[Multichapter] Story of Byun Family — Chapter 3

req-zulfhania-byun-family

Starring by.
Byun Baekhyun (EXO) | Kim Taeyeon (SNSD) | Kim Taehyung (BTS) | Kim So Hyun (Actrees)

Support casts.
Park Jimin (BTS), Yook Sungjae (BtoB), Lee Halla (The Ark), Park Jane (The Ark), Bae Irene (Red Velvet), Joy Park (Red Velvet), Jessica Jung (Ex-SNSD), Oh Sehun (EXO), and others

Genre. Family, Marriage-life, Brothership

Rating. PG-15

Length. Multichapter

zulfhania, 2015

Poster by Laykim © Beautiful Healer

Previous. Teaser | 1 | 2

Chapter 3

Seorang teman tidak akan mungkin meninggalkanmu sendirian. Kecuali, kalau temanmu itu tidak pernah menganggapmu adalah seorang teman.

.

Jane melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 10 lebih 45 menit. Itu tandanya sebentar lagi waktu menunjukkan pukul 11. Dan kalau sampai Sohyun belum menampakkan batang hidungnya juga, maka tamatlah sudah kesempatan gadis itu untuk pergi bersamanya.

“Lihat. 15 menit lagi pukul 11, tapi dia belum juga datang.” kata Jane, lalu melirik teman-temannya yang sudah bosan menunggu. “Pasti dia tidak akan datang, bukan?” katanya sinis.

“Tentu saja.” salah satu temannya menyahut. “Manamungkin dia bisa ikut bersama kita.”

“Kalaupun memang dia punya uang, pasti orangtuanya tidak memperbolehkan. Ayahnya itu kan keras sekali. Ayahku sekantor dengan ayahnya, jadi aku tahu itu.” teman yang lainnya menyahut.

Jane tersenyum miring. “Kita tunggu saja. Gadis itu pasti tidak akan datang.”

Sayangnya, apa yang mereka harapkan tidak sesuai dengan harapan. Byun Sohyun, gadis yang tidak mereka harapkan kedatangannya, datang lima menit kemudian. Jane dan teman-temannya sempurna tertegun melihatnya.

“Maaf. Apakah aku terlambat?” kata Sohyun, menatap teman-temannya satu persatu, lalu melirik jam tangannya. “Kurasa tidak.”

Jane membuang muka, agak mendengus mendapati gadis itu datang.

“Bagaimana ini, Jane? Ternyata dia datang. Apa yang harus kita lakukan?” bisik salah satu temannya.

Jane terdiam. Namun beberapa saat kemudian, ia tersenyum miring.

“Baiklah. Tidak apa-apa. Kita bisa bersenang-senang dengannya hari ini.” jawabnya, dengan suara sinis.

————————

Taeyeon sedang menyiapkan makan siang ketika melihat Taehyung keluar dari kamarnya dan melangkah menuju dapur. Taeyeon agak mengeryit heran mendapati putranya yang sudah berpakaian rapi dengan kemeja putih-biru bergaris dan celana putih panjang. Oh, tak lupa dengan headphone yang melingkar di lehernya.

“Rapi sekali.” ujar Taeyeon saat putranya duduk di bangku makan dan mengambil segelas air putih. “Mau kemana?”

“Main.” jawab Taehyung. Singkat, padat, jelas.

“Main melulu, sih.” komentar Taeyeon.

Taehyung tidak menyahut.

Taeyeon memperhatikan putranya yang kini meneguk minumannya, lalu menghela napas. “Kapan kau akan belajar, Taehyung~a? Sebentar lagi kau kelas 3, dan sudah saatnya memikirkan studi ke perguruan tinggi.”

“Aku tidak berminat kesana.” jawab Taehyung, meletakkan kembali gelasnya di atas meja.

“Taehyung~a…” Taeyeon hendak memberi petuah pada putranya, tetapi Taehyung malah berdiri dari duduknya.

“Aku pergi dulu.” katanya, lalu pergi begitu saja meninggalkan ibunya.

Taeyeon hanya memandang punggung Taehyung yang semakin menjauh dengan pandangan kecewa, lalu menghela napas.

“Anak nakal itu.” desisnya

“Loh? Kok sepi sekali?”

Taeyeon menolehkan kepala dan menemukan suaminya menuruni anak tangga sambil menatap ke arahnya dengan tatapan heran.

Taeyeon mengedikkan pandangannya pada Taehyung yang baru saja keluar rumah. “Anak-anak pergi.”

“Sohyun?”

“Ya. Dia juga.”

Baekhyun menghempaskan bokongnya di bangku makan. “Bagaimana ini? Hanya ada kita berdua di rumah ini.” ujarnya, sesekali melirik istrinya dengan tatapan pura-pura bingung, memancing perhatian istrinya.

Taeyeon mendesis melihat tingkah suaminya, namun tanpa sadar ia tersenyum. Ia lalu mengambil posisi duduk di sebelah Baekhyun. “Lalu, bagaimana? Apa yang harus kita lakukan?” sahutnya, merasa terpancing.

Baekhyun tersenyum, sukses untuk memancing perhatian istrinya. Ia lalu memutar tubuhnya, tepat berhadapan dengan istrinya dan menatap manik istrinya itu dengan lekat. “Melakukan apa ya?”

Taeyeon memicingkan matanya. “Jangan berpikiran kotor, Byun Baekhyun. Ini di dapur. Dan demi Tuhan, ini siang bolong.”

Senyum Baekhyun semakin lebar. “Memangnya kau tahu apa yang kupikirkan?”

Taeyeon tidak menjawab. Dan Baekhyun pun tidak membutuhkan jawaban, karena perlahan ia mencondongkan tubuhnya ke depan, memperkecil jarak di antara mereka, memejamkan mata, dan mengecup bibir istrinya yang terasa dingin.

Taeyeon juga memejamkan matanya. Tanpa sadar bibirnya membentuk senyuman, merasakan kehangatan yang diberikan oleh suaminya. Memang, suaminya ini terkadang sulit dimengerti.

————————

Sohyun memberikan beberapa lembar uang kertas pada bibi penjual minuman dan mengambil beberapa minuman yang sudah disediakan di atas meja kasir.

“Terimakasih, ahjumma.” kata Sohyun, membungkukkan setengah badannya, ia lalu membawa minuman tersebut menuju teman-temannya yang sudah menunggu di dekat pintu masuk.

“Ish, kau lama sekali, sih.” gerutu Jane.

Sohyun hanya tersenyum. “Maaf.” ia lalu memberi salah satu minumannya pada gadis berambut dibando itu. “Ini untukmu, Jane.” ia juga memberikannya pada teman-temannya yang lain. “Ini untukmu, ini untukmu, dan ini untukmu.”

Jane menerima minuman itu, lalu menatap Sohyun dengan tatapan tidak suka.

“Terimakasih. Tetapi, setelah ini, saat di dalam nanti, jangan duduk dekat-dekat denganku. Mm, minimal 15 meter dariku. Oh, bukan, 30 meter dariku. Mengerti?” ia lalu melirik teman-temannya. “Ayo, masuk ke dalam.”

Kemudian Jane dan teman-temannya melangkah masuk ke dalam gedung konser. Meninggalkan Sohyun yang berdiri terpaku.

Sohyun menggigit bibir. Tangannya meremas gelas minuman di tangannya yang baru saja dibelinya hingga isinya tumpah sebagian. Napasnya memburu, berusaha keras menahan emosi yang meletup di dadanya. Tetapi sebesar apapun ia marah pada gadis itu, ia tidak pernah bisa mengeluarkannya. Ia hanya bisa memendamnya, sendirian.

“Byun Sohyun! Ayo, masuk! Kau tidak mau masuk?!” teriak Jane yang sudah berdiri mengantri di depan pintu masuk.

Sohyun mengangkat kepala. Sambil berusaha keras menetralisir emosinya, ia menggerakkan bibirnya membentuk senyuman. “Ya. Aku datang.” lalu berlari menghampiri teman-temannya, berdiri di antrian paling belakang.

Jane menatap Sohyun intens. “Ingat. 30 meter dariku.”

Sohyun balas menatap Jane, lalu menganggukkan kepala dengan ragu. “B-baik.”

————————

Sohyun duduk di bangku festival yang masih kosong. Ia sempat tersenyum sekilas kepada gadis yang duduk di sebelahnya, lalu memperhatikan Jane dan teman-temannya yang masih sibuk mencari bangku yang kosong nun jauh disana. Ia benar-benar mengikuti perintah Jane, duduk dengan jarak 30 meter dari gadis itu.

Sohyun menundukkan kepala dan menghela napas panjang. Sebenarnya ia sadar kalau ia sedang dimanfaatkan, tetapi kenapa ia tidak bisa sedikitpun untuk menolak perintah Jane?

“Kau datang sendiri?” tiba-tiba gadis yang duduk di sebelahnya mengajaknya berbicara.

Eoh?” Sohyun menoleh kaget. “Tidak. Aku datang bersama teman-temanku.”

Gadis di sebelah Sohyun itu kemudian melirik bangku kosong di sebelah Sohyun yang lain. “Mereka dimana?”

Sohyun mengedikkan pandangannya pada Jane dan teman-temannya yang baru mendapatkan tempat duduk nun jauh disana. “Itu mereka. Empat orang gadis itu.”

Gadis itu mengernyit. “Mereka disana? Dan kau disini?”

Sohyun memaksakan sebuah senyuman, lalu menganggukkan kepala.

“Kenapa kalian duduk terpisah?”

“Mm, itu,” Sohyun menggaruk tengkuk lehernya dengan kikuk. “Mereka yang menyuruhku.”

Mulut gadis itu menganga, agak terkejut. Lalu ia kembali bertanya, “Kau yakin kalau mereka adalah temanmu?”

Sohyun tertegun.

“Seorang teman tidak akan mungkin menyuruh temannya sendiri untuk duduk berjauhan. Seorang teman tidak akan mungkin meninggalkanmu sendirian. Kecuali, kalau temanmu itu tidak menganggapmu adalah seorang teman.”

Kembali, Sohyun tertegun. Perasaan sakit itu kembali menyelimuti dadanya.

“Apakah kau juga seperti itu? Menganggap mereka adalah teman-temanmu, sementara mereka tidak?”

Sohyun tidak menjawab. Gadis di sebelahnya juga tidak memerlukan jawaban. Karena lampu gedung perlahan meredup dan suara musik dari atas panggung mulai terdengar.

Sohyun terpekur di bangkunya. Tangannya kembali mengepal erat di atas paha. Dadanya bergemuruh. Ia tidak memperhatikan ketujuh pria yang baru saja naik ke atas panggung. Ia juga tidak memperhatikan penampilan ketujuh pria yang mulai menari dengan gerakan yang lincah dan kompak di atas panggung. Ia sempurna terpekur, karena ucapan gadis di sebelahnya barusan.

“Apakah kau juga seperti itu? Menganggap mereka adalah teman-temanmu, sementara mereka tidak?”

————————

“Wah! Konsernya benar-benar keren! Tampan sekali oppadeul-ku di Infinite!” decak Jane setelah keluar dari gedung. Di belakangnya, teman-temannya mengekor langkahnya.

“Iya, benar. Aku semakin menyukai mereka.” sahut temannya yang lain.

Jane menoleh pada Sohyun yang hanya diam saja. “Bagaimana, Sohyun? Konsernya benar-benar seru, kan?” tanyanya, dengan suara yang terdengar sinis.

Sohyun mengangkat kepala, balas menatap Jane, lalu tersenyum tipis. “Iya.”

“Sekarang, ayo kita pulang. Sebentar lagi malam.” kata Jane, mengajak teman-temannya menuju parkiran, tetapi kemudian langkahnya terhenti. “Oh, astaga. Aku lupa.”

Jane memutar tubuhnya, menghadap teman-temannya dengan wajah menyesal. “Tadi aku bertemu teman-teman seperumahanku saat di dalam. Mereka mengajakku untuk pulang bersamaku. Tetapi bagaimana ini? Mobilku tidak cukup.” katanya, sekilas melirik Sohyun.

Sohyun yang merasa dilirik oleh Jane mendapatkan firasat buruk. Tangannya mendadak berkeringat dingin.

“Oh, tiga temanmu yang di dalam tadi?” sahut temannya.

Jane mengangguk dengan wajah menyesal. “Bagaimana ini? Aku tidak enak menolak mereka karena rumah kami searah. Tetapi kalau mereka ikut bersama kami, mobilku tidak akan cukup.”

Sohyun mencoba untuk menyahut. “Bangku tengah bisa diisi empat orang, kan?”

Jane melirik Sohyun tajam. “Yya! Kau ingin membuat mobilku rusak? Tentu saja tidak bisa!” bentaknya.

Wajah Sohyun memucat.

Tatapan tajam Jane lalu berubah lembut, oh, pura-pura lembut maksudnya. Ia maju selangkah mendekati Sohyun. “Sohyun~a. Maaf. Tetapi kau bisa pulang ke Tongyeong dengan naik bus, kan?”

Mata Sohyun membulat terkejut. “Apa?”

Jane tersenyum. “Di antara kami semua, hanya kau yang membawa uang lebih. Pasti uangmu cukup, kan, untuk naik bus dari Seoul ke Tongyeong?”

“Ta-tapi…”

“Kuanggap kau setuju.” kata Jane dengan intonasi titik. Ia menolehkan kepala pada teman-temannya. “Teman-teman, ayo, kita pulang. Ayahku sudah menunggu.” sekilas ia melirik Sohyun. “Sampai jumpa di Tongyeong, Sohyun~a.” kemudian ia dan teman-temannya berlalu pergi.

Meninggalkan Sohyun yang berdiri terpaku, dengan tangan terkepal erat di samping kemejanya, dengan dada bergemuruh, dengan mata berkaca-kaca.

Ia ditinggalkan. Sendirian. Di kota orang. Oleh teman-temannya sendiri.

“Seorang teman tidak akan mungkin meninggalkanmu sendirian. Kecuali, kalau temanmu itu tidak menganggapmu adalah seorang teman.”

Ucapan gadis yang duduk di sebelah Sohyun tadi kembali terngiang di telinganya. Membuat hatinya terasa perih, seiring dengan airmatanya yang mengalir saat itu juga, membasahi kedua belah pipinya. Apakah selama ini mereka memang tidak pernah menganggapnya teman? Kenapa rasanya sakit sekali?

————————

Taehyung memicingkan matanya, fokus menatap bola merah yang menjadi incarannya di papan billyard. Sementara tangannya mengarahkan tongkat billyardnya untuk menyodok bola putih yang akan ia arahkan ke bola merah. Dan…

Ctak! Bola putih itu membentur bola merah. Bola merah terdorong hingga akhirnya masuk ke dalam lubang hitam. Taehyung kembali meraih poin lagi.

“Woah! Kau benar-benar hebat, Byun Taehyung.” decak Jimin, menepuk tangannya.

Taehyung tidak menyahut. Ia kembali membungkukkan badannya, mencari bola lain yang akan menjadi incarannya. Poin yang ia dapat membawanya dalam keberuntungan untuk kembali mendapatkan giliran untuk bermain. Kali ini ia mengincar bola berwarna ungu. Namun sayang, ketika ia menyodok bola putih untuk diarahkan ke bola ungu, bola ungu itu hanya menabrak sisi papan billyard dan tak berhasil masuk ke lubang hitam.

“Giliranku.” Sungjae turun dari atas meja dan mendekati papan billyard.

Taehyung menghela napas pendek, lalu melangkah mendekati Jimin yang duduk di atas meja di sisi ruangan. Ia mengambil botol minum di sebelah Jimin dan meneguknya hingga habis.

“Sebentar lagi hari konsultasi, bukan?” tanya Sungjae sambil menyodok bola putih ke arah bola kuning dengan tongkat billyardnya. Sayangnya, meleset.

Jimin loncat dari atas meja dan mendekati meja billyard sambil mengacungkan tongkat billyardnya tinggi-tinggi. Kali ini adalah gilirannya.

“Benar. Ah, aku malas sekali. Apakah sebaiknya aku bolos?” sahut Jimin. Ia mulai mengambil ancang-ancang untuk menyodok bola putih di papan billyard.

“Ajak aku kalau kau ingin bolos.” sahut Taehyung.

Sungjae melirik ke arah Taehyung. “Kau juga?” ia lalu melirik Taehyung dan Jimin bergantian dengan tatapan tidak mengerti.

“Teman-teman, aku tahu kalian senang bermain. Tetapi kalian juga harus memikirkan masa depan. Dengan mengikuti konsultasi, guru-guru akan mengarahkan bakat dan kemampuan kita untuk kehidupan di masa mendatang. Masa depan kita juga mulai ditentukan dari sana.”

“Masa depanku sudah ditentukan oleh Tuhan, Yook Sungjae.” sahut Jimin, kemudian tertawa keras. Tetapi tawanya lenyap saat bola putihnya meleset. “Sial.” umpatnya.

Taehyung kembali mendekati meja billyard. Kali ini adalah gilirannya.

Sungjae menghela napas panjang. Ia berkacak pinggang dan kembali menatap kedua temannya.

“Teman-teman, aku sadar aku berbeda dari kalian. Aku hidup dari keluarga yang kurang berada, bahkan aku harus bekerja paruh waktu di diskotik untuk mencukupi kebutuhan keluarga kami. Berbeda dengan kalian yang mungkin kalian bisa meminta apa saja dari orangtua kalian. Tetapi kalian tidak bisa selamanya bergantung pada orangtua kalian. Kalian tidak bisa selamanya dimanjakan oleh kekayaan orangtua kalian. Kalian harus menjadi ‘orang’ di masa mendatang.”

Aish!” Taehyung membanting tongkat billyardnya ke atas meja saat sodokannya meleset. Ia lalu menatap Sungjae dengan tatapan marah. “Bisa tidak, sih, tidak membicarakan hal itu di depanku?!” bentaknya.

Sungjae terdiam. Jimin juga mendadak terdiam, mengalihkan perhatiannya dengan memainkan tongkat billyard di tangannya dengan wajah kikuk. Ia selalu saja tidak ingin melihat wajah Taehyung saat lelaki itu marah.

“Aku benci membicarakan hal itu, kau tahu?” kata Taehyung, dengan suara tertahan, menatap manik Sungjae lekat-lekat dengan tatapan tajam.

Sungjae tidak menjawab. Hanya balas menatap Taehyung dengan mimik tanpa ekspresi.

Jimin menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal, melirik kedua temannya dengan kikuk. “Teman-teman,” ia bergerak mendekat pada Taehyung dan Sungjae yang entah kenapa terjadi suasana yang mendadak terasa ganjil di antara mereka. “Berhentilah.” ia menyentuh pundak Taehyung dan Sungjae di saat yang bersamaan, tetapi Taehyung malah menangkisnya dengan keras.

“Aku pulang.” Taehyung lalu membalik tubuh dan melangkah keluar ruangan dengan langkah lebar.

“Ya, ya. Kau memang selalu seperti itu. Selain berhati baja, kau juga mudah marah, tidak mau mengalah, keras kepala, sama persis seperti ayahmu. Kau benar-benar lelaki buruk, Byun Taehyung.” teriak Jimin, menatap punggung Taehyung yang semakin menjauh dengan tatapan kesal. Ia lalu melirik Sungjae, masih dengan tatapan kesal. “Gara-gara kau.”

“Aku tidak melakukan apapun.” kata Sungjae, tidak mau mengalah.

Argh! Bisa pecah kepalaku berteman dengan kalian.” gerutu Jimin, mengacak rambutnya, frustasi.

————————

Taehyung baru saja menutup pagar rumahnya ketika tiba-tiba saja pagar rumahnya kembali terbuka, didorong oleh seseorang dari luar. Taehyung agak mundur dan melihat Sohyun mendorong pagar dengan wajah tertunduk. Ketika Sohyun mengangkat kepalanya, ia terlihat amat terkejut saat menyadari Taehyung berdiri di belakang pagar.

Taehyung juga terkejut saat melihat wajah adiknya yang memerah bekas menangis. Saat itu juga ia baru menyadari kalau adiknya pulang dengan jalan kaki, tidak diantar oleh mobil temannya.

“Kau bilang kau pergi dengan mobil temanmu?” tanya Taehyung, agak ragu karena melihat wajah adiknya yang tertunduk. “Kenapa kau malah jalan kaki?”

Sohyun tidak menjawab. Ia malah kembali menangis dan bergegas berlari masuk ke dalam rumah, tanpa menjawab pertanyaan kakaknya.

“Sohyun~a…” seru kakaknya.

Tetapi Sohyun tetap berlari. Bahkan ketika ia bertemu dengan ayah dan ibunya yang sedang duduk di ruang tengah sambil menonton televisi, ia tetap berlari. Tidak peduli dengan wajah ayah dan ibunya yang mendadak khawatir saat melihatnya. Ia terus berlari menjauh, menaiki anak tangga, menuju kamarnya.

“Tunggu sebentar.” Taeyeon menyingkirkan lengan Baekhyun dari pundaknya dan bergegas menaiki anak tangga, menyusul putrinya. “Sohyun~a…”

Ketika Taeyeon menaiki anak tangga untuk menyusul Sohyun ke kamar putrinya, Taehyung justru baru masuk ke dalam rumah dengan wajah panik. Matanya mengarah pada punggung Sohyun yang masih kelihatan, hendak menyusul adiknya. Namun Baekhyun malah menghentikan langkahnya.

“Apa yang terjadi?” tanya Baekhyun, menghentikan langkah Taehyung. “Kenapa Sohyun menangis?”

Taehyung menoleh pada ayahnya, lalu menggelengkan kepala, tidak tahu. “Aku baru bertemu dengannya di depan.”

Tatapan Taehyung lalu beralih ke lantai atas dengan tatapan khawatir. Menimbang-nimbang apakah perlu menyusul adiknya atau tidak.

————————

“Sohyun~a…”

Taeyeon membuka pintu kamar putrinya yang ternyata tidak dikunci. Kepalanya menyembul dari balik pintu dan menemukan Sohyun sudah berbaring menelungkup di atas kasur sambil memeluk bantal. Terisak.

Taeyeon melangkah masuk ke dalam, mendekati putrinya. Suara isak tangis putrinya semakin terdengar kala ia semakin mendekati putrinya dan akhirnya duduk di sebelah putrinya.

“Sohyun~a…” Taeyeon menyentuh punggung putrinya yang bergetar. “Ada apa? Pulang-pulang kok nangis?”

Eom-ma.” isak Sohyun, masih menyembunyikan wajahnya dalam-dalam di balik bantal.

“Iya, Sayang.” Taeyeon mengelus punggung putrinya dengan penuh kasih sayang. “Ada apa? Ceritakan saja pada eomma.”

Eom-ma,” Sohyun mulai berbicara dengan patah-patah. “A-pakah… aku ti-dak p-pantas menda-patkan… te-man?”

Taeyeon tampak terkejut. “Astaga, Anakku.” ia meraih bahu putrinya untuk menegakkan tubuh putrinya dan menatap ke arahnya. Dan betapa terlukanya Taeyeon saat melihat mata Sohyun yang tampak memerah dan menahan luka. Ia menangkup wajah putrinya dan menatap manik Sohyun dalam-dalam. “Siapa yang pernah bilang begitu padamu, eoh? Katakan pada eomma. Orang itu benar-benar keterlaluan. Siapapun pantas mendapatkan teman, Sayang. Begitu pun dengan dirimu, Sohyun~a.”

Sohyun balas menatap ibunya dengan tatapan terluka. Airmatanya kembali mengalir. “Te-tapi, ke-kenapa mereka… tidak pernah meng-anggap aku adalah te-temannya? Ke-kenapa mereka ber-sifat seperti itu pa-padaku? A-aku tidak kuat lagi, eomma…”

Taeyeon meraih bahu putrinya dan memeluk putrinya itu. Ia mengelus punggung putrinya, sementara isak tangis Sohyun semakin keras.

“Sakit, eomma.” kata Sohyun, terisak. “Sakit sekali.”

Taeyeon menganggukkan kepala, mengerti. “Tidak apa-apa kalau kau merasa sakit, Sayang. Kau tidak perlu bersembunyi di depan eomma. Kau tidak perlu berpura-pura kuat di depan eomma. Menangislah, keluarkanlah semuanya.” katanya, mengelus punggung putrinya.

Tangis Sohyun kemudian semakin keras.

Terdengar hingga luar kamar.

Terdengar hingga telinga Taehyung.

Taehyung berdiri di luar kamar Sohyun dengan tatapan mengarah pada adiknya yang sedang menangis di pelukan ibunya. Tatapan prihatinnya berubah marah. Tangannya terkepal erat di samping celananya. Dadanya bergemuruh. Napasnya memburu, tersulut oleh emosi.

Siapa yang telah berani menyakiti perasaan adiknya? Dia tidak akan selamat, Taehyung berani bersumpah.

————————

Taeyeon membuka pintu kamar dan melangkah masuk ke dalam. Ia melihat suaminya sedang duduk bersandar di atas ranjang dengan kacamata bertengger di hidungnya dan sebuah buku bacaan di tangannya. Baekhyun melepas kacamatanya dan menyimpan buku serta kacamatanya di atas nakas saat istrinya berjalan mendekat ke arahnya lalu mengambil posisi duduk di sebelahnya.

“Bagaimana Sohyun? Apa yang terjadi?” tanya Baekhyun, menatap istrinya dengan tatapan khawatir.

Taeyeon memijit pelipisnya pelan. “Masalah pertemanan. Hal itu biasa terjadi pada masa remaja, bukan?”

Mulut Baekhyun membulat. “Dia sudah tidak apa-apa?” tanyanya lagi.

Taeyeon mengangguk. “Dia sudah tertidur saat aku meninggalkannya. Sepertinya dia sedang mengalami masa sulit di sekolah.”

Baekhyun menghela napas panjang. “Ternyata anak-anakku sudah besar ya. Aku tidak menyangka mereka sekarang sudah bersekolah dan menjadi seorang remaja. Rasanya baru kemarin aku mengajarinya berjalan.”

Taeyeon tersenyum, mengingat masa itu. “Dan kau malah marah marah pada Sohyun karena dia belajar berjalan lebih lambat daripada Taehyung. Hingga akhirnya Sohyun malah menangis dan tak ingin lagi diajari olehmu karena takut denganmu. Ya, kan?”

Baekhyun tertawa, bernostalgia. “Ternyata aku mudah sekali marah.”

Taeyeon menatap Baekhyun dengan mata memicing. “Jadi kau baru tahu?”

Baekhyun menoleh pada Taeyeon dan menjitak kepala istrinya itu dengan penuh kasih sayang. Taeyeon balas memukul lengan suaminya sambil tertawa. Baekhyun juga tertawa, namun kemudian tawanya berhenti. Ia menghela napas pendek.

“Anak-anak semakin besar. Dan aku merasa semakin tua.” kata Baekhyun, lagi-lagi menghela napas.

Air muka Taeyeon berubah sedih saat melihat kesedihan di wajah suaminya. Tetapi kemudian ia tersenyum dan menatap Baekhyun dengan tatapan penuh arti. “Tetapi kau tetap tampan di mataku, Suamiku.”

Baekhyun melirik Taeyeon sekilas, lalu tersenyum tipis. Ia kemudian menjawil dagu istrinya dengan tatapan jahil. “Aigoo, istriku ini.”

————————

Nyatanya, Sohyun tidak benar-benar tertidur saat ibunya keluar dari kamarnya.

Ia memperhatikan selembar tiket konser berwarna hitam putih yang sudah disobek sebagian yang ia letakkan di atas meja belajarnya. Di sebelah tiket itu, ada selembar tiket lain yang juga sudah disobek sebagian, itu adalah tiket bus dari Seoul menuju Tongyeong. Matanya yang membengkak karena bekas menangis tidak berkedip memandang kedua tiket itu. Teringat dengan uang pemberian kakaknya. Beberapa saat kemudian, ia menghela napas panjang. Diraupnya kedua tiket itu, diremasnya menjadi bentuk bola, lalu ia lempar ke dalam tempat sampah di sebelah meja belajarnya. Setelah itu ia melangkah keluar kamar dan menuju kamar kakaknya di lantai bawah.

Sohyun tahu kalau ini sudah tengah malam. Bahkan lampu ruang tengah sudah dimatikan, pertanda ayah dan ibunya juga sudah terlelap. Tetapi ia tidak bisa terlelap, tidak sebelum ia mengatakan hal yang sedari tadi ia pikirkan pada kakaknya.

Oppa.” Sohyun mengetuk pintu kamar kakaknya. “Apakah kau sudah tidur?”

Berkali-kali ia mengetuk, tetapi tidak ada jawaban. Sohyun menghela napas kecewa. Mungkin kakaknya memang sudah tidur.

Akhirnya Sohyun memutuskan untuk kembali ke kamar. Namun ketika ia baru saja menginjak anak tangga pertama, ia mendengar suara pintu dibuka.

Sohyun tertegun. Ia menoleh ke pintu kamar kakaknya dan menemukan pintu itu sudah terbuka. Tanpa sadar, ia tersenyum.

Sohyun kembali turun dan melangkah masuk ke dalam kamar kakaknya. Kamar kakaknya sudah gelap, tetapi masih ada penerangan dari lampu belajar di atas meja belajar. Dan ia menemukan kakaknya sedang duduk di balik meja belajar.

Oppa, kau sedang belajar?”

Taehyung mendengus lucu mendengar ucapan adiknya. “Seorang Byun Taehyung manamungkin belajar.” ia lalu menoleh pada adiknya yang masih berdiri di depan pintu kamarnya. “Ada apa tengah malam kesini?”

“Itu…” Sohyun menundukkan kepala. “Tentang uang yang oppa pinjamkan padaku…”

Taehyung kembali mengalihkan pandangannya. “Tidak perlu dikembalikan.” katanya, seakan menebak apa yang akan dikatakan adiknya. “Uang itu buatmu. Kau tidak perlu menggantinya.”

Sohyun mengangkat kepala dengan mimik terkejut. “Benarkah?”

“Iya. Jadi, sekarang kembalilah ke kamarmu. Aku sudah ngantuk.”

Sohyun tersenyum, lalu mengangguk. “Terimakasih, oppa.” ia memutar tubuh, hendak kembali ke kamarnya, namun begitu teringat sesuatu, ia kembali menghadap kakaknya. “Oh iya, tentang konser Infinite itu…”

“Tenang saja, aku tidak akan memberitahu pada eomma dan appa.” kata Taehyung, lagi-lagi sudah menduga apa yang akan dikatakan adiknya. “Sudah, sana tidur.”

Lagi-lagi Sohyun tersenyum. “Baik. Sekali lagi, terimakasih, oppa.” ia lalu benar-benar keluar dari kamar kakaknya. Namun ketika ia hendak menutup pintu kamar kakaknya, tiba-tiba saja Taehyung memanggilnya.

“Sohyun~a.” seru Taehyung dengan suara yang terdengar lirih.

“Iya?” Sohyun menatap kakaknya yang masih duduk membelakanginya dengan tatapan heran.

Oppa bisa menjadi temanmu.” kata Taehyung, cukup membuat Sohyun tertegun. “Kalau tidak ada satu orangpun yang menganggapmu teman, setidaknya kau bisa menganggap oppa adalah temanmu.”

Kali ini Taehyung menolehkan kepala, menatap manik adiknya dari kejauhan. “Itu saja. Tutup pintunya dan kembalilah ke kamar.”

Sohyun balas menatap manik kakaknya yang gelap dengan penuh keharuan. Sesaat kemudian ia tersenyum, menganggukkan kepala, lalu menutup pintu kamar kakaknya.

————————

Taehyung baru saja masuk ke dalam kelasnya saat ia melihat empat orang gadis berseragam tingkat menengah pertama berdiri mengerubungi mejanya dengan tangan memegang beberapa bingkisan. Langkahnya terhenti dan menatap keempat gadis yang berdiri membelakanginya itu dengan tatapan tanpa ekspresi. Ketika keempat gadis itu menyadari kehadiran Taehyung, mereka langsung salah tingkah dan segera bergegas keluar kelas melewati Taehyung setelah meletakkan bingkisan mereka di atas meja lelaki itu. Salah seorang gadis yang berambut dibando sempat berhenti di depan Taehyung, menatap lelaki itu sambil tersenyum malu, lalu membungkukkan setengah badannya dan kemudian berlari keluar kelas, menyusul langkah teman-temannya.

Taehyung hanya menatap kepergian empat orang gadis itu dengan pandangan tanpa ekspresi. Sebelum akhirnya Jimin menghampirinya dan merangkul bahunya.

“Benar-benar adik kelas yang berani.” ujar Jimin, juga memandangi punggung keempat gadis yang semakin menjauh. “Bisa kupastikan pasti gadis yang berambut dibando itu sangat menyukaimu.”

Taehyung tidak menyahut ucapan Jimin. Ia hanya melepaskan lengan lelaki itu dari bahunya, lalu ia berjalan mendekati bangkunya. Diambilnya seluruh bingkisan dari atas mejanya itu lalu ia letakkan di atas loker di belakang kelas.

“Kalau ada yang mau ambil saja.” seru Taehyung pada teman-teman sekelasnya, lalu kembali menuju bangkunya.

Lantas beberapa teman sekelasnya segera berlari mengerubungi loker. Sebenarnya, sejak kedatangan keempat gadis tingkat menengah pertama tadi, mereka satu sama lain sudah mengincar bingkisan mana yang akan mereka ambil. Karena mereka sudah menduga pasti lelaki populer di kelasnya itu akan menolak bingkisan-bingkisan itu lagi.

Hanya murid-murid lelaki dan seorang perempuan berambut panjang yang tidak mendekati loker. Sepertinya mereka tidak tertarik dengan bingkisan-bingkisan itu.

“Ya, ya. Kalian memang para gadis pencari bingkisan. Kasihan sekali kalian tidak pernah mendapat bingkisan dari penggemar.” celetuk salah satu murid lelaki, sambil menatap teman-teman perempuannya yang berebut mengambil bingkisan di atas loker.

Yya! Kau ingin mati?!” bentak Irene, salah satu gadis yang mengerubungi loker.

Murid lelaki itu langsung terdiam.

Taehyung duduk di bangkunya dengan pandangan yang mengarah pada seorang gadis berambut panjang yang tetap duduk di bangkunya. Hanya dia gadis satu-satunya yang tidak berebut mengambil bingkisan. Selalu saja seperti itu, sejak dulu.

Jimin menepuk punggung Taehyung. Saat Taehyung menoleh padanya, Jimin mengedikkan pandangannya ke depan.

“Berbaikanlah dengan Sungjae.” katanya.

Taehyung mengikuti arah pandang Jimin dan melihat Sungjae yang duduk membelakanginya di bangku barisan depan. Lelaki itu duduk sendirian, terlihat kesepian.

“Aku tidak salah.” kata Taehyung, kemudian memasang headphone-nya ke telinga, lalu membaringkan kepalanya di atas meja.

Jimin menghela napas pendek, memandang Taehyung dengan pandangan kecewa. “Ya, kau memang selalu seperti itu, Byun Taehyung.”

—tbc

Chapter 3 is here!
Hm, BaekYeon moment-nya masih dikit yah? Hehe, masih permulaan. Tenang aja, besok bakal dibanyakin, karena next chapter udah mulai masuk konflik. So, ditunggu aja ya.
Jangan lupa like dan comment-nya. Enjoy it, guys ^^

Advertisements

9 thoughts on “[Multichapter] Story of Byun Family — Chapter 3

  1. Huaaa… Ternyata si taehyung itu berhati lembut juga ya dia tsundere, spt juho ku. Aku punya feeling sok tau yg mengatakan bahwa anak2 smp yg ngejer2 taehyumg itu si jane dkk. Btw, si taehyung punya cewek incaran yaaa… Cieee

  2. Huaaa… aaq terharu sama taehyun,, ternyata dia jg sayang sama adeknya.
    Aduh zul, qm mengaduk aduk hatiku pokoknya.. Rasanya kesel banget sama jane, geregetan jg sm sohyun yg gampang d bully, sampe terharu sm sikap taehyun.. Tp penasaran deh sm satu cewek yg gak prnh berebut bingkisan itu,, apa itu jessica?

    • Haha iya kak, lagipula mana ada sih kakak yg gak sayang sama adeknya sendiri hihi.. Eh kak, Jessica kan udah noona-noona, Jimin jg kenal Jessica kok jadi gak mungkin dong kalo itu Jessica. Tu cewek masih tetep misterius kok sampe chapter 7, biar bikin penasaran haha 😀

  3. Ini belum konflik ternyata😂😂
    Walau tidak ditinggalin oleh Jane, tpi sama aja Soohyun plg sendiri *keiget comment yg lama*
    Cewek rambut panjang itu siapa? Member Red Velvet kah? Apink kah? Atau member SNSD?😅
    Next thor~~ saya harap BaekYeon selalu sweet disini (?)
    Fighting

    • Hehe iya, ini masih semi-konflik, sebenernya next chapter juga masih semi-konflik sih wkwk~
      Cewek rambut panjang? Tunggu next chapter-nya aja yaa, sebentar lagi ku publish ^^
      Terimakasih yaa 🙂

  4. Next. Fast update please. Aku nggak nyangka Taehyung punya sikap yang lembut. Dan semoga Sohyun bisa dapet temen yang lebih baik dari Jane dan temen-temennya. Baekyeon Moment nya banyakin dong

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s