan kau lakukan, dokter?” tanya Baekhyun kemudian.

Lagi-lagi dokter menghela napas. “Maafkan aku, Baekhyun-ssi. Dengan sangat menyesal aku mengatakan, aku belum tahu.”

Baekhyun dan Taeyeon terkejut.

“Kami belum pernah menemukan masalah ini sebelumnya. Tetapi kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencari cara. Dan selagi kami mencari cara, Taehyung akan kami beri cairan untuk menunda terjadinya epilepsi kembali setiap beberapa jam sekali.”

Wajah dokter berubah prihatin saat melihat Baekhyun dan Taeyeon sama-sama menunjukkan wajah terpekur, depresi, atau entahlah apapun itu. Tampaknya mereka benar-benar tidak bisa menerima kenyataan yang baru saja ia ucapkan pada mereka.

“Masih ada satu cara lain untuk menunda atau mungkin menghentikan terjadinya epilepsi, Baekhyun-ssi, Taeyeon-ssi.” Dokter melanjutkan. Baekhyun dan Taeyeon mengangkat kepala, kembali menatap dokter yang balas menatapnya dengan senyum di bibirnya. “Berdoalah.”

Baekhyun dan Taeyeon tertegun.

“Berdoalah pada Tuhan dan mintalah kesembuhan untuk putramu pada-Nya.” tambah dokter.

————————

Baekhyun duduk di sebelah Taehyung yang berbaring, menggenggam erat tangan putranya, sambil memandangi wajah putranya tanpa berkedip. Sudah hampir dua jam ia duduk disana, tak kunjung bergerak, tak kunjung mengalihkan pandangannya, hanya terpaku menatap wajah anaknya.

Setelah berbicara dengan dokter, Taeyeon kembali ke kamar Taehyung untuk melihat keadaannya sejenak lalu kembali pulang ke rumah untuk menemani Sohyun yang sudah tertidur disana. Baekhyun kembali menemani Taehyung dan duduk di sebelahnya, tanpa sadar terjaga semalaman.

Setelah berbicara dengan dokter pula, Baekhyun akhirnya sadar, ia lupa pada Tuhannya. Ia sadar, Tuhan telah menamparnya dengan cukup keras lewat kejadian ini. Setelah kejadian yang menimpa Sohyun yang di-bully oleh teman-teman sekelasnya, yang dengan teganya ia malah memberi putrinya itu hukuman dengan melarangnya pergi bermain keluar rumah, ia tak kunjung tersadar karena kurang memperhatikan anaknya bahkan ketika Taehyung menyadarkannya. Setelah kejadian yang menimpa Taehyung yang ditahan oleh polisi, yang dengan teganya ia malah memukul wajah anaknya dengan tangannya tanpa sempat mendengarkan penjelasan anaknya, ia tak kunjung tersadar karena kurang memperhatikan anaknya bahkan ketika Taeyeon menyadarkannya. Kini, ia duduk disini, di dalam rumah sakit ini, di sebelah tubuh Taehyung yang berbaring tak bergeming, akhirnya ia tersadar, ketika Tuhan yang menyadarkannya. Tuhan menyadarkannya, dengan tamparan yang sangat keras, dengan Taehyung yang menjadi korbannya, kalau selama ini ia memang kurang memperhatikan anak-anaknya. Kalau selama ini ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri. Kalau selama ini dirinya terlalu egois, menganggap sudah semakin baik memperhatikan anak-anaknya, tetapi rupanya ia keliru. Ia tidak pernah berubah menjadi lebih baik untuk memperhatikan anak-anaknya, melainkan ia malah semakin menjauh, semakin tidak mempedulikan anak-anaknya begitu menyadari anak-anaknya membuat kesalahan.

Baekhyun mengecup tangan Taehyung dengan airmata yang mengalir di pipinya. Ia membatin di dalam hati. ‘Tuhan, apabila memang Kau sedang menamparku saat ini, tolong tampar aku saja, jangan libatkan anggota keluargaku, jangan libatkan istriku, jangan pula libatkan putra dan putriku. Kembalikan Taehyung pada kami, Ya Tuhan. Dia masih terlalu kecil untuk meninggalkan dunia ini. Masih banyak yang belum bisa dia lakukan untuk-Mu di dunia ini. Maka kembalikanlah ia, Ya Tuhan. Aku rela melakukan apapun agar Kau mengembalikan putraku ke dunia ini, bahkan apabila dengan nyawaku sekalipun. Aku rela menukarnya, Ya Tuhan. Kumohon kembalikan ia.’

Baekhyun memejamkan matanya, menggenggam tangan Taehyung lebih erat. Berharap Tuhan mengabulkan doanya.

Dan tepat saat itulah keajaiban itu datang di keluarga kecil Byun. Seperti bintang jatuh yang melesat dengan begitu cepat turun melewati bumi, keajaiban itu juga datang melesat bagai kilat dengan kecepatan seribu cahaya tepat setelah sepersekon detik Baekhyun mengucapkan doa pada Tuhannya.

Baekhyun tertegun, merasa waktu tiba-tiba saja berhenti berdetik. Ia membuka matanya, memperhatikan wajah Taehyung yang tampak begitu damai, merasa tertegun dengan apa yang baru saja ia alami. Keajaiban itu datang dengan begitu cepat, dan begitu sederhana, sampai-sampai Baekhyun merasa dadanya sesak saking bahagianya dan airmatanya mengalir begitu saja.

Beberapa detik yang lalu, Taehyung menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Tangannya yang sedang digenggam erat oleh ayahnya, mendadak bergerak. Hanya dua kali gerakan, setelah itu tidak lagi. Sederhana memang. Namun melegakan hati Baekhyun.

Terimakasih, Ya Tuhan.

Lantas Baekhyun segera berlari keluar kamar Taehyung, memanggil para suster.

————————

“Benar-benar ajaib, Baekhyun-ssi. Putramu telah tersadar.” ucap dokter setelah memeriksa kondisi Taehyung.

Baekhyun tak bisa menahan rasa bahagianya.

“Ini benar-benar di luar dugaan. Kerja otaknya memang masih begitu lambat, tetapi otaknya telah merespon saraf-saraf impulsnya untuk menggerakkan tangannya. Dalam waktu beberapa jam ke depan, mungkin putramu bisa membuka matanya kembali, Baekhyun-ssi.” tambah dokter.

Baekhyun membungkukkan badannya dalam-dalam pada dokter itu. “Terimakasih banyak, dokter. Terimakasih banyak atas kerja kerasmu.”

Dokter itu hanya tersenyum, menepuk pundak Baekhyun sekali. “Terimakasih banyak juga atas doamu, Baekhyun-ssi.” ucapnya, lalu berlalu keluar kamar.

Baekhyun kembali memperhatikan Taehyung. Ia membungkukkan badannya, mendekatkan bibirnya pada kening Taehyung, lalu mengecup kening putranya itu cukup lama. Airmata kembali mengalir di pipinya.

“Cepatlah bangun, Taehyung~a. Appa merindukanmu.” bisik Baekhyun di telinga Taehyung sebelum kembali duduk di sebelah putranya.

————————

Ketika Taeyeon dan Sohyun datang ke kamar inap Taehyung, Baekhyun sedang tertidur dengan kepala yang berbaring di atas ranjang Taehyung dan tangan yang menggenggam erat tangan Taehyung. Taeyeon maupun Sohyun tidak berniat untuk membangunkan Baekhyun, pria itu pasti lelah setelah terjaga semalaman untuk menjaga Taehyung.

Sohyun mendekati vas bunga di atas nakas untuk mengganti bunga sedap malam di dalam vas tersebut, sudah hampir selama seminggu bunga itu tidak diganti. Sementara Taeyeon mendekati laci di sudut kamar, memasukkan beberapa pakaian ganti untuk keluarganya ke dalam sana. Pihak rumah sakit memperbolehkan salah satu anggota keluarganya untuk menginap di rumah sakit untuk menemani pasien. Maka dari itu, terkadang Taeyeon dan Baekhyun bergantian untuk menjaga Taehyung sehingga menurut Taeyeon lebih baik ia meletakkan pakaian ganti untuk keluarganya di rumah sakit, walaupun memang lebih sering Baekhyun yang berjaga.

Mendadak, Baekhyun mengerjapkan mata dan terbangun dari tidurnya dengan mimik tertegun. Sohyun dan Taeyeon sampai menoleh kaget dibuatnya dan memandang Baekhyun dengan pandangan bertanya. Tetapi Baekhyun tidak sempat memperhatikan Taeyeon maupun Sohyun, karena ia langsung memfokuskan pandangannya pada Taehyung yang berbaring di atas ranjang.

Dan demi Tuhan, mata Taehyung saat ini sedang mengerjap-ngerjap.

Taeyeon dan Sohyun bahkan sampai menutup mulutnya dengan tangannya saking tidak percayanya. Bergegas mereka melangkah mendekati ranjang Taehyung, memperhatikan lelaki itu yang masih berusaha keras mendapatkan kesadarannya.

Baekhyun semakin erat menggenggam tangan Taehyung sambil menahan perasaan bahagianya. Ia memang tidak salah. Tadi saat ia sedang terlelap, tiba-tiba saja ia merasa tangan Taehyung yang berada di dalam genggaman tangannya bergerak, lebih dari dua kali. Lantas Baekhyun segera bangun dari tidurnya. Dan memang benar, putranya, Byun Taehyung, setelah dua minggu mengalami koma, akhirnya hari ini membuka matanya.

Baekhyun berdiri dari duduknya, menatap mata Taehyung yang mulai membuka dengan sempurna dengan mata berkaca-kaca. Bahkan Taeyeon sudah menangis di sebelahnya.

Hal yang pertama kali dilihat oleh Taehyung adalah wajah seorang pria yang tampak buram, pria yang berperawakan tegas namun sedang menatapnya lembut saat ini dengan mata berkaca-kaca. Taehyung hanya balas menatap pria itu dengan tatapan polos, seperti tak mengenal pria yang berada di depannya.

Airmata Baekhyun mengalir saat ia berkata lirih, menunjuk dirinya sendiri. “Ini appa, Taehyung. Ini appa.” katanya, berharap putranya dapat mengingatnya.

Dengan mulut dan hidung yang dibungkus oleh peralatan medis, Taehyung menggerakkan bibirnya dengan susah payah. “Ap-pa?” ucapnya lirih dengan susah payah, seperti orang yang baru saja belajar berbicara.

Baekhyun mengangguk, airmatanya kembali mengalir. “Iya, ini appa.” katanya lirih.

Taeyeon meraih tangan Taehyung yang berada di dalam genggaman Baekhyun. Sama seperti Baekhyun, dengan suara lirih yang terdengar bergetar, sambil berusaha menahan isak tangisnya, Taeyeon menunjuk dirinya sendiri. “Ini eomma, Taehyung. Ini eomma.” katanya, berharap putranya dapat mengingatnya.

Taehyung menatap seorang wanita yang berwajah keibuan, yang berdiri di sebelah pria berwajah tegas tadi, yang saat ini sedang menatapnya lembut, dengan mata berkaca-kaca, dengan airmata yang telah membasahi pipinya. “Eom-ma?” dengan susah payah ia mengucapkan kata itu.

Taeyeon mengangguk, menggerakkan tangannya untuk membelai wajah putranya. “Iya, ini eomma.”

Sohyun juga meraih tangan Taehyung yang bebas. Dengan gerakan pelan, Taehyung menolehkan kepala ke arah yang berlawanan, menemukan seorang gadis berwajah bulat yang tampak lugu dan imut, menatapnya dengan tatapan yang lembut, juga dengan matanya yang berkaca-kaca.

Sohyun membentuk senyuman saat kakaknya balas menatapnya. Kemudian ia berkata lirih, tanpa isakan, “Ini Sohyun, oppa. Adikmu. Neo dongsaeng.” katanya, menunjuk dirinya sendiri, juga berharap kalau kakaknya akan mengingatnya.

Bibir Taehyung dengan susah payah bersuara, “So-hyun?” ia masih menatap Sohyun. “Nae dongsaeng?

Sohyun mengangguk, menggenggam tangan Taehyung lebih erat lagi. “Iya, oppa. Neo dongsaeng. Adikmu.”

Taehyung tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Ia memperhatikan satu persatu ketiga orang yang berdiri di sebelah ranjangnya, dengan tatapan polos, dengan gerakan yang pelan. “Appa.” ucapnya saat ia melihat Baekhyun. “Eomma.” ucapnya saat ia melihat Taeyeon. “Nae dongsaeng.” ucapnya saat ia melihat Sohyun.

Baekhyun, Taeyeon, dan Sohyun sama-sama menganggukkan kepala.

Appa.” Taehyung kembali memanggil Baekhyun saat melihat pria itu. “Eomma.” juga kembali memanggil Taeyeon saat melihat wanita itu. “Nae dongsaeng.” juga kembali memanggil Sohyun saat melihat gadis itu.

Berkali-kali, Taehyung melakukan hal yang sama. Mengucapkan ketiga nama itu berulang-ulang, berharap ia dapat mengenali mereka bertiga. Sampai akhirnya pada panggilan yang kelima kalinya, Taehyung menyebut nama mereka berdua dengan mata berkaca-kaca, dengan airmata yang mengalir pelan membasahi pelipisnya, berhenti di daun telinga, lalu jatuh menetes membasahi bantal.

Taeyeon bergerak maju, memeluk tubuh Taehyung, lalu terisak disana. “Iya, Taehyung. Ini kami. Ini eomma-mu, appa-mu, dan adikmu. Kami juga merindukanmu.”

Taehyung merasa tidak mengerti dan tidak mengenali ketiga orang di sekitarnya, namun airmatanya terus menerus mengalir, seakan-akan mengungkapkan rasa rindunya pada ketiga orang yang tak ia kenali.

—tbc

Chapter 10 is here!
/menghela napas lega/ akhirnya Tae siuman :’) Ini akan menjadi awal yang baru untuk Taehyung, doakan My Taehyung-ie ya teman teman, agar dia cepat menyesuaikan dengan lingkungan barunya :’) Terimakasih Baek, atas doamu, atas penyesalanmu, dan atas permintaan maafmu. Aku mencintaimu /eh, salah fokus/ :’) Okey, dengan bangunnya Taehyung dari komanya, maka konflik utama dinyatakan selesai :’) Hm, masih ada penyelesaiannya di chap berikutnya. Tenang, next chapter bukan the last chapter kok. So, jangan kemana mana dulu yaa :’)
Oh iya, sekedar ngasih tahu, kuota saya habis hari ini huhuhu. Belum tau bakal beli kapan dan juga belum tau bakal update next chapter kapan, doakan saja saya cepat cepat beli kuota biar bisa fast update kayak kemaren. Atau, kalo readers mau beliin saya kuota juga gapapa kok, saya dengan senang hati menerima /blink eyes/ 😀
Jangan lupa like dan comment-nya yah 🙂 Enjoy it, guys ^^

Advertisements

9 thoughts on “[Multichapter] Story of Byun Family — Chapter 10

  1. omo omo apa taehyun amnesia? ya ampun ini menguras emosi bgt bacanya, makin seru n sedih aja ceritanya,. next next chapt ditunggu updatenya

  2. Aigooo, akhirnya siTaehyung sadar juga 🙂
    Dia amnesia gitu thor? Ntar di berubah jadi perhatian banget sama keluarganya? Hohohoho
    Semoga kuotanya cepet diisi
    Fast update and keep writing thor 😘

  3. Next please. Omona, aku sampe terharu T.T Kak, feel nya dapet banget deh. Taehyung memang nggak inget sama keluarganya, tapi pasti inget sama aku kan? #plakk. Fast update kak. Penasaran banget

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s