[Multichapter] Story of Byun Family — Chapter 6

req-zulfhania-byun-family

Starring by.
Byun Baekhyun (EXO) | Kim Taeyeon (SNSD) | Kim Taehyung (BTS) | Kim So Hyun (Actrees)

Support casts.
Park Jimin (BTS), Yook Sungjae (BtoB), Lee Halla (The Ark), Park Jane (The Ark), Bae Irene (Red Velvet), Joy Park (Red Velvet), Jessica Jung (Ex-SNSD), Oh Sehun (EXO), and others

Genre. Family, Marriage-life, Brothership

Rating. PG-15

Length. Multichapter

zulfhania, 2015

Poster by Laykim © Beautiful Healer

Previous. Teaser | 1 | 2 | 3 | 4 | 5

Chapter 6

Untuk membuktikan kau adalah yang terbaik dan yang terkuat, untuk itukah kau ingin berteman? Jujur kukatakan padamu demi kebaikanmu, jangan hidup seperti itu. 

.

Taeyeon kembali ke ruang sidang bersama Sohyun beberapa menit kemudian. Tangannya menggenggam erat tangan Sohyun saat berjalan masuk ke muka ruangan, kembali berdiri di sebelah Jane dan ibunya.

“Aku sudah bicara dengan Sohyun.” kata Taeyeon, menatap satu persatu guru di dalam ruangan. “Putriku, Byun Sohyun, tidak melakukannya.”

Ibunya Jane menatap Taeyeon dengan tatapan tidak suka. “Sohyun eomma-nim, kau jangan membela putrimu yang salah.”

Taeyeon balas menatap ibunya Jane. “Bukan begitu, Jane eomma-nim. Aku tidak membelanya.” ia melirik Sohyun sekilas. “Hari ini aku kembali melihat Sohyun menangis.”

Sohyun menoleh pada ibunya, tertegun.

“Aku pernah melihat Sohyun menangis sebelumya. Saat Sohyun pulang ke rumah setelah pergi bermain bersama teman-temannya, ke Seoul, tanpa pamit denganku.”

Kali ini Jane yang menoleh pada Taeyeon, tertegun. Seoul? Apakah ibunya Sohyun itu sedang membicarakannya sekarang?

“Sohyun dan teman-temannya berangkat bersama naik mobil salah satu temannya. Sepulangnya ke rumah, aku melihat Sohyun malah menangis. Sohyun menangis, Guru. Karena dia merasa diperlakukan tidak adil oleh teman-temannya. Dia ditinggalkan di Seoul sendirian oleh temannya. Dia tidak diperbolehkan pulang dengan naik mobil bersama temannya. Bahkan temannya itu menyuruhnya untuk naik bus sendirian pulang ke rumah. Aku menangis mendengarnya.”

Wajah Jane berubah pucatt. Mendadak ia berkeringat dingin. Matilah ia.

Taeyeon menggelengkan kepala. “Tidak, Guru. Aku menangis bukan hanya karena itu. Karena Sohyun tidak bercerita padaku pada hari itu. Bahkan aku tidak tahu kalau sebenarnya dia pergi ke Seoul bersama teman-temannya. Aku baru mengetahuinya beberapa hari kemudian. Tetapi tahukah apa yang membuatku menangis hari itu?”

Para guru terdiam, menahan napas, menantikan kelanjutan kalimat Taeyeon. Bahkan Yeri, Jane, dan ibunya pun demikian.

Eomma, apakah aku tidak pantas mendapatkan teman? Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut Sohyun ketika aku bertanya kenapa dia menangis. Kenapa mereka tidak pernah menganggapku adalah temannya? Kenapa mereka bersikap seperti itu padaku? Rasanya sakit sekali, eomma. Itulah kalimat kedua yang dia ucapkan padaku. Ya Tuhan, ibu mana yang tidak menangis saat mendengar anaknya berkata demikian? Ibu mana yang tidak merasa sakit saat mendengar anaknya diperlakukan seperti itu oleh temannya? Bahkan Jane eomma-nim pun akan menangis bila mendengar putrinya bertanya begitu padanya.” katanya, sekilas melirik ke arah ibunya Jane.

Ibunya Jane hanya terdiam. Ia malah menatap Jane dengan tatapan kosong.

Taeyeon masih menatap para guru dengan intens. “Sohyun terlalu baik, Guru. Dia tidak bodoh, dia tidak polos, dia hanya terlalu baik. Saking baiknya, dia sampai menutupi rasa sakit hatinya ketika dianggap bukan teman oleh teman-temannya sendiri. Dia berusaha untuk menjadi teman yang baik untuk teman-temannya yang tidak menganggapnya teman. Bahkan dia mengikuti ajakan teman-temannya untuk pergi ke Seoul, meskipun itu berarti dia harus pergi diam-diam tanpa sepengetahuan orangtuanya supaya orangtuanya tidak melarangnya pergi. Itu semua dia lakukan hanya untuk temannya. Karena pada akhirnya ada teman yang ingin mengajaknya pergi bermain. Tetapi apa yang teman-temannya lakukan pada Sohyun? Meninggalkannya sendirian di Seoul? Tidakkah itu keterlaluan?”

“Hari ini Sohyun kembali menangis. Kalau dia menangis, berarti hanya karena dua alasan. Yaitu saat perasaannya terluka dan atau saat ada ketidakadilan.”

Ibunya Jane menatap Taeyeon dengan tatapan tidak mengerti. Taeyeon balas menatap ibunya Jane.

“Melihat Sohyun menangis hari ini, pasti dia merasa telah diperlakukan tidak adil. Sohyun tidak melakukan kekerasan pada Jane, dia tidak melakukannya. Aku yakin.”

Sohyun menatap Taeyeon dengan penuh haru. Tanpa sadar sebuah senyum tipis terukir di bibirnya. Ibunya benar-benar percaya padanya.

“Guru.” Taeyeon menatap Guru BK dengan intens, tanpa ada keraguan dalam tatapannya. “Putriku tidak salah. Harap pertimbangakan hal ini baik-baik.” tutupnya, dengan intonasi titik.

————————

Sidang selesai. Pada akhirnya Jane-lah yang dinyatakan salah. Setelah Taeyeon selesai berbicara, Yeri akhirnya memberikan kesaksian yang sebenarnya. Ia memberikan kesaksian palsu sebelumnya karena ia disuruh oleh Jane untuk menyelematkan namanya. Alhasil, ibunya Jane malah marah-marah pada putrinya itu. Berkata bagaimana mungkin putrinya bisa bersikap selicik itu. Maka dari itu sidang dinyatakan selesai setelah Sohyun mengatakan telah memaafkan seluruh kesalahan Jane.

Sohyun, Jane, dan Yeri sama-sama keluar dari ruang sidang. Sementara Taeyeon dan ibunya Jane masih berada di dalam ruang sidang, meluruskan permasalahan putrinya bersama para guru.

Ketiga gadis itu hanya berjalan dalam diam menuju kelasnya. Jane dengan wajah yang memendam amarah, Yeri dengan wajah penuh rasa bersalah, dan Sohyun yang hanya memperhatikan keduanya dengan tatapan heran. Begitu mereka tiba di dekat kelas 2-1, barulah Jane mengeluarkan amarahnya dengan mengunci tubuh Yeri di salah satu dinding.

Yya, Oh Yeri! Kenapa kau malah tidak membelaku di persidangan?! Kenapa kau melakukan itu padaku?! Teman macam apa kau, hah?!” kata Jane, menatap marah ke arah Yeri.

Yeri meringis. Tangannya berusaha mendorong tangan Jane yang mengunci tubuhnya. Sohyun yang melihat hal tersebut segera membantu Yeri untuk menyingkirkan tangan Jane dari tubuh gadis itu.

“Park Jane, lepaskan!” kata Sohyun.

“Kau tidak usah ikut campur!” Jane mendorong Sohyun hingga terjatuh ke lantai.

Yeri sampai melotot melihatnya. Ia kini balas menatap Jane dengan tatapan marah. “Karena kau benar-benar berhati busuk, Park Jane!” katanya kemudian.

“Apa katamu?!” Jane semakin mengunci tubuh Yeri. “Busuk?!”

Yeri tersenyum miring. “Sama seperti Sohyun, Jane. Sekarang aku baru menyadarinya. Kau terlalu busuk untuk dijadikan seorang teman. Sikapmu benar-benar keterlaluan. Sok penguasa! Sudah cukup sabar selama ini aku berteman denganmu. Mengatakan kebohongan demi kebohongan untuk membantumu. Sekarang aku tidak akan lagi bersikap seperti itu, Jane. Aku sadar kalau berteman denganmu itu membawaku ke dalam lubang hitam.”

Wajah Jane berubah murka. “Kau benar-benar!” Jane mengangkat tangannya, hendak memukul Yeri, tetapi Sohyun dengan cepat bangun dari duduknya dan menahan tangan Jane.

“Hentikan, Jane. Kau baru saja selesai disidang, apakah kau ingin kembali disidang karena hal ini?” kata Sohyun.

Jane mendengus lucu. Ia mengenyahkan tangan Sohyun dari tangannya dan melepaskan cengkeramannya pada tubuh Yeri, membebaskan temannya yang telah berkhianat itu. Ia kemudian beralih pada Sohyun dan menatapnya dengan tatapan tidak terkontrol.

Yya, Byun Sohyun. Sekarang kau benar-benar berani padaku, ya?” tanya Jane.

Sohyun balas menatap Jane. “Bukankah sudah kubilang kalau mulai hari ini aku akan melawanmu? Aku bukan lagi Byun Sohyun yang kau kenal pertama kali, Park Jane. Aku bukan bonekamu lagi.”

Jane menggertakkan gigi. “Kurangajar.” Tangannya kembali terangkat, hendak memukul Sohyun. Namun sebuah tangan dengan cepat menahan gerakan tangan Jane.

Bukan tangan Yeri. Melainkan…

Jane, Sohyun, dan Yeri bahkan sampai tertegun melihat siapa yang menahan tangan Jane.

“Tidak ada kekerasan di dalam sekolah, Park Jane.” kata Taehyung, menatap Jane dengan tanpa ekspresi.

Jane tergagap. “Ta-Taehyung sunbae-nim?”

Oppa?” Sohyun menatap Taehyung dengan tatapan syok.

Taehyung melirik tangan Jane yang terangkat, yang kini sedang ia tahan dengan tangannya, lalu kembali menatap Jane. “Apa yang ingin kaulakukan pada adikku? Memukulnya?”

Jane dan Yeri tertegun. Adik?

Taehyung mengenyahkan tangan Jane dengan keras hingga gadis itu terlempar ke belakang. “Sudah kubilang tidak ada kekerasan di dalam sekolah, Park Jane.” katanya dengan kalem, lalu menarik pundak Sohyun yang masih syok akibat kedatangan kakaknya yang tiba-tiba. “Dan kau tidak bisa melakukan kekerasan pada adikku.”

Jane semakin syok begitu melihat tangan Taehyung yang dengan ringannya merangkul pundak Sohyun. Sudah cukup ia merasa terkejut dengan kehadiran idola sekolah sekaligus lelaki yang disukainya itu secara tiba-tiba, kini ia dikejutkan kembali dengan lelaki itu yang kini merangkul pundak Sohyun dan menyebut gadis itu adalah adiknya. Yang benar saja! Tidak mungkin kan kalau Sohyun benar-benar adiknya Taehyung?

“Ah,” Taehyung teringat sesuatu. “Kau belum tahu ya? Baiklah, aku akan memperkenalkannya. Gadis ini,” ia menepuk pundak Sohyun. “Byun Sohyun. Dia adalah adikku. Adik kandungku. Kalian pasti tidak percaya, kan? Tetapi begitulah kenyataannya.”

Jane terpekur. Yeri pun demikian. Tidak mungkin!

Taehyung menurunkan tangannya dari pundak Sohyun, lalu maju selangkah mendekati Jane. Menyejajarkan pandangannya pada manik Jane, membuat gadis itu menahan napas. Mati kutu.

“Dan kau,” Taehyung memperhatikan Jane dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Adalah Park Jane yang biasanya datang ke kelasku untuk memberiku bingkisan, bukan?” tanyanya. Ia menoleh sekilas pada Yeri dan menunjuk ke arah gadis itu. “Dan kau adalah salah satu temannya, benar kan?”

Yeri yang tak menyangka akan diajak bicara oleh Taehyung segera menganggukkan kepala dengan patah-patah.

Taehyung tersenyum, bukan senyum yang tulus, lalu kembali menatap Jane. “Dunia benar-benar sempit, bukan? Ternyata kalian adalah teman-temannya adikku.”

Taehyung kembali menegakkan tubuhnya, lalu matanya membulat, seakan teringat dengan sesuatu. Kemudian ia menoleh pada Sohyun.

“Sohyun~a, bukankah kau bilang kalau temanmu yang bernama Jane tidak pernah menganggapmu adalah teman? Apakah dia orangnya?” tanyanya sambil menunjuk Jane.

Jane menelan ludah.

Oppa.” Sohyun bersuara, bermaksud untuk menyuruh Taehyung agar menghentikan seluruh perkataannya. Lihatlah Jane sekarang, gadis itu benar-benar pucat sekali. Gadis itu benar-benar sedang ditelanjangi oleh lelaki yang disukainya. Sohyun ingin itu dihentikan.

Sayangnya, Taehyung tidak berniat untuk berhenti.

“Berarti dia yang meninggalkanmu sendirian di Seoul, bukan?”

S-sunbae, aku bisa jelaskan.” Jane akhirnya mengeluarkan suaranya, berusaha untuk membela diri.

Taehyung menoleh pada Jane. “Tidak ada yang perlu dijelaskan, Park Jane.” ia lalu melirik pada Yeri hingga gadis itu tersentak kaget karena tiba-tiba Taehyung menoleh ke arahnya.

“Kau juga pasti ikut ke Seoul bersama Jane dan Sohyun, kan?” tanya Taehyung pada Yeri.

Lagi-lagi Yeri mengangguk dengan patah-patah.

“Berarti kau juga meninggalkan adikku sendirian di Seoul?”

Yeri tergagap. “Ah, itu—”

Taehyung mengangkat tangannya, menghentikan ucapan yang hendak dikatakan Yeri. “Aku tak butuh penjelasan. Aku tahu kau hanya mengikuti perintah Jane.” katanya, kemudian ia tersenyum pada Yeri, kali ini senyum tulus. “Tetapi aku berterimakasih padamu karena telah mengatakan yang sejujurnya saat persidangan tadi. Terimakasih karena telah membela adikku. Lain kali, lakukan seperti itu lagi. Katakanlah kebenaran.”

Yeri merasa meleleh melihat senyuman tulus Taehyung. Berbeda dengan Jane yang kali ini kembali menciut setelah Taehyung kembali menatap ke arahnya dengan tatapan tajam.

“Dan kau, Park Jane, aku akan menjawab pertanyaan yang kau ajukan pada Yeri sebelumnya.” kata Taehyung.

Jane menatap Taehyung tidak mengerti. Bahkan Yeri dan Sohyun pun demikian.

Kenapa kau malah tidak membelaku di persidangan?! Kenapa kau melakukan itu padaku?! Teman macam apa kau?!” Taehyung mengulang pertanyaan Jane yang diajukan pada Yeri sebelumnya. “Kau benar-benar tidak tahu alasannya?” tanyanya, menatap Jane, menelenjangi gadis itu dengan tatapannya.

“Park Jane, kau. Untuk membuktikan kau adalah yang terbaik dan yang terkuat, karena itukah kau ingin berteman?”

Jane terpekur.

“Jujur kukatakan padamu demi kebaikanmu,” Taehyung melanjutkan, menatap Jane intens. “Jangan hidup seperti itu.”

Setelah berkata begitu, Taehyung berbalik. Meraih tangan Sohyun dan menarik gadis itu untuk pergi dari sana. Meninggalkan Jane yang terpekur.

————————

Taehyung membawa Sohyun hingga keluar gedung tingkat menengah bawah. Sohyun hanya diam saja saat kakaknya itu terus menarik tangannya hingga gerbang sekolah. Disana, ia melihat Taeyeon berdiri menunggu. Begitu pandangan mereka bertemu, ibunya tersenyum. Tetapi Sohyun justru menghentikan langkahnya, melepas tangan Taehyung.

Taehyung menoleh terkejut. Dilihatnya adiknya itu yang malah berwajah ditekuk.

“Sohyun~a?”

Oppa, kau ingin membawaku kemana?” tanya Sohyun, merengut. Melihat ibunya yang berdiri menunggunya di gerbang sekolah.

Taehyung menghela napas pendek, lalu menatap Sohyun. “Pulanglah bersama eomma. Istirahatlah dulu di rumah.”

Sohyun mengangkat kepala, menatap kakaknya tidak mengerti. Tetapi Taehyung malah menepuk pelan kepala adiknya, dengan tatapan penuh kasih sayang.

“Tenangkan pikiranmu di rumah, Sohyun~a. Kau terlalu lelah akhir-akhir ini. Jadi sekarang pulanglah. Eomma sudah mengurus perizinan pulangmu. Semua akan baik-baik saja.”

Sohyun masih merengut. Padahal hari ini ia sama sekali belum masuk ke dalam kelas untuk mengikuti pelajaran, sekarang malah disuruh pulang. Sohyun kan ingin belajar.

Sambil tersungut-sungut, Sohyun berbalik dan melangkah menuju gerbang sekolah, menghampiri ibunya.

“Sohyun~a.” panggil Taehyung. Sohyun menoleh, masih dengan wajah merengut. “Kau sudah melakukan yang terbaik. Oppa bangga padamu.” kata Taehyung kemudian.

Mata Sohyun mengerjap, berusaha mencerna ucapan kakanya. Namun kemudian, tanpa sadar, ia tersenyum. Tanpa berkata apa-apa, ia membalik tubuhnya dan berlari menghampiri ibunya. Memeluk Taeyeon dengan erat, melampiaskan rasa bahagianya pada ibunya, lalu melangkah keluar gerbang sekolah setelah melambaikan tangan pada Taehyung.

Sohyun tahu, Sohyun menyadari, meskipun kakaknya itu tidak mengatakan apa-apa, tetapi ia tahu, kalau kakaknya sudah tidak marah lagi padanya. Dan tak ada yang lebih membahagiakan daripada itu bagi Sohyun.

Selepas kepergian Sohyun dan Taeyeon, Taehyung tersenyum tanpa sadar. Tangannya terangkat, balas melambaikan tangan pada adiknya, meskipun adiknya itu sudah tidak terlihat lagi. Jujur saja, inilah kali pertama ia balas melambaikan tangan pada adiknya. Dulu, ia berpikir ini adalah hal yang konyol. Memangnya mereka masih anak kecil, yang melambaikan tangan ketika akan berpisah? Tetapi kini Taehyung menyadari, melambaikan tangan bukanlah hal konyol yang hanya dilakukan oleh anak kecil. Melainkan, dengan melambaikan tangan pada orang yang berpisah dengan kita merupakan salah satu bentuk tersirat sebagai harapan mereka akan berjumpa lagi suatu saat nanti, dan juga sebagai doa agar orang yang berpisah dengan kita diberikan keselamatan dalam perjalanan.

Taehyung menghela napas panjang setelah selesai melambaikan tangan. Setelah beberapa saat ia terdiam, ia berbalik, hendak melangkah menuju gedung tingkat menengah atas. Tetapi tepat ketika ia berbalik, ia tertegun.

Park Jimin sedang berdiri beberapa meter di depannya. Menatapnya dengan senyum di bibirnya.

“Kau benar-benar kakak yang luar biasa, Byun Taehyung.” kata lelaki itu.

Tadi, setelah Taehyung tiba-tiba saja berdiri dari duduknya ketika ia dan Irene berbicara mengenai siswi bernama Park Jane yang sering datang membawa bingkisan untuk Taehyung dan Taehyung yang tiba-tiba saja berlari keluar kelas, Jimin langsung mengikuti lelaki itu hingga ke gedung tingkat menengah bawah. Memperhatikan Taehyung yang mengintip persidangan di ruang BK. Memperhatikan Taehyung yang berbicara pada Taeyeon setelah ibunya itu keluar dari ruang BK. Dan juga memperhatikan Taehyung saat lelaki itu membela Sohyun di koridor kelas dua.

Jimin menatap takjub sosok sahabatnya yang berdiri tak jauh di depannya. “Aku tidak menyangka kau akan melakukan hal tersebut pada adikmu.” katanya.

Taehyung mengalihkan pandangannya ke arah lain, bermaksud menghindari tatapan Jimin. Tetapi Jimin hanya tersenyum. Ia tahu, sungguh, ia mengetahuinya, meskipun terkadang Taehyung sering bersikap semaunya, lelaki itu pasti masih memiliki sedikit rasa kasih sayang pada keluarganya.

Jimin melangkah mendekat pada Taehyung. Ia lalu merangkul pundak lelaki yang lebih tinggi darinya itu.

“Byun Taehyung.” Jimin menyebut nama Taehyung, tanpa melepaskan pandangannya pada lelaki itu. “Kalau kau bisa menyadarkan Jane tentang kesalahan arahnya dalam pertemanan, berarti kau bisa menyadarkan dirimu sendiri, kan, tentang kesalahanmu pada Sungjae?”

Taehyung tertegun.

Jimin menepuk pundak Taehyung. “Sungjae merindukanmu, Taehyung. Dan aku juga merindukan kalian berdua. Berbaikanlah dengannya. Dan kita akan pergi main bersama lagi setelah itu.”

Taehyung tidak berkata apa-apa.

Taehyung dan Jimin kemudian bertemu dengan Sungjae yang sedang berganti pakaian olahraga di dalam kelas. Pandangan Taehyung dan Sungjae sempat bertemu beberapa saat sebelum Taehyung kembali memalingkan pandangannya. Jimin menggelengkan kepala, berdecak, mungkin belum saatnya.

Taehyung dan Jimin kembali bertemu dengan Sungjae di lapangan basket saat lelaki itu membawa keranjang besar yang berisi setumpuk bola basket. Hari ini adalah giliran Sungjae yang piket membawa peralatan olahraga ke lapangan. Namun sebelum keranjang itu diletakkan di lapangan, teman-teman sekelasnya berebut mengambil bola orange itu, sehingga Sungjae kehilangan keseimbangan tubuh dan ia terjatuh bersama keranjang dan setumpuk bola orange di dalamnya. Taehyung terlihat tertegun, berdiri dari duduknya, dan hendak bergegas menghampiri Sungjae. Tetapi tiba-tiba saja ia kembali duduk di sebelah Jimin seolah ia tidak melihat apa yang baru saja terjadi. Lagi-lagi Jimin menggelengkan kepala, berdecak, mungkin masih belum saatnya.

Taehyung dan Jimin bertemu dengan Sungjae lagi di lapangan basket ketika pelajaran olahraga berakhir. Lelaki itu sedang memasukkan bola-bola basket ke dalam keranjang besar yang akan dibawanya ke dalam gudang olahraga. Sungjae terlihat tampak kesulitan membawa bola-bola orange itu yang jumlahnya tak seberapa, sementara teman-temannya yang lain langsung kembali ke dalam kelas, tanpa mempedulikan Sungjae. Taehyung hanya melihat Sungjae dari kejauhan dengan tatapan tanpa ekspresi. Jimin yang hendak melangkah menuju kelas menyikut lengan Taehyung ketika dilihatnya lelaki itu terdiam. Tetapi Taehyung tidak menoleh ke arah Jimin, ia masih menatap Sungjae, hingga akhirnya kakinya melangkah mendekati lelaki itu yang sedang berjongkok memungut bola basket satu persatu di tengah lapangan.

Sungjae tertegun ketika melihat Taehyung tiba-tiba mendekatinya dan membantunya memungut bola-bola orange yang berserakan di lapangan. Tatapan mereka sempat bertemu, dan Taehyung tersenyum sekilas pada Sungjae sebelum melanjutkan memungut bola basket. Dan demi melihat senyum itu, Sungjae balas tersenyum. Tampaknya ia dapat bernapas dengan lega setelah melihat senyum itu.

Jimin juga bernapas dengan lega dari kejauhan. Akhirnya tiba juga saatnya.

Jimin kemudian berlari, loncat ke tengah lapangan, dan ikut membantu Sungjae dan Taehyung memungut bola basket di tengah lapangan. Senyumnya tiada memudar di bibirnya ketika bertatapan dengan Sungjae dan Taehyung. Tak ada yang lebih bahagia daripada ini.

Mereka lalu membawa keranjang besar itu bersama-sama ke dalam gudang olahraga. Semua jadi terasa mudah saat dikerjakan bersama-sama. Keranjang besar yang terasa berat saat dibawa oleh Sungjae tadi, kini terasa ringan saat Taehyung dan Jimin datang membantunya. Memang tak ada pembicaraan spesifik di antara mereka. Mereka hanya berbicara seolah tak pernah terjadi perselisihan di antara mereka. Tak ada kata maaf yang terucap dari bibir Taehyung maupun Sungjae. Tetapi mereka tahu kalau mereka sudah saling memaafkan. Dan sekali lagi, tak ada yang lebih bahagia daripada ini.

————————

Hari ini akhir pekan. Sohyun menjalani hukuman keduanya dari Baekhyun pada pekan pertama, yaitu tidak boleh bermain keluar rumah. Ini benar-benar membosankan baginya. Ia hanya bisa berdiam diri di rumah, tidak mengasyikkan. Kerjaannya hanyalah membantu ibunya membersihkan rumah, menemani ibunya memasak, dan hal rumah tangga lainnya. Lama-lama Sohyun merasa jenuh.

Baekhyun ada di rumah juga. Tetapi ayahnya itu hanya berdiam diri di lantai atas. Sama sekali tidak turun ke bawah, kecuali saat sarapan tadi pagi. Tampaknya ayahnya itu masih marah padanya.

Taehyung juga ada di rumah, tidak biasanya kakaknya itu tidak main keluar. Tetapi seperti biasa, kalaupun memang Taehyung berada di rumah saat akhir pekan, kakaknya itu pasti hanya berdiam diri di dalam kamar. Sama seperti ayahnya, kakaknya hanya keluar kamar saat sarapan saja.

Sohyun dan Taeyeon sedang menonton televisi ketika Taehyung keluar dari kamar dengan wajah awut-awutan, sepertinya hendak mandi. Begitu Taehyung masuk ke kamar mandi, Baekhyun berteriak dari lantai atas memanggil nama Taeyeon. Taeyeon mendesis dan segera beranjak ke lantai atas, menghampiri suaminya. Taehyung keluar dari kamar mandi beberapa menit kemudian. Tepat ketika Taehyung keluar dari kamar mandi, bel rumah berbunyi. Ada tamu.

“Buka pintunya, Sohyun.” kata Taehyung ketika dilihatnya adiknya itu malah diam saja, asyik dengan drama di televisi.

“Iya.” sungut Sohyun, beranjak bangun dari duduknya setelah melemparkan pandangan kesal pada kakaknya. Padahal kan bisa kakaknya sendiri yang membukakan pintu, kenapa malah menyuruh Sohyun.

Bel rumah terus berbunyi ketika Sohyun melangkah menuju pintu. Tampaknya orang itu tidak sabaran sekali.

“Iya, tunggu sebentar.” teriak Sohyun, lalu membuka pintu rumah

Ketika Sohyun membuka pintu rumah, ia tertegun. Matanya mengerjap melihat ketiga orang asing di depannya. Dan segala kericuhan langsung terjadi tepat ketika ia membuka pintu.

“Ya ampun, Byun Sohyun, kau lama sekali sih membuka pintunya, aku kan sudah kebelet pipis.”

“Astaga, Sungjae. Tadi kan sudah kubilang untuk pipis di pom bensin saja. Kau malah tidak mau.”

“Biasalah, Jimin. Sungjae kan tidak bisa pipis di tempat seperti itu.”

Heol. Kau tahu saja, Joy. Oh, halo, Sohyun, kenapa wajahmu terlihat bingung begitu. Taehyung ada di rumah, kan?”

“Ya Tuhan, Byun Sohyun, tolong tunjukkan aku dimana toiletnya. Aku benar-benar tidak tahan.”

“Yook Sungjae, sopanlah sedikit pada tuan rumah.”

“Oh, maafkan aku, Joy sayang. Tetapi aku benar-benar tidak tahan.”

Sohyun masih belum sempurna sadar dengan apa yang terjadi di hadapannya ketika salah seorang lelaki di antara mereka bertiga lari di tempat sambil memegang celana bagian selangkangan, menggerutu minta diantarkan ke kamar kecil. Sementara lelaki bertopi merah dengan tulisan J berwarna kuning di tengahnya menabok kepala lelaki itu ketika lelaki itu bersikap kurangajar pada pemilik rumah. Dan satu-satunya gadis yang mengenakan dress polkadot merah hingga selutut yang membawa sebuah parsel di tangannya hanya mengkomentari bagaimana kebiasaan lelaki yang bertingkah seperti cacing kepanasan itu. Ini adalah pertama kalinya Sohyun bertemu dengan ketiga orang asing itu, tetapi tampaknya ketiga orang itu seperti sudah mengenal Sohyun dengan dekat. Bahkan mereka bertiga menyebut nama Sohyun dengan ringannya, dengan bahasa informal, seakan-akan mereka adalah teman akrab yang sudah lama tidak berjumpa dengan Sohyun. Dan Sohyun benar-benar merasa heran dengan kejadian yang terjadi nyata di depan matanya, dengan ia sebagai tokoh utama.

“Byun Sohyun, aku benar-benar sudah kebelet.” teriak lelaki yang bertingkah seperti cacing kepanasan itu.

“Oh, iya.” Sohyun segera tersadar dan mengantarkan lelaki itu menuju kamar kecil. Sementara lelaki bertopi merah dan gadis yang membawa parsel di tangannya melangkah masuk ke dalam sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah.

Sohyun melirik pintu kamar Taehyung yang sudah tertutup, entah sejak kapan kakaknya itu kembali masuk ke dalam. Ia juga melirik ke lantai atas, berharap ayah dan ibunya segera turun dan menangani tiga makhluk asing yang tiba-tiba saja datang ke rumahnya ini.

“Sudah berkali-kali aku mengantar jemput Taehyung, tapi baru kali ini aku masuk ke dalam rumahnya. Ternyata rumahnya besar juga.” decak lelaki bertopi.

Gadis yang membawa parsel di tangannya melangkah mendekati Sohyun yang berdiri menunggu di depan toilet. “Ini untukmu, Byun Sohyun.” katanya, menyerahkan parsel tersebut pada Sohyun.

Sohyun yang masih tidak mengerti segera menerima parsel tersebut dengan wajah bingung. Tepat ketika itu, lelaki ‘cacing kepanasan’ itu keluar dari kamar mandi.

“Uh, leganya.” katanya, ia lalu menepuk pundak Sohyun sambil menyengir lebar. “Terimakasih, Byun Sohyun. Kau penyelamat kantong kemihku.”

“Eh?” Sohyun terkejut ketika lelaki itu menyentuh pundaknya. “I-iya, sama-sama.” jawabnya, masih bingung.

Gadis berpakaian polkadot itu memukul lengan lelaki ‘cacing kepanasan’ dengan wajah ditekuk, sepertinya ia tidak suka dengan tingkah lelaki itu yang menepuk pundak Sohyun, seperti cemburu. Sementara lelaki itu hanya menyengir lebar, menunjukkan wajah tanpa berdosa, lalu berjalan menghampiri lelaki bertopi yang masih melihat-lihat isi rumahnya.

Astaga. Siapa ketiga makhluk asing ini?

Seakan menjawab pikirannya, tepat saat itu, pintu kamar Taehyung terbuka dan lelaki itu keluar dari kamar.

“Oh? Kalian sudah datang?”

Sohyun dan ketiga orang asing itu sama-sama menoleh ke arah suara. Taehyung melangkah mendekati dua lelaki yang berdiri di ruang tengah. Mereka saling berangkulan sebelum akhirnya Taehyung mempersilahkan kedua lelaki itu untuk duduk. Ia lalu menoleh pada Sohyun dan gadis berpakaian polkadot yang berdiri di depan pintu kamar mandi.

“Oh? Halo, Joy. Kau juga datang?” tanya Taehyung, terkejut begitu mengenali gadis berpakaian polkadot yang berdiri di sebelah Sohyun.

Gadis itu tersenyum, lalu melangkah menuju ruang tengah. “Hanya menemani Sungjae. Lagipula aku juga ingin bertemu adikmu.” katanya, sekilas melirik Sohyun.

Taehyung melihat adiknya yang masih berdiri dengan bingung. Melihat adiknya seperti itu, ia berjalan mendekati adiknya.

“Hey, kau kenapa? Cepat buatkan minum untuk teman-temanku.” kata Taehyung menyadarkan lamunan Sohyun.

Sohyun balas menatap Taehyung. “Mereka teman-temanmu?”

Taehyung mengangguk. Ia lalu menunjuk lelaki bertopi. “Dia Jimin, yang biasanya mengantar-jemputku kalau aku tidak berangkat sekolah bersamamu dan appa.” lelaki bertopi itu melambaikan tangan pada Sohyun. Taehyung lalu menunjuk lelaki yang duduk di sebelahnya. “Dia Sungjae. Dan dia Joy, pacarnya Sungjae.” ia juga menunjuk gadis berpakaian polkadot. Sepasang kekasih itu langsung melambaikan tangan pada Sohyun.

“Nah, teman-teman, dia—” Taehyung hendak bersuara kembali untuk memperkenalkan Sohyun pada teman-temannya, namun teman-temannya malah menyahut.

“Tidak perlu, Taehyung. Kami sudah tahu. Dia Byun Sohyun, adikmu.” sahut Jimin. “Bahkan Sungjae dan Joy yang baru kali ini melihatnya pun sudah langsung mengenalnya. Kau tahu? Adikmu itu memiliki radar yang ‘menyenangkan’ sehingga kami bertiga langsung akrab dengannya. Benar kan, Sungjae, Joy?”

“Yoi.” sahut Sungjae dan Joy bersamaan.

Sohyun cukup tertegun dengan sikap welcome ketiga teman kakaknya. Lagipula apa kata lelaki bertopi tadi? Radar yang ‘menyenangkan’? Sohyun tidak bisa menahan senyumnya saat itu juga.

Taehyung yang melihat wajah Sohyun yang tiba-tiba memerah segera menyenggol lengan Sohyun.

“Hey, malah mesem-mesem lagi nih anak. Cepat buatkan minum untuk teman-temanmu!” kata Taehyung.

Sohyun menoleh pada Taehyung dengan kening berkerut. “Teman-temanku?”

Taehyung tersenyum, lalu mengacak puncak kepala Sohyun dengan gemas. “Kau memang menerima hukuman dari appa untuk tidak bermain keluar rumah. Tetapi bukan berarti kau tidak boleh bermain di dalam rumah, kan? Mereka datang kesini untukmu, untuk bermain bersamamu. Itu berarti, teman-temanku juga adalah teman-temanmu. Jadi, cepatlah buatkan minum untuk mereka. Kau tidak lihat mereka sudah kehausan begitu?” katanya, lalu melangkah menghampiri teman-temannya, meninggalkan Sohyun yang tertegun.

Tanpa sadar, Sohyun kembali tersenyum. Menatap Taehyung dari kejauhan dengan penuh haru. Teman-temanku juga adalah teman-temanmu. Perkataan kakaknya barusan membuat dadanya berdebar, membuatnya tak bisa berhenti tersenyum. Rasanya Sohyun telah mendapatkan hari yang menyenangkan itu hari ini.

Di lantai atas, Baekhyun dan Taeyeon berdiri di balik pagar dengan pandangan mengarah ke lantai bawah. Memperhatikan Sohyun yang berjalan menuju dapur dan juga Taehyung yang kini duduk bersama teman-temannya di ruang tengah. Mata dan bibirnya tersenyum saat menatap kedua anaknya secara bergantian itu.

Tadi, tiba-tiba saja Baekhyun dan Taeyeon mendengar suara berisik di lantai bawah. Mereka segera keluar kamar dan mengintip apa yang terjadi. Mereka melihat Sohyun yang tampak kebingungan dengan kehadiran tiga orang asing di lantai bawah yang tiba-tiba saja masuk ke dalam rumahnya. Baekhyun hendak turun untuk melabrak tiga orang asing itu, tetapi tiba-tiba saja Taehyung muncul dan mengatakan kalau ketiga orang asing itu adalah temannya. Baekhyun pun urung turun dan memperhatikan kedua anaknya dari lantai atas bersama Taeyeon.

“Taehyung sudah dewasa.” ujar Baekhyun, tersenyum. Matanya mengarah pada Taehyung yang sedang mendengarkan teman-temannya bercerita dan tertawa di bawah sana.

Taeyeon juga tersenyum, menatap gadis berpakaian polkadot yang berjalan menghampiri Sohyun yang berada di dapur. “Sohyun juga sudah dewasa.”

Baekhyun semakin tersenyum. “Anak-anakku sudah dewasa.” ia lalu menoleh pada Taeyeon dan menarik kepala istrinya itu untuk bersandar di pundaknya. “Kau mendidiknya dengan baik, Kim Taeyeon.”

Taeyeon hanya tertawa kecil. “Dan kau mendidiknya dengan keras, Byun Baekhyun.”

Baekhyun balas tertawa. “Aku memiliki maksud mengapa mendidik mereka dengan cara seperti itu.”

Taeyeon mengangguk. “Aku tahu, Suamiku.”

Baekhyun menghela napas. Memperhatikan Taehyung di lantai bawah dari kejauhan. “Byun Taehyung, meskipun anak itu sering pulang larut malam, bersikap seolah tidak peduli dengan keluarganya, tetapi sebenarnya dialah yang paling peduli dengan keluarganya.” katanya.

Taeyeon mengangguk setuju. Ia juga memperhatikan Sohyun yang sudah kembali ke ruang tengah bersama gadis berpakaian polkadot dengan membawa nampan berisi minuman. “Byun Sohyun, meskipun anak itu terlihat kuat dari luar, bersikap seolah baik-baik saja dengan segala hal yang terjadi padanya, tetapi sebenarnya dia lemah, dia membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari keluarganya.”

Baekhyun mengangguk setuju. Kemudian ia kembali menghela napas. “Sepertinya aku kalah dewasa dari anak-anakku sendiri.”

Taeyeon tertawa mendengar keluhan suaminya. Ia menegakkan kepalanya, balas menatap Baekhyun dengan tatapan penuh arti.

“Kau perlu belajar dari mereka, Suamiku. Dengan begitu, kau akan menjadi ayah yang hebat untuk anak-anakmu.” kata Taeyeon.

Baekhyun tersenyum. Kemudian ia mengecup bibir istrinya sekilas. “Terimakasih, Kim Taeyeon, istriku.”

Taeyeon hanya tersenyum. Wajahnya merona ketika tiba-tiba saja suaminya mengecup bibirnya, meskipun hanya sekilas. Ia kembali menyandarkan kepalanya pada bahu Baekhyun, dan mereka kembali memperhatikan anak-anaknya di lantai bawah. Tetapi mereka berdua tertegun begitu melihat Taehyung, Sohyun, maupun ketiga temannya sedang menatap ke arah mereka berdua dari lantai bawah sana. Terlebih ketika Sohyun mengangkat tangannya, menunjuk mereka berdua dengan tatapan memicing, seolah-olah Baekhyun dan Taeyeon telah melakukan sebuah kesalahan.

EOMMA, APPA, MESUUUM!” teriak Sohyun kemudian.

Baekhyun dan Taeyeon tertegun. Oh, astaga. Anak-anak di lantai bawah itu melihat mereka berciuman tadi.

—tbc

Chapter 6 is here!
Akhirnya, Jane tertampar juga dengan kata-kata Taehyung. Dan kata-kata Taehyung itu (hm, maaf mengecewakan) itu aku kutip dari drama ‘Who Are You – School 2015’. Menurutku kata-kata itu bener-bener nampar banget buat orang kayak Jane, yang cuma berteman hanya untuk dianggap yang paling baik padahal nyatanya gak seperti itu.
Dan, aku jatuh cinta banget sama karakter Taehyung disini. Seandainya aku punya kakak seperti dia :3 fufufu. Dan akhirnya juga, konflik pertama selesai! Eh, gak bener-bener selesai ding, masih ada beberapa penyelesaiannya di next chapter. So, ditunggu aja yaa 🙂
Jangan lupa like dan comment-nya yah. Enjoy it, guys ^^

Advertisements

14 thoughts on “[Multichapter] Story of Byun Family — Chapter 6

  1. Chapter ini bikin aku senyum-senyum sendiri :3.
    Kece thor~~
    Taehyung sweet deh~
    Pas aku mulai baca ke bagian akhirnya aku pikir mau ‘end’. Ternyata masih TBC😅.
    Fighting thor!

  2. Nice chapter,, aq suka chapter ini..
    Dan taehyung, omona! Gak kebayang betapa kerennya dy waktu ngebelain sohyun *hayatimeleleh hiww
    Akhirnya jane kena peringatan jg, emg deh kata2 itu nohok banget jlebb lah,, makin penasaran sm konflik apa lg yg bakal d munculkan sm zul.. Zull.. Pkoknya emjejing lah,, berasa nonton drama loh.. Good job!

    • Ahihi iya kak, aku juga suka banget sama chapter ini :3
      Aku juga senyum2 sendiri pas ngetik bagian itu, aaah~ makin jatuh cinta sama sosok Taehyung disini hihi
      Okee siap, secepetnya bakal di update 😀 Hihi makasih banyak ya kak ^^

  3. suka bgt sama chapt ini … 🙂
    keren keren next chapt ditunggu suka deh athor 1 ini update ff nya cepet bgt…

  4. Widihhh, author updatenya cepet ya 😊😆😁
    Sitaehyung baik banget jadi kakak 😗
    Pengen bgt aku punya kk begitu. Bener2 cocok tu thor kata2 yg ngutip dari drama who are you 😆😆
    Biar sadar siJane 😎
    Fast updates ang keep weting thorrr
    Fighting!!

  5. Bagian akhir nya bikin ngakak. Ketauan deh Baekyeon bermesraan didepan anak-anaknya. Ada tamu juga lagi. Chapter ini bener2 membahagiakan deh. Jane juga kapok eh kayaknya. Update soon please. Nggak sabar nunggu lanjutan nya

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s