[Multichapter] Story of Byun Family — Chapter 4

req-zulfhania-byun-family

Starring by.
Byun Baekhyun (EXO) | Kim Taeyeon (SNSD) | Kim Taehyung (BTS) | Kim So Hyun (Actrees)

Support casts.
Park Jimin (BTS), Yook Sungjae (BtoB), Lee Halla (The Ark), Park Jane (The Ark), Bae Irene (Red Velvet), Joy Park (Red Velvet), Jessica Jung (Ex-SNSD), Oh Sehun (EXO), and others

Genre. Family, Marriage-life, Brothership

Rating. PG-15

Length. Multichapter

zulfhania, 2015

Poster by Laykim © Beautiful Healer

Previous. Teaser | 1 | 2 | 3

Chapter 4

Kalau kau saja tidak memiliki keberanian untuk membela dirimu sendiri, bagaimana oranglain bisa dan mau membelamu?

.

Taeyeon memakai celemeknya dan mengikat rambutnya menjadi satu bagian. Ia menghela napas sejenak sebelum mengambil vacuum cleaner dari atas lemari. Beberapa menit kemudian ia mulai disibukkan dengan pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga. Mulai dari membersihkan segala debu di setiap sudut rumahnya dengan menggunakan vacuum cleaner sampai mengepelnya hingga rumahnya menjadi wangi. Pekerjaan ini sudah ia lakukan semenjak 18 tahun yang lalu, sejak ia resmi menjadi istri sah dari pria bernama Byun Baekhyun. Taeyeon mencintai pekerjaannya, sama besarnya dengan ia mencintai suaminya, lelaki yang ia cintai sejak ia masih duduk di bangku perkuliahan.

Taeyeon membuka pintu kamar Sohyun dan meletakkan vacuum cleaner serta ember berisi air pel di bingkai pintu. Ia melangkah masuk dan mulai membereskan kamar putrinya yang entah kenapa hari ini terlihat berantakan sekali. Lihat saja. Tak biasanya ada banyak sampah menumpuk di tempat sampah di sebelah meja belajar putrinya itu.

Ketika Taeyeon hendak memindahkan sampah di dalam tempat sampah milik putrinya ke dalam kantong plastik besar, saat itu juga matanya menangkap gumpalan kertas tiket konser itu.

Dengan gerakan pelan ia meraih gumpalan kertas tersebut. Ternyata tidak hanya ada satu lembar, melainkan dua lembar. Lembar yang lainnya adalah tiket bus dari Seoul menuju Tongyeong, daerah rumahnya. Dan demi melihat dua tiket tersebut, Taeyeon tertegun.

Jadi kemarin putrinya itu pergi ke Seoul untuk menonton konser Infinite?

Sohyun memang tidak mengatakan apa-apa saat pamit dengannya kemarin. Putrinya itu hanya bilang kalau ingin pergi bermain bersama teman-teman. Dan sekarang ia baru tahu kalau ternyata putrinya bukan pergi bermain, melainkan pergi menonton konser Infinite di Seoul bersama teman-temannya.

Ternyata, sekarang putrinya sudah mulai berani berbohong pada ibunya sendiri.

————————

Sohyun menolehkan kepala begitu mendengar pintu kamarnya diketuk. Ia melihat kepala ibunya menongol dari balik pintu kamarnya, memandang ke arahnya yang sedang duduk di balik meja belajar.

“Bolehkah eomma masuk?”

Sohyun tersenyum dan menganggukkan kepala. Taeyeon pun masuk ke dalam dan memilih duduk di atas ranjang putrinya.

“Lanjutkan saja belajarmu. Eomma akan menunggu.” kata Taeyeon.

Sohyun mengangguk, lalu kembali mengerjakan tugasnya. Beberapa menit kemudian, ia menutup bukunya dan mengambil posisi duduk di sebelah ibunya di atas ranjang.

“Ada apa, eomma?”

Taeyeon memandang manik Sohyun dengan intens. “Katakan pada eomma, akhir pekan kemarin kau pergi kemana?”

Air muka Sohyun berubah. Taeyeon yang menangkap perubahan air muka putrinya langsung menghela napas.

“Kenapa kau tidak jujur pada eomma kalau kau pergi ke Seoul bersama teman-temanmu?”

Mata Sohyun membulat, terkejut. “Taehyung oppa yang memberitahu eomma ya?” tebaknya.

Taeyeon mengernyit. “Oppa-mu tahu?”

Eomma bukannya tahu dari oppa?”

Taeyeon menggeleng, lalu mengeluarkan dua lembar tiket dari dalam saku roknya. Dan demi melihat tiket tersebut, Sohyun sempurna tertegun.

Eomma menemukannya di tempat sampahmu.”

Sohyun melirik tempat sampah miliknya yang sudah kosong. Pantas saja saat ia masuk ke dalam kamarnya tadi, ia merasa seperti ada yang ganjil. Ternyata tempat sampahnya sudah dikosongkan oleh ibunya.

Sohyun menundukkan kepala, lalu berkata, “Maaf tidak memberitahumu dari awal, eomma.”

Taeyeon menghela napas kecewa. “Kenapa kau tidak bilang pada eomma? Dan,” ia mengangkat dua tiket di tangannya. “Darimana kau mendapatkan uang untuk membeli ini? Eomma tahu ini pasti tidak murah harganya.”

“Tadinya aku ingin meminta uang pada eomma. Tetapi aku tidak berani, jadi aku hanya minta pada Taehyung oppa. Dan kalau aku bilang pada eomma kalau aku akan pergi menonton konser Infinite bersama teman-teman di Seoul, eomma pasti tidak akan mengizinkan. Jadi lebih baik aku pergi diam-diam saja.”

Taeyeon menatap putrinya dengan pandangan kecewa. “Sohyun~a…”

Eomma.”

Suara Taeyeon terhenti ketika tiba-tiba saja sebuah suara menghentikan ucapannya dari arah pintu kamar. Ia dan Sohyun sama-sama menolehkan kepala ke arah pintu kamar. Disana, Taehyung berdiri menatap mereka dengan tatapan tanpa ekspresi.

“Ada tamu mencari eomma.” tambah Taehyung. Matanya sempat melirik dua lembar tiket yang tampak sudah lecek di tangan ibunya.

Taeyeon menghela napas sejenak. Ia melirik Sohyun dan berkata, “Eomma belum selesai bicara. Tunggu sebentar.” ia lalu melangkah keluar kamar.

Sebelum benar-benar keluar kamar, Taeyeon berhenti tepat di depan Taehyung, menatap putranya dengan mimik serius.

Eomma juga ingin bicara denganmu. Masuklah ke dalam. Eomma akan menemui tamu dulu.”

Setelah Taeyeon keluar kamar, Taehyung menoleh pada adiknya, dengan pandangan tanpa ekspresi. “Kau ketahuan?”

“Kupikir oppa yang memberitahu eomma.”

“Aku kan sudah bilang kalau aku tidak akan memberitahu eomma dan appa.”

“Aku kan tidak tahu kalau eomma menemukan tiketnya di tempat sampah.”

“Dan kau menyeret namaku?”

“Aku hanya bilang uang itu kudapat dari Taehyung oppa.”

Taehyung membuang muka, ia mendesis. “Bodoh.”

Beberapa menit kemudian, Taeyeon kembali ke kamar putrinya. Sohyun dan Taehyung sama-sama terdiam saat ibunya melangkah masuk ke dalam kamarnya dengan mimik serius.

“Kalian berdua benar-benar mengecewakan eomma. Sejak kapan kalian mulai bicara tidak jujur pada eomma?” tanya Taeyeon.

Sohyun dan Taehyung sama-sama tidak menjawab. Hanya menundukkan kepalanya. Taeyeon kembali menghela napas, ia lalu menatap Taehyung intens.

“Kenapa kau membiarkan adikmu pergi?”

Taehyung tidak langsung menjawab.

“Seoul itu jauh, Taehyung. Adikmu dan teman-temannya baru kelas 2 SMP. Mereka masih terlalu kecil untuk pergi sendirian ke Seoul.”

“Mereka tidak pergi sendiri, eomma. Mereka diantar oleh ayah temannya naik mobil. Sohyun sendiri yang memberitahuku kemarin.” sahut Taehyung dengan suara tertahan.

“Lalu kenapa Sohyun bisa memiliki tiket bus ini?!” Taeyeon mengangkat tiket bus di tangannya, tatapannya masih mengarah pada Taehyung.

Taehyung balas menatap ibunya dengan tatapan kesal, mulai terpancing emosi. “Mana aku tahu, eomma?! Seharusnya eomma bertanya pada Sohyun, bukan padaku!”

Sohyun yang sedari tadi terdiam hanya bisa meremas tangannya sendiri. Matanya mulai berkaca-kaca saat ia berkata, “Teman-temanku meninggalkanku.”

Taeyeon dan Taehyung sama-sama menolehkan kepala pada Sohyun. Taeyeon dengan ekspresi terkejut. Taehyung dengan mimik tanpa ekspresi.

Pandangan Sohyun mulai mengabur saat melanjutkan, “Mereka menyuruhku untuk pulang ke Tongyeong sendiri dengan naik bus. Mereka meninggalkanku sendirian di Seoul.” lalu airmatanya mengalir.

Mimik serius Taeyeon perlahan menghilang, terganti oleh pandangan prihatin saat menatap putrinya. Berbeda dengan Taehyung yang malah terbakar emosi saat melihat adiknya menangis.

“Kenapa kau tidak menolaknya, Byun Sohyun?!” bentak Taehyung, menatap adiknya dengan tatapan marah.

“Manamungkin aku bisa menolaknya, oppa?! Sekalipun aku ingin, aku tidak bisa melakukannya.” Sohyun balas membentak dengan wajah tertunduk.

“Itu karena kau terlalu lemah, Sohyun! Kau terlalu takut dengan mereka!”

Oppa tidak mengerti! Taehyung oppa tidak akan mengerti!”

“Bagian mana yang tidak kumengerti, hah?!”

“KENAPA KALIAN MALAH BERTENGKAR DI DEPAN EOMMA?!?” Taeyeon menjerit.

Sohyun dan Taehyung langsung terdiam. Sohyun terisak dalam diam, dan Taehyung mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil mendesis kesal. Taeyeon memperhatikan kedua anaknya dengan pandangan tidak mengerti. Napasnya memburu, merasa kehabisan napas setelah membentak kedua anaknya tadi.

“Byun Taehyung, masih sempat-sempatnya kau memarahi adikmu di saat eomma sedang berbicara pada kalian?!” tanya Taeyeon, menatap Taehyung dengan tatapan tidak mengerti. Ia lalu beralih pada Sohyun. “Kau juga, Sohyun. Masih sempat-sempatnya kau menangis di saat seperti ini?!” ia lalu menatap kedua anaknya bergantian. “Seharusnya eomma yang marah, seharusnya eomma yang menangis, bukan kalian berdua!”

Eomma tidak mengerti.” sahut Sohyun, tangisnya mulai mereda.

“Bagaimana eomma akan mengerti kalau kau tidak pernah memberitahukannya pada eomma? Bagaimana eomma akan mengerti kalau hal sekecil ini saja kau berbohong pada eomma? Bagaimana eomma bisa mengerti dengan semuanya, Byun Sohyun?!” bentak Taeyeon, matanya mulai berkaca-kaca.

Taeyeon melangkah mendekati Sohyun dengan langkah gemetar. Tangannya juga gemetar saat bergerak meraih bahu putrinya untuk mendekat ke dalam pelukannya. Ketika akhirnya ia memeluk putrinya, airmatanya mengalir. “Seharusnya kau memberitahukannya pada eomma, Sohyun~a. Seharusnya kau bercerita pada eomma. Eomma tidak akan tahu kau diperlakukan seperti itu oleh teman-temanmu kalau kau saja tidak menceritakannya pada eomma.”

Sohyun tidak menjawab, ia hanya kembali terisak di dalam pelukan ibunya. Sementara Taehyung membuang muka, menghela napas panjang, berusaha untuk meredakan emosinya.

“Maafkan aku, eomma.” hanya itulah yang keluar dari bibir tipis Sohyun.

Taeyeon mengangguk dengan patah-patah. Tangannya membelai rambut putrinya dengan gerakan pelan. “Lain kali, ceritakanlah pada eomma. Apapun masalahmu, jangan pernah sembunyikan dari eomma. Mengerti?”

Sohyun mengangguk di pelukan ibunya. Tangisnya mulai mereda.

Taeyeon beralih pada Taehyung. “Kau juga, Taehyung. Kalau kau ada masalah, jangan disimpan sendirian. Berbagilah pada eomma.”

Taehyung tidak menjawab, hanya terdiam dengan mimik tanpa ekspresi.

Ketiganya sama sekali tidak menyadari kalau sedari tadi Byun Baekhyun berdiri di luar kamar Sohyun, menguping pembicaraan mereka dengan mimik tanpa ekspresi, namun terlihat jelas kalau sebenarnya ia sedang mencoba menahan amarah.

————————

Entah kenapa suasana makan malam kali ini tampak begitu mencekam di kediaman keluarga Byun. Sohyun dan Taehyung duduk di balik meja makan dengan kepala tertunduk, menikmati makan malam yang tersedia dalam diam. Begitu pun dengan Baekhyun. Ia hanya duduk di bangkunya dan menyuap makanannya dengan diam. Taeyeon hanya melirik suami dan kedua anaknya dengan pandangan kikuk.

Tadi, usai ia berbicara dengan kedua anaknya di dalam kamar Sohyun, tak lama kemudian suaminya pulang. Melangkah masuk ke dalam kamar Sohyun dengan wajah tanpa ekspresi, bertanya apa yang sedang terjadi. Taeyeon bisa melihat sendiri wajah Sohyun yang tiba-tiba memucat, sementara Taehyung membuang muka tanda tidak peduli. Taeyeon sempat bertanya-tanya dalam hati apakah suaminya mendengar seluruh pembicaraannya dengan kedua anaknya atau tidak. Tetapi melihat Baekhyun yang sama sekali tidak bersuara, Taeyeon menduga kalau suaminya itu benar-benar tidak tahu apa-apa. Maka dari itu Taeyeon hanya mengatakan kalau tidak terjadi apa-apa dan segera menyuruh Sohyun untuk membantunya menyiapkan makan malam. Meninggalkan Baekhyun dan Taehyung yang masih terdiam di kamar Sohyun.

Eomma, apakah menurutmu appa mendengar pembicaraan kita?” tanya Sohyun ketika membantu Taeyeon di dapur.

Taeyeon tidak tahu harus menjawab apa. Tetapi demi menenangkan putrinya, ia hanya tersenyum dan menggeleng. “Sepertinya tidak. Sudahlah, tidak usah dipikirkan.” katanya, lalu mengedikkan dagunya ke arah laci. “Tolong ambilkan teflon dari dalam sana, Sohyun~a.”

Sohyun mengangguk dan mengambil teflon dari dalam laci. Membantu ibunya di dapur dengan diam.

Dan disinilah mereka sekarang. Seluruh anggota keluarga Byun duduk di meja makan, menikmati makan malamnya. Tetapi hingga makanan sudah hampir habis, tak ada pembicaraan sama sekali yang terjadi di meja makan. Sohyun hanya menundukkan kepalanya, terlihat tidak nafsu makan. Taehyung hanya menikmati makannya dalam diam, sambil sesekali memainkan ponsel di tangannya. Baekhyun juga hanya menyuap makanannya dalam diam. Benar-benar tak seperti biasanya. Membuat Taeyeon merasa kikuk dengan suasana aneh yang terjadi di meja makan kali ini.

“Suamiku, bagaimana pekerjaan kantormu?” Taeyeon mulai membuka suara, mencoba mencari topik pembicaraan sekaligus mencairkan suasana. “Apakah ada masalah?” tanyanya pada Baekhyun.

Baekhyun menggeleng dengan kalem. “Tidak ada.”

Taeyeon menghela napas. “Syukurlah kalau begitu.”

“Tetapi sepertinya di rumah ada masalah.” kata Baekhyun kalem.

Taeyeon tertegun. Tak hanya Taeyeon, bahkan Sohyun dan Taehyung pun demikian. Tetapi Taehyung memilih untuk tidak mempedulikan dan melanjutkan makan malamnya. Berbeda dengan Sohyun yang merasa tubuhnya menegang dan napasnya tercekat saat itu juga.

“Dan sepertinya aku tidak diperbolehkan ikut campur mengenai masalah itu.” tambah Baekhyun. Ia lalu mengangkat kepala, menatap Sohyun yang tertunduk. “Benar, kan, Byun Sohyun?”

Matilah! Ternyata appa mendengarnya. Bulu kuduk Sohyun meremang.

Taeyeon yang melihat wajah Sohyun yang tampak pucat segera menyela, “Kau ini bicara apa sih, Suamiku?” katanya pada Baekhyun, pura-pura tidak mengerti.

Baekhyun menoleh pada Taeyeon dan tersenyum, bukan senyum yang tulus. “Tidak perlu pura-pura tidak tahu, Istriku. Aku tahu semuanya. Aku mendengar semuanya.”

“Ma-maksudmu?”

Baekhyun kembali menoleh pada Sohyun, tanpa mempedulikan ketidakmengertian istrinya.

“Byun Sohyun, mulai besok uang sakumu akan appa potong sampai sebulan ke depan.” kata Baekhyun.

Ketiga anggota keluarga Byun yang lain tampak terkejut, termasuk Taehyung. Bahkan lelaki itu sampai menghentikan gerakan tangannya yang hendak menyuap ke mulut dan menolehkan kepala pada adiknya yang duduk di sebelahnya.

Wajah Sohyun tampak pucat. Matanya terarah pada Baekhyun dengan pandangan tidak percaya. “Appa…” ia hendak bersuara.

“Dan juga,” tetapi Baekhyun terlebih dahulu menyela suaranya. “Akhir pekan ini hingga tiga pekan berikutnya kau tidak boleh main kemana-mana. Tetaplah diam di rumah dan bantu eomma-mu saja.”

Appa…” Sohyun semakin tidak percaya. Terdengar nada protes dalam suaranya, tetapi ia tidak bisa berkata apa-apa lagi selain menyebut nama ayahnya.

“Suamiku.” Taeyeon menyela, ia melirik Sohyun sekilas dengan prihatin sebelum menatap suaminya intens. “Kenapa tiba-tiba begini?”

“Ini hukuman untuknya karena telah pergi ke Seoul diam-diam tanpa izin orangtua.”

“Tetapi, Suamiku—”

“Tidak ada tapi-tapian, Kim Taeyeon.” Baekhyun menoleh pada istrinya, wajahnya tampak menahan amarah. “Sohyun sudah melakukan kesalahan. Dan dia harus menanggung kesalahan yang ia perbuat.”

Appa.”

Baekhyun dan Taeyeon sama-sama menolehkan kepala saat tiba-tiba saja Taehyung bersuara. Taehyung balas menatap ayahnya dengan mimik tanpa ekspreksi, namun tatapannya terlihat tampak tidak setuju dengan hukuman yang diberikan ayahnya untuk adiknya.

“Bukankah hukuman itu keterlaluan?”

Sohyun menolehkan kepala ke arah Taehyung, terkejut.

“Aku tidak masalah dengan hukuman appa yang akan memotong uang saku Sohyun selama sebulan. Tetapi, melarang Sohyun pergi bermain keluar selama empat pekan ke depan dan menyuruhnya untuk tetap diam di rumah, bukankah itu sudah keterlaluan?” tambah Taehyung, kali ini suaranya meninggi.

Baekhyun meraih segelas air di atas meja. “Kau tidak perlu ikut campur, Byun Taehyung.” katanya kalem, lalu meneguk minumannya.

Taehyung mendengus benci melihat sikap ayahnya. “Appa, Sohyun tidak punya teman di sekolah.”

Sohyun tampak tertegun mendengar penjelasan kakaknya.

“Sohyun sudah merasa kesepian dan sendirian di sekolah karena tidak ada satupun teman yang ingin berteman dengannya, lalu apakah appa akan membuatnya semakin tidak punya teman dengan tidak memperbolehkannya keluar rumah selama sebulan? Apakah appa akan membuatnya semakin merasa kesepian dan sendirian di rumah? Setega itukah appa pada putrimu sendiri?!” bentak Taehyung, menatap marah ayahnya yang duduk di depannya.

“Sohyun tidak sendiri di rumah. Ada ibunya.” sahut Baekhyun, masih dengan suara kalem, bertolak belakang dengan nada suara lawan bicaranya.

Taehyung semakin emosi. Ia menggebrak meja makan, membuat ketiga anggota keluarga Byun lainnya tersentak kaget. “Appa benar-benar keterlaluan!” bentaknya.

Persis seperti yang Taehyung duga, Baekhyun balas menggebrak meja makan dengan mata melotot. Menatap Taehyung dengan wajah memerah terbakar emosi. Emosinya benar-benar sudah tersulut malam ini.

“BERANINYA KAU MENGGEBRAK MEJA DI DEPAN AYAHMU, HAH?!” teriak Baekhyun, menggelegar.

Sohyun semakin mengkerut di bahunya. Taeyeon memijit pelipisnya pelan. Taehyung telah menginjak granat di depan ayahnya. Perang dunia yang kesekian kalinya baru saja dimulai.

“DARIMANA KAU BELAJAR SEPERTI ITU?! DIIMANA SOPAN SANTUNMU PADA AYAHMU?!” tambah Baekhyun.

Taehyung balas menatap ayahnya dengan tatapan benci setengah mati. Ia mendengus, lalu menjawab, “Lihat saja dirimu, appa. Kaupikir aku belajar dari siapa lagi?”

Taeyeon tertegun. Astaga, anak itu benar-benar telah menginjak granat.

Wajah Baekhyun semakin merah padam. Ia melotot marah pada putranya, bergegas bangun dari duduknya, dan hendak menghampiri putranya dengan tangan terangkat.

“BERANINYA KAU!”

“Byun Baekhyun!” Namun Taeyeon dengan sigap mencekal lengan suaminya, membuat langkah Baekhyun terhenti. “Tidak ada kekerasan.” tambahnya.

Baekhyun mendesah keras mendengar peringatan dari istrinya. Ia kembali duduk di bangkunya tanpa mengalihkan pandangannya pada Taehyung sambil berusaha menahan emosi yang bergejolak di dalam dadanya.

“Uang sakumu juga akan kupotong, Byun Taehyung.” ucap Baekhyun akhirnya, dengan suara tertahan. “Sampai akhir semester.”

Taehyung menoleh terkejut.

Sohyun dan Taeyeon juga sama terkejutnya. Mereka sama-sama menatap Baekhyun dengan tatapan tidak percaya.

“Suamiku, akhir semester itu masih lama. Bukankah itu keterlaluan? Bagaimana dengan sekolah Taehyung tanpa uang saku?” kata Taeyeon, berusaha membujuk Baekhyun untuk membatalkan ucapannya.

“Biarkan saja. Dia saja bisa memberikan uang sebanyak itu pada adiknya untuk menonton konser tidak penting itu. Kenapa dia tidak bisa membiayai dirinya sendiri selama satu semester ke depan?” kata Baekhyun ketus, melirik Taehyung sebal, lalu kembali menyendok makanannya.

Taehyung melirik sekilas ke arah Sohyun, menatap adiknya dengan tatapan tidak suka. Dan Sohyun merasa terkejut saat kakaknya meliriknya dengan tatapan seperti itu. Mendadak, ia merasa bersalah.

O-oppa…” Sohyun hendak bersuara.

Namun Taehyung segera membuang muka ke arah lain, tidak mau menatap adiknya lagi sekaligus tidak ingin mendengarkan penjelasan adiknya. Bahkan ia memutuskan untuk berdiri dari duduknya dan melangkah masuk ke dalam kamarnya. Tanpa menoleh ke belakang lagi. Meninggalkan meja makan tanpa berbicara sepatah katapun.

Sohyun menatap punggung Taehyung yang semakin menjauh dengan pandangan terluka. Kakaknya marah padanya.

“Tuh, lihat saja. Bahkan dia tidak protes. Berarti dia memang memiliki banyak uang.” komentar Baekhyun. “Ayo, kita kembali makan saja.” katanya, lalu melanjutkan makan malamnya, tanpa menyadari kalau istri dan putrinya sudah tidak lagi nafsu makan.

Sohyun tidak tahu dan tidak menyadari kalau esok harinya ia akan menjalani hari yang lebih buruk dari biasanya.

————————

Sohyun bertemu dengan Taehyung di meja makan pagi harinya. Seperti biasa, kakaknya itu sedang mengoleskan selai pada roti tawarnya selagi menunggu ibunya selesai memasak. Ketika Sohyun duduk di bangkunya dan hendak menyapa kakaknya, Taehyung sudah terlebih dahulu bersuara.

“Jangan bicara padaku.” katanya dengan suara dingin, tanpa menolehkan kepala ke arah adiknya.

Sohyun tertegun. “Oppa…

“Jangan lagi meminta tolong padaku. Aku tidak akan membantumu lagi.” tambah Taehyung.

Oppa, kau marah padaku?” suara Sohyun terdengar sedih.

“Kau masih bertanya?” balas Taehyung dengan suara dingin.

Mata Sohyun berkaca-kaca. “Oppa, aku minta maaf soal tadi malam. Gara-gara kau membelaku, appa memotong uang sakumu juga, bahkan hingga akhir semester. Ini memang salahku.”

Taehyung membanting sendok selai ke atas meja dengan cukup keras setelah mendengar pengakuan adiknya. Untungnya ibunya sedang memblender sesuatu di dapur sehingga tidak mendengar suara keributan yang terjadi di ruang makan.

Sohyun cukup tertegun dengan tindakan kakaknya yang tiba-tiba. Bahkan bulu kuduknya sampai meremang saat melihat Taehyung menoleh ke arahnya dan menatapnya dengan tatapan yang tidak terkontrol.

“Kalau kau tahu ini adalah salahmu, kenapa kau malah diam saja?” tanya Taehyung dengan suara tertahan.

Sohyun memandang kakaknya tidak mengerti.

Taehyung mendengus lucu. “Pantas saja kau tidak punya teman di sekolah. Kau benar-benar polos dan bodoh sekali, Byun Sohyun.”

Oppa…” Sohyun merasa terluka mendengar ucapan kakaknya barusan.

“Seharusnya kau membela diri, Byun Sohyun!” bentak Taehyung akhirnya. Wajah Sohyun langsung memucat. “Meskipun aku dan eomma sudah tahu alasan kenapa kau melakukan itu, tetapi kau jangan menungguku ataupun eomma untuk membelamu. Kau yang seharusnya membela dirimu sendiri. Kau yang seharusnya menjelaskan pada appa, bukan aku ataupun eomma. Seharusnya kau jangan diam saja, Byun Sohyun!”

Mata Sohyun kembali berkaca-kaca. “Aku tidak bisa, oppa…

Taehyung memandang adiknya dengan tidak mengerti. “Kau tidak bisa atau kau tidak mau?”

Sohyun tidak menjawab.

Taehyung kembali mendengus. “Apakah kau di sekolah juga seperti ini? Hanya diam saja saat teman-temanmu mem-bully-mu? Saat mereka memanfaatkanmu?”

Lagi-lagi Sohyun tidak menjawab.

“Kalau kau saja tidak memiliki keberanian untuk membela dirimu sendiri, bagaimana oranglain bisa dan mau membelamu? Bagaimana kau akan memiliki teman di sekolah kalau kau hanya diam saja seperti ini?” tambah Taehyung sebelum bangun dari duduknya. Ia menyampirkan tas ranselnya di pundak, lalu berlalu meninggalkan ruang makan. Membiarkan Sohyun terpekur di bangkunya.

Eomma, aku berangkat dulu.” teriak Taehyung.

Taeyeon yang masih bisa mendengar suara teriakan putranya segera berlari keluar dapur dengan tangan memegang spatula. “Yya, Byun Taehyung! Kau tidak berangkat bersama ayah dan adikmu?” serunya. Ia masih bisa melihat punggung Taehyung yang semakin menjauh dari pandangannya.

Taehyung mengangkat tangannya. “Aku dijemput Jimin.” jawabnya, tanpa menoleh ke belakang.

Aish, anak nakal itu. Pasti dia masih marah pada appa-nya.” gerutu Taeyeon sambil melangkah masuk ke dapur kembali, melanjutkan kegiatan memasaknya.

Sohyun memperhatikan punggung Taehyung yang semakin menjauh sebelum akhirnya hilang dari pandangan setelah berbelok ke ruang tamu dengan pandangan terluka. Ia merasa matanya memanas sebelum akhirnya air hangat itu jatuh dari pelupuk matanya. Lantas ia menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya.

‘Tidak, eomma. Taehyung oppa tidak marah pada appa.’ sahut Sohyun dalam hati. ‘Tetapi dia marah padaku.’

————————

Jimin mengamati wajah Taehyung yang hari ini tampak terlihat kebas dari biasanya. Sejak lelaki itu masuk ke dalam mobilnya pagi tadi saat ia menjemputnya di depan rumahnya hingga tiba di sekolah dan berjalan menuju kelasnya, Taehyung sama sekali tidak berbicara sepatah katapun. Wajahnya kebas, tidak menampilkan ekspresi apapun. Bahkan lelaki itu menghindari tatapan Jimin, menghindari kontak mata dengan siapapun. Jimin hanya bisa mengelus dada melihat sahabatnya seperti itu.

Sudah biasa. Jimin sudah biasa menghadapi temannya yang satu itu. Kalau Taehyung minta dijemput untuk berangkat ke sekolah bersama, pasti lelaki itu sedang berkelahi dengan ayahnya atau adiknya, Jimin tidak akan salah dengan dugaan itu. Temannya yang satu itu memang sering sekali mencari masalah dengan keluarganya. Tak bisa dipungkiri kalau lama-lama Taehyung semakin mirip seperti Baekhyun, ayah lelaki itu.

Jimin dan Taehyung sama-sama berbelok ke koridor kelas dua ketika tiba-tiba saja seorang gadis berambut panjang juga berbelok ke arah yang berlawanan dengan mereka sehingga tanpa sengaja gadis itu bertabrakan dengan mereka. Untung saja tabrakan itu tidak begitu keras sehingga satupun dari mereka tidak ada yang terjatuh ke lantai seperti film-film dalam drama itu.

“Oh, maaf.”

“Maaf.”

Gadis itu dan Taehyung sama-sama mengucapkan maaf pada saat yang bersamaan. Bahkan Jimin sampai tertegun mendengarnya. Taehyung mengucapkan maaf? Apakah ia tidak salah dengar?

Gadis berambut panjang itu juga tampak tertegun saat mendengar Taehyung meminta maaf padanya. Namun ia tidak begitu memikirkan dan hanya memberikan senyum sekilas sebelum kembali berjalan melewati Taehyung dan Jimin ke arah yang berlawanan.

Taehyung juga kembali berjalan menuju kelasnya. Meninggalkan Jimin yang masih terpaku di tempat dengan pandangan yang terarah pada punggung gadis berambut panjang itu yang semakin menjauh dari pandangannya. Ia menggelengkan kepalanya, berdecak kagum. Merasa ini adalah hal ajaib. Kemudian ia memutuskan untuk berbalik dan menyusul langkah Taehyung.

“Benar-benar luar biasa, Byun Taehyung.” komentar Jimin setelah dapat menyejajarkan langkahnya dengan Taehyung.

Taehyung hanya melirik Jimin sekilas dengan tatapan tidak peduli.

“Bahkan ketika wajahmu sedang ditekuk, pandanganmu tanpa ekspresi, napasmu terasa berat, langkah kakimu terdengar menderap, dan suasana hatimu tampak gelap, kau masih sempat mengucapkan kata ‘maaf’ setelah tanpa sengaja menabrak gadis itu yang bisa dibilang tabrakan tadi tidak begitu keras. Padahal biasanya kau hanya akan melengos tidak peduli tanpa mengucapkan kata ‘maaf’ pada orang yang kau tabrak. Tetapi kali ini kau luar biasa, Byun Taehyung. Gadis itu benar-benar memberikan efek yang luar biasa untukmu.” kata Jimin dengan berlebihan.

“Itu refleks, Jimin.” jawab Taehyung singkat.

Jimin mengangguk. “Ya, refleks. Tetapi bukan refleks mengucapkan kata ‘maaf’, melainkan refleks karena orang yang kau tabrak adalah gadis itu, maka dari itu kata ‘maaf’ langsung meluncur keluar begitu saja dari mulutmu tanpa diproses terlebih dahulu oleh otakmu.”

Taehyung mendengus, tidak ingin menanggapi ucapan Jimin.

Jimin tersenyum jahil mendapati Taehyung yang menolak untuk menanggapinya. “Yya, Byun Taehyung. Sepertinya kau benar-benar tertarik pada gadis itu.”

“Diam kau, Park Jimin.” kata Taehyung dengan suara tertahan.

Jimin hendak menggoda Taehyung lagi, namun urung ia lakukan ketika langkah Taehyung tiba-tiba saja terhenti saat tiba di depan pintu kelasnya.

“Ada apa?” tanya Jimin, juga menghentikan langkah. Ia mengikuti arah pandang Taehyung.

Di dalam sana, di dalam kelas 2-2, di atas meja Taehyung, tampak beberapa bingkisan sudah terletak disana. Seperti hari kemarin, empat gadis tingkat menengah pertama itu juga ada disana, berdiri di sebelah mejanya.

Begitu mereka menyadari kehadiran Taehyung, keempatnya segera beranjak pergi keluar kelas dengan wajah malu-malu. Tetapi tidak dengan gadis yang rambutnya dibando. Ia malah melangkah mendekati Taehyung yang berdiri di bingkai pintu dengan langkah pelan. Di tangannya, ia menggenggam sebuah bingkisan berbentuk hati.

“Taehyung sunbae-nim.” Gadis berambut dibando itu menyebut nama Taehyung setibanya di depan lelaki itu. Ia lalu menyerahkan bingkisan di tangannya pada Taehyung. “Ini kubeli langsung dari Seoul saat aku pergi kesana. Kuharap kau menerimanya.” katanya, dengan malu-malu.

Taehyung tidak bergerak untuk mengambil bingkisan di tangan gadis itu. Ia malah hanya menatap bingkisan itu dengan tatapan tanpa ekspresi.

“Park Jane, cepatlah!” suara teman-temannya yang sudah di luar kelas 2-2 berteriak memanggil gadis yang berambut dibando.

Gadis itu lalu meletakkan bingkisan berbentuk hati itu di tangan Taehyung dengan paksa. “Kuharap kau menyukainya, sunbae-nim.” katanya, lalu berlalu keluar kelas setelah melemparkan senyum malu-malunya pada Taehyung.

Jimin melihat gadis itu berlari menghampiri teman-temannya sambil berteriak kesenangan. Ia mendengus lucu memperhatikannya. “Gadis itu lagi.” komentarnya. Matanya masih mengarah pada keempat gadis itu yang mulai menjauh dari pandangannya.

Taehyung melempar bingkisan di tangannya pada Jimin. “Untukmu saja.”

“Eh?” Refleks, Jimin menangkapnya. “Kau menolaknya lagi?”

Taehyung tidak menjawab. Ia hanya berjalan menuju bangkunya, menyingkirkan bingkisan-bingkisan itu dari atas meja dan meletakkannya di atas loker.

“Astaga, Byun Taehyung. Kau benar-benar.” decak Jimin.

—tbc

Chapter 3 is here!
Okey, sepertinya ini sudah mulai masuk konflik, dan… mulai terjadi pertikaian antara antar anggota keluarga. Duh, bikin mendebarkan saja tingkah si Baekhyun dan Taehyung ini, hihi…
Oke, aku gak mau banyak omong, semoga kalian terhibur dan menikmati yaa 🙂
Jangan lupa like dan comment. Enjoy it guys ^^

Advertisements

9 thoughts on “[Multichapter] Story of Byun Family — Chapter 4

  1. Wiiwww… Mmakin seru konfliknya.. Ppenasaran deh, gimana reaksinya jane waktu tahu sohyun ternyata adeknya taehyung?! Duh mampus aja deh tuh anak *loh*

  2. Next. Baekhyun sifatnya bener-bener keras. Dan Jane makin pengen ku tendang. Taehyung please. Tendang tuh si Jane yang mengganggu adikmu. Kak bisa nggak kalo di pandangan? And… Fast update please

  3. Aku masih gk bisa mikir Baek bisa sekasar itu:'(. Fufufu
    Jane fans nya Taehyung ternyata..
    Fighting thor~~
    Saya berharap menemukan BaekYeon moment, walau disini mereka udh jd keluarga 18 tahun aja saya sudah bahagia^^

    • Sejujurnya aku juga gak habis pikir kenapa aku ngebuat karakter Baek kayak gitu ._.
      Tenang aja, masih banyak BaekYeon moment di chap chap berikutnya. Ditunggu aja ^^

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s