[Multichapter] Story of Byun Family — Chapter 9

req-zulfhania-byun-family

Starring by.
Byun Baekhyun (EXO) | Kim Taeyeon (SNSD) | Kim Taehyung (BTS) | Kim So Hyun (Actrees)

Support casts.
Park Jimin (BTS), Yook Sungjae (BtoB), Lee Halla (The Ark), Park Jane (The Ark), Bae Irene (Red Velvet), Joy Park (Red Velvet), Jessica Jung (Ex-SNSD), Oh Sehun (EXO), and others

Genre. Family, Marriage-life, Brothership

Rating. PG-15

Length. Multichapter

zulfhania, 2015

Poster by Laykim © Beautiful Healer

Previous. Teaser | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8

Chapter 9

Aku tahu kau merasa sakit karena perlakuan orangtuamu padamu, tetapi barang (terlarang) itu justru akan membuatmu semakin merasa sakit. 

.

Rupanya esok harinya, Taehyung benar-benar tidak pulang ke rumah. Bahkan lelaki itu tidak datang ke sekolah. Sohyun bertanya pada Jimin dan Sungjae, tetapi kedua teman kakaknya itu menggelengkan kepala tanda tidak tahu. Sepulang dari sekolah, Sohyun, Jimin, Sungjae, dan bahkan Joy—yang tidak satu sekolah dengan mereka—mencari Taehyung mengelilingi kota Tongyeong. Baekhyun dan Taeyeon juga melakukan hal yang sama setelah Baekhyun pulang dari kerja. Selebaran kertas bergambar wajah Taehyung telah tersebar di seluruh penjuru kota, berharap siapapun yang menemukan Taehyung segera menghubungi Baekhyun maupun Taeyeon. Namun sayang, hingga seminggu berlalu, ponsel Baekhyun dan Taeyeon tetaplah sepi, sama sekali tidak ada yang menghubunginya untuk sekedar memberitahu kalau Taehyung sudah ditemukan. Taehyung pun juga tak kunjung pulang dan tak menunjukkan tanda-tanda akan pulang.

————————

Eomma menangis terus setiap hari. Appa juga terlihat selalu melamun dalam mengerjakan apapun.” adu Sohyun pada Jimin dan Sungjae ketika waktu istirahat sekolah sedang berlangsung.

Hari itu adalah tepat hari kedelapan setelah Taehyung menghilang. Sohyun selalu mengabarkan keadaan orangtuanya pada Jimin dan Sungjae, berbagi pada kedua lelaki itu, berharap beban pikirannya akan berkurang setelah menceritakan hal itu pada kedua lelaki yang telah ia anggap sebagai teman sekaligus kakaknya sendiri. Dan hari ini mereka bertiga kembali duduk di tangga lapangan sekolahnya, menghabiskan waktu istirahat disana.

Sohyun menundukkan kepala. “Mereka tampak seperti mayat hidup.”

Jimin dan Sungjae sama-sama terdiam, memperhatikan wajah Sohyun yang tertunduk dengan tatapan prihatin. Sungjae bergerak menepuk pundak Sohyun berkali-kali, memberi ketabahan pada gadis itu.

“Sebentar lagi Taehyung pasti akan pulang. Kau tidak usah khawatir.” kata Sungjae.

Sohyun mengangguk. “Kuharap begitu. Walaupun terkadang Taehyung oppa bersikap menyebalkan, tetapi aku benar-benar merindukannya saat ini.”

“Aku juga merindukannya, Sohyun.” sahut Sungjae.

Hanya Jimin yang tidak menyahut. Mendadak ia menghela napas berat dan memperhatikan Sohyun dan Sungjae dengan tatapan bersalah.

————————

Jimin membuka pintu rumah dan melangkah masuk ke dalam. Seperti biasa, rumahnya sepi, hanya ada seorang pembantunya yang saat ini sedang menyetrika pakaian di ruang belakang. Kedua orangtuanya sedang bekerja. Jimin sudah biasa dengan kesibukan mereka.

Jimin melangkah menuju dapur, mengambil minuman dari dalam kulkas dan meneguknya. Ketika ia menemukan sepiring kue tar di dalam kulkas, tanpa ragu ia mengambilnya dan membawanya ke lantai atas, menuju kamarnya.

Jimin membuka pintu kamarnya yang tampak gelap. Ia menyalakan lampu kamar dan barulah ia dapat melihat sesosok lelaki yang sedang tertidur di atas kasur. Nyatanya, lelaki itu tidak tertidur karena ia menolehkan kepala ke arah pintu begitu menyadari lampu menyala. Jimin menutup pintu kamar dan melangkah masuk ke dalam dengan tatapan tanpa ekspresi. Ia meletakkan piring di tangannya ke atas nakas di sebelah kasur.

“Aku menemukan ini di kulkas. Makanlah. Kau belum makan siang, kan?” kata Jimin pada lelaki itu.

Lelaki itu bangun dari tidurnya dan merangkak mendekati nakas, mencomot kue tar itu tanpa terlebih dahulu mencuci tangan. Tampaknya ia kelaparan sekali.

Jimin menghela napas, memandang lelaki itu dengan pandangan kecewa. “Keluargamu mengkhawatirkanmu.” katanya kemudian. “Kapan kau akan pulang, Taehyung?”

Taehyung, lelaki yang sedang memakan kue tar itu, yang selama seminggu ini dicari keberadaannya oleh keluarganya, yang selama ini rupanya bersembunyi di dalam kamar Jimin, hanya diam tidak peduli. Mulutnya mengunyah kue tar dengan begitu lahap.

“Sohyun bercerita lagi padaku dan Sungjae hari ini.” tambah Jimin.

Kali ini Taehyung berhenti mengunyah. Tatapannya mendadak berubah kosong.

“Baiklah, aku bisa menyembunyikan keberadaanmu dari kedua orangtuamu. Tetapi dari Sohyun, adikmu?” Jimin memandang Taehyung yang kini terdiam. “Aku benar-benar tidak tega terus membohonginya, Taehyung.”

Taehyung membanting kue tarnya ke atas piring, mulai merasa sebal pada Jimin karena membahas hal tersebut, lalu beranjak bangun dari kasur. Ia berjalan menuju jendela kamar dan berdiri membelakangi Jimin. Jimin hanya memandang punggung Taehyung dengan tatapan lelah.

“Sudah seminggu, Taehyung. Kembalilah ke rumah. Aku tidak bisa terus menerus menyembunyikanmu disini.”

Sebenarnya Jimin sama sekali tidak bermaksud untuk menyembunyikan Taehyung di rumahnya. Nyatanya, ia benar-benar tidak tahu kalau ternyata Taehyung akan ke rumahnya. Sehari setelah Taehyung menghilang, sepulangnya dari Jimin mengelilingi kota Tongyeong bersama Sohyun, Sungjae, dan Joy untuk mencari Taehyung, Jimin menemukan Taehyung duduk meringkuk di bawah jendela kamarnya. Tentu saja Jimin terkejut. Keadaan lelaki itu tampak tidak baik-baik saja. Wajahnya pucat, kusam, dan memar, matanya bengkak, pakaiannya kotor—dan Jimin masih ingat itu adalah pakaian yang dikenakan Taehyung saat ia berkelahi di dalam diskotik kemarin malam. Berarti lelaki itu benar-benar kabur dari rumah setelah orangtuanya menjemputnya dari kantor polisi. Dan demi melihat keadaan Taehyung yang seperti itu, Jimin tidak sempat bertanya apa-apa tentang bagaimana lelaki itu bisa masuk ke dalam kamarnya. Ia segera memapah tubuh lemah Taehyung ke kasurnya, mengganti pakaian yang dikenakan Taehyung, mengobati luka di sekujur tubuh Taehyung, menyuapinya dengan sup hangat, mengompres tubuhnya yang demam, mengelap tubuhnya yang berkeringat dingin, dan menjaga serta menemani Taehyung yang selalu bermimpi buruk di setiap malamnya.

Orangtuanya tidak tahu kalau ia menyimpan Taehyung di dalam kamarnya, bahkan pembantunya juga. Ia sudah melarang pembantunya untuk tidak memasuki kamarnya. Selama Taehyung sakit, Jimin tidak pernah memberitahu Sohyun maupun Sungjae. Ia berpikir akan membawa Taehyung pulang saat keadaan lelaki itu sudah membaik. Namun, ketika keadaan lelaki itu sudah membaik beberapa hari kemudian, Taehyung justru melarangnya untuk tidak memberitahu siapapun tentang keberadaannya. Taehyung tidak mau pulang. Ia tidak mau bertemu ayahnya. Ia tidak mau bertemu ibunya. Meskipun ia ingin bertemu dengan adiknya, tetapi tetap saja ia tidak mau pulang. Maka dari itu, Jimin tidak pernah memberitahu siapapun dan membiarkan Taehyung tetap tinggal di kamarnya.

Namun hari ini, setelah berhari-hari ia mendengar keluhan Sohyun tentang Baekhyun dan Taeyeon yang tampak seperti mayat hidup, Jimin sudah tidak tahan lagi. Ia harus menyadarkan Taehyung. Ia harus mengembalikan Taehyung ke rumahnya.

“Orangtuamu mengkhawatirkanmu, Taehyung.”

“Mereka tidak benar-benar mengkhawatirkanku, Jimin.” sahut Taehyung dengan cepat. Tangannya merogoh sesuatu dari dalam saku celananya.

“Berhentilah keras kepala, Byun Taehyung!” bentak Jimin kemudian. Ia menatap punggung Taehyung dengan tatapan tidak mengerti. Tetapi kemudian matanya membelalak kaget ketika menyadari apa yang baru saja dikeluarkan Taehyung dari dalam saku celana.

Taehyung membuka bungkus rokok, mengambil sebatang dari dalam sana, dan menyelipkannya di bibir. Ia menolehkan kepala pada Jimin. “Kau punya korek api?”

Tatapan Jimin berubah marah. Ia melangkah mendekati Taehyung dengan langkah lebar, merebut bungkus rokok dan rokok di bibir Taehyung, lalu langsung membuangnya keluar jendela.

Taehyung melotot marah. “Yya, Park Jimin!”

Jimin balas melotot menatap Taehyung. “Byun Taehyung, aku sadar kelakuanku buruk. Tetapi, meskipun aku sering keluar malam, bermain di diskotik, menggoda para wanita, aku tidak pernah menyentuh barang (terlarang) itu!” bentak Jimin, menunjuk rokok yang baru saja ia buang keluar jendela. “Meskipun Sungjae bekerja di diskotik itu, setiap malam dikelilingi oleh para wanita, bertemu dengan para pria perokok dan pemabuk, tetapi dia juga tidak pernah menyentuh barang-barang (terlarang) itu. Kami berdua tahu batasnya!”

Taehyung menggertakkan gigi, marah, mulai mengerti ke arah mana Jimin akan berbicara.

Kali ini Jimin menatap Taehyung dengan tatapan khawatir, bahkan tanpa sadar matanya sudah berkaca-kaca. “Aku tahu kau merasa sakit dengan perlakuan orangtuamu, tetapi barang (terlarang) itu,” Jimin menunjuk rokok yang baru saja ia buang keluar jendela. “Justru akan membuatmu merasa semakin sakit, Byun Taehyung.”

“Kau tidak mengerti, Park Jimin.” kata Taehyung dengan suara tertahan.

“Aku mengerti, Byun Taehyung. Orangtuaku juga sama sepertimu, sama-sama sibuk bekerja, sama-sama tidak memperhatikan anaknya. Berpikir hanya dengan segala materi yang diberikan pada anaknya, anaknya akan bahagia. Padahal nyatanya, anaknya sama sekali tidak merasa bahagia.” Pandangan Jimin mulai mengabur oleh airmata. “Aku juga sama sepertimu, Taehyung. Pergi ke diskotik itu hanya untuk mencari kebahagiaan lain, kebahagiaan yang rupanya adalah palsu. Padahal nyatanya, kita tetap merasa sakit saat pergi ke tempat (terlarang) itu. Aku mengerti bagaimana perasaanmu. Kalau kau mau tahu, aku juga merasa sakit saat melihat ayahku memarahiku malam itu, tanpa sama sekali memberiku kesempatan untuk menjelaskan. Kita berdua sama, Byun Taehyung.”

Taehyung menatap mata Jimin yang tampak berkaca-kaca, bahkan tak lebih dari semenit airmata itu akhirnya jatuh, namun dengan segera lelaki itu seka.

“Tetapi setidaknya kedua orangtuamu tidak pernah bertengkar, Park Jimin.” ucap Taehyung kemudian, dengan suara yang terdengar menahan luka.

Jimin tertegun. Sekali lagi, airmatanya jatuh mengalir membasahi pipinya. Jatuh begitu saja.

Taehyung menggigit bibir. Balas menatap Jimin dengan mata yang—ah, kenapa ada airmata yang menggelayut disana. Bahkan bibirnya bergetar saat ia melanjutkan, “Tetapi setidaknya ayahmu tidak menamparmu saat kau melakukan kesalahan.” tambah Taehyung. Tanpa sadar, airmatanya mengalir turun. “Kita berbeda, Park Jimin. Kita benar-benar berbeda.”

Jimin memalingkan pandangannya ke arah lain, tak kuasa melihat wajah Taehyung yang tampak terluka. Taehyung juga memalingkan pandangannya ke arah lain, menyeka airmata pahit yang terbentuk di wajahnya. Tak ada satupun dari mereka yang berbicara setelah itu. Mereka sama-sama terdiam, merasa terluka dengan kenyataan hidup yang mereka alami.

Beberapa menit kemudian, Taehyung menghela napas panjang. “Baiklah, kalau kau memang tak mau menyembunyikanku lagi.” kata Taehyung, lalu menoleh pada Jimin yang juga balas menatapnya. “Aku akan pergi.”

Taehyung berlalu melewati Jimin, mengganti pakaian milik Jimin yang dikenakannya dengan pakaian miliknya yang sudah dicuci bersih oleh pembantunya Jimin, lalu membuka jendela kamar Jimin lebar-lebar dan hendak meloncat ke batang pohon mangga yang tampak kokoh dan tegak menjulang persis di sebelah jendela kaca kamar Jimin.

“Byun Taehyung.” seru Jimin sebelum lelaki itu keluar.

Taehyung menoleh, balas menatap Jimin dengan tatapan tanpa ekspresi.

“Kembalilah ke rumah.” ucap Jimin kemudian.

Taehyung tidak menjawab. Ia langsung meloncat keluar dari jendela dan mendarat persis di batang pohon mangga yang kokoh. Taehyung sempat merasa limbung sejenak sebelum akhirnya mendapatkan keseimbangannya kembali, lalu merosot dengan begitu sempurna ke bawah.

Mendadak Jimin menyadari, darimana Taehyung bisa masuk ke dalam kamarnya.

————————

Jimin berpikir Taehyung benar-benar pulang ke rumahnya. Namun ternyata semuanya memang tak sesederhana yang ia pikirkan.

Malam harinya, ketika Jimin hendak terlelap dalam tidurnya, mendadak ponselnya berdering, menampilkan nama ‘Yook Sungjae’ yang berkerlap-kerlip di layar ponselnya.

“Park Jimin, kau harus ke diskotik sekarang!” Bahkan Sungjae langsung menyemprotnya dengan bentakan sebelum Jimin menyapa ‘halo’.

“Aku tidak boleh keluar malam lagi, Sungjae. Lagipula bukankah kau sudah tidak bekerja disana sekarang?” sahut Jimin, lalu menguap, ia ngantuk.

“Ini bukan tentang aku yang masih bekerja disana atau tidak, tetapi ini tentang Byun Taehyung!”

Dan demi mendengar nama sahabatnya yang satu itu, rasa kantuk Jimin menghilang seketika. Ada apa dengan Byun Taehyung?

“Dia mabuk, Park Jimin. Di diskotik. Sekarang!”

————————

Jimin tidak peduli dengan bentakan ayahnya saat melihatnya berlari keluar rumah. Jimin tidak peduli dengan teriakan ayahnya saat melihatnya mengeluarkan mobil dari dalam bagasi. Jimin tidak peduli dengan larangan ayahnya yang tidak memperbolehkannya keluar malam lagi. Pokoknya ia harus ke diskotik sekarang. Sekarang!

Jimin mendobrak pintu diskotik dengan wajah panik. Meskipun diskotik itu sempat rusak seminggu yang lalu karena kehadiran pria bertubuh gempal dan anak buahnya, nyatanya diskotik itu sudah diperbaiki dan kembali ramai hari ini. Untungnya Jimin tidak kesulitan menemukan Taehyung yang biasa duduk di sudut meja bar, tempat favorit lelaki itu. Jimin juga menemukan Sungjae dan Jessica disana.

“Taehyung meneleponku meminta bertemu di diskotik.” kata Jessica menjelaskan. “Aku yang tidak sempat menolak dan berpikir macam-macam segera datang kesini, dan sudah menemukan Taehyung minum alkohol.”

Jimin memperhatikan Taehyung yang tampak tertidur dengan kepala terbaring di atas meja dan tangan yang memegang segelas alkohol. Napas lelaki itu terdengar naik-turun.

“Aku tak bisa menghentikan Taehyung. Dia sudah mabuk berat saat aku datang. Maka dari itu aku langsung menelepon Sungjae. Sungjae juga baru datang saat kau tiba disini.” tambah Jessica.

“Apa yang harus kita lakukan, Jimin?” tanya Sungjae, tatapannya tampak khawatir sekali melihat keadaan Taehyung.

“Taehyung anak yang baik. Dia tidak pernah memesan alkohol setiap kali datang kesini.” kata Jessica dengan suara bergetar. “Tetapi kenapa tiba-tiba dia menjadi seperti ini?”

Jimin menyingkirkan gelas alkohol di tangan Taehyung. “Bukan tanpa alasan dia menjadi seperti ini.” katanya, menjawab pertanyaan Jessica, ia lalu menoleh pada Sungjae. “Bantu aku angkat dia, Sungjae. Bawa dia ke mobilku. Kita bawa ke rumahku saja.”

Sungjae segera membantu Jimin untuk mengangkat tubuh Taehyung. Jessica juga sedikit membantunya. Namun belum sempat tubuh Taehyung terangkat, lelaki itu sudah terbangun dan tatapannya langsung bertemu dengan wajah Jimin.

“Oh, halo, Park Jimin.” kata Taehyung, dengan suara yang terdengar mabuk. “Kita bertemu lagi.” ia menyentuh wajah Jimin dengan jari telunjuknya dan menekan-nekan pipi lelaki itu, membuat Jimin agak risih. Namun ia tidak begitu mempedulikan, Taehyung masih berada di bawah pengaruh alkohol, dia tidak benar-benar tersadar. “Baru beberapa jam kita berpisah, kita sudah bertemu lagi. Kau merindukanku ya?”

Sungjae dan Jessica tampak kaget mendengar ucapan Taehyung, lalu memandang Jimin dengan mimik terkejut sekaligus bertanya. Tetapi Jimin tidak mempedulikan tatapan Sungjae maupun Jessica. Ia tetap memapah tubuh Taehyung keluar dari diskotik.

Taehyung mengerucutkan bibir saat Jimin tidak menjawab. Ia malah menggaruk lehernya dengan bingung begitu sadar sedang dipapah keluar dari diskotik. “Kau mau membawaku kemana, Park Jimin?” tanyanya.

“Tidak usah banyak bicara, Byun Taehyung. Kau mabuk.” kata Jimin dengan suara tertahan.

Taehyung tertawa, tawa yang terlihat menyakitkan di mata Sungjae, Jessica, maupun Jimin. “Aku mabuk? Tidak mungkin, Jimin. Kau bercanda.” katanya, masih tertawa. Ia lalu memaksa berhenti dan menyingkirkan tangan Jimin, Sungjae, dan Jessica dari tubuhnya. “Aku tidak mabuk. Aku bisa jalan sendiri.”

Setelah berkata begitu, Taehyung melangkahkan kakinya, namun belum sampai selangkah, tubuhnya langsung limbung.

“Taehyung!” pekik ketiganya, yang langsung kembali meraih tubuh Taehyung dan membantunya berdiri.

“Sudah kubilang kau mabuk berat, Byun Taehyung.” kata Jimin.

Taehyung menggelengkan kepala, tertawa, dan kembali menyingkirkan tangan mereka bertiga dari tubuhnya. “Tidak, tidak. Aku tidak mabuk. Aku bisa berjalan. Tunggu sebentar. Beri aku kesempatan.” ia lalu kembali berdiri dari ketidaksadarannya yang sedang dipengaruhi oleh alkohol. Kali ini ia berhasil berdiri.

“Lihat, aku bisa berdiri, kan?” tanya Taehyung, menatap Jimin, Sungjae, dan Jessica yang tampak buram di matanya, lalu kembali tertawa. “Ayo, kita jalan lagi.” Taehyung mengibaskan tangannya pada mereka bertiga. “Dimana mobilmu, Park Jimin? Tunjukkan padaku.”

Jimin menghela napas melihat Taehyung. Ia lalu kembali melangkah, mendahului Taehyung. Berbeda dengan Sungjae dan Jessica yang mengekor langkah Taehyung yang berjalan sempoyongan di depannya.

Jimin sudah tiba duluan di samping mobilnya yang terparkir di tepi jalan raya. Ia memperhatikan Taehyung yang masih berjalan dengan sempoyongan, bibir lelaki itu tak henti-hentinya tertawa, lelaki itu benar-benar sudah mabuk.

“Ke arah sini, Taehyung.” kata Jimin saat melihat Taehyung menuju ke arah yang lain.

Taehyung hanya menyengir tanpa dosa, lalu berbalik, mengikuti arah yang ditunjukkan Jimin lewat pendengarannya. Sepertinya telinganya masih berfungsi dengan baik.

“Taehyung, ke arah sini!” Lagi-lagi Taehyung salah jalan. Beruntung Sungjae dan Jessica segera mengarahkan, namun dengan cepat Taehyung kembali menangkisnya dan berkata ‘aku bisa jalan sendiri’.

Tinggal beberapa langkah lagi Taehyung sampai di samping mobil Jimin. Namun, tiba-tiba saja Taehyung merasa kepalanya pusing hebat, berputar-putar, berpilin. Tampaknya alkohol itu kembali mempengaruhi kepalanya. Taehyung memegang kepalanya, sambil terus berjalan, ke arah yang salah.

“Byun Taehyung, ke arah sini!” Jimin merasa kesal karena Taehyung terus menerus salah jalan. Dan ia tidak menyadari kalau Taehyung merasa pusing hebat.

Tetapi Taehyung tidak mendengarkan. Suara Jimin hanya terdengar sayup-sayup. Ia terus berjalan sempoyongan ke arah yang salah, tanpa sadar kakinya melangkah menuju jalan raya dengan cepat karena tidak bisa menahan kepalanya yang terasa begitu berat.

Jimin, Sungjae, dan Jessica melotot kaget begitu menyadari Taehyung mulai kehilangan kesadarannya kembali. Mereka bertiga sama-sama berlari ke arah Taehyung yang semakin mendekat ke jalan raya.

“Byun Taehyung, berhenti!” teriak ketiganya.

Bukannya berhenti, lelaki itu malah semakin jauh berjalan ke tengah jalan raya. Dan kemudian kejadian itu berlalu dengan begitu cepat, nyata di depan mata Jimin, Sungjae, dan Jessica, saat sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melintas di jalan raya yang sepi, menabrak tubuh sempoyongan Taehyung dengan begitu keras.

“BYUN TAEHYUNG!” Jimin, Sungjae, dan Jessica sama-sama memekik saat melihat tubuh Taehyung terlempar beberapa meter ke depan.

————————

Mobil ambulans membelah keheningan malam kota Tongyeong dengan kecepatan tinggi. Lampu sirenenya menyala, berbunyi ‘ngiung-ngiung’. Di dalam ambulans tersebut, tampak beberapa perawat berusaha memberikan pertolongan pertama pada Taehyung yang berbaring dengan tubuh bersimbah darah. Kalau dilihat sekilas, tampak lelaki itu benar-benar sudah tidak ada harapan. Seluruh tubuhnya terluka dengan darah yang terus menerus mengalir keluar. Rambutnya basah oleh darah. Wajahnya penuh luka dan darah. Pakaiannya sobek dimana-mana, memperlihatkan luka terbuka yang sungguh membuat ngilu. Beruntung alat pendeteksi jantung masih memperlihatkan garis zig-zag yang menandakan lelaki itu masih bernapas.

Namun, entahlah, apakah lelaki itu bisa bertahan sampai mereka tiba di rumah sakit atau tidak.

Ambulans berhenti di depan rumah sakit. Mobil picanto hitam juga berhenti tak jauh dari sana. Jimin, Sungjae, dan Jessica keluar dari mobil tersebut dengan wajah panik, khawatir, takut, atau entahlah, perasaan mereka campur aduk hingga mereka sulit untuk berekspresi sekarang. Para perawat di rumah sakit segera membawa tubuh Taehyung yang sudah dipindahkan ke ranjang dorong menuju ke dalam rumah sakit, berlari, bergegas membawanya ke ruang UGD, berkejaran dengan waktu dan maut.

Para dokter segera datang memeriksa tubuh Taehyung setibanya di ruang UGD. Belum sampai dua menit memeriksa, salah satu dokter langsung berkata pada dokter yang lain dan juga para suster, “Persiapkan ruang operasi. Anak ini dalam bahaya.”

Jessica jatuh terduduk di depan pintu operasi dengan tubuh lemas setelah Taehyung dibawa masuk ke dalam sana. Wanita itu terisak hebat, berkali-kali menyebutkan nama Taehyung. Kedua tangannya mengepal, meninju lantai rumah sakit, melampiaskan rasa khawatir sekaligus takut pada benda tak bersalah itu.

Jimin dan Sungjae berdiri bersandar di dinding koridor di depan ruang operasi, berdiri berhadapan. Sungjae menutup wajahnya dengan kedua tangannya, menyembunyikan tangisnya. Berbeda dengan Jimin yang hanya menggigit bibir berusaha menahan tangis, dengan tatapan mengarah pada ponsel dalam genggaman tangannya. Menimbang-nimbang akan memberitahu kabar ini pada orangtua Taehyung sekarang atau tidak.

————————

Taeyeon membuka matanya dengan pelan sambil memijit pelipisnya ketika mendengar suara dering ponsel berbunyi. Matanya mengerjap-ngerjap dalam kegelapan dan menemukan ponsel Baekhyun berkerlap-kerlip di atas nakas di sebelah kasur. Taeyeon melirik Baekhyun yang masih tertidur dengan begitu lelapnya di sebelahnya, sama sekali tidak terganggu dengan suara ponselnya yang berbunyi. Oh, lagipula siapa pula yang menelepon larut malam begini?

Taeyeon bergegas bangun, memakai sendal rumahnya, lalu berjalan mengitari kasur. Ia meraih ponsel suaminya dan melihat nomor tak dikenal berkerlap-kerlip di layar ponsel. Baru saja ia hendak mengangkat, panggilan itu terhenti. Taeyeon mengerjap bingung. Ia meletakkan kembali ponsel suaminya di atas nakas setelah melihat tiga panggilan tidak terjawab dari nomor yang sama. Banyak sekali, pikir Taeyeon sambil kembali melangkah naik ke kasurnya.

Tepat ketika itu, ponsel kembali berdering. Taeyeon kembali menoleh. Kali ini Baekhyun menggeliat dari tidurnya, tampaknya tersadar.

“Ponselmu bunyi, Baekhyun. Itu yang keempat kalinya.” kata Taeyeon dengan suara mengantuk.

Baekhyun langsung tersadar. Ia bangun dari tidurnya dan meraih ponselnya yang masih berbunyi.

“Halo?”

Taeyeon hendak kembali tidur di kasurnya ketika Baekhyun melotot kaget sambil berteriak memekakkan telinga.

“APA?!”

————————

Eonni!

Jimin, Sungjae, dan Jessica sama-sama menoleh ke sumber suara. Dilihatnya seorang gadis berambut panjang berlari ke arah mereka dengan wajah panik bercampur tangis. Jimin dan Sungjae tertegun begitu mengenali gadis itu. Berbeda dengan Jessica yang langsung bangun dari duduknya, berlari menghampiri gadis itu.

“Halla!” Jessica memanggil nama gadis itu.

Eonni, apa yang terjadi? Pasti eonni salah lihat, kan? Tidak mungkin Taehyung, kan?” tanya Halla panik setibanya di depan Jessica.

Jessica menggeleng. “Tidak, Halla. Eonni tidak salah lihat.” jawab Jessica, dengan suara bergetar.

Jimin dan Sungjae saling bertatapan dengan bingung. “Eonni?” mereka bertanya satu sama lain, tanpa suara, lalu mengedikkan bahu masing-masing dan kembali menatap Jessica dan Halla.

“Tidak mungkin, eonni. Bagaimana Taehyung bisa—” ucapan gadis itu terhenti ketika tatapannya bertemu dengan Jimin dan Sungjae. Dan ia langsung terpekur. “Jimin? Sungjae?”

Demi melihat kedua sahabat dekat Taehyung, tubuh Halla merosot ke bawah. Sudah tidak lagi membutuhkan penjelasan. Ternyata eonni-nya memang tidak salah lihat. Ternyata benar Taehyung yang celaka.

Terdengar suara derap langkah kaki yang mengarah pada mereka. Jimin, Sungjae, Jessica, maupun Halla menolehkan kepala dan melihat Baekhyun dan Taeyeon berlari ke arah mereka dengan wajah panik, dengan piyama dan sendal rumah yang dikenakannya. Terlihat sekali kalau kedua orangtua itu panik dan langsung menuju ke rumah sakit setelah mendapat kabar kalau anaknya kecelakaan sampai-sampai tidak sempat mengganti pakaian dan sendalnya.

“Park Jimin!” panggil Baekhyun dengan wajah panik, menatap satu persatu keempat orang disana dengan pandangan bertanya.

“Iya. Aku Park Jimin, aboe-nim.” Jimin maju selangkah dengan takut-takut.

Baekhyun menoleh pada Jimin, melangkah maju mendekatinya, dan meraih kedua bahu Jimin dengan gerakan cepat. “Apa yang terjadi pada putra kami? Kenapa kau tidak memberitahu kami tentang keberadaannya selama ini?!” tanya Baekhyun, memberikan tatapan marah sekaligus terluka pada Jimin.

Jimin menundukkan kepala, merasa bersalah. “Maafkan aku, aboe-nim.”

“Kenapa kau baru memberitahu kami setelah putra kami mendapatkan kecelakaan?!” bentak Baekhyun sambil mengguncangkan kedua bahu Jimin dengan keras.

Taeyeon segera menghampiri Baekhyun dan memisahkan suaminya dari Jimin. “Tenanglah, Suamiku. Ini bukan salah Jimin.” lerainya.

Baekhyun menutup matanya dengan salah satu tangannya ketika merasakan airmatanya mengalir. Taeyeon dengan segera memeluknya dan membawanya untuk duduk di salah satu bangku tunggu setelah memberikan tatapan meminta maaf pada Jimin.

“Ya Tuhan, cobaan apa yang sedang Kau berikan pada keluarga kami? Kalau Kau marah padaku, hukum aku saja, Tuhan, jangan anakku.” kata Baekhyun sambil terisak.

Taeyeon hanya menggigit bibir, mengusap punggung suaminya dengan pelan, berharap dapat menenangkan suaminya. Jimin, Sungjae, Jessica, dan Halla ikut menangis dalam diam mendengarnya.

Dua jam berlalu tanpa pembicaraan, lampu merah yang menyala di atas pintu ruang operasi akhirnya padam, pertanda operasi telah selesai, seiring dengan terbukanya pintu dan keluarnya seorang pria berjubah putih.

Baekhyun dan Taeyeon segera bergegas menghampirinya.

“Operasi berjalan lancar.” kata dokter itu, membuat seluruh orang tampak bernapas dengan lega. “Tetapi,” seluruh orang kembali menahan napas demi mendengar kata ‘tetapi’ dari mulut dokter. “Keadaannya masih sangat kritis. Butuh waktu yang lama untuk pasien mendapatkan kembali kesadarannya. Luka pada kedua kakinya cukup serius dan tampaknya pasien harus menggunakan kursi roda selama beberapa bulan sampai keadaannya memulih.”

Baekhyun dan Taeyeon tampak tertegun, bahkan Jimin, Sungjae, Jessica, dan Halla pun demikian.

“Dan juga,” dokter menghela napas sejenak. “Kepala pasien mengalami pendarahan yang sangat serius dan geger otak yang cukup hebat.” ia menatap Baekhyun dan Taeyeon dengan tatapan prihatin. “Tampaknya ada kemungkinan dia akan kehilangan memorinya untuk beberapa saat.”

Baekhyun dan Taeyeon terpekur, menutup mulutnya dengan tidak percaya. Tidak mungkin!

————————

Baekhyun melangkah masuk ke dalam kamar inap Taehyung dan menutup pintu dengan hati-hati. Dokter bilang kalau ingin melihat Taehyung ke dalam harus satu persatu. Jangan membuat keberisikan di dalam dan biarkan Taehyung istirahat dengan tenang. Maka dari itu Baekhyun masuk sendrian ke dalam.

Baekhyun mengambil posisi duduk di sebelah ranjang Taehyung sambil menatap wajah Taehyung dengan tatapan terluka. Oh, lihatlah putranya yang seminggu lalu baru saja ia lukai perasaannya itu, kini sedang berbaring di atas ranjang dengan tubuh penuh luka, dengan segala peralatan medis yang Baekhyun tak tahu namanya terpasang hampir di seluruh tubuhnya. Kalau saja ia tahu pada akhirnya akan berakhir seperti ini, ia tidak akan pernah memarahi putranya itu, ia tidak akan pernah memukul wajah putranya itu, dan ia tidak akan pernah membiarkan putranya berlari keluar rumah malam itu. Tetapi semuanya sudah terlambat. Putranya saat ini sedang berbaring di ranjang rumah sakit, sedang berjuang melawan kematian.

Cukup lama Baekhyun memandangi wajah Taehyung, hingga akhirnya ia meraih tangan Taehyung yang disambungkan dengan selang berisi cairan infus. “Taehyung~a.” panggil Baekhyun dengan suara lirih, menatap wajah Taehyung dengan mata berkaca-kaca. “Ini appa.” bisiknya kemudian, dengan suara bergetar. “Ini appa-mu, Taehyung. Kau mengenaliku, kan?”

Taehyung tidak bergeming. Matanya tetap terpejam. Napasnya naik-turun dengan begitu teratur.

“Apakah sakit?” tanya Baekhyun dengan lirih, seakan-akan tak punya tenaga lagi untuk berbicara. Airmatanya mengalir saat menambahkan, “Bertahanlah, Taehyung~a.”

Melihat Taehyung yang tetap tak bergeming, Baekhyun menundukkan wajahnya, memejamkan matanya, membiarkan airmatanya jatuh, mengalir membasahi pipinya, berhenti di dagu, lalu menetes membasahi celananya. Bibirnya digigit kuat-kuat, urat keningnya menegang, tangannya terkepal dengan erat. Lalu ia berkata dengan lirih, sambil terisak.

“Maafkan appa, Taehyung.” isaknya.

Inilah ucapan pemintaan maaf Baekhyun yang pertama kali pada putranya selama masa hidupnya.

————————

Sohyun baru mengetahui kakaknya kecelakaan ketika esok paginya. Gadis itu menangis dan memaksa ibunya untuk membiarkannya tidak masuk sekolah, ingin menemani Taehyung di rumah sakit. Taeyeon tidak punya pilihan lain. Baekhyun juga menyuruhnya untuk menuruti permintaan putri bungsunya, sementara suaminya itu tetap berangkat kerja setelah berpamitan pada Taehyung, mengecup kening putranya yang dibebat oleh perban.

Dan itulah kecupan pertama Baekhyun pada Taehyung setelah beberapa tahun berlalu semenjak kecupannya yang terakhir saat Taehyung masihlah seorang bocah berumur lima tahun.

Oppa.” Sohyun memandangi wajah Taehyung, sambil berusaha menahan tangis. “Kau pasti sedang mimpi indah, kan?” tanya Sohyun.

Taehyung tetap tak bergeming. Taeyeon yang duduk di sofa belakang hanya terdiam menatap putrinya berbicara pada Taehyung yang sedang terpejam.

“Guruku pernah bilang, kalau orang yang sedang mimpi indah saat tertidur berarti bangunnya akan lama. Awalnya aku tidak percaya, tetapi setelah melihatmu hari ini, sepertinya aku akan percaya pada ucapan guruku.” kata Sohyun.

Taeyeon menghela napas berat mendengar ucapan Sohyun.

“Tetapi, oppa,” Sohyun masih memandangi wajah Taehyung yang tampak begitu damai. “Kau akan segera bangun, kan? Kau akan segera terbangun dari mimpimu, kan? Iya kan, oppa?”

“Sohyun~a.” Taeyeon memanggil putrinya, membuat Sohyun menoleh padanya. Taeyeon langsung menggelengkan kepala, menyuruh putrinya untuk tidak lagi bertanya apapun pada kakaknya. Karena itu semua percuma. Taehyung tidak akan mendengarkan.

Sohyun langsung tertunduk, menghela napas berat. Padahal kan ia hanya menghibur dirinya sendiri saat melihat kakaknya dalam kondisi seperti itu.

Sohyun lalu mengangkat jari telunjuknya dengan tatapan memohon, berkata pada ibunya lewat isyarat mata untuk memberinya satu kesempatan lagi. Taeyeon menghela napas, tak bisa menghentikan keinginan putri bungsunya yang satu itu.

Sohyun kembali memandangi wajah Taehyung, kali ini ia menggenggam tangan Taehyung yang diinfus. “Oppa, kau masih ingat, kan, dengan ajakan appa saat kita makan malam bersama yang terakhir kalinya sebelum kau pergi kabur dari rumah?”

Taeyeon mengernyit, menatap punggung putrinya dengan tatapan tidak mengerti.

“Kau terlihat tidak antusias sekali saat appa bilang akan merayakan hari ulangtahunmu dengan mengajak kita pergi jalan-jalan di akhir pekan nanti. Tetapi begitu kita selesai makan, kau malah bilang padaku kalau ternyata kau senang sekali dan tidak sabar menunggu akhir pekan untuk pergi jalan-jalan bersama. Kau tahu tidak, sih, oppa? Kau itu terlalu malu untuk berekspresi di depan appa kalau sebenarnya kau senang sekali dengan ajakan itu.”

Taeyeon tertegun mendengarnya. Ia ingat hari itu. Taehyung memang terlihat tidak begitu antusias dengan ajakan Baekhyun yang akan mengajaknya pergi jalan-jalan di akhir pekan untuk merayakan hari ulangtahunnya, hanya Sohyun yang memekik senang dengan ajakan suaminya itu. Ia tidak menyangka kalau sebenarnya Taehyung merasa antusias dengan ajakan jalan-jalan itu.

Sohyun menghela napas. “Tetapi, gara-gara kau kabur dan tidak pulang ke rumah selama seminggu, jalan-jalan di akhir pekan itu akhirnya batal. Padahal kau sangat menantikannya, bukan?”

Tangan Sohyun bergerak membersihkan wajah Taehyung yang tampak kusam di bagian tertentu, lalu menatap kakaknya dengan senyum di bibirnya. Tidak, ia tidak menangis. Ia tulus tersenyum, pada kakaknya, berharap kakaknya melihat, dan berharap kakaknya mendengar seluruh perkataannya.

“Maka dari itu, oppa,” Sohyun kembali melanjutkan. “Cepatlah bangun dari tidurmu dan cepatlah sembuh. Agar kita bisa merayakan hari ulangtahunmu yang ketujuhbelas bersama-sama. Agar kita sekeluarga bisa jalan-jalan bersama saat akhir pekan. Jalan-jalan pertama bersama keluarga kita.” tutup Sohyun, lalu mengecup kening kakaknya.

Taeyeon hanya menahan rasa haru melihat putrinya. Lihatlah, putrinya itu tidak menangis. Sabar berbicara dengan kakaknya yang hanya diam tak bergeming walaupun sambil melihat keadaan kakaknya yang tampak begitu menyakitkan, seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam tubuh itu. Bahkan rasanya ia dan Baekhyun kalah dengan putrinya yang satu itu. Mungkin memang benar, tanpa ia sadari, sebenarnya anak-anaknya jauh lebih dewasa dibandingkan dirinya dan suaminya.

Tetapi Taeyeon tidak tahu kalau beberapa hari kemudian, Sohyun, putri bungsunya itu, tidak bisa lagi menahan tangisnya saat melihat keadaan kakaknya.

—tbc

Chapter 9 is here!
Nah, udah kubilang Taehyung nggak kemana-mana kan? Dia tuh ngumpet di rumah Jimin, yah, meskipun pada akhirnya harus… /mendadak diam, nangis di pojokan/ Huuaa~ My Taehyung-ie.. Maafkan author membuatmu harus seperti ini 😥 Aku paling nggak kuat pas ngetik bagian di RS, sumpah, bayanginnya aja bikin nyesek, pas dibaca ulang ternyata malah bikin nyesek :”
Well, kesedihan ini belom berakhir, masih ada next chapter yang, hm, bisa dibilang masih nyesek :”
Jangan lupa like dan comment-nya yah 🙂 Enjoy it, guys ^^

Advertisements

11 thoughts on “[Multichapter] Story of Byun Family — Chapter 9

  1. Huaaaa taehyung-ah…. Siuman dong… Tp ingatan yg hilang itu nanti apa aja ya pas taehyung siuman? Trus ttg halla masih blm terbuka lebar. Utk baekhyun, penyesalan memang selalu dtg terlambat. Tp lebih baik terlambat drpd ridak sama sekali kok. Ayoo, jadilah appa yg baik!!!

  2. Pas bagian akhirnya nyesek2 gimana gitu rasanya 😭
    Nanti siatehyungnya amnesia, nanti dia malah suka sama si sohyun. Gimana tuhhhh

  3. Klo Taehyung lupa beberapa ingatan dia, smoga yang dia lupa pas dia berantem sama Baekhyun itu. Jdnya yang gitu…
    Trs aku pernah kepikiran klo nanti Taehyung jd suka sama soohyun, abis mereka sweet gitu *lupa sama halla😅*
    Nice thor!

    • Yaampun, astaga astaga, mereka kakak adek T_T Konfliknya bakal berabe kalo malah suka gitu haha, namanya juga kakak cowo kan kadang gamau nunjukin rasa perhatiannya ke adeknya, betul, kan? B-)

  4. Next!!!!! Update nya cepet banget deh. Ayo aku penasaran. Kak kalo misal Taehyung amnesia, bikin dia jadi ceria dong XD Aku udah jantungan aja waktu baca yang masuk RS. Mulutku udah komat-kamit gaje “Taehyung nggak mati, Taehyung nggak mati,” #plakk. Nice story kak

    • Hehe mumpung sempet update cepet. Oke, saran kutampung, walaupun sebenernya udah kubikin sampe tamat sih hihi. Tenang dear, Taehyung gak mati kok, dia ada di hati aku :’)

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s