[Multichapter] Story of Byun Family — Chapter 7

req-zulfhania-byun-family

Starring by.
Byun Baekhyun (EXO) | Kim Taeyeon (SNSD) | Kim Taehyung (BTS) | Kim So Hyun (Actrees)

Support casts.
Park Jimin (BTS), Yook Sungjae (BtoB), Lee Halla (The Ark), Park Jane (The Ark), Bae Irene (Red Velvet), Joy Park (Red Velvet), Jessica Jung (Ex-SNSD), Oh Sehun (EXO), and others

Genre. Family, Marriage-life, Brothership

Rating. PG-15

Length. Multichapter

zulfhania, 2015

Poster by Laykim © Beautiful Healer

Previous. Teaser | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6

Chapter 7

Aku ingin orang-orang mengenalku karena aku adalah aku, bukan oranglain. Aku ingin orang-orang melihatku sebagai Byun Sohyun, bukan adik dari Byun Taehyung. 

.

Sohyun menuruni anak tangga sambil bersenandung pelan. Tak biasanya ia merasa sesemangat ini untuk pergi ke sekolah. Entahlah, ia juga tidak tahu kenapa pagi ini ia terlihat lebih cerah dari biasanya. Mungkin karena kemarin ia merasa bahagia bermain bersama teman-teman kakaknya. Atau mungkin juga karena ia berpikir Jane tidak akan mengganggunya lagi hari ini di sekolah.

Sohyun bertemu dengan Taehyung di meja makan. Ia tak bisa menahan senyumya saat bertemu dengan kakaknya. Akhirnya ia bisa sarapan bersama kakaknya itu lagi semenjak pertikaian yang terjadi di antara mereka.

Sohyun mengambil posisi duduk di sebelah Taehyung yang sedang mengoleskan selai pada roti tawarnya.

“Pagi, oppa.” sapa Sohyun, mengambil segelas air putih di atas meja. “Tidurmu nyenyak?”

“Pagi.” sahut Taehyung. “Hm, lumayan.”

Sohyun yang hendak meminum air putih langsung menoleh ke arah kakaknya, tertegun. Apakah ia tidak salah dengar? Kakaknya membalas sapaannya pagi ini?

Taehyung menoleh pada Sohyun dan balas menatap adiknya dengan heran. “Kenapa?” melihat adiknya tidak menjawab, ia lalu mengambil segelas air dari tangan Sohyun. “Kalau kau tak mau minum, biar aku saja.” katanya, lalu meneguk minuman dari tangan Sohyun.

Bukannya sebal, Sohyun malah tersenyum. Ia menatap kakaknya dengan tatapan penuh kasih sayang. Pagi ini, untuk yang pertama kalinya, kakaknya membalas sapaannya. Sepertinya ia memang benar-benar telah mendapatkan hari yang menyenangkan itu.

————————

Meskipun Taehyung sudah berbaikan dengan Sohyun, nyatanya itu tidak membuat Taehyung untuk kembali berangkat sekolah bersamanya dan ayahnya. Meskipun pagi ini Taehyung membalas sapaan Sohyun, nyatanya Taehyung masih dijemput oleh temannya, berangkat bersama temannya itu. Meskipun Taehyung sudah tidak marah lagi pada Sohyun, tampaknya Taehyung masih marah pada ayahnya yang memotong uang sakunya hingga akhir semester.

“Biarkan saja dia. Nanti juga lama-lama dia akan balik sendiri.” kata Baekhyun begitu melihat Taehyung tidak berangkat bersamanya lagi.

Sebenarnya Baekhyun merasa kecewa melihat putra sulungnya itu masih marah padanya. Ia pikir setelah akhir pekan kemarin ia melihat Taehyung tampak bahagia bermain bersama teman-temannya dan juga adiknya, putranya itu tidak akan lagi mogok bicara padanya. Tetapi ternyata dugaannya salah. Putranya itu masih mogok bicara padanya.

“Ayo, Sohyun. Kita berangkat. Nanti telat.” kata Baekhyun ketus, lalu melangkah keluar rumah.

Tidak. Baekhyun tidak berkata ketus pada Sohyun. Nyatanya, ia sudah berbaikan dengan putrinya itu. Ia sudah tidak mogok bicara lagi pada Sohyun, dan Sohyun pun merasa welcome dengan perubahan sikap ayahnya. Sepertinya ayahnya itu bersikap ketus karena hal lain.

Sohyun menoleh pada Taeyeon dengan tatapan tidak mengerti.

Taeyeon mengangkat bahu. “Mungkin ayahmu ngambek pada kakakmu yang masih mogok bicara padanya.” katanya.

Sohyun hanya tersenyum mendengar perkataan ibunya dan mengangguk setuju. Ia lalu pamit pada ibunya dan menyusul langkah ayahnya yang sudah terlebih dahulu keluar rumah.

————————

Begitu Taehyung dan Jimin tiba di kelasnya, mereka langsung disambut meriah oleh teman-teman sekelasnya. Taehyung dan Jimin sama-sama terkejut, menatap teman-temannya dengan tatapan bingung yang kini bertepuk tangan sambil berteriak menggoda Taehyung. Di bangku depan, Sungjae sudah duduk disana sambil tertawa-tawa melihat tingkah teman-teman sekelasnya.

“Apa yang terjadi?” tanya Taehyung setibanya di bangkunya, bertanya pada Sungjae.

“Mereka semua menyukai tindakanmu melawan Jane di koridor kelas dua tingkat menengah pertama tempo lalu.” kata Sungjae.

Taehyung melongo. “Tindakanku?”

Sungjae mengangguk. “Ada seorang siswi tingkat menengah pertama yang menyebar berita itu. Berita itu sudah jadi topik hangat di tingkat menengah pertama, adikmu pasti tahu itu. Dan sekarang berita itu sudah menyebar ke tingkat menengah atas. Mereka semua,” ia mengedikkan pandangannya pada teman-teman sekelasnya. “Mengagumi tindakanmu.” ia mengacungkan jempolnya. “Benar-benar keren. Singkat dan padat. Telak menampar Jane.”

Taehyung mengangkat alis, merasa heran. Siapa yang telah menyebarkan berita itu? Mungkinkah Yeri?

Teman-teman sekelasnya masih berteriak-teriak merasa kagum dengan tindakan Taehyung, bahkan ada di antara mereka yang sedang bisik-bisik, mulai menyadari ketampanan teman sekelasnya yang bernama Byun Taehyung. Mereka juga ada yang membicarakan Byun Sohyun, adiknya. Mulai menyadari pula kecantikan adik dari Taehyung itu.

“Bagaimana kalau dia—Byun Sohyun, maksudku—kujadikan pacar?” celetuk salah satu teman sekelasnya.

Bukannya Taehyung yang menjawab, justru malah Jimin dan Sungjae yang berteriak menjawab, “Tidak boleh.” dengan suara ketus. Bahkan Jimin sampai melepaskan salah satu sepatunya dan hendak melemparkannya pada teman sekelasnya itu. Jimin memang berlebihan.

“Sepertinya kau akan semakin tenar saja, Byun Taehyung.” ujar Jimin setelah memakai kembali sepatunya.

“Dan juga adikmu.” tambah Sungjae. “Sepertinya Byun Sohyun juga akan menjadi idola sekolah sepertimu di tingkat menengah pertama.”

Ah iya, bagaimana dengan adiknya sekarang ya? Benarkah dengan apa yang dikatakan Sungjae?

————————

Sohyun memandang bingung beberapa bingkisan yang terletak dengan begitu rapi di atas mejanya. Awalnya ia berpikir mungkin ia salah meja. Tetapi ternyata setelah didekati, memang benar ini adalah mejanya. Ataukah mungkin bingkisan-bingkisan ini yang salah tempat untuk diletakkan? Mungkin seharusnya bingkisan ini diletakkan di atas meja Jane, biasanya kan gadis itu selalu membawa bingkisan setiap hari.

“Itu milikmu, Byun Sohyun.”

Sohyun menoleh. Menatap salah satu teman sekelasnya yang—sungguh, ini pertama kalinya orang itu berbicara padanya.

“Milikku?” Sohyun terkejut.

Temannya itu mengangguk. “Anak kelas sebelah yang memberikannya. Siapa ya tadi namanya? Aku lupa.”

“Tidak hanya satu orang kok. Ada dari tiga atau empat orang yang tadi meletakkannya disana.” timpal teman sekelasnya yang lain.

“Tampaknya kau menjadi tenar sekarang, Byun Sohyun.”

Wajah Sohyun tampak memerah, salah tingkah. “Ah, manamungkin. Aku kan tidak melakukan apa-apa.”

“Tetapi sekarang orang-orang mengetahui kau adalah adik dari Taehyung sunbae, lelaki populer di sekolah ini. Bukankah itu menguntungkan bagimu?” tanya teman sekelasnya yang lain.

“Tidak juga.” kata Sohyun, ia menghela napas pendek. “Aku lebih menyukai statusku yang dulu, saat orang-orang belum mengetahui kalau aku adalah adik dari Taehyung oppa.”

“Kenapa begitu? Bukankah dengan orang-orang mengetahuinya, orang-orang akan mengenalimu dan melihat ke arahmu?”

Sohyun tersenyum. “Kau benar. Tetapi,” ia menoleh pada teman-teman sekelasnya. “Aku ingin orang-orang mengenalku karena aku adalah aku, bukan oranglain. Aku ingin orang-orang melihatku sebagai Byun Sohyun, bukan sebagai adik dari Byun Taehyung.” kata Sohyun, dengan intonasi titik, menutup seluruh keheranan teman-teman sekelasnya yang kini tampak tertegun.

Sohyun duduk di bangkunya. Memperhatikan bingkisan yang menumpuk di atas mejanya dengan bingung, lalu kembali menghela napas. Ia kembali menoleh pada teman-teman sekelasnya.

“Apakah kalian mau mengambil beberapa? Sepertinya aku tidak mungkin membawa semuanya. Aku hanya akan mengambil dua saja.” kata Sohyun, lalu memilih dua bingkisan dari sekian banyak bingkisan di atas meja.

Seluruh teman sekelasnya tampak tertegun. Tatapan mereka yang sempat sinis ketika menatap Sohyun kini mulai berubah melunak seiring dengan senyum tulus yang terukir di bibir mereka.

“Ternyata kau sungguh memiliki hati yang pemurah, Byun Sohyun. Aku menyesal baru menyadarinya sekarang.” ucap salah satu temannya.

————————

Sohyun memperhatikan bangku di belakangnya yang kosong dengan pandangan khawatir. Biasanya apabila saat istirahat seperti ini, ia mendengar suara celotehnya. Tetapi hari ini, Sohyun bahkan belum melihat gadis itu sejak pagi. Meskipun Sohyun terkadang tidak menyukai sikap temannya yang menyebalkan itu, tetapi ia tidak bisa memungkiri kalau ia merindukan suara celoteh gadis itu.

“Sohyun~a.”

Sohyun menoleh dan menemukan Yeri sudah berdiri di sebelah bangkunya.

“Oh? Oh Yeri, ada apa?” tanya Sohyun.

Yeri agak kikuk. Ia lalu memilih untuk menduduki bangku Jane yang kosong dan menatap Sohyun intens.

“Aku minta maaf.” kata Yeri, dan sebelum Sohyun menyahut, Yeri menambahkan kembali perkataannya. “Aku tahu mungkin selama ini aku sudah bersikap keterlaluan padamu. Bukan hanya aku, bahkan Jane, Ai, dan juga Sujeong seringkali bersikap keterlaluan padamu. Aku mewakili mereka bertiga benar-benar minta maaf atas segala kesalahan kami. Aku mengerti kalau kau tidak mau memaafkan kami. Tetapi hanya bencilah pada sikap kami, jangan benci kami.”

Sohyun hanya tersenyum mendengar pengakuan Yeri. “Tidak apa-apa, Yeri. Aku sudah memaafkanmu, kok. Ai, Sujeong, dan bahkan Jane pun sudah kumaafkan. Aku memang membenci sikap kalian, tetapi aku tidak membenci kalian kok.”

Yeri menahan haru mendengar ucapan Sohyun. Ia bahkan sedikit terkejut saat tiba-tiba saja Sohyun meraih tangannya dan menggenggamnya.

“Mulai hari ini, hiduplah dengan benar, Yeri. Hingga tak ada lagi penyesalan dalam hidupmu.” kata Sohyun.

Bahkan Yeri sampai ingin menangis mendengar ucapan Sohyun. Ia lalu beranjak dari duduknya, mendekati Sohyun, dan memeluk tubuh gadis kecil itu.

“Terimakasih, Sohyun~a. Terimakasih banyak.” tanpa sadar Yeri terisak.

Sohyun hanya tersenyum, menepuk punggung Yeri. “Tidak apa-apa.”

Yeri melepas pelukannya pada Sohyun. Ia berjalan menuju bangkunya, mengambil sesuatu dari dalam tas, kotak putih yang tidak begitu besar, lalu kembali mendekati Sohyun. “Ini untukmu.”

Sohyun mengernyit. “Apa itu?”

“Buka saja.”

Sohyun meraih kotak putih itu dan membukanya. Ia tertegun begitu menemukan sepasang sepatu nike berwarna ungu yang dipadukan dengan warna pink yang tampak begitu sporty dan trendy di dalam kotak tersebut. Ia menatap Yeri tidak mengerti.

“Aku minta maaf karena telah mengatakan sepatumu bulukan waktu itu. Sungguh, aku sama sekali tidak bermaksud mengatakan itu, hanya keceplosan saja. Jadi, kuharap kau menerima permintaan maafku. Dan sepatu ini,” Yeri menunjuk sepatu di dalam kotak putih. “Kuharap kau menyukainya. Itu untukmu.”

“Ya Tuhan, Yeri. Kau tidak perlu membelikanku sepatu baru.” decak Sohyun. Sebenarnya kalau Yeri mau tahu, Sohyun memiliki banyak sepatu di rumah. Hanya saja ia sudah merasa nyaman dengan sepatunya yang sudah bulukan itu, jadi ia tidak pernah menggantinya. Bukankah kau akan sulit melepaskan sesuatu bila kau sudah merasa nyaman dengan sesuatu itu?

“Habisnya, sepatumu tampaknya sudah bulukan sekali, jadi lebih baik aku membelikan untukmu.”

Sohyun tersenyum mengerti. “Aku tersanjung dengan kebaikanmu, Yeri. Terimakasih banyak.”

Sohyun meletakkan kotak putih itu di atas meja, lalu menoleh ke meja Jane yang kosong. “Jane bolos ya? Dari tadi pagi dia tidak kelihatan.”

Yeri tertegun sejenak. Berpikir apakah akan mengatakannya atau tidak.

“Dia pindah.” jawab Yeri, memutuskan untuk mengatakannya.

Sohyun menoleh terkejut. “Pindah?”

Yeri mengangguk. “Ibunya yang meneleponku pagi ini. Ibunya tidak mau menyekolahkan Jane disini lagi. Ibunya sudah tidak punya muka lagi mengetahui putrinya pernah bersikap demikian jahat kepadamu.”

Sohyun terpekur di bangkunya. Benar-benar merasa terkejut.

Yeri meraih tangan Sohyun dan meremasnya pelan. “Tetapi percayalah, Sohyun, itu yang terbaik untuk Jane. Kurasa keputusan ibunya sangat tepat untuk memindahkan Jane. Kita berdoa saja semoga di sekolah barunya, Jane bisa hidup dengan lebih baik. Aku yakin perkataan Taehyung sunbae saat itu benar-benar telah menamparnya.” Yeri tersenyum. “Kakakmu memang luar biasa, Sohyun. Beruntung sekali gadis yang akan menjadi pacarnya kelak.”

————————

Taehyung sedang membersihkan tangannya di air kran yang mengalir di sisi lapangan sekolah setelah bermain basket bersama teman-temannya. Teman-temannya sudah pergi ke kelas duluan, tinggallah Taehyung sendirian disana. Taehyung mengambil saputangan dari saku celananya, mengelap tangannya yang basah, lalu menyimpannya kembali ke dalam saku celananya. Ketika ia hendak menuju kelasnya, tatapannya bertemu pada seorang gadis berambut panjang yang duduk sendirian di bawah pohon dengan buku bacaan di tangannya, tak jauh dari tempatnya berdiri. Gadis itu tampak fokus dengan buku bacaannya. Anak-anak poninya yang jatuh menutupi sebagian matanya tertiup oleh semilir angin. Membuat dada Taehyung mendadak terasa berdebar. Mahakarya Tuhan, indah sekali makhluk-Mu yang sedang duduk disana.

Beberapa menit berlalu, gadis itu masih duduk disana. Taehyung juga masih berdiri tak jauh dari sana. Memperhatikan gadis itu dalam diam. Semilir angin kembali berhembus, membuat bulu kuduk merinding saking dinginnya. Gadis itu tiba-tiba saja bersin, tanpa aba-aba. Taehyung melihat gadis itu menutup mulut dan hidungnya dengan salah satu tangannya, sementara tangannya yang lain meraba-raba saku roknya, mencari sesuatu. Beberapa detik berlalu, gadis itu juga belum menemukan apa yang ia cari. Bahkan gadis itu sampai berdiri dan memeriksa kolong bangku yang ia duduki, siapa tahu mungkin terjatuh disana, tetapi tak juga ia temukan. Sepertinya gadis itu lupa membawanya, atau mungkin tertinggal di kelas.

Mengerti apa yang sedang gadis itu cari, Taehyung merogoh saku celananya. Memandang saputangan di tangannya sambil menimbang-nimbang, berpikir sesuatu. Beberapa saat kemudian, ia melangkahkan kakinya mendekati gadis itu yang masih sibuk mencari sesuatu. Setibanya di sebelah gadis itu, Taehyung menyerahkan saputangan di tangannya pada gadis itu. Gadis itu tertegun, memandang Taehyung dengan pandangan syok, merasa terkejut dengan kehadiran Taehyung yang tiba-tiba dan menyerahkan saputangan yang memang sedang dibutuhkannya saat ini.

“Pakai saja.” kata Taehyung pada gadis itu. “Kau bisa mengembalikannya di saat kau ingin mengembalikan.”

Setelah berkata begitu, Taehyung berlalu meninggalkan gadis itu yang terpaku dengan salah satu tangan memegang saputangan milik Taehyung.

Gadis itu tidak tahu kalau setelah Taehyung tak terlihat lagi di pandangannya, lelaki itu langsung jatuh terduduk saking lemasnya. Oh Tuhan, jantungnya benar-benar tak tertolong. Tubuhnya benar-benar terasa lemas. Gadis itu benar-benar telah membuat perasaannya tak keruan. Tolonglah Taehyung, Ya Tuhan.

————————

Baekhyun merenggangkan otot-ototnya yang tampak tegang karena terlalu lama berkutat di depan layar komputer dan beberapa berkas di atas meja. Ia melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul setengah 12. Sudah saatnya makan siang. Baiklah, saatnya istirahat.

Baekhyun bangun dari duduknya setelah membereskan berkas-berkas yang berantakan di atas meja kerjanya. Ia melangkah keluar ruang kerja dan menuju kantin. Belum sampai setengah perjalanan ia bertemu dengan Oh Sehun—pria yang berusia dua tahun di bawah Baekhyun yang bekerja dalam divisi yang sama dengannya.

“Kau ingin makan?” tanya Sehun ketika melihat Baekhyun.

“Tentu saja. Kau sendiri?” Baekhyun balas bertanya.

Sehun tersenyum. “Aku juga. Kebetulan sekali kalau begitu. Mari kita makan bersama. Sudah lama sekali kita tidak mengobrol, Baekhyun.”

Kemudian Baekhyun dan Sehun berjalan beriringan menuju kantin kantor, mengambil makanannya masing-masing, dan memilih meja yang bersebelahan dengan kaca besar yang menghadap langsung pemandangan kota Tongyeong.

“Bagaimana kabar istrimu?” tanya Baekhyun sambil menjepit daging panggangnya.

“Bae Suzy? Kabarnya baik sekali. Dia mengurus calon bayinya dengan amat tekun sekarang. Kau tahu? Kehamilannya sudah memasuki tujuh bulan.”

Baekhyun berdecak. “Wah, cepat juga ya. Sepertinya baru kemarin aku mendengar kabar kalau dia hamil.”

Sehun agak tertawa mendengar ucapan Baekhyun. “Yeri sangat menantikan kelahiran calon adiknya. Sepertinya dia tidak sabar untuk memiliki adik.”

“Tentu saja, Sehun. Putrimu itu kan anak tunggal selama hampir 14 tahun. Pasti dia sangat senang begitu mendengar akan mempunyai adik.” kata Baekhyun. “Putriku, Sohyun juga sangat ingin memiliki adik. Kalau saja aku dan Taeyeon sanggup, pasti kami akan mengabulkannya.”

Sehun menatap Baekhyun tidak mengerti. “Memangnya kenapa kalian tidak sanggup?”

Baekhyun tertawa. “Ya Tuhan, mengurus dua anak saja sudah sulit. Kau akan merasakannya nanti setelah anak keduamu lahir, Sehun. Menurutku, dua anak lebih baik.”

Sehun mengangguk-angguk mengerti.

“Oh iya, Baekhyun.” Sehun meletakkan sumpitnya dan menatap Baekhyun intens. “Aku mewakili putriku, Yeri, minta maaf atas kejadian yang menimpa putrimu, Sohyun di sekolah.”

Baekhyun menatap Sehun tidak mengerti.

“Aku benar-benar tidak tahu kalau selama ini Yeri hidup di sekolah dengan kehidupan yang seperti itu. Dia salah berteman, makanya dia jadi kehilangan arah begitu. Aku benar-benar minta maaf atas tindakan putriku pada putrimu selama ini. Lain kali aku pasti akan mendidiknya dengan baik, Baekhyun.”

“Tunggu, maksudmu apa, Sehun?”

Sehun menghela napas sejenak. “Putriku termasuk salah satu murid yang mem-bully putrimu di sekolah. Aku baru tahu kemarin. Dan maafkan aku karena selama ini aku tidak mengetahuinya. Mungkin aku memang terlalu sibuk bekerja sampai tidak memperhatikan putriku sendiri.”

Baekhyun mengernyit. “Putrimu mem-bully putriku?”

Sehun mengangkat kepala, balas menatap Baekhyun bingung. “Kau tidak tahu?”

Baekhyun menggeleng.

“Ya Tuhan, ternyata kita berdua sama-sama tidak memperhatikan putri kita dengan baik.” decak Sehun. Ia kembali menatap Baekhyun. “Kau bisa bertanya pada putrimu di rumah nanti. Dan sampaikan maafku dan putriku padanya. Oh, mungkin Yeri sudah meminta maaf langsung pada putrimu hari ini di sekolah. Tetapi tetap saja, aku sebagai ayah dari Yeri, meminta maaf juga. Termasuk padamu, Baekhyun. Aku meminta maaf karena putriku pernah menyakiti perasaan putrimu.”

Baekhyun terpekur di bangkunya. Nafsu makannya hilang seketika. Mendadak perkataan Taehyung tempo lalu terngiang kembali di telinganya.

Sohyun sudah merasa kesepian dan sendirian di sekolah karena tidak ada satupun teman yang ingin berteman dengannya, lalu apakah appa akan membuatnya semakin tidak punya teman dengan tidak memperbolehkannya keluar rumah selama sebulan? Apakah appa akan membuatnya semakin merasa kesepian dan sendirian di rumah? Setega itukah appa pada putrimu sendiri?!

Ya Tuhan! Bahkan ketika putranya membela putrinya untuk menyadarkannya, kenapa ia juga tidak kunjung tersadar? Kenapa selama ini ia tidak menyadari apa yang terjadi pada putrinya? Sekurang itukah perhatiannya pada putrinya?

“Baekhyun! Byun Baekhyun!” Sehun memotong lamunan Baekhyun. “Kenapa kau malah melamun?”

Baekhyun segera tersadar dan menggelengkan kepalanya. “Tidak apa-apa, Sehun. Hanya saja tiba-tiba aku merasa bersalah pada putriku.” ia menghela napas, tertunduk, menunjukkan wajah penyesalan. “Ternyata aku memang kurang memperhatikan anak-anakku.”

Sehun tersenyum. Ia menepuk bahu Baekhyun. “Masih ada waktu untuk memperbaikinya, Byun Baekhyun. Percayalah.”

Baekhyun balas tersenyum dan mengangguk.

“Oh, aku juga ingin berterimakasih pada putramu, Byun Taehyung, Baekhyun.” kata Sehun pada Baekhyun, menyebutkan nama putra sulung Baekhyun. Baekhyun menoleh tidak mengerti. “Terimakasih karena telah menyadarkan putriku. Mulai hari ini bisa kupastikan putriku akan hidup dengan baik di sekolah dan memperbaiki kesalahannya pada putrimu.”

Baekhyun semakin mengernyit, tidak mengerti.

Sehun tersenyum. “Kau bisa bertanya pada anak-anakmu di rumah nanti. Kuharap kau juga memperhatikan mereka lebih baik lagi setelah ini, Baekhyun. Kita berdua sama-sama belajar dari kejadian ini.”

————————

Baekhyun mengunyah makanannya sambil memandangi Taehyung dan Sohyun yang duduk di depannya saling bergantian. Kedua anaknya itu juga sedang menikmati makan malam, sama sepertinya. Taehyung sambil memainkan ponsel yang diletakkan di atas meja makan, sementara Sohyun sambil mengobrol dengan Taeyeon. Sesekali Sohyun tertawa bersama Taeyeon dan demi melihat tawa itu, Baekhyun merasa amat bersalah.

Lihatlah, Sohyun, wajah gadis itu terlihat amat bersinar ketika sedang tertawa bersama Taeyeon, tidak seperti beberapa hari silam yang tampak suram ketika Baekhyun memarahi serta membentaknya. Selama ini Baekhyun memang hanya memikirkan dirinya sendiri, tidak mempedulikan anak-anaknya hingga ia tak sadar kalau ia telah membuat kesalahan.

Baekhyun menundukkan kepala, menghela napas berat. Taeyeon yang menyadari perubahan air muka Baekhyun segera menyentuh pundak suaminya.

“Ada apa, Suamiku? Ada masalah?” tanya Taeyeon dengan suara khawatir.

Sohyun juga menolehkan kepalanya pada Baekhyun, hanya Taehyung yang tidak. Lelaki itu hanya melirik Baekhyun sekilas, lalu kembali memperhatikan ponselnya.

Baekhyun menoleh pada istrinya, tersenyum, lalu menggeleng. “Tidak ada apa-apa, Istriku.” ia lalu menoleh pada Sohyun. “Bagaimana kabarmu di sekolah, Sohyun?”

Sohyun mengangkat alis, merasa heran. Taeyeon dan Taehyung pun demikian. Mereka berdua menatap Baekhyun seolah-olah Baekhyun telah melakukan suatu hal yang langka. Oh, jelaslah langka. Tak biasanya Baekhyun bertanya mengenai sekolah anak-anaknya selama sedang makan. Jadi, bukankah itu hal yang amat sangat langka untuk didengar oleh Taeyeon, Sohyun, maupun Taehyung?

“Apakah teman-temanmu masih mengganggumu?” tambah Baekhyun.

“Oh?” Sohyun tergagap sejenak, lalu menggeleng. “Tidak. Jane sudah pindah sekolah hari ini.” jawab Sohyun kemudian.

Taehyung dan Taeyeon sama-sama menoleh terkejut. “Jane pindah?” tanyanya serempak.

Baekhyun sampai tertegun mendengarnya. Jane? Bahkan sepertinya ia baru pertama kali ini mendengar nama Jane, namun Taehyung maupun Taeyeon tampaknya sudah akrab sekali dengan nama itu. Apakah memang hanya ia satu-satunya yang selama ini tak mengenal siapa itu Jane? Apakah hanya ia yang selama ini merasa jauh dari anggota keluarganya?

Sohyun mengangguk. “Yeri yang memberitahuku.”

Baekhyun kembali tertegun. Yeri? Bukankah itu nama putrinya Sehun?

“Berarti tidak ada yang mengganggumu lagi di sekolah.” sahut Taehyung, tanpa sadar tersenyum.

Sohyun menoleh pada Taehyung, matanya memicing. “Kau tersenyum?”

Senyum Taehyung langsung menghilang, ia melirik Sohyun dengan sebal. “Aku tidak tersenyum!”

Sohyun mencibir. “Kau pasti merasa jadi pahlawan karena telah membuat Jane merasa tertampar waktu itu, kan? Gara-gara kau waktu itu, semua orang sekarang memandangku sebagai adik dari Byun Taehyung, lelaki populer dari tingkat menengah atas.” Sohyun merengut sebal. “Padahal kan aku adalah Byun Sohyun.”

Taehyung mendengus lucu. “Memangnya kau tidak senang kalau kau dikenal sebagai adik dari Byun Taehyung?”

“Sama sekali tidak.” Sohyun memeletkan lidahnya pada Taehyung. “Apa bagusnya Byun Taehyung, sih? Dia saja tidak pernah masuk ke dalam peringkat lima besar di kelasnya. Jangankan lima besar, sepuluh besar saja tidak. Bagaimana bisa dikatakan populer?”

Taehyung mendesis. Ia memukul kepala adiknya dengan sendok di tangannya.

“Aw.” Sohyun memekik, memegang kepalanya. “OPPA!

“Sudah bagus kemarin aku membantumu untuk melawan Jane, jadi sekarang ini balasanmu padaku?” kata Taehyung sewot.

Sohyun merengut. “Huh, oppa perhitungan sekali.”

Taehyung hendak memukul kembali kepala adiknya dengan sendok ketika Taeyeon melerai.

“Sudah, hentikan, Taehyung. Adikmu hanya bercanda.” lerai Taeyeon.

Taehyung merengut. Ia meletakkan sendok di atas meja. “Aku juga bercanda.” katanya ketus.

Sohyun mencibir. “Tidak akan ada yang percaya dengan perkataanmu, oppa. Wajahmu kan tidak bisa dibedakan saat sedang bercanda ataupun serius. Makanya, kalau jadi orang jangan bermuka tembok. Berekspresi dong! Bagaimana para gadis akan menyukaimu kalau oppa hanya memasang wajah tembok?”

Ucapan Sohyun telak mengenai Taehyung karena lelaki itu mendadak terdiam. Wajah gadis berambut panjang yang ia pinjami saputangan miliknya mendadak terbayang dalam pikiran Taehyung. Benarkah apa yang dikatakan Sohyun?

“Yeri bilang gadis yang akan menjadi pacarmu nanti akan beruntung sekali memiliki pacar sepertimu. Tetapi aku malah merasa kasihan padanya karena harus memiliki pacar berhati dingin dan berwajah tembok sepertimu, Taehyung oppa.”

Sekali lagi Taehyung memukul kepala adiknya dengan sendok tanpa sempat Sohyun menghindar.

OPPA!” Sohyun kembali memekik sambil memegang kepalanya dengan mulut merengut.

Baekhyun hanya mengulum senyum melihat tingkah kedua anaknya. Oh, kapan terakhir kalinya ia melihat kedua anaknya berdebat seperti itu? Rasanya sudah lama sekali. Pasti karena selama ini ia sibuk bekerja, jadi ia tidak menyadarinya. Ah, andai saja ia bisa kembali memperhatikan anak-anaknya. Eh, tunggu. Sepertinya apa yang dikatakan Sehun ada benarnya, ia masih memiliki waktu untuk memperbaikinya.

“Byun Sohyun, Byun Taehyung.” Baekhyun memanggil nama anak-anaknya dengan senyum di bibirnya. Kedua anaknya menoleh, balas menatap ayahnya yang kini sedang menatap lembut ke arah mereka. “Karena sebentar lagi Taehyung ulangtahun yang ketujuhbelas, bagaimana kalau akhir pekan nanti kita merayakannya dengan pergi jalan-jalan?”

————————

Akhirnya, Taehyung kembali pergi kesana. Diskotik itu.

Usai makan malam bersama keluarganya di rumah, Taehyung kembali duduk di sudut bar. Duduk menyendiri disana. Bersama wanita itu.

“Lama tidak melihatmu, Byun Taehyung.” ucap Jessica. Wajahnya terlihat murung saat bertanya, “Kau kemana saja?”

“Tidak kemana-mana. Hanya di rumah saja.” jawab Taehyung.

“Aku merindukanmu.”

Taehyung tersenyum. “Aku tahu itu. Maka dari itu aku kembali kesini.”

Padahal nyatanya, Taehyung kembali datang ke diskotik itu karena ia sudah berbaikan dengan Sungjae hingga ia bisa menemani temannya itu bekerja lagi seperti biasanya, bukan karena wanita itu.

“Kau tidak merindukanku?” tanya Jessica, manja.

Taehyung terdiam sejenak, menatap wanita itu sekilas, lalu tersenyum, senyum palsu. “Tentu saja aku merindukanmu.”

Jessica menahan senyum. Ia berjalan keluar dari meja bar, mendekati Taehyung, dan duduk di sebelah lelaki itu. Taehyung hanya memandangnya tanpa ekspresi. Terlebih ketika wanita itu tiba-tiba saja memeluknya, Taehyung sama sekali tidak berekspresi maupun membalas pelukan itu. Ia malah melihat ke arah Jimin dan Sungjae yang duduk di meja bar yang lain yang kini sedang menatap ke arahnya dengan tatapan jahil sekaligus menggoda. Taehyung hanya membuang muka sambil mendesis. Sialan dua bocah tengik itu.

Jessica melepas pelukannya, tetapi tangannya masih melingkar pada pinggang Taehyung. “Haruskah kita bersenang-senang?” tanyanya pada Taehyung.

Taehyung tidak menjawab, hanya balas menatap Jessica tanpa ekspresi. Sementara wanita itu semakin mendekatkan wajahnya pada leher Taehyung. Bahkan Taehyung bisa merasakan deru napas wanita itu pada kulit lehernya. Namun belum sempat bibir wanita itu menempel pada leher Taehyung, sebuah kekacauan tiba-tiba saja terjadi.

Pintu diskotik tiba-tiba saja didobrak oleh seseorang. Seluruh orang di dalam diskotik yang mendengarnya menolehkan kepala ke arah suara yang menggelegar dari arah pintu.

“DIMANA JESSICA JUNG?!”

Taehyung menoleh dan memperhatikan seorang pria bertubuh gemuk, besar, dan gempal masuk ke dalam diskotik sambil membawa pistol di tangannya. Di belakang pria itu, tampak beberapa pria lainnya yang tampaknya adalah anak buahnya berdiri dengan pakaian serba gelap. Kumpulan para gangster.

Taehyung merasa tubuh Jessica yang tak berjarak darinya tiba-tiba menegang. Ia menoleh pada Jessica dan melihat wanita itu menahan napas dan tampak ketakutan. Wanita itu segera berdiri dan berjalan menuju meja bar, bersembunyi di bawah kolong.

“DIMANA JESSICA JUNG?!” pria itu kembali berteriak. Kali ini disusul dengan bunyi tembakan pistol yang ia arahkan ke langit-langit diskotik. Akibatnya, beberapa lampu padam dan menimbulkan beberapa teriakan menjerit dari beberapa orang yang sedang berjoget di tengah ruangan.

Seluruh mata mengarah pada Taehyung, dimana biasanya di meja bar Taehyung itulah Jessica berada, membuat pria itu juga mengarahkan pandangannya kesana. Tatapannya bertemu dengan mata Taehyung yang balas menatapnya tanpa ekspresi, lalu pria itu mendengus.

Pria bertubuh gempal itu kemudian merangsek masuk ke dalam, mendekat ke arah Taehyung sambil menghajar beberapa orang yang menghalangi jalannya. Bahkan Taehyung sempat melihat Jimin terkena pukulan dari anak buah pria itu.

Taehyung berdiri dari duduknya, merasa jiwa perkelahiannya menguar dari tubuhnya setelah melihat sahabatnya kena pukul.

Pria bertubuh gempal itu berdiri tepat di hadapan Taehyung. Tanpa berbicara sepatah katapun, ia mengarahkan pistol di tangannya pada pelipis Taehyung. Seluruh orang di dalam diskotik langsung menahan napas, termasuk Jimin dan Sungjae.

“Halo, Bocah Kecil. Kau melihat Jessica Jung?” tanya pria itu.

Taehyung hanya melirik pistol yang menempel di pelipisnya dengan tatapan tanpa ekspresi, lalu kembali menatap pria di depannya, juga tanpa ekspresi.

“Ada apa kau mencari pacarku?” Taehyung balas bertanya.

Jimin dan Sungjae sama-sama mengumpat dari kejauhan. Bocah sialan, kenapa dia malah menginjak granat? Seharusnya dia mengatakan saja dimana Jessica berada lalu pergi jauh dari hadapan pria itu. Memangnya Taehyung benar-benar menganggap wanita itu adalah pacarnya selama ini? Tidak, kan? Taehyung benar-benar mencari mati!

Pria itu mendengus. “Pacar?” ia lalu menyeringai dan menatap Taehyung dengan tatapan tidak terkontrol. “Oh, jadi kau pacar gelap istriku?”

Kali ini Taehyung yang mendengus. “Kalian sudah cerai. Kau hanya mantan suaminya, Pria Tua.”

Pria itu melotot marah. Ia menarik pelatuk pistol, siap menembak pelipis Taehyung, membuat beberapa orang di belakang kembali menahan napas. “Sialan kau bocah tengik. Cepat katakan padaku dimana kau sembunyikan Jessica Jung?! Atau kutembak keluar isi kepalamu sekarang.”

Taehyung tersenyum pada pria itu. “Tembak saja. Aku tidak ta—”

DOR! Terdengar suara tembakan, membuat ucapan Taehyung terhenti seketika.

Seluruh orang di dalam diskotik kembali menjerit, kecuali Jimin dan Sungjae yang tertegun melihat Taehyung.

—tbc

Chapter 7 is here!
Waaaa~ konflik yang satu selesai, konflik lain muncul. Oke oke, ini udah mulai masuk konflik utama. Jadi tolong siapkan tisu atau saputangan atau baju yang kalian pake juga boleh, untuk next chapter-nya hihi… Siapkan ember juga untuk menampung embun dari kelopak matamu #halaaaaah~
Jangan lupa like dan comment-nya yah 🙂 Enjoy it, guys ^^

Advertisements

10 thoughts on “[Multichapter] Story of Byun Family — Chapter 7

  1. baru sepesai masalah satu iti kira” ada masalah apa lagi ya,..?
    makin keren penasaran ada apa did cerita selanjutnya,next next update chapt nya ditunggu

  2. itu beneran ke tembak?!!
    Uaa, nanti mereka gak jadi liburan keluarga dong~~
    Disini Jessica nya gimana ya..

    Btw.. yang cewek rambut panjang itu dari grup mana eon?

    IGHTING

  3. Keren. Baru kemarin Jane pergi, eh si Jessica dateng bikin masalah. Khusus ff ini, aku jadi kesel sama Jessica (Jessica itu bias utama aku). Dan akhir-akhir nya bikin nyesek sumpah. Please update soon *kedip-kedip mata

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s