[Multichapter] Story of Byun Family — Chapter 2

req-zulfhania-byun-family

Starring by.
Byun Baekhyun (EXO) | Kim Taeyeon (SNSD) | Kim Taehyung (BTS) | Kim So Hyun (Actrees)

Support casts.
Park Jimin (BTS), Yook Sungjae (BtoB), Lee Halla (The Ark), Park Jane (The Ark), Bae Irene (Red Velvet), Joy Park (Red Velvet), Jessica Jung (SNSD), Oh Sehun (EXO), and others

Genre. Family, Marriage-life, Brothership

Rating. PG-15

Length. Multichapter

zulfhania, 2015

Poster by Laykimย ยฉ Beautiful Healer

Previous. Teaserย | 1

Chapter 2

Segala yang nyaman memang kadang lebih enak dinikmati sendiri. Berbagi hanya akan merusak kenyamanannya.

.

Taehyung berangkat pagi-pagi sekali hari ini bersama adik dan ayahnya. Tidak ada perang dunia yang terjadi. Meskipun Taehyung dapat merasakan tatapan tajam yang dilemparkan ayahnya padanya—ya,ya, ia tahu kalau tadi malam ia bersikap kurangajar sekali pada ayahnya, tetapi ia bersyukur kalau amarah ayahnya tidak meledak saat itu juga.

Ketika Taehyung tiba di kelasnya, ia hanya menemukan dua orang gadis yang sedang bergosip di bangku depan, seorang lelaki yang tertidur di mejanya, dan seorang gadis beramput panjang yang sedang membaca buku di bangkunya. Taehyung berjalan melewati mereka dan melangkah menuju bangkunya di barisan belakang. Ia sempat melirik buku bacaan yang dibaca oleh gadis berambut panjang itu saat ia melewatinya.

Taehyung mendapati beberapa bingkisan berwarna merah muda di atas mejanya. Ia menghela napas, lalu menyingkirkan bingkisan-bingkisan itu dan meletakkannya di atas loker di belakang kelas. Tatapannya sempat bertemu pada dua orang gadis yang sedang bergosip di barisan paling depan yang entah sejak kapan sudah memperhatikannya.

“Itu dari gadis-gadis di tingkat menengah pertama.” kata salah satu dari mereka.

Taehyung mengedikkan pandangannya pada bingkisan-bingkisan tersebut. “Ambil saja kalau kalian mau.” katanya.

Taehyung lalu menghempaskan tubuhnya di bangkunya. Ia memasang headphone-nya ke telinga, lalu membaringkan kepala di atas meja. Tak mempedulikan dua teman sekelasnya itu yang berlari menghampiri loker dan mulai memilih-milih bingkisan yang akan mereka ambil. Ketika matanya hendak terpejam, tiba-tiba saja seseorang menepuk punggungnya dengan tepukan yang cukup keras.

“What’s up bro?!”

Taehyung menegakkan tubuh dan menemukan Jimin sudah duduk di bangku di seberang mejanya sambil memberikan cengiran tidak jelas padanya. Ia agak mendengus saat melihat sahabatnya yang satu itu. Tangannya bergerak menyentuh pundaknya yang agak nyeri setelah dipukul tadi. “Tenagamu kuat juga, Jimin.”

Jimin hanya tertawa sombong. Ia melirik dua gadis yang sedang heboh memilih-milih bingkisan di atas loker.

“Bingkisan dari penggemarmu, bukan?” tanya Jimin.

Taehyung hanya diam tidak menjawab.

Jimin berdecak. “Ck, dasar lelaki populer berhati baja. Tega sekali kau menolak pemberian penggemarmu. Itu dibeli dengan uang, tahu!”

“Kau boleh mengambilnya juga kalau kau mau.”

Jimin hanya memperhatikan Taehyung dengan tatapan tidak mengerti. Kenapa orang-orang populer di sekolah biasanya bersikap semaunya sendiri seperti Taehyung itu, sih? Kalau saja ia termasuk ke dalam orang populer, ia pasti tidak akan bersikap seperti Taehyung.

Jimin menggelengkan kepala menyadari kelakuan buruk sahabatnya itu, tetapi kemudian matanya memicing saat menangkap plester di leher Taehyung.

“Bekas kemarin?” tanya Jimin tanpa wajah berdosa sama sekali.

Taehyung segera menurunkan headphone dari telinganya untuk menutupi plester di lehernya dengan salah tingkah.

“Woah, aku benar-benar tidak menyangka kalau kau akan senekat itu padanya.” decak Jimin. “Tetapi noona itu cantik juga. Siapa namanya?—aduh aku lupa. Jessica? Jessica Jung? Benar, kan? Dia penjaga bar di tempat itu, kan?”

Taehyung sempat melihat gadis berambut panjang yang duduk tak jauh di dekatnya menoleh ke arah Jimin dengan kening berkerut.

“Jangan bicarakan hal itu disini.” kata Taehyung dengan suara datar, matanya masih melirik ke arah gadis berambut panjang itu dengan tatapan tanpa ekspresi.

Gadis itu kini mengalihkan pandangannya pada Taehyung. Dan Taehyung langsung menahan napas saat tatapan mereka bertemu selama beberapa detik sebelum akhirnya gadis itu kembali memusatkan pandangannya pada buku bacaannya.

Jimin mengikuti arah pandang Taehyung dan seketika langsung mengerti. “Oh, aku mengerti. Maaf.” bisiknya sambil mendelik jahil ke arah gadis itu.

By the way, malam ini kita akan kesana lagi, kan?”

————————

“Kalian boleh memesan apa saja disini. Malam ini aku yang akan traktir.” kata Sungjae dari balik meja bar.

Jimin dan beberapa temannya yang lain langsung bersorak senang. Hanya Taehyung yang tidak. Lelaki itu malah lebih memilih duduk menyendiri di salah satu bangku di sudut meja bar, sementara teman-temannya mulai berpesta di tengah ruangan yang diterangi oleh lampu berkerlap-kerlip yang memusingkan mata.

“Kau datang lagi.” kata seorang wanita yang berdiri di balik meja bar di depan Taehyung. Wanita itu baru saja datang dan langsung menuangkan minuman ke dalam gelas yang kemudian disodorkan pada Taehyung.

“Tanpa alkohol, kan?” tanya Taehyung.

Wanita itu mengangguk.

“Sungjae yang akan membayar.” kata Taehyung kemudian meneguk minumannya.

Wanita itu melirik ke arah Sungjae yang sedang bertugas sebagai pekerja paruh waktu di balik meja bar tak jauh darinya. “Kenapa kau tidak duduk disana saja bersama Sungjae?”

Taehyung meletakkan gelasnya di atas meja. “Aku sudah merasa nyaman duduk disini.”

Wanita itu kembali menatap Taehyung. “Walaupun sendirian?”

Taehyung terdiam sejenak, kemudian mengangguk.

Wanita itu menganggukkan kepala mengerti. “Ternyata memang benar. Segala yang nyaman memang kadang lebih enak dinikmati sendiri. Berbagi hanya akan merusak kenyamanannya.”

Taehyung mengangkat kepala, balas menatap wanita itu dengan tatapan tidak mengerti.

“Lihat dirimu. Kau selalu saja duduk menyendiri disini. Tidak pernah bergabung dengan teman-temanmu yang sedang berpesta di ruang tengah sana. Kau hanya asyik dengan duniamu sendiri, merasa nyaman dengan duniamu sendiri, tanpa ingin berbagi pada oranglain. Aku jadi penasaran apa yang kaulakukan saat berada di rumah bersama keluargamu? Apakah kau juga hanya menyendiri seperti ini?”

Taehyung hanya terdiam mendengar ucapan wanita itu. Tangannya memainkan gelas kosong di depannya. “Tetapi aku berbagi kenyamananku denganmu saat ini.”

Hanya saat ini.” ralat wanita itu. “Hanya disini. Tetapi di luar tempat ini, kau bahkan tidak pernah menolehkan kepalamu sedikitpun ke arahku.”

Taehyung kembali terdiam.

Wanita itu mendesah panjang saat melihat Taehyung yang bereskpresi seperti itu. “Tidak apa-apa, Taehyung. Aku tahu kau ini populer. Tidak apa-apa kalau kau berpura-pura tidak mengenaliku saat di luar tempat ini.”

“Bukan begitu maksudku.”

Wanita itu memperhatikan wajah Taehyung tanpa berkedip. Kemudian matanya mengarah pada plester di leher Taehyung. Meskipun headphone itu melingkar di leher Taehyung, wanita itu masih dapat melihat plester yang tertempel disana.

“Kau menutupinya dengan plester?” tanya wanita itu.

Taehyung meletakkan gelasnya di atas meja, lalu menyentuh plester yang menempel di lehernya dengan wajah kikuk.

Eomma dan appa akan marah padaku kalau sampai mereka melihatnya.” kata Taehyung, menduga wanita itu akan marah padanya setelah ia berkata demikian.

Di luar dugaan Taehyung, wanita itu malah tersenyum.

“Aku pikir kau tidak akan peduli dengan mereka, tetapi ternyata kau masih mempedulikannya.”

Taehyung menundukkan kepala. “Appa akan berubah menjadi monster kalau sedang marah. Aku tidak suka melihatnya.”

Lagi-lagi wanita itu tersenyum. “Ternyata kau masih seorang anak-anak, Byun Taehyung.”

Taehyung mengangkat kepala, balas menatap wanita itu.

“Tidak ingin minum alkohol, tidak ingin berpesta di ruang tengah bersama teman-temanmu, tidak suka melihat ayahmu marah, tidak ingin membuat ayahmu marah karena ulahmu.” Wanita itu menyebutkan satu persatu sambil menghitung jarinya, lalu ia menatap Taehyung dengan mata dan bibir yang tersenyum. “Ternyata kau memang masih anak-anak, Taehyung.”

Taehyung menatap wanita itu dengan mimik tanpa ekspresi.

Wanita itu mencondongkan tubuhnya ke depan, memperkecil jarak di antara mereka, dan menatap manik Taehyung lekat-lekat. “Tetapi aku menyukaimu.” ia lalu mengecup pipi lelaki itu sekilas.

Taehyung cukup tertegun dengan ciuman tiba-tiba itu. Tetapi kemudian ia tersenyum, terlihat miris. “Aku juga menyukaimu, Jessica.”

Wanita itu tersenyum, lalu kembali menegakkan tubuhnya dan melayani beberapa pengunjung yang memesan minuman, meninggalkan Taehyung yang duduk sendirian di bangkunya sambil memperhatikan wanita itu. Sesekali wanita itu melirik ke arahnya sambil tersenyum, namun Taehyung hanya membalasnya dengan tatapan tanpa ekspresi.

Nyatanya, Taehyung tidak benar-benar menyukai wanita itu.

————————

Sohyun memungut uang kertas serta recehan yang berserakan di atas ranjangnya sambil menghitung jumlahnya. Ketika seluruhnya sudah terhitung, ia menghela napas panjang.

“Tidak cukup juga.” keluhnya.

Sohyun membaringkan kepala dengan wajah ditekuk. Tangannya memainkan pecahan tabungan ayam yang baru beberapa menit lalu ia hancurkan.

“Tabungan dari ATM sudah kuambil, tabungan dari si ayam juga sudah kuambil, tetapi uangnya belum cukup juga. Apa yang harus kulakukan?” ujarnya, lirih.

Sebenarnya Sohyun sudah berulangkali berpikir untuk meminta pada ibunya, tetapi ia selalu saja tidak berani. Bukan hanya tidak berani, ia hanya tidak tega meminta-minta pada ibunya. Ini kan keinginannya, berarti ia harus mengumpulkannya sendiri. Ia tidak bisa begitu saja meminta uang pada ibunya. Kalau ia masih bisa berusaha untuk mencari uang, kenapa ia harus meminta pada ibunya?

Tetapi…

Sohyun berpikir sejenak. Beberapa saat kemudian, ia turun dari ranjang dan berjalan keluar kamar.

————————

Eomma.”

Taeyeon yang sedang memakai make-up di balik meja rias menolehkan kepala dan melihat Sohyun berdiri di bingkai pintu kamarnya dengan tangan memegang handel pintu.

“Boleh aku masuk?” tanya Sohyun.

Taeyeon tersenyum. “Tentu saja, Sayang.” ia merentangkan tangannya pada putrinya. “Sini kemari.”

Sohyun melangkah masuk ke dalam kamar ibunya, lalu segera memeluk tubuh ibunya. “Eomma.” ucapnya dengan suara merajuk.

“Ada apa?”

Eomma sedang apa?” tanya Sohyun, menggoyangkan tubuh ibunya ke kanan dan kiri.

“Merias diri, Sayang.”

Sohyun tersenyum jahil. “Pasti eomma ingin tampil cantik di depan appa saat appa pulang kerja nanti. Benar, kan?”

Taeyeon mencolek hidung Sohyun. “Kau tahu saja.” ia melepas pelukannya pada putrinya, lalu menatap putrinya itu. “Ada apa kau mencari eomma?”

“Mm…” Sohyun tampak berpikir, menimbang-nimbang apakah perlu mengatakannya atau tidak.

“Kau ingin meminta sesuatu?” tebak ibunya.

Tepat kena sasaran. Tetapi Sohyun malah menggelengkan kepalanya. “Tidak kok, eomma. Hanya ingin menyapa saja.”

Taeyeon mengernyitkan kening, curiga. “Tidak seperti biasanya.”

Sohyun kembali memeluk ibunya. “Aku sangat menyayangimu, eomma.”

Taeyeon hanya mengulum senyum melihat putrinya. Ia lalu membelai rambut putrinya itu. “Iya, eomma juga sangat menyayangimu, Sohyun~a.”

Taeyeon tidak tahu saat ia membelai rambut putrinya, air muka Sohyun berubah sedih.

————————

Taehyung merebahkan kepalanya yang terasa berat di atas ranjang. Tangannya bergerak memijit kepalanya yang berdenyut. Matanya terpejam. Sementara bayangan wajah Jessica yang tersenyum tulus padanya saat di diskotik tadi kembali terbayang dalam pikirannya.

‘Aku telah menyakiti perasaan wanita itu.’ ucapnya dalam hati.

Tetapi nyatanya, Taehyung sama sekali tidak merasa bersalah ataupun menyesal. Mungkin Jimin memang benar, hatinya memang terbuat dari baja.

Oppa.”

Terdengar suara ketukan dari luar pintu kamarnya. Taehyung melirik sekilas ke arah pintu yang tertutup itu.

“Boleh aku masuk?”

“Tidak.” jawab Taehyung.

Oppa~” suara adiknya terdengar merajuk.

Taehyung mendesis, bangun dari tidurnya, lalu berjalan menuju pintu kamar.

“Ada yang ingin kubicarakan padamu, Oppa. Izinkan aku ma—”

Ucapan Sohyun langsung terhenti saat tiba-tiba saja pintu kamar kakaknya terbuka. Dengan senyum di bibirnya, Sohyun menatap kakaknya yang berdiri di balik pintu kamar dengan ekspresi datar. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, kakaknya itu kembali melangkah masuk ke dalam kamar.

Sohyun mengekor langkah kakaknya.

Oppa baru pulang?” tanyanya.

“Tidak usah berbasa-basi.” kata Taehyung, merebahkan kembali tubuhnya di atas ranjang.

Sohyun duduk di atas ranjang Taehyung, di sebelah kakaknya. Ia melirik kakaknya sekilas dengan ragu, lalu kembali bersuara, “Teman-teman sekelasku mengajakku pergi menonton penampilan Infinite di Summer Special Concert akhir pekan ini.”

“Lalu?”

“Aku ingin ikut.”

“Lalu?”

“Harga tiketnya lumayan mahal.”

“Lalu?”

“Uang tabunganku tidak cukup.”

“Lalu?”

Sohyun melirik kakaknya kesal. Masa’ kakaknya itu masih saja bertanya, sih? Peka, kek, memberinya uang pinjaman.

“Aku tidak berani memintanya pada eomma.”

“Lalu?”

Sohyun memutar tubuhnya menghadap kakaknya, menatap kakaknya itu dengan tatapan merajuk. “Oppa tidak mau meminjamkan uang untukku?”

Taehyung agak mendengus, menegakkan tubuhnya dan menatap adiknya dengan tatapan tanpa ekspresi.

“Kenapa harus aku?”

Sohyun mendesah. “Aku tidak tahu harus meminta pada siapa lagi.” ia membentuk huruf V pada jari tangannya. “Aku janji akan menggantikannya secepatnya.”

Taehyung mendesah. “Berapa?” tanyanya.

Sohyun menyebutkan sejumlah uang yang tidak sedikit.

“Aku tidak punya uang sebanyak itu.” jawabnya, lalu memalingkan pandangannya ke arah lain dengan ekspresi datar.

Oppa, ayolah~” Sohyun meraih lengan kakaknya dan menggoyangkannya ke kanan dan kiri, ditatapnya kakaknya itu dengan tatapan merajuk. “Kalau oppa tidak meminjamkannya padaku, aku tidak bisa ikut pergi bersama teman-teman sekelasku.”

Taehyung kembali menoleh pada adiknya. “Ya sudah, kalau begitu tidak usah pergi.”

Air muka Sohyun berubah sedih. Ia menundukkan kepala dan menghela napas kecewa. “Kalau aku tidak pergi, aku menghilangkan kesempatan langka untuk dapat berteman dengan mereka.” katanya, lirih.

Taehyung terdiam. Ia hanya menatap adiknya tanpa berkedip.

————————

Baekhyun menghentikan mobilnya di depan gerbang sekolah Empire High School. Ia memutar kepalanya ke belakang, memperhatikan kedua anaknya yang hendak turun dari mobil. Seperti biasa, Taehyung langsung membuka pintu mobil dan keluar dari sana tanpa pamit pada ayahnya. Lama-lama Baekhyun memaklumi hal tersebut, kecuali kalau mood-nya sedang tidak baik, ia pasti akan membentak putranya itu. Berbeda dengan Sohyun yang justru menunggunya untuk berpamitan dengannya dengan senyum yang terhias di bibirnya.

“Selamat belajar, Sohyun~a.” kata Baekhyun saat putri bungsunya mencium punggung tangannya.

Sohyun mengangguk. “Semoga harimu menyenangkan, appa.”

Baekhyun tersenyum. “Kau juga.”

Biasanya setelah Sohyun berkata demikian, ia akan segera keluar dari mobil dan menunggu mobil ayahnya kembali melaju. Tetapi hingga beberapa menit kemudian, Sohyun belum kunjung keluar mobil. Membuat Baekhyun merasa heran.

“Ada apa, Sohyun~a?” tanya Baekhyun. “Ada yang ingin kau sampaikan?”

Sohyun menatap ayahnya dengan ragu, menimbang-nimbang apakah perlu mengatakannya atau tidak.

Appa.” Sohyun mengeluarkan suaranya.

“Hm?” Baekhyun menunggu kelanjutan ucapan Sohyun.

Beberapa saat kemudian Sohyun tersenyum. “Tidak apa-apa, appa. Aku masuk dulu.” katanya kemudian, memutuskan untuk tidak mengatakannya.

Sohyun mengecup pipi ayahnya sekilas, lalu keluar dari mobil. Ia melambaikan tangan pada ayahnya dan menunggu mobil itu melaju pergi. Ketika mobil itu sudah menjauh dari pandangannya, senyum Sohyun menghilang. Kepalanya tertunduk dan ia menghela napas.

Appa pasti akan marah kalau aku meminta padanya.” katanya lesu.

Lagi-lagi ia menghela napas, lalu memutuskan untuk melangkah masuk ke sekolahnya.

Sohyun tidak menyadari kalau sedari tadi Taehyung memperhatikannya dari balik gerbang sekolah. Ketika Sohyun sudah berjalan menjauh, Taehyung baru keluar dari tempat persembunyian. Menatap punggung adiknya yang semakin menjauh dengan ekspresi datar. Ia melirik mobil ayahnya yang masih terlihat di ujung jalan sana, lalu kembali menatap punggung adiknya.

Taehyung melihat adiknya berbaur dengan kumpulan beberapa murid sekolah menengah pertama di lapangan yang hendak berjalan menuju gedung tingkat menengah pertama. Tetapi satupun dari mereka tidak ada yang menyapa maupun berjalan bersama Sohyun. Di antara kumpulan itu, Sohyun hanya berjalan sendiri. Adiknya itu terlihat amat kesepian di antara keramaian itu.

Taehyung menghela napas sejenak. Memperhatikan punggung adiknya untuk yang terakhir kalinya, lalu merogoh ponsel dari saku celananya. Dicarinya sebuah nama di kontak ponselnya, lalu ia menempelkan ponsel di telinga. Sambil menunggu nada sambung di seberang ponsel, ia berjalan menuju gedung tingkat menengah atas.

“Halo?” terdengar suara wanita di seberang ponsel menyahut.

“Halo, Jessica.”

————————

Sohyun meletakkan tas ranselnya di sebelah meja, lalu duduk di bangkunya dengan gerakan pelan. Matanya sempat melirik ke arah Jane yang duduk di belakangnya yang sudah menatapnya sedari tadi dengan tatapan yang… meremehkan, mungkin.

“Jane, bagaimana akhir pekan nanti? Kita jadi menonton penampilan Infinite, kan?” tanya salah satu temannya yang tiba-tiba saja datang menghampirinya.

“Oh ya, benar. Kita jadi berangkat ke Seoul bersama-sama dari sini, kan? Naik mobilmu? Diantar oleh ayahmu?” temannya yang lain menyahut.

Dan mendadak meja Jane sudah dikerubungi oleh teman-temannya untuk bergosip.

Jane melirik Sohyun sekilas dengan tatapan meremehkan. “Tentu saja. Hanya orang-orang tertentu yang bisa ikut dan naik mobil bersamaku.”

Sohyun menundukkan kepala, meremas tangannya sendiri di atas pahanya, merasa resah.

“Oh iya,” Jane menepuk tangannya dengan ekspresi berlebihan. “Aku kan juga mengajak Byun Sohyun.”

Sohyun menahan napas.

Jane mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap punggung Sohyun, masih dengan tatapan yang meremehkan.

Yya, Byun Sohyun! Kau bisa ikut bersamaku, kan, untuk menonton penampilan Infinite secara langsung?” tanya Jane, dengan suara sinis.

Sohyun menarik napas sejenak. Agak kaku bibirnya bergerak membentuk senyuman, lalu ia menolehkan kepala ke belakang, balas menatap Jane.

“Te-tentu saja. Aku pasti ikut denganmu.” kata Sohyun.

Salah satu teman Jane yang berambut dikucir kuda agak mendengus. “Ah, yang benar saja! Memangnya uangmu cukup untuk pergi kesana?”

“Tidak mungkin. Lihat saja sepatunya yang buluk itu.” temannya yang lain menyahut, sontak membuat Sohyun menggerakkan kakinya untuk menyembunyikan sepatunya di balik kursi. “Bahkan sudah hampir setengah semester ini dia belum menggantinya. Manamungkin dia memiliki uang untuk menonton penampilan Infinite?”

Sohyun kembali meremas tangannya yang saat ini mulai berkeringat dingin. “A-aku punya uang, kok.”

Jane tersenyum, sinis. “Baiklah, kalau memang kau punya uang, akhir pekan ini kutunggu kau di depan gerbang sekolah. Kalau sampai pukul 11 kau tidak datang,” ia menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan kiri. “Kau tidak bisa ikut pergi bersama kami.”

Jane melirik teman-temannya yang berdiri di sekitarnya. “Antarkan aku ke kantin, yuk. Aku mendadak merasa haus setelah berbicara dengan Sohyun.”

“Oh, aku juga. Rasanya suhu tubuhku meningkat, harus cepat-cepat pergi dari sini.” sahut temannya yang lain.

Kemudian Sohyun melihat Jane bersama teman-temannya pergi keluar kelas, meninggalkannya seorang diri.

Sohyun menundukkan kepala, memandang ujung sepatunya—yang salah satu teman Jane bilang sepatunya sudah bulukan—dengan mata berkaca-kaca. Tangannya mengepal erat di atas pahanya. Dadanya bergemuruh, lagi-lagi merasa kesepian di dalam kelas ini, seperti hari-hari kemarin.

Meskipun Jane akan mengajaknya pergi bersama akhir pekan ini, tetapi rasanya, hari ini, ia tetap merasa kesepian. Ia seperti merasa, gadis itu tidak benar-benar sedang mengajaknya. Dan entah kenapa itu membuat hati Sohyun sakit, amat sakit.

Sepertinya, hari ini Sohyun belum juga mendapatkan hari yang menyenangkan yang biasa ia ucapkan pada ayahnya setiap pagi.

————————

Lagi-lagi Taehyung terdampar di sudut meja bar di dalam diskotik yang tampak ramai sekali malam ini. Jimin dan teman-temannya yang lain sedang asyik berjoget mengikuti irama musik yang berdentum-dentum di tengah ruangan sana sambil sesekali menggoda gadis-gadis seksi yang lewat. Sungjae asyik berpacaran di ujung meja bar sana bersama pacar barunya, Joy Park, sambil sesekali melayani pengunjung yang membeli minuman. Sementara Taehyung hanya duduk menyendiri di sudut meja bar, memainkan gelas kosong di depannya, sambil menunggu kehadiran seseorang.

“Sudah lama menunggu?”

Orang yang ditunggu akhirnya muncul juga setelah beberapa menit kemudian. Taehyung menggelengkan kepala, menyodorkan gelas kosong di depannya pada wanita itu.

“Tidak juga.” jawabnya singkat.

Jessica menuangkan minuman non-alkohol pada gelas Taehyung, lalu menyodorkan kembali pada lelaki itu. Selain itu, ia juga menyodorkan sebuah amplop.

“Ini yang kau minta.” katanya sambil mengedikkan pandangannya pada amplop itu. “Coba dihitung lagi.”

Agak ragu Taehyung mengambil amplop tersebut dan menghitung jumlah isinya.

“Kurang?” tanya Jessica.

Taehyung tersenyum tipis setelah menghitung jumlah isinya. “Lebih dari cukup.” ia menatap wanita itu. “Terimakasih banyak.”

Jessica balas tersenyum. “Aku senang membantumu, dan juga adikmu.” ia menatap manik Taehyung dengan penuh arti. “Kupikir kau juga tidak peduli dengan adikmu, tetapi ternyata semua tidak sesederhana yang kupikirkan. Adikmu beruntung memiliki kakak sepertimu.”

Taehyung tidak menyahut. Ia malah mengangkat amplop di tangannya lalu menyimpannya ke dalam saku celana. “Aku akan menggantinya saat aku sudah punya uang.”

Jessica mengibaskan tangannya. “Tidak perlu. Kau masih anak-anak, belum bisa menghasilkan uang sebanyak itu.”

Taehyung terdiam. Entah kenapa ia merasa sensi kalau disebut masih anak-anak oleh wanita itu.

“Aku ikhlas. Tidak perlu diganti. Kau boleh memakainya semaumu. Asalkan kau selalu datang kesini dan menemaniku disini, itu sudah cukup bagiku, Taehyung.”

Lagi-lagi Taehyung hanya menampilkan wajah tanpa ekspresi. Seharusnya ia merasa bersalah, tetapi nyatanya, ia sama sekali tidak merasa bersalah.

————————

Sohyun melangkah masuk ke dalam kamarnya dan berjalan dengan langkah gontai menuju ranjangnya. Ia benar-benar sudah tidak ada harapan lagi. Bagaimanapun juga mendapatkan uang sebanyak itu memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ia sudah pasrah, mungkin, ia memang tidak bisa pergi bersama Jane dan teman-temannya.

Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan tangan yang direntangkan lebar-lebar. Keningnya perlahan mengernyit saat ia merasa tangannya menyentuh sesuatu yang tidak asing.

Sohyun kembali menegakkan tubuh dan menemukan sebuah amplop di atas ranjangnya. Ia mengambil amplop tersebut, membukanya, dan seketika tertegun melihat isinya.

“Taehyung oppa~”

Lantas ia segera berlari keluar kamar.

————————

Taehyung baru saja selesai mandi saat ia melihat Sohyun menuruni anak tangga dengan bergegas sambil meneriakkan namanya berkali-kali. Ia hanya menampilkan wajah tanpa ekspresi saat melihat adiknya yang tampak bahagia sekali.

Setibanya di depan Taehyung, Sohyun segera memeluk erat-erat tubuh kakaknya yang baru saja dibersihkan itu. Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh kakaknya dengan perasaan bahagia.

“Terimakasih, Taehyung oppa. Aku menyayangimu.”

Setelah itu Sohyun melepas pelukannya, tersenyum lebar ke arah Taehyung, menatap maniknya dengan tatapan penuh rasa terimakasih dan kasih sayang, lalu kembali berlari menuju kamarnya di lantai atas sambil bersenandung menyanyikan lagu Infinite seraya mengibas-ngibaskan amplop di tangannya.

Taehyung agak mendengus melihat tingkah adiknya. Namun tanpa sadar, bibirnya membentuk senyuman, terlihat amat tulus sekali.

—tbc

I’m here with part two ๐Ÿ˜€
Hm, maaf kalo chapter ini masih agak garing, hihi ._. Belum masuk konflik pula, terus juga gak ada BaekYeon moment-nya. Eits, tapi tenang aja, next chapter bakal ada BaekYeon moment kok. Ditunggu aja yaa.
Jangan lupa like dan comment. Enjoy it guys ๐Ÿ™‚

Advertisements

16 thoughts on “[Multichapter] Story of Byun Family — Chapter 2

  1. Kan si baekhyun pegawai kok bisa sohyun sampe dihina sepatu bulukan? Gak suka deh sama cewe2 yg karakternya kayak temen2 kelas sohyun itu. Then… Taehyung… Ciusan deh knp dia gitu bgt karakternya. Terus si sohyun itu polos, naif , atau bodoh sih. Kesel

  2. Updatenya cepet banget lho saeng.. Perasaan baru kemaren baca prolognya, eh chapter 5 dah nongol.. Jd langsung kebutan bacanya ๐Ÿ˜€
    Bagi tips dong zul biar bisa cepet jg update ffnya ๐Ÿ˜€

    • Haha iya nih kak, mumpung lagi sempet hehe.. Kalo aku sih kak sebelum prolog aku publish, aku udah nulis sampe banyak chapter dulu, yah seengganya 2-3 deh, baru abis itu aku publish disini, jadi biar bisa cepet update kalopun ide lagi mentok. Nah, biasanya faktor “komentar” dari reader jg berpengaruh utk aku update cepet dan semangat ngelanjutin. Ini aja aku udah nulis sampe chap 10 kok kak :3

  3. bagus banget tapi kasian sama sohyun , taehyung, sebenarnya taehyung itu kenapa? apa dia broken home? dilanjut ne fighting geuligo gomawoyo, ah dan maaf di chapter 1 ga commen soalnya baru tau udah update pas chapter 2 nya maaf ya, fighting geuligo gomawoyo; )

  4. Uaaa ada Sungjae ama Joy~~
    Kok Soohyun gak ganti sepatu? Apa karena segen sama ortunya ya?
    Taehyung baik bgt, OMG~
    Kok aku mulai berpikir bahwa Jane bakal ninggalin Soohyun ya pas udah di Seoul? Fufufufu.
    Baekyeon moment banyakin thoor~~ kekeke.
    Next thor, FIGHTING

    • Hihi iya emang ada Sungjae dan Joy ๐Ÿ˜€
      Sohyun terlalu murah hati :”) wah terimakasih sudah menebak-nebak, tunggu aja kelanjutannya yaa ^^ makasih banyaak ๐Ÿ™‚

  5. Next. Kutunggu chap berikutnya. Please, Jessie udah kek peran antagonis disini. Dan Taehyung OMG. Ternyata kamu nakal banget ya. Padahal wajah imut-imut kek kelinci. Huhuhu, Sohyun kasian banget sih. Tapi semoga Jane nya kena karna nggak bisa ikut konser Infininite *ketawa evil

  6. sohyun kasian bgt,nherasiin sedihnya klo kadi dia,. emg disini keluarga byun kurang mampu ya sampe sohyun ga bisa beli sepatu baru ๐Ÿ˜ฆ :(..
    next chapt update ditunggu

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s